Tembakau dan Kopi Prancak

Tanggal 29 April 2017 lalu, saya bersama ibu dan bibi-bibi berziarah umroh ke mertua Ali Makki di dusun Billa Mabuk, desa Prancak. Tak disangka, di seberang jalan rumahnya, saya melihat ada kebun kopi. Ah, kebun kopi? Saya mendekat, ternyata benar:  kebun, sudah berupa kebun. Kalau cerita orang menanam kopi sebagai tumbuhan liar itu memang sudah banyak, tapi yang ini sudah berbentuk kebun. Artinya, pohon kopinya memang ditanam secara serius dan dikelola.

Saya tidak bertemu dengan si empunya. Tapi, kata tuan rumah, si empunya itu, Pak Taufik, sudah beberapa kali memanen biji-biji kopinya. Saya penasaran karena kopi itu cenderung beradaptasi dengan tanah dan tumbuhan sekitarnya, Nah, bagaimana rasanya kopi jika tumbuhan sekelilingnya adalah tembakau?

Selama ini, masyarakat pada umumnya mengenal nama Prancak sebagai desa penghasil tembakau terbaik untuk industri, sebagaimana mereka mengenal tembakau Desa Bakeong untuk tembakau linting (non-industri). Bahkan, “Tembakau Prancak” nyaris menjadi istilah untuk sebutan tembakau bagus, barangkali karena tanahnya yang berada di ketinggian 400-an mdpl cukup menopang pada kualitasnya. Belakangan, seiring lesunya pertanian tembakau karena harga yang terus melorot dan cenderung terobang-ambing oleh bandul (makelar tembakau sebelum masuk ke gudang tembakau) dan harga pabrikan sementara rokok terus melonjak, semakin hari semakin banyak pula orang yang mulai malas-malasan menanam tembakau, tidak seperti dulu di era 90-an. Saat ini, ada sekitar 80 hektar tanah Prancak produktif yang digunakan untuk lahan tanam tembakau.

Prancak adalah nama desa ‘terpencil’ di Kabupaten Sumenep. Istilah terpencil, meskipun saat ini kurang tepat digunakan karena aksesn ke sana sudah terbuka sedemikian luasnya, digunakan karena selama beberapa tahun, bahkan mungkin lebih dari 10 tahun, akses jalan ke desa ini hancur-lebur. Baru pada tahun 2015 jalan dibangun kembali. Ada yang bertanya, apakah ada sesuatu yang menarik di tanah Prancak atau ada hal lainnya? Semisal ada kandungan minyak bumi, emas, atau apanya? Saya tidak tahu.

Dulu, tahun 2004, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) telah melahirkan 2 anak hasil persilangan tembakau varietas Prancak-95. Dua “anak” varietas yang dapat dilepas tersebut adalah: “Prancak N-1” (Keputusan Menteri Pertanian Nomor 320/Kpts/ SR.120/5/2004) dan “Prancak N-2” (Keputusan Menteri Pertanian No-mor 321/ Kpts/SR.120/5/2004). Kandungan nikotin Prancak N-1 dan Prancak N-2 lebih rendah dari Prancak-95 namun mutunya lebih baik.

Kawin silang ini, konon, sebagai jawaban terhadap kampanye antirokok dan isu bahaya rokok terhadap kesehatan. Balittas telah menyilangkan Prancak-95 untuk menurunkan kandungan nikotinnya. Bahkan juga dapat memangkas durasi masa tanam hingga petik yang bisa kurang dari 90 hari.

Sekarang, balik lagi ke cerita semula: tanaman kopi…

Sepulang dari rumah Ali Makki kala itu, saya lantas bercerita kepada Lia Zen, seorang aktivis kopi, konsultan sekaligus pemiliki kafe, beberapa hari sesudahnya. Lia Zen memang sering mengunjungi petani kopi dan memberikan edukasi kepada mereka. Benar, datanglah si Lia ini ke Prancak sehingga bertemu dengan Pak Taufik (saya saja belum pernah bertemu bahkanhingga tulisan ini dinaikkan). Saya sempat beberapa kali bertemu dengan Lia Zen dan beliau bercerita bahwa selama ini, Pak Taufik hanya menanam saja, kurang memperhatikan perawatan dan teknik petik serta lainnya.

Nah, akhirnya, pada malam 17 Agustus 2017, untuk kesekian kalinya, saya bertemu lagi dengan Lia di acara pembukaan “Kancakona Kopi”, Sumenep. Beliau membawakan saya biji-biji kopi Prancak yang sudah disangrai dengan menggunakan mesin moedern (roasting) di Sidoarjo. Walhasil, rasanya memang unik, tidak seperti kopi produk perkebunan di Jawa Timur pada umumnya yang saya tahu.

Berikut hasil catatan Lia Zen:

  • Varietas: Arabusta Prancak-Sumenep (dia menggunakan nama ini karena varietas robustanya masih tercampur sedikit biji arabica, kira-kira dari 5 pohon yang ada di kebun Pak Taufik).
  • Varietal: mix
  • Process: wet hull
  • Body: medium – bold
  • Flavor: sugar browning, dark chocolaty aftertaste
  • Aroma: roasted peanut

Adanya kenyataan ini barangkali dapat membuka kemungkinan baru bagi warga Prancak, atau bahkan bagi warga daerah lainnya untuk membuka peluang menanam pohon kopi yang sesuai dengan kontur tanah mereka, bisa jadi itu robusta namun mungkin juga liberica. Tembakau tentu saja tetap ditanam, tapi dengan juga menanam kopi, kebergantungan mereka terhadap tembakau yang notabene sangat membutuhkan banyak air di awal musim tanam, juga akan berkurang.

 

KETERANGAN FOTO:

semua foto oleh Mohammad Badri Zamzam, kecuali foto teratas (foto saya dan bibi), oleh Abdullah Sajjad

 

Iklan

Tembakau Campalok (Jambangan)

Di bulan Juli-Agustus seperti tahun ini, di Madura, khususnya di daerah Kabupaten Sumenep, tampak bidang-bidang tanah yang dipenuhi hamparan hijau pepohonan tembakau. Di penghujung musim kemarau seperti sekarang, di sana, lebih khusus lagi di sekitar Kecamatan Guluk-Guluk, tanaman daun tembakau menjadi andalan petani untuk meraup keuntungan pertanian. Muncul istilah di kalangan masyarakat bawah; “dengan baiknya hasil tembakau yang ditanam dan panen hanya dalam 3 bulan sudah cukup untuk biaya hidup satu keluarga sepanjang satu tahun.” Istilah ini menunjukkan bahwa tembakau merupakan andalan perekonomian masyarakat, dan bahkan satu-satunya.

Bagaimana jika panen gagal?

Kecamatan Guluk-Guluk (Sumenep) merupakan kecamatan dengan produksi tembakau terbanyak di Madura. Akan tetapi, masyhur diketahui bahwa tembakau-tembakau berkualitas bagus justru berasal dari daerah Prancak dan Montorna (Pasongsongan), tetangga kecamatan. Tembakau dari daerah itu, di mana tanahnya relatif lebih gersang dan lebih sulit untuk memperoleh air, panen tembakau dapat dipastikan selalu mempunyai nilai jual yang lebih bagus daripada tembakau lain yang ada di Madura, termasuk tembakau Guluk-Guluk.

Tembakau kategori “tembakau rokok”, tembakau yang dirajang halus dan sifatnya bukan produksi massal (tidak dijual ke gudang tembakau untuk diproduksi menjadi rokok sigaret pabrikan), kebanyakan berasal dari daerah Guluk-Guluk. Salah satunya adalah tembakau Bakeong dan Pordapor. Tembakau-tembakau dari daerah ini relatif lebih mahal harganya, bahkan bisa dua kali lipat atau lebih, dibandingkan dengan tembakau Prancak sekalipun. Sebut saja misalnya, tembakau Lamojang dan tembakau Jambangan.

Tembakau Jambangan bukanlah tembakau yang populer. Tidak semua orang tahu perihal tembakau ini. Harga tembakau Jambangan merupakan harga tembakau tertinggi di Madura. Harganya bersaing dengan tembakau lain dari penjuru Indonesia yang harganya juga fantastis. Sebutlah misalnya tembakau Kayumanis dan Tambeng di Situbondo, Srinthil di Temanggung, juga Tembakau Seina di Lombok.

Sayangnya, di daerah Jambangan sendiri, yang letaknya ada di ujung paling barat Kecamatan Guluk-Guluk ini, hanya beberapa petak tanah saja harganya melambung. Dari semua petak itu, yang paling mahal adalah Campalok. Harga per kilogramnya pernah tembus di atas 1 juta. Tentu, dibandingkan dengan harga tembakau lain yang saat ini hanya berkisar 15.000-an hingga 30.000-an, harga ratusan ribu, apalagi di atas satu juta, adalah angka yang fantastis.

Di daerah itu, terdapat beberapa petak tanah yang hasil panen tembakaunya sangat bagus. Harganya ratusan ribu, antara 300 hingga 400 ribu per kilogram. Masyarakat setempat lalu memberi julukan tembakau dari hasil petak-petak tanah tersebut dengan nama yang unik, seperti Maronggi, Salaka, Tarebung. Namun, Campalok tetap yang paling mahal.

Untuk mendapatkan hasil panen tembakau dari lahan yang digarap oleh Pak Aziz ini sulit sekali. Konon, hal itu disebabkan oleh adanya ikatan janji pemilik dengan H. Fatoni, seorang saudagar yang telah puluhan tahun membelinya secara borongan, semuanya. Jadi, hubungan antara penjual dan pembeli di sini bukan semata-mata karena hubungan bisnis, melainkan juga hubungan emosional.

Di samping itu, tembakau Campalok juga merupakan tembakau yang derajatnya naik bukan saja karena tanahnya yang bagus, hasil panen tembakaunya juga berkualitas tinggi, melainkan juga mitos. Banyak orang percaya bahwa tanah Jambangan dan sekitarnya, khususnya Campalok, merupakan tilas tempat bermain, atau pernah ditempat-tinggali, oleh bermain Pottre Koneng dari Keraton Sumenep. Karena itu, standar penilaian tembakau yang mengandalkan daya indera manusia (dilihat, diraba, dicium) mungkin juga telah dipengaruhi lebih dulu oleh cerita-cerita yang mengungkunginya.

Ada ada satu hal lagi yang mungkin membuat tembakau ini berbeda dengan yang lain. Petani pemiliknya mandiri dan merdeka. Tembakau Jambangan, termasuk Campalok, tidak seapes tembakau lain sesaudaranya, yang bagaimanapun bagus kualitasnya, harganya tetap ditentukan oleh pembeli, bukan oleh petani.