SALTIS

Anda pernah dengar nama band SALTIS? Jika tidak, maka saya memakluminya. Ia hanyalah band yang sempat mencuat sekilas dalam lintasan waktu awal 90-an, dekade di mana lagu rock dan hardrock tanah air sedang mengalami masa keemasannya. Lagunya, “Sadar”, sempat dikenal secara nasional setelah masuk dalam album kompilasi “10 Finalis Festival Rock ke-V Log Zhelebour”. Di album itu, mereka adalah satu-satunya band dari kota kecil (Sumenep) di antara seluruh band lainnya yang berasal dari kota besar/metropolitan.

Kover SALTIS

Sampul album versi kaset. Sumber foto: https://goo.gl/rdXsRi

* * *

Saya masuk ke warung itu, warung yang lebih akrab disebut kantin, terletak di ujung barat RSUD Moh Anwar, Sumenep, di suatu siang, perkiraan medio Juli 2009. Setelah memesan nasi rawon, mulailah saya makan, duduk di bangku yang menghadap ke selatan. Hanya ada tiga orang tamu sana: saya dan dua orang lagi yang sedang asyik bercengkerama.

“Lagu-lagu apa?”
“Deep Purple-an saja.”

Saya menoleh sekilas, merasa tidak lazim dengan tema percakapan mereka berdua, apalagi setelah curi pandang, tilik roman dana pakaian. Kedua orang yang saya maksud itu berpenampilan ‘biasa’, berusia 45-50 dalam taksiran Yang satunya bahkan mungkin sudah punya menantu. Dengan bergaya terus makan, telinga saya sebetulnya tetap awas, nguping pembicaraan.

“Kalau Bakar, sih, nasibnya lebih bagus…””Bakar masih sama Rotor?””Kayaknya bantu-bantu di Sucker Head.””Ya, seangkatan kita ada juga, lho, yang pulung. Itu si Aziz.””Haha, iya. Dulu Rudal, kini Jamrud.”

Hanya pembicaraan itu yang saya tangkap, selebihnya tidak paham atau tidak sempat mungkin karena terlalu serius melahap. Setelah membayar di kasir dan melihat mereka belum beranjak juga, saya beranikan diri menyelai pembicaraannya, ikutan nimbrung. Saya panggil salam dan menyalami mereka berdua seraya membuka medan basa-basi.
“Pangapora, ponapa Panjenengan nika anggotana Saltis?” (Permisi, apakah Anda berdua ini personel band Saltis?)

saltis CD 2

sumber: https://goo.gl/2yVHYm

Kedua orang itu tampak menunjukkan air muka kaget, mungkin karena tidak menyangka ada orang yang sedari tadi nguping obrolan mereka.

“Beh, enggi. Nika Encunk!” kata yang lebih tua, memperkenalkan temannya kepada saya.”Kaula Sade Gozal,” katanya ketika saya menyalami yang satunya.”Kaula Faizi dari Luk-Guluk.”

Dan karena percakapan sepertinya akan terbuka lebar, saya pun duduk, menjadi orang ketiga di bangku mereka.

“Sampeyan kok ada di sini?” tanyanya kepada saya.
“Saya jaga nenek, opname di sini.”
“Ooo….”
“Oh, ya,” Yang ini suara saya. “Apakah Bakar yang dimaksud Panjenengan itu adalah Bakar Bufthaim drummernya Rotor sedangkan Aziz itu adalah Aziz MS gitaris Jamrud?”
“Iya, benar.”
“Dulu, kisaran tahun 1992 kalau tak salah, saya pernah membaca sebuah berita di Jawa Pos bahwa Saltis mau bikin album keroyokan dengan band-band rock lainnya. Kalau tak salah, lagunya antara lain berjudul “Tembang Kehidupan“. Leres? Sampai sekarang, saya tidak pernah dengan seperti apa lagunya. Apakah lagu itu benar-benar ada atau bagaimana?”

“Beh, ma’ oning kakabbi Sampeyan, haha…” (loh, kok Sampeyan tahu semua? haha)

Sade atau Pak Kadir, nama yang saya ketahui belakangan, tersenyum sumringah, menatap saya dengan pandangan cerah, terarah. Dengan sedikit menganga, ia berkata, “Tidak menyangka saya ada orang yang mengenal kami begitu lengkap, di saat saya bahkan sudah mulai lupa. Iya, semua itu benar. Lagunya sudah proses ‘mastering’ tapi tidak jadi digandakan karena ada kendala teknis. Sayang sekali memang.”

saltis CD

sumber: https://goo.gl/2yVHYm

Kala itu, di awal 1990-an, memang lagi musim-musimnya album kompilasi band rock/metal. Yang sempat saya catat adalah album singel maupun keroyokan dari band-band yang sedang naik daun, seperti Red Spider, Brigade Metal, Pumars, Big Panzer, dll. Cuma Saltis yang terus melorot dan beritanya hilang tak berbekas (masih beruntung Encunk Hariyadi sempat ngorbit lagi dengan nama Golden Boy dan sempat pula bergabung dengan Rock Trickle Band (RTB) yang masuk dalam festival rock tahun berikutnya dengan debut Lembaran Baru. Sementara band seangkatan lainnya, seperti Roxx dari Jakarta—segenerasi Saltis di Festival Rock se Indonesia ke-V versi Log Zhelebour—malah sempat menerbitkan dua album tunggal. Itulah beberapa butir ingatan saya yang disampaikan kepada dua dedengkot rock asal Sumenep tersebut, siang itu.

“Iya, iya. Ya. Namanya nasib ya begini. Saya bahkan tidak pernah bertemu lagi dengan Bakar. Kabarnya dia sekarang bersama Sucker Head. Saya tidak tahu pastinya. Saya hanya hanya ngumpul sama teman-teman kami yang ada di sini, di Sumenep.”

* * *

Demikianlah kisah pertemuan pertama saya dengan dua orang pentolan band Saltis, band pertama dari Madura yang dikenal secara nasional melalui 10 Finalis Festival Rock se Indonesia ke-V versi Log Zhelebour. Saltis beruntung karena di festival ke-V inilah karya para finalis dinaikkan ke studio rekaman oleh Log, berbeda dengan generasi sebelumnya yang ‘hanya’ jadi buah bibir di koran saja, seperti Adi Metal. Adapun Elpamas dan Grass Rock (sebagai sesama alumni festival) sempat segera menorehkan album Dinding Kota dan Peterson: Anak Asuhan Rembulan.

18767026_10212056866209299_1329867529_o

Foto oleh Moh Khatibul Umam: “Reuni Setelah 27 Tahun”

Malam Ahad, 20 Mei 2017, mereka reuni, bertemu di sebuah studio musik di kota Sumenep. “Ini adalah pertemuan saya dengan rekan-rekan Saltis setelah 27 tahun berpisah,” kata Bakar Bufthaim yang kini tinggal di Jakarta.

Salah satu lagu Saltis, “Sumekar” pernah dipentaskan secara live dan saya sempat mendengarkan hasil rekamannya kala masih menggunakan pita kaset. Saya mendapatkannya dari salah seorang penonton yang hadir di lokasi, ketika itu, pada saat hari jadi Kota Sumenep, entah tahun berapa. Apakah mereka masih ingat lagu itu? Saya masih ingat baris lirik pertama, chord, bahkan nada dasarnya. Entah dengan mereka. Begitulah memang. Terkadang, seorang fans itu bahkan lebih tahu sesuatu yang dimainkan si artis bahkan melebihi artis itu sendiri (M. Faizi).

________________________________________________________________

Gambar lainnya:

6137829_b76e38eb-d1e9-4806-bb6f-4730bdf2f3a5

sampul belakang CD, sumber: https://goo.gl/2yVHYm

12182968_10205189850689255_603063318465825900_o

Saya (M. Faizi; kiri) dan Encunk Hariadi (kanan, vokalis Saltis). Dulu, yang kiri fans dan yang kanan idola. Sejak ada media sosial, semua berubah dan kini menjadi ‘setara’ 🙂 (Foto oleh Januar Herwanto)

Baca lebih lanjut

Iklan

Chord, Modulasi, dan Kecerdasan Musikal

oleh M. Faizi

“C, A minor, D minor, ke G, ke C lagi
A minor, D minor, ke G, ke C lagi
A minor, D minor, ke G, ke C lagi…”

Ini adalah refrain lagu band Kuburan yang berjudul “Lupa-Lupa Ingat”. Sepintas, lagu ini seperti main-main. Namun, sejatinya, intro lagu tersebut menyiratkan sebuah fenomena musikal; sebuah pernyataan dan kenyataan. Apa itu? Bahwa lagu yang sederhana, yang umum, adalah lagu dengan chord-chord yang simpel, seperti tampak pada susunan di atas, misalnya. Chord lagu yang sederhana biasanya mengandung unsur Do, La, Mi, Sol, Do. Jika Do = C, maka susunannya tak akan jauh beda dari susunan sebagaimana pada lagu Kuburan di atas itu.

Betul memang ada komposer atau musisi yang bereksperimen dengan chord, seperti pada lagu “Hio” dari kelompok “Swami”. Lagu yang dibawakan oleh Sawung Jabo ini hanya menggunakan satu chord saja, dari awal sampai selesai, chord-nya cuma E minor. Tentu, adalah tugas berat mengaransemen lagu seperti itu agar tetap menarik dan tidak menoton. Sebab, varian-varian lagu yang semula dan biasanya dikembangkan berdasarkan chord, kini tiada sama sekali. Swami, mungkin juga yang lain, melawan mainstream dengan mencoba-coba pola pengembangan pada bebunyian nada-nada yang selaras dengan E minor.

Berkebalikan dengan itu, ada pula lagu yang sangat ruwet, yaitu menggunakan banyak chord. Hal ini tentu juga ada banyak pertimbangannya. Salah satunya, mungkin, adalah modulasi, yakni perpindahan nada dasar. Dengan modulasi, chord akan bertambah dan lagu akan makin semarak. Dengan modulasi sederhana sekalipun, seperti dengan mengganti chord asal dengan chord yang lain, seperti naik satu tangga saja, dari C ke D. Jika lagu dimulai dari nada dasar C, lalu A minor, D minor, ke G, terus ke C (seperti intro lagu “Kuburan” di atas), untuk mendapatkan modulasi tinggal menaikkan satu saja, C ke D. Dengan begitu, lagu akan berubah menjadi “D, B minor, E minor, ke A, ke D lagi. Untuk modulasi “sederhana” seperti ini, barangkali hanya cukup satu atau dua chord sebagai “jembatan”. Contoh, jika kita hendak berpindah dari C ke D, misalnya, kita cukup masuk ke A mayor setelah G mayor dan baru ke D.

Yang saya tahu, salah satu tokoh komposer penting dalam urusan modulasi ini adalah lagu karya-karya garapan David Foster, seorang arranger asal Kanada. David Foster banyak mengorbitkan bintang-bintang tenar dunia. Salah satu karya garapannya yang cocok dijadikan permainan modulasi ini adalah lagu “Hard to Say I am Sorry” yang populer lewat vokal Peter Cetera. Mengapa lagu ini yang saya ambil contoh? Ya, lagu ini saya kenal sejak kecil dulu, kira-kira tahun 1986-an, dan baru saya ketahui belakangan kalau ternyata lagu itu memiliki ragam permainan chord yang cukup menawan. Pada lagu itu, David Foster tidak sekadar berimprovisasi bermain modulasi, namun tetap menjunjung tinggi nilai harmonis sebuah lagu, poppish, enak didengar.

Berikut chord untuk lagu “Hard to Say I am Sorry”

C-Em (verybody needs…)
F-G-Am-G
C-Em
F-F-G-Am-G

Am-F (hold me now…)
Am-C
Am-F-Gsus4-G

C-F-G (after all…)
Em-Am
D-C-F-G-C
C-F-G-Em
Am-D7-Gsus-G

Modulasi “After all…”
Bb7-Eb-Ab-Bb
Gm-Cm
F-Eb-Bb

(Interlude)
Eb-Ab-Bb-Gm,
Cm-F7-Bbsus-Bb
Eb-Ab-Bb-Gm,
Cm-F7-Bbsus-Bb

You are going to be the lucky one…
C#m-F7-G-C

Jika selama ini kita hanya terbiasa mendengar lagu tersebut, sensasi permainan modulasi akan biasa saja. Namun, sebagai orang biasa, saya menjadi kagum setelah menyadari kecanggihan variasi chord yang dimainkan untuk mencapai modulasi pada lagu yang dipopulerkan oleh band Chicago di tahun 1982 itu. Saya lantas berkesimpulan, bahwa salah satu kecerdasan musikal seorang komposer itu akan tampak pada saat bagaimana dia memilih dan mencari varian chord untuk mencapai sebuah modulasi dalam sebuah lagu. Ini pendapat saya, entah bagaimana dengan Anda.

* Catatan: artikel ini diterbitkan pertama kali di MySpace, 26 Maret 2013. Namun, karena ada kebijakan baru dari MySpace yang menyebabkan artikel-artikel saya di sana tidak dapat diakses kembali, maka artikel ini saya terbitkan ulang.