Saya dan Bismania

Kecintaan saya pada bis*) dan hal-ihwal yang berhubungan dengan jagat perbisan sudah tumbuh sejak kecil. Salah satu buktinya: saya pernah punya buku saku berisi daftar nama-nama bis. Itu terjadi dulu, sewaktu saya masih duduk di bangku MTs (SMP).

Ketika ada orang bertanya, ‘mengapa bisa begitu?’, saya tidak pernah mampu menjawabnya, bahkan hingga hari ini. Awalnya, saya menduga, gelagat ini hanyalah gejala aneh kepribadian seseorang, itu pun—lagi-lagi menurut saya sendiri—tidak seberapa parah karena saya sadar bahwa apa pun yang bersangkut-paut dengan hobi itu biasanya memang tampak ganjil di mata umum. Contoh: Apa senangnya hobi koleksi pulpen sedangkan ia tidak pernah digunakan sama sekali? Kira-kira, begitulah.

Hingga pada suatu hari, jika tak salah itu terjadi di bulan September, 2007, saya membaca sebuah laporan di Harian KOMPAS, sebuah liputan tentang perilaku sekelompok orang yang memiliki kegandrungan terhadap dunia perbisan. Konon, mereka disebut “bismania”. Orang-orang ini dipandang aneh oleh masyarakat, terutama jika mengingat tujuan plesir mereka itu bukan ke pantai atau ke gunung, melainkan ke terminal, ke pool, ke garasi. Bahkan terkadang ada pula yang “niat banget” mengunjungi tempat terjadinya kecelakaan untuk berdoa di sana. Belum lagi mereka yang pergi naik bis entah ke mana. Maksudnya, bagi tipe mania jenis ini: tujuan tidak penting-penting amat karena yang terpenting dari tindakan itu adalah numpak bisnya, bukan tujuannya (simak kisah Rian).

Nah, dari laporan itu, saya mulai mengerti apa bismania itu.  Ia adalah—kurang lebih—sebutan untuk orang/kelompok yang sangat gemar/suka terhadap bis dan dunia perbisan. Pada saat itu pula saya merasa punya teman yang memiliki kegemaran yang sama. “Rupanya, saya tidak benar-benar sendirian dalam keganjilan,” batin saya pada diri sendiri.

Berdasarkan pembacaan dan penelusuran data, saya menemukan kenyataan bahwa para penggemar itu ternyata banyak ragamnya. Ada yang tergabung dalam kelompok, organisasi, komunitas, dan perseorangan. Di antara kelompok/komunitas tersebut, yang pertama saya tahu adalah, ya, “bismania” itu sendiri. Perkumpulan ini berdiri tahun 2007 dan pecah setahun kemudian: bismania.com (berkomunikasi lewat forum, juga dikenal dengan ‘forbiscom’) dan bismania.org (berkomunikasi lewat ‘mailinglist’ di ‘yahoogroups’, berbentuk komunitas, dikenal dengan ‘BMC’ atau ‘bismania community’). Perpecahan ini, konon, dipicu oleh perbedaan visi saja, bukan yang lain. Sesudahnya, muncul lagi nama-nama kelompok lainnya, seperti Jakbus, Bandung Bus Lover, dan entah apalagi.

Mengapa saya bergabung dengan BisMania Community (BMC)?

Tak lebih hanya karena rujukan dan jujukan yang pertama kali saya temukan dan akhirnya saya ikuti itu adalah ‘milist’ (mailing-list). Hanya itu saja alasannya, lebih karena faktor kebetulan. Jika ada lagi alasan karena BMC itu berbasis komunitas dan oleh karenanya ia bersifat/bervisi nirlaba, itu hanyalah faktor alasan yang datang kemudian.

Di awal-awal bergabung dengan komunitas ini, saya kenal dengan Pak Harsono dan Irawan (Cak Awan), dua orang sesepuh yang mungkin saja termasuk tokoh utama yang terlibat dalam pendirian perkumpulan ini. Perkenalan itu menyebabkan perkenalan selanjutnya. Awalnya, kami “saling mengenal” hanya di dunia maya, hanya di mailing-list dan belakangan di Facebook. Terus terang, saya bukanlah aktivisdi komunitas ini, tidak rajin kopi darat (kopdar), dan hanya beberapa kali saja mengikuti jambore nasional-nya, termasuk jambore yang ke-8, yang terakhir. Jambore yang pertama kali adalah pada tahun 2007 dan bertempat di garasi PO Nusantara, Kudus. Berikut rinciannya:
Jambore 1 Kudus
Jambore 2 Jogja
Jambore 3 Salatiga
Jambore 4 Bandung
Jambore 5 Malang
Jambore 6 Jepara
Jambore 7 Banyumas

Visi-Misi Bismania

Hari ini, ketika hampir semua orang memiliki akses ke media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, mudah ditemukan orang yang mengaku dan mendaku seorang ‘bismania’ hanya karena mereka gemar bis, atau suka foto-foto bis, atau suka ngomong tentang bis. Tentu saja itu hak mereka untuk menggunakan sebutan “bismania” untuk dirinya sendiri jika yang dimaksudkan adalah sekadar definisi penggemar bis belaka. Namun, jika untuk menjadi keluarga besar BMC (saya tidak tahu, apakah ini juga berlaku untuk komunitas yang lainnya), tentu saja tidak sesederhana itu syaratnya.

Bagi saya, menjadi bismania di BMC itu harus memiliki visi dan misi yang jelas, yang salah satu dasarnya adalah persaudaraan. Seseorang yang mengoleksi miniatur bis, punya banyak kaos karoseri, bahkan punya perusahaan otobus, orang penting di ATPM, dan mungkin pula mengoleksi emblem pabrikan, boleh saja menyebut diri ‘bismania’ atau ‘bismaniak’ atau ‘penggemar bis’. Namun seorang bismania dalam pengertian warga BMC haruslah, sekali lagi, memiliki asas persaudaraan, persahabatan, kemanusiaan.

Di antara hiruk-pikuk jambore nasional (jamnas) bismania ke-8 (berlangsung pada hari Ahad yang lalu, 23 April 2017, di Mekarsari, Cileungsi, Bogor; dituanrumahi oleh korwil Jakarta Raya), banyak momen berharga yang terjadi, berlangsung sekilas bahkan mungkin tak pernah terjadi lagi. Ada pemandangan haru ketika saya melihat rekan-rekan panitia sibuk mempersiapkan segalanya demi peserta. Saya melihat dan saya memperhatikan. Begitu pula, di saat yang sama, saya juga mengamati, ada yang cuma asyik foto-foto sendiri dan mengabaikan apa pun yang ada di sekitarnya. Saya lihat, ada pula satu-dua orang yang saling berkenalan serta berasal dari daerah yang saling berjauhan. Ada pula yang datang sekeluarga, lengkap dengan pasangan dan anaknya.

Sungguh menarik pemandangan ini. Akan tetapi, yang paling menarik perhatian saya adalah manakala di antara mereka, saya melihat Cak Awan dan beberapa anggota kawak dari Surabaya, berusaha membimbing rekan-rekan muda lainnya, mendidik mereka, untuk memberikan hormat kepada sesepuh dan para panitia dengan mengajaknya bersalaman, pamitan. Nah, inilah salah satu bentuk pewarisan nilai yang saya maksudkan, nilai dalam persaudaraan. Bahwa bis/bus itu hanyalah tambang yang saling mengikat, sementara pasak dan tiang pancang yang diikat itu adalah nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan itu sendiri.

Bukan tidak mungkin, ada yang datang ke jamnas itu hanya karena ingin mendengarkan “perang telolet”, atau sekadar hanya punya keinginan melihat-melihat puspa ragam model karoseri dan warna-warni livery, atau hanya karena ingin foto-foto bis belaka. Akan tetapi, saya kira, lebih banyak lagi orang yang datang ke jamnas karena dorongan persaudaraan. Dengan asas ini, BMC bukan lagi sekadar nama bagi sebuah komunitas penggemar bis semata, melainkan lebih dari itu. Bagi saya, BMC atau ‘bismania community’ itu adalah rumah bagi banyak orang dan sahabat, tidak ada pandang bulu di dalamnya, baik Anda pemilik PO atau hanya sekadar penumpang. Karena itu, menjadi seorang bismania itu sejatinya harus mampu menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan karena didasarkan atas kesamaan kegemaran, bukan sekadar menyalurkan hal-hal remeh yang bakal habis dalam waktu sebentar.

Inilah pandangan saya. Dan Anda, tentu saja, boleh berbeda pendapat, kita tetap bersahabat, menjadi seorang bismania.

______________________

*) Dalam KBBI, kata yang baku adalah ‘bus’, bukan ‘bis’. Saya tetap menggunakan kata ‘bis’ hanya karena sudah terbiasa, suka-suka.
**) foto-foto oleh Fathurrozzaq

Iklan