Sabang – Madura

Perjalanan saya ke Sabang awal Maret lalu dengan cara melakoni jalan darat hingga Madura terlaksana dengan baik. Keinginan ini sudah saya simpan begitu lama. Menghayati keindahan sebagian alam Indonesia melalui setiap tikungannya benar-benar berasa menakjubkan. Sebab itulah, terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan apresiasi, tenaga, pikiran, sumbangan material, dorongan, dan sebagainya.

Berikut adalah rangkuman perjalanan saya. Adapun catatan perjalanan yang lebih rinci untuk setiap babak jalur daratnya sudah saya tulis dan saya terbitkan secara langsung, di Facebook dengan hashtag #sabangmadura. Foto-foto pada posting blog ini bersumber dari kamera yang saya gunakan maupun dari orang lain (mohon izin saya pakai).

HARI KE-1, SABTU, 3 MARET:

Diantar Mundzir pakai Honda Grand ke Prenduan, saya berangkat pukul 23.00 dengan AKAS menuju Surabaya, nyampe pukul 02.30.

HARI KE-2, AHAD, 4 MARET

Makan soto dulu di tempat biasa sambil melihat kesibukan terminal Purabaya, saya berusaha duduk tegak di bangku depot, tidak bersandar, takut ketiduran. Hampir subuh, karena bis Damri tujuan Bandara baru beroperasi pukul 05.00 sedangkan jadwal penerbangan saya pukul 05.30, saya pun berangkat ke Bandara, ngojek dengan ongkos 30.000 (ojek biasa, bukan gojek; saya tidak pakai aplikasi). Habis subuhan di mushalla bandara yang sempit (bandaranya gede amit, mushallanya sak crit-iprit), saya langsung cari pintu 8 untuk boarding, siap masuk ke kabin Batik Air (ID 6401).

Tiba di Jakarta, jatah waktu transit cukup pendek, tapi masih leluasa untuk mengurus penerbangan lanjutan (connecting flight). Maka, pukul 07.45, saya nyambung lagi ke Banda Aceh dengan maskapai yang sama (kodenya ID 6896) dan tiba di BTJ pukul 10.35. Landing sangat halus, mungkin pilotnya bekas pilot pariwisata. Namanya Kapten Damar kalau saya tak salah dengar.

Saya dijemput oleh Ananda Ampon. Orang ini tidak pernah jumpa dengan saya. Kami hanya berteman di Facebook. Kami diperkenalkan oleh Mas Fatur. Dia datang dan saya langsung menyebut nama tujuan: warung kopi kesohor. Dia ajak saya ke kontrakannya sebentar, lalu bawa saya ke Solong. Saat itu, saya juga janjian dengan Nazar. Orang ini malah sudah lama kami saling kenal. Saat saya minta petunjuk arah sama si Ampon dan bilang bakal ada satu teman saya yang juga mau bergabung. Saya jelaskan sama Ampon bahwa teman saya itu pendiri sekaligus vokalis band “Apache 13”. Dia kaget karena saya kenal dia. Saya ikut-ikutan kaget karena ternyata Nazar sekarang sudah jadi artis, sama sekali saya tidak menyangka. Ketika bertemu, kami kaget berjamaah karena ternyata bisa bertemu sungguhan, hanya diperantarai oleh kupi-kupi di atas meja..

Sorenya, pukul 16.00, kami nyeberang ke Pulau Weh, Sabang. Rencana ini bersifat dadakan karena Ampon bilang ada kerjaan sama Mas Uhib. Jadi, sore itu kami pergi bertiga. Rancangan awal perjalanan adalah pergi sendirian, esoknya, Senin, 5 Maret 2018. (Intinya, saya harus sudah berangkat ke Medan pada malam Selasa, itu kata kuncinya).

Kami naik ferry cepat Express Bahari. Ongkosnya 80.000 per gundul. Jaraknya 30,5 km yang  ditempuh 45 menit. Bisa dibayangkan kecepatan ferry ini, atau gunakan hitung-hitungan kalau mau tahu angka spido yang pasti.

HARI KE-3, SENIN 5 MARET:

Saya masih ada di penginapan sampai pukul 10.00. Agak rugi juga kalau cuma ngendon di situ, pikir saya. Tetapi, saya juga tidak bisa ngapa-ngapain kerena dua orang sahabat baru saya ini sepertinya masih punya urusan serius dengan bantal dan kasur. Saya biarin, tapi saya tidak ikut-ikutan. Untuk apa jauh-jauh pergi ke Sabang jika hanya untuk tidur?

Siang kami balik ke Pelabuhan Balohan. Gara-gara keasyikan ngopi di pelabuhan, menu kopi saring (kupi tarik) yang rasanya memikat, sampai-sampai kami yang menunggu lebih dari satu jam untuk kapal cepat yang terjadwal berangkat pukul 14.30 itu pun berakhir ‘tragis’. Kami terlewat. Kami berlari ke pelabuhan dan ferry ternyata sudah berangkat. Akhirnya, kami balik lagi, duduk lagi, ngopi lagi. Nasib kami sama seperti kemarin: dapat kapal yang terakhir. Coba saja ketinggalan lagi, pasti kami sudah menginap di Pulau Weh ini. Tentunya, jika hal ini terjadi, seluruh rancangan perjalanan akan berubah.

Dari pelabuhan Ulee Lheu (Banda Aceh), saya mampir sebentar di rumah paman Ampon. Dia ada urusan katanya. Sebentar kemudian, saya menuju ke Landom. Kami janjian dengan Fauzan. Untungnya, Fauzan ngontak kawannya yang ternyata juga merupakan kawan saya yang lain, Azahari Aiyub. Di antara waktu yang tidak lama itu, kami ngobrol banyak hal, mulai dari tradisi ngopi, ketaatan menjalakan syariah warga Aceh sejak sebelum diperda-perdakan, serta kegiatan kami bertiga selama ini.

Ananda Ampon lantas pergi entah ke mana. Kami janjian ketemu lagi bakda isya, di kedai kopi El Commandante, depan Terminal Batoh. Sementara saya memasrahkan diri kepada Fauzan agar setelah azan maghrib, saya diumpan ke Masjid Raya Banda Aceh, Masjid Baiturrahman, dan setelah itu agar mengumpannya lagi ke terminal. Semua itu dieksekusi dengan baik. Maka, malam itu, perjalanan darat naik bis yang saya taksir akan menempuh 3800 kilometer sampai rumah ini pun dimulai.

Saya melakukan perjalanan naik bis di Pulau Andalas ini ke Medan dengan bis PMTOH.

HARI KE-4 SELASA 6 MARET:

Saya tiba di pool PMTOH di Medan pada pukul 08.39. Tak lama setelah itu, datanglah Iqbal Gobel bersama Fandi, sepupunya. Menyusul setelahnya adalah Frans. Canaka, yang saya hubungi pertama justru datang paling bontot. Belakangan, saya tahu, Canaka berangkat dari tempat yang paling jauh, dari Pelabuhan Belawan: sebuah nama yang sudah lama saya kenal berkat lagu Tommy J. Pisa.

Kumpul semua? Yok berangkat! Dari situ, dengan mobilnya, saya diantar Iqbal ke RM Sinar Pagi, dekat Tugu SIB (Sinar Indonesia Baru), tugu yang tampaknya memiliki sejarah penting bagi pers di Medan.

Di rumah makan, Toni datang. Toni adalah adik Inyak Ridwan. Tumbennya, Toni ternyata kenal dengan Akhyar, calon tuan rumah saya di Bukittinggi besok yang juga belum pernah saya kenal hingga hari ini kecuali di media sosial saja. Habis ngembat soto dan beberapa cemilan, kami lanjut ke pool ALS di Jalan Sisingamangaraja, Km. 6,5. Saya janjian dengan Ayu (dihubungkan oleh Ampon) yang membantu membelikan tiket dan memilihkan armada jurusan Padang. Lagi-lagi, saya juga enggak kenal sama perempuan ini sebelumnya.

Sebelum ke lokasi, kami sempat mampir di Istana Maimun, hanya menunaikan rukun medsos, yaitu foto-foto. Dan saat tiba di pool ALS, tiket saya langsung diserahkan oleh si Ayu.

Pukul 12.00, bis bergerak meninggalkan kota Medan, melewati Tebing Tinggi, Siantar, Toba Samosir, Simalungun, Balige, Siborong-Borong, Sipirok, Pahae, Padang Matinggi, dan Bukit Sikaping. Tibalah kami di Bukittinggi pada pagi Rabu saat matahari sudah tinggi. Cerita lengkap semua perjalanan sudah saya tulis secara langsung tempo hari di Facebook.

HARI KE-5, RABU 7 MARET:

Ada dua orang yang menyambut saya. Namanya Akhyar Fuadi dan satunya Rinal Wahyudi. Keduanya, sama seperti Ampon dan Ayu, tidak saya kenal (kalau Gobel, Canaka, dan Frans, saya kenal duluan, akrab bahkan). Dia lantas mengajak saya pergi ke Ngarai Sianok, ke salah satu panorama indah di Bukittinggi yang gambarnya pertama kali saya lihat di pecahan uang kertas 1000 rupiah zaman dulu, zaman di kala itu nominal sebesar itu cukup buat beli nasi dua piring pakai lauk tahu.

Di bawah ngarai, kami makan “Gulai Itiak Lado Ijau” (karena “adiak” itu adik, jadi “itiak” itu adalah itik. Demikian rumus Bahasa Minang), salah satu kuliner ternama di sana, katanya, sih, begitu. Setelah lihat-lihat pemandangan ngarai dari dalam ngarai, kami ganti melihatnya dari atas, dari tempat melihat yang dikarciskan, satu komplek dengan Lubang Jepang.

Sehabis itu, mereka lantas mengantar saya ke penginapan. Wah! Tak disangka. Saya berharap agar tidur di bilik pondok, kok malah dikasih tempat begini rupa? Lumayan nikmat untuk punggung yang duduk terus-menerus selama 32 jam di atas bis sedari Banda.

Usai ganti baju dan istirahat, kami berangkat ke PP Ashabul Yamin. Saya berbagi pengalaman dengan “adiak-adiak” santri di sana. Mereka kecil-kecil dan imut. Pondoknya tak kalah imut, berada di daerah Lasi Tua, Agam, di kaki Gunung Marapi. Tentu saja, pemandangannya superb: indah nian. Belakangan, saya tahu kalau si Akhyar ini ternyata juga mengajar di sana. Dia pegang kitab “Bidayatul Balaghah” karangan Kiai Sirajuddin Abbas (kenal, kan, sama nama ini? Itu, lho, buku “40 Masalah Agama” yang empat jilid). Pondok ini didirikan oleh salah satu murid Syaikh Sulaiman Ar Rasuli, salah satu pendiri PERTI.

Seusai acara, kami diantar mereka ke Payakumbuh karena saya bilang ingin jumpa sama kawan saya: Iyut Fitra. Sebelumnya, saya diajak melahap makanan berat khas Sumatra Barat di Pangek Situjuah. Restoran ini sangat asri karena berada di tengah pematang sawah, mewah menunya, dan nyaris bersantan semua.

Senang luar biasa ketemu sama Uda Iyut. Betul saya guyon sama beliau tempo hari lewat SMS, bahwa uang buku dia yang saya bantu jualkan tidak akan saya transfer, melainkan akan diantar langsung. Beliau, kala itu, cuma haha-haha karena mengira saya guyon. Ya, saya memang guyon ketika itu, tapi malam itu saya menyeriusinya: mengantar langsung uang tersebut dan menyerahkannya dari tangan ke tangan, di beranda rumahnya.

Sepulang dari Payakumbuah, saya kembali ke Bukit, minum jamu “teh talua” (teh dicampur telur, tapi tidak amis). Saya sempat kaget karena menerima telepon dari rumah. Kabarnya:  anak ketiga sakit (yang kebetulan namanya mirip dengan nama pondok yang saya singgahi, tadi) dan anak keempatnya (yang lagi belajar bicara) selalu nyebut-nyebut saya. Demikian kata mamaknya. Waduh, gawat. Saya galau dan sedih.

Malam itu, saya gelisah, sembari mikir cari cara jalan pulang naik pesawat dari Padang, tapi mau pakai duit siapa? Entah. Untunglah, saya tidur, dan esoknya berita sudah berubah. Beres semua masalah. Alhamdulillah.

HARI KE-6, KAMIS 8 MARET:

Saya tiba di agen PO Yoanda Prima, Jalan Simpang Taluak, Jambu Air, Bukittinggi. Kabar yang saya terima dari agen sungguh langsung bikin mules: bis masih di Solok dalam perjalanan ke Bukittinggi, baru pulang dari Palembang. Wah, mau telat berapa lama ia? Saya tidak tahu, di mana letak Solok karena saya tak bawa GPS dan atlas saya ketinggalan di rumah. Untung, di Medan, tempo hari, Frans kasih saya peta lipat. Itulah bekal utama saya untuk orientasi medan lintas Sumatra.

Bis datang persis setelah saya shalat duhur. Berangkat tak lama setelah itu. Beruntung pula saya bawa sangu nasi bungkus yang dibawakan oleh Akhyar. Saya makan sangu itu di Padang Panjang saat bis parkir sebentar untuk nambah sewa. Akan tetapi, keterlambantan ini dibayar tunai oleh pemandangan dan bentang alam Sumatra Barat yang memikat. Sungguh sulit diceritakan dengan kata-kata, lebih baik dengan foto atau datangi langsung tempatnya saja supaya Anda tidak penasaran. Hampir semua spot yang saya lewati itu indah semua, semuanya.

Masalah muncul ketika bis masuk Muara Bungo, pukul 23.10. Udara suspensinya tidak naik yang artinya mesin kompresornya rusak. Setelah diperbaiki dua jam lebih, ketemulah masalah. Karet klepnya sobek. Untuk darurat, kru bis menggantinya dengan ban dalam. Aman, bis berjalan kembali. Esok paginya, bis kembali bermasalah pada pengatur suhu (AC) kabin, hanya karet kendor, beres dalam hitungan waktu 10 menit. Kru bis sumatraan memang bisa sembari merangkap jadi montir. Mungkin, kalau mereka pindah ke Jawa, sudah layak buka bengkel.

HARI KE-7, JUMAT 9 MARET:

Yang terjadwal sampai di Palembang pagi, eh, kami tiba sore, pukul 14.30. Ya, itu tadi penyebabnya: berangkat telat dan pakai acara mogok, padahal reputasi bis ini sangat bagus. Saya turun di Grand City, main ke rumah Pak Mukhlisin. Perumahan ini milik Ciputra. Tahu sendirilah, kayak apa perumahannya, he, he. Pos satpam-nya saja pakai dua lapis. Melihat tampilan saya yang pakai sarung dan muka kucel, mestinya mereka curiga, tapi ternyata tidak. Mas satpam menyambut baik. Pasti, yakin pasti, Bang Muk sudah kasih “kata sandi” sama mereka soal tamu yang akan datang ini.

Di rumah Pak Muk, saya bertemu Wayan, kawan yang kenal di Surabaya tapi Bali ‘poenya’. Di sana, saya juga janjian dengan kawan sebangku dulu, di IAIN, Walidin Iskandar. Senang sekali mendengar kabar kalau dia kini jadi dosen di IAIN Raden Fatah, Palembang. Saya pinjam emper rumah Bang Muk untuk reunian.

Rencana shalat jumat di Masjid Raya Palembang gagal, istirahat pun gagal. Bagaimana mau istirahat wong waktunya serbamepet. Bertemu dengan orang-orang baik dan menyenangkan itu sesungguhnya merupakan rehat dalam bentuk yang lain, percayalah!

Malamnya, pukul 23.00, saya berangkat menuju Lampung. Saya nebeng bis pariwisata Cahaya Wisata (saya sebut ‘nebeng’ karena Dian–yang saya hubungi sebelumnya–tak mau diganti ongkos). Saya diajak Dian Damar agar pergi bersama. Ada banyak kawan baru malam itu, beberapa kawan Sumatra yang baru saja saya kenal, ya, pas saat itu, beberapa menit sebelum saya bergabung dengan mereka, termasuk dengan Kang Harjo dan Kang Julianto RG (cc-nya besar sekali). Berdasarkan nama, kayaknya mereka ini “pujakesuma”: putra Jawa kelahiran Sumatra. Sungguh, saya merasa, betapa media sosial itu memang modal sosial, tentu saja pengertian ini hanya berlaku bagi yang memahaminya begitu.

Kejutan terjadi di penghujung malam, di ujung “jalan pintas” itu, ketika sudah tinggal selangkah lagi kami mencapai Batukuning, Baturaja, bis terhenti. Dua tronton dan satu trailer terjebak di jalan rusak, selip. Posisinya melintangi jalan. Kami menyerah.

HARI KE-8, SABTU 10 MARET:

Kami (saya, Wayan, Yosa), akhirnya berpisah dengan rombongan. Berat sungguh harus berpisah. Ternyata, perasaan demikian bukan hanya tergambar di dalam lagu-lagu dan video klip saja sedihnya. Pokoknya, saya (dan mungkin kami) harus segera tiba di Sari Ringgung, Lampung, karena tempat itu memang merupakan lokasi acara salah satu tujuan perjalanan, jadi harus segera “gerak”, tak boleh kelamaan “terjebak”. Acaranya siang, sementara pagi itu kami masih berada di area Sumatra Selatan.

Jelang pukul 6 pagi, ada ALS tujuan Medan-Jogja melintas. Kami cegat, numpang, dan selamatlah. Tujuh setengah jam kami bersama bis ini hingga tiba di Masgar, Pesawaran. Mereka berhenti di rumah makan, kita lanjut lagi dengan bis Puspa Jaya menuju Bandar. Selamat lagi, tapi kami sedang kelaparan.

Untungnya, kami ditolong oleh Yuli Nugrahani yang menyambut kami di Bundaran kota, lewat sedikit dari pukul dua siang. Ia membawa kami ke ayam geprek. Kembali selamat, kembali tertolong. Ajaib, pemilik warung (Pak Aji) menggratiskan semua hidangan di meja. Tetangga warung, entah ibu siapa namanya (Yuli pun tidak kenal) turut berbuat kebaikan dengan nyumbang dua piring sate rempelo ati dan sepiring ikan kembung (jazahumullah). Pak Aji bikin kejutan tambahan, ia meminjamkan mobilnya untuk kami supaya cepat tiba ke lokasi.

Hari itu, kami ikut menyaksikan acara jambore nasional bismania community (BMC). Bagi saya, yang terpenting dari acara ini adalah niat silaturrahmi. Ini yang utama, bahkan itulah yang menggerakkan semangat saya dalam menempuh ribuan kilometer. Soal foto-foto dan lainnya hanyalah “de-el-el”-nya.

Pukul 9 malam, kami pulang. Saya numpang armada kawan-kawan Jakarta Raya, nebeng lagi dan gratis lagi. Mereka menolak ketika saya urun sumbangan. Apa uang saya tidak laku di Sumatra? Saya tidak tahu, kenapa kok selalu begitu. Saya naik PO Haryanto MD-02 yang kebetulan kenal baik sama pengemudinya, Pollo (keluar pelabuhan, saya ganti bis, pindah ke rombongan satunya yang naik PO Panorama). Numpang, sih, numpang, tapi saya dapat “kedudukan” di kursi nomor 1. Mungkin mereka kasihan karena muka saya menyiratkan gurat-gurat kilometer-kilometer mahapanjang dari Kilometer Nol Indonesia di Sabang.

Kejutan belum berakhir, saya ditakdirkan bertemu dengan Rusman dan Maman Bayzuri, teman main masa remaja dulu, di Panjang, di jalan akses ke Bakauheni, pada saat beberapa orang anggota penumpang beli buah tangan dan bis berhenti, parkir berbanjar. Oh, heroik sekali. Kedua kawan tersebut menempuh perjalanan sekitar 3 jam demi salaman dan foto bersama (untung fotonya enggak blur) dan bertemu sekitar 15 menit saja. Alangkah betapanya!

HARI KE-9, AHAD 11 MARET:

Masuk ferry pukul 02.30 di Bakauheni, kami tiba di Merak pukul 06.00. Subuhannya berlangsung di atas KMP Sebuku. Inilah pengalaman pertama saya naik ferry bertingkat; dua lantai untuk mobil dan lantai atas untuk penumpang. Mengharukan karena di atas ferry itu dikumandangkan azan dan lengkap dengan shalat subuh berjamaahnya. Sumatra memang istimewa. Sejak saya berangkat, tidak satu shalat pun terlewat, terutama subuh yang kalau di Jawa itu bis-bisnya pada ngelibas semua (satu dua saja yang mau berhenti dan mempersilakan penumpangnya untuk menunaikannya). Sejauh ini, tiga bis Sumatra berbeda PO, selalu mempersilakan penumpang untuk subuhan.

Kami tiba di Cawang, dekat UKI, pukul 9 pagi. Langsung saya isi perut dengan soto yang ditraktir oleh—entah siapa, apa Rully atau Mas Fatur atau siapa. Setelah kenyang, kami bubar. Saya nunut Wagim ke kontrakan Mas Fatur; titip tas di sana dan mandi di kos Rully: suatu teknik agar mereka sama-sama merasa disinggahi.

Saat nunggu bis di Pulo Gebang, saya bertemu lagi dengan kawan lama, Masrur Akhmadi, cowok ganteng dari Purworejo. Ia bersama tiga anak dan satu istrinya. Ia nyangoni saya roti-roti supaya tidak kelaparan, katanya. Karena duhur sudah masuk dan bis belum datang, saya shalat dulu, dikawal oleh Bimo, petugas dishub di situ yang kebetulan baru akan berteman di Facebook dengan saya beberapa saat sesudahnya. Rasanya, saya seperti kepala terminal yang sedang melakukan sidak kebersihan mushallanya.

Bis datang pukul setengah satu siang lewat sedikit. Rupanya ia datang dalam keadaan sudah membawa penumpang dari Tanjung Priok. Akhirnya, saya pun berangkat setelah dada-dada sama para mas-mas pengantar: Fatur, Moko, Rully, Masrur sekeluarga, juga Bimo. Puji syukur, perjalanan saya dengan Karina bis tingkat ini lancar jaya, tanpa rintangan, sehingga pagi sekali sudah masuk Madura.

Oya, saya naik bis ini secara BDB, ditraktir oleh seseorang yang bergerak di dunia perbisan juga, tapi yang jelas bukan orang-orang di lingkaran Lorena-Karina.

HARI KE-10, SENIN 12 MARET:

Saya turun di masjid Masjid Al-Jihad, Juklanteng, dekat pelabuhan Tanglok, Sampang. Saya langsung subuhan dan kembali berdiri di pinggir jalan.

Tadi, di Masjid Al-Ihsan, Nyiburan, timurnya Lomaer, saya sempat lihat AKAS ASRI sedang parkir. Mungkin mereka mempersilakan para penumpangnya untuk shalat subuh. Dengan asumsi demikian, posisi bis tadi berada di belakang kami. Maka, benar sesuai dugaan, tak lama kemudian, bis itu datang. Saya menggubit. Bis sein kiri, menyisi. Saya pun ikut dan bayar 15.000 untuk tujuan Prenduan.

Walhasil, tibalah saya di rumah menjelang pukul 8 pagi dalam keadaan utuh, baik tubuh maupun barang-barang bawaan. Yang berkurang dan nyaris tidak tersisa hanyalah isi dompet.

Iklan

Catatan Perjalanan Biasa: Jakarta-Kudus

Diantar oleh banyak kawan, membawa sangu dan roti yang enak-enak, dalam keadaan sudah menunaikan kewajiban shalat maghrib-isya’ berjamaah, serta menjadi penumpang terakhir yang naik tapi dapat tempat duduk di kursi pertama bis super eksekutif: masih kurang kerenkah?

Berkisar hanya satu menit setelah saya duduk di kursi 1-A PO Nusantara tujuan Rawamangun-Kudus, bis langsung berangkat. Ini momen dramatis yang nyaris sempurna, bagaikan gol di injury time. Semula kami menunggu di jalur keberangkatan. Yang mangkal hanya MJCM, Jambi Transport, Sinar Jaya, Lorena, PO Haryanto. Ada Nusantara, tapi bukan yang kami tunggu.

Selamatlah saya dari ketinggalan bis karena ada seseorang yang melintas dan berkata.
“Hei, NS-04 itu ada di sana!” katanya sambil ke belakang. Ia sendiri melenggang, terburu-buru.
“Kita ke sana.” kata Rully. Saya ikuti.

Rupanya, NS-04, bis yang kami tunggu itu, parkir di belakang APTB, tak kelihatan karena terhalang, lagi pula parkir di ruas Jalan Pegambiran, jalan yang membujur di depan terminal.

Saya dada-dada begitu bis mulai bergerak. Dihadang kemacetan sejak berangkat, saya tetap sumringah sembari merasakan ironi: kabin yang senyap dan mewah di dalam, gerah, polusi, dan macet di luar; Jakarta banget. Pandangan mata jatuh pada sesosok lelaki yang duduk di belakang kemudi, seorang sopir yang dalam sekilas pandang menyiratkan senioritas. Ia memang layak berada di situ, batin saya, di belakang stir bercabang empat penuh tombol dan dashboard yang lampu-lampunya lembut bercahaya.

Pak SyuhadaSaya suka memperhatikan gaya sopir, terutama pada saat mengoper. Ada yang biasa saja, mirip robot, kaku seperti orang membuka pintu atau mencangkul, tapi ada pula yang ekspresif dan menghayati. Pak Syuhada’ adalah tipe kedua. Saya bahkan tersenyum kalau dia ngoper, halus sekali, seolah sedang pegang ulek pada cobek untuk menghasilkan sambal yang enak. Efeknya: tak ada hendakan sama sekali.

Di atas kursi tunggal yang berdinding di kanan-kirinya dengan dua tombol untuk menggerakkan sandaran dan penyangga betis, saya duduk manis (sensasi berbeda dengan yang sebelumnya, 3 atau 4 tahun yang lalu, duduk di kursi ganda, belakang sopir). Inilah layanan terbaik malam ini, untuk mata dan untuk pantat. Kiranya, menjadi tidak penting lagi saya perhatikan gambar-gambar bergerak di dari televisi di dalam kabin yang dibangun oleh Adi Putro di atas sasis Scania K380ib ini. Mobilitas manusia dan kendaraan yang ditayangkan langsung melalui layar kaca nan lebar di depan lebih asyik untuk dinikmati.

Arus lalin tersendat, padat merayap. Rupanya, ada bis storing. Sontak, mungkin sebab ini, pak sopir nekat naik ke jalur busway meski sebentar, lalu turun lagi menjelang bibir pintu masuk Tol Pedati, 18:45. Saya tak menyangka akan begitu. Saya kira kelas SE itu bergaya priyayi. Mengapa sopir yang belakangan saya ketahui bernama Pak Syuhada’ ini melakukannya? Dugaan saya adalah untuk membayar tunai keberingsutan laju bisnya beberapa menit yang lalu.

jalur busway

Bis masuk tol. Namanya saja tol, yakni jalan bebas hambatan dan tentunya tak ada polisi tidur, tidak ada amal pembangunan masjid, tidak ada operasi lalu lintas, dan tidak bisa menaik-turunkan penumpang, namun bukan berarti bebas macet. Di ruas jalan itu, PO Nusantara K-1705-AB ini tetap berjalan pelan. Kami menyisir ruas jalan di antara himpitan kendaraan di jalan ibu kota yang ramai. Begitu padatnya hingga saya gamang karena seolah-olah badan bis akan menyenggol kendaraan lainnya.

Tol Jakarta-Cikampek tak sepadat tol yang sudah kami lewati. Di sana, kami bisa adu lari dengan kendaraan lain, tak terkecuali dengan Handoyo berbodi Celcius AA-1413-DA. Kecepatan rata-rata ada di angka 90 km/jam meskipun beberapa kali menyentuh kecepatan 120. Dalam pada itu, getaran dan goyangan bis nyaris biasa, hanya seperti sedang duduk di atas ELF yang dinyalakan dalam kondisi idle. Berlebihan? Silakan dikurangi sedikit hiperbola ini jika dianggap begitu, saya rela. Atau, coba sendiri, carikan perbandingannya.

Saya menguap. Kantuk menyergap. Sandaran kursi ditegakkan 90 derajat, menekuk seperti ‘L’ untuk menyelamatkan mata dari pejam di awal perjalanan, terasa lucu memang.

20.02: keluar Pintu Tol Cikampek

Sepintas, keluar dari pintu tol ini rasanya bagai keluar dari pintu Tol Perak-Gempol, disambut jalan yang sempit karena diapit toko dan kios di kanan kirinya. Tampak MJCM sedang parkir. Dugaan saya, inilah bis yang tadi berangkat 15 menitan di depan kami dari Rawamangun.

Bis terus melaju dan saya tidak (berusaha) mengingat secara cermat peristiwa-peristiwa kecilnya, sekuel atau adegan yang sudah lazim, dalam perjalanan ini disebabkan euforia yang menggebu: serasa naik pesawat yang berjalan di darat. Setelah mendahului B.18 menjelang Restoran Nikki 1 Patok Beusi, Nusantara SE meladeni Handoyo yang lagi-lagi berbaju Celcius, AA 1457-DA. Malam ini, Handoyo menjadi lakon pendamping yang senantiasa mengusik kami.

Malam minggu kemarin, 14 Juni 2015, dengan Madu Kismo ‘Samo Bae’ trayek Pamekasan-Pulo Gadung, saya lewat Cipali untuk pertama kali. Makanya, di malam Selasa ini, saya tak segera sadar kalau ternyata bis tidak lewat lagi di tol terpanjang itu kecuali setelah tiba di waktu servis makan di Taman Sari, Pamanukan.

MJCM menyalip saat kami bersiap turun (dari spion kanan, saya sempat mengintip, ia mengintai sejak Ciasem). Bis kami memutar di bawah jembatan tol dan masuk ke restoran Taman Sari. Jam menunjukkan pukul 20.50.

di Taman Sari

Jeda istirahat yang singkat saya gunakan sebaik mungkin. Meja prasmanan menyajikan bandeng presto, bukan ayam goreng sebesar kepalan tangan balita seperti yang sudah-sudah saya temui. Langsung saya eksekusi bersama pendampingnya; lalapan, martabak, kerupuk, kuah, juga buah. Meskipun yakin kopi di rumah makan seperti ini biasanya tidak serius (dibikin seadanya), saya tetap memesan juga. Terbukti begitu: terlalu manis. Saya sudah siap, lebih dulu meminta segelas air putih buat minum nanti setelah makan karena juga yakin teh hangat manis yang sudah disediakan secara cuma-cuma biasanya cenderung apa adanya.

21.28, tukar sopir, bis berangkat lagi. Heran, entah darimana muncul, tiba-tiba saja seorang lelaki yang secara usia mungkin lebih tua dari yang sebelumnya, bertopi, telah duduk di belakang kemudi. Mampukah ia membawa bis sama trengginas sebagaimana ‘sopir pinggir’ tadi? Seperti mampu membaca suara hati, ia menjawab keraguan saya dengan langsung bermain di tempo tinggi hanya beberapa saat selepas dari rumah makan.

Dari sini saya berasumsi, bahwa ongkos 260.000 untuk jarak Jakarta-Kudus yang nyaris setara dengan ongkos kemarin lalu untuk Pamekasan-Jakarta yang secara jarak bahkan hampir dua kali lipat jauhnya nyatanya bukan untuk membayar layanan tempuh/kilometer, kualitas hidangan makan, dan juga untuk eksklusivitas, melainkan lebih dari itu. Ada banyak hal lain yang diberikan oleh kelas super eksekutif ini dan sepintas tidak akan kentara secara fisik, semisal senioritas pengemudi dan pengalamannya, kenyamanan dalam pelayanannya. Mungkin ada lagi: kabin lebih tenang karena penumpang lebih sedikit.

Patrol pukul 21.50.

Benar, bis tak lewat tol Cipali, sebagaimana juga mungkin akan dialami oleh bis-bis yang restoran tempat ambil servis makannya berada setelah pintu masuk tol dari arah Jakarta, seperti di Patok Beusi, Pamanukan, dlsb. Apa jadinya jika rumah-rumah makan yang didirikan demi mengharap peruntungan dari para penumpang bis malam dan pelalu lintas ke arah Jakarta atau sebaliknya itu kini mulai ditinggalkan sebab para pelanggan telah lewat jalan tol? Ini adalah masalah baru ekonomi rakyat Pantura.

Jika statemen “Allah telah memberi rezeki setiap yang melata di muka bumi” adalah jawabannya, maka tak perlu lagi repot mempertimbangkan masalah ini, sebagaimana tak petingnya mengurus nasib penjaja makanan, asongan, dan kios-kios kecil di Pelabuhan Kamal yang biasa hidup selama 24 jam namun langsung kelimpungan pada saat diadakan pengalihan arus transportasi besar-besaran ke Suramadu. “Terbukti, kan, kalau kehidupan ekonomi di Kamal masih hidup sampai sekarang?”

Memang, itu benar. Kehidupan ekonomi di pelabuhan itu masih ada, tapi tentu harus diperhatikan bahwa “tetap hidup” tentu berbeda dengan “bertahan hidup”. Kenyataannya, semarak perekonomian mereka sudah jauh berubah, bahkan benar-benar berubah. Nah, dampak sosial dan ekonomi juga akan terjadi bagi penduduk yang selama ini berada di tepi jalan raya Pantura. Dengan adanya Cipali, kelompok manakah yang lebih diuntungkan? Lalu lintas dan moda transportasi atau masyarakat sekitar? Survey dan analisalah! Itu tugas Anda, bukan tugas saya.

Gambaran semacam itu hanya lewat sebentar. Memikirkannya hingga mengerutkan kening jelas tak mungkin bisa membuat saya berpejam hingga tak terasa ponsel menunjuk angka 23.14: pintu Tol Ciperna Utama, saat bis kami bertemu Handoyo lagi, Celcius lagi.

Ceritanya, kami lantas menyalip, ambil kanan, dengan bertaruh nasib bahwa ‘golongan kanan’ relatif normatif dan tidak neko-neko. Alamak, kami terkecoh. Di depan, ada kendaraan berat berjalan ngesot. Apa lacur, sisi kiri sudah ditutup Nusantara Irizar (K-1708-AB) juga didukung oleh Scania, sesaat menjelang Gapura Tegal.

Trio Nusantara kini telah bergabung dengan Symphonie Jetbus 2 sebagai mayoretnya. NS-04 ambil alih kembali posisi Irizar menjelang SPBU MURI, Tegal, karena ia tampak akan menepi. Namun, kami disalip kembali oleh Symphonie DM 230 yang sebelumnya sudah sempat kami lalui.

Beberapa titik dan kota Pantura terlewat karena saya tidur dan bangun pukul 02.30, saat kami masuk Gringsing. Irizar ternyata sudah ada di depan kembali. Kapan ia menyalip dan bagaimana kami bisa menyusulnya kembali? Saya tidak tahu. Hingga akhirnya, bis berhenti di sekitar Mangkang, pada pukul 02.46, untuk menurunkan seorang penumpang. Sambil lalu tukar sopir: Pak Syuhada’ pegang kemudi lagi.

Ruas jalan Semarang-Demak relatif sepi. Bis berjalan cepat tapi tak seperti tadi lagi. Jam-jam segitu, antara pukul 2-3, adalah masa rawan kantuk karena mungkin itu waktu istijabah, dan tentu apalagi bagi sopir engkel. Beruntung, Pak Syuhada’ saya kira sudah cukup tangar karena cukup istirahat. Saya mengkhawatirkan daya tahan tubuh, terutama pandangan mata, sopir-sopir engkel yang menempuh perjalanan di atas 500 kilometer dan sendirian saja, semacam rute Banyuwangi-Jogja atau Probolinggo-Cirebon.

Pukul 03.46, kami tiba dengan selamat di pul Nusantara, Karanganyar. Dua mobil antaran telah siap. Saya duduk di dalam namun turun lagi begitu panggilan telepon ke Hilman, saudara saya yang tinggal di Kudus, ternyata terhubung, diangkat, dan bilang akan segera ke pul untuk menjemput saya. sembari menunggu dia datang, saya menghampiri kedua orang pengemudi tadi yang duduk di pos jaga.

“Tadi malam lewat tol Cipali enggak, ya, Pak?” tanya saya memulai percakapan.
“Oh, tidak, Mas.”
“Kalau Losari, lewat?”
“Enggak juga, kita malah lewat tol”.
“Hemm, iya.”

foto bersama

Berbekal basa-basi ini, percakapan pun berlanjut ke mana-mana. Saya berkenalan dan dari situ saya tahu kalau mereka berdua bernama Pak Syuhada’ dan Pak Jumat. Kami ngobrol. Pak Jumat bahkan lantas bercerita tentang kemuridannya. Ia menyatakan kalau pernah berguru kepada seseorang bernama Kiai Mahalli di Batu Ampar, Madura. Begitu setia hingga ia memberi nama putranya sendiri dengan nama yang mirip nama gurunya.

Peristiwa kecil seperti ini kadang menjadi momen penting dalam sebuah perjalanan, peristiwa yang tidak terencana sebelumnya. Seringnya ia terjadi begitu saja. Pelajaran kehidupan yang didengar langsung dari orang yang pernah mengalaminya sendiri itu benar-benar berharga, sugestif, dan mudah mempengaruhi cara pandang, sebagaimana nilai perjalanan naik bis dari Jakarta ke Kudus itu ada pada setiap jarak terpendek, pada peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi di dalam kabin atau di atas aspal.

LAMPIRAN: foto kabin Nusantara SE oleh Yudi Iduy (hanya ilustrasi)Kabin SE oleh YUDI IDUY Sebagai Ilustrasi

Pergi Kondangan Naik Bis

Tak perlu taruhan untuk membuktikan kalau suspensi bis ini sudah atau nyaris mati. Melalui spion kecil di atas sopir, saya melihat isyarat itu, yakni pada wajah-wajah penumpang (termasuk wajah saya) yang buruk mendadak (padahal tadi sudah distem, dicuci muka karena akan dipakai buat pergi kondangan), demikian pula wajah semua penumpang: tampak jelek dan ‘muke gile’. Cermin cembung itu bukan hanya retak, melainkan juga bergetar hebat akibat guncangan mahadahsyat mesin diesel Hino AK stir palang-tiga. Itulah dugaan saya penyebab suspensi keras, bukan lantaran rodanya yang semi bujur sangkar, misalnya.

P1000126

PO Kenongo berjalan setengah hati, mungkin karena hanya ada 10 orang di dalam kabin yang mampu menyerap 59 pantat orang dewasa ini. Lajunya saya taksir 40-50 km per jam, tak berani menghabiskan gerigi percepatannya hingga gerigi pamungkas karena jalan sempit juga ‘rontak’ (Bahasa Madura: suspensinya keras). Jangankan sesama bis, truk pasir pun rasanya mampu menyalip kami.

Wajahnya sederhana, bagian depan tampak mendongak namun tidak terkesan angkuh, bahkan ibarat manusia, ia menyiratkan tubuh yang mulai bungkuk. Barangkali, hal-hal yang tersebut di atas inilah yang membuat saya tidak menemukan satupun stiker tertempel di sana, baik itu stiker komunitas penggemar bis maupun stiker nama-nama jenama ternama, semacam Mercy, Volvo, atau Scania.

Saat tadi mencegatnya di sebelah hutan jati Kaliputih (Rambipuji), saya melihat nama plakat trayek di kaca depan: Jember-Kencong-Surabaya. Trayek ini memutar dengan mengutamakan unsur ‘Kencong’-nya, sebab di trayek reguler Jember-Surabaya lewat Tanggul, saingan berat terlalu banyak di jalan raya. Namun begitu saya duduk, saya kaget begitu melihat tulisan ‘Denpasar’ di balik tulisan ‘Kencong’ itu. Dalam hati, terbersit tanya: ‘Apakah bis ini memang sesekali jalan ke Bali? Ataukah ‘Denpasar’ yang dimaksud di plakat itu adalah ‘Denpasar’ yang tidak ada di Bali melainkan terletak di suatu daerah di Kabupaten Lumajang, sebagaimana Jombang namun ada di Kabupaten Jember, juga seperti Sampang tapi ada di Cilacap, atau seperti Madura namun ada di India?

P1000129

Sopir menelefon, entah siapa, beberapa kali. Saya duga, itu sejenis VMS (variable message service) namun gaya tradisional, yakni informasi jarak dan interval antar-bis yang sedang berjalan di trayeknya sehingga sopir yang satu bisa mengatur kecepatan agar berjarak dengan armada lainnya. Benarkah seperti itu? Hanyak pak sopir dan tuhan yang tahu.

Sungai di kiri jalan, lalu menyilang ke sisi kanannya, hamparan padi menguning, batang-batang pohon dengan daun yang tumbuh subur, meyakinkan saya kemakmuran Jawa: mengapa banyak orang Madura yang merantau dan menetap di sini, juga meyakinkan saya mengapa Belanda datang dan merampas kekayaan bumi Nusantara, mengapa bahkan hingga kini banyak asing yang ingin lebih dari sekadar investasi, tapi mencari cara agar negeri ini pada akhirnya dijual pada mereka.

Sampai Balung, bis ngetem di depan warung Makan Mbak Endang, pukul 11.01, alias setelah menempuh perjalanan 17 menit dari Rambipuji. Seorang pengamen masuk, nyetel pemutar audio yang digendongnya, memegang pelantang, ba-bi-bu, dan mulai menynayi. Lagunya berbahasa Jawa, mirip kendang kempul Banyuwangian.

Kira-kira 2 menit setelah pengamen itu rampung menarik iuran sukarela dari penumpang, atau 6 menit sejak ngetem, bis berjalan kembali. Tak ada tambahan penumpang.

Apakah penumpang jalur ini memang relatif sepi atau hanya kebetulan kurang beruntung di hari itu? Saya kira alasannya adalah sama benar. Orang yang punya mobil sudah pasti naik mobil sendiri sebab lebih enak untuk perjalanan jarak jauh. Mereka yang punya sepeda motor juga akan menggunakannya untuk jarak dekat. Melihat situasi ini, saya mencium aroma kematian pada nasib transportasi massal. Entah bagaimana cara menyelesaikan penyakit akut ini mengingat masalahnya yang pelik serta luasnya wilayah yang harus diurus. Negara kepulauan yang membentang di Khatulistiwa ini begitu luas hingga dibagi menjadi 3 satuan jam. Dari Jember ke Sabang itu masih lebih jauh daripada Anda bepergian dari Sofia (di Bulgaria) ke Liverpool di Inggris, padahal baik Jember maupun Sabang masih sama-sama menggunakan satu waktu Indonesia Bagian Barat, benderanya sama-sama merah putih dan tidak roaming kalau kita saling telepon-teleponan lintas operator. Sepertinya, Indonesia itu harus dipimpin oleh 3 presiden sekaligus.

Per 4 atau 5 menit, kami berpapasan dengan bis. Ini pertanda bahwa sedikit penumpang di situ bisa dibantah sebab bis-bis itu jelas cari penumpang dan sudah tahu perkiraan banyaknya di hari kerja atau akhir pekan. Tidak mungkin ada orang jalan-jalan sendirian pakai bis, kan?

Di desa Gumelar, kami berpapasan dengan Kenjono. Sesama pemain kawak, sesama sopir saling sapa. Sopir Kentjono melambai untuk Kenongo. Kiranya itu merupakan isyarat agar Kenongo berjalan lebih pelan sebab jarak yang terlalu dekat dengan bis di depan. Papasan terjadi lagi di Dusun Tutul, dengan Akas Asri AC ekonomi; di Jambe Arum dengan Parikesit bergaun eks Indonesia Abadi dan kaca depan tertulis ‘Bali’.

Kasiyan, sehabis pertigaan yang kalau lempeng ke selatan mengarah ke Puger, bis Kenongo ambil kanan, lalu parkir di depan depot Bakso ‘Solo’ (Saya kira, arti kata Solo di sini adalah ‘enak’, bukan nama alias tempat bagian dari Surakarta atau terjemahan dari arti ‘sendirian’, sebab beberapa kali saya jumpai penjual Bakso Solo yang asli Lamongan atau juga Wonogiri).

Lima menit lamanya, sama seperti tadi di Balung, pada pukul 11.27, bis berangkat lagi.
Papasan dengan bis 3/4, Jember-Kencong trayeknya. Pak sopirnya menjulurkan tangan, dada-dada. Sopir kami yang muda dan gaya pun membalasnya. Barangkali perlu diteliti, adakah manfaat melambaikan tangan, menyapa kawan, bagi ketenangan dan optimisme seseorang? Bisa jadi.
P1000127
Shalawat “mu’alik” berkumandang pada pukul
11.35 saat PO Kenongo ini lagi-lagi berpapasan dengan PO Ladju di Mlokorejo, sebuah nama daerah yang namanya sudah saya kenal sejak kecil dulu sebagai ‘Maloko’ karena pondok pesantrennya. Berikutnya, kami berpapasan dengan kawan seatap-segarasi; Kenongo Jember-Depasar di Gumuk Mas, 11.41.

Di depan Pasar Kencong, jam menunjuk 11.55. Sopir melirik arloji lalu ngegas lebih dalam meskipun kecepatannya tetap tidak seberapa kencang. Mungkin itu pertanda ia berjalan terlalu lambat atau ingin lebih cepat tiba di Lumajang.
P1000131
“Kencong-Yosowilangun jauh, ya, Pak?”
Kondektur mesem, manis sekali, seraya mengangguk.
“Eh, bis ini sampai Surabaya?” tanya saya menyelipkan kesangsian.
“Iya, Mas,” katanya yakin, memastikan penuh percaya diri.

Saya tidak cemas meskipun tahu jadwal undangan walimah kali ini adalah pukul 12.00. Jelas saya akan telat kalau acaranya tepat waktu dan bisnya tetap berjalan begini, tapi saya paham bahwa orang-orang juga sudah paham, bahkan tuan rumah pun juga pasti paham: pukul 12.00 itu bukan WIB, melainkan “waktu Indonesia bagian sebelahnya barat” karena nyaris tidak mungkin ada acara persis pukul segitu sebab kalau hendak pergi ke acara walimah tengah hari, kami sudah terbiasa shalat Duhur lebih dulu.
P1000130
Pada perjalanan kali ini, di sepanjang jalur bis besar namun jalannya relatif sempit, saya perhatikan, betapa banyak toko swalayan bercat seragam. Heran saya: toko itu pasti laku sebab rakyat yang selama ini tidak pernah merasakan slogan ‘pembeli adalah raja’ akan tertarik membelanjakan uangnya di toko yang memperlakukannya ‘raja’, belum lagi tempatnya bersih dan ber-AC, disapa dengan senyuman ketika masuk, ditawari beli pulsa dan ini-itu ketika hendak pergi. Akan tetapi, apakah rakyat yang membeli barang dengan uang hasil tani tapi toko tidak membeli hasil tani rakyat itu sendiri juga sadar dan paham? Kemanakah uang itu dibawa pergi?
P1000132
Dipisahkan oleh Sungai Bondoyudo, kami masuk wilayah Kabupaten Lumajang. Benar, 2 menit berikutnya, pukul 12.12, saya sudah tiba di Pasar Yosowilangun. Saya meloncat dari bis setelah mengucapkan terima kasih. Sambil mencari Kak Fahri yang berjanji (lewat telepon) mengajak saya pergi bersama ke kondangan dengan mobilnya karena tak ada angkutan umum yang melayani rute Yoso-Krai, saya membuat sebuah identifikasi, bahwa penumpang bis PO Kenongo (atau yang sejenis yang punya trayek sama) adalah mereka yang; kaya waktu dan tidak terburu-buru; ingin bepergian sambil santai baca buku dan ongkos murah; atau bepergian sambil sekadar ingin menuliskan catatan perjalanan, ya, seperti saya ini.

*)  ditulis di atas bis PO.Kenongo, Rambipuji-Yosowilangun, 5 April 2015

Naksi (Kamal-Kwanyar via Bangkalan)

untitledMenguji kesabaran: ternyata hanya bertahan 15 menit. Menunggu angkutan yang parkir hingga berangkat, saya dilanda bosan. Minibis—bismini kata orang sini—tak dihidup juga mesinnya. Ini ngetem yang sebenar-benarnya; irit solar dan ramah lingkungan. Dari semula, saya memang sudah tak yakin kalau Elf ini akan segera ‘narik’.Dan itu merupakan pertanda saya bakal berlumut dalam parkir.

Mobil Carry plat kuning melintas, saya menggubit. Sopir berhenti agak jauh dari bismini. Saya pun meninggalkan Elf dan mendekati Carry. Begitu saya mendekatinya, saya bertanya.

Photo1039

“Ke Nyiorondung?
Sopir diam sejurus lalu menjawab, “Ayo lah!”
Imbuhan ‘lah’ pada kata ‘ayo’ di atas bukan perintah, tapi aksentuasi saja, sebuah kesan jawaban yang menunjukkan sikap acuh tak acuh. Apa maksud? Dugaan saya: trayek mobil tersebut sebetulnya tak sampai ke Nyiorondung, mungkin sampai Bangkalan atau sampai Burneh. Tapi demi saya—ini menurut penafsiran saya, lho—pak sopir siap mengantarkan saya ke sana.

Hanya ada saya di jok belakang, seorang mahasiswi di tengah, dan dua orang di jok depan; seorang ayah dan anaknya. Mobil bergerak lalu berjalan pelan sekali. Saya buka kaca geser mobil lebar-lebar, bening tanpa filem. Angin siang yang panas masuk, gratis, tak perlu freon dan energi listrik.

Tanah lapang membentang di sepanjang jalan Kamal-Socah. Siang atau malam, ruas jalan ini ramai sekali. Tapi, suasana begitu itu hanya terjadi dulu, sebelum tahun 2009, sebelum dibukanya Jembatan Suramadu. Sekarang? Siang tak seberapa, malam apalagi.

Mengapa saya berada di situ? Akhir bulan Oktober 2014 lalu, saya dapat undangan hadir di Unijoyo (UTM), di Kamal. Karena acaranya 2 hari dan di hari pertama hanya butuh setengah hari, maka saya sempatkan untuk menghbiaskan setengah hari berikutnya untuk nyekar ke Sunan Cendana di Kwanyar sekaligus mengunjungi seorang kawan. Ini kebiasaan lama saya: “sekali dorong, dua-tiga kota terlampaui”. Panitia sih sebetulnya menawarkan sebuah mobil agar saya gunakan namun dengan syarat nyopir sendiri karena tidak ada petugas. Saya menolak dan memilih ‘naksi’ (baca: ngompreng). Dengannya, saya bisa lebih banyak melakukan sesuatu, seperti naik mobil sambil mengamati, menulis, menikmati perjalanan, atau membaca.

Tiba di makam Cina, Socah, mobil ambil kiri, menuju Socah, sebuah tempat (kecamatan) yang nyaris tidak pernah dilewati oleh orang yang hendak ke Surabaya, baik semasa belum Suramadu dan terlebih sekarang ini, disebabkan karena posisi Socah yang ada di bagian dalam dan tidak dilintasi jalan besar (cek gambar). Seingat saya, hanya sekali saja seumur-umur saya lewat di sana, plus sekali lagi hari ini. Dan ketika saya lewat, Socah yang dulu masih tidak banyak berubah, sama dengan sekarang.

“Plat kuning satu, plat hitamnya ada dua. Gimana bisa bertahan kalau tetap begini?” keluh sopir kepada teman duduknya. Plat hitam yang ‘naksi’ memang banyak sekali, bahkan lebih banyak daripada angkutan resmi itu sendiri, begitulah kira-kira maksudnya.
“Iya, memang…” jawab si teman duduk seadanya.

Fenomena plat kuning dan plat hitam di mana-mana jadi masalah. Kelompok plat kuning merasa rugi karena plat hitam dibiarkan beroperasi sementara mereka membayar pajak lebih rendah dibandingkan dengan plat kuning, di samping itu uji kir pun tidak diperlukan.

Perjalanan saya seorang diri di bangku tengah dengan sopir di depan, karena penumpang yang tadi sudah turun duluan, akhirnya berakhir di di Embong Miring, Burneh. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba, sebuah Carry cokelat menunggu, parkir persis di depan mobil kami, di tikungan.

“Pak, oper mobil depan, ya! Ini langsung Kwanyar.”
“Iya,” kata saya karena juga tidak ada untungnya saya menolak sesuatu yang jarang sekali terjadi.
Mobil yang akan saya tumpangi ini berwarna cokelat muda, seperti coffemix yang ditumpahi sedikit kopi. Ibarat manusia, bodinya sudah bongkok. Dempulnya barangkali setebal satu senti, barangkali. Tapi, jika pun harus naik Avanza namun tidak bisa mengantarkan saya ke tujuan, buat apa?

Saya menghibur diri dengan pertanyaan retoris itu dengan cara langsung masuk ke kabin tanpa basa-basi. Bau ikan, terasi, dan pernak-pernik jajan pasar lah yang menyambut. Sungguh, saya lebih suka bau asli seperti ini daripada wangi pengharum kabin yang palsu dan berbahan kimia.

Saya duduk di tengah dengan dua orang ibu yang sama-sama bongsor, gembrot lah kasarnya. Kakinya dinaikkan ke atas barang sunggian karena lantai sudah penuh dengan barang bawaan. Baru berjalan beberatus meter, mobil berhenti lagi. Ibu yang di tengah, di samping saya, menjulurkan selembar uang 2 ribu perak ke luar kaca. Dan dari jauh, seorang anak kecil berlarian ke arah mobil.
“Kala’ Kakeh!” (ambil kamu)
“Kaso’on” (terima kasih)

Ibu itu siapa, anak itu siapa, dan mengapa ada pemberian itu tanpa lebih dulu janji, mana saya tahu semunya. Rasa penasaran tahu pun hilang serta-merta ketika mobil melewati Tangkel, perempatan akses Suramadu, lanjut ke arah timur. Sopir menoleh ke kanan, ke mobil-mobil rusak yang diparkir di depan pos polisi karena kecelakaan.

Photo1041

“Leh, katanya Mohed tabrakan, ya?”
“Iya, tapi truknya tak ada di sana.”
“Leh, kamu nggak usah noleh ke belakang kalau ngomong. Kupingmu saja yang mendengar, matamu itu tetap lihat ke depan! Aku takut tabrakan,” kata si ibu kepada sopir yang belakangan diketahui bernama Soleh. Saya juga tidak tahu, apakah si Soleh ini kemenakan atau adik si ibu itu sehingga ia bisa seenaknya ngomong begitu, pakai ‘mata’ segala. Anda yang jarang atau tidak pernah naik angkutan umum, biar tahu, ya: begitulah suasana khas percakapan masyarakat kelas bawah.

Tiba di Nyiorondung, mobil mengarah ke selatan, tenggara tepatnya, masuk jalan kecil, menuju Kwanyar. Soleh, sopir kami, melirik kepada beberapa orang lelaki yang duduk di gardu; lirikan saja, tanpa kata-kata, seolah-olah lirikan itu bicara “saya ngeslah, ya! kalian silakan ngetem dulu di situ.” Beberapa orang lelaki yang duduk di gardu itu adalah sopir angkutan yang sedang ngetem.

Di selepas perbatasan desa Tembin, di sebuah daerah tanpa terlihat pemukiman penduduk sama sekali, mobil kami berpapasan dengan sebuah mobil lain. Soleh langsung menghentikan kedaraan secara mendadak, mematikan mesin dan ia keluar, bergegas begitu dia tahu mobil yang barusan berpapasan itu juga berhenti tak jauh di belakang. Terjadi pembicaraan beberapa saat. Saya tidak mendengarnya tersebab jarak yang sudah terlalu jauh.

Photo1042

Soleh kembali dan langsung start mobil, masuk gigi satu, dan menjalalankannya kembali.
“Bagaimana katanya, Leh?” tanya ibu penumpang di belakang.
“Ternyata, Mohed yang kecelakaan di Gunung Gigir itu bukan Mohed-ku, tapi Mohed yang lain.
“Ooalaah…”

Photo1044Photo1043

Akhirnya, saya tiba di Kwanyar berbarengan dengan adzan ashar. Perjalanan ditempuh sekitar 100 menit untuk jarak sekitar 30 kilometer saja. Dengan mobil pribadi, saya pasti bisa nyampe lebih cepat, dengan sepeda motor apalagi karena bisa ambil jalur pintas. Tentu, saya tidak menyesal karena kalkulasi semacam itu hanya digunakan jika kita terburu-buru saja. Sebab itu, agar tidak kepikiran, saya segera ambil wudu’, shalat berjamaah, lalu ke nyekar ke maqbarah Sunan Cendana, yakni Sunan Zainal Abidin (beliau adalah cucu Sunan Drajat yang konon merupakan penghulu para pemuka agama di Madura; nyaris semua nasab para kiai di Madura melewati garis keturunan Sunan Cendana ini). Setelah itu, saya pun nyambangi kawan, H. Saiful. Senang sekali, sekali naksi, banyak tempat disinggahi.

Mogok adalah ‘Mobiliawi’

Sabtu, 8 Pebruari 2013

Pernah mengalami mogok? Jika Anda tidak pernah mengalaminya, maka segeralah berempati atau merasakan bagaimana rasanya mogok mendadak menimpa Anda. Langkah ini tentu diharapkan sebagai simulasi, agar Anda tidak panik jika suatu saat mengalaminya.

Kalau tidak pernah mengalami mogok, mungkin Anda pernah mengalami macet dan kemacetan? Nah, mogok dan macet bisa dipastikan pernah dialami oleh kita yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia, terutama di Jawa. Mogok, misalnya, terkadang kita alami dengan kendaraan umum, namun juga mungkin saat berkendara sendirian. Tapi, pernahkah Anda menikmati dan menyaksikan bagaimana kendaraan-kendaraan yang mogok? Menyaksikan kemacetan secara langsung? Inilah yang akan saya ceritakan.

Berangkat dari alun-alun Mall Kudus, dijemput teman-teman BMC Jogja, saya akhirnya ikut mereka naik Travello pada pukul 14.40 menuju Jogjakarta. Rencana semula, naik bis via Semarang, gagal sudah. Bersama mereka terasa untung jika tahu apa yang terjadi belakangan di seputar Ungaran-Bawen.

Bersama Dono di belakang kemudi dan Aryo di sisi kiri depan, saya numpang Travello yang dibawa oleh teman-teman BMC Jogjakarta, pulang dari kopdar di garasi PO Haryanto di Ngembal, Kudus. Bowo dan Febri di samping saya. Joni dan sang kakak di belakang, bersama Plentonk, Hanif dan Iyang.

Sore itu saya menikmati pemandangan ala tol Cipularang, tol dengan jembatan berpenyangga tinggi menuju Ungaran. Sementara jalan ramai namun normal. Ini malam Minggu memang. Kemacetan mulai terasa di suatu titik, Dono sang pengemudi, ambil jalan ke kanan, keluar di Ungaran.

Saya menikmati pemandangan sore hari di jalan bebas hambatan yang baru saja selesai dibuat itu. Lembah dan ngarai yang dalam pun menjadi seolah rata dengan penyangga jembatan yang tentu sangat tinggi. Seberapa kokoh tiang-tiang itu bertahan? Konon, jembatan sempat ditutup beberapa saat karena tiang penyangga tidak kuat menahan beban kendaraan yang lewat.

P1000851

P1000862

Macet Bawen 1

Saat masuk Ungaran untuk menuju Bawen, tampak beberapa orang pulang kerja. Di situ terdapat beberapa pabrik minuman yang besar, Coca-Cola dan Pepsi antara lain. Jalan mendadak ramai dan arus pun mulai tersendat.

Puncaknya adalah beberapa kilometer menjelang Bawen. Macet tak terelakkan. Mobil-mobil akhirnya tidak bergerak sama sekali. Dua lajur jalan menanjak mendadak statis, tak bergerak. Sementara arus sebaliknya berjalan lamban. Sesekali mobil bergerak, namun tetap tersendat.

Sayangnya, entah karena kebiasaan atau karena tergesa-gesa, beberapa kendaraan nekat buka jalur 3, yaitu melawan arus dengan menyalip karnaval kendaraan yang sedang berada dalam posisi menanjak. Dua bis, Safari dan Rajwali, diantaranya, diikuti beberapa truk dan mobil MPV yang juga tergoda membuntuti. Akibatnya, dua atau tiga menit setelah itu, macet total tak bisa dihalau.

Terdengar bunyi sirene. Awalnya saya kira mobil patroli polisi. Eh, ternyata sebuah ambulan. Kasihan, mobil yang mungkin sedang membawa pasien yang sakit keras itupun tidak bisa memanfaatkan ‘fasilitas lawan arus’-nya. Ia juga terjebak dalam kemacetan. Saya tidak bisa membayangkan betapa kesal perasaan keluarga pasien yang sedang bersama si sakit di dalam mobil ambulan itu.

“Buka jalur 3 sih masih oke, tapi buka jalur 4 itu kebangetan,” Plentonk berkomentar dari jok paling belakang.
“Hai, itu ada mobil mogok!”
“Yuk, kita bantu.”

Saya dan beberapa teman turun dari mobil, menghampiri  sebuah mobil Zebra tua yang tanpa seorang pun ada di dalam. Mobil dalam keadaan di-handrem dalam kondisi menanjak. Tapi, di mana pak sopir?

Seorang ibu dan anak gadisnya yang belia tampak kebingungan. Kami akhirnya tahu bahwa mereka berdua adalah penumpang mobil ini dan sang bapak sebagai pengemudinya.

“Bapak sedang turun, Mas, cari orang untuk bantu mendorong.”
“Paaak !!” Si ibu memanggil lelaki 45-an yang ada di seberang jalan.

Bapak naik ke mobil dan kami mendorong mobil itu. Di luar dugaan, ternyata sopir tidak bermaksud untuk menyalakan mobil, melainkan putar 180 derajat. Hampir saja Zebra itu jatuh ke selokan yang dalamnya saya taksir lebih dari 1 meter. Gila. Kami semua terkejut. Klakson-klakson pada cerewet.  Hiruk pikuk menjadi-jadi. Terdengar ucapan terima kasih si Ibu pada saat kami sudah meninggalkan mereka, kembali ke mobil kami.

P1000853

Mobil berjalan lagi, tersendat. Gerimis membayang. Langit mendung dan matahari mulai terbenam. Tiba-tiba, dengan membawa kamera saya, Plentonk meloncat lewat kaca belakang mobil, pergi entah ke mana. Dia berjalan telanjang kaki.

“Ke mana dia?”
“Saya tidak tahu dia hendak ke mana dan apa maunya.”
“Kenthir!”

Jalan terkuak, arus lancar sesaat. Didapati sebuah Avanza mogok dengan posisi serong kiri, persis di tengah jalan. Pengemudinya, sendirian, adalah seorang gadis muda. Ia tampak mengatur lalu lintas dengan tangan kanan sementara tangan kirinya memegang ponsel, mungkin menelepon teman, atau bengkel, atau sejenis bala bantuan lain.

Kalau awalnya tadi saya lihat mobil lawas yang mogok, kali ini justru mobil-mobil baru yang mogok. Ada apa dengan jalan dan tanjakan ini?

P1000863

Tiba-tiba, terdengar suara Bowo.

“Bau angus.”
“Mana?”
“Mobil ini.”
“Ah, masa?”

Kami segera cari tempat untuk parkir. Saya turun duluan, lalu seseorang menyusul. Yang lain tetap di mobil. Saya mengambil jarak dan segera melihat kemacetan dari jarak dekat, di tepi jalan. Akhirnya, saya temukan dan melihat Bung Plentonk. Ia sedang menjepret-jepret situasi lalu lintas.

Mobil diparkir di depan sebuah pabrik, atau gudang apa lah, entah. Beberapa mobil lain juga parkir di sana. Rupanya, di tanjakan panjang  itu, saya perhatikan banyak sekali mobil yang mogok. Ada Kijang Super, Feroza, Panther, Xenia, sedan Toyota Corolla, bahkan Innova yang berdasarkan plat nomornya baru sebulan dipakai. Mereka semua mengaku ‘mogok’. Beberapa orang di antaranya menyatakan kalau mobil mereka ‘kebakaran’ entah pada bagian apanya sebab bau hangus yang mereka endus.

Usut punya usut, sumber masalah mobil-mobil yang mogok itu ternyata kampas kopling yang kepanasan lalu terbakar. Dari tepi jalan saya berdiri, jelas sekali tampak banyak asap membumbung, keluar dari bawah mobil. Bau hangus dan sangit sangat menyengak. Beberapa orang yang kelihatannya tidak mengerti mesin sama sekali dan hanya bisa menjalankannya tampak panik. Bahkan, sempat ada dua orang yang tergopoh-gopoh menghampiri kami. Mereka melaporkan adanya kebakaran mobil. Dengan tenang, teman-teman menjelaskan duduk masalah asap itu; bahwa kampas kopling terbakar karena tidak mampu menahan putaran mesin yang tinggi dan terus-menerus. Hal ini disebabkan karena handrem jarang digunakan. Wajar saja, mungkin mereka capek mengingat macet itu  lebih 2 jam lamanya, apalagi di jalan yang menanjak. Mobil-mobil dengan transmisi otomatis mungkin aman dari masalah ini, hari ini.

Saat itu, kami menyaksikan kecemasan. Air muka takut dan khawatir tampak dari wajah orang-orang. Saya rasakan, betapa manusia itu sesungguhnya benar-benar tidak bisa hidup sendirian. Namun, pada saat itu pula saya menyaksikan dua hal yang penting dan duduk sejajar: keruwetan jalan raya sekaligus kehebatan bangsa ini dalam hal sifat gotong-royongnya.

Saya kagum pada teman-teman yang dengan suka cita membantu menguraikan kemacetan, mengatur lalu lintas. Polisi mungkin sedang menguraikan kemacetan di tempat lain sehingga tidak saya lihat di tempat itu. Maklum, tanjakan ini sangat panjang sehingga mungkin di saat arus menurun sedang lancar, ganti tanjakan yang macet. Teman-teman melakukan ini mungkin atas suara hati, bukan karena sanjung dan puja-puji.

Ya, kami semua tahu. Mogok itu ‘mobiliawi’, seperti deman dan flu bagi manusia. Jadi, kita mesti mengajak hati agar bersimpati ketika melihat orang lain mogok (bersedih), siapa tahu kita kelak akan mengalaminya di saat tidak ada seorang pun yang peduli.

Karena tidak tahan melawan kantuk, saya tidur di dalam mobil. Bahkan, saya tidak tahu kapan kami bergerak meninggalkan lokasi. Tahu-tahu, kami mencapai sebuah warung makan di Ambarawa pada pukul 21.00. Selesai makan di “Warung Pojok”, saya cuci muka dan shalat di masjid seberang jalan.

Kami berangkat lagi 30 menit kemudian. Jalan pun mulai sepi, pun demikian situasi di Secang, Kota Magelang, Muntilan. Pengemudi melajukan Travello pelan-pelan saja. Akhirnya, saya turun di Jalan Timoho pada pukul 23.40. Maksud hati, saya hendak menjumpainya teman yang menghabiskan malam Minggunya dengan main futsal. Ya, saya akan numpang tidur di rumahnya untuk mempersiapkan tenaga agar besok siap menempuh perjalanan pulang ke Madura.