Sidogiri

img_0741

Saya tiba di pertigaan akses ke Sidogiri (kadang disebut sebagai pertigaan Tambakrejo) kira-kira 30 menit sesudah azan asar. Langsung bergerak gegas menuju warung kopi untuk menghindari tawaran bentor dan ojek adalah langkah menyelamatkan diri yang paling tepat. Setelah memesan minuman, barulah saya mengatur strategi. Menunggu angkutan umum atau ngojek adalah pilihannya.

Tiba di Kraton pukul 16.00 sedangkan saya berangkat pukul 10.20 dari Prenduan itu tergolong perjalanan lancar, lho, apalagi masih untung mengingat sehari sebelumnya (14 Pebruari 2017), Kraton masih banjir akibat luapan air sungai. Hari ini, Rabu, 15 Pebruari 2017, kelancaran perjalanan saya ditopang oleh jodoh patas Mila Sejahtera (N7334US) sampai Bungurasih dengan mahar 53.000. Adapun rezeki Rp 12.000 jatuh ke tangan kondektur Indonesia Abadi (N7418UR) untuk ditukar tiket dari Terminal Purabaya ke Kraton.

Piluhan jatuh ke bentor (becak motor). Duduk di atas sadelnya, sesekali saya bersandar, sesekali berpegangan, meladeni pengemudinya yang  berjalan zigzag karena menghindari kubangan di sepanjang jalan. Saya menikmati perjalanan sore itu, nikmat perjalanan menuju salah satu pondok tua di Jawa Timur. Tujuan saya adalah memenuhi undangan PP Sidogiri (yang diwakili BPP) untuk bicara soal tradisi baca-tulis dan cara-cara menggali inspirasi. Karena acara direncakan pukul 21.00 WIS (waktu istiwa; atau 20.30 WIB) terhitung masih lama, maka saya punya banyak kesempatan untuk berini-itu sebelum acara.

Di atas bentor, saya masih merasa heran karena angkutan ke pondok harus menggunakan bentor atau ojek, sama seperti ke Blokagung di Banyuwangi yang tanpa angkutan umum di sore hari. Rupanya, angkutan umum yang melintas di kedua pondok itu itu memang cuma beroperasi dari pagi sampai siang saja.

***

Sidogiri, siapa tak kenal nama ini? Kalau pernah menjadi santri dan pernah mondok, pasti Anda tahu nama ini. Tapi, bagaimana jika Anda ternyata tetap tidak tahu? Nah, sekarang Anda sudah kenal lewat catatan ini. Ketahuilah, pada ultahnya yang akan datang, pondok ini sudah berusia 280, nyaris 3 abad kurang sedikit meskipun tidak setua Pondok Mojosari di Nganjuk.

Konon, dari bisik-bisik kawan yang saya dengar sebelum saya berangkat, layanan untuk tamu di sana sangat istimewa. Hari itu saya membuktikannya. Benar, saya diantar ke sana ke mari, ditawari ini dan itu, ditanyakan apa maunya dan hendak ke mana. Sepertinya, sikap grapyak semacam ini sudah jadi “s.o.p” para santri dan pengurus. Namun, saya bertahan tinggal di wisma tamu saja, bersama sepupu duakali, Yasir Zuhri, yang menemani saya sampai menjelang isya.

Begitu azan berkumandang, barulah saya bergerak cepat, melangkah panjang-panjang untuk menghindari genangan air di jalan yang basah karena rinai, sisa hujan. Kami menuju masjid untuk salat berjamaah isya. Upacara berikutnya setelah salat adalah ziarah ke makbarah keluarga yang terletak di balik mihrab, di depan masjid. Kemudian, rangkaian berikutnya yang jadi pra-acara bagi saya adalah mengunjungi beberapa komplek pondok, termasuk Daerah C (ini merupakan napak tilas pesanan pamanda Ahmadul Faqih Mahfud agar saya melihat jejaknya di pondok itu).

Melihat santri berseliwer, perasaan rindu masa lalu menguar. Saya ingin jadi santri kembali, ingin kembali ke masa lalu lalu belajar lebih tekun sebab sudah tahu betapa ruginya jika menghabiskan waktu muda dalam keadaan santai dan terlena. Di komplek C itu, saya melihat santri mendekap kitab, belajar di kamar, belanja jajanan, dan beraktivitas lain. Masya Allah, betapa menenteramkan! Mestinya, banyak tempat yang harus saya kunjungi di pondok ini namun gagal karena gerimis terus menebal.

Kesan berkesan begitu kuat saya rasakan saat masuk perpustakaan. Bangunan tua berlantai dua itu sangat rapi dan bersih. Lantai bawah untuk kantor, ruang digital, dan satu ruang lagi—mungkin—untuk arsip, sedangkan lantai duanya untuk koleksi buku. Kala itu, saya melihat kelompok-kelompok santri bermusyawarah, berdiskusi. Mereka melingkar dalam bentuk ‘halaqah’. Berdasarkan nguping kata kunci yang mereka katakan, sepertinya mereka berdiskusi masalah fikih dan nahwu, mungkin juga tasawuf dan lainnya. Ya, saya hanya mendengar sepintas kilas saja. Yakin pasti, tema pemilihan gubernur DKI (yang juga berlangsung di hari itu) tidak ada dalam percakapan mereka. Indeks-nya adalah makrifat, nakiroh, mubah, makruh, dan bukannya Ahok, Anis, atau Agus. Dalam hati, saya bertanya dan berdebar: untuk apa saya bicara literasi di sini jika mereka sudah menunjukkan keteguhan dan keteguhan di depan mata kepala saya sendiri?

***

Sebelum acara dimulai, saya diterima di lobi, semacam ruang tamu pesantren yang ada di kantor sekretariat. Tempat duduk yang tebal rasanya semakin empuk karena terhidang roti berlumur susu di atas meja, tersedia lebih dulu sebelum saya duduk di sana. Menu berikutnya adalah jamuan makan ala ‘sufrah’, biasa ditemukan di Madura, dengan hidangan lengkap dan gaya lesehan. Rawon, lodeh, lele, tahu, tempe, telur asin, bebek goreng, sambal, seolah berebut harap, memanggil-manggil mulut saya supaya segera menyantap.

Acara bertajuk “Menggalakkan Literasi, Menggali Inspirasi” ini berlangsung di lantai dua, kantor sekretariat bersama PP Sidogiri. Pesertanya adalah awak media (24 media) di lingkungan pondok, dari kru mading, buletin, hingga majalah. Saya bicara perihal tradisi baca tulis yang dimiliki santri dan apa yang seharusnya dimiliki santri namun belum dijalani, termasuk mengingatkan tradisi baca-tulis sebagaimana diisyaratkan Alquran dalam Surah Al-Qalam atau dan surah lalin seperi Ar-Rahman. Intinya, baca dan tulis harus seimbang, bahkan kalau mau jujur dan berdasarkan urutan, “membaca” dulu yang diperhatikan, baru setelah itu “menulis”-nya sebab perintah pertama adalah perintah “membaca”; sebagaimana cita-cita luhur menjadi manusia seutuhnya, menjadi ulul albab itu didahului oleh anjuran “berzikir”, baru setelah itu adalah “berpikir” sebagaimana termaktub dalam Ali Imran (190-191). Adapun hal lain yang hilang dalam tradisi santri adalah tradisi mencatat. Makanya, dalam kitab babon pengajian dan pengajaran, Taklimul Mutaallim, santri dianjurkan agar senantiasa membawa alat tulis/catat sebab tradisi mencatat adalah bagian yang menyatu dengan proses belajar. “Dan ini yang banyak dilupakan oleh kita,” kata saya.

Setelah acara selesai pukul 11 malam, setelah duduk sebentar di lobi, menuntaskan ide-ide yang tak sempat dibicarakan di ruang diskusi, saya pun pamit pulang. Saya diantar panitia dengan mobil berplat nomor N1745VQ ke pertigaan Kraton. Oh, ini dia rupanya, angka plat nomor itu adalah angka tahun berdiri pondok. Mudah mengingatnya: bahwa pondok ini berdiri dua abad sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Seperti perjalanan berangkat yang lancar, perjalanan pulang malah lebih lancar. Berangkat pukul 00.05 dari Kraton, persis satu jam berikutnya, saya sudah sampai di Purabaya. AKAS IV yang saya naiki bersama Muhairil (santri Sidogiri yang menemani saya pulang dan kan turun di Tangkel, Bangkalan), bergerak gesit. Meskipun bermesin lawas Mercy 1521, bis bernomor N7123UR ini mampu menyusul DAMRI “Royal Class versi KW” tujuan Madura selepas Bangil, lalu menguntit di belakang AKAS IV AK8 setiba Bungur. Pukul 01.36 lepas dari Terminal Purabaya, tiba di Tangkel 02.58; Subuh di Bandaran, kami shalat subuh di Terminal Ronggosukowati, Pamekasan. Bis bergerak lagi di 36 lewat pukul 04; pukul 05.05 di Prenduan, dan limabelas menit berikutnya, saya tiba di rumah.

Alhamdulillah, demikian menyenangkan perjalanan kali ini sehingga saya mensyukurinya dengan langsung menjumpai keluarga lengkap, masak air, buat, kopi, dan tetap melakukan kegiatan yang biasa berlangsung pukul 6 pagi: membaca kitab Taklim bersama para santri serta menyelipkan kisah-kisah teladan dari Sidogiri: tentang khidmah, tentang himmah, juga tentang hal-hal lain yang penuh hikmah, bahwa setandus apa pun tanah, jika diguyur, jadilah ia basah.

Iklan

Ke Murawa’ah: Antara Mutammimah al Ajrumiyah, Al Ahdal, Nahwu, , di Bumi Abrahah

oleh Izel Muhammad Hamdi 

Laporan perjalanan ini diterbitkan ulang oleh saya (M. Faizi) di blog ini setelah mendapatkan izin langsung dari penulis saat bertandang ke rumah saya, Sabtu, 11 Pebruari 2017. Tulisan ini sudah diterbitkan 2 tahun yang lalu di media sosial Izel, si penulis. Saya merasa penting untuk menyebarkan ulang karena kandungan cerita dan nilai yang ingin disampaikannya terasa penting sekali untuk diketahui oleh kami, terutama para pencari ilmu.

 

 

Jumat, 24 Desember 2013, adalah kali kedua aku melakukan rihlah ke Murawa’ah: sepetak tanah yang telah banyak melahirkan penulis kitab-kitab pelajaran Islam, mulai dari fikih, ushul fikih, hingga nahwu. Murawa’ah adalah satu di antara kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Hudaedah, Yaman Utara. Di sini, anak cucu keturunan Rasulullah yang bergelar Al-Ahdal bertebaran. Dan, dari sini pula, untuk para habaib di seluruh penjuru dunia (di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Asia Tenggara yang dipanggil “al-Mahdali”), gelar al-Ahdal itu bermula.

Waktu menunjukkan pukul 07:00 waktu setempat. Bersama duabelas teman dari Malaysia yang kesemuanya merupakan mahasiswa baru di Darul Ulum as-Syar’iyah, kami keluar dari asrama. Sebelumnya, kami lebih dulu sarapan di suatu sisi persimpangan jalan raya yang berada di belakang universitas. Tentu saja, menu yang kami santap berbeda dengan sarapan orang-orang di bumi Nusantara yang beraneka ragam. Sarapan pagi kami berupa ful, fashaliyah, hubz (roti besar bulat) dan teh.

Kehidupan masyarakat Yaman sebenarnya tidak dapat dikatakan miskin. Mobil-mobil sejenis Land Cruiser dan Mercy—yang di Indonesia umumnya hanya dimiliki oleh kaum jetset dan para konglomerat—juga banyak di sini. Barangkali, sebab sifat zuhud-lah yang menciptakan karakter mereka sehingga hidup sederhana, jauh dari kesan cinta dunia secara berlebihan.

Hidangan di depan kami ludes, tak tersisa. Selanjutnya, kami berangkat menuju Murawa’ah. Tujuan pertama kami adalah mengunjungi syekh Abdullah Yahya al-Syi’bi, pengarang Nahwu Syawid Kawaqib al-Dzurriyah yang telah dipelajari di penjuru dunia.

murawaah

Tidak sulit bagi kami untuk tiba di Kabupaten Murawa’ah. Dari provinsi Hudaedah, tempat aku tinggal, tempat itu hanya berjarak 22 km atau sekitar 16 km dari bandara internasional Hudaedah. Seperti halnya perjalanan menuju kota-kota ‘Tihamah’ lainnya, di sisi kanan dan kiri jalan aspal diapit oleh gurun pasir yang luas. Rumah-rumah khas pengungsi Somalia mulai tampak bertebaran di atasnya, membentuk perkampungan-perkampungan kecil.

Sekitar duapuluh lima menit kemudian, setelah melewati kota Murawa’ah, kami tiba di masjid Syekh al-Syi’bi. Masjid kecil yang pantasnya disebut musala itu tepat berada di sisi jalan raya, di desa paling ujung Kabupaten Murawa’ah. Hanya terdapat beberapa rumah dan empat kedai minuman di sekitarnya. Menurut penduduk, letak rumah syekh sendiri berada di 3-4 km di sebelah kanan jalan raya, di bawah bukit yang hanya bisa aku lihat dari kejahuan.

Karena sejak dulu Syekh tidak pernah memperkenankan para peziarah datang ke rumahnya, maka aku bersama teman-teman menunggu di beranda masjidnya. Dari cerita penduduk, aku tahu bahwa sejak dulu, ulama kharismatik dan zuhud yang kami kunjungi ini tidak pernah absen salat lima waktu dan mengajar di masjid yang sangat jauh dari rumahnya. Dan itu ia tempuh dengan berjalan kaki. Ah, sungguh aku tak bisa membayangkan betapa keringat Syekh akan membasahi tubuhnya yang kurus ketika cuaca musim panas akan mencapai titik 43 derajat celcius.

Selagi menunggu kedatangannya, aku teringat kejadian tiga tahun silam. Waktu itu, Syekh yang bernama lengkap Abdullah Yahya al-Syi’bi pernah hadir di halaqah penutupan “Shahih Bukhari” yang digelar di Masjid Al-Husain, masjid kampus di mana aku belajar. Beliau duduk di barisan paling belakang, di dekat kotak kayu berukuran panjang yang biasa digunakan untuk menyimpan sandal para jamaah. Penampilannya yang mirip penduduk desa membuat banyak orang terkecoh, termasuk aku yang kebetulan waktu itu berada tak jauh dari tempatnya. Ya, lagi-lagi itu semua disebabkan oleh pakaian.

Aku baru sadar bahwa orang yang berpakaian lusuh itu ternyata seorang ulama besar manakala para dosen dan para syekh yang duduk di barisan depan tiba-tiba bangkit dan berebutan untuk merangkul serta menciumi kepalanya. Namun, dengan sekuat tenaga, Syekh al-Syi’bi berusaha menghindar, keluar dari kerumunan jamaah lalu pergi dengan tergesa-gesa.

Sekitar sepuluh menit berlalu, muncullah Syekh al-Syi’bi dengan seorang pengendara motor dari arah yang berlawanan dengan arah rumahnya. Entah beliau dari mana. Suaranya yang pelan dan datar menyapa kami. Ingin rasanya kuhisap habis senyum teduhnya yang selalu mengembang dari kedua bibirnya itu. Ingin rasanya aku bersembunyi di belakang korneanya yang bening. Ingin rasanya kurapikan kain kusut yang melekat ditubuhnya itu dengan setrika.

Pertemuan kami dengan Syekh berlangsung sekitar empatpuluh menit. Setelah satu persatu dari kami membaca kitab, beliau mengijazahkan seluruh sanad yang didapat dari guru-gurunya, termasuk sanad memakai imamah dan cara menyuapkan halawah (sejenis dodol) yang bersambung kepada Rasulullah.

16708233_1588197154529854_2777267350840950361_n

Abdullah Yahya as-Syi’bi

Di akhir pertemuan, mewakili teman-teman yang ada, aku meminta nasehat. Beliau menjawab, “Nasehat apa yang dapat aku berikan pada kalian?”

“Apa saja, Syekh, yang penting nasehat.” Aku setengah merengek.

“Baiklah. Pertama-tama, saya bernasehat pada diri sendiri kemudian kepada kalian; bertakwalah kalian kepada Allah di mana pun berada. Bersabarlah dalam segala keadaan. Jangan pernah terlepas dari menyebut “La ilaha Illallah” walaupun hanya mampu diucapkan satu kali dalam satu hari.”

Matahari meninggi. Kami pun berpamitan. Sekitar pukul sepuluh pagi, aku bersama teman-teman meninggalkan masjid. Kami kembali memutar arah menuju kota kuno yang kami lewati tadi, Kota Murawa’ah, kota yang dulu terkenal dengan sebutan Madinah al-Kadara’, kota seorang permaisuri Bani Rasul di Wadi Siham.

* * *

Di kota tua tersebut, kami juga hendak sowan ke beberapa ulama yang tinggal di sana, termasuk juga untuk ziarah ke maqbarah pengarang kitab nahwu, “Syarah Kawaqkb al-Durriyah ala Matni Mutammimah al-Ajrumiyah”; Sayyid Muhammad bin Ahmad Abdul Bari al-Ahdal (1241-1298 H).

> Untuk mengunduh kitab versi *pdf, klik di sini.

1653914_808602855822625_301291936_n

Setelah sekitar sepuluh menit mengendarai mobil, kami sampai di pintu masuk kota sisi timur. Angin gurun semakin kencang. Karena keadaan cuaca gurun yang panas-dingin, suhu badanku—yang sejak dua hari sebelumnya memang kurang baik—tiba-tiba semakin lemas. Kata seorang teman, mukaku tampak pucat, namun tutur sapa masyarakat yang penuh sopan santun serta murah senyum itu kembali membangkitkan semangatku.

Melihat sisa-sisa bangunan dari tanah liat di sepanjang jalan seakan-seakan aku terlempar ke masa lalu, berada di abad ke-3 hijriyah, bersama Sayyid Muhammad bin Sulaiman dan para muhibbinnya, membangun kota, meskipun kini, gedung-gedung bertingkat mulai menggeser bangunan-bangunan bersejarah itu.

Ya Bani Majdal, aku datang mengunjungimu!

BERSAMA KAKEK GURU

Bagi Yaman, kota hanyalah sebatas nama. Begitu juga dengan kota kabupaten Murawa’ah, sebuah kota yang tidak semarak dengan celotehan genit para perempuannya, tidak pula gempita oleh music rock and roll dan sejenisnya.

Dari tempat pemberhentian mobil yang kami tumpangi, kami berjalan menyusuri gang-gang sempit menuju kediaman al-Allamah al-Sayyid Hamud bin Ahmad al-Ahdal. Beliau berjuluk “Syumailah” dan merupakan salah satu ulama sepuh yang menjadi guru pertama Syekh al-Syi’bi dan Syekh Ali Yahya al-Mur’i, rektor sekaligus pendiri Universitas Dar el Ulum as-Syar’iyah.

Melihat langsung kediaman sosok yang telah banyak melahirkan ulama-ulama besar di Yaman itu, hatiku menciut. Rumah itu hanya berupa onggokan dengan diameter 6 x 4 meter, beratapkan seng, berada di antara bangunan-bangunan berlantai dua dan tiga. Di depan pintu masuk, mengalir comberan yang tak habis diserap oleh pipa-pipa rumah di sampingnya.

Setelah mengucap salam, dari ambang pintu sempit itu kami disambut empat anak kecil yang saat itu sedang bersenda gurau bersama Syekh. Aku bersama teman-teman dipersilahkan masuk.

Bagaimana keadaan di dalam? Ternyata, keadaan di dalam rumah itu masih seperti keadaan empat tahun silam, sama seperti waktu pertama kali aku mengunjunginya. Jika dulu aku menjumpai Syekh di zawiyah yang berukuran 2 x 1 meter, sekarang menemuinya di samping zawiyah. Kulihat Syekh sedang berbaring lemah di atas ranjang besi 1,5 x ½ meter dalam keadaan meringkuk karena sempit. Beliau mengenakan sarung putih bergaris tipis kotak-kotak hitam serta kaos dalam berwarna putih yang sudah lapuk. Kezuhudan telah mengalahkan nafsu dunianya.

Suara Syekh sudah tidak jelas karena dimakan usia. Agar dapat menangkap ucapan dari lisannya yang sudah uzur, terpaksa aku dan seorang teman Arab mendekatkan telinga di kedua bibirnya yang bersih.

CANDA DAN PESAN KAKEK GURU

Detik-detik berlalu begitu cepat, tergilas gemuruh angin yang tak henti-henti mempermainkan terpal kumal berwarna biru tua yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan zawiyah. Tak terasa sudah lima belas menit kami bersama Syekh.

Ketika aku sedang menerjemah ucapan Syekh kepada teman yang lain, tiba-tiba beliau menyela, “Kalian berbicara dengan bahasa apa? Aku tidak paham. Dan, sampai usia setua ini tak mungkin aku mampu berbicara dengan menggunakan bahasa kalian.” Kedua kornea yang bening mirip bola mata bayi itu menerawang. Beliau tersenyum, setengah tertawa.

Aku tersenyum. “Tidak, ya, Sayyid. Bahkan Anda menguasai beberapa kosa kata bahasa kami yang berasal dari bahasa Arab, seperti kursi, kitab, masjid, dan lain-lain,” kataku.

Tak lama kemudian, masih dalam keadaan berbaring, beliau mengijazahkan seluruh sanad kitab yang beliau peroleh dari guru-gurunya dahulu. Kemudian beliau memberi nasehat kepada kami; “Bertakwalah kepada Allah, selalu sabar, dan jangan membaca Fatihah dalam keadaan berjalan. Jika sewaktu berjalan membaca Fatihah, hendaklah berhenti sampai bacaan Fatihah tersebut selesai.”

Selanjutnya, Syekh berdoa. Tanganku berhenti memijat tubuhnya yang lembut. Setelah selesai, menuruti permintaan teman-teman, aku mengajukan keinginan untuk berfoto bersama beliau. “Itu pun jika Anda berkenan, Syekh,” kataku.

Lagi-lagi beliau tersenyum sumringah

“Baiklah, tak usah dipapah. Aku bisa bangkit sendiri.”

16729080_1589392701076966_1987164830653192288_n

Izel Muhammad Hamdi (penulis) berfoto dengan Sayyid Hamud Syumailah al Ahdal

Dengan sekuat tenaga beliau duduk. Aku meminta teman-teman agar menyanggah punggung beliau saat pengambilan gambar.

Sesi foto-foto bersama sudah selesai. Dengan bergiliran, kami bersalaman serta menciumi kening beliau. Selanjutnya, kami akan mengarah ke Masjid Jamik Kabir untuk melepas penat serta menunggu shalat Jumat. Sebelum kami pulang, Syekh masih sempat berkata, “Jangan lupakan aku dalam doa-doa kalian…”

Dalam batin aku menjawab, “Syekh, kami ini apa dan siapa…”

CATATAN:

  1. Julukan al-Syi’bi berarti Rakyat jelata.
  2. Tidak ada yang tahu tentang tanggal, bulan, dan tahun kelahiran Syekh Abdullah Yahya. Dalam kitab-kitabnya yang dicetak di Saudi Arabia, Libanon, Mesir, Maroko, dll., hal itu juga tidak dicantumkan. Mencari lewat ‘Google’ pun tidak kutemukan jawaban. Kiranya, ini merupakan salah satu sikap ‘mastur’ beliau, sebuah keputusan agar tidak dikenal orang.
  3. Menurut riwayat dari guruku, sewaktu hendak menuntut ilmu ke Makkah, Syekh al-Syi’bi menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Di Makkah, tak jarang beliau makan kulit semangka yang dibuang orang.

 

Sugeng, Bledex, AKAS: Tiga Nama, Satu Legenda

bledex-mila

Mila Sejahtera ‘Bledex’, foto diambil di garasi AKAS-MILA Jogjakarta, 12 April 2012

Kisah ini terjadi kira-kira pada paruh akhir tahun 90-an, mungkin 1996 atau 1997,  di hutan Saradan (Madiun), tengah malam.

Jalan sepi. Saya taksir: jam jelang pukul 3 pagi. Maklum, kala itu, saya tidak punya ponsel dan tidak pula memakai arloji. Suasana kabin AKAS II bumel yang saya naiki sangat ‘sepi’ karena semua penumpang tidur. Hanya denging turbo mesin belakang Hino RK lawaslah yang saya dengar hingga kursi baris terdepan, tempat saya duduk.

Di sebuah trek lurus, lintasan yang merangsang sopir untuk menginjak gas sampai menjelang ambang batas, ketika jalan di hutan begitu gelap, jauh di depan sana: bergeriap enam lampu mayang berwarna kuning (itu adalah lampu identitas AKAS II; sedangkan MILA Sejahtera memiliki enam lampu mayang yang sama, berderet sejajar di atas kaca depan, hanya beda warna hijau di bagian kanan dan kirinya).

“Wah, Sugeng!” kata sopir kami kepada kernet. Tampaknya ia sudah tahu dengan siapa ia akan berpapasan dalam beberapa detik lagi.

Baru saja pak sopir bilang begitu, lampu mayang, lampu utama, semua lampu bis yang datang dari arah depan itu mati serentak, semuanya.

“Edan! Sugeng!”

Usai berseru begitu, sopir kami juga melakukan hal yang sama: mematikan semua lampunya.

“Astaga!” kata saya dalam hati, kaget bukan alang-kepalang. Ini jelas melanggar aturan keselamatan sebab kami tidak sedang syuting filem atau sedang beratraksi layaknya seorang stuntman. Suasana menjadi gelap luar biasa, bahkan garis marka jalan pun tidak dapat saya lihat meskipun saya sedang duduk di muka. Untung, pak sopir hanya mematikan lampu sekitar 3 detik; entah itu sebagai kode atau apa. Ia menyalakannya lagi. Sementara bis yang datang dari arah depan tetap tidak kelihatan hingga akhirnya kami berpapasan.

Pas, persis, pada saat itulah Pak Sugeng—pengemudi bis AKAS “Bledex” (banyak sopir yang menggunakan nama “Bledex”, namun boleh jadi Pak Sugenglah yang mula-mula menggunakan nama tersebut sebab ketika ia pegang MILA Sejahtera, ia juga pakai nama “Bledex”) yang datang dari lawan arah itu—membunyikan klakson panjang, seolah-olah itu suara orang yang tertawa terbahak-bahak. Suaranya membahana, memenuhi seisi hutan Saradan.

Plong rasanya hati ini begitu momen dramatis papasan dua bis tersebut telah berlalu. Alhamdulillah, tidak terjadi tabrakan atau kejadian buruk lain meskipun apa yang baru saja saya alami itu sungguh mirip film dan tetap tidak dapat bisa saya percayai. “Ini tindakan gila,” pikir saya,  “sangat berbahaya. Taruhannya adalah nyawa penumpang yang ada pada kedua armada.” Dalam hati, saya merutuk.

* * *

Peristiwa itu lama sudah terjadi. Saya sudah melupakannya. Sopir bis AKAS II yang saya naiki kala itu, Pak Pri (Anda dapat membaca kisahnya dalam artikel berjudul “Bukan Sopir Biasa” dalam buku Beauty and the Bus, sebuah buku catatan perjalanan naik bis karya saya sendiri) telah tiada. Hingga beberapa waktu yang lalu, di awal tahun 2015, kejadian tersebut kembali melintas dalam ingatan manakala saya terhubung dalam satu pembicaraan dengan Cak No, salah seorang kru Mila Sejahtera. Kami terlibat perbincangan seru yang semula diawali oleh kabar pindahnya “montor-montor” MILA Sejahtera ke garasi AKAS IV. Obrolan lantas ngelantur hingga kisah nama-nama orang yang pernah menjadi legenda AKAS. Ternyata, satu dari mereka bernama Sugeng; ya, Sugeng yang saya ceritakan di atas itu. Secara kebetulan, menurut penuturan Cak No, Sugeng baru berpulang beberapa bulan yang lewat setelah sakit beberapa lama.

Cak No yakin, Sugeng ini salah seorang legenda AKAS. “Secara umum begitu,” katanya. Memang, almarhum pernah jadi sopir banyak perusahaan bis, termasuk di luar keluarga AKAS. “Meskipun secara khusus, Sugeng itu masyhur bersama MILA dengan nama julukan ‘Bledex’”, imbuhnya.

Masih menurut Cak No, mendiang Sugeng punya kebiasan unik sebelum berangkat kerja, sebelum ia menjalankan mesin. Biasanya, ia mengebut dan mengusap-usap setir serta kaca dengan tangannya sembari berkata, ‘hayo, tangi, tangi, tangi…’. “Seolah-olah ia menyapa dan bicara dengan mobilnya”, imbuh Cak No. Sepertinya, ia punya ritual khusus yang dilakukan juga secara khusus, sejenis doa agar selamat di perjalanan

Setelah berhenti jadi sopir karena sudah tua, “ilmu mengemudi”-nya diturunkan kepada tandemnya, Imam Santosa yang masyhur dengan julukan “Bandit”.

“Sugeng bisa melihat jalan meskipun tidak ada lampu, Mas, sak mereme…” kata Cak No, “Saya saksinya, bahkan ia pernah lakukan kayak begitu dari itu sampe Solo.”

Begitu pembicaraan dalam telepon selesai, saya pun teringat beberapa riwayat tentang seorang kiai yang pernah ditemukan ‘mengemudi dalam keadaan tidur’. Bukan hanya dengan mata terpejam, “Beliau itu tidur beneran, dan mobil berjalan sendiri…” tandas si nara meyakinkan saya. Tentu, saya percaya dia karena saya juga mendengar cerita serupa itu sebelumnya dari nara yang lain yang saya tahu bukan tipe banyak omong, tidak suka ngedabrus dan tidak suka menyebarkan hoax.

Maka, kisah tentang mendiang Sugeng ini—untuk sementara hingga nanti datang tanggapan penolakan atau sejenisnya karena ada rekam jejaknya yang kurang baik, misalnya—saya maklumi. Saya juga percaya Bapak Mandiono (Cak No; pertama saya kenal beliau saat menjadi kernet Pak Paiman bersama MILA Sejahtera “Dona-Doni” dan sekarang ikut Mila Sejahtera angkatan pertama) yang menjadi salah satu narasumber wawancara saya, juga beberapa nara lain yang saya anggap terjamin kesahihan datanya. Lebih-lebih, saya sendiri pernah mengalami kejadian yang saya lihat langsung dengan mata kepala sendiri terkait aksi pak Sugeng ini, 20 tahun yang lalu.

Kini, saya semakin yakin bahwa ada banyak orang yang mampu melihat tidak dengan bola mata semata, melainkan dengan mata yang lain, indera yang berbeda dengan kebanyakan manusia yang mungkin tidak pernah kita tahu ada di mana letaknya, juga tidak tahu bagaimana cara ia bekerja.

Bersepeda di Belanda

oleh Farid Mustofa *)

Tanggal 24 Juli 2009 saya ke Belanda, mengunjungi teman kost di Kotagede. Tiga hari di Leiden dan sehari di Amsterdam sebenarnya tidak cukup untuk menikmati persepedaan di sana, meski sejak berangkat saya niatkan.

Setelah sembilan jam perjalanan,  kereta Jerman yang saya naiki sampai Schiphol Netherland, lalu Leiden 20 menit kemudian. Kesan yang muncul begitu sampai di stasiun Leiden adalah bentuknya yang mirip stasiun Tugu. Berbeda dengan hauptbahnhof  (stasiun kereta) Jerman yang kokoh, kotak, berbatu-batu, stasiun Leidan –juga stasiun Belanda lain—rata-rata mirip stasiun kita, melengkung berbesi-besi. Namanya juga tidak jauh-jauh: station spoor.

Pemandangan menakjubkan berikutnya adalah sepeda. Di tempat parkir stasiun Leiden yang seluas halaman stasiun Tugu, ratusan ribu sepeda terparkir rapi bertingkat, membentuk lautan besi, kemrecek berkilauan. Dan bila pandangan kita alihkan ke tempat-tempat lain, kita akan bertemu sepeda dan sepeda terus. Di jalan-jalan, emper toko, jembatan. gang, pasar, taman, gedung, rumah rusak, musium kincir, salon, toko turki, warung Indonesia, semua sepeda,  Dimana-mana sepeda. Sebelumnya sudah sering saya dengar kalau Belanda negeri sepeda, tapi tidak pernah terbayang akan ’separah’ ini.

Sesampai rumah teman, saya istirahat dengan tidak jenak. Sorenya teman mengajak keliling kompleks. Saya amati hampir tiap rumah punya sepeda: diparkir di halaman, sebagian tersandar di tembok dan pagar rumah. Sesekali saya berhenti mengamati atau sekedar memotretnya. Saat itulah saya sadar betapa sepeda-sepeda ini berbeda dengan sepeda Jerman. Bentuknya yang sederhana, besar, hitam, tidak modis memunculkan rasa iba, trenyuh, yang lama-lama berubah jadi rasa indah bahkan tentram. Memandang sepeda-sepeda ini yang mucul bukan pikiran logis analitis seperti saat menghadapi sepeda Jerman, tapi semacam keharuan dan rasa keterpanggilan untuk menjaga dan merawatnya. Beberapa sepeda bahkan memaksa saya jongkok dan mengelusnya agak lama. Aha, sepeda-sepeda ini hidup.

Kenangan saya terbang sepeda kakek di masa kanak-kanak saya. Sepeda hitam besar yang tromolnya berbunyi tjik-tjik-tjik, yang hanya dimiliki Kakek karena petinggi desa, yang tidak sembarang orang boleh memegang apalagi menaikinya, yang berwibawa dan begitu keramatnya sampai Kakek simpan di senthong dekat keris dan jimat-jimat, yang diam-diam saya suka menyelinap ke sana lalu dolanan sepeda tjik-tjik-tjik itu sepuasnya.

Suatu ketika kekasih Kakek itu hilang dicuri maling. Betapa terpukul Kakek. Beliau mengurung diri di rumah, duduk diam di kurisnya. Murung berhari-hari. Mendung duka menyelimuti desa. Saya juga ikut sedih. Meski tidak tahu karena kakek berduka atau karena kehilangan mainan. Sekian lama kemudian Kakek meninggal (karena tua. Bukan karena kehilangan sepeda), tanpa pernah melihat lagi sepedanya. Berbilang tahun berlalu…Sore itu, di sudut kota Leiden, saya menemukan sepeda Kakek.

Teman saya juga punya sepeda seperti itu. Usai jalan-jalan saya bermaksud mencobanya.  Namun selera saya langsung lenyap. Sepeda itu dia cat oranye.

Pagi harinya kami ke pasar. Tentang pasar ini tidak ada kesan lain kecuali saya serasa pulang ke Sleman, bahkan kampung halaman di pedalaman Purwodadi sana.. Ada suara bakul teriak-teriak menawarkan dagangan, baju digantung seperti seragam pramuka dijual di pasar kampung, ikan laut segar dan amis, warung makan di tengah pasar, dan tentu saja sepeda dan sepeda di antara semuanya.

Selain sepeda dan cara naiknya yang seperti di Indonesia, hal lain yang membuat saya kerasan adalah rumah-rumah mirip di Kota Baru atau kantor pos Maliboro, dan banyak muka Indonesia, peranakan maupun asli. Atau terkadang bule memakai batik. Bahasa Indonesia pun familiar di di sini, digunakan oleh orang Indonesia maupun warga Belanda. Di Leiden ini pula terdapat universitas tua yang mempelajari Indonesia, yang koleksi perpustakaannya khusus tentang Indonesia konon terlengkap di dunia. Genap sudah kegembiraan saya untuk seakan-akan merasakan mudik. Memang tidak sangat eropa seperti Berlin, Leipzig, dan kota eropa lain, tapi tidak apa, penting bahagia.

Di Leiden yang cantik dibelah sungai Rhein yang termasyhur itu sepeda telah memberikan sentuhannya yang khas. Paduan pemandangan sungai kota dengan jembatan lengkung, rumah-rumah mungil berbata merah, kincir tua, para lelaki yang menikmati teh sore dikedai pinggir jalan, dan ibu-ibu muda bersepeda mengisi sudut-sudut kota, terlihat seperti lukisan yang sedang dikerjakan pelukisnya: warna-warni, silih berganti, bergerak lamban dan tenang.

Secara umum saya tidak melihat sepeda Belanda bervariasi ‘seaneh’ sepeda Jerman.Bentuknya berkisar seperti sepeda tanah air, milik teman-teman onthelis, tapi kesan saya ukurannya lebih besar. Rata-rata berwarna hitam. Entah karena warna dan bentuk simpelnya itu, atau malah juga terbawa kenangan sepeda di Indonesia, kesan saya sepeda di Belanda kurang terawat. Sebabnya mungkin karena mobilitas tinggi (sering dipakai), plus disiplin bersepeda tidak terlalu ketat, misal banyak sepeda tanpa berko dan lampu belakang, rem, dan kelengkapan lain, yang kalau di Jerman mengundang tilang 10euro. Saya geli-geli iba melihat betapa banyak gadis mirip lady Di dengan cueknya naik sepeda butut, berkarat, dan sangat ala kadarnya itu. Tapi bagi saya keadaan sepeda Belanda yang ‘minimalis’ ini justru terasa low-profile dan rendah hati. Tidak ada hambatan psikologis ketika dia diparkir, saya mendekat dan pegang-pegang. Akrab saja, layaknya kawan lama.

Orang-orang menaiki sepeda di sini juga dengan santai. Tidak seperti di Jerman yang kaku oleh disiplin dan keamanan, orang Belanda biasa naik dengan boncengan, berdampingan, tanpa rem, bahkan sambil menelpon.

Di Amsterdam yang metropolis dan sepeda lebih menyemut lagi, perilaku bersepeda lebih nggegirisi. Merasa berumur paling tua, menang jumlah dan menjadi mascot, sepeda melenggang hampir tanpa aturan. Lampu merah, zebra cross, track khusus sepeda harus mengalah untuk dilanggar karena datang belakangan, jauh hari setelah nenek moyang mereka bersepeda. Di kawasan rumah-rumah pejabat VOC yang ramai, serombongan penyepeda hampir menyerempet saya dan orang-orang yang sudah di zebra-cross.

“Waar uw ogen?!!Deze zebra kruis!!“ (dagadu dab! Nggon nyebrang ki)

Pisuhan bertaburan. Saya geli dan makin rindu tanah air. Rindu yang tunas sejak bertemu sepeda Kakek. Mendadak saya mengerti dampak 350 tahun mereka di Indonesia.

Anehnya, lagi-lagi, saya merasa baik-baik saja, lebih nyaman tepatnya, dibanding di Jerman yang harus selalu waspada dan siaga meski jalanan sepi lengang.

 

*) Farid Mustofa adalah dosen di Fakultas Filsafat, UGM

 

 

 

 

 

 

Menjajal Si Jangkung

Bukan dari Pulo Gebang, bukan pula dari Pulo Gadung, apalagi dari Rawamangun, ini kali pertama saya naik bis dari Cakung menuju ke timur, kali pertama pula saya naik PO. Garuda Mas yang bertujuan akhir di “Cepu”, namun di tiket tertera “Semarang”, padahal saya akan turun di “Pekalongan”.

14813615_120300000701451871_1569755790_n

foto oleh Fathur Rozzaq

p1010069

Bis kelas ekskutif bermesin Mercy ini bertenaga Hulk. Dialah “Si Jangkung” bersasi “osor”, sebuah sebutan ala lidah orang Indonesia untuk tipe “O500R” (1836). Kapasitas mesinnya 12.000cc, hampir dua kali lipat umumnya mesin bis biasa. Meskipun tidak tepat secara harfiah, kalau mau dibandingkan, anggap saja ia setara dengan 14 gelondong mesin Daihatsu “Ceria” yang dijadikan satu.

Bis Cirebon yang saya naiki ini bernomor polisi E7576KB. Pak Alan mengawal di kanan dan Pak Aji di sebelah kiri. Mestinya, ada satu lagi tandem sang pengemudi. Karena beliaunya verval, maka Pak Alan harus menjadi penyerang tunggal pada laga Pantura kali ini.

Bis kami lepas rem tangan pada 14.34, molor lebih 30 menit dari angka 14.00, waktu pemberangkatan yang dijanjikan, padahal saya datang satu jam lebih awal. Beberapa ratus meter setelah tapak ban menjejak aspal, mungkin karena sudah terbiasa, Pak Aji mengeluarkan dan memasukkan sekeping flashdrive ke alat pemutar musik. Apa yang terdengar? Bryan Adam membawakan “Everything I do” samar-samar. Sesudahnya, terdengar suara orang bicara. Rupanya, itu merupakan sambutan dari pihak managemen PO Garuda Mas berikut harapan kepada penumpang, ya, mirip di pesawat-pesawat itu. Sementara lagu selow yang dulu jadi OST-nya film Robin Hood tersebut hanyalah musik latarnya belaka.

Bagaikan sedang duduk di kursi malas sembari menikmati lagu dekade 90-an, mendadak saya merasa disorong dari depan hingga jatuh terjerengkang manakala Pak Aji mengganti musiknya dengan lagu koplo, waduh, kaget saja, sih. Oleh sebab suasana yang berubah tiba-tiba, saya yang duduk tepat di belakang pengemudi, makin berat untuk memusatkan pandangan ke muda karena adanya godaan melirik layar televisi. Kaca bagian atas bis menampakkan proyeksi jalan 150 meter ke depan sedangkan jika melihat ke kaca bawah, jarak pandang saya hanya terbatas 4 meter saja karena terhalang pemisah kaca yang mirip topi golf jika dilihat di luar. Sungguh, saya berada dalam situasi yang tidak puitis.

Saya kira, inilah salah satu PR (pekerjaan rumah) untuk karoseri mobil berkaca ganda. Saya tidak dapat membayangkan bilamana kaca atasnya bertutup gordin atau menggunakan kaca filem supertebal. Jadi, penumpang bisa menghadap ke depan, menatap ke depan, namun tidak dapat melihat apa-apa. Maka, lantas apa bedanya naik bis dengan naik kereta api jika penumpang menghadap ke depan namun hanya dapat melihat ke samping?

Selepas 16.20 di Cikopo, Pak Alan menjalankan bis dengan kecepatan rata, 100 km/jam. Saya turun, duduk sejajar di sampingnya begitu tahu Pak Aji ngandang di belakang.
“Permisi, Pak, numpang duduk,” kata saya.
Pak Alan menoleh dan tersenyum.
p1010072

Duduk di kursi CD, sungkan saya mengajaknya bicara karena saya melihat beliau berdzikir, entah apa yang dibaca. Tampaknya beliau membaca salah satu nama “Asmaul Husna” kalau menilik kecepatan memencet counter nirkarat yang ada di genggaman tangan kanannya.

Beberapa menit berlalu tanpa ada bicara apa-apa. Nah, mungkin karena saya selalu memperhatikan dasbor, Pak Alan akhirnya buka suara, bahkan seolah dia tahu apa yang ada dalam pikiran.

“Mesin ini sudah disegel dari sononya, enggak bisa lebih dari 100 km/jam.”
“Oh, begitu, ya, Pak? Apa tidak bisa ditambah?” susul saya dengan pertanyaan tambahan begitu saya lihat jarum RPM hanya bergerak di kisaran angka 15 x 100 saja, di garis panel berwarna hijau yang artinya eco-drive alias “ngegas ala priyayi”.
“Bisa saja kalau segelnya dilepas.”

Pak Alan sering menetralkan persneling ke nol (N) begitu ada kemacetan seratus-duaratus meter di depan, atau ketika menghadapi jalan landai nan panjang. Kiranya, cara ini mampu menghemat bahan bakar karena pada saat itu gaya dorong bekerja. Saya paham itu, namun yang belum saya pahami adalah kebiasaan beliau yang lain, yaitu menaikkan percepatan di RPM rendah. Memang betul, sih, barangkali karena kapasitas isi silinder mesin yang amat besar ini maka meskipun Pak Alan berlaku demikian, tetap saja laju mobil gede ini bisa gesit bergerak. Kadang, mesin sampai-sampai ‘mengaum’ sebab percepatan terlambat diturunkan sedangkan gas saja yang ditambah. Apakah ini juga termasuk cara berhemat atau sebentuk penyiksaan karena rasio percepatan tidak sebanding dengan putaran mesin (RPM)?

“Sudah lama mengemudi bis, Pak?” Saya memulai berbasa-basi.
“Kerja di Garuda Mas saja saya sudah sejak tahun 80-an, sejak Pak Haryanto masih berpangkat kopral dan jadi penumpang saya hingga sekarang beliau punya perusahaan otobus sendiri dan armadanya pun sangat banyak.”
Sepi sejenak. Saya tidak menanggapi.
“Rezeki memang tidak dapat diduga-duga…” imbuhnya.

Di tol yang sangat panjang itu, ternyata jalan sudah banyak bolong di sana-sini. Baru kali ini saya melihat proyek tol yang sebegitu cepatnya harus diperbaiki. Pertama kali saya melintasi tol Cipali tahun lalu, 4 hari menjelang puasa, tepat di malam peresmian saat pintu tol baru saja dibuka, tepatnya tanggal 14 Juni 2015. Lah, ini kok sudah begitu banyak rusaknya? Apakah truk pengangkut cabe ‘stutjack’ yang selip di dekat pintu keluar Km-137 Cikedung/Cikamurang juga disebabkan oleh faktor jalan yang tidak mulus lagi macam ini?

Saat membayar tol di Km-187 Pintu Palimanan, pukul 17.33, saya melihat Pak Alan menyetorkan uang 120.000. Kata dia, masih harus nambah 55.000 lagi nanti untuk dibayarkan di pintu terakhir: pintu Brebes Timur.

p1010073

14731221_10208559753524684_7381021686643524885_n

foto oleh Ryan Indryan

Bis keluar di pintu Ciperna dan mengarah ke RM Brawijaya yang jaraknya dekat sekali, hanya sekali putar saja. Di sanalah kami beristirahat. Kami mendapatkan layanan makan cuma-cuma. Dan alangkah kaget karena begitu saya turun, ada dua orang yang datang menyambut, Ryan dan Fuad. Duh, senangnya hati ini hari ini mendapatkan teman di mana-mana. Keheranan belum selesai: saya tidak makan di ruang penumpang karena diajak Pak Aji untuk makan di ruang kru, makan sepuasnya dan boleh minta apa saja. Katanya, ia hanya melaksanakan tugas atas permintaan seseorang. Siapa lagi? Apa lagi?

Maka, sesudah makan, saya langsung menjumpai mereka berdua, membicarakan banyak hal dalam waktu yang sangat terbatas, termasuk menyampaikan keinginan saya untuk mampir di Sunan Gunung Jati namun belum kesampaian. Tentu saja, agar mendapatkan waktu lowong untuk ngobrol lebih lama, saya niat shalat jamak ta’khir di Pekalongan saja.

Dengan membawa sekotak martabak manis hadiah dari Fuad, saya naik ke atas bis. Tepat pukul 18.29, kami keluar dari rumah makan. Lampu kabin dinyalakan. Musik lawas diputar. Suara Chrisye, Ebiet, Dian Piesesha, dan penyanyi-penyanyi seangkatan mereka silih berganti menghibur kami.

Bis kembali melaju, menembus nama-nama tempat di antara waktu dan waktu:
19.24 keluar Brebes Timur;
19.40 masuk Tegal Bahari;
19.58 di Suradadi;
20.11 masuk Pemalang;
20.50 tiba di Pekalongan.

Turun dari bis, eh, saya langsung disambut kilatan cahaya dari kamera ponsel sang kawan yang dituju, Dadik Santosa. Itulah salah satu cara baru menyambut tamu.

Memungut Hikmah di Sepanjang Jalan

“Taksi, taksi, taksi…”
“Ojek, ojek,” timpal lainnya.
“Carteran yuk!” sambung berikutnya.

Dua kali saya kalah godaan: kemarin dan tadi malam (niat berangkat Selasa pagi dari Jakarta digoda berangkat siang dengan iming-iming naik SHD O500R dan saya menyerah; niat mampir satu-dua jam di Pekalongan dan saya digoda pergi ziarah ke makam-makam keramat hingga akhirnya semalam saya tertahan di kota itu). Kali ini, saya tak mau godaan tukang ojek ini menimpa saya lagi. Tekad saya sudah mantap untuk mencegat biskota P4 tujuan Tanjung Perak, tapi hati saya langsung meleleh begitu mas Ojek merayu lagi.

“Ayolah, buat tambahan bensin, mau pulang,” kata dia hingga akhirnya kesepakatan diambil pada angka 25.000, di parkiran Stasiun Pasar Turi. Begitu getas keyakinan saya pada angka-angka, tak apalah, asal iman tidak mudah rapuh pada Yang Esa. ‘Masa pukul 10 pagi sudah balik rumah?’ Pertanyaan curiga itu tidak saya ajukan untuk menguji kebenaran ucapan Mas Ojek sebab hanya akan mengurangi nilai-nilai lain yang telah saya sepakati sendiri di dalam hati. Saya mengikutinya.

Setelah pantat saya ngangkang di sadelnya, mas Ojek membawa saya menyelinap di antara rimbun trembesi dan gedung berlantai-lantai, berzig-zag di antara tinggi kotak kontainer dan berisik knalpot. Masuk jalan kecil, keluar, masuk lagi, dan dengan cara itu, kami mencapai pelabuhan Ujung (Tanjung Perak) dalam waktu tidak terlalu lama.

Usai membeli karcis Rp5000, saya mendekat ke bibir dermaga. Bahagia saya melihat nominal tarif penyeberangan yang kini dipaskan, beda dengan dulu yang angkanya tanggung, seperti 3700 yang cenderung disusuk 1000 saja ketika kita menyodorkan uang pecahan 5 ribu; atau bahkan tanpa kembalian jika yang diserahkan adalah 4000. Betapa pungli bisa diberantas jika kita serius tapi juga bekerja dengan mulus karena kesempatan untuk mengekskusinya terbuka lebar.

p1010079Di kejauhan, KMP Jokotole arung selat sendirian, di tengah laut. Terbayang kejayaannya di masa lalu, bagai seorang putri cantik berhati mulai yang diperebutkan banyak pangeran, bahadur, melainkan juga durjana. Kini, ia tak lebih seperti seorang ibu yang dilupakan anak-anaknya, yang hanya sesekali disapa lewat bicara singkat di ponsel dengan keakraban dan kehangatan seluler tapi jauh dari peluk dan dekap tangan yang dialiri darah nan emosional. Ketika fery itu kian dekat, makin tampaklah wajahnya. Ia semakin pucat.

Terpampang banner besar di pelabuhan Ujung, mengumumkan serangkaian kegiatan di Bulan November yang bertujuan mengembalikan kejayaan dan kemeriahan Pelabuhan Kamal. Tertera di sana senarai festival yang akan digalakkan selama lebih sepekan. Apakah Kamal perlu diberdayakan lagi? Diberdayakan untuk apa? Masyarakat sudah terlanjur bangga dan menikmati Jembatan Suramadu dan pelabuhan Kamal perlahan terhapus dari memori bersama. Sesungguhnya, apa yang saya lakukan hari ini, di antaranya, adalah untuk membangkitkan kenangan itu serta kepada mereka yang tersisihkan itu juga bisa berbagi.

Fery ini, yang baru datang dan segera kembali, hanya mengangkut tiga mobil, beberapa puluh sepeda motor, dan mungkin tak sampai seratus orang penumpang. Jembatan diangkat, kapal bertolak menuju Kamal. Mesin menderum dan buih gelombang akibat putaran baling-baling pun bermunculan.

Saya turun dari ruang penumpang kurang semenit sebelum kapal sandar. Saya menghampiri seorang pemuda gondrong yang berdasarkan Honda CB-nya saya duga dia adalah orang yang baik hati. Kepadanya, saya menawarkan amal kebajikan yang ringan tapi sangat bermanfaat: membonceng saya, dari atas kapal ke ujung pintu gerbang.

p1010081“Mas, numpang ngentel (membonceng) sampai gerbang, Mas!”
Memang, intonasi bicara saya tidak seperti orang yang sedang minta izin membonceng, melainkan lebih bersifat pemberitahuan. Karena itu, si pemuda tampak tak punya alasan untuk menolak kecuali hanya mengangguk. Dia membuka kaca helem, tapi tidak tersenyum.
“Panas kalau jalan kaki, Mas, apalagi siang-siang begini,” sambung saya menambahkan penjelasan yang mungkin tidak berguna baginya.

***

p1010082Masjid Baitul Amal, Kamal

Saya bershalat Duhur di sini. Tak lama saya menunggu shalat jamaah didirikan. Adzan baru saja berkumandang sesaat sebelum saya datang, pukul 11.20. Hampir 45 menit saya di masjid. Sesudah itu, saya keluar dari halaman masjid setelah memasukkan uang kas di kotak amal (ingat, arti Baitul Amal itu adalah “tempat amal kebajikan”, bukan “kotak amal”, lho). Saya mengarah ke pangkalan mobil ‘taksi’ yang sedang ngeslah, yang biasanya parkir di sebelah barat masjid, sebab yang ada di dalam terminal adalah ‘taksi’ yang ngetem.

Melihat beberapa taksi Isuzu Elf yang parkir tanpa sopir dan tanpa penumpang, saya memutuskan isi daya dulu dengan memesan semangkok soto. Namun, hingga habis soto dimakan, bahkan hingga saya harus memesan kopi saset untuk menunda waktu menunggu, belum tampak pula tanda-tanda mobil ini akan menemukan penumpang. Ah, alangkah banyak waktu berubah, di mana dulu Kamal sangat ramai dan penumpang begitu banyak dan kini sebaliknya. Suramadu memang memudahkan banyak orang untuk bepergian tapi juga ‘membunuh’ banyak toko dan lapangan pekerjaan.

“Mau ke timur?”
Aduh, kaget, mendadak ada kepala melongok ke balik tenda warung tempat saya duduk.
“Iya.”
“Mari.”

Ketika saya melangkah, mengikuti pak sopir yang barusan mengajak, terdengar beberapa kali bunyi klakson di belakang. Intervalnya tidak jelas. Saya membuat kesimpulan: ini bukan bunyi biasa, melainkan morse. Ada ide jahat di balik bunyi ini. Saya tidak menoleh karena khawatir akan tergoda untuk kesekian kali, khawatir selingkuh, yaitu berpindah ke lain ‘taksi’. Sandi bebunyian itu adalah kodenya. Ketahuilah! Selingkuh itu terjadi bukan hanya disebabkan oleh lemahnya benteng pribadi, namun juga oleh gencarnya godaan pihak ketiga yang bertubi-tubi. Catat! Rumus itu juga berlaku di angkutan antarkota semacam ini.

Begitu saya naik dan duduk di bangku depan serta seorang penumpang lagi masuk ke bangku tengah, sopir langsung menjalankan mobil. Benar, mobil yang barusan membunyikan tuter itu langsung menyalip, yakin pasti ia ingin merebut remah-remah kue penumpang, sekerumun orang yang hendak pulang dari pasar Kamal, 100 meter di hadapan kami.

Ganika kaula tak lebura, pas arebbu’ penumpang. Molaen gella’ nengenneng. Ding kaula mangkat, pas mangkat keya ajung dalluwan...” kata sopir kami sambil menjalankan mobil pelan-pelan.

Adapun maksud ucapannya, andai Anda duduk di posisi saya dan Anda tidak mengerti Bahasa Madura, sudah terjelaskan pada tatapannya yang lurus ke depan, tapi kosong, seperti kabinnya yang hanya berisi dua orang penumpang. Siang itu ia gagal menambah rezeki penumpang yang sebelumnya ia duga sudah berdiri di tepi jalan untuk mencegat mobilnya yang datang dari arah selatan. Pasalnya adalah karena ia baru saja ditelikung oleh mobil pesaingnya, mobil yang semula parkir di belakangnya. Begitulah kira-kira kenyataan pahit di tengah cuaca siang yang cetar panasnya.

Mobil bergerak tidak serius ke arah utara, menempuh ruas jalan Bangkalan-Kamal yang mulus namun tidak seramai dulu lagi. Lajunya males-malesan. Beruntung, setelah ngetem di Junok, mobil kami mendapatkan banyak penumpang baru. Mobil berjalan lagi dan kami mencapai Torjun pada waktu ashar, 14.28 lalu tiba di Pamekasan satu jam kemudian, 15.30.

Kaget sekali ternyata saya ditarik ongkos hanya 15.000, kirain 20 atau 25 ribu, murah sekali. Saingan antar-angkutan kadang membuat tarif tidak ada patokan. Dalam bentuk kecil, tidak adanya campur tangan pemerintah dalam menyelesaikan masalah semacam ini dapat memicu terjadinya persaingan dan pertarungan yang menyakitkan. Hukum rimba tarif pun berlaku. Berkebalikan dengan hal itu, di bandara, DAMRI dapat memasang tarif 25.000 untuk jarak yang sangat dekat karena di sana ia adalah raksasa di antara kurcaci-kurcaci tak berdaya.

Sembari menunggu bis masuk dari arah Surabaya, saya memesan kopi, ya, kopi apalagi kalau bukan kopi saset yang cara membuatnya disobek lebih dulu seperti shampo. Saya bayar di muka: bayar sebelum diminum. Ini adalah teknik sederhana yang saya lakukan sejak lama untuk mengantisipasi apabila ada bis datang cepat dan saya tidak perlu buru-buru lagi untuk sibuk membayar.

Kira-kira 30 menit menunggu, yang datang ternyata Patas. Saya naik bersama beberapa orang lain. Astaga, tarifnya menggunakan tarif bis ekonomi. Barangkali, penumpang seperti kami ini, “penumpang jarak meteran”, adalah semacam receh yang dapat menggenapkan pundi-pundi rezekinya yang mungkin tidak selalu sebanyak yang mereka harapkan.

Di stanplat Prenduan, ketika kaki turun menjejak aspal, serasa saya baru keluar dari ruang kelas yang berjalan. Banyak sudah pengalaman hidup yang saya peroleh sedari kemarin. Oper-operan naik angkutan umum membuat wawasan lebih terbuka terhadap perubahan dan perbedaan: naik bis dari Jakarta, naik kereta api dari Pekalongan, ngojek ke Ujung, naik fery ke Kamal, naik microbus ke Pamekasan, naik patas ke Prenduan, naik Hiace ke Kajo Ojan, membonceng Asnawi numpak sepeda motor ke rumah; adalah serangkaian kendaraan yang saya ikuti dan pada masing-masing semua itu terdapat pelajaran yang saya petik dan saya pelajari.

Langkah Awal Menulis Esai

“Jadi, apa pengertian kata itu?” tanya saya.
“Susunan beberapa huruf yang memiliki satu atau lebih arti,” jawab seseorang.

Kepala menunduk, lirikan mata terus berubah, atau pandangan ke arah jendela meskipun tidak memperhatikan apa pun, membuat saya memperkirakan apa saja yang melintas di dalam benak mereka. Saya menatap air muka anak-anak, satu per satu. Ada keraguan di sana. Terkadang, saya berpikir jauh, mengapa begitu susah orang menulis/mengarang? Apakah hal itu disebabkan karena mereka tidak pernah mencoba menulis dan membaca? Atau rajin membaca dan menulis namun sama sekali tidak mencoba memperhatikan bagaimana kalimat demi kalimat di dalam sebuah tulisan itu disusun?

“Dengan demikian, kumpulan kata-kata yang memiliki satu pokok pengertian itu disebut…” saya melanjutkan.
“Paragraf!”
“Beberapa paragraf yang terkumpul dalam satu gagasan maka ia akan disebut…”
“Bab!”
“Beberapa bab yang terkumpul dalam satu tema disebut…”
“Skripsi atau buku…!”
“Apabila skripsi-skripsi atau banyak buku dikumpulkan di satu tempat maka ia disebut…”
“Lemari buku atau perpustakaan…”

* * *

Ketika membaca sebuah tulisan, katakanlah esai, sebetulnya kita sedang membaca beberapa pokok pikiran dengan sekian banyak kalimat penjelas. Setiap pokok pikiran itu menempati satu paragraf. Dengan begitu, jika ada 25 paragraf dalam sebuah esai, maka berarti ada 25 pokok pikiran di dalamnya.

Berikut 5 langkah ringkas untuk pedoman menulis dengan cepat..

1. Tentukan tema tulisan, yaitu pokok pikiran tentang apa yang akan Anda tulis;
2. Kumpulkan indeks atau kata kunci yang berkaitan dengan tema, misalnya ‘pantai’, ‘pasir’, ‘kelapa’, ‘ombak’, ‘debur’, ‘nelayan’, ‘gelombang’, ‘plankton’, ‘ikan’, ‘garam’, jika Anda hendak menulis sebuah tulisan tentang laut;
3. Buatlah 15 hingga 20 kalimat utama sebagai pokok pikirannya;
4. Kembangkan masing-masing kalimat utama tersebut sehingga menjadi sebuah paragraf, dengan cara menambah (misalnya) 4 sampai 7 kalimat penjelas untuk setiap kalimat utama;
5. Setelah selesai, baca ulang tulisan tersebut. Apabila ditemukan paragraf tidak tersusun secara tepat, sunting, ganti urutan, susun ulang.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
• Terburu-buru membubuhkan titik (.) sebelum Anda memastikan adanya subjek di dalam sebuah susunan yang Anda anggap kalimat. Tanpa adanya subjek/objek, ia disebut frase, bukan kalimat.
• Menggunakan kata hubung (seperti ‘padahal’, ‘sehingga’, dan ‘bahkan’) di awal kalimat karena cenderung akan membuat sebuah susunan gagal menjadi kalimat, melainkan terjerumus ke dalam frase.
• Tidak bisa membedakan kata depan “di” dengan awalan “di-” untuk kata kerja pasif. Kata depan “di” ditulis terpisah dengan kata keterangan waktu/tempat yang menyertainya (contoh: di kelas, di atas, di samping); awalan “di” ditulis serangkai dengan kata kerja yang menyertainya (contoh: dipindah, ditulis, disalin).

Setelah Anda dapat menulis dengan cepat, mengerti beberapa teknik khusus atau menemukan cara yang lain, silakan Anda melanggar langkah-langkah di atas, tentu saja Anda boleh melakukannya dalam keadaan sudah tahu sehingga yang Anda lakukan itu ada dasarnya, bukan melakukannya dalam keadaan tidak tahu namun Anda hanya bertaruh pada bernasib baik, yaitu “kebetulan benar”.

* * *

Menanggapi teknik dan konsep penulisan (seperti esai) ini, AS Laksana menyatakan begini: Satuan terkecil dalam esai menurut saya adalah kalimat. Penulis harus mencintai kalimat seperti pelukis mencintai cat. Dengan cat, pelukis mewujudkan dunia di dalam benaknya ke permukaan kanvas. Dengan kalimat-kalimat, penulis melukiskan dunia yang ada di dalam benaknya ke permukaan kertas atau ke layar komputer atau ke layar ponsel.

Dalam puisi, satuan terkecilnya bisa kata, bisa kalimat. Puisi-puisi Chairil dan kebanyakan penyair liris, satuan terkecilnya kata. Puisi-puisi Rendra satuan terkecilnya kalimat, sebab ia menulis puisi-puisi yang bercerita.

Kecintaan terhadap kalimat perlu ditekankan kepada orang-orang yang memutuskan belajar menulis. Tanpa kecintaan terhadap kalimat, orang akan sembrono saja dalam menulis, abai terhadap diksi, tidak peduli apakah kata-kata yang ia gunakan untuk menyusun kalimat itu presisi atau tidak, juga teledor terhadap tata bahasa.

Seorang penulis akan mampu menyampaikan pemikiran dalam cara yang berbeda, melalui kalimat-kalimat yang mungkin tak terpikirkan oleh kebanyakan orang, sebab ia memiliki kosakata yang kaya. Dengan itu, ia selalu menemukan kosakata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya. Kekayaan kosakata didapat dari kegemaran membaca. Itu yang membedakan penulis sungguh-sungguh dan penulis malas.