Disebabkan oleh Tembakau (Drama)

Campalok Jambangan Guluk-Guluk Sumenep 2Naskah oleh M. Faizi

(Para Pelaku: Sarip, Sujak, Tajul, Haji Dul Gani, Hansip)

Sarip:                (Menggumam sambil ngelap sepeda motornya) Memang, musim tembakau memberikan banyak keuntungan, ya, bagi pedagang, bagi bandul, bagi siapa sajalah, bahkan kalau pedagang emas seperti Haji Mahfud itu, wah, bisa beli mobil lagi dia. Honda Supra pun sebenarnya sudah cukup, kok.

 

(Improvisasi: monolog tentang keuntungan tembakau)

 

Bahkan kalau saja tembakau Madura bisa diekspor, semua masyarakat di sini mungkin akan pakai mobil, tapi repot juga sih, entar kalau aku beli, nanti mau diparkir di mana ya, wong jalan ke rumahku saja nggak ada, thak paletthok. ohoi…gampang, bisa dititip di Haji Dul Gani yang di pinggir jalan.

Sujak:               Tapi, enggak jugalah, friend. Aku bahkan punya ide agar penanaman tembakau dilarang di seluruh Madura.

Sarip:                Sebentar, maksudmu dilarang  gimana? Memangnya masyarakat kita mau disuruh makan garam saja? Atau mau disuruh cari makan ke Malaysia, Arab Saudi? Kalau bukan tembakau, kita ini punya apa?

Sujak:               Tapi, kalau semua ini cuma permainan,  mau apa lagi, bubarkan saja tembakau. Ganti dengan, apalah, yang tidak berbahaya bagi kesehatan. Sebab nyatanya, setiap tahun, tembakau memakan korban, setiap tahun, tembakau selalu over produksi. Akibatnya menumpuk, tak terbeli. Yang kalah, petani lagi, petani lagi yang rugi. Sekali-kali, petani, dong, yang menang, yang jadi pahlawannya, jangan dikalahkan terus-terusan.

Sarip:                (mencoba bergaya bijak)Ya, tidak sesederhana yang kamu katakan, Jek. Persoalan ekonomi itu persoalan kompleks. Kalau cuma mau bisa menyalahkan, enggak usah sekolah pun bisa, kok! Lihat kemiskinan bangsa kita, tidak bisa dilihat dalam satu perspektif saja: sosbud dan politik juga dipertimbangkan.

Sujak:              Tapi, kamu ngomong kayak gitu karena kamu diuntungkan oleh tembakau, kan?

Sarip:                (menghadap penonton) wah, repot kalau bicara dengan orang yang tidak   punya basis intelektual!

Tajul:                (masuk tergopoh-gopoh, bingung) Tolong aku. Tolong aku! Aku numpang ngumpet. Aku dikejar Hansip!

Sarip&Sujak:    Ada apa? Ayo jelaskan dulu, tenang, tenang. Di sini kamu aman.

Tajul:                (kepada Sujak: sambil tertawa) Oh, iya, kamu kan hansip juga, ya? Wah, iya, iya (garuk-garuk kepala). Kalau begitu, aku salah minta perlindungan nih.

Sujak:               Tidak kawan, jangan khawatir. Soal keamanan bisa diatur. Ada apa, sih?

Tajul:                Katanya bensin turun, tapi harganya, kok, selangit; katanya tembakau mahal, tapi, kok, berbal­bal tembakauku enggak laku. Gudang sudah tutup.

Sarip:                Lho, apa hubungannya dengan minta perlindungan?

Tajul:                Aku itu dikejar-kejar orang. Dia nyuruh hansip agar memburuku.  Dia bahkan mengancam akan menyerahkanku pada polisi kalau tidak segera membayar tunggakan hutangku…lha, wong, duitnya kugunakan untuk menomboki utang belanja palaron untuk pengairan kampung.

Sujak:               (bergaya membetulkan suatu ucapan yang salah) Bukan palaron, tapi balaron.

Sarip:                Terus, hubungannya dengan kamu dikejar-kejar?

Tajul:                Ya, yang salah aku, sih, sebenarnya. Dulu aku ngutang baralon, eh, palaron, kupakai dulu buat sumur di rumah. Dan setelah aku punya uang, aku ganti, tapi pakai uang dia itu, he, he.

Sujak:               Ngawur kamu! (Kini memandang tajam pada Sarip) Nah, ini satu lagi bukti konkret bahwa tembakau yang digunakan untuk merokok tidak cuma menyebabkan serangan jantung dan kanker, tetapi membuat orang dikejar­kejar utang.

Sarip:                Kamu itu payah, sudah terpengaruh. Ya, itu kan salah dia, bukan salah tembakau.

Sujak:               Tapi, kalau diusut, penyebab utamanya ‘kan tembakau juga

Sarip:                Ya, nggak lah, tembakau itu urusan bisnis, kalau dia urusan penipuan…

Sujak:               Tapi, penipuannya kan karena bisnis tembakau.

Sarip:                Kamu itu; pernyataan benar, alasannya salah.

Sujak:               Nggak apa­apa, yang penting kan cepat menjawab. Terserah mau benar, mau salah, yang penting cepat tanggap. Yang jelas, semua keributan, penipuan dan kerugian, disebabkan oleh tembakau.

Tajul:                (intonasi marah sambil menunjuk) Diam kalian! Yang punya masalah itu aku, bukan kalian, kok malah kalian yang bertengkar. Sekarang yang jadi permasalahannya; aku ini mau sembunyi di mana?

Sujak:               Pokoknya, aku akan adukan ke Pusat. Bubarkan tembakau! Bubarkan tembakau! Garap lahan yang lain. Kita itu kaya, Rip. Tambang? Ada Pagerungan dan  pulau-pulau yang lain.  Kekayaan laut? Rumput laut kita ekspor, ikan berlimpah, kurang apa? Produksi garam? 70% garam Indonesia itu dari Sumenep. Kita seharusnya memaksimalkan fungsi otonomi daerah, dong, jangan cuma tembakau melulu yang diomongkan. Kita ini kaya, tapi kenapa kok bisa kita miskin?

Tajul:                Itulah keanehan yang lain: bensin turun tapi harganya naik, kita kaya tapi kok miskin. Ayo, bisa jawab, enggak?

Sarip:                Hey (kepada Sujak) Kamu ternyata pintar juga, ya! (kepada Tajul) dan kamu ternyata kritis, pandai ngoceh! Kalau pagi suka makan pisang, ya? Tapi, kalau permintaaan kalian itu dituruti, yang akan merugi pasti banyak.

Sujak:               Pasti lebih banyak untungnya. Aku yakin, dengan kekayaan kita, utang Luar Negeri tidak usah dibayar Indonesia, cukup Sumenep yang bayar!

(Haji Dul Gani masuk bersama seorang Hansip, tiga orang lainnya terkejut).

Haji Dul Gani:  Assalamualaikum…

Sarip:                W.a.l.a.i.k.u.m. s.a.l.a.m. (terbata­bata) Jidul Gani, hah?

(Sujak dan Tajul sama­sama ketakutan).

Haji Dul Gani:  Rupanya, di sini, ya, markas kalian?

(Ketiga­tiganya saling menyalahkan, mereka merasa telah tertipu, terjebak)

Haji Dul Gani:  Sarip, kembalikan motor yang kaupinjam itu! Ngomongnya setengah hari, kok jadinya seminggu?

Sujak, kapan kau mau membayar uang sewa tanah?

Sujak:               Tapi, saya bangkrut, pak haji. Sungguh, tembakau saya juga enggak laku. Saya ngambil tembakau di Jawa dan ternyata gudang sudah tutup, mungkin bulan depan, ya, bulan depan pak haji.

Tajul:                (dengan tampang bego) Kalau saya, rencananya memang mau ke tempat pak haji, ya, sesudah rembukan di sini, saya ke mari cuma mampir, kok. (menrik napas panjang) Dan alhamdulillah, ternyata pak haji datang dengan sendirinya ke mari.  Jadi, saya tidak perlu ke rumah pak haji.

Haji Dul Gani:  (Gembira, tertawa jumawa) Yah, alhamdulillah kalau kamu sadar. Uang yang kamu pakai itu kan kas kampung, jadi aku bertanggung jawab untuk segera membelikan paralon agar pengairan di kampung lancar. Yang merasakan enak kan tidak kamu dan aku saja, tetapi semua masyarakat.

Tajul:                Tapi, pak Haji…

Haji Dul Gani:  Kenapa? Malu kalau bayar di sini? Enggak apa­apa, di luar saja.

Tajul:                Nggak pak haji, rencananya..

Haji Dul Gani:Oh, iya, aku paham. Aku paham, kok. Kalau mau ke rumahku, ya, silakan. Sekalian, kamu mau silaturrahim kan?

Tajul:                Bukan pak haji, saya memang mau silaturrahim ke rumah pak haji, sekaligus mau minta maaf.

Haji Dul Gani:  Maaf apa? (nada agak merah)

Tajul                 Saya mau ketemu pak haji untuk mengatakan… mmm… bahwa saya akan menunda pembayaran utang ke musim tembakau di tahun depan. Maaf sekali, pak haji.

(Haji Dul Gani langsung roboh, semaput)

Tajul:                Kurang ajar kalian! Tembakau itu anugerah, otak kemaruk kalian saja yang kejam. Rupanya kalian ini pencoleng semua, Bajilll…

(Orang­orang bergumam, saling menyalahkan, mereka menggotong pak haji ke luar dan pementasan telah selesai).

 

7 September 2002

Iklan

Semalam di Pulau Raas

Raas.png

Berlayar ke Pulau Raas, Jumat-Sabtu (1-2 Mei 2018) kali ini adalah kali pertama bagi saya, entah bagi anggota rombongan lainnya. Kami agak kerepotan sedikit karena harus berangkat sebelum subuh dari rumah agar “sudah menjadi musafir” pada hari Jumat sehingga kami bisa mengerjakan salat duhur-asar di Pulau saja. Diputuskan: habis sahuran, kami berangkat.

Kabarnya, KM Dharma Kartika yang dikelola oleh Dharma Dwipa Utama (dulu DLU) baru jalan lagi setelah sebulan docking (diperbaiki). “Makanya, penumpang tidak banyak,” kata Zidqi yang menjemput kami, “karena mungkin masih banyak yang tidak tahu kalau hari ini kapal ini berlayar lagi.” Memang betul, Jumat pagi kala itu, tidak banyak penumpang, kecuali mobil barang. Di ruang penumpang bawah, saya hitung kurang dari 10 orang.

Laut tenang di awal Juni. Kapal berangkat molor sedikit dari jadwal: 08.15. Kabarnya, selasa sebelumnya, 29 Mei, angin kencang luar biasa sehingga banyak orang yang mabuk laut. “Bahkan, orang Raas pun bisa mabuk,” kata Wasid memberikan testimoni kehebatan ombak. Beruntung hari ini tidak, bahkan relatif tenang sehingga saya (bersama Om Mamak, Affan, Pak Suyar, dan beberapa santri yang mudik) sudah bisa sandar pada pukul 12.46.

Di Raas, astaga, saya bertemu dengan banyak orang yang sama sekali tidak saya duga sebelumnya kalau mereka berasal dari sana. Di antara mereka adalah Lukman Mahbubi dan Rafli yang notabene murid saya di Madrasah Aliyah Annuqayah. Kebahagian langsung menyemburat pada pertemuan pertama.

Sakala.pngRaas ini adalah pulau yang secara jarak berada di 72 kilometer dari pelabuhan Kalianget. Jauh memang, tapi ingat, Kabupaten Sumenep masih punya Pulau Sakala yang jaraknya 270 km dari Kalianget atau Karamaian yang berjarak kira-kira 250 km.  Apakah Sakala ini adalah pulau yang paling jauh dari daratan kepulauan? Di Sumenep iya, tapi tunggu dulu, di dunia ini adalah Pulau Paskah yang jaraknya 2700 kilometer dari tepi barat Chili, di Amerika Latin sana. Semua jarak di atas menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan yang ini, bukan?

Kami datang ke pulau Raas untuk menghadiri undangan anak-anak muda Generasi Pelajar dan Mahasiswa Raas (GPMR). Mereka mengadakan hajatan Festival Malengseng (sebagian menyebut “manengseng”) dan mengemas salah satu sesi acaranya dengan Ngaji Budaya: “Dari Raas untuk Indonesia”.Terdengar ambisius? Tidak juga. Raas sekarang mulai dikenal luas sejak kucing Bhusok masyhur belakangan ini.

Tak habis pikir saya takjub, ada sekelompok anak muda yang punya itikad untuk melakukan perubahan di pulaunya yang jauh dari kota kabupatennya. Takjub yang kedua adalah karena ketuanya, Sulton, baru lulus SLTA. Lebih takjub lagi dan lagi, acara yang diselenggarakan di halaman MTs/SMK Al-Ittihad tersebut dihadiri oleh Pak Camat Raas dan segenap aparatur negara, lengkap. Mereka anteng mengikuti acara sampai pukul 00.10.

Saya bermalam di kediaman Pak Masdawi Syam, dekat pelabuhan Ketupat, ujung barat Raas (padahal fery yang kami naiki berlabuh di ujung timur, desa Brakas). Jarak yang membentangi pulau adalah 14 km. Sebetulnya, desa ketupat ini ‘terpisah’ dari Raas, sehingga lebih tepat kalau disebut Pulau Ketupat andaikan Anda menggunalkan citra satelit untuk melihatnya. Konon, para sesepuh pulau, dulu, menimbun permukaan laut yang paling dangkal dengan batu-batu karang setelah sebelumnya mengamankannya lebih dulu dengan menanam tenjang (dibaca “ténjhang”; bakau, mangrove) di kanan-kirinya.

Tetangga desa Ketupat adalah Jungkat. Asal penamaan desa Jungkat ini konon berawal dari upaya Adi Rasa, sang pembabat pulau, yang menjunjung kayu besar dan kemudian mengangkatnya untuk dijadikan jembatan: jadilah “jungkat”. Makam beliau ada di desa Kropoh, desa yang berdampingan dengan desa Alasmalang. Adapun pusat administrasi kecamatan ada di desa ujung timur, di Brakas, setelah sebelumnya ada di ujung barat. Dua desa yang lain di pulau itu terletak di sisi selatan: Karang Nangka dan Poteran. Ada beberapa pulau kecil berpenghuni di sekitar Raas (Tonduk dan Guwa-Guwa, Komereyan, Talango Aeng, Talango Tengah). Ada pula Talango Timur dan Saro’ yang sama-sama tak berpenghuni. Nah, kedua pulau ‘nirawak’ ini yang biasanya rawan jadi milik pribadi.

Pelayaran pulang hari ini, Sabtu, 2 Juni, dengan kapal yang sama, Dharma Kartika, sangat menyenangkan dan menenangkan. Pelayaran sungguh ‘licin’ (istilah orang pulau untuk menjelaskan laut yang tenang). Rombongan pulang duluan paginya naik kapal kayu, sementara saya pulang sendirian siang hari naik fery karena masih sempat mikir untuk bermalam lagi. Sayangnya, rencana mengingap lagi tidak jadi karena saya punya jadwal lagi besok malam (Ahad, 3 Juni). Siang itu, lautan benar-benar tanpa gelombang. Para penumpang juga masih tidak terlalu membeludak. Lebaran masih setengah bulan lagi.

20180601_124651-01

foto milik Pangapora

20180601_123435-01

foto milik Pangapora

Maghrib turun saat kapal menyisir sisi selatan pulau Poteran (Talango). Para penumpang berbuka bersama di anjungan, sebagian di kamar. Lampu-lampu sudah menyala di Kalianget. Pelabuhan tak jauh lagi. Suatu saat, saya akan kembali, Raas! Karena tidak mungkin saya menceritakan banyak hal jika ia hanya bersumber dari satu kali kunjungan sehari-semalam.

Sabang – Madura

Perjalanan saya ke Sabang awal Maret lalu dengan cara melakoni jalan darat hingga Madura terlaksana dengan baik. Keinginan ini sudah saya simpan begitu lama. Menghayati keindahan sebagian alam Indonesia melalui setiap tikungannya benar-benar berasa menakjubkan. Sebab itulah, terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan apresiasi, tenaga, pikiran, sumbangan material, dorongan, dan sebagainya.

Berikut adalah rangkuman perjalanan saya. Adapun catatan perjalanan yang lebih rinci untuk setiap babak jalur daratnya sudah saya tulis dan saya terbitkan secara langsung, di Facebook dengan hashtag #sabangmadura. Foto-foto pada posting blog ini bersumber dari kamera yang saya gunakan maupun dari orang lain (mohon izin saya pakai).

HARI KE-1, SABTU, 3 MARET:

Diantar Mundzir pakai Honda Grand ke Prenduan, saya berangkat pukul 23.00 dengan AKAS menuju Surabaya, nyampe pukul 02.30.

HARI KE-2, AHAD, 4 MARET

Makan soto dulu di tempat biasa sambil melihat kesibukan terminal Purabaya, saya berusaha duduk tegak di bangku depot, tidak bersandar, takut ketiduran. Hampir subuh, karena bis Damri tujuan Bandara baru beroperasi pukul 05.00 sedangkan jadwal penerbangan saya pukul 05.30, saya pun berangkat ke Bandara, ngojek dengan ongkos 30.000 (ojek biasa, bukan gojek; saya tidak pakai aplikasi). Habis subuhan di mushalla bandara yang sempit (bandaranya gede amit, mushallanya sak crit-iprit), saya langsung cari pintu 8 untuk boarding, siap masuk ke kabin Batik Air (ID 6401).

Tiba di Jakarta, jatah waktu transit cukup pendek, tapi masih leluasa untuk mengurus penerbangan lanjutan (connecting flight). Maka, pukul 07.45, saya nyambung lagi ke Banda Aceh dengan maskapai yang sama (kodenya ID 6896) dan tiba di BTJ pukul 10.35. Landing sangat halus, mungkin pilotnya bekas pilot pariwisata. Namanya Kapten Damar kalau saya tak salah dengar.

Saya dijemput oleh Ananda Ampon. Orang ini tidak pernah jumpa dengan saya. Kami hanya berteman di Facebook. Kami diperkenalkan oleh Mas Fatur. Dia datang dan saya langsung menyebut nama tujuan: warung kopi kesohor. Dia ajak saya ke kontrakannya sebentar, lalu bawa saya ke Solong. Saat itu, saya juga janjian dengan Nazar. Orang ini malah sudah lama kami saling kenal. Saat saya minta petunjuk arah sama si Ampon dan bilang bakal ada satu teman saya yang juga mau bergabung. Saya jelaskan sama Ampon bahwa teman saya itu pendiri sekaligus vokalis band “Apache 13”. Dia kaget karena saya kenal dia. Saya ikut-ikutan kaget karena ternyata Nazar sekarang sudah jadi artis, sama sekali saya tidak menyangka. Ketika bertemu, kami kaget berjamaah karena ternyata bisa bertemu sungguhan, hanya diperantarai oleh kupi-kupi di atas meja..

Sorenya, pukul 16.00, kami nyeberang ke Pulau Weh, Sabang. Rencana ini bersifat dadakan karena Ampon bilang ada kerjaan sama Mas Uhib. Jadi, sore itu kami pergi bertiga. Rancangan awal perjalanan adalah pergi sendirian, esoknya, Senin, 5 Maret 2018. (Intinya, saya harus sudah berangkat ke Medan pada malam Selasa, itu kata kuncinya).

Kami naik ferry cepat Express Bahari. Ongkosnya 80.000 per gundul. Jaraknya 30,5 km yang  ditempuh 45 menit. Bisa dibayangkan kecepatan ferry ini, atau gunakan hitung-hitungan kalau mau tahu angka spido yang pasti.

HARI KE-3, SENIN 5 MARET:

Saya masih ada di penginapan sampai pukul 10.00. Agak rugi juga kalau cuma ngendon di situ, pikir saya. Tetapi, saya juga tidak bisa ngapa-ngapain kerena dua orang sahabat baru saya ini sepertinya masih punya urusan serius dengan bantal dan kasur. Saya biarin, tapi saya tidak ikut-ikutan. Untuk apa jauh-jauh pergi ke Sabang jika hanya untuk tidur?

Siang kami balik ke Pelabuhan Balohan. Gara-gara keasyikan ngopi di pelabuhan, menu kopi saring (kupi tarik) yang rasanya memikat, sampai-sampai kami yang menunggu lebih dari satu jam untuk kapal cepat yang terjadwal berangkat pukul 14.30 itu pun berakhir ‘tragis’. Kami terlewat. Kami berlari ke pelabuhan dan ferry ternyata sudah berangkat. Akhirnya, kami balik lagi, duduk lagi, ngopi lagi. Nasib kami sama seperti kemarin: dapat kapal yang terakhir. Coba saja ketinggalan lagi, pasti kami sudah menginap di Pulau Weh ini. Tentunya, jika hal ini terjadi, seluruh rancangan perjalanan akan berubah.

Dari pelabuhan Ulee Lheu (Banda Aceh), saya mampir sebentar di rumah paman Ampon. Dia ada urusan katanya. Sebentar kemudian, saya menuju ke Landom. Kami janjian dengan Fauzan. Untungnya, Fauzan ngontak kawannya yang ternyata juga merupakan kawan saya yang lain, Azahari Aiyub. Di antara waktu yang tidak lama itu, kami ngobrol banyak hal, mulai dari tradisi ngopi, ketaatan menjalakan syariah warga Aceh sejak sebelum diperda-perdakan, serta kegiatan kami bertiga selama ini.

Ananda Ampon lantas pergi entah ke mana. Kami janjian ketemu lagi bakda isya, di kedai kopi El Commandante, depan Terminal Batoh. Sementara saya memasrahkan diri kepada Fauzan agar setelah azan maghrib, saya diumpan ke Masjid Raya Banda Aceh, Masjid Baiturrahman, dan setelah itu agar mengumpannya lagi ke terminal. Semua itu dieksekusi dengan baik. Maka, malam itu, perjalanan darat naik bis yang saya taksir akan menempuh 3800 kilometer sampai rumah ini pun dimulai.

Saya melakukan perjalanan naik bis di Pulau Andalas ini ke Medan dengan bis PMTOH.

HARI KE-4 SELASA 6 MARET:

Saya tiba di pool PMTOH di Medan pada pukul 08.39. Tak lama setelah itu, datanglah Iqbal Gobel bersama Fandi, sepupunya. Menyusul setelahnya adalah Frans. Canaka, yang saya hubungi pertama justru datang paling bontot. Belakangan, saya tahu, Canaka berangkat dari tempat yang paling jauh, dari Pelabuhan Belawan: sebuah nama yang sudah lama saya kenal berkat lagu Tommy J. Pisa.

Kumpul semua? Yok berangkat! Dari situ, dengan mobilnya, saya diantar Iqbal ke RM Sinar Pagi, dekat Tugu SIB (Sinar Indonesia Baru), tugu yang tampaknya memiliki sejarah penting bagi pers di Medan.

Di rumah makan, Toni datang. Toni adalah adik Inyak Ridwan. Tumbennya, Toni ternyata kenal dengan Akhyar, calon tuan rumah saya di Bukittinggi besok yang juga belum pernah saya kenal hingga hari ini kecuali di media sosial saja. Habis ngembat soto dan beberapa cemilan, kami lanjut ke pool ALS di Jalan Sisingamangaraja, Km. 6,5. Saya janjian dengan Ayu (dihubungkan oleh Ampon) yang membantu membelikan tiket dan memilihkan armada jurusan Padang. Lagi-lagi, saya juga enggak kenal sama perempuan ini sebelumnya.

Sebelum ke lokasi, kami sempat mampir di Istana Maimun, hanya menunaikan rukun medsos, yaitu foto-foto. Dan saat tiba di pool ALS, tiket saya langsung diserahkan oleh si Ayu.

Pukul 12.00, bis bergerak meninggalkan kota Medan, melewati Tebing Tinggi, Siantar, Toba Samosir, Simalungun, Balige, Siborong-Borong, Sipirok, Pahae, Padang Matinggi, dan Bukit Sikaping. Tibalah kami di Bukittinggi pada pagi Rabu saat matahari sudah tinggi. Cerita lengkap semua perjalanan sudah saya tulis secara langsung tempo hari di Facebook.

HARI KE-5, RABU 7 MARET:

Ada dua orang yang menyambut saya. Namanya Akhyar Fuadi dan satunya Rinal Wahyudi. Keduanya, sama seperti Ampon dan Ayu, tidak saya kenal (kalau Gobel, Canaka, dan Frans, saya kenal duluan, akrab bahkan). Dia lantas mengajak saya pergi ke Ngarai Sianok, ke salah satu panorama indah di Bukittinggi yang gambarnya pertama kali saya lihat di pecahan uang kertas 1000 rupiah zaman dulu, zaman di kala itu nominal sebesar itu cukup buat beli nasi dua piring pakai lauk tahu.

Di bawah ngarai, kami makan “Gulai Itiak Lado Ijau” (karena “adiak” itu adik, jadi “itiak” itu adalah itik. Demikian rumus Bahasa Minang), salah satu kuliner ternama di sana, katanya, sih, begitu. Setelah lihat-lihat pemandangan ngarai dari dalam ngarai, kami ganti melihatnya dari atas, dari tempat melihat yang dikarciskan, satu komplek dengan Lubang Jepang.

Sehabis itu, mereka lantas mengantar saya ke penginapan. Wah! Tak disangka. Saya berharap agar tidur di bilik pondok, kok malah dikasih tempat begini rupa? Lumayan nikmat untuk punggung yang duduk terus-menerus selama 32 jam di atas bis sedari Banda.

Usai ganti baju dan istirahat, kami berangkat ke PP Ashabul Yamin. Saya berbagi pengalaman dengan “adiak-adiak” santri di sana. Mereka kecil-kecil dan imut. Pondoknya tak kalah imut, berada di daerah Lasi Tua, Agam, di kaki Gunung Marapi. Tentu saja, pemandangannya superb: indah nian. Belakangan, saya tahu kalau si Akhyar ini ternyata juga mengajar di sana. Dia pegang kitab “Bidayatul Balaghah” karangan Kiai Sirajuddin Abbas (kenal, kan, sama nama ini? Itu, lho, buku “40 Masalah Agama” yang empat jilid). Pondok ini didirikan oleh salah satu murid Syaikh Sulaiman Ar Rasuli, salah satu pendiri PERTI.

Seusai acara, kami diantar mereka ke Payakumbuh karena saya bilang ingin jumpa sama kawan saya: Iyut Fitra. Sebelumnya, saya diajak melahap makanan berat khas Sumatra Barat di Pangek Situjuah. Restoran ini sangat asri karena berada di tengah pematang sawah, mewah menunya, dan nyaris bersantan semua.

Senang luar biasa ketemu sama Uda Iyut. Betul saya guyon sama beliau tempo hari lewat SMS, bahwa uang buku dia yang saya bantu jualkan tidak akan saya transfer, melainkan akan diantar langsung. Beliau, kala itu, cuma haha-haha karena mengira saya guyon. Ya, saya memang guyon ketika itu, tapi malam itu saya menyeriusinya: mengantar langsung uang tersebut dan menyerahkannya dari tangan ke tangan, di beranda rumahnya.

Sepulang dari Payakumbuah, saya kembali ke Bukit, minum jamu “teh talua” (teh dicampur telur, tapi tidak amis). Saya sempat kaget karena menerima telepon dari rumah. Kabarnya:  anak ketiga sakit (yang kebetulan namanya mirip dengan nama pondok yang saya singgahi, tadi) dan anak keempatnya (yang lagi belajar bicara) selalu nyebut-nyebut saya. Demikian kata mamaknya. Waduh, gawat. Saya galau dan sedih.

Malam itu, saya gelisah, sembari mikir cari cara jalan pulang naik pesawat dari Padang, tapi mau pakai duit siapa? Entah. Untunglah, saya tidur, dan esoknya berita sudah berubah. Beres semua masalah. Alhamdulillah.

HARI KE-6, KAMIS 8 MARET:

Saya tiba di agen PO Yoanda Prima, Jalan Simpang Taluak, Jambu Air, Bukittinggi. Kabar yang saya terima dari agen sungguh langsung bikin mules: bis masih di Solok dalam perjalanan ke Bukittinggi, baru pulang dari Palembang. Wah, mau telat berapa lama ia? Saya tidak tahu, di mana letak Solok karena saya tak bawa GPS dan atlas saya ketinggalan di rumah. Untung, di Medan, tempo hari, Frans kasih saya peta lipat. Itulah bekal utama saya untuk orientasi medan lintas Sumatra.

Bis datang persis setelah saya shalat duhur. Berangkat tak lama setelah itu. Beruntung pula saya bawa sangu nasi bungkus yang dibawakan oleh Akhyar. Saya makan sangu itu di Padang Panjang saat bis parkir sebentar untuk nambah sewa. Akan tetapi, keterlambantan ini dibayar tunai oleh pemandangan dan bentang alam Sumatra Barat yang memikat. Sungguh sulit diceritakan dengan kata-kata, lebih baik dengan foto atau datangi langsung tempatnya saja supaya Anda tidak penasaran. Hampir semua spot yang saya lewati itu indah semua, semuanya.

Masalah muncul ketika bis masuk Muara Bungo, pukul 23.10. Udara suspensinya tidak naik yang artinya mesin kompresornya rusak. Setelah diperbaiki dua jam lebih, ketemulah masalah. Karet klepnya sobek. Untuk darurat, kru bis menggantinya dengan ban dalam. Aman, bis berjalan kembali. Esok paginya, bis kembali bermasalah pada pengatur suhu (AC) kabin, hanya karet kendor, beres dalam hitungan waktu 10 menit. Kru bis sumatraan memang bisa sembari merangkap jadi montir. Mungkin, kalau mereka pindah ke Jawa, sudah layak buka bengkel.

HARI KE-7, JUMAT 9 MARET:

Yang terjadwal sampai di Palembang pagi, eh, kami tiba sore, pukul 14.30. Ya, itu tadi penyebabnya: berangkat telat dan pakai acara mogok, padahal reputasi bis ini sangat bagus. Saya turun di Grand City, main ke rumah Pak Mukhlisin. Perumahan ini milik Ciputra. Tahu sendirilah, kayak apa perumahannya, he, he. Pos satpam-nya saja pakai dua lapis. Melihat tampilan saya yang pakai sarung dan muka kucel, mestinya mereka curiga, tapi ternyata tidak. Mas satpam menyambut baik. Pasti, yakin pasti, Bang Muk sudah kasih “kata sandi” sama mereka soal tamu yang akan datang ini.

Di rumah Pak Muk, saya bertemu Wayan, kawan yang kenal di Surabaya tapi Bali ‘poenya’. Di sana, saya juga janjian dengan kawan sebangku dulu, di IAIN, Walidin Iskandar. Senang sekali mendengar kabar kalau dia kini jadi dosen di IAIN Raden Fatah, Palembang. Saya pinjam emper rumah Bang Muk untuk reunian.

Rencana shalat jumat di Masjid Raya Palembang gagal, istirahat pun gagal. Bagaimana mau istirahat wong waktunya serbamepet. Bertemu dengan orang-orang baik dan menyenangkan itu sesungguhnya merupakan rehat dalam bentuk yang lain, percayalah!

Malamnya, pukul 23.00, saya berangkat menuju Lampung. Saya nebeng bis pariwisata Cahaya Wisata (saya sebut ‘nebeng’ karena Dian–yang saya hubungi sebelumnya–tak mau diganti ongkos). Saya diajak Dian Damar agar pergi bersama. Ada banyak kawan baru malam itu, beberapa kawan Sumatra yang baru saja saya kenal, ya, pas saat itu, beberapa menit sebelum saya bergabung dengan mereka, termasuk dengan Kang Harjo dan Kang Julianto RG (cc-nya besar sekali). Berdasarkan nama, kayaknya mereka ini “pujakesuma”: putra Jawa kelahiran Sumatra. Sungguh, saya merasa, betapa media sosial itu memang modal sosial, tentu saja pengertian ini hanya berlaku bagi yang memahaminya begitu.

Kejutan terjadi di penghujung malam, di ujung “jalan pintas” itu, ketika sudah tinggal selangkah lagi kami mencapai Batukuning, Baturaja, bis terhenti. Dua tronton dan satu trailer terjebak di jalan rusak, selip. Posisinya melintangi jalan. Kami menyerah.

HARI KE-8, SABTU 10 MARET:

Kami (saya, Wayan, Yosa), akhirnya berpisah dengan rombongan. Berat sungguh harus berpisah. Ternyata, perasaan demikian bukan hanya tergambar di dalam lagu-lagu dan video klip saja sedihnya. Pokoknya, saya (dan mungkin kami) harus segera tiba di Sari Ringgung, Lampung, karena tempat itu memang merupakan lokasi acara salah satu tujuan perjalanan, jadi harus segera “gerak”, tak boleh kelamaan “terjebak”. Acaranya siang, sementara pagi itu kami masih berada di area Sumatra Selatan.

Jelang pukul 6 pagi, ada ALS tujuan Medan-Jogja melintas. Kami cegat, numpang, dan selamatlah. Tujuh setengah jam kami bersama bis ini hingga tiba di Masgar, Pesawaran. Mereka berhenti di rumah makan, kita lanjut lagi dengan bis Puspa Jaya menuju Bandar. Selamat lagi, tapi kami sedang kelaparan.

Untungnya, kami ditolong oleh Yuli Nugrahani yang menyambut kami di Bundaran kota, lewat sedikit dari pukul dua siang. Ia membawa kami ke ayam geprek. Kembali selamat, kembali tertolong. Ajaib, pemilik warung (Pak Aji) menggratiskan semua hidangan di meja. Tetangga warung, entah ibu siapa namanya (Yuli pun tidak kenal) turut berbuat kebaikan dengan nyumbang dua piring sate rempelo ati dan sepiring ikan kembung (jazahumullah). Pak Aji bikin kejutan tambahan, ia meminjamkan mobilnya untuk kami supaya cepat tiba ke lokasi.

Hari itu, kami ikut menyaksikan acara jambore nasional bismania community (BMC). Bagi saya, yang terpenting dari acara ini adalah niat silaturrahmi. Ini yang utama, bahkan itulah yang menggerakkan semangat saya dalam menempuh ribuan kilometer. Soal foto-foto dan lainnya hanyalah “de-el-el”-nya.

Pukul 9 malam, kami pulang. Saya numpang armada kawan-kawan Jakarta Raya, nebeng lagi dan gratis lagi. Mereka menolak ketika saya urun sumbangan. Apa uang saya tidak laku di Sumatra? Saya tidak tahu, kenapa kok selalu begitu. Saya naik PO Haryanto MD-02 yang kebetulan kenal baik sama pengemudinya, Pollo (keluar pelabuhan, saya ganti bis, pindah ke rombongan satunya yang naik PO Panorama). Numpang, sih, numpang, tapi saya dapat “kedudukan” di kursi nomor 1. Mungkin mereka kasihan karena muka saya menyiratkan gurat-gurat kilometer-kilometer mahapanjang dari Kilometer Nol Indonesia di Sabang.

Kejutan belum berakhir, saya ditakdirkan bertemu dengan Rusman dan Maman Bayzuri, teman main masa remaja dulu, di Panjang, di jalan akses ke Bakauheni, pada saat beberapa orang anggota penumpang beli buah tangan dan bis berhenti, parkir berbanjar. Oh, heroik sekali. Kedua kawan tersebut menempuh perjalanan sekitar 3 jam demi salaman dan foto bersama (untung fotonya enggak blur) dan bertemu sekitar 15 menit saja. Alangkah betapanya!

HARI KE-9, AHAD 11 MARET:

Masuk ferry pukul 02.30 di Bakauheni, kami tiba di Merak pukul 06.00. Subuhannya berlangsung di atas KMP Sebuku. Inilah pengalaman pertama saya naik ferry bertingkat; dua lantai untuk mobil dan lantai atas untuk penumpang. Mengharukan karena di atas ferry itu dikumandangkan azan dan lengkap dengan shalat subuh berjamaahnya. Sumatra memang istimewa. Sejak saya berangkat, tidak satu shalat pun terlewat, terutama subuh yang kalau di Jawa itu bis-bisnya pada ngelibas semua (satu dua saja yang mau berhenti dan mempersilakan penumpangnya untuk menunaikannya). Sejauh ini, tiga bis Sumatra berbeda PO, selalu mempersilakan penumpang untuk subuhan.

Kami tiba di Cawang, dekat UKI, pukul 9 pagi. Langsung saya isi perut dengan soto yang ditraktir oleh—entah siapa, apa Rully atau Mas Fatur atau siapa. Setelah kenyang, kami bubar. Saya nunut Wagim ke kontrakan Mas Fatur; titip tas di sana dan mandi di kos Rully: suatu teknik agar mereka sama-sama merasa disinggahi.

Saat nunggu bis di Pulo Gebang, saya bertemu lagi dengan kawan lama, Masrur Akhmadi, cowok ganteng dari Purworejo. Ia bersama tiga anak dan satu istrinya. Ia nyangoni saya roti-roti supaya tidak kelaparan, katanya. Karena duhur sudah masuk dan bis belum datang, saya shalat dulu, dikawal oleh Bimo, petugas dishub di situ yang kebetulan baru akan berteman di Facebook dengan saya beberapa saat sesudahnya. Rasanya, saya seperti kepala terminal yang sedang melakukan sidak kebersihan mushallanya.

Bis datang pukul setengah satu siang lewat sedikit. Rupanya ia datang dalam keadaan sudah membawa penumpang dari Tanjung Priok. Akhirnya, saya pun berangkat setelah dada-dada sama para mas-mas pengantar: Fatur, Moko, Rully, Masrur sekeluarga, juga Bimo. Puji syukur, perjalanan saya dengan Karina bis tingkat ini lancar jaya, tanpa rintangan, sehingga pagi sekali sudah masuk Madura.

Oya, saya naik bis ini secara BDB, ditraktir oleh seseorang yang bergerak di dunia perbisan juga, tapi yang jelas bukan orang-orang di lingkaran Lorena-Karina.

HARI KE-10, SENIN 12 MARET:

Saya turun di masjid Masjid Al-Jihad, Juklanteng, dekat pelabuhan Tanglok, Sampang. Saya langsung subuhan dan kembali berdiri di pinggir jalan.

Tadi, di Masjid Al-Ihsan, Nyiburan, timurnya Lomaer, saya sempat lihat AKAS ASRI sedang parkir. Mungkin mereka mempersilakan para penumpangnya untuk shalat subuh. Dengan asumsi demikian, posisi bis tadi berada di belakang kami. Maka, benar sesuai dugaan, tak lama kemudian, bis itu datang. Saya menggubit. Bis sein kiri, menyisi. Saya pun ikut dan bayar 15.000 untuk tujuan Prenduan.

Walhasil, tibalah saya di rumah menjelang pukul 8 pagi dalam keadaan utuh, baik tubuh maupun barang-barang bawaan. Yang berkurang dan nyaris tidak tersisa hanyalah isi dompet.

Mengitari Madura

Hari ini penuh kejutan. Banyak alasan untuk meneguhkan pernyataan dimaksud. Biar saya ceritakan sebagiannya saja.

Perjalanan kali terjadi dalam bentuk, dalam istilah orang Madura, “ter-ater bilis”, yaitu ungkapan untuk menyatakan adanya seseorang (kawan/tamu) yang berkunjung namun setelah pulang, yang dikunjungi malah ikut bersama si tamu. Dan itulah yang sedang saya alami.

Para tamu saya adalah para ‘sesepuh’: Budi, Bemo, Joseph, Rian, dan Pak Mukhlisin. Tiga yang pertama dari Surabaya, Rian dari Jakarta, Pak Mukhlisin dari Palembang. Seperti biasanya, mereka datang dengan judul silaturrahmi. Judul kekiniannya disebut touring. Mereka datang dengan anehnya, saat malam menjelang Subuh, bangun, mandi, makan, dan baru pukul 8 pagi sudah pamit mau pulang. Kok sebentar? Ya, entahlah, sudah begitu tebiat mereka.

Ketika mau berangkat, Rian menyatakan keinginannya untuk menjajal jalur utara  Pulau Madura. Hal ini muncul mungkin karena saya mengajukan dua hal: pertama, adanya perbaikan beberapa jembatan di jalur selatan yang pasti bikin arus tersendat, ditambah hari Sabtu yang dijamin macet ruwet di pasar Tanah Merah; kedua, Rian ingin melihat (sebutan kekiniannya selfie-selfie) air terjun yang katanya unik karena langsung jatuh ke laut, di daerah Ketapang: air terjun Toroan. Maka, meskipun saya bilang rencana itu akan memakan waktu lebih lama sehingga mengancam hangus tiket mereka kalau harus tiba di Gresik sebelum pukul 15.00 karena mau ikut armada PO Gunung Harta, dilakoni juga laga ini.

Mobilitas Orang Madura dan Mempertimbangkan Ulang Jalur Utara

Salah satu bukti bahwa masyarkat Madura memiliki mobilitas yang tinggi adalah terjaminnya transportasi darat selama 24 jam di jalur selatan, terutama bis. Meskipun Kalianget merupakan tujuan akhir (buntu) dan sebagian lagi armada berhenti sampai di kota Sumenep saja, namun bis-bis tetap berjalan setiap waktu, bahkan tengah malam sekalipun. Namun tidak demikian dengan jalur utara, yakni pantura Madura.

Mengapa jalur selatan lebih ramai? Semua kota kabupaten Madura itu terletak di sisi selatan pulau. Itu satu alasannya. Dugaan saya, karena alasan ini pulalah Madoera Stoomtram Maatschappij (MSM), perusahaan keretaapi Hindia Belanda membangun jaringan relnya juga di selatan, 1897.

Menurut laporan Kuntowijoyo, dengan dibangunnya jalur ini, perjalanan dari Sumenep menuju Kamal ‘hanya’ dapat ditempuh 1 hari. Itu artinya, rute ini akan ditempuh lebih lama dengan transportasi lainnya, seperti kuda atau jalan kaki. Di tahun 1929, persaingan bisnis transportasi pemerintah dengan niagawan Cina semakin kentara. Bahkan, jika dibandingan secara persiapan kendaraan (MSM juga mengelola angkutan yang bergerak di atas aspal), masih kalah banyak. Pada 1 Juli 1934, MSM membuka trayek opelet Sumenep-Tamberru dan Kalianget-Pamekasan (Kuntowijoyo, “Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura, 1850-1940”, Ircisod, 2017, hal. 327-334).

Setelah sepur tidak aktif lagi sejak awal 80-an, moda transportasi masyarakat berpindah sepenuhnya kepada transportasi bis dan taksi (Colt, L300, dll). Hingga awal 90-an, beberapa bis masih mengoperasikan trayek Sumenep-Surabaya lewat utara, yakni Pasongsongan, Sotabar, Ketapang, Tanjungbumi, Sepulu, Arosbaya, hingga Bangkalan dan terus ke Kamal. Namun begitu, rute ini akhirnya ditinggalkan di samping karena kelas jalan jalur utara tidak selebar jalan aspal di selatan yang saat ini masuk ketegori  “Jalan Nasional 21”.

Pelita Mas adalah armada bis terakhir yang sebagian rutenya masih menempuh jalur pantura ini di akhir 90-an. Hal ini karena garasi bis berada memang di Pasongsongan, tapi trayeknya tetaplah melewati Sumenep lebih dulu, bukan langsung ke arah barat, menuju Bangkalan dan Kamal. Pelita Mas akhirnya membekukan trayek ini seiiring dengan makin padatnya jalan dan mungkin juga terkait okupansi penumpang. Saat ini, Pelita Mas hanya ngopeni trayek Sumenep-Malang, bersaing dengan DAMRI dan AKAS AG.

Dalam dua tahun terakhir, jalur pantura Madura tampaknya dibereskan kembali. Ruas jalannya diperlebar dan aspalnya diperbarui. Sewaktu kami melintasinya pada 16 September 2017 yang lalu, hampir seluruh ruas jalan sudah bagus. Hanya ada beberapa bagian yang belum diperlebar, terutama di sisi Bangkalan.

Sebelumnya, dalam imajinasi saya, pergi ke Bangkalan lewat pantai utara Madura itu akan menghabiskan selisih jarak dan waktu yang cukup jauh dan lama dibandingkan lewat selatan, jalur yang biasa dilewati. Walhasil, dari data GPS, hingga Junok (Bangkalan), jarak tempuh dari rumah Guluk-Guluk adalah 133 km sedangkan jika lewat selatan hanya 120 km saja. Biasanya, jarak sejati lebih jauh lagi, karena odometer tetap akan menghitung jarak naik-turunnya jalan yang bergantung atas kontur tanah.

Kami menempuh jalan yang mulus, lurus, datar. Kanannya laut, kiri bukit karst. Itulah pemandangan umum di jalur pantura Madura. Pemukiman penduduk tidak sebanyak di selatan. Terkadang, jarak antar-keramaian penduduk relatif jauh. Barangkali, ini pula yang menjadi faktor mengapa transportasi di Madura bagian utara itu tidak sesemarak di jalur selatan.

Akan tetapi, bagi kami yang memang menghindari jalur selatan di kala itu karena adanya rintangan berupa pasar dan perbaikan jembatan, kondisi jalan seperti ini sangat menyenangkan. Rasanya kami sedang melintasi jalan tol di tengah malam, sepi. Bahkan, sejak berangkat dari rumah, tidak ada satupun lampu lalu lintas (lampu merah) kecuali di Arosbaya, itupun pergantiannya sangat cepat karena volume kendaraan yang sedikit.

Sejak Sotabar, jalan mulus membentang ke arah barat. Hanya ada sedikit penyempitan jalan di Sokobana. Begitu pula, jalan kembali sempit dari arah Batulenger ke barat. Sedangkan ruas jalan selepas Tanjungbumi masih menggunakan aspal lama, tidak mulus tapi juga tidak rusak.

Dalam perjalanan kali ini, kami hanya mampir satu kali, yaitu di air terjun Toroan. Acaranya hanya foto-foto, tidak lebih. Oh, ya. Di jalur pantura ini hanya ada sedikit warung makan. Memang, pada umumnya, warung makan di Madura itu banyak, terutama di area Pamekasan dan Sumenep. Masa bukanya pun tidak lama. Yang buka 24 jam apalagi, nyaris tak ada, atau kecuali hanya dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Barangkali, sisa pengaruh petuah orangtua agar tidak suka makan di warung itu masih kuat melekat dalam tradisi masyarakat Madura. Makanya, orang lebih suka makan di rumah daripada makan di warung.

***

Kami mencapai Tangkel sekitar pukul 12.30. Kami lalu makan menu bebek di warung belut. Ya, tulisan ‘belut’-nya sangat gede di luar tapi orang-orang di warung itu ternyata pada makan bebek. Nama warungnya, entah Karomah entah Barokah, saya tidak tahu, mirip-mirip begitu, sih. Warnanya merah muda.

Rombongan ini menolak makan di Sinjay. Saya setuju keputusan ini. Kata saya, “Saya juga suka makan bebek Sinjay asalkan tidak perlu antri saat mau makan dan juga di saat mau membayar.”

Setengan jam kemudian, kami berpisah. Para tamu aneh itu melanjutkan perjalanan menuju Gresik, saya balik kanan, kembali ke Tangkel dengan berjalan kaki karena hanya berjarak kurang lebih 100 meteran dari warung tersebut.

Dan saat saya berdiri di bawah terik siang nan panas untuk menuggu bis melintas, tiba-tiba ada orang memanggil-manggil di seberang jalan. Saya tidak melihatnya, pangling, mungkin karena efek famorgana dan cuaca yang terlampau menyengat. Saya mendekat. Eh, ternyata Ramdan.

“Mau ke mana?” tanyanya.

“Pulang, nunggu bis.”

“Yuk, bareng saya saja. Kami bawa mobil, cuma berdua.”

“Bolehlah,” kata saya dengan cara bayar uang muka menggunakan senyuman.

Maka, akhirnya saya pun bergabung dengan mereka. Sejujurnya, uang saya di dompet memang mepet, yang andai saja saya bayarkan untuk naik patas sampai ke Prenduan, lalu bayar lagi untuk angkutan umum ke rumah, saya taksir hanya akan tersisa 10 ribu atau 15 ribu rupiah saja.

 

SALTIS

Anda pernah dengar nama band SALTIS? Jika tidak, maka saya memakluminya. Ia hanyalah band yang sempat mencuat sekilas dalam lintasan waktu awal 90-an, dekade di mana lagu rock dan hardrock tanah air sedang mengalami masa keemasannya. Lagunya, “Sadar”, sempat dikenal secara nasional setelah masuk dalam album kompilasi “10 Finalis Festival Rock ke-V Log Zhelebour”. Di album itu, mereka adalah satu-satunya band dari kota kecil (Sumenep) di antara seluruh band lainnya yang berasal dari kota besar/metropolitan.

Kover SALTIS

Sampul album versi kaset. Sumber foto: https://goo.gl/rdXsRi

* * *

Saya masuk ke warung itu, warung yang lebih akrab disebut kantin, terletak di ujung barat RSUD Moh Anwar, Sumenep, di suatu siang, perkiraan medio Juli 2009. Setelah memesan nasi rawon, mulailah saya makan, duduk di bangku yang menghadap ke selatan. Hanya ada tiga orang tamu sana: saya dan dua orang lagi yang sedang asyik bercengkerama.

“Lagu-lagu apa?”
“Deep Purple-an saja.”

Saya menoleh sekilas, merasa tidak lazim dengan tema percakapan mereka berdua, apalagi setelah curi pandang, tilik roman dana pakaian. Kedua orang yang saya maksud itu berpenampilan ‘biasa’, berusia 45-50 dalam taksiran Yang satunya bahkan mungkin sudah punya menantu. Dengan bergaya terus makan, telinga saya sebetulnya tetap awas, nguping pembicaraan.

“Kalau Bakar, sih, nasibnya lebih bagus…””Bakar masih sama Rotor?””Kayaknya bantu-bantu di Sucker Head.””Ya, seangkatan kita ada juga, lho, yang pulung. Itu si Aziz.””Haha, iya. Dulu Rudal, kini Jamrud.”

Hanya pembicaraan itu yang saya tangkap, selebihnya tidak paham atau tidak sempat mungkin karena terlalu serius melahap. Setelah membayar di kasir dan melihat mereka belum beranjak juga, saya beranikan diri menyelai pembicaraannya, ikutan nimbrung. Saya panggil salam dan menyalami mereka berdua seraya membuka medan basa-basi.
“Pangapora, ponapa Panjenengan nika anggotana Saltis?” (Permisi, apakah Anda berdua ini personel band Saltis?)

saltis CD 2

sumber: https://goo.gl/2yVHYm

Kedua orang itu tampak menunjukkan air muka kaget, mungkin karena tidak menyangka ada orang yang sedari tadi nguping obrolan mereka.

“Beh, enggi. Nika Encunk!” kata yang lebih tua, memperkenalkan temannya kepada saya.”Kaula Sade Gozal,” katanya ketika saya menyalami yang satunya.”Kaula Faizi dari Luk-Guluk.”

Dan karena percakapan sepertinya akan terbuka lebar, saya pun duduk, menjadi orang ketiga di bangku mereka.

“Sampeyan kok ada di sini?” tanyanya kepada saya.
“Saya jaga nenek, opname di sini.”
“Ooo….”
“Oh, ya,” Yang ini suara saya. “Apakah Bakar yang dimaksud Panjenengan itu adalah Bakar Bufthaim drummernya Rotor sedangkan Aziz itu adalah Aziz MS gitaris Jamrud?”
“Iya, benar.”
“Dulu, kisaran tahun 1992 kalau tak salah, saya pernah membaca sebuah berita di Jawa Pos bahwa Saltis mau bikin album keroyokan dengan band-band rock lainnya. Kalau tak salah, lagunya antara lain berjudul “Tembang Kehidupan“. Leres? Sampai sekarang, saya tidak pernah dengan seperti apa lagunya. Apakah lagu itu benar-benar ada atau bagaimana?”

“Beh, ma’ oning kakabbi Sampeyan, haha…” (loh, kok Sampeyan tahu semua? haha)

Sade atau Pak Kadir, nama yang saya ketahui belakangan, tersenyum sumringah, menatap saya dengan pandangan cerah, terarah. Dengan sedikit menganga, ia berkata, “Tidak menyangka saya ada orang yang mengenal kami begitu lengkap, di saat saya bahkan sudah mulai lupa. Iya, semua itu benar. Lagunya sudah proses ‘mastering’ tapi tidak jadi digandakan karena ada kendala teknis. Sayang sekali memang.”

saltis CD

sumber: https://goo.gl/2yVHYm

Kala itu, di awal 1990-an, memang lagi musim-musimnya album kompilasi band rock/metal. Yang sempat saya catat adalah album singel maupun keroyokan dari band-band yang sedang naik daun, seperti Red Spider, Brigade Metal, Pumars, Big Panzer, dll. Cuma Saltis yang terus melorot dan beritanya hilang tak berbekas (masih beruntung Encunk Hariyadi sempat ngorbit lagi dengan nama Golden Boy dan sempat pula bergabung dengan Rock Trickle Band (RTB) yang masuk dalam festival rock tahun berikutnya dengan debut Lembaran Baru. Sementara band seangkatan lainnya, seperti Roxx dari Jakarta—segenerasi Saltis di Festival Rock se Indonesia ke-V versi Log Zhelebour—malah sempat menerbitkan dua album tunggal. Itulah beberapa butir ingatan saya yang disampaikan kepada dua dedengkot rock asal Sumenep tersebut, siang itu.

“Iya, iya. Ya. Namanya nasib ya begini. Saya bahkan tidak pernah bertemu lagi dengan Bakar. Kabarnya dia sekarang bersama Sucker Head. Saya tidak tahu pastinya. Saya hanya hanya ngumpul sama teman-teman kami yang ada di sini, di Sumenep.”

* * *

Demikianlah kisah pertemuan pertama saya dengan dua orang pentolan band Saltis, band pertama dari Madura yang dikenal secara nasional melalui 10 Finalis Festival Rock se Indonesia ke-V versi Log Zhelebour. Saltis beruntung karena di festival ke-V inilah karya para finalis dinaikkan ke studio rekaman oleh Log, berbeda dengan generasi sebelumnya yang ‘hanya’ jadi buah bibir di koran saja, seperti Adi Metal. Adapun Elpamas dan Grass Rock (sebagai sesama alumni festival) sempat segera menorehkan album Dinding Kota dan Peterson: Anak Asuhan Rembulan.

18767026_10212056866209299_1329867529_o

Foto oleh Moh Khatibul Umam: “Reuni Setelah 27 Tahun”

Malam Ahad, 20 Mei 2017, mereka reuni, bertemu di sebuah studio musik di kota Sumenep. “Ini adalah pertemuan saya dengan rekan-rekan Saltis setelah 27 tahun berpisah,” kata Bakar Bufthaim yang kini tinggal di Jakarta.

Salah satu lagu Saltis, “Sumekar” pernah dipentaskan secara live dan saya sempat mendengarkan hasil rekamannya kala masih menggunakan pita kaset. Saya mendapatkannya dari salah seorang penonton yang hadir di lokasi, ketika itu, pada saat hari jadi Kota Sumenep, entah tahun berapa. Apakah mereka masih ingat lagu itu? Saya masih ingat baris lirik pertama, chord, bahkan nada dasarnya. Entah dengan mereka. Begitulah memang. Terkadang, seorang fans itu bahkan lebih tahu sesuatu yang dimainkan si artis bahkan melebihi artis itu sendiri (M. Faizi).

________________________________________________________________

Gambar lainnya:

6137829_b76e38eb-d1e9-4806-bb6f-4730bdf2f3a5

sampul belakang CD, sumber: https://goo.gl/2yVHYm

12182968_10205189850689255_603063318465825900_o

Saya (M. Faizi; kiri) dan Encunk Hariadi (kanan, vokalis Saltis). Dulu, yang kiri fans dan yang kanan idola. Sejak ada media sosial, semua berubah dan kini menjadi ‘setara’ 🙂 (Foto oleh Januar Herwanto)

Baca lebih lanjut

Saya dan Bismania

Kecintaan saya pada bis*) dan hal-ihwal yang berhubungan dengan jagat perbisan sudah tumbuh sejak kecil. Salah satu buktinya: saya pernah punya buku saku berisi daftar nama-nama bis. Itu terjadi dulu, sewaktu saya masih duduk di bangku MTs (SMP).

Ketika ada orang bertanya, ‘mengapa bisa begitu?’, saya tidak pernah mampu menjawabnya, bahkan hingga hari ini. Awalnya, saya menduga, gelagat ini hanyalah gejala aneh kepribadian seseorang, itu pun—lagi-lagi menurut saya sendiri—tidak seberapa parah karena saya sadar bahwa apa pun yang bersangkut-paut dengan hobi itu biasanya memang tampak ganjil di mata umum. Contoh: Apa senangnya hobi koleksi pulpen sedangkan ia tidak pernah digunakan sama sekali? Kira-kira, begitulah.

Hingga pada suatu hari, jika tak salah itu terjadi di bulan September, 2007, saya membaca sebuah laporan di Harian KOMPAS, sebuah liputan tentang perilaku sekelompok orang yang memiliki kegandrungan terhadap dunia perbisan. Konon, mereka disebut “bismania”. Orang-orang ini dipandang aneh oleh masyarakat, terutama jika mengingat tujuan plesir mereka itu bukan ke pantai atau ke gunung, melainkan ke terminal, ke pool, ke garasi. Bahkan terkadang ada pula yang “niat banget” mengunjungi tempat terjadinya kecelakaan untuk berdoa di sana. Belum lagi mereka yang pergi naik bis entah ke mana. Maksudnya, bagi tipe mania jenis ini: tujuan tidak penting-penting amat karena yang terpenting dari tindakan itu adalah numpak bisnya, bukan tujuannya (simak kisah Rian).

Nah, dari laporan itu, saya mulai mengerti apa bismania itu.  Ia adalah—kurang lebih—sebutan untuk orang/kelompok yang sangat gemar/suka terhadap bis dan dunia perbisan. Pada saat itu pula saya merasa punya teman yang memiliki kegemaran yang sama. “Rupanya, saya tidak benar-benar sendirian dalam keganjilan,” batin saya pada diri sendiri.

Berdasarkan pembacaan dan penelusuran data, saya menemukan kenyataan bahwa para penggemar itu ternyata banyak ragamnya. Ada yang tergabung dalam kelompok, organisasi, komunitas, dan perseorangan. Di antara kelompok/komunitas tersebut, yang pertama saya tahu adalah, ya, “bismania” itu sendiri. Perkumpulan ini berdiri tahun 2007 dan pecah setahun kemudian: bismania.com (berkomunikasi lewat forum, juga dikenal dengan ‘forbiscom’) dan bismania.org (berkomunikasi lewat ‘mailinglist’ di ‘yahoogroups’, berbentuk komunitas, dikenal dengan ‘BMC’ atau ‘bismania community’). Perpecahan ini, konon, dipicu oleh perbedaan visi saja, bukan yang lain. Sesudahnya, muncul lagi nama-nama kelompok lainnya, seperti Jakbus, Bandung Bus Lover, dan entah apalagi.

Mengapa saya bergabung dengan BisMania Community (BMC)?

Tak lebih hanya karena rujukan dan jujukan yang pertama kali saya temukan dan akhirnya saya ikuti itu adalah ‘milist’ (mailing-list). Hanya itu saja alasannya, lebih karena faktor kebetulan. Jika ada lagi alasan karena BMC itu berbasis komunitas dan oleh karenanya ia bersifat/bervisi nirlaba, itu hanyalah faktor alasan yang datang kemudian.

Di awal-awal bergabung dengan komunitas ini, saya kenal dengan Pak Harsono dan Irawan (Cak Awan), dua orang sesepuh yang mungkin saja termasuk tokoh utama yang terlibat dalam pendirian perkumpulan ini. Perkenalan itu menyebabkan perkenalan selanjutnya. Awalnya, kami “saling mengenal” hanya di dunia maya, hanya di mailing-list dan belakangan di Facebook. Terus terang, saya bukanlah aktivisdi komunitas ini, tidak rajin kopi darat (kopdar), dan hanya beberapa kali saja mengikuti jambore nasional-nya, termasuk jambore yang ke-8, yang terakhir. Jambore yang pertama kali adalah pada tahun 2007 dan bertempat di garasi PO Nusantara, Kudus. Berikut rinciannya:
Jambore 1 Kudus
Jambore 2 Jogja
Jambore 3 Salatiga
Jambore 4 Bandung
Jambore 5 Malang
Jambore 6 Jepara
Jambore 7 Banyumas

Visi-Misi Bismania

Hari ini, ketika hampir semua orang memiliki akses ke media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, mudah ditemukan orang yang mengaku dan mendaku seorang ‘bismania’ hanya karena mereka gemar bis, atau suka foto-foto bis, atau suka ngomong tentang bis. Tentu saja itu hak mereka untuk menggunakan sebutan “bismania” untuk dirinya sendiri jika yang dimaksudkan adalah sekadar definisi penggemar bis belaka. Namun, jika untuk menjadi keluarga besar BMC (saya tidak tahu, apakah ini juga berlaku untuk komunitas yang lainnya), tentu saja tidak sesederhana itu syaratnya.

Bagi saya, menjadi bismania di BMC itu harus memiliki visi dan misi yang jelas, yang salah satu dasarnya adalah persaudaraan. Seseorang yang mengoleksi miniatur bis, punya banyak kaos karoseri, bahkan punya perusahaan otobus, orang penting di ATPM, dan mungkin pula mengoleksi emblem pabrikan, boleh saja menyebut diri ‘bismania’ atau ‘bismaniak’ atau ‘penggemar bis’. Namun seorang bismania dalam pengertian warga BMC haruslah, sekali lagi, memiliki asas persaudaraan, persahabatan, kemanusiaan.

Di antara hiruk-pikuk jambore nasional (jamnas) bismania ke-8 (berlangsung pada hari Ahad yang lalu, 23 April 2017, di Mekarsari, Cileungsi, Bogor; dituanrumahi oleh korwil Jakarta Raya), banyak momen berharga yang terjadi, berlangsung sekilas bahkan mungkin tak pernah terjadi lagi. Ada pemandangan haru ketika saya melihat rekan-rekan panitia sibuk mempersiapkan segalanya demi peserta. Saya melihat dan saya memperhatikan. Begitu pula, di saat yang sama, saya juga mengamati, ada yang cuma asyik foto-foto sendiri dan mengabaikan apa pun yang ada di sekitarnya. Saya lihat, ada pula satu-dua orang yang saling berkenalan serta berasal dari daerah yang saling berjauhan. Ada pula yang datang sekeluarga, lengkap dengan pasangan dan anaknya.

Sungguh menarik pemandangan ini. Akan tetapi, yang paling menarik perhatian saya adalah manakala di antara mereka, saya melihat Cak Awan dan beberapa anggota kawak dari Surabaya, berusaha membimbing rekan-rekan muda lainnya, mendidik mereka, untuk memberikan hormat kepada sesepuh dan para panitia dengan mengajaknya bersalaman, pamitan. Nah, inilah salah satu bentuk pewarisan nilai yang saya maksudkan, nilai dalam persaudaraan. Bahwa bis/bus itu hanyalah tambang yang saling mengikat, sementara pasak dan tiang pancang yang diikat itu adalah nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan itu sendiri.

Bukan tidak mungkin, ada yang datang ke jamnas itu hanya karena ingin mendengarkan “perang telolet”, atau sekadar hanya punya keinginan melihat-melihat puspa ragam model karoseri dan warna-warni livery, atau hanya karena ingin foto-foto bis belaka. Akan tetapi, saya kira, lebih banyak lagi orang yang datang ke jamnas karena dorongan persaudaraan. Dengan asas ini, BMC bukan lagi sekadar nama bagi sebuah komunitas penggemar bis semata, melainkan lebih dari itu. Bagi saya, BMC atau ‘bismania community’ itu adalah rumah bagi banyak orang dan sahabat, tidak ada pandang bulu di dalamnya, baik Anda pemilik PO atau hanya sekadar penumpang. Karena itu, menjadi seorang bismania itu sejatinya harus mampu menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan karena didasarkan atas kesamaan kegemaran, bukan sekadar menyalurkan hal-hal remeh yang bakal habis dalam waktu sebentar.

Inilah pandangan saya. Dan Anda, tentu saja, boleh berbeda pendapat, kita tetap bersahabat, menjadi seorang bismania.

______________________

*) Dalam KBBI, kata yang baku adalah ‘bus’, bukan ‘bis’. Saya tetap menggunakan kata ‘bis’ hanya karena sudah terbiasa, suka-suka.
**) foto-foto oleh Fathurrozzaq

Tokoh Utama di Luar Cerita

Ini catatan lama (2012) yang mula-mula saya terbitkan di mailinglist bismania community @ yahoogroups. Saya terbitkan ulang di blog ini karena ini catatan merupakan catatan yang paling sering saya baca sendiri, juga agar teman-teman lain lebih mudah mengaksesnya. Pertama kali saya dengar nama “Mila Sejahtera Dona-Doni” itu dari Bado (Badrus Sholihin). Ia sering ulang-alik tujuan Jember-Jogja, dan salah satunya, ya, dengan armada tua ini. Dia memberikan rekomendasi bis kawak ini setelah pada 16 September 2011 lalu ia pernah berangkat telat dari Probolinggo karena mogok dan harus diperbaiki dulu, namun masih mampu mencapai Solo pukul 6 pagi (6 jam 10 menit). Nah, baru enam bulan berikutnya saya bisa membuktikannya untuk yang pertama kali dan menuliskannya dalam catatan perjalanan (caper) ini.

Menurut Cak No, kernetnya, “Pak Kaji niku (maksudnya sopir Mila Sejahtera Dona-Doni dalam catatan ini) termasuk ajaib! Dia enggak pernah perpal, nyopir terus sejak dulu, bahkan termasuk di saat-saat hari raya… Alhamdulillah sehat terus.”. Sayangnya, armada Mila Sejahtera ini sudah pindah garasi ke AKAS IV Probolinggo per 16 Januari 2015 dan ia beristirahat atau menikmati masa tuanya di sana.

Selamat berlibur, Dona-Doni. Semua kisahmu yang terlanjur ditulis hanya lekat dalam ingatan, sedangkan engkau tidak akan pernah ada lagi di muka bumi ini kecuali sekadar serpihan-serpihan cerita lain yang serupa, yang mirip, namun sesungguhnya tidak pernah sama.

Catatan Perjalanan Jember-Jogjakarta, Sabtu 14 April 2012

11060246_10206660566254388_196350947224755331_n

Dari areal parkir Terminal Tawang Alun, Jember, saya berjalan menuju peron dengan langkah panjang-panjang. Saat itu, jam sudah lewat 5 menit dari titik 8 malam. Itulah jam kencan yang saya sepakati dengan Cak No, kenek Mila Sejahtera, bis yang akan saya naiki menuju Jogja.

Di jalur pemberangkatan paling utara, betul saya melihat ada 2 Mila Sejahtera. Saya lega, tapi sebentar, karena setelah diamati, kedua-duanya bukanlah Mila yang saya cari.

p1010076

Ini patas dan ‘Predator’. Di manakah ‘Dona-Doni’?” terbetik tanya dalam hati.

“Pak, Sampeyan di mana?” Saya menelepon kernet Mila Sejahtera Dona-Doni.

Sepurane, Dik. Saya cuma sampai Probolinggo. Waktunya gak nutut karena tadi malam kena macet di Nganjuk.”

“Terus, bagaimana nasib saya?” Hawa dingin melintas di urat nadi. Rasa ingin hampir pupus untuk pergi.

“Sampeyan naik ‘Shamber’, sama saja kok. Itu bisnya parkir di Jember. Bisnya ada gambar orangnya itu, Dik.”

Malam itu, saya bermaksud pergi ke Jogja dari Jember. Beberapa orang teman menyarankan saya agar ikut Mila Sejahtera ‘Dona-Doni’. Kata si empunya cerita, Dona-Doni jaminan mutu. Artinya, bukan berarti bis tersebut selalu pasti tepat waktu, melainkan jarang berhenti karena punya banyak pelanggan sejati.

Saya diam sejurus, sembari merasakan darah dingin mengalir. Nafas tertahan. Ludah menggetir. Sensasi indah dalam bayangan pun memudar perlahan. Dengan langkah gontai, saya masuk ke kabin Mila Sejahtera ‘Predator’ yang parkir di belakang patas. Sambil memperhatikan keadaan kabin; kursi 2-3 yang masih terawat dan AC dingin yang menyeruak, saya menyandarkan tubuh di kursi yang empuk berpenyangga lengan. Tetapi, suara hati tak dapat dilawan. Hanya semenit saya bertahan di dalam.

Kembali saya menelepon Cak No, kernet Mila yang namanya saya ketahui belakangan. Saya mengeluh sekaligus mengancam, bahwa jika saya tidak bisa ikut bersama ‘Dona-Doni’, maka rencana ke Jogja tak bakal jadi. “Pokoknya, kalau Sampeyan berangkat sebelum saya sampai di Terminal Probolinggo, saya akan langsung ke Surabaya dan lanjut ke Madura dan saya akan gagalkan rencana ke Jogja.”

“Iya, Dik. Iya. Nutut, Dik!”

“Saya kejar Sampeyan sampai Probolinggo, ya! Nutut, enggak? Jam berapa ‘Dona-Doni’ berangkat dari Probolinggo?”

Hasrat ikut ‘Dona-Doni’ tak bisa disembunyikan lagi.

“Jam 10, Dik.”

“Baik.”

Tanpa ba-bi-bu lagi, saya menghampiri seorang lelaki muda berkumis tipis. Dialah pengemudi patas Mila Sejahtera yang parkir di garis pertama.

“Pukul berapa bis ini berangkat?”

“20.45.”

“Saya mau mengejar ‘Dona-Doni’ di Probolinggo. Saya mau ke Jogja. Nutut?”

“Nutut! Saya kenal baik sama sopirnya. Yakin.”

 

* * *

 

Setelah nyaris gagal, saya langsung mendapatkan bonus hiburan, yaitu memperoleh tempat duduk di bagian kiri, saf pertama. Rupanya, penumpang di malam Minggu itu tidak begitu ramai. Bis bermesin Mercedes-Benz lawas dengan nopol N-7514-US tersebut diberangkatkan pada pukul 20.42, tiga menit lebih cepat dari jam yang terjadwal.

Sopir bis langsung pasang tempo tinggi begitu selesai nyeser penumpang di sepanjang pintu keluar terminal Jubung hingga Rambipuji. Selepas kota kecamatan itu, kondektur beranjak dari kursi CD, mulai menarik karcis. Saya menukar selembar tiket dengan uang Rp.22.000. Karena kursi CD telah kosong, saya menggantikan posisinya, duduk di samping pengemudi, bertukar tanya dengan jawab, sambil menyaksikan pendar lampu jalan yang jatuh di atas aspal, memantul dan berkilat, melukis siluet-siluet indah di malam gelap.

“Mercy Prima-nya masih top, Pak,” puji saya, sok akrab.

“Semuanya tergantung perawatan, Mas.”

“Masih ngejoss, ya!”

“Iya, kami sangat menjaga perawatan mesin.”

 

Pukul 21.00: Gambirono.

 

Sepintas, saya melihat Mila Sejahtera ‘Predator’ parkir. Bis yang semula direncanakan untuk saya ikuti ke Jogja sebagai alternatif dari ‘Dona-Doni’ tersebut tampak turun dari aspal. Benarkah? Entahlah. Saya baru meyakininya benar setelah patas yang saya tumpangi ini menepi untuk menurunkan penumpang selepas lampu merah Banyuputih, di depan terminal Minak Koncar, Lumajang. Pada saat itulah, dari sisi kanan, Predator masuk, mendahului.

“Di mana, Dik?” Terdengar suara dari seberang, kernet Dona-doni menelepon.

“Lumajang. Predator barusan nyalip.”

“Iya, saya tunggu, ya. Predator itu mau perpal karena AC-nya macet. Penumpangnya ikut saya.”

Oh, rupanya, firasat saya untuk tidak ikut Predator dari Jember benar adanya karena ujung-ujungnya semua penumpangnya akan dioper ke Dona-Doni, di Probolinggo nanti.

 

* * *

 

22.34: Terminal Bayuangga, Probolinggo.

“Ugh!”

Tak sadar saya mendesah begitu melihat bodi Mila Sejahtera Dona-Doni untuk pertama kali. Mungkin, inilah bis paling jelek di trayeknya, apalagi jika disandingkan dengan armada-armada yang berangkat dari Surabaya, semisal Sumber Group (Sugeng Rahayu, Sumber Selamat, Sumber Kencono) dan Mira. Asap hitam bersemu putih keluar dari cerobong semprong kirinya, menandakan polutan yang melimpah, juga kompresi mesin yang mungkin sudah jauh berkurang dari tenaga maksimalnya. Lalu, tanya saya dalam hati, apakah alasan teman-teman memberikan rekomendasi bis ini dinaiki menuju Jogja? Bodi-nya jelas tidak; AC juga tidak; suspensi jelas tak mungkin; soal mesin apalagi. Lalu, apanya?

Pengalaman pertama! Ya, itu dia alasan yang paling masuk akal.

“Mila tujuan Jogja diberangkatkan…”

Terdengar TOA pengeras suara Terminal Bayuangga berbunyi begitu bis bernopol N-7249-US ini melenggang keluar pada pukul 23.00. Karcis ditukar dengan uang Rp 56.000, coret-Probolinggo dan coret-Jogja. Saat melihat senarai nama 15 kabupaten dan 66 titik perhentian meliputi kecamatan dan desa, saya langsung takjub pada perjuangan bis tua ini, melahap trayek Blambangan-Mataram setiap malam, ya, setiap malam.

Memperhatikan cara memindah gerigi persneling, saya langsung mengambil kesimpulan awal bahwa sopir bis ini adalah sopir senior. Perpindahan percepatannya sangat samar, nyaris tanpa hentakan. Bis berjalan pelan. Kenek yang berdiri di pintu kiri, maupun sopir yang ada di kanan, masing-masing pasang pandangan awas, berharap ada lambaian tangan dari calon penumpang yang menggubit di tepi jalan.

Begitu Mila keluar dari Kota Probolinggo dan terlibat dengan konvoi bis-bis pariwisata yang datang dari arah timur, barangkali dari Bali atau Lombok, saya sempat meragukan kemampuannya. Kenapa cara mengeremnya begini? Ada sentuhan staccato di sana! Patah-patah. Namun, anggapan ini tidak bertahan lama karena ‘Dona-Doni’ segera mengganti ketukan yang lain, seperti seorang arranger yang memainkan modulasi nada pada reffrain.

Lampu sein kanan berkedip cepat. Symphonie Die 9 Pariwisata terlewati. Mila masuk ke jalurnya lagi, lalu menyalip kembali beberapa kendaraan kecil, menyela ke jalur kiri, lantas mendahului patas Akas New Armada, kemudian melesat, menguasai jalan aspal itu sepenuhnya. Mulailah saya berubah pikiran. Sopir ini sedikit gelojoh, suka lahap-melahap; bis di depannya ibarat nasi sesuap, sedangkan kendaraan kecil jadi lauk-pauknya. Sekali menyuap, beberapa lauk-pauk juga harus diembat.

Mencermati gelagat akselerasinya, saya pun mulai menaruh curiga, tidak yakin jikalau komponen mesin bis ini masih standar Hino AK, tak mungkin. Membawa penumpang hampir 80% penuh, akselerasi masih bagus, maka boleh jadi mesin ini sudah dioprek sedemikian rupa. Hal lain yang saya rasakan agak aneh adalah rasio gigi persnelingnya, terutama ke-3 dan ke-4. Pada percepatan tersebut, langkahnya terasa jauh. Ibarat sprinter, napasnya sangat panjang. Ibarat diver, ia mampu lebih lama menyelam.

Paduan suara tangisan anak kecil, gemelatak kaca geser yang tidak lagi rapat, serta bebunyian gedubrak yang riuh-rendah, menciptakan simponi unik di dalam kabin, bumel sebenar-benar bumel. Dan sang sopir tahu bagaimana cara menimpali semua hiruk-pikuk itu, yaitu dengan menderumkan raung mesinnya lebih gahar lagi.

Bis masuk kota Bangil pada paruh malam. Dan hanya beberapa menit kemudian, setelah melewati bundaran Gempol, bis berhenti di sebuah warung makan. Soto Lombok namanya. Semua penumpang dipersilakan turun. Bagi grup Mila Sejahtera, baik yang datang dari Banyuwangi maupun dari Jogja, warung ini merupakan tempat ambil jeda untuk makan dan istirahat. Alasannya mungkin karena posisi Gempol sebagai titik tengah perjalanan dari Banyuwangi ke Jogjakarta, 33 dari 66 kota/kecamatan.

Semua penumpang keluar dari bis, kecuali sopir. Ia masih bertahan di belakang kemudi, mencari-cari sesuatu. Oh, rupanya ia menyalakan rokok. Tempias nyala api koreknya membuat raut wajahnya kelihatan. Saya taksir, usianya 50 tahunan. Seraya mendekat, saya bertanya.

p1010077

“Pak, dahsboard-nya model lama, ya? Ini Hino AK tahun berapa?”

Lelaki gempal dan berkumis itu mungkin sama sekali tidak menyangka ada pertanyaan seperti ini dilontarkan oleh seorang penumpang yang bersarung dan berpeci hitam seperti saya. Dia mengelih, sekilas senyum, lalu melontarkan kata-kata bersemangat.

“Tahun 96, Mas.”

Adanya pemandangan asing yang membuat saya menahan diri untuk mengajukan pertanyaan berikutnya: sebilah keris terpajang di atas pintu sopir. Sambil menukar pandangan dengan tasbih yang digantung di atas spion dan dua cincin yang dikenakannya, saya amati itu semua dengan satu kesimpulan: orang ini bukan sopir biasa.

p1010078

“Tahun 96? Tapi, kok tarikannya saya perhatikan tadi sangat bagus, ya, Pak? Eh, nama Bapak?”

“Saya Paiman, Mas. Iya, bis ini sudah pakai turbo.”

“Hah? Masa? Dipasang sendiri?”

“Iya, dipasang sendiri di bengkel NNR (red: Akas). Saya pakai turbo-nya Mercy karena lebih murah. Namun mesin tidak panas karena juga dipasangi intercooler. Kalau dari Banyuwangi sampai Jogja, paling-paling airnya cuma tekor se-Aqua gelas-an.”

“Apa nggak boros?”

“Saya tombok 10-20 liter setiap kali jalan. Jatah dari perusahaan hanya 220, habisnya 230 liter, bahkan terkadang sampai 240. Tapi, ya, gak apa-apa, Mas. Larinya juga lumayan bagus,” katanya seraya tersenyum.

Saya memilih percaya daripada harus cerewet mengumbar tanya. Lebih dari itu, sejatinya Pak Paiman tadi telah membuktikan omongannya ini di trek Probolinggo-Pasuruan yang notabene merupakan lintasan paling ramai sepanjang jalan dari Probolinggo sampai bundaran Gempol. Akan tetapi, saya berkata dalam hati, “Pembuktian yang sesungguhnya itu nanti, Pak, di trek Mojokerto sampai Jogja, karena di sana Anda akan berhadapan dengan keluarga besar EKA-Mira, juga keluarga Sumber Kencono Group yang terkenal sebagai penguasa jalanannya.”

Kami pun turun bersama-sama. Dia ambil soto, saya pesan kopi. Menemaninya duduk di teras, saya melemparinya satu-dua pertanyaan untuk mengulik informasi. Darinya saya tahu, ia akan naik haji tahun depan. Hati saya berdesir mendengar kabar ini sambil mengingat pernyataan sebelumnya, tentang tombok solar setiap hari. Demi niat suci, rupanya sopir ini masih mampu menabung sisa komisi untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

“Oh, ya? Alhamdulillah jika begitu.”

“Ya, saya akan ke Makkah bersama nyonya. Tadi nyonya yang ngantar saya ke terminal, kok,” katanya sambil melirik rendah. Barangkali dia berharap agar saya menangkap kesan romantis pada intonasi ucapannya. Lagi-lagi saya dibikin tercekat ketika membayangkan kehidupan sopir bis antar-provinsi, seperti dia, dalam menikmati kehidupan rumah tangga bersama istri dan anak-anaknya. Kapankah waktu mereka untuk kumpul bersama? Berapa jam sisa waktu dalam setiap minggu untuk bercengkerama? Rasa kemanusiaan membumbui percakapan kami malam itu: kisah cinta, waktu yang terbatas untuk keluarga, harus bertarung dengan sisi lain kehidupannya, mengais rezeki setiap malam di jalan raya.

Malam itu, selembar halaman dari kitab kehidupan baru saja selesai saya baca. Satir yang getir atau lelucon yang konyol barangkali akan saya temukan di halaman yang lain.

 

* * *

 

“Yang ke Jogja, berangkat, berangkat…!”

Pukul 1 dinihari kurang limabelas menit, Mila Sejahtera bergerak meninggalkan warung Soto Lombok, Gempol. Bis masuk Kejapanan dan mesin dipacu kencang sekali. Jalan arteri itu sepi, membuat pengemudi bebas menginjak pedal gas sesuka hati.

Jalan ini milik kami.

Malam ini milik kami.

Saya menarik ponsel Nokia 6310i dari tas pinggang yang melingkari sarung begitu bis menjejak aspal trek Mojokerto-Jombang: pukul 1 lewat 18 menit.

Menghadang di depan: Restu, Akas Asri pariwisata, dan entah bis apa lagi. Di antara bujuk kantuk untuk berpejam, lelah yang nyaris tidak tertanggungkan, saya bertahan jaga sampai akhirnya tampak ekor bodi Legacy W-7033-UZ, Sumber Selamat. Bis kami mendekat seolah-olah hendak mendahului. Namun, pada sebuah karnaval kendaraan yang beriring rapat, Pak Paiman terkecoh. Mendadak, sebuah mobil Daihatsu Zebra menyela, membuat jarak terpaut makin jauh antara “Sumber” dan “Mila”.

Pak Paiman lagi-lagi menginjak rem secara staccato, patah-patah. Bis bermesin Hino AK namun dengan kaki-kaki hasil modifkasi milik Hino RG ini terangguk-angguk. Beberapa orang penumpang kelihatan terbangun dari kantuk karena tersorong. Semua mata, kini, terarah ke muka.

Saya menduga, Pak Paiman ingin membuktikan kekuatan tenaga mesin bisnya. Namun, pada jalan lurus di Mojoagung, adu kecepatan tetap bertahan 10 meteran. Sumber Selamat tidak menjauh, Mila juga tidak mampu menyusul.

Pemandangan ini terasa aneh bagi saya. Untuk apa dia hendak menguji mesin tua buatan 96-an dengan cara mengejar Hino turbo rilisan 2010/2011? Jangan-jangan, tenaga “turbo” pada Mila Dona-Doni pegangannya ini tidak berada di dalam ruang mesin bersama manifold, melainkan pada pamor dan keluk kerisnya yang ia pajang di atas pintu.

Mila Sejahtera telah mendahului Sumber Selamat yang menyalakan lampu sein kiri untuk menurunkan penumpang. Namun, karena Mila juga bertaruh peruntungan dengan cara nyeser di sekitar stasiun Jombang, wusss, Sumber Selamat kembali memimpin, mengambil alih kesempatan untuk meraup calon penumpang lebih dulu. Maka, di bypass menuju Embong Miring Jombang itu, dua bis berkejaran, tak terelakkan. Lagi-lagi, Mila Dona-Doni terus menguntit di belakang: mengejar seperti mengancam; membuntuti dengan determinasi.

Rasa penasaran saya belum juga pupus, mengapa harus mengejar? Mengapa Mila Sejahtera begitu bergairah untuk menyalip Sumber Selamat? Bukankah jarak tahun produksi kendaraan yang terpaut 15 tahunan sudah cukup rasional untuk mengalah saja? Ya, jikalau Sumber Selamat menggunakan AC dan Mila tidak; jika Sumber taripnya murah dan Mila mahal; jika Sumber bermesin baru dan Mila bermesin lawas; jika jarak antar-kursi Sumber lebih lapang dan Mila sempit, masih adakah yang dapat diandalkan Mila Sejahtera ini untuk itu semua? Ada. Jawabannya adalah kesetiaan penumpang, sisanya adalah reputasi!

Mendekati Gudo, tepatnya tikungan tajam ke arah Kertosono, jarak antara kedua bis semakin mendekat. Dan persis setelah tikungan, Mila berhasil menyalip Sumber 7033 itu, tentu dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, juga dengan gulungan asap di belakangnya. Bertepatan saat dari arah berlawanan, patas Eka sedang diburu Sumber Selamat.

Sembari menaksir lama perjalanan ke muka, saya mendapatkan kesimpulan awal: tidak yakin dapat bersalat Subuh di Janti. Dengan demikian, saya harus mengatur jadwal hendak turun di mana meskipun karcis sudah terlanjur coret-Jogja. Pemberangkatan dari Probolinggo yang sedikit molor karena satu dan lain hal membuat Dona-Doni ini baru melewati Sukomoro, beberapa saat sebelum Kota Nganjuk, pada saat jam menunjuk pukul 02.18.

Kala itu, melalui kaca depan, saya melihat Sugeng Rahayu, nama baru dari keluarga besar Sumber Kencono, sudah kembali menghadang. Saya tidak tahu, jam berapa bis tersebut berangkat dari Surabaya. Yang pasti, bis dengan nopol W-7663-UY itu juga didahului di lampu lalu lintas menjelang kota Nganjuk karena terjebak truk, salah mengambil posisi. Dan setelah melewati kota, sebelum tidur, saya masih sempat melihat Pak Paiman melakukan spekulasi dengan menyalip sekitar 8 kendaraan sekaligus, yang berjalan lambat karena terperangkap di sisi kiri garis panjang dalam tanjakan, selepas palang pintu kereta api. Salah satu yang terjepit di antara karnaval kendaraan itu adalah si cokelat, Mira AC.

Pukul 02.53, Caruban. Mila Sejahtera ambil kanan, lewat Karang Jati.

Inilah salah satu keuntungan hemat waktu bersama Mila Sejahtera (juga Akas tujuan Jogjakarta). Dona-Doni melalui jalan yang biasa dilewati patas Eka dan bis-bis malam, berbeda dengan Mira dan Sumber yang lewat Madiun dan Maospati lebih dulu untuk tembus di Ngawi. Bahkan, Mila bisa lebih hemat waktu ketimbang patas Eka sekalipun karena tidak perlu masuk rumah makan lagi.

Saya mulai merem-melek saat bis masuk di lintasan ini. Bangun pukul 03.06, tampak gapura bertulis Ngawi. Tidur lagi. Buka mata ternyata bis sudah lewat Gontor Putri, Mantingan, pada pukul 03.58. Tidur lagi dan terbangun saat bis masuk terminal Solo, pukul 5 pagi kurang lima menit.

Keluar dari Terminal Tirtonadi, seperti seorang gitaris yang sedang pamer kemahiran guitar solo, Mila Sejahtera Dona-Doni berlari kencang seorang diri. Sinar merah dari timur mulai semburat. Tulu‘ muncul tak akan lama lagi.

“Pak, saya turun di depan,” kata saya setelah berpindah tempat dari kursi penumpang ke kursi CB (kursi kenek).

“Loh?” bukannya Jogja?”

“Nggak jadi, turunkan saya di tempat yang dekat dengan masjid.”

“Wah, tahu begitu tadi saya berhenti di masjid yang enak parkirnya, biar kita berhenti sama-sama.” Ini suara Pak Paiman.

“Nggak apa-apa, Pak. Saya mau ngopi-ngopi dulu. Biar nanti saya ikut bis Solo-an saja.”

Sein kiri. Bis menepi lalu berhenti. Saya turun dan menyeberang jalan, menuju sebuah masjid. Atta’awun namanya.

p1010081

Seusai shalat Subuh di masjid yang terletak di dusun Kaliwingko, Banaran, Delanggu itu, saya duduk di depan sebuah warung, menunggu pagi. Sambil menyaksikan bis-bis malam yang berdatangan dari arah ibu kota, saya menyeruput kopi: menepis pahitnya kufur dengan mencerap manisnya syukur.

FOTO-FOTO TAMBAHAN:

601987_10200616752882831_1682648694_n

Catatan perjalanan di atas ada di buku ini

 

326671_1924757728217_1456130738_o

Mila Sejahtera Dona Doni (tahun 2011, foto oleh Bado Solihin)

mila-sejahtera-donadoni-cikar-nippon

Dona Doni di Probolinggo (foto Juni, 2012)

Kopdar di Gumitir, sewa Big Bird dan Dona Doni (7 April 2013)

Tak sengaja nemu Dona Doni turun mesin di garasi AKAS-MILA Jogja (10 Pebruari 2013)

menunggu-mila-di-soto-lombok

Warung Soto Lombok, Gempol: menunggu Dona Doni (lawas) terakhir kali, 28 Oktober 2014