Mengitari Madura

Hari ini penuh kejutan. Banyak alasan untuk meneguhkan pernyataan dimaksud. Biar saya ceritakan sebagiannya saja.

Perjalanan kali terjadi dalam bentuk, dalam istilah orang Madura, “ter-ater bilis”, yaitu ungkapan untuk menyatakan adanya seseorang (kawan/tamu) yang berkunjung namun setelah pulang, yang dikunjungi malah ikut bersama si tamu. Dan itulah yang sedang saya alami.

Para tamu saya adalah para ‘sesepuh’: Budi, Bemo, Joseph, Rian, dan Pak Mukhlisin. Tiga yang pertama dari Surabaya, Rian dari Jakarta, Pak Mukhlisin dari Palembang. Seperti biasanya, mereka datang dengan judul silaturrahmi. Judul kekiniannya disebut touring. Mereka datang dengan anehnya, saat malam menjelang Subuh, bangun, mandi, makan, dan baru pukul 8 pagi sudah pamit mau pulang. Kok sebentar? Ya, entahlah, sudah begitu tebiat mereka.

Ketika mau berangkat, Rian menyatakan keinginannya untuk menjajal jalur utara  Pulau Madura. Hal ini muncul mungkin karena saya mengajukan dua hal: pertama, adanya perbaikan beberapa jembatan di jalur selatan yang pasti bikin arus tersendat, ditambah hari Sabtu yang dijamin macet ruwet di pasar Tanah Merah; kedua, Rian ingin melihat (sebutan kekiniannya selfie-selfie) air terjun yang katanya unik karena langsung jatuh ke laut, di daerah Ketapang: air terjun Toroan. Maka, meskipun saya bilang rencana itu akan memakan waktu lebih lama sehingga mengancam hangus tiket mereka kalau harus tiba di Gresik sebelum pukul 15.00 karena mau ikut armada PO Gunung Harta, dilakoni juga laga ini.

Mobilitas Orang Madura dan Mempertimbangkan Ulang Jalur Utara

Salah satu bukti bahwa masyarkat Madura memiliki mobilitas yang tinggi adalah terjaminnya transportasi darat selama 24 jam di jalur selatan, terutama bis. Meskipun Kalianget merupakan tujuan akhir (buntu) dan sebagian lagi armada berhenti sampai di kota Sumenep saja, namun bis-bis tetap berjalan setiap waktu, bahkan tengah malam sekalipun. Namun tidak demikian dengan jalur utara, yakni pantura Madura.

Mengapa jalur selatan lebih ramai? Semua kota kabupaten Madura itu terletak di sisi selatan pulau. Itu satu alasannya. Dugaan saya, karena alasan ini pulalah Madoera Stoomtram Maatschappij (MSM), perusahaan keretaapi Hindia Belanda membangun jaringan relnya juga di selatan, 1897.

Menurut laporan Kuntowijoyo, dengan dibangunnya jalur ini, perjalanan dari Sumenep menuju Kamal ‘hanya’ dapat ditempuh 1 hari. Itu artinya, rute ini akan ditempuh lebih lama dengan transportasi lainnya, seperti kuda atau jalan kaki. Di tahun 1929, persaingan bisnis transportasi pemerintah dengan niagawan Cina semakin kentara. Bahkan, jika dibandingan secara persiapan kendaraan (MSM juga mengelola angkutan yang bergerak di atas aspal), masih kalah banyak. Pada 1 Juli 1934, MSM membuka trayek opelet Sumenep-Tamberru dan Kalianget-Pamekasan (Kuntowijoyo, “Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura, 1850-1940”, Ircisod, 2017, hal. 327-334).

Setelah sepur tidak aktif lagi sejak awal 80-an, moda transportasi masyarakat berpindah sepenuhnya kepada transportasi bis dan taksi (Colt, L300, dll). Hingga awal 90-an, beberapa bis masih mengoperasikan trayek Sumenep-Surabaya lewat utara, yakni Pasongsongan, Sotabar, Ketapang, Tanjungbumi, Sepulu, Arosbaya, hingga Bangkalan dan terus ke Kamal. Namun begitu, rute ini akhirnya ditinggalkan di samping karena kelas jalan jalur utara tidak selebar jalan aspal di selatan yang saat ini masuk ketegori  “Jalan Nasional 21”.

Pelita Mas adalah armada bis terakhir yang sebagian rutenya masih menempuh jalur pantura ini di akhir 90-an. Hal ini karena garasi bis berada memang di Pasongsongan, tapi trayeknya tetaplah melewati Sumenep lebih dulu, bukan langsung ke arah barat, menuju Bangkalan dan Kamal. Pelita Mas akhirnya membekukan trayek ini seiiring dengan makin padatnya jalan dan mungkin juga terkait okupansi penumpang. Saat ini, Pelita Mas hanya ngopeni trayek Sumenep-Malang, bersaing dengan DAMRI dan AKAS AG.

Dalam dua tahun terakhir, jalur pantura Madura tampaknya dibereskan kembali. Ruas jalannya diperlebar dan aspalnya diperbarui. Sewaktu kami melintasinya pada 16 September 2017 yang lalu, hampir seluruh ruas jalan sudah bagus. Hanya ada beberapa bagian yang belum diperlebar, terutama di sisi Bangkalan.

Sebelumnya, dalam imajinasi saya, pergi ke Bangkalan lewat pantai utara Madura itu akan menghabiskan selisih jarak dan waktu yang cukup jauh dan lama dibandingkan lewat selatan, jalur yang biasa dilewati. Walhasil, dari data GPS, hingga Junok (Bangkalan), jarak tempuh dari rumah Guluk-Guluk adalah 133 km sedangkan jika lewat selatan hanya 120 km saja. Biasanya, jarak sejati lebih jauh lagi, karena odometer tetap akan menghitung jarak naik-turunnya jalan yang bergantung atas kontur tanah.

Kami menempuh jalan yang mulus, lurus, datar. Kanannya laut, kiri bukit karst. Itulah pemandangan umum di jalur pantura Madura. Pemukiman penduduk tidak sebanyak di selatan. Terkadang, jarak antar-keramaian penduduk relatif jauh. Barangkali, ini pula yang menjadi faktor mengapa transportasi di Madura bagian utara itu tidak sesemarak di jalur selatan.

Akan tetapi, bagi kami yang memang menghindari jalur selatan di kala itu karena adanya rintangan berupa pasar dan perbaikan jembatan, kondisi jalan seperti ini sangat menyenangkan. Rasanya kami sedang melintasi jalan tol di tengah malam, sepi. Bahkan, sejak berangkat dari rumah, tidak ada satupun lampu lalu lintas (lampu merah) kecuali di Arosbaya, itupun pergantiannya sangat cepat karena volume kendaraan yang sedikit.

Sejak Sotabar, jalan mulus membentang ke arah barat. Hanya ada sedikit penyempitan jalan di Sokobana. Begitu pula, jalan kembali sempit dari arah Batulenger ke barat. Sedangkan ruas jalan selepas Tanjungbumi masih menggunakan aspal lama, tidak mulus tapi juga tidak rusak.

Dalam perjalanan kali ini, kami hanya mampir satu kali, yaitu di air terjun Toroan. Acaranya hanya foto-foto, tidak lebih. Oh, ya. Di jalur pantura ini hanya ada sedikit warung makan. Memang, pada umumnya, warung makan di Madura itu banyak, terutama di area Pamekasan dan Sumenep. Masa bukanya pun tidak lama. Yang buka 24 jam apalagi, nyaris tak ada, atau kecuali hanya dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Barangkali, sisa pengaruh petuah orangtua agar tidak suka makan di warung itu masih kuat melekat dalam tradisi masyarakat Madura. Makanya, orang lebih suka makan di rumah daripada makan di warung.

***

Kami mencapai Tangkel sekitar pukul 12.30. Kami lalu makan menu bebek di warung belut. Ya, tulisan ‘belut’-nya sangat gede di luar tapi orang-orang di warung itu ternyata pada makan bebek. Nama warungnya, entah Karomah entah Barokah, saya tidak tahu, mirip-mirip begitu, sih. Warnanya merah muda.

Rombongan ini menolak makan di Sinjay. Saya setuju keputusan ini. Kata saya, “Saya juga suka makan bebek Sinjay asalkan tidak perlu antri saat mau makan dan juga di saat mau membayar.”

Setengan jam kemudian, kami berpisah. Para tamu aneh itu melanjutkan perjalanan menuju Gresik, saya balik kanan, kembali ke Tangkel dengan berjalan kaki karena hanya berjarak kurang lebih 100 meteran dari warung tersebut.

Dan saat saya berdiri di bawah terik siang nan panas untuk menuggu bis melintas, tiba-tiba ada orang memanggil-manggil di seberang jalan. Saya tidak melihatnya, pangling, mungkin karena efek famorgana dan cuaca yang terlampau menyengat. Saya mendekat. Eh, ternyata Ramdan.

“Mau ke mana?” tanyanya.

“Pulang, nunggu bis.”

“Yuk, bareng saya saja. Kami bawa mobil, cuma berdua.”

“Bolehlah,” kata saya dengan cara bayar uang muka menggunakan senyuman.

Maka, akhirnya saya pun bergabung dengan mereka. Sejujurnya, uang saya di dompet memang mepet, yang andai saja saya bayarkan untuk naik patas sampai ke Prenduan, lalu bayar lagi untuk angkutan umum ke rumah, saya taksir hanya akan tersisa 10 ribu atau 15 ribu rupiah saja.

 

Iklan

SALTIS

Anda pernah dengar nama band SALTIS? Jika tidak, maka saya memakluminya. Ia hanyalah band yang sempat mencuat sekilas dalam lintasan waktu awal 90-an, dekade di mana lagu rock dan hardrock tanah air sedang mengalami masa keemasannya. Lagunya, “Sadar”, sempat dikenal secara nasional setelah masuk dalam album kompilasi “10 Finalis Festival Rock ke-V Log Zhelebour”. Di album itu, mereka adalah satu-satunya band dari kota kecil (Sumenep) di antara seluruh band lainnya yang berasal dari kota besar/metropolitan.

Kover SALTIS

Sampul album versi kaset. Sumber foto: https://goo.gl/rdXsRi

* * *

Saya masuk ke warung itu, warung yang lebih akrab disebut kantin, terletak di ujung barat RSUD Moh Anwar, Sumenep, di suatu siang, perkiraan medio Juli 2009. Setelah memesan nasi rawon, mulailah saya makan, duduk di bangku yang menghadap ke selatan. Hanya ada tiga orang tamu sana: saya dan dua orang lagi yang sedang asyik bercengkerama.

“Lagu-lagu apa?”
“Deep Purple-an saja.”

Saya menoleh sekilas, merasa tidak lazim dengan tema percakapan mereka berdua, apalagi setelah curi pandang, tilik roman dana pakaian. Kedua orang yang saya maksud itu berpenampilan ‘biasa’, berusia 45-50 dalam taksiran Yang satunya bahkan mungkin sudah punya menantu. Dengan bergaya terus makan, telinga saya sebetulnya tetap awas, nguping pembicaraan.

“Kalau Bakar, sih, nasibnya lebih bagus…””Bakar masih sama Rotor?””Kayaknya bantu-bantu di Sucker Head.””Ya, seangkatan kita ada juga, lho, yang pulung. Itu si Aziz.””Haha, iya. Dulu Rudal, kini Jamrud.”

Hanya pembicaraan itu yang saya tangkap, selebihnya tidak paham atau tidak sempat mungkin karena terlalu serius melahap. Setelah membayar di kasir dan melihat mereka belum beranjak juga, saya beranikan diri menyelai pembicaraannya, ikutan nimbrung. Saya panggil salam dan menyalami mereka berdua seraya membuka medan basa-basi.
“Pangapora, ponapa Panjenengan nika anggotana Saltis?” (Permisi, apakah Anda berdua ini personel band Saltis?)

saltis CD 2

sumber: https://goo.gl/2yVHYm

Kedua orang itu tampak menunjukkan air muka kaget, mungkin karena tidak menyangka ada orang yang sedari tadi nguping obrolan mereka.

“Beh, enggi. Nika Encunk!” kata yang lebih tua, memperkenalkan temannya kepada saya.”Kaula Sade Gozal,” katanya ketika saya menyalami yang satunya.”Kaula Faizi dari Luk-Guluk.”

Dan karena percakapan sepertinya akan terbuka lebar, saya pun duduk, menjadi orang ketiga di bangku mereka.

“Sampeyan kok ada di sini?” tanyanya kepada saya.
“Saya jaga nenek, opname di sini.”
“Ooo….”
“Oh, ya,” Yang ini suara saya. “Apakah Bakar yang dimaksud Panjenengan itu adalah Bakar Bufthaim drummernya Rotor sedangkan Aziz itu adalah Aziz MS gitaris Jamrud?”
“Iya, benar.”
“Dulu, kisaran tahun 1992 kalau tak salah, saya pernah membaca sebuah berita di Jawa Pos bahwa Saltis mau bikin album keroyokan dengan band-band rock lainnya. Kalau tak salah, lagunya antara lain berjudul “Tembang Kehidupan“. Leres? Sampai sekarang, saya tidak pernah dengan seperti apa lagunya. Apakah lagu itu benar-benar ada atau bagaimana?”

“Beh, ma’ oning kakabbi Sampeyan, haha…” (loh, kok Sampeyan tahu semua? haha)

Sade atau Pak Kadir, nama yang saya ketahui belakangan, tersenyum sumringah, menatap saya dengan pandangan cerah, terarah. Dengan sedikit menganga, ia berkata, “Tidak menyangka saya ada orang yang mengenal kami begitu lengkap, di saat saya bahkan sudah mulai lupa. Iya, semua itu benar. Lagunya sudah proses ‘mastering’ tapi tidak jadi digandakan karena ada kendala teknis. Sayang sekali memang.”

saltis CD

sumber: https://goo.gl/2yVHYm

Kala itu, di awal 1990-an, memang lagi musim-musimnya album kompilasi band rock/metal. Yang sempat saya catat adalah album singel maupun keroyokan dari band-band yang sedang naik daun, seperti Red Spider, Brigade Metal, Pumars, Big Panzer, dll. Cuma Saltis yang terus melorot dan beritanya hilang tak berbekas (masih beruntung Encunk Hariyadi sempat ngorbit lagi dengan nama Golden Boy dan sempat pula bergabung dengan Rock Trickle Band (RTB) yang masuk dalam festival rock tahun berikutnya dengan debut Lembaran Baru. Sementara band seangkatan lainnya, seperti Roxx dari Jakarta—segenerasi Saltis di Festival Rock se Indonesia ke-V versi Log Zhelebour—malah sempat menerbitkan dua album tunggal. Itulah beberapa butir ingatan saya yang disampaikan kepada dua dedengkot rock asal Sumenep tersebut, siang itu.

“Iya, iya. Ya. Namanya nasib ya begini. Saya bahkan tidak pernah bertemu lagi dengan Bakar. Kabarnya dia sekarang bersama Sucker Head. Saya tidak tahu pastinya. Saya hanya hanya ngumpul sama teman-teman kami yang ada di sini, di Sumenep.”

* * *

Demikianlah kisah pertemuan pertama saya dengan dua orang pentolan band Saltis, band pertama dari Madura yang dikenal secara nasional melalui 10 Finalis Festival Rock se Indonesia ke-V versi Log Zhelebour. Saltis beruntung karena di festival ke-V inilah karya para finalis dinaikkan ke studio rekaman oleh Log, berbeda dengan generasi sebelumnya yang ‘hanya’ jadi buah bibir di koran saja, seperti Adi Metal. Adapun Elpamas dan Grass Rock (sebagai sesama alumni festival) sempat segera menorehkan album Dinding Kota dan Peterson: Anak Asuhan Rembulan.

18767026_10212056866209299_1329867529_o

Foto oleh Moh Khatibul Umam: “Reuni Setelah 27 Tahun”

Malam Ahad, 20 Mei 2017, mereka reuni, bertemu di sebuah studio musik di kota Sumenep. “Ini adalah pertemuan saya dengan rekan-rekan Saltis setelah 27 tahun berpisah,” kata Bakar Bufthaim yang kini tinggal di Jakarta.

Salah satu lagu Saltis, “Sumekar” pernah dipentaskan secara live dan saya sempat mendengarkan hasil rekamannya kala masih menggunakan pita kaset. Saya mendapatkannya dari salah seorang penonton yang hadir di lokasi, ketika itu, pada saat hari jadi Kota Sumenep, entah tahun berapa. Apakah mereka masih ingat lagu itu? Saya masih ingat baris lirik pertama, chord, bahkan nada dasarnya. Entah dengan mereka. Begitulah memang. Terkadang, seorang fans itu bahkan lebih tahu sesuatu yang dimainkan si artis bahkan melebihi artis itu sendiri (M. Faizi).

________________________________________________________________

Gambar lainnya:

6137829_b76e38eb-d1e9-4806-bb6f-4730bdf2f3a5

sampul belakang CD, sumber: https://goo.gl/2yVHYm

12182968_10205189850689255_603063318465825900_o

Saya (M. Faizi; kiri) dan Encunk Hariadi (kanan, vokalis Saltis). Dulu, yang kiri fans dan yang kanan idola. Sejak ada media sosial, semua berubah dan kini menjadi ‘setara’ 🙂 (Foto oleh Januar Herwanto)

Baca lebih lanjut

Saya dan Bismania

Kecintaan saya pada bis*) dan hal-ihwal yang berhubungan dengan jagat perbisan sudah tumbuh sejak kecil. Salah satu buktinya: saya pernah punya buku saku berisi daftar nama-nama bis. Itu terjadi dulu, sewaktu saya masih duduk di bangku MTs (SMP).

Ketika ada orang bertanya, ‘mengapa bisa begitu?’, saya tidak pernah mampu menjawabnya, bahkan hingga hari ini. Awalnya, saya menduga, gelagat ini hanyalah gejala aneh kepribadian seseorang, itu pun—lagi-lagi menurut saya sendiri—tidak seberapa parah karena saya sadar bahwa apa pun yang bersangkut-paut dengan hobi itu biasanya memang tampak ganjil di mata umum. Contoh: Apa senangnya hobi koleksi pulpen sedangkan ia tidak pernah digunakan sama sekali? Kira-kira, begitulah.

Hingga pada suatu hari, jika tak salah itu terjadi di bulan September, 2007, saya membaca sebuah laporan di Harian KOMPAS, sebuah liputan tentang perilaku sekelompok orang yang memiliki kegandrungan terhadap dunia perbisan. Konon, mereka disebut “bismania”. Orang-orang ini dipandang aneh oleh masyarakat, terutama jika mengingat tujuan plesir mereka itu bukan ke pantai atau ke gunung, melainkan ke terminal, ke pool, ke garasi. Bahkan terkadang ada pula yang “niat banget” mengunjungi tempat terjadinya kecelakaan untuk berdoa di sana. Belum lagi mereka yang pergi naik bis entah ke mana. Maksudnya, bagi tipe mania jenis ini: tujuan tidak penting-penting amat karena yang terpenting dari tindakan itu adalah numpak bisnya, bukan tujuannya (simak kisah Rian).

Nah, dari laporan itu, saya mulai mengerti apa bismania itu.  Ia adalah—kurang lebih—sebutan untuk orang/kelompok yang sangat gemar/suka terhadap bis dan dunia perbisan. Pada saat itu pula saya merasa punya teman yang memiliki kegemaran yang sama. “Rupanya, saya tidak benar-benar sendirian dalam keganjilan,” batin saya pada diri sendiri.

Berdasarkan pembacaan dan penelusuran data, saya menemukan kenyataan bahwa para penggemar itu ternyata banyak ragamnya. Ada yang tergabung dalam kelompok, organisasi, komunitas, dan perseorangan. Di antara kelompok/komunitas tersebut, yang pertama saya tahu adalah, ya, “bismania” itu sendiri. Perkumpulan ini berdiri tahun 2007 dan pecah setahun kemudian: bismania.com (berkomunikasi lewat forum, juga dikenal dengan ‘forbiscom’) dan bismania.org (berkomunikasi lewat ‘mailinglist’ di ‘yahoogroups’, berbentuk komunitas, dikenal dengan ‘BMC’ atau ‘bismania community’). Perpecahan ini, konon, dipicu oleh perbedaan visi saja, bukan yang lain. Sesudahnya, muncul lagi nama-nama kelompok lainnya, seperti Jakbus, Bandung Bus Lover, dan entah apalagi.

Mengapa saya bergabung dengan BisMania Community (BMC)?

Tak lebih hanya karena rujukan dan jujukan yang pertama kali saya temukan dan akhirnya saya ikuti itu adalah ‘milist’ (mailing-list). Hanya itu saja alasannya, lebih karena faktor kebetulan. Jika ada lagi alasan karena BMC itu berbasis komunitas dan oleh karenanya ia bersifat/bervisi nirlaba, itu hanyalah faktor alasan yang datang kemudian.

Di awal-awal bergabung dengan komunitas ini, saya kenal dengan Pak Harsono dan Irawan (Cak Awan), dua orang sesepuh yang mungkin saja termasuk tokoh utama yang terlibat dalam pendirian perkumpulan ini. Perkenalan itu menyebabkan perkenalan selanjutnya. Awalnya, kami “saling mengenal” hanya di dunia maya, hanya di mailing-list dan belakangan di Facebook. Terus terang, saya bukanlah aktivisdi komunitas ini, tidak rajin kopi darat (kopdar), dan hanya beberapa kali saja mengikuti jambore nasional-nya, termasuk jambore yang ke-8, yang terakhir. Jambore yang pertama kali adalah pada tahun 2007 dan bertempat di garasi PO Nusantara, Kudus. Berikut rinciannya:
Jambore 1 Kudus
Jambore 2 Jogja
Jambore 3 Salatiga
Jambore 4 Bandung
Jambore 5 Malang
Jambore 6 Jepara
Jambore 7 Banyumas

Visi-Misi Bismania

Hari ini, ketika hampir semua orang memiliki akses ke media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, mudah ditemukan orang yang mengaku dan mendaku seorang ‘bismania’ hanya karena mereka gemar bis, atau suka foto-foto bis, atau suka ngomong tentang bis. Tentu saja itu hak mereka untuk menggunakan sebutan “bismania” untuk dirinya sendiri jika yang dimaksudkan adalah sekadar definisi penggemar bis belaka. Namun, jika untuk menjadi keluarga besar BMC (saya tidak tahu, apakah ini juga berlaku untuk komunitas yang lainnya), tentu saja tidak sesederhana itu syaratnya.

Bagi saya, menjadi bismania di BMC itu harus memiliki visi dan misi yang jelas, yang salah satu dasarnya adalah persaudaraan. Seseorang yang mengoleksi miniatur bis, punya banyak kaos karoseri, bahkan punya perusahaan otobus, orang penting di ATPM, dan mungkin pula mengoleksi emblem pabrikan, boleh saja menyebut diri ‘bismania’ atau ‘bismaniak’ atau ‘penggemar bis’. Namun seorang bismania dalam pengertian warga BMC haruslah, sekali lagi, memiliki asas persaudaraan, persahabatan, kemanusiaan.

Di antara hiruk-pikuk jambore nasional (jamnas) bismania ke-8 (berlangsung pada hari Ahad yang lalu, 23 April 2017, di Mekarsari, Cileungsi, Bogor; dituanrumahi oleh korwil Jakarta Raya), banyak momen berharga yang terjadi, berlangsung sekilas bahkan mungkin tak pernah terjadi lagi. Ada pemandangan haru ketika saya melihat rekan-rekan panitia sibuk mempersiapkan segalanya demi peserta. Saya melihat dan saya memperhatikan. Begitu pula, di saat yang sama, saya juga mengamati, ada yang cuma asyik foto-foto sendiri dan mengabaikan apa pun yang ada di sekitarnya. Saya lihat, ada pula satu-dua orang yang saling berkenalan serta berasal dari daerah yang saling berjauhan. Ada pula yang datang sekeluarga, lengkap dengan pasangan dan anaknya.

Sungguh menarik pemandangan ini. Akan tetapi, yang paling menarik perhatian saya adalah manakala di antara mereka, saya melihat Cak Awan dan beberapa anggota kawak dari Surabaya, berusaha membimbing rekan-rekan muda lainnya, mendidik mereka, untuk memberikan hormat kepada sesepuh dan para panitia dengan mengajaknya bersalaman, pamitan. Nah, inilah salah satu bentuk pewarisan nilai yang saya maksudkan, nilai dalam persaudaraan. Bahwa bis/bus itu hanyalah tambang yang saling mengikat, sementara pasak dan tiang pancang yang diikat itu adalah nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan itu sendiri.

Bukan tidak mungkin, ada yang datang ke jamnas itu hanya karena ingin mendengarkan “perang telolet”, atau sekadar hanya punya keinginan melihat-melihat puspa ragam model karoseri dan warna-warni livery, atau hanya karena ingin foto-foto bis belaka. Akan tetapi, saya kira, lebih banyak lagi orang yang datang ke jamnas karena dorongan persaudaraan. Dengan asas ini, BMC bukan lagi sekadar nama bagi sebuah komunitas penggemar bis semata, melainkan lebih dari itu. Bagi saya, BMC atau ‘bismania community’ itu adalah rumah bagi banyak orang dan sahabat, tidak ada pandang bulu di dalamnya, baik Anda pemilik PO atau hanya sekadar penumpang. Karena itu, menjadi seorang bismania itu sejatinya harus mampu menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan karena didasarkan atas kesamaan kegemaran, bukan sekadar menyalurkan hal-hal remeh yang bakal habis dalam waktu sebentar.

Inilah pandangan saya. Dan Anda, tentu saja, boleh berbeda pendapat, kita tetap bersahabat, menjadi seorang bismania.

______________________

*) Dalam KBBI, kata yang baku adalah ‘bus’, bukan ‘bis’. Saya tetap menggunakan kata ‘bis’ hanya karena sudah terbiasa, suka-suka.
**) foto-foto oleh Fathurrozzaq

Tokoh Utama di Luar Cerita

Ini catatan lama (2012) yang mula-mula saya terbitkan di mailinglist bismania community @ yahoogroups. Saya terbitkan ulang di blog ini karena ini catatan merupakan catatan yang paling sering saya baca sendiri, juga agar teman-teman lain lebih mudah mengaksesnya. Pertama kali saya dengar nama “Mila Sejahtera Dona-Doni” itu dari Bado (Badrus Sholihin). Ia sering ulang-alik tujuan Jember-Jogja, dan salah satunya, ya, dengan armada tua ini. Dia memberikan rekomendasi bis kawak ini setelah pada 16 September 2011 lalu ia pernah berangkat telat dari Probolinggo karena mogok dan harus diperbaiki dulu, namun masih mampu mencapai Solo pukul 6 pagi (6 jam 10 menit). Nah, baru enam bulan berikutnya saya bisa membuktikannya untuk yang pertama kali dan menuliskannya dalam catatan perjalanan (caper) ini.

Menurut Cak No, kernetnya, “Pak Kaji niku (maksudnya sopir Mila Sejahtera Dona-Doni dalam catatan ini) termasuk ajaib! Dia enggak pernah perpal, nyopir terus sejak dulu, bahkan termasuk di saat-saat hari raya… Alhamdulillah sehat terus.”. Sayangnya, armada Mila Sejahtera ini sudah pindah garasi ke AKAS IV Probolinggo per 16 Januari 2015 dan ia beristirahat atau menikmati masa tuanya di sana.

Selamat berlibur, Dona-Doni. Semua kisahmu yang terlanjur ditulis hanya lekat dalam ingatan, sedangkan engkau tidak akan pernah ada lagi di muka bumi ini kecuali sekadar serpihan-serpihan cerita lain yang serupa, yang mirip, namun sesungguhnya tidak pernah sama.

Catatan Perjalanan Jember-Jogjakarta, Sabtu 14 April 2012

11060246_10206660566254388_196350947224755331_n

Dari areal parkir Terminal Tawang Alun, Jember, saya berjalan menuju peron dengan langkah panjang-panjang. Saat itu, jam sudah lewat 5 menit dari titik 8 malam. Itulah jam kencan yang saya sepakati dengan Cak No, kenek Mila Sejahtera, bis yang akan saya naiki menuju Jogja.

Di jalur pemberangkatan paling utara, betul saya melihat ada 2 Mila Sejahtera. Saya lega, tapi sebentar, karena setelah diamati, kedua-duanya bukanlah Mila yang saya cari.

p1010076

Ini patas dan ‘Predator’. Di manakah ‘Dona-Doni’?” terbetik tanya dalam hati.

“Pak, Sampeyan di mana?” Saya menelepon kernet Mila Sejahtera Dona-Doni.

Sepurane, Dik. Saya cuma sampai Probolinggo. Waktunya gak nutut karena tadi malam kena macet di Nganjuk.”

“Terus, bagaimana nasib saya?” Hawa dingin melintas di urat nadi. Rasa ingin hampir pupus untuk pergi.

“Sampeyan naik ‘Shamber’, sama saja kok. Itu bisnya parkir di Jember. Bisnya ada gambar orangnya itu, Dik.”

Malam itu, saya bermaksud pergi ke Jogja dari Jember. Beberapa orang teman menyarankan saya agar ikut Mila Sejahtera ‘Dona-Doni’. Kata si empunya cerita, Dona-Doni jaminan mutu. Artinya, bukan berarti bis tersebut selalu pasti tepat waktu, melainkan jarang berhenti karena punya banyak pelanggan sejati.

Saya diam sejurus, sembari merasakan darah dingin mengalir. Nafas tertahan. Ludah menggetir. Sensasi indah dalam bayangan pun memudar perlahan. Dengan langkah gontai, saya masuk ke kabin Mila Sejahtera ‘Predator’ yang parkir di belakang patas. Sambil memperhatikan keadaan kabin; kursi 2-3 yang masih terawat dan AC dingin yang menyeruak, saya menyandarkan tubuh di kursi yang empuk berpenyangga lengan. Tetapi, suara hati tak dapat dilawan. Hanya semenit saya bertahan di dalam.

Kembali saya menelepon Cak No, kernet Mila yang namanya saya ketahui belakangan. Saya mengeluh sekaligus mengancam, bahwa jika saya tidak bisa ikut bersama ‘Dona-Doni’, maka rencana ke Jogja tak bakal jadi. “Pokoknya, kalau Sampeyan berangkat sebelum saya sampai di Terminal Probolinggo, saya akan langsung ke Surabaya dan lanjut ke Madura dan saya akan gagalkan rencana ke Jogja.”

“Iya, Dik. Iya. Nutut, Dik!”

“Saya kejar Sampeyan sampai Probolinggo, ya! Nutut, enggak? Jam berapa ‘Dona-Doni’ berangkat dari Probolinggo?”

Hasrat ikut ‘Dona-Doni’ tak bisa disembunyikan lagi.

“Jam 10, Dik.”

“Baik.”

Tanpa ba-bi-bu lagi, saya menghampiri seorang lelaki muda berkumis tipis. Dialah pengemudi patas Mila Sejahtera yang parkir di garis pertama.

“Pukul berapa bis ini berangkat?”

“20.45.”

“Saya mau mengejar ‘Dona-Doni’ di Probolinggo. Saya mau ke Jogja. Nutut?”

“Nutut! Saya kenal baik sama sopirnya. Yakin.”

 

* * *

 

Setelah nyaris gagal, saya langsung mendapatkan bonus hiburan, yaitu memperoleh tempat duduk di bagian kiri, saf pertama. Rupanya, penumpang di malam Minggu itu tidak begitu ramai. Bis bermesin Mercedes-Benz lawas dengan nopol N-7514-US tersebut diberangkatkan pada pukul 20.42, tiga menit lebih cepat dari jam yang terjadwal.

Sopir bis langsung pasang tempo tinggi begitu selesai nyeser penumpang di sepanjang pintu keluar terminal Jubung hingga Rambipuji. Selepas kota kecamatan itu, kondektur beranjak dari kursi CD, mulai menarik karcis. Saya menukar selembar tiket dengan uang Rp.22.000. Karena kursi CD telah kosong, saya menggantikan posisinya, duduk di samping pengemudi, bertukar tanya dengan jawab, sambil menyaksikan pendar lampu jalan yang jatuh di atas aspal, memantul dan berkilat, melukis siluet-siluet indah di malam gelap.

“Mercy Prima-nya masih top, Pak,” puji saya, sok akrab.

“Semuanya tergantung perawatan, Mas.”

“Masih ngejoss, ya!”

“Iya, kami sangat menjaga perawatan mesin.”

 

Pukul 21.00: Gambirono.

 

Sepintas, saya melihat Mila Sejahtera ‘Predator’ parkir. Bis yang semula direncanakan untuk saya ikuti ke Jogja sebagai alternatif dari ‘Dona-Doni’ tersebut tampak turun dari aspal. Benarkah? Entahlah. Saya baru meyakininya benar setelah patas yang saya tumpangi ini menepi untuk menurunkan penumpang selepas lampu merah Banyuputih, di depan terminal Minak Koncar, Lumajang. Pada saat itulah, dari sisi kanan, Predator masuk, mendahului.

“Di mana, Dik?” Terdengar suara dari seberang, kernet Dona-doni menelepon.

“Lumajang. Predator barusan nyalip.”

“Iya, saya tunggu, ya. Predator itu mau perpal karena AC-nya macet. Penumpangnya ikut saya.”

Oh, rupanya, firasat saya untuk tidak ikut Predator dari Jember benar adanya karena ujung-ujungnya semua penumpangnya akan dioper ke Dona-Doni, di Probolinggo nanti.

 

* * *

 

22.34: Terminal Bayuangga, Probolinggo.

“Ugh!”

Tak sadar saya mendesah begitu melihat bodi Mila Sejahtera Dona-Doni untuk pertama kali. Mungkin, inilah bis paling jelek di trayeknya, apalagi jika disandingkan dengan armada-armada yang berangkat dari Surabaya, semisal Sumber Group (Sugeng Rahayu, Sumber Selamat, Sumber Kencono) dan Mira. Asap hitam bersemu putih keluar dari cerobong semprong kirinya, menandakan polutan yang melimpah, juga kompresi mesin yang mungkin sudah jauh berkurang dari tenaga maksimalnya. Lalu, tanya saya dalam hati, apakah alasan teman-teman memberikan rekomendasi bis ini dinaiki menuju Jogja? Bodi-nya jelas tidak; AC juga tidak; suspensi jelas tak mungkin; soal mesin apalagi. Lalu, apanya?

Pengalaman pertama! Ya, itu dia alasan yang paling masuk akal.

“Mila tujuan Jogja diberangkatkan…”

Terdengar TOA pengeras suara Terminal Bayuangga berbunyi begitu bis bernopol N-7249-US ini melenggang keluar pada pukul 23.00. Karcis ditukar dengan uang Rp 56.000, coret-Probolinggo dan coret-Jogja. Saat melihat senarai nama 15 kabupaten dan 66 titik perhentian meliputi kecamatan dan desa, saya langsung takjub pada perjuangan bis tua ini, melahap trayek Blambangan-Mataram setiap malam, ya, setiap malam.

Memperhatikan cara memindah gerigi persneling, saya langsung mengambil kesimpulan awal bahwa sopir bis ini adalah sopir senior. Perpindahan percepatannya sangat samar, nyaris tanpa hentakan. Bis berjalan pelan. Kenek yang berdiri di pintu kiri, maupun sopir yang ada di kanan, masing-masing pasang pandangan awas, berharap ada lambaian tangan dari calon penumpang yang menggubit di tepi jalan.

Begitu Mila keluar dari Kota Probolinggo dan terlibat dengan konvoi bis-bis pariwisata yang datang dari arah timur, barangkali dari Bali atau Lombok, saya sempat meragukan kemampuannya. Kenapa cara mengeremnya begini? Ada sentuhan staccato di sana! Patah-patah. Namun, anggapan ini tidak bertahan lama karena ‘Dona-Doni’ segera mengganti ketukan yang lain, seperti seorang arranger yang memainkan modulasi nada pada reffrain.

Lampu sein kanan berkedip cepat. Symphonie Die 9 Pariwisata terlewati. Mila masuk ke jalurnya lagi, lalu menyalip kembali beberapa kendaraan kecil, menyela ke jalur kiri, lantas mendahului patas Akas New Armada, kemudian melesat, menguasai jalan aspal itu sepenuhnya. Mulailah saya berubah pikiran. Sopir ini sedikit gelojoh, suka lahap-melahap; bis di depannya ibarat nasi sesuap, sedangkan kendaraan kecil jadi lauk-pauknya. Sekali menyuap, beberapa lauk-pauk juga harus diembat.

Mencermati gelagat akselerasinya, saya pun mulai menaruh curiga, tidak yakin jikalau komponen mesin bis ini masih standar Hino AK, tak mungkin. Membawa penumpang hampir 80% penuh, akselerasi masih bagus, maka boleh jadi mesin ini sudah dioprek sedemikian rupa. Hal lain yang saya rasakan agak aneh adalah rasio gigi persnelingnya, terutama ke-3 dan ke-4. Pada percepatan tersebut, langkahnya terasa jauh. Ibarat sprinter, napasnya sangat panjang. Ibarat diver, ia mampu lebih lama menyelam.

Paduan suara tangisan anak kecil, gemelatak kaca geser yang tidak lagi rapat, serta bebunyian gedubrak yang riuh-rendah, menciptakan simponi unik di dalam kabin, bumel sebenar-benar bumel. Dan sang sopir tahu bagaimana cara menimpali semua hiruk-pikuk itu, yaitu dengan menderumkan raung mesinnya lebih gahar lagi.

Bis masuk kota Bangil pada paruh malam. Dan hanya beberapa menit kemudian, setelah melewati bundaran Gempol, bis berhenti di sebuah warung makan. Soto Lombok namanya. Semua penumpang dipersilakan turun. Bagi grup Mila Sejahtera, baik yang datang dari Banyuwangi maupun dari Jogja, warung ini merupakan tempat ambil jeda untuk makan dan istirahat. Alasannya mungkin karena posisi Gempol sebagai titik tengah perjalanan dari Banyuwangi ke Jogjakarta, 33 dari 66 kota/kecamatan.

Semua penumpang keluar dari bis, kecuali sopir. Ia masih bertahan di belakang kemudi, mencari-cari sesuatu. Oh, rupanya ia menyalakan rokok. Tempias nyala api koreknya membuat raut wajahnya kelihatan. Saya taksir, usianya 50 tahunan. Seraya mendekat, saya bertanya.

p1010077

“Pak, dahsboard-nya model lama, ya? Ini Hino AK tahun berapa?”

Lelaki gempal dan berkumis itu mungkin sama sekali tidak menyangka ada pertanyaan seperti ini dilontarkan oleh seorang penumpang yang bersarung dan berpeci hitam seperti saya. Dia mengelih, sekilas senyum, lalu melontarkan kata-kata bersemangat.

“Tahun 96, Mas.”

Adanya pemandangan asing yang membuat saya menahan diri untuk mengajukan pertanyaan berikutnya: sebilah keris terpajang di atas pintu sopir. Sambil menukar pandangan dengan tasbih yang digantung di atas spion dan dua cincin yang dikenakannya, saya amati itu semua dengan satu kesimpulan: orang ini bukan sopir biasa.

p1010078

“Tahun 96? Tapi, kok tarikannya saya perhatikan tadi sangat bagus, ya, Pak? Eh, nama Bapak?”

“Saya Paiman, Mas. Iya, bis ini sudah pakai turbo.”

“Hah? Masa? Dipasang sendiri?”

“Iya, dipasang sendiri di bengkel NNR (red: Akas). Saya pakai turbo-nya Mercy karena lebih murah. Namun mesin tidak panas karena juga dipasangi intercooler. Kalau dari Banyuwangi sampai Jogja, paling-paling airnya cuma tekor se-Aqua gelas-an.”

“Apa nggak boros?”

“Saya tombok 10-20 liter setiap kali jalan. Jatah dari perusahaan hanya 220, habisnya 230 liter, bahkan terkadang sampai 240. Tapi, ya, gak apa-apa, Mas. Larinya juga lumayan bagus,” katanya seraya tersenyum.

Saya memilih percaya daripada harus cerewet mengumbar tanya. Lebih dari itu, sejatinya Pak Paiman tadi telah membuktikan omongannya ini di trek Probolinggo-Pasuruan yang notabene merupakan lintasan paling ramai sepanjang jalan dari Probolinggo sampai bundaran Gempol. Akan tetapi, saya berkata dalam hati, “Pembuktian yang sesungguhnya itu nanti, Pak, di trek Mojokerto sampai Jogja, karena di sana Anda akan berhadapan dengan keluarga besar EKA-Mira, juga keluarga Sumber Kencono Group yang terkenal sebagai penguasa jalanannya.”

Kami pun turun bersama-sama. Dia ambil soto, saya pesan kopi. Menemaninya duduk di teras, saya melemparinya satu-dua pertanyaan untuk mengulik informasi. Darinya saya tahu, ia akan naik haji tahun depan. Hati saya berdesir mendengar kabar ini sambil mengingat pernyataan sebelumnya, tentang tombok solar setiap hari. Demi niat suci, rupanya sopir ini masih mampu menabung sisa komisi untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

“Oh, ya? Alhamdulillah jika begitu.”

“Ya, saya akan ke Makkah bersama nyonya. Tadi nyonya yang ngantar saya ke terminal, kok,” katanya sambil melirik rendah. Barangkali dia berharap agar saya menangkap kesan romantis pada intonasi ucapannya. Lagi-lagi saya dibikin tercekat ketika membayangkan kehidupan sopir bis antar-provinsi, seperti dia, dalam menikmati kehidupan rumah tangga bersama istri dan anak-anaknya. Kapankah waktu mereka untuk kumpul bersama? Berapa jam sisa waktu dalam setiap minggu untuk bercengkerama? Rasa kemanusiaan membumbui percakapan kami malam itu: kisah cinta, waktu yang terbatas untuk keluarga, harus bertarung dengan sisi lain kehidupannya, mengais rezeki setiap malam di jalan raya.

Malam itu, selembar halaman dari kitab kehidupan baru saja selesai saya baca. Satir yang getir atau lelucon yang konyol barangkali akan saya temukan di halaman yang lain.

 

* * *

 

“Yang ke Jogja, berangkat, berangkat…!”

Pukul 1 dinihari kurang limabelas menit, Mila Sejahtera bergerak meninggalkan warung Soto Lombok, Gempol. Bis masuk Kejapanan dan mesin dipacu kencang sekali. Jalan arteri itu sepi, membuat pengemudi bebas menginjak pedal gas sesuka hati.

Jalan ini milik kami.

Malam ini milik kami.

Saya menarik ponsel Nokia 6310i dari tas pinggang yang melingkari sarung begitu bis menjejak aspal trek Mojokerto-Jombang: pukul 1 lewat 18 menit.

Menghadang di depan: Restu, Akas Asri pariwisata, dan entah bis apa lagi. Di antara bujuk kantuk untuk berpejam, lelah yang nyaris tidak tertanggungkan, saya bertahan jaga sampai akhirnya tampak ekor bodi Legacy W-7033-UZ, Sumber Selamat. Bis kami mendekat seolah-olah hendak mendahului. Namun, pada sebuah karnaval kendaraan yang beriring rapat, Pak Paiman terkecoh. Mendadak, sebuah mobil Daihatsu Zebra menyela, membuat jarak terpaut makin jauh antara “Sumber” dan “Mila”.

Pak Paiman lagi-lagi menginjak rem secara staccato, patah-patah. Bis bermesin Hino AK namun dengan kaki-kaki hasil modifkasi milik Hino RG ini terangguk-angguk. Beberapa orang penumpang kelihatan terbangun dari kantuk karena tersorong. Semua mata, kini, terarah ke muka.

Saya menduga, Pak Paiman ingin membuktikan kekuatan tenaga mesin bisnya. Namun, pada jalan lurus di Mojoagung, adu kecepatan tetap bertahan 10 meteran. Sumber Selamat tidak menjauh, Mila juga tidak mampu menyusul.

Pemandangan ini terasa aneh bagi saya. Untuk apa dia hendak menguji mesin tua buatan 96-an dengan cara mengejar Hino turbo rilisan 2010/2011? Jangan-jangan, tenaga “turbo” pada Mila Dona-Doni pegangannya ini tidak berada di dalam ruang mesin bersama manifold, melainkan pada pamor dan keluk kerisnya yang ia pajang di atas pintu.

Mila Sejahtera telah mendahului Sumber Selamat yang menyalakan lampu sein kiri untuk menurunkan penumpang. Namun, karena Mila juga bertaruh peruntungan dengan cara nyeser di sekitar stasiun Jombang, wusss, Sumber Selamat kembali memimpin, mengambil alih kesempatan untuk meraup calon penumpang lebih dulu. Maka, di bypass menuju Embong Miring Jombang itu, dua bis berkejaran, tak terelakkan. Lagi-lagi, Mila Dona-Doni terus menguntit di belakang: mengejar seperti mengancam; membuntuti dengan determinasi.

Rasa penasaran saya belum juga pupus, mengapa harus mengejar? Mengapa Mila Sejahtera begitu bergairah untuk menyalip Sumber Selamat? Bukankah jarak tahun produksi kendaraan yang terpaut 15 tahunan sudah cukup rasional untuk mengalah saja? Ya, jikalau Sumber Selamat menggunakan AC dan Mila tidak; jika Sumber taripnya murah dan Mila mahal; jika Sumber bermesin baru dan Mila bermesin lawas; jika jarak antar-kursi Sumber lebih lapang dan Mila sempit, masih adakah yang dapat diandalkan Mila Sejahtera ini untuk itu semua? Ada. Jawabannya adalah kesetiaan penumpang, sisanya adalah reputasi!

Mendekati Gudo, tepatnya tikungan tajam ke arah Kertosono, jarak antara kedua bis semakin mendekat. Dan persis setelah tikungan, Mila berhasil menyalip Sumber 7033 itu, tentu dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, juga dengan gulungan asap di belakangnya. Bertepatan saat dari arah berlawanan, patas Eka sedang diburu Sumber Selamat.

Sembari menaksir lama perjalanan ke muka, saya mendapatkan kesimpulan awal: tidak yakin dapat bersalat Subuh di Janti. Dengan demikian, saya harus mengatur jadwal hendak turun di mana meskipun karcis sudah terlanjur coret-Jogja. Pemberangkatan dari Probolinggo yang sedikit molor karena satu dan lain hal membuat Dona-Doni ini baru melewati Sukomoro, beberapa saat sebelum Kota Nganjuk, pada saat jam menunjuk pukul 02.18.

Kala itu, melalui kaca depan, saya melihat Sugeng Rahayu, nama baru dari keluarga besar Sumber Kencono, sudah kembali menghadang. Saya tidak tahu, jam berapa bis tersebut berangkat dari Surabaya. Yang pasti, bis dengan nopol W-7663-UY itu juga didahului di lampu lalu lintas menjelang kota Nganjuk karena terjebak truk, salah mengambil posisi. Dan setelah melewati kota, sebelum tidur, saya masih sempat melihat Pak Paiman melakukan spekulasi dengan menyalip sekitar 8 kendaraan sekaligus, yang berjalan lambat karena terperangkap di sisi kiri garis panjang dalam tanjakan, selepas palang pintu kereta api. Salah satu yang terjepit di antara karnaval kendaraan itu adalah si cokelat, Mira AC.

Pukul 02.53, Caruban. Mila Sejahtera ambil kanan, lewat Karang Jati.

Inilah salah satu keuntungan hemat waktu bersama Mila Sejahtera (juga Akas tujuan Jogjakarta). Dona-Doni melalui jalan yang biasa dilewati patas Eka dan bis-bis malam, berbeda dengan Mira dan Sumber yang lewat Madiun dan Maospati lebih dulu untuk tembus di Ngawi. Bahkan, Mila bisa lebih hemat waktu ketimbang patas Eka sekalipun karena tidak perlu masuk rumah makan lagi.

Saya mulai merem-melek saat bis masuk di lintasan ini. Bangun pukul 03.06, tampak gapura bertulis Ngawi. Tidur lagi. Buka mata ternyata bis sudah lewat Gontor Putri, Mantingan, pada pukul 03.58. Tidur lagi dan terbangun saat bis masuk terminal Solo, pukul 5 pagi kurang lima menit.

Keluar dari Terminal Tirtonadi, seperti seorang gitaris yang sedang pamer kemahiran guitar solo, Mila Sejahtera Dona-Doni berlari kencang seorang diri. Sinar merah dari timur mulai semburat. Tulu‘ muncul tak akan lama lagi.

“Pak, saya turun di depan,” kata saya setelah berpindah tempat dari kursi penumpang ke kursi CB (kursi kenek).

“Loh?” bukannya Jogja?”

“Nggak jadi, turunkan saya di tempat yang dekat dengan masjid.”

“Wah, tahu begitu tadi saya berhenti di masjid yang enak parkirnya, biar kita berhenti sama-sama.” Ini suara Pak Paiman.

“Nggak apa-apa, Pak. Saya mau ngopi-ngopi dulu. Biar nanti saya ikut bis Solo-an saja.”

Sein kiri. Bis menepi lalu berhenti. Saya turun dan menyeberang jalan, menuju sebuah masjid. Atta’awun namanya.

p1010081

Seusai shalat Subuh di masjid yang terletak di dusun Kaliwingko, Banaran, Delanggu itu, saya duduk di depan sebuah warung, menunggu pagi. Sambil menyaksikan bis-bis malam yang berdatangan dari arah ibu kota, saya menyeruput kopi: menepis pahitnya kufur dengan mencerap manisnya syukur.

FOTO-FOTO TAMBAHAN:

601987_10200616752882831_1682648694_n

Catatan perjalanan di atas ada di buku ini

 

326671_1924757728217_1456130738_o

Mila Sejahtera Dona Doni (tahun 2011, foto oleh Bado Solihin)

mila-sejahtera-donadoni-cikar-nippon

Dona Doni di Probolinggo (foto Juni, 2012)

Kopdar di Gumitir, sewa Big Bird dan Dona Doni (7 April 2013)

Tak sengaja nemu Dona Doni turun mesin di garasi AKAS-MILA Jogja (10 Pebruari 2013)

menunggu-mila-di-soto-lombok

Warung Soto Lombok, Gempol: menunggu Dona Doni (lawas) terakhir kali, 28 Oktober 2014

Sidogiri

img_0741

Saya tiba di pertigaan akses ke Sidogiri (kadang disebut sebagai pertigaan Tambakrejo) kira-kira 30 menit sesudah azan asar. Langsung bergerak gegas menuju warung kopi untuk menghindari tawaran bentor dan ojek adalah langkah menyelamatkan diri yang paling tepat. Setelah memesan minuman, barulah saya mengatur strategi. Menunggu angkutan umum atau ngojek adalah pilihannya.

Tiba di Kraton pukul 16.00 sedangkan saya berangkat pukul 10.20 dari Prenduan itu tergolong perjalanan lancar, lho, apalagi masih untung mengingat sehari sebelumnya (14 Pebruari 2017), Kraton masih banjir akibat luapan air sungai. Hari ini, Rabu, 15 Pebruari 2017, kelancaran perjalanan saya ditopang oleh jodoh patas Mila Sejahtera (N7334US) sampai Bungurasih dengan mahar 53.000. Adapun rezeki Rp 12.000 jatuh ke tangan kondektur Indonesia Abadi (N7418UR) untuk ditukar tiket dari Terminal Purabaya ke Kraton.

Piluhan jatuh ke bentor (becak motor). Duduk di atas sadelnya, sesekali saya bersandar, sesekali berpegangan, meladeni pengemudinya yang  berjalan zigzag karena menghindari kubangan di sepanjang jalan. Saya menikmati perjalanan sore itu, nikmat perjalanan menuju salah satu pondok tua di Jawa Timur. Tujuan saya adalah memenuhi undangan PP Sidogiri (yang diwakili BPP) untuk bicara soal tradisi baca-tulis dan cara-cara menggali inspirasi. Karena acara direncakan pukul 21.00 WIS (waktu istiwa; atau 20.30 WIB) terhitung masih lama, maka saya punya banyak kesempatan untuk berini-itu sebelum acara.

Di atas bentor, saya masih merasa heran karena angkutan ke pondok harus menggunakan bentor atau ojek, sama seperti ke Blokagung di Banyuwangi yang tanpa angkutan umum di sore hari. Rupanya, angkutan umum yang melintas di kedua pondok itu itu memang cuma beroperasi dari pagi sampai siang saja.

***

Sidogiri, siapa tak kenal nama ini? Kalau pernah menjadi santri dan pernah mondok, pasti Anda tahu nama ini. Tapi, bagaimana jika Anda ternyata tetap tidak tahu? Nah, sekarang Anda sudah kenal lewat catatan ini. Ketahuilah, pada ultahnya yang akan datang, pondok ini sudah berusia 280, nyaris 3 abad kurang sedikit meskipun tidak setua Pondok Mojosari di Nganjuk.

Konon, dari bisik-bisik kawan yang saya dengar sebelum saya berangkat, layanan untuk tamu di sana sangat istimewa. Hari itu saya membuktikannya. Benar, saya diantar ke sana ke mari, ditawari ini dan itu, ditanyakan apa maunya dan hendak ke mana. Sepertinya, sikap grapyak semacam ini sudah jadi “s.o.p” para santri dan pengurus. Namun, saya bertahan tinggal di wisma tamu saja, bersama sepupu duakali, Yasir Zuhri, yang menemani saya sampai menjelang isya.

Begitu azan berkumandang, barulah saya bergerak cepat, melangkah panjang-panjang untuk menghindari genangan air di jalan yang basah karena rinai, sisa hujan. Kami menuju masjid untuk salat berjamaah isya. Upacara berikutnya setelah salat adalah ziarah ke makbarah keluarga yang terletak di balik mihrab, di depan masjid. Kemudian, rangkaian berikutnya yang jadi pra-acara bagi saya adalah mengunjungi beberapa komplek pondok, termasuk Daerah C (ini merupakan napak tilas pesanan pamanda Ahmadul Faqih Mahfud agar saya melihat jejaknya di pondok itu).

Melihat santri berseliwer, perasaan rindu masa lalu menguar. Saya ingin jadi santri kembali, ingin kembali ke masa lalu lalu belajar lebih tekun sebab sudah tahu betapa ruginya jika menghabiskan waktu muda dalam keadaan santai dan terlena. Di komplek C itu, saya melihat santri mendekap kitab, belajar di kamar, belanja jajanan, dan beraktivitas lain. Masya Allah, betapa menenteramkan! Mestinya, banyak tempat yang harus saya kunjungi di pondok ini namun gagal karena gerimis terus menebal.

Kesan berkesan begitu kuat saya rasakan saat masuk perpustakaan. Bangunan tua berlantai dua itu sangat rapi dan bersih. Lantai bawah untuk kantor, ruang digital, dan satu ruang lagi—mungkin—untuk arsip, sedangkan lantai duanya untuk koleksi buku. Kala itu, saya melihat kelompok-kelompok santri bermusyawarah, berdiskusi. Mereka melingkar dalam bentuk ‘halaqah’. Berdasarkan nguping kata kunci yang mereka katakan, sepertinya mereka berdiskusi masalah fikih dan nahwu, mungkin juga tasawuf dan lainnya. Ya, saya hanya mendengar sepintas kilas saja. Yakin pasti, tema pemilihan gubernur DKI (yang juga berlangsung di hari itu) tidak ada dalam percakapan mereka. Indeks-nya adalah makrifat, nakiroh, mubah, makruh, dan bukannya Ahok, Anis, atau Agus. Dalam hati, saya bertanya dan berdebar: untuk apa saya bicara literasi di sini jika mereka sudah menunjukkan keteguhan dan keteguhan di depan mata kepala saya sendiri?

***

Sebelum acara dimulai, saya diterima di lobi, semacam ruang tamu pesantren yang ada di kantor sekretariat. Tempat duduk yang tebal rasanya semakin empuk karena terhidang roti berlumur susu di atas meja, tersedia lebih dulu sebelum saya duduk di sana. Menu berikutnya adalah jamuan makan ala ‘sufrah’, biasa ditemukan di Madura, dengan hidangan lengkap dan gaya lesehan. Rawon, lodeh, lele, tahu, tempe, telur asin, bebek goreng, sambal, seolah berebut harap, memanggil-manggil mulut saya supaya segera menyantap.

Acara bertajuk “Menggalakkan Literasi, Menggali Inspirasi” ini berlangsung di lantai dua, kantor sekretariat bersama PP Sidogiri. Pesertanya adalah awak media (24 media) di lingkungan pondok, dari kru mading, buletin, hingga majalah. Saya bicara perihal tradisi baca tulis yang dimiliki santri dan apa yang seharusnya dimiliki santri namun belum dijalani, termasuk mengingatkan tradisi baca-tulis sebagaimana diisyaratkan Alquran dalam Surah Al-Qalam atau dan surah lalin seperi Ar-Rahman. Intinya, baca dan tulis harus seimbang, bahkan kalau mau jujur dan berdasarkan urutan, “membaca” dulu yang diperhatikan, baru setelah itu “menulis”-nya sebab perintah pertama adalah perintah “membaca”; sebagaimana cita-cita luhur menjadi manusia seutuhnya, menjadi ulul albab itu didahului oleh anjuran “berzikir”, baru setelah itu adalah “berpikir” sebagaimana termaktub dalam Ali Imran (190-191). Adapun hal lain yang hilang dalam tradisi santri adalah tradisi mencatat. Makanya, dalam kitab babon pengajian dan pengajaran, Taklimul Mutaallim, santri dianjurkan agar senantiasa membawa alat tulis/catat sebab tradisi mencatat adalah bagian yang menyatu dengan proses belajar. “Dan ini yang banyak dilupakan oleh kita,” kata saya.

Setelah acara selesai pukul 11 malam, setelah duduk sebentar di lobi, menuntaskan ide-ide yang tak sempat dibicarakan di ruang diskusi, saya pun pamit pulang. Saya diantar panitia dengan mobil berplat nomor N1745VQ ke pertigaan Kraton. Oh, ini dia rupanya, angka plat nomor itu adalah angka tahun berdiri pondok. Mudah mengingatnya: bahwa pondok ini berdiri dua abad sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Seperti perjalanan berangkat yang lancar, perjalanan pulang malah lebih lancar. Berangkat pukul 00.05 dari Kraton, persis satu jam berikutnya, saya sudah sampai di Purabaya. AKAS IV yang saya naiki bersama Muhairil (santri Sidogiri yang menemani saya pulang dan kan turun di Tangkel, Bangkalan), bergerak gesit. Meskipun bermesin lawas Mercy 1521, bis bernomor N7123UR ini mampu menyusul DAMRI “Royal Class versi KW” tujuan Madura selepas Bangil, lalu menguntit di belakang AKAS IV AK8 setiba Bungur. Pukul 01.36 lepas dari Terminal Purabaya, tiba di Tangkel 02.58; Subuh di Bandaran, kami shalat subuh di Terminal Ronggosukowati, Pamekasan. Bis bergerak lagi di 36 lewat pukul 04; pukul 05.05 di Prenduan, dan limabelas menit berikutnya, saya tiba di rumah.

Alhamdulillah, demikian menyenangkan perjalanan kali ini sehingga saya mensyukurinya dengan langsung menjumpai keluarga lengkap, masak air, buat, kopi, dan tetap melakukan kegiatan yang biasa berlangsung pukul 6 pagi: membaca kitab Taklim bersama para santri serta menyelipkan kisah-kisah teladan dari Sidogiri: tentang khidmah, tentang himmah, juga tentang hal-hal lain yang penuh hikmah, bahwa setandus apa pun tanah, jika diguyur, jadilah ia basah.

Ke Murawa’ah: Antara Mutammimah al Ajrumiyah, Al Ahdal, Nahwu, di Bumi Abrahah

oleh Izel Muhammad Hamdi 

Laporan perjalanan ini diterbitkan ulang oleh saya (M. Faizi) di blog ini setelah mendapatkan izin langsung dari penulis saat bertandang ke rumah saya, Sabtu, 11 Pebruari 2017. Tulisan ini sudah diterbitkan 2 tahun yang lalu di media sosial Izel, si penulis. Saya merasa penting untuk menyebarkan ulang karena kandungan cerita dan nilai yang ingin disampaikannya terasa penting sekali untuk diketahui oleh kami, terutama para pencari ilmu.

 

 

Jumat, 24 Desember 2013, adalah kali kedua aku melakukan rihlah ke Murawa’ah: sepetak tanah yang telah banyak melahirkan penulis kitab-kitab pelajaran Islam, mulai dari fikih, ushul fikih, hingga nahwu. Murawa’ah adalah satu di antara kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Hudaedah, Yaman Utara. Di sini, anak cucu keturunan Rasulullah yang bergelar Al-Ahdal bertebaran. Dan, dari sini pula, untuk para habaib di seluruh penjuru dunia (di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Asia Tenggara yang dipanggil “al-Mahdali”), gelar al-Ahdal itu bermula.

Waktu menunjukkan pukul 07:00 waktu setempat. Bersama duabelas teman dari Malaysia yang kesemuanya merupakan mahasiswa baru di Darul Ulum as-Syar’iyah, kami keluar dari asrama. Sebelumnya, kami lebih dulu sarapan di suatu sisi persimpangan jalan raya yang berada di belakang universitas. Tentu saja, menu yang kami santap berbeda dengan sarapan orang-orang di bumi Nusantara yang beraneka ragam. Sarapan pagi kami berupa ful, fashaliyah, hubz (roti besar bulat) dan teh.

Kehidupan masyarakat Yaman sebenarnya tidak dapat dikatakan miskin. Mobil-mobil sejenis Land Cruiser dan Mercy—yang di Indonesia umumnya hanya dimiliki oleh kaum jetset dan para konglomerat—juga banyak di sini. Barangkali, sebab sifat zuhud-lah yang menciptakan karakter mereka sehingga hidup sederhana, jauh dari kesan cinta dunia secara berlebihan.

Hidangan di depan kami ludes, tak tersisa. Selanjutnya, kami berangkat menuju Murawa’ah. Tujuan pertama kami adalah mengunjungi syekh Abdullah Yahya al-Syi’bi, pengarang Nahwu Syawid Kawaqib al-Dzurriyah yang telah dipelajari di penjuru dunia.

murawaah

Tidak sulit bagi kami untuk tiba di Kabupaten Murawa’ah. Dari provinsi Hudaedah, tempat aku tinggal, tempat itu hanya berjarak 22 km atau sekitar 16 km dari bandara internasional Hudaedah. Seperti halnya perjalanan menuju kota-kota ‘Tihamah’ lainnya, di sisi kanan dan kiri jalan aspal diapit oleh gurun pasir yang luas. Rumah-rumah khas pengungsi Somalia mulai tampak bertebaran di atasnya, membentuk perkampungan-perkampungan kecil.

Sekitar duapuluh lima menit kemudian, setelah melewati kota Murawa’ah, kami tiba di masjid Syekh al-Syi’bi. Masjid kecil yang pantasnya disebut musala itu tepat berada di sisi jalan raya, di desa paling ujung Kabupaten Murawa’ah. Hanya terdapat beberapa rumah dan empat kedai minuman di sekitarnya. Menurut penduduk, letak rumah syekh sendiri berada di 3-4 km di sebelah kanan jalan raya, di bawah bukit yang hanya bisa aku lihat dari kejahuan.

Karena sejak dulu Syekh tidak pernah memperkenankan para peziarah datang ke rumahnya, maka aku bersama teman-teman menunggu di beranda masjidnya. Dari cerita penduduk, aku tahu bahwa sejak dulu, ulama kharismatik dan zuhud yang kami kunjungi ini tidak pernah absen salat lima waktu dan mengajar di masjid yang sangat jauh dari rumahnya. Dan itu ia tempuh dengan berjalan kaki. Ah, sungguh aku tak bisa membayangkan betapa keringat Syekh akan membasahi tubuhnya yang kurus ketika cuaca musim panas akan mencapai titik 43 derajat celcius.

Selagi menunggu kedatangannya, aku teringat kejadian tiga tahun silam. Waktu itu, Syekh yang bernama lengkap Abdullah Yahya al-Syi’bi pernah hadir di halaqah penutupan “Shahih Bukhari” yang digelar di Masjid Al-Husain, masjid kampus di mana aku belajar. Beliau duduk di barisan paling belakang, di dekat kotak kayu berukuran panjang yang biasa digunakan untuk menyimpan sandal para jamaah. Penampilannya yang mirip penduduk desa membuat banyak orang terkecoh, termasuk aku yang kebetulan waktu itu berada tak jauh dari tempatnya. Ya, lagi-lagi itu semua disebabkan oleh pakaian.

Aku baru sadar bahwa orang yang berpakaian lusuh itu ternyata seorang ulama besar manakala para dosen dan para syekh yang duduk di barisan depan tiba-tiba bangkit dan berebutan untuk merangkul serta menciumi kepalanya. Namun, dengan sekuat tenaga, Syekh al-Syi’bi berusaha menghindar, keluar dari kerumunan jamaah lalu pergi dengan tergesa-gesa.

Sekitar sepuluh menit berlalu, muncullah Syekh al-Syi’bi dengan seorang pengendara motor dari arah yang berlawanan dengan arah rumahnya. Entah beliau dari mana. Suaranya yang pelan dan datar menyapa kami. Ingin rasanya kuhisap habis senyum teduhnya yang selalu mengembang dari kedua bibirnya itu. Ingin rasanya aku bersembunyi di belakang korneanya yang bening. Ingin rasanya kurapikan kain kusut yang melekat ditubuhnya itu dengan setrika.

Pertemuan kami dengan Syekh berlangsung sekitar empatpuluh menit. Setelah satu persatu dari kami membaca kitab, beliau mengijazahkan seluruh sanad yang didapat dari guru-gurunya, termasuk sanad memakai imamah dan cara menyuapkan halawah (sejenis dodol) yang bersambung kepada Rasulullah.

16708233_1588197154529854_2777267350840950361_n

Abdullah Yahya as-Syi’bi

Di akhir pertemuan, mewakili teman-teman yang ada, aku meminta nasehat. Beliau menjawab, “Nasehat apa yang dapat aku berikan pada kalian?”

“Apa saja, Syekh, yang penting nasehat.” Aku setengah merengek.

“Baiklah. Pertama-tama, saya bernasehat pada diri sendiri kemudian kepada kalian; bertakwalah kalian kepada Allah di mana pun berada. Bersabarlah dalam segala keadaan. Jangan pernah terlepas dari menyebut “La ilaha Illallah” walaupun hanya mampu diucapkan satu kali dalam satu hari.”

Matahari meninggi. Kami pun berpamitan. Sekitar pukul sepuluh pagi, aku bersama teman-teman meninggalkan masjid. Kami kembali memutar arah menuju kota kuno yang kami lewati tadi, Kota Murawa’ah, kota yang dulu terkenal dengan sebutan Madinah al-Kadara’, kota seorang permaisuri Bani Rasul di Wadi Siham.

* * *

Di kota tua tersebut, kami juga hendak sowan ke beberapa ulama yang tinggal di sana, termasuk juga untuk ziarah ke maqbarah pengarang kitab nahwu, “Syarah Kawaqkb al-Durriyah ala Matni Mutammimah al-Ajrumiyah”; Sayyid Muhammad bin Ahmad Abdul Bari al-Ahdal (1241-1298 H).

> Untuk mengunduh kitab versi *pdf, klik di sini.

1653914_808602855822625_301291936_n

Setelah sekitar sepuluh menit mengendarai mobil, kami sampai di pintu masuk kota sisi timur. Angin gurun semakin kencang. Karena keadaan cuaca gurun yang panas-dingin, suhu badanku—yang sejak dua hari sebelumnya memang kurang baik—tiba-tiba semakin lemas. Kata seorang teman, mukaku tampak pucat, namun tutur sapa masyarakat yang penuh sopan santun serta murah senyum itu kembali membangkitkan semangatku.

Melihat sisa-sisa bangunan dari tanah liat di sepanjang jalan seakan-seakan aku terlempar ke masa lalu, berada di abad ke-3 hijriyah, bersama Sayyid Muhammad bin Sulaiman dan para muhibbinnya, membangun kota, meskipun kini, gedung-gedung bertingkat mulai menggeser bangunan-bangunan bersejarah itu.

Ya Bani Majdal, aku datang mengunjungimu!

BERSAMA KAKEK GURU

Bagi Yaman, kota hanyalah sebatas nama. Begitu juga dengan kota kabupaten Murawa’ah, sebuah kota yang tidak semarak dengan celotehan genit para perempuannya, tidak pula gempita oleh music rock and roll dan sejenisnya.

Dari tempat pemberhentian mobil yang kami tumpangi, kami berjalan menyusuri gang-gang sempit menuju kediaman al-Allamah al-Sayyid Hamud bin Ahmad al-Ahdal. Beliau berjuluk “Syumailah” dan merupakan salah satu ulama sepuh yang menjadi guru pertama Syekh al-Syi’bi dan Syekh Ali Yahya al-Mur’i, rektor sekaligus pendiri Universitas Dar el Ulum as-Syar’iyah.

Melihat langsung kediaman sosok yang telah banyak melahirkan ulama-ulama besar di Yaman itu, hatiku menciut. Rumah itu hanya berupa onggokan dengan diameter 6 x 4 meter, beratapkan seng, berada di antara bangunan-bangunan berlantai dua dan tiga. Di depan pintu masuk, mengalir comberan yang tak habis diserap oleh pipa-pipa rumah di sampingnya.

Setelah mengucap salam, dari ambang pintu sempit itu kami disambut empat anak kecil yang saat itu sedang bersenda gurau bersama Syekh. Aku bersama teman-teman dipersilahkan masuk.

Bagaimana keadaan di dalam? Ternyata, keadaan di dalam rumah itu masih seperti keadaan empat tahun silam, sama seperti waktu pertama kali aku mengunjunginya. Jika dulu aku menjumpai Syekh di zawiyah yang berukuran 2 x 1 meter, sekarang menemuinya di samping zawiyah. Kulihat Syekh sedang berbaring lemah di atas ranjang besi 1,5 x ½ meter dalam keadaan meringkuk karena sempit. Beliau mengenakan sarung putih bergaris tipis kotak-kotak hitam serta kaos dalam berwarna putih yang sudah lapuk. Kezuhudan telah mengalahkan nafsu dunianya.

Suara Syekh sudah tidak jelas karena dimakan usia. Agar dapat menangkap ucapan dari lisannya yang sudah uzur, terpaksa aku dan seorang teman Arab mendekatkan telinga di kedua bibirnya yang bersih.

CANDA DAN PESAN KAKEK GURU

Detik-detik berlalu begitu cepat, tergilas gemuruh angin yang tak henti-henti mempermainkan terpal kumal berwarna biru tua yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan zawiyah. Tak terasa sudah lima belas menit kami bersama Syekh.

Ketika aku sedang menerjemah ucapan Syekh kepada teman yang lain, tiba-tiba beliau menyela, “Kalian berbicara dengan bahasa apa? Aku tidak paham. Dan, sampai usia setua ini tak mungkin aku mampu berbicara dengan menggunakan bahasa kalian.” Kedua kornea yang bening mirip bola mata bayi itu menerawang. Beliau tersenyum, setengah tertawa.

Aku tersenyum. “Tidak, ya, Sayyid. Bahkan Anda menguasai beberapa kosa kata bahasa kami yang berasal dari bahasa Arab, seperti kursi, kitab, masjid, dan lain-lain,” kataku.

Tak lama kemudian, masih dalam keadaan berbaring, beliau mengijazahkan seluruh sanad kitab yang beliau peroleh dari guru-gurunya dahulu. Kemudian beliau memberi nasehat kepada kami; “Bertakwalah kepada Allah, selalu sabar, dan jangan membaca Fatihah dalam keadaan berjalan. Jika sewaktu berjalan membaca Fatihah, hendaklah berhenti sampai bacaan Fatihah tersebut selesai.”

Selanjutnya, Syekh berdoa. Tanganku berhenti memijat tubuhnya yang lembut. Setelah selesai, menuruti permintaan teman-teman, aku mengajukan keinginan untuk berfoto bersama beliau. “Itu pun jika Anda berkenan, Syekh,” kataku.

Lagi-lagi beliau tersenyum sumringah

“Baiklah, tak usah dipapah. Aku bisa bangkit sendiri.”

16729080_1589392701076966_1987164830653192288_n

Izel Muhammad Hamdi (penulis) berfoto dengan Sayyid Hamud Syumailah al Ahdal

Dengan sekuat tenaga beliau duduk. Aku meminta teman-teman agar menyanggah punggung beliau saat pengambilan gambar.

Sesi foto-foto bersama sudah selesai. Dengan bergiliran, kami bersalaman serta menciumi kening beliau. Selanjutnya, kami akan mengarah ke Masjid Jamik Kabir untuk melepas penat serta menunggu shalat Jumat. Sebelum kami pulang, Syekh masih sempat berkata, “Jangan lupakan aku dalam doa-doa kalian…”

Dalam batin aku menjawab, “Syekh, kami ini apa dan siapa…”

CATATAN:

  1. Julukan al-Syi’bi berarti Rakyat jelata.
  2. Tidak ada yang tahu tentang tanggal, bulan, dan tahun kelahiran Syekh Abdullah Yahya. Dalam kitab-kitabnya yang dicetak di Saudi Arabia, Libanon, Mesir, Maroko, dll., hal itu juga tidak dicantumkan. Mencari lewat ‘Google’ pun tidak kutemukan jawaban. Kiranya, ini merupakan salah satu sikap ‘mastur’ beliau, sebuah keputusan agar tidak dikenal orang.
  3. Menurut riwayat dari guruku, sewaktu hendak menuntut ilmu ke Makkah, Syekh al-Syi’bi menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Di Makkah, tak jarang beliau makan kulit semangka yang dibuang orang.

 

Sugeng, Bledex, AKAS: Tiga Nama, Satu Legenda

bledex-mila

Mila Sejahtera ‘Bledex’, foto diambil di garasi AKAS-MILA Jogjakarta, 12 April 2012

Kisah ini terjadi kira-kira pada paruh akhir tahun 90-an, mungkin 1996 atau 1997,  di hutan Saradan (Madiun), tengah malam.

Jalan sepi. Saya taksir: jam jelang pukul 3 pagi. Maklum, kala itu, saya tidak punya ponsel dan tidak pula memakai arloji. Suasana kabin AKAS II bumel yang saya naiki sangat ‘sepi’ karena semua penumpang tidur. Hanya denging turbo mesin belakang Hino RK lawaslah yang saya dengar hingga kursi baris terdepan, tempat saya duduk.

Di sebuah trek lurus, lintasan yang merangsang sopir untuk menginjak gas sampai menjelang ambang batas, ketika jalan di hutan begitu gelap, jauh di depan sana: bergeriap enam lampu mayang berwarna kuning (itu adalah lampu identitas AKAS II; sedangkan MILA Sejahtera memiliki enam lampu mayang yang sama, berderet sejajar di atas kaca depan, hanya beda warna hijau di bagian kanan dan kirinya).

“Wah, Sugeng!” kata sopir kami kepada kernet. Tampaknya ia sudah tahu dengan siapa ia akan berpapasan dalam beberapa detik lagi.

Baru saja pak sopir bilang begitu, lampu mayang, lampu utama, semua lampu bis yang datang dari arah depan itu mati serentak, semuanya.

“Edan! Sugeng!”

Usai berseru begitu, sopir kami juga melakukan hal yang sama: mematikan semua lampunya.

“Astaga!” kata saya dalam hati, kaget bukan alang-kepalang. Ini jelas melanggar aturan keselamatan sebab kami tidak sedang syuting filem atau sedang beratraksi layaknya seorang stuntman. Suasana menjadi gelap luar biasa, bahkan garis marka jalan pun tidak dapat saya lihat meskipun saya sedang duduk di muka. Untung, pak sopir hanya mematikan lampu sekitar 3 detik; entah itu sebagai kode atau apa. Ia menyalakannya lagi. Sementara bis yang datang dari arah depan tetap tidak kelihatan hingga akhirnya kami berpapasan.

Pas, persis, pada saat itulah Pak Sugeng—pengemudi bis AKAS “Bledex” (banyak sopir yang menggunakan nama “Bledex”, namun boleh jadi Pak Sugenglah yang mula-mula menggunakan nama tersebut sebab ketika ia pegang MILA Sejahtera, ia juga pakai nama “Bledex”) yang datang dari lawan arah itu—membunyikan klakson panjang, seolah-olah itu suara orang yang tertawa terbahak-bahak. Suaranya membahana, memenuhi seisi hutan Saradan.

Plong rasanya hati ini begitu momen dramatis papasan dua bis tersebut telah berlalu. Alhamdulillah, tidak terjadi tabrakan atau kejadian buruk lain meskipun apa yang baru saja saya alami itu sungguh mirip film dan tetap tidak dapat bisa saya percayai. “Ini tindakan gila,” pikir saya,  “sangat berbahaya. Taruhannya adalah nyawa penumpang yang ada pada kedua armada.” Dalam hati, saya merutuk.

* * *

Peristiwa itu lama sudah terjadi. Saya sudah melupakannya. Sopir bis AKAS II yang saya naiki kala itu, Pak Pri (Anda dapat membaca kisahnya dalam artikel berjudul “Bukan Sopir Biasa” dalam buku Beauty and the Bus, sebuah buku catatan perjalanan naik bis karya saya sendiri) telah tiada. Hingga beberapa waktu yang lalu, di awal tahun 2015, kejadian tersebut kembali melintas dalam ingatan manakala saya terhubung dalam satu pembicaraan dengan Cak No, salah seorang kru Mila Sejahtera. Kami terlibat perbincangan seru yang semula diawali oleh kabar pindahnya “montor-montor” MILA Sejahtera ke garasi AKAS IV. Obrolan lantas ngelantur hingga kisah nama-nama orang yang pernah menjadi legenda AKAS. Ternyata, satu dari mereka bernama Sugeng; ya, Sugeng yang saya ceritakan di atas itu. Secara kebetulan, menurut penuturan Cak No, Sugeng baru berpulang beberapa bulan yang lewat setelah sakit beberapa lama.

Cak No yakin, Sugeng ini salah seorang legenda AKAS. “Secara umum begitu,” katanya. Memang, almarhum pernah jadi sopir banyak perusahaan bis, termasuk di luar keluarga AKAS. “Meskipun secara khusus, Sugeng itu masyhur bersama MILA dengan nama julukan ‘Bledex’”, imbuhnya.

Masih menurut Cak No, mendiang Sugeng punya kebiasan unik sebelum berangkat kerja, sebelum ia menjalankan mesin. Biasanya, ia mengebut dan mengusap-usap setir serta kaca dengan tangannya sembari berkata, ‘hayo, tangi, tangi, tangi…’. “Seolah-olah ia menyapa dan bicara dengan mobilnya”, imbuh Cak No. Sepertinya, ia punya ritual khusus yang dilakukan juga secara khusus, sejenis doa agar selamat di perjalanan

Setelah berhenti jadi sopir karena sudah tua, “ilmu mengemudi”-nya diturunkan kepada tandemnya, Imam Santosa yang masyhur dengan julukan “Bandit”.

“Sugeng bisa melihat jalan meskipun tidak ada lampu, Mas, sak mereme…” kata Cak No, “Saya saksinya, bahkan ia pernah lakukan kayak begitu dari itu sampe Solo.”

Begitu pembicaraan dalam telepon selesai, saya pun teringat beberapa riwayat tentang seorang kiai yang pernah ditemukan ‘mengemudi dalam keadaan tidur’. Bukan hanya dengan mata terpejam, “Beliau itu tidur beneran, dan mobil berjalan sendiri…” tandas si nara meyakinkan saya. Tentu, saya percaya dia karena saya juga mendengar cerita serupa itu sebelumnya dari nara yang lain yang saya tahu bukan tipe banyak omong, tidak suka ngedabrus dan tidak suka menyebarkan hoax.

Maka, kisah tentang mendiang Sugeng ini—untuk sementara hingga nanti datang tanggapan penolakan atau sejenisnya karena ada rekam jejaknya yang kurang baik, misalnya—saya maklumi. Saya juga percaya Bapak Mandiono (Cak No; pertama saya kenal beliau saat menjadi kernet Pak Paiman bersama MILA Sejahtera “Dona-Doni” dan sekarang ikut Mila Sejahtera angkatan pertama) yang menjadi salah satu narasumber wawancara saya, juga beberapa nara lain yang saya anggap terjamin kesahihan datanya. Lebih-lebih, saya sendiri pernah mengalami kejadian yang saya lihat langsung dengan mata kepala sendiri terkait aksi pak Sugeng ini, 20 tahun yang lalu.

Kini, saya semakin yakin bahwa ada banyak orang yang mampu melihat tidak dengan bola mata semata, melainkan dengan mata yang lain, indera yang berbeda dengan kebanyakan manusia yang mungkin tidak pernah kita tahu ada di mana letaknya, juga tidak tahu bagaimana cara ia bekerja.