Tembakau dan Kopi Prancak

Tanggal 29 April 2017 lalu, saya bersama ibu dan bibi-bibi berziarah umroh ke mertua Ali Makki di dusun Billa Mabuk, desa Prancak. Tak disangka, di seberang jalan rumahnya, saya melihat ada kebun kopi. Ah, kebun kopi? Saya mendekat, ternyata benar:  kebun, sudah berupa kebun. Kalau cerita orang menanam kopi sebagai tumbuhan liar itu memang sudah banyak, tapi yang ini sudah berbentuk kebun. Artinya, pohon kopinya memang ditanam secara serius dan dikelola.

Saya tidak bertemu dengan si empunya. Tapi, kata tuan rumah, si empunya itu, Pak Taufik, sudah beberapa kali memanen biji-biji kopinya. Saya penasaran karena kopi itu cenderung beradaptasi dengan tanah dan tumbuhan sekitarnya, Nah, bagaimana rasanya kopi jika tumbuhan sekelilingnya adalah tembakau?

Selama ini, masyarakat pada umumnya mengenal nama Prancak sebagai desa penghasil tembakau terbaik untuk industri, sebagaimana mereka mengenal tembakau Desa Bakeong untuk tembakau linting (non-industri). Bahkan, “Tembakau Prancak” nyaris menjadi istilah untuk sebutan tembakau bagus, barangkali karena tanahnya yang berada di ketinggian 400-an mdpl cukup menopang pada kualitasnya. Belakangan, seiring lesunya pertanian tembakau karena harga yang terus melorot dan cenderung terobang-ambing oleh bandul (makelar tembakau sebelum masuk ke gudang tembakau) dan harga pabrikan sementara rokok terus melonjak, semakin hari semakin banyak pula orang yang mulai malas-malasan menanam tembakau, tidak seperti dulu di era 90-an. Saat ini, ada sekitar 80 hektar tanah Prancak produktif yang digunakan untuk lahan tanam tembakau.

Prancak adalah nama desa ‘terpencil’ di Kabupaten Sumenep. Istilah terpencil, meskipun saat ini kurang tepat digunakan karena aksesn ke sana sudah terbuka sedemikian luasnya, digunakan karena selama beberapa tahun, bahkan mungkin lebih dari 10 tahun, akses jalan ke desa ini hancur-lebur. Baru pada tahun 2015 jalan dibangun kembali. Ada yang bertanya, apakah ada sesuatu yang menarik di tanah Prancak atau ada hal lainnya? Semisal ada kandungan minyak bumi, emas, atau apanya? Saya tidak tahu.

Dulu, tahun 2004, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) telah melahirkan 2 anak hasil persilangan tembakau varietas Prancak-95. Dua “anak” varietas yang dapat dilepas tersebut adalah: “Prancak N-1” (Keputusan Menteri Pertanian Nomor 320/Kpts/ SR.120/5/2004) dan “Prancak N-2” (Keputusan Menteri Pertanian No-mor 321/ Kpts/SR.120/5/2004). Kandungan nikotin Prancak N-1 dan Prancak N-2 lebih rendah dari Prancak-95 namun mutunya lebih baik.

Kawin silang ini, konon, sebagai jawaban terhadap kampanye antirokok dan isu bahaya rokok terhadap kesehatan. Balittas telah menyilangkan Prancak-95 untuk menurunkan kandungan nikotinnya. Bahkan juga dapat memangkas durasi masa tanam hingga petik yang bisa kurang dari 90 hari.

Sekarang, balik lagi ke cerita semula: tanaman kopi…

Sepulang dari rumah Ali Makki kala itu, saya lantas bercerita kepada Lia Zen, seorang aktivis kopi, konsultan sekaligus pemiliki kafe, beberapa hari sesudahnya. Lia Zen memang sering mengunjungi petani kopi dan memberikan edukasi kepada mereka. Benar, datanglah si Lia ini ke Prancak sehingga bertemu dengan Pak Taufik (saya saja belum pernah bertemu bahkanhingga tulisan ini dinaikkan). Saya sempat beberapa kali bertemu dengan Lia Zen dan beliau bercerita bahwa selama ini, Pak Taufik hanya menanam saja, kurang memperhatikan perawatan dan teknik petik serta lainnya.

Nah, akhirnya, pada malam 17 Agustus 2017, untuk kesekian kalinya, saya bertemu lagi dengan Lia di acara pembukaan “Kancakona Kopi”, Sumenep. Beliau membawakan saya biji-biji kopi Prancak yang sudah disangrai dengan menggunakan mesin moedern (roasting) di Sidoarjo. Walhasil, rasanya memang unik, tidak seperti kopi produk perkebunan di Jawa Timur pada umumnya yang saya tahu.

Berikut hasil catatan Lia Zen:

  • Varietas: Arabusta Prancak-Sumenep (dia menggunakan nama ini karena varietas robustanya masih tercampur sedikit biji arabica, kira-kira dari 5 pohon yang ada di kebun Pak Taufik).
  • Varietal: mix
  • Process: wet hull
  • Body: medium – bold
  • Flavor: sugar browning, dark chocolaty aftertaste
  • Aroma: roasted peanut

Adanya kenyataan ini barangkali dapat membuka kemungkinan baru bagi warga Prancak, atau bahkan bagi warga daerah lainnya untuk membuka peluang menanam pohon kopi yang sesuai dengan kontur tanah mereka, bisa jadi itu robusta namun mungkin juga liberica. Tembakau tentu saja tetap ditanam, tapi dengan juga menanam kopi, kebergantungan mereka terhadap tembakau yang notabene sangat membutuhkan banyak air di awal musim tanam, juga akan berkurang.

 

KETERANGAN FOTO:

semua foto oleh Mohammad Badri Zamzam, kecuali foto teratas (foto saya dan bibi), oleh Abdullah Sajjad

 

Iklan

Pekan Ngaji 2: Ngaji Bersama, Maju Bersama

Selasa (malam Rabu), 7 Pebruari 2017, di hadapan santri-santri PP Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Saya berbicara tentang pesantren dan sastra di . Kali itu, saya ditemani oleh Bahauddin Amyasi. Entah sudah yang keberapa kali saya bicara hal serupa di pondok, mungkin yang keenam atau yang ketujuh kali. Akan tetapi, kali ini, momennya berbeda. Ceramah yang saya sampaikan berada dalam rangkaian kegiatan “Pekan Ngaji 2”, berbeda dengan yang sudah-sudah yang merupakan kegiatan tunggal.

Di hadapan mereka,  saya bicara ini-itu seputar sastra, tradisi bersastra di pesantren, tradisi pesantren, kesastraan pesantren, dan hal-hal yang terkait dan dekat dengan tema itu. Para santri begitu antusias mendengarkan. Kalau ditemukan satu-dua yang mengantuk, itu sama sekali tak jadi soal karena acara dimulai memang sudah agak malam, sekira pukul 21.00 dan berakhir dua jam kemudian.

Secara umum, meskipun saya hadir hanya di malam itu dalam rangkaian kegaitan tersebut, serta berdasar atas sumber informasi dari panitia, saya memberikan apresiasi istimewa untuk rangkaian kegiatan Pekan Ngaji 2 ini.  Bagi saya, kegiatan semacam ini akan menjadikan pesantren sebagai salah satu pusat kebudayaan dan penggerak roda pemikiran. Pembangunan mental spritual mestinya turut dipikirkan, atau bahkan didahulukan, daripada sekadar pembangunan fisik untuk asrama, madrasah, dan sejenisnya. Dalam sejarahnya, fasilitas fisikal di pondok, dari dulu, adalah nomor sekian ketika persoalan pengajian, pengajaran, dan pendidikan adalah topik yang utama.

Acara ini pertama kali dilangsungkan tahun lalu, yang merupakan kegiatan tahunan. Pada tahun 2017 ini, Pekan Ngaji menampilkan serangkaian kegiatan beragam, bazar, dan expo. Acaranya didahului oleh lomba debat dan fahmil kitab lalu dilanjutkan dengan serangkaian kegiatan bertajuk “ngaji”, seperti ngaji ubudiyah, ICT, ekologi, membaca, menulis, pemikiran Islam, tasawuf, syariah, politik Islam, sastra, hingga kewirausahaan. Di luar kegiatan ngaji itu, ada pula kegiatan seminar dan bedah buku serta kegiatan berkelanjutan yang dilaksanakan selama beberapa hari, seperti ngaji tibbun nabawi.

 Panitia mengundang pemateri yang berkompeten, dari dari dalam dan luar negeri. Antara lain: Dr. Agus Zainal Arifin, S.Kom., M.Kom; Prof. Dr. Hamam Hadi, M.S.Sc.P, P.Sp.G.K.; Prof. Sutiman Bambang Sumetro, M.SC.,D.Sc.; Prof. Satria Darma (menggagalkan H-2); Prof.Dr. H.M. Amin Syukur, M.A.; Prof.Dr. H. Ahmad Zahro, MA; Dr. Aly Abdoel Moenim, dll. Saya tidak membayangkan, acara yang berlangsung selama sepuluh hari (1-10 Pebruari 2017) ini dipungkasi oleh seminar dan juga orasi oleh Prof. Dr. Syekh Jamal Faruq el-Daqaq dan didahului oleh penampilan bakat (ta’yidul maharah) akan seberapa banyak menghabiskan dana. Maka, untuk keputusan melaksanakan serangkaian kegitan yang banyak menyita tenaga dan dana ini patut diberikan aplaus.

Oleh sebab itu, saya selalu memberikan acung jempol untuk lembaga, seperti sekolah atau madrasah, yang tidak melulu sibuk dengan urusan membangun gedung sementara SDM-nya dibiarkan tidak diurus, tidak diberi pengayaan pengetahuan dan wawasan. Begitu pula, saya lebih suka mendengar kabar jika ada madrasah atau sekolah yang rajin memberikan pengajian, pelatihan, workshop, untuk para guru dan murid daripada habis-habisan mengambil dana sekolah untuk menyambut dan menyanjung satu orang saja dari siswanya yang menang dalam sebuah kompetisi.

Nyatanya, madrasah atau sekolah itu bukan tempat lomba-lombaan, adu-aduan, apalagi yang diadu adalah sesama siswa. Di sana adalah tempat belajar bersama, maju bersama, dan selalu bersama-sama, saling mendukung satu dengan lainnya. Lomba hanyalah pemicu dan penyemangat, jangan sampai dijadikan momen untuk menjatuhkan kawan sendiri. Satu atau dua orang yang menonjol bukanlah jaminan bahwa di sekolah itu punya sistem yang bagus sebab hal itu mungkin dilakukan dengan pengkaderan untuk satu dua orang saja. Akan tetapi, jika hampir semuanya yang maju, maka itulah bukti dan hasil yang diharapkan dari kerja dan sistemnya.

Di masa yang akan datang, saya berharap, kegiatan Pekan Ngaji seperti ini (atau kegiatan serupa) terus berlanjut, menjadi maskot kegiatan. Lebih baik andai diperhatikan oleh yang pantas memperhatikan dan layak memberikan dukungan. Pemerintah atau instansi yang punya dana berlimpah dan kerap menghabiskannya untuk satu-dua orang saja, atau bahkan untuk pesta dan hura-hura saja, sebaiknya sebagiannya disalurkan untuk kegiatan seperti ini. Saya kira, pesantren lain dan lembaga lain dapat meniru dan melakukannya pula. Kiranya, kegiatan semacam inilah yang akan terus menghidupkan dan meneguhkan pondok pesantren bahwa ia merupakan lembaga yang memiliki orientasi baca-tulis kuat sehingga tradisi belajar dan ilmu hidup nyaman di sana.

Pelebaran Jalan dan Penebangan Pohon

Setelah sekian lama tidak pergi ke Sumenep, hari ini saya menjalaninya, menghadiri kegiatan diskusi buku di Perpustakaan Daerah. Tentu saja, saya bahagia karenanya.
Saat masuk Lenteng, saya melihat banyak sisa pokok pohon asam yang baru ditebang.

Meskipun ada sisa basah air hujan di jalan, tapi kegersangan telah membayang di pelupuk. Di Glugur, saya berpapasan dengan beberapa truk besar pengangkut material bahan jalan. ‘Oh, rupanya penebangan itu untuk yang ini, tho’, batin saya. Sepertinya proyek pelebaran jalan akan dilanjutkan, terus ke barat, ke Guluk-Guluk, terus ke Pakong, dan entah ke mana lagi. Maju sedikit lagi, di Torbang, tampak pemandangan lebih ‘maju’: jalan yang mulus dan lebar. Sama seperti tadi, terlihat sisa batang-batang pohon asam raksasa yang mungkin ditanam di era masa penjajahan Belanda itu kini tinggal sehasta saja dari permukaan tanah.

Ketika sampai di kota, di Jl. KH Zainal Arifin yang dulu rimbun, nasib pemandangannya kini sama seperti jalan yang tadi: batang-batang pohon sono kini tak ada lagi.

Selagi duduk di atas balai-balai bambu di depan Perpusda, saya bertanya: Pelebaran jalan ini untuk siapa dan pohon-pohon itu ditebang untuk apa? Tersebutlah TGH Hasanain Juaini. Beliau menghitung, bahwa selama hidupnya, manusia itu butuh sekitar 172 batang pohon untuk dibikin meja, kursi, bangku, rak, bufet, dll. Karenanya, demi kebutuhan itu, wajar jika kita melihat orang menebang pohon. Akan tetapi, wajib kita harus bertanya: Seberapa banyak kita sudah menanam sebagai untuk pohon yang telah ditebang?

Permasalahan dalam pertanyaan di atas sama dengan kasus-kasus sampah di sekitar kita. Jika kita melihat ada anjuran nan saleh yang menyatakan “buanglah sampah ke tempatnya”, kita senang atas kesadaran itu, lebih senang lagi apabila tempat sampahnya memang sudah disediakan, dan akan jauh lebih senang lagi apabila ada orang yang dengan penuh sadar melakukannya. Akan tetapi, harus pula kita berpikir untuk “mempertimbangkan penggunaan barang yang akan segera menjadi sampah”, seperti menggunakan/meminta kantung plastik untuk sesuatu yang bisa dipegang dengan tangan dan masuk ke dalam saku baju.

Dianjurkan menanam pohon hari ini bahkan andaipun kita tahu kiamat bakal datang besok pagi. Disunnahkan memperbagus jalan supaya orang mukmin mudah beribadah dan berbuat kebaikan. Namun, lagi-lagi kita harus bertanya: Siapakah yang pertama kali akan menikmatinya semua itu, mukmin yang akan ke masjid atau kapital yang akan memasang cakar lebih dalam ke dasar bumi?

Saya sadar, pikiran ini tidak akan menghentikan pelebaran jalan, tidak akan menghentikan produksi kendaraan bermotor dan pengerokan tambang serta keberlanjutan penggunaan energi fosil. Juga, pikiran ini tidak akan menumbuhkan batang-batang pohon yang telah ditebang itu kepada keadaan sedia kala. Pikiran ini disampaikan hanya sebagai bukti untuk menunjukkan bagaimana saya (kita) mesti bersikap dan kepada siapa saya (kita) mesti berpihak.

Wawancara dengan Paox Iben

 

Pada tanggal 14 April 2016, saya kedatangan tamu. Paox Iben (dibaca: paok) namanya. Sejauh ini, saya hanya memantaunya di Facebook, terkait kelana motornya keliling pulau-pulau di Indonesia, mulai berangkat dari Lombok, Jogja, Jakarta, Sabang, balik lagi ke Medan, Padang, dan Jakarta, Bogor, terus ke Wonosobo, ke Jogja, dan kini ke Madura.

(Oh, ya, sekadar tambahan informasi, sebelumnya, ada kawan Paox yang bernama Wing Sentot Irawan, juga dari Lombok, yang lebih dulu tiba di sini. Ia menggunakan sepeda bututnya untuk keliling Nusantara. Sentot ini sebelumnya malah sudah pernah keliling ASEAN)

Selama di Guluk-Guluk, Paox mengikuti kegiatan pesantren dan juga kegiatan guru. Ia berbicara tentang Tambora untuk santri, bahkan hingga dua kali sesi. Begitu antusias para santri menanggapi. Pulang dari Guluk-Guluk, rencananya ia akan bertolak melalui pelabuhan Kalianget menuju Jangkar, Situbondo, pada hari Sabtu. Karena menurut laporan Dharma Lautan hari itu tidak ada fery yang beroperasi, maka penyeberangan pun ditunda ke esok harinya. Paox meninggalkan tempat saya pada hari Ahad pagi, 17 April 1016.

Tahun ini, rencananya, ia akan memulai babak baru perjalanan jauhnya: keliling dunia yang tahun kemarin sempat tertunda. Selamat, jaga kesehatan dan selalu berhati-hati. Semoga Allah melindungi.

Berikut wawancara saya dengan Paox Iben:

Apa kabar, Bung? Bagaimana perjalanan hari ini? Jogja-Madura lewat mana, nih?

Baik. Rutenya standar saja: Jogja – Solo – Tawangmangu – Madiun – Nganjuk – Surabaya – Madura

Sungguh saya senang karena Anda bisa tiba di tempat saya untuk yang kedua kali. Apakah Guluk-Guluk termasuk bagian dari agenda perjalanan Anda? Seberapa pentingkah Guluk-Guluk itu dibandingkan tempat lain di dalam peta perjalanan Anda?

Tentu saja saya juga sangat senang bisa sowan. Madura, khususnya Guluk-guluk itu sangat penting bagi perjalanan saya. Sebab bicara Madura, tentu bicara pesantren. Dan Guluk-guluk, Annuqayah, itu sangat penting dan menarik. Secara geografis, letaknya berada di tengah-tengah pulau Madura, tidak persis, tapi setidaknya berada di pedalaman, dikelilingi pegunungan dan lembah. Dalam bayangan saya, itu seperti biara Shaolin hehe… tempat yang nyaman, tenang untuk menimba ilmu kesejatian. Terlebih dua orang sahabat saya sekarang jadi kyai-nya. Jadi saya bisa belajar, syruuppuutt (menyerap) banyak hal, sebab dalam perjalanan, saya juga sering bertemu dengan beberapa komunitas pesantren, sharing cerita, berbagi pengalaman, dll.

Bagi saya, Madura itu juga sangat-sangat penting. Dalam spektrum kebudayaan, Madura itu kan sangat menarik, unik: alam, budaya, sejarah, manusianya. Dalam keseharian, saya banyak bertemu orang Madura. Karya-karya saya juga banyak menyebut Madura. So, kalo bicara keliling Indonesia nggak singgah ke Madura, apa kata dunia? Hehe…

Kalau boleh tahu, apa latar belakang Anda melakukan perjalanan keliling Indonesia?

Katanya kita ini orang Indonesia. Bagaimana kita mengaku Indonesia jika tidak tahu rumah atau kampung sendiri? Nah, problemnya, Indonesia ini kan sangat luas. Kita memiliki 17.000 pulau, 1300an suku, 700 bahasa. Tentu tidak semua tempat bisa kita kunjungi, tapi yah minimal pulau-pulau besarnya dan wilayah-wilayah yang memungkinkan untuk dijangkau.

Saya banyak bergelut di dunia seni, budaya, riset-riset sosial. Saya juga hobi naik motor. Ya, kenapa tidak saya berkeliling Indonesia dengan sepeda motor? Itu jauh lebih realistis daripada menggunakan moda transportasi lainnya. Nah, karena jarak tempuhnya cukup jauh, medannya juga pasti berat, maka saya perlu tunggangan yang menunjang/sesuai dengan kebutuhan. Tidak murah tentu. Karena itu, meskipun cita-cita keliling Indonesia sudah ada sejak zaman mahasiswa, baru sekarang bisa saya wujudkan. Bukan hanya motor yang harganya ratusan juta, tapi juga terkait dengan banyak hal, terutama persiapan mental, jaringan, dan tentu… pendanaan.

Trus keliling Indonesia ngapain aja? Ya, niat tulusnya tentu silaturahmi, karena di mana pun kita pasti akan ketemu manusia, sebangsa, setanah air, saling sapa, saling tegur, saling meng-akrabi, dengan banyak cara tentu saja. Ada yang sebelumnya sudah kita kenal, tetapi tentu akan lebih banyak teman, sahabat, saudara baru. Inilah menariknya. Kita bisa belajar banyak hal, kepada manusianya, alam, budaya dan seterusnya.

Dalam konteks keindonesiaan, hal seperti ini (saling mengunjungi) juga sangat penting, kan? Tanpa pretensi, tanpa konsep yang muluk-muluk, bukan melulu karena pekerjaan. Pokoknya, ya, berkunjung aja. Tanya-tanya, berkenalan, jadilah teman, sahabat, saudara. Saya percaya, Indonesia itu disatukan karena rasa demikian, tulus bersaudara. Itu harus terus ditumbuhkan, dipupuk, dibiakkan dengan banyak cara.

Saya dengar, tahun lalu Anda merencanakan perjalanan antarbenua dengan tema “Tambora Menyapa Dunia”, yakni dengan perjalanan mandiri bersepeda motor keliling dunia, apa rencana tersebut gagal, digagalkan, atau ditunda? Mengapa harus mengusung tema Tambora? Tak adakah tema lain yang lebih mewakili keindonesiaan atau kenusantaraan?

Digagalkan! Dan itu menjadi trauma tersendiri bagi saya. Bayangkan, konsep itu sudah saya susun sejak tahun 2011-2012. Selama 3 tahun saya bersusah payah untuk mewujudkan hal itu, tiba-tiba dihancurkan oleh sekelompok orang.

Awalnya, saya dan beberapa teman ingin menggagas peringatan 200 tahun meletusnya gunung Tambora. Awalnya, ya, hanya festival atau sejenisnya. Lalu ketika saya ke Oman tahun 2012 itu, muncul ide: kenapa nggak sekalian keliling dunia saja? Misalnya, start dari Tambora menuju Gunung Vesivius/Pompei di Itali. Bukankah Tambora sering disebut sebagai Pompeii dari Timur?

Kebetulan nyambung dengan program daerah (NTB), lalu oleh wakil Gubernur saat itu, saya diminta menyusun roadmap kegiatan peringatan 200 tahun Tambora. Semua saya kerjakan tanpa ada yang membiayai, riset, blusukan ke kampung-kampung di sekitar Tambora untuk menyusun apa yang pas untuk kegiatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora. Muncullah ide “Tambora Menyapa Dunia”, disingkat TAMADUN.

Rencananya, satu tahun sebelum puncak peringatan yang jatuh tanggal 10 April 2015, saya sudah akan memulai kampanye berkeliling dunia: bikin pementasan, pemutaran film atau apalah. Program itu disetujui oleh daerah, dianggarkanlah di APBD. Untuk program keliling dunia itu dianggarkan sekitar 350 juta. Saya pun berbunga-bunga dan semakin bersemangat. Saya mulai ngumpulin duit untuk beli motor. Paling terjangkau, ya, cuman Kawasaki Versys. Harganya sekitar 150 jt. Tabungan saya + istri sekitar 80 juta. Sisanya ngutang dulu…

Tema besarnya adalah tentang “katastrofi/kebencanaan”. Ini tentu sangat menarik sebab Indonesia itu negeri “bencana” dan letusan gunung Tambora 200 tahun yang lalu merupakan letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern. Konon, letusannya 13.000 kali bom atom Nagasaki/Hiroshima. Jadi, bisa dibayangkan seperti apa letusannya. Saya pun mulai menulis novel untuk itu.

Selain itu, selama saya jalan, beberapa acara juga tetap bisa dilakukan. Ada EO yang ditunjuk pemerintah untuk itu.

Sebulan sebelum pelaksanaan kegiatan tiba-tiba saya dihajar media, dituduh ‘ingin jalan-jalan pakai uang negara’ lah, itu program ilegal karena DPRD tidak tahu lah, dan seterusnya. Usut punya usut, itu dilakukan oleh Timses Gubernur yang merasa dilangkahi. Kebetulan, waktu itu sedang selesai pemilukada. Gubernur lama terpilih lagi. Saya ‘kan tidak paham dan merasa tidak ada hubungannya dengan politik. Saya juga sangat tahu diri saya ini pendatang. Jadi, saya nggak mau ikut-ikut.

Tapi, bola panas sudah kadung membesar. Pihak Budpar sebagai kuasa anggaran ketakutan, sebab orang-orang ini konon lingkaran dekat gubernur dan merasa sangat berkuasa. Dana itupun tidak jadi dicairkan, tapi isu yang berkembang lain lagi. Saya benar-benar disudutkan, difitnah, seolah-olah sudah terima uang dan tidak berangkat,  padahal saya harus pontang-panting mencari kekurangan dana untuk melunasi motor dan mempersiapan banyak hal.

Saya sangat sakit hati. Sebenarnya program itu sangat bisa saya lakukan tanpa keterlibatan pemerintah, tapi kan sudah terlanjur itu diklaim menjadi acara daerah. Bahkan saya dibilang ‘orang luar’, tahu apa soal Tambora. Baru setelah novel saya terbit (novel berjudul/tema ‘Tambora’), semua pada melongo, tapi saya sudah terlanjur sakit hati dan merasa percuma saya teruskan karena hanya akan memicu konflik yang menghabiskan banyak energi.

Tapi, keinginan saya untuk berkeliling dunia sudah bulat. Saya pun banting stir, cari tema lain. Muncullah ide baru, kenapa tidak mengangkat tema “Bhinneka Tunggal Ika for The World” saja? Start dari Borobudur menuju Berlin.

Untuk persiapan ini, adakah konjen-konjen atau KBRI di luar negeri yang sudah Anda hubungi? Saya pikir, Anda juga perlu menghubungi komunitas masyarakat Indonesia di luar sana.

Tadinya, sewaktu masih mengusung tema “Tambora Menyapa Dunia”, saya sudah berkoordinasi dengan Menteri Pariwisata segala. Saya bikin tim kecil-kecilan, begitu juga teman-teman di luar negeri. Pokoknya, semua kontak dan jaringan harus dimaksimalkan. Lobi-lobi, termasuk kemungkinan sponsor, juga sudah saya upayakan, sebab dana dari NTB itu hanya meng-cover 15%. Sisanya saya cari sendiri, dan semua hancur berantakan gara-gara TAMADUN itu digagalkan. Sponsor tentu lari semua. Panitia/managemen yang saya bentuk kocar-kacir. Bukan hanya dari nol, saya bahkan harus mulai dari minus, tapi saya tetap bersemangat, berusaha sekuat mungkin bangkit dari keterpurukan dan berusaha lebih keras lagi.

Bagaimana persiapan pengurusan visa atau OAV (On Arrival Visa) serta tetek-bengek lainnya? Adakah kawan-kawan di Eropa, misalnya, yang siap membantu?

Ada beberapa kawan yang sudah saya kontak, tapi prinsipnya semua bantuan sangat dibutuhkan, apa pun bentuknya, he, he…

Untuk visa orang sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi izin kendaraan ini yang agak rumit memang. Kita mesti mengurus CDP (Carnet de Passage) yang masing-masing negara beda aturan mainnya.

Jika tidak keberatan, bolehkah saya tahu, apakah dana yang Anda gunakan untuk perjalanan berikut itu sepenuhnya dana pribadi mengingat kebutuhannya sangat besar? Atau dananya langsung mengucur dari Langit di sepanjang jalan?

Dana pribadi seluruhnya? Wahh saya bukan orang kaya atau anak konglomerat, he, he…Tentu saya harus berupaya keras, mencari sponsor, donasi. Dan semua jalan halal akan saya tempuh untuk itu.

Jika tidak keberatan berikutnya, mengapa Anda memilih motor Versys dan bukan motor touring yang lain? (Ini murni pertanyaan saya, bukan bisikan dari dealer Kawasaki)

Sejujurnya karena terpaksa, cuman itu adanya, he, he… Harga moge di Indonesia tidak masuk akal, dan hanya Versys yang terjangkau. Kalau boleh memilih tentu saya akan menggunakan Ducati Multistrada atau BMW 1200Gs, meskipun itu terlalu besar buat body indonesia tapi sudah teruji untuk long trip. Dikelasnya (650cc), hanya Kawasaki Versys yang harganya di bawah 200 juta. Performanya juga lumayan lah.

Dan ini pertanyaan paling cadas, bagaimana keputusan perjalanan ini dibuat bersama istri dan anak-anak, bersama keluarga? Tanpa dukungan mereka, jelas Anda tidak akan melakukannya, bukan? Saya tabik dan solak terhadap Anda, keluarga Anda, istri dan anak-anak Anda, juga semua yang berada di belakang Anda.

Ini juga pertanyaan paling rumit saya jawab. Intinya, dunia saya dan istri ini kan tidak terlalu jauh berbeda. Jadi, sama-sama memahami aktivitas masing-masing. Masalahnya adalah kemampuan kita untuk mengupayakan keinginan itu, jangan sampai mengorbankan keluarga. Itu saja.

Tapi, prakteknya tentu tidak semudah itu. Istri saya bilang setuju, tapi begitu banyak masalah itu juga mempengaruhi hubungan rumah tangga kami. Terutama ketika Program TAMADUN itu dianulir sepihak. Banyak sekali masalah muncul. Hutang menumpuk. Perasaan ditinggalkan/dijauhi orang-orang, apalagi kesannya saya dibenturkan dengan pemerintah daerah. Banyak orang nyinyir dan takut dekat dengan saya. Teman-teman, yang saya anggap dekat dan sebagiannya alumni Jogja, justru mereka yang getol menyerang saya di medsos. Seolah dengan menyerang saya, mereka menjadi bagian dari kelompok yang aman karena melawan musuh pemerintah. Kecuali Kholil (maksudnya TGH. Khalilurrahman Djuaini, pengasuh PP Darul Hikmah, Narmada, Nusa Tenggara Barat), hanya dia yang membela saya. Nggak apa-apa, saya jadi tahu mana kawan sejati dan siapa itu pecundang.

Hampir tiap hari saya berantem sama istri, yang sebelumnya bahkan belum pernah berselisih paham. Sungguh, itu sangat berat bagi kami. Lama-lama masalah itu mulai ter-urai dan menemukan titik temu, terutama karena secara kebetulan karir istri saya mulai bagus, he, he… Jadi, masalahnya sebenarnya cuman soal ekonomi. Karena kemarin banyak hutang, dan jujur terpaksa saya harus menjual warisan keluarga (maaf tidak bisa saya cerita) untuk menutupi hutang-hutang saya, sekarang sudah lunas. Plong. Mulai yang baru lagi, hi, hi, hii..

Kembali ke soal keliling dunia, istri saya sangat sadar bahwa itu adalah bagian dari jalan hidup saya. Jika itu bisa dilakukan, maka ia akan jadi capaian tertinggi dalam hidup kami. Dia bilang justru akan sangat mengecewakan jika saya mundur, atau tidak jadi, itu tidak bagus. Artinya, saya kalah dengan keadaan, sebab anak-anak juga sudah kadung tahu saya akan keliling dunia. Saya harus ngasih contoh yang baik, setidaknya berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Itu juga akan menjadi keteladanan yang baik bagi mereka.

Soal kangen, rindu, itu pasti, tapi sekarang kan sudah zaman teknologi. Komunikasi jadi relatif mudah dilakukan.

Baik, Bung, terima kasih sudah berkunjung kemari. Semoga sehat, hari-hati selalu di jalan. Semoga Tuhan melindungi. Jangan lupa, jaga kesehatan dan jaga pula itu data-data foto dan video supaya tidak hilang sia-sia, ya!

Terimakasih juga. Mohon doa restu dan dukungannya…

Aktor Kawak Khalid Salleh

P1010147Saya dapat tawaran dari Halim HD, seorang networker kebudayaan di Solo: pentas monolog dari seorang aktor gaek Malaysia, Khalid Salleh. Tentu saja saya merasa senang pada kabar ini sebab Halim HD tahu (beliau pernah ke Guluk-Guluk tahun 2008 silam, tempat kami) bahwa kami tidak punya dana cukup untuk mengundang aktor macam dia, buat ongkos saja tak ada. Saya pun mengambil prakesimpulan bahwa pertunjukan ini bersifat ‘percuma’ alias awabiaya. Halim HD pun mengatakannya demikian.

Setelah mendapatkan email, mulailah saya kontak Wak Khalid. Saya perkenalkan profil pesantren dan bagaimana situasi gairah seni di pondok ini. Wak Khalid mafhum dan dia membalas email dengan cepat, memastikan kesiapannya untuk datang demi sebuah pertunjukan. Tak lama kemudian, hari-tanggalnya sudah diterakan: 29 Oktober 2015.

PESAN TANYA: “Tuan, jika Anda datang ke Indonesia hanya untuk satu kali pentas, alangkah sayang. Bagaimana kalau Anda pentas di tempat yang lain pada hari dan tanggal yang berdekatan?”
PESAN JAWAB: “Ya, tidak apa-apa. Suruh mereka kirim surat permohonan.”

Saya tawarkan pentas yang kedua, ternyata gayung bersambut. Penyelenggara diminta mengirim surat permohonan pentas (Eh, yang dimaksud surat permohonan itu adalah proposal; bentuknya hanya selembar kertas yang isinya permohonan untuk kesediaan pentas, itu saja, tidak lebih, tanpa anggaran biaya dan administrasi lainnya). Setelah telepon sana-sini, rangkaian pentas selanjutnya pun pasti: PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Tuan rumahnya adalah Teater Kala, teater kampus yang bernaung di perguruan tingginya, IAINJ.

Pada hari Selasa, 27 Oktober, saya mengirim pesan kepada Wak Khalid untuk memastikan teknis penjemputan, memberikan tips dan cara-cara memilih angkutan dari Bandara Juanda di Surabaya untuk selanjutnya berpindah ke terminal bis di Terminal Purabaya (Bungurasih), sekaligus juga meminta nomor bimbit (ponselnya). Tidak ada tanda-tanda balasan hingga ketika saya cek hari Rabu pagi, ternyata saya mendapati sebuah pesan yang mengabarkan bahwa Khalid Salleh sudah tinggal di sebuah hotel di Sumenep. Astaga, saya kaget. Karena dalam pesan tersebut juga dicantumkan nomor kontak beliau, saya pun segera meneleponnya. Kaget lagi, ternyata Wak Khalid sudah di dalam taksi (angkutan umum). “Saya sudah di dalam taksi menuju Guluk-Guluk,” katanya.

Benar, akhirnya, pukul 11 siang, saya menjumpai beliau di kantor Madrasah Aliyah 1 Annuqayah, bersama Pak Jamaluddin Mohd Nor, temannya, serta Syahirul Aliem, staf MA. Setelah bersalaman, kami saling bercerita dan bertukar kabar. Saya senang sekali kala itu karena perjumpaan yang selama ini hanya melalui sosial media ternyata berakhir dalam pertemuan yang nyata.

* * *

Hari Kamis, 29 Oktober 2015, Khalid Salleh melakukan pentas monolog di aula Madrasah Aliyah 1 Annuqayah. Naskah yang dibawakannya adalah “Jual Ubat”, naskah yang menurutnya paling sering ia bawakan dibandingkan dengan yang satunya, “Pret”. Layaknya penjual obat, seniman kawak ini mengandalkan improvisasinya dalam bertegur sapa dengan penonton yang kebanyakan adalah siswa dan guru. Barangkali karena lokasi pentasnya di pondok pesantren, maka ia pun kutip-kutip ayat Alquran dalam monolognya, sesuai dengan tema yang dibawakannya. Salah satu pesan inti yang disampaikannya adalah persaudaraan seagama, persaudaraan serumpun, dan persaudaraan sebangsa.

Sebelum ia pentas, Teater Kotemang, tampil lebih dulu sebagai upacara sambutan. Mereka bermain alu-aluan, membawa panci bekas yang ditabuh dan tudungnya digunakan sebagai penutup kepala para aktornya. Pentas ini digarap langsung oleh Wail Irsyad, alumni Madrasah Aliyah Annuqayah yang baru saja merampungkan belajarnya di STSI Bandung. P1010152P1010163Sementara KH. Muhammad Shalahuddin, kepala MA Annuqayah, memberikan sambutan dan ucapan terima kasih sekaligus menyerahkan cinderamata kepada Wak Khalid seusai acara.

P1010157Khalid Salleh masih menyisakan waktunya ketika saya ajak bertahan sehari saja untuk melakukan pertunjukan serupa pada malam harinya, yakni pertunjukan untuk santri putri. Maklum, santri putri di sini termasuk SHH (santri haus hiburan). Ia setuju, namun dengan syarat tidak bermalam. Butir ini kami sepakati dan tempat yang ditentukan adalah halaman SMA 3 Annuqayah.

Malam itu, Khalid Salleh tampil kembali di hadapan puluhan santri yang datang dari berbagi komplek pesantren di Annuqayah. Penonton lainnya adalah ibu-ibu guru dan nyai yang duduk di bagian belakang. Ia tidak menggunakan pelantang ataupun pengeras suara lainnya. Tenaga suaranya cukup diterima dengan baik bahkan oleh penonton yang duduk di bagian belakang lapangan. Keadaan ini saya uji langsung dengan cara berdiri beberapa lama di bagian belakang penonton paling buncit.

Anak-anak begitu antusias menonton sampai-sampai mereka tidak sadar pertunjukan telah usai. Monolog satu jam lebih itu terasa sebentar. Penonton tidak beranjak ketika Wak Khalid mengakhiri pertunjukan, bahkan mengira itu juga bagian dari pentas.P1010177

* * *

Di sela-sela makan malam, tak sengaja kami bertukar cerita. Sampailah pembicaraan pada pengalaman saya dalam mengukuti kegiatan PSN di Jambi akhir tahun 2012 lalu. “Loh, saya juga datang ke sana! Mengapa kita tidak bertemu?” kata Wak Khalid. Rupanya, kami memang pernah berada di satu forum namun tidak saling sapa karena memang tidak saling tahu. Takdir bertemu kami adalah di sini, di pondok ini, di Guluk-Guluk, sebuah tempat terpencil yang hanya di Atlas tertentu namanya diterakan.

Malam itu, Wak Khalid pulang. Yoyok yang mengantar dan menjemput. Beliau memang tidak mau diantar dan dijemput. Ia bilang, “Saya sudah tua dan saya mandiri,” tapi saya pastikan, “Untuk kali ini biar kami yang antar dan jemput meskipun sampai hotel saja.”.

Bagian ini merupakan satu pengalaman paling berkesan yang saya alami. Di usia 68 tahun, ia masih sangat kuat. Ia datang sendiri, tanpa perlu jemputan di saat kebanyakan kita yang muda-muda malah sangat rewel. Kadang ada pula di antara kita yang bahkan mengajukan syarat kendaraan penjemputnya harus ini-itu, serta harus makan ini-itu. Wak Khalid tidak perlu ini dan itu.

Sebelum berpisah, ia bilang, “Kalau ada perlu lagi, cukup ‘whatsapp’ saja. Nanti saya datang,” katanya sambil tertawa. “Terima kasih, Tuan,” kata saya sambil bersalaman.

P1010165P1010149

P1010161

Abrasi Pantai, Siapa Peduli?

Saat mengunjungi kawan beberapa tahun yang lalu, sepanjang pantai Slopeng dan Ambunten merupakan pantai yang indah, terkenal berkat bukit pasirnya. Ombak membawa pasir dan menciptakan gundukan besar, mirip bukit. Puncaknya bahkan mencapai pohon kelapa atau siwalan. Dari jauh, kita dapat melihat pohon kelapa atau siwalan serupa sekarjambi karena tidak berbatang (padahal batangnya tertimbun pasir).

Ketika saya berkunjung lagi pada 21 Pebruari 2015 yang lalu, perubahan serius sudah tampak nyata di depan mata. Abrasi yang luar biasa telah merambah hampir seluruh pantai. Bahkan, ada sebagian titik di mana air laut sudah mencapai jalan raya. Plakat larangan menambang pasir memang sudah dipasang, patok semen bertulis BLH juga dipasak di jalan-jalan masuk dengan maksud agar orang yang hendak menambang pasir dengan pikep atau truk itu terhalang. Kenyataannya, beberapa orang penambang bahkan mengeruk pasir justru di balik plakat larangan itu.

Dilarang Menambang Pasir
Patok BLH

Kepada penduduk sekitar saya bertanya, mengapa semua ini terjadi begitu saja?

Yang ditanya tidak menjawab secara pasti. Saya maklum sebab jawabannya pasti sangat sulit. Kata dia, sejatinya bukan hanya instansi pemerintah, bahkan masyarakat setempat telah melarang para penambang itu. Konon, suatu kali bahkan terjadi bentrok. Lantas, mengapa mereka masih tetap melakukannya dan berani menambang di bawah ancaman denda atau sanksi atau penjara? Jelas, orang yang berani melakukan sesuatu, benar atau salah, karena punya kekuatan, baik kekuatan sendiri atau kekuatan besar yang lain di balik kekuatannya.

Jadi, ancaman pengrusakan dan kerusakan lingkungan di Madura itu ternyata serius dan banyak sekali. Ada penambangan pasir, penghancuran batu karst sebagai tandon air, penebangan pohon-pohon asam dan lainnya di sepanjang badan jalan dengan alasan pelebaran, dan banyak lagi. Jika semua pihak sudah tidak berdaya namun juga mungkin tidak peduli, maka yang akan bertindak langsung untuk melakukan ekskusi dan hukaman adalah alam itu sendiri.

Rokat Somber: Air untuk Kehidupan

Gambar

Seperti tahun-tahun yang lalu, kegiatan bersih-bersih sumber (mata air) Somber Daleman dilaksanakan di penghujung musim kemarau. Secara bersama, masyarakat setempat bahu-membahu. Ada yang membawa sabit, cangkul, pacul, juga penganan, kopi, dan nasi.

Hari ini, Jumat 27 Muharram 1436 H atau 21 November 2014, kegiatan bersih-bersih dan rokat sumber air dilangsungkan. Acara berjalan lancar. Di pagi hari, masyarakat datang untuk membersihkan sumber dari celot (lumpur air), juga dan terutama, dari sampah plastik yang ditinggalkan orang-orang yang kurang peduli pada lingkungan atau tanpa pengetahuan tentang bahayanya. Mereka juga membersihkan reranting yang patah hingga bahkan kain koyak dan entah sudah berapa lama mengendap di dasar sumber.

Saya, bersama masyarakat dan juga santri, bersama-sama melakukan kegiatan bersih-bersih ini secara swadaya dan swadana. Sayangnya, tahun lalu tidak ada acara seperti ini. Yang terakhir adalah tahun 2012 lalu. Konon, kata Saiful, salah satu anggota masyarakat, sudah lama tidak ada bersih-bersih sumber sebelum tahun 2012 itu. Menurut informasi dari masyarakat lainnya, sedari dulu, masyarakat senantiasa merawat sumber yang menjadi tempat kehidupan kami ini secara rutin, setiap tahun.

Sepulang shalat Jumat, masyarakat kembali ke sumber. Kami berkumpul di sebuah ‘wakaf’. Yang dimaksud ‘wakaf’ adalah mushalla yang ada sumber. Sebutan wakaf mengacu pada musalla kecil yang biasanya ada di dekat mata air atau bahkan di dekat sawah yang dekat kali/sungai. Di Madura, pemandangan ini tidaklah asing mengingat banyak petani yang shalat di sekitar sawah atau sumber tanpa pulang ke rumah lebih dulu.

Acara setelah Jumat ini adalah selamatan (rokat). Salah satu acara intinya adalah membacakan doa dan tahlil terhadap orang-orang terdahulu, nenek moyang kami, terutama orang-orang yang telah menyedekahkan tanahnya untuk sumber. Adapun pemilik tanah itu antara lain adalah: Pak Sulaiman dan Nyai Nur; Abdurrahman dan Nyai Sokrammi; Pak Mahmud dan Nyai Munira; Keh Ammi dan Nyi Ammi, serta Pak Sarpati dan Bu’ Sarpati.

Somber Daleman memiliki beberapa mata air (sumber) yang dipetakkan menjadi 4 petak. Petak pertama sumber utama; petak kedua untuk wanita; petak ketiga dan kempat untuk pria. Sejak tumbangnya pohon pulai di atas petak keempat, mati pula mata air sumber itu. Sekitar lima tahun yang lalu, terjadi penebangan pohon besar (kaju ojan) yang terletak di atas mata air pertama. Dampaknya terasa dua tahun kemudian dan puncaknya di tahun ini. Saat ini, dilakukan penanaman pohon, seperti sukun dan lain-lain, di sekitar sumber untuk menggantikan pohon-pohon raksasa berusia—saya perkirakan—di atas 100 tahun yang telah tumbang itu.

Selama beberapa tahun terakhir, sepanjang yang saya ingat, baru pada musim kemarau tahun ini Somber Daleman nyaris mengalami kekeringan. Masyarakat dan santri resah, terutama mereka yang hanya mengandalkan air dari sumber. Sebelum acara tahlil dimulai, saya sampaikan sedikit hal tentang air dan kebergantungan manusia terhadap air (Tentang masa depan air di Pulau Madura, saya tulis secara terpisah di blog ini).

Acara ini sejatinya bukanlah sekadar bersih-besih semata. Lebih dari itu, acara rokat sumber merupakan bentuk terima kasih kami kepada para leluhur yang telah mengupayakan sumber air dengan debit yang begitu melimpah. Ini juga merupakan bentuk dan sikap kami kepada alam, kepada sesama, dan tentu saja kepada Allah yang telah menganugerahi kami air melimpah; sesuatu yang tak dapat sedikitk pun kami bayangkan cara membuatnya, juga tidak mampu kami bayangklan andai saja semua itu tiada. Cara bersyukur adalah dengan cara merawatnya.

Foto-Foto Tahun 2012

Penebangan 2009

Foto oleh Abdullah Sajjad

Dahan Pulai yang TumbangPohon PulaiMencari Ikan Sambil Bersih BersihKalau Musim Hujan DatangRokat 2012Membersihkan Sampah PlastikBersih-Bersiih 2012

Rokat Somber Tahun 2014

IMAG0593 Photo1077 Photo1079 Photo1082 Photo1089Photo1088