Semalam di Pulau Raas

Raas.png

Berlayar ke Pulau Raas, Jumat-Sabtu (1-2 Mei 2018) kali ini adalah kali pertama bagi saya, entah bagi anggota rombongan lainnya. Kami agak kerepotan sedikit karena harus berangkat sebelum subuh dari rumah agar “sudah menjadi musafir” pada hari Jumat sehingga kami bisa mengerjakan salat duhur-asar di Pulau saja. Diputuskan: habis sahuran, kami berangkat.

Kabarnya, KM Dharma Kartika yang dikelola oleh Dharma Dwipa Utama (dulu DLU) baru jalan lagi setelah sebulan docking (diperbaiki). “Makanya, penumpang tidak banyak,” kata Zidqi yang menjemput kami, “karena mungkin masih banyak yang tidak tahu kalau hari ini kapal ini berlayar lagi.” Memang betul, Jumat pagi kala itu, tidak banyak penumpang, kecuali mobil barang. Di ruang penumpang bawah, saya hitung kurang dari 10 orang.

Laut tenang di awal Juni. Kapal berangkat molor sedikit dari jadwal: 08.15. Kabarnya, selasa sebelumnya, 29 Mei, angin kencang luar biasa sehingga banyak orang yang mabuk laut. “Bahkan, orang Raas pun bisa mabuk,” kata Wasid memberikan testimoni kehebatan ombak. Beruntung hari ini tidak, bahkan relatif tenang sehingga saya (bersama Om Mamak, Affan, Pak Suyar, dan beberapa santri yang mudik) sudah bisa sandar pada pukul 12.46.

Di Raas, astaga, saya bertemu dengan banyak orang yang sama sekali tidak saya duga sebelumnya kalau mereka berasal dari sana. Di antara mereka adalah Lukman Mahbubi dan Rafli yang notabene murid saya di Madrasah Aliyah Annuqayah. Kebahagian langsung menyemburat pada pertemuan pertama.

Sakala.pngRaas ini adalah pulau yang secara jarak berada di 72 kilometer dari pelabuhan Kalianget. Jauh memang, tapi ingat, Kabupaten Sumenep masih punya Pulau Sakala yang jaraknya 270 km dari Kalianget atau Karamaian yang berjarak kira-kira 250 km.  Apakah Sakala ini adalah pulau yang paling jauh dari daratan kepulauan? Di Sumenep iya, tapi tunggu dulu, di dunia ini adalah Pulau Paskah yang jaraknya 2700 kilometer dari tepi barat Chili, di Amerika Latin sana. Semua jarak di atas menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan yang ini, bukan?

Kami datang ke pulau Raas untuk menghadiri undangan anak-anak muda Generasi Pelajar dan Mahasiswa Raas (GPMR). Mereka mengadakan hajatan Festival Malengseng (sebagian menyebut “manengseng”) dan mengemas salah satu sesi acaranya dengan Ngaji Budaya: “Dari Raas untuk Indonesia”.Terdengar ambisius? Tidak juga. Raas sekarang mulai dikenal luas sejak kucing Bhusok masyhur belakangan ini.

Tak habis pikir saya takjub, ada sekelompok anak muda yang punya itikad untuk melakukan perubahan di pulaunya yang jauh dari kota kabupatennya. Takjub yang kedua adalah karena ketuanya, Sulton, baru lulus SLTA. Lebih takjub lagi dan lagi, acara yang diselenggarakan di halaman MTs/SMK Al-Ittihad tersebut dihadiri oleh Pak Camat Raas dan segenap aparatur negara, lengkap. Mereka anteng mengikuti acara sampai pukul 00.10.

Saya bermalam di kediaman Pak Masdawi Syam, dekat pelabuhan Ketupat, ujung barat Raas (padahal fery yang kami naiki berlabuh di ujung timur, desa Brakas). Jarak yang membentangi pulau adalah 14 km. Sebetulnya, desa ketupat ini ‘terpisah’ dari Raas, sehingga lebih tepat kalau disebut Pulau Ketupat andaikan Anda menggunalkan citra satelit untuk melihatnya. Konon, para sesepuh pulau, dulu, menimbun permukaan laut yang paling dangkal dengan batu-batu karang setelah sebelumnya mengamankannya lebih dulu dengan menanam tenjang (dibaca “ténjhang”; bakau, mangrove) di kanan-kirinya.

Tetangga desa Ketupat adalah Jungkat. Asal penamaan desa Jungkat ini konon berawal dari upaya Adi Rasa, sang pembabat pulau, yang menjunjung kayu besar dan kemudian mengangkatnya untuk dijadikan jembatan: jadilah “jungkat”. Makam beliau ada di desa Kropoh, desa yang berdampingan dengan desa Alasmalang. Adapun pusat administrasi kecamatan ada di desa ujung timur, di Brakas, setelah sebelumnya ada di ujung barat. Dua desa yang lain di pulau itu terletak di sisi selatan: Karang Nangka dan Poteran. Ada beberapa pulau kecil berpenghuni di sekitar Raas (Tonduk dan Guwa-Guwa, Komereyan, Talango Aeng, Talango Tengah). Ada pula Talango Timur dan Saro’ yang sama-sama tak berpenghuni. Nah, kedua pulau ‘nirawak’ ini yang biasanya rawan jadi milik pribadi.

Pelayaran pulang hari ini, Sabtu, 2 Juni, dengan kapal yang sama, Dharma Kartika, sangat menyenangkan dan menenangkan. Pelayaran sungguh ‘licin’ (istilah orang pulau untuk menjelaskan laut yang tenang). Rombongan pulang duluan paginya naik kapal kayu, sementara saya pulang sendirian siang hari naik fery karena masih sempat mikir untuk bermalam lagi. Sayangnya, rencana mengingap lagi tidak jadi karena saya punya jadwal lagi besok malam (Ahad, 3 Juni). Siang itu, lautan benar-benar tanpa gelombang. Para penumpang juga masih tidak terlalu membeludak. Lebaran masih setengah bulan lagi.

20180601_124651-01

foto milik Pangapora

20180601_123435-01

foto milik Pangapora

Maghrib turun saat kapal menyisir sisi selatan pulau Poteran (Talango). Para penumpang berbuka bersama di anjungan, sebagian di kamar. Lampu-lampu sudah menyala di Kalianget. Pelabuhan tak jauh lagi. Suatu saat, saya akan kembali, Raas! Karena tidak mungkin saya menceritakan banyak hal jika ia hanya bersumber dari satu kali kunjungan sehari-semalam.

Sabang – Madura

Perjalanan saya ke Sabang awal Maret lalu dengan cara melakoni jalan darat hingga Madura terlaksana dengan baik. Keinginan ini sudah saya simpan begitu lama. Menghayati keindahan sebagian alam Indonesia melalui setiap tikungannya benar-benar berasa menakjubkan. Sebab itulah, terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan apresiasi, tenaga, pikiran, sumbangan material, dorongan, dan sebagainya.

Berikut adalah rangkuman perjalanan saya. Adapun catatan perjalanan yang lebih rinci untuk setiap babak jalur daratnya sudah saya tulis dan saya terbitkan secara langsung, di Facebook dengan hashtag #sabangmadura. Foto-foto pada posting blog ini bersumber dari kamera yang saya gunakan maupun dari orang lain (mohon izin saya pakai).

HARI KE-1, SABTU, 3 MARET:

Diantar Mundzir pakai Honda Grand ke Prenduan, saya berangkat pukul 23.00 dengan AKAS menuju Surabaya, nyampe pukul 02.30.

HARI KE-2, AHAD, 4 MARET

Makan soto dulu di tempat biasa sambil melihat kesibukan terminal Purabaya, saya berusaha duduk tegak di bangku depot, tidak bersandar, takut ketiduran. Hampir subuh, karena bis Damri tujuan Bandara baru beroperasi pukul 05.00 sedangkan jadwal penerbangan saya pukul 05.30, saya pun berangkat ke Bandara, ngojek dengan ongkos 30.000 (ojek biasa, bukan gojek; saya tidak pakai aplikasi). Habis subuhan di mushalla bandara yang sempit (bandaranya gede amit, mushallanya sak crit-iprit), saya langsung cari pintu 8 untuk boarding, siap masuk ke kabin Batik Air (ID 6401).

Tiba di Jakarta, jatah waktu transit cukup pendek, tapi masih leluasa untuk mengurus penerbangan lanjutan (connecting flight). Maka, pukul 07.45, saya nyambung lagi ke Banda Aceh dengan maskapai yang sama (kodenya ID 6896) dan tiba di BTJ pukul 10.35. Landing sangat halus, mungkin pilotnya bekas pilot pariwisata. Namanya Kapten Damar kalau saya tak salah dengar.

Saya dijemput oleh Ananda Ampon. Orang ini tidak pernah jumpa dengan saya. Kami hanya berteman di Facebook. Kami diperkenalkan oleh Mas Fatur. Dia datang dan saya langsung menyebut nama tujuan: warung kopi kesohor. Dia ajak saya ke kontrakannya sebentar, lalu bawa saya ke Solong. Saat itu, saya juga janjian dengan Nazar. Orang ini malah sudah lama kami saling kenal. Saat saya minta petunjuk arah sama si Ampon dan bilang bakal ada satu teman saya yang juga mau bergabung. Saya jelaskan sama Ampon bahwa teman saya itu pendiri sekaligus vokalis band “Apache 13”. Dia kaget karena saya kenal dia. Saya ikut-ikutan kaget karena ternyata Nazar sekarang sudah jadi artis, sama sekali saya tidak menyangka. Ketika bertemu, kami kaget berjamaah karena ternyata bisa bertemu sungguhan, hanya diperantarai oleh kupi-kupi di atas meja..

Sorenya, pukul 16.00, kami nyeberang ke Pulau Weh, Sabang. Rencana ini bersifat dadakan karena Ampon bilang ada kerjaan sama Mas Uhib. Jadi, sore itu kami pergi bertiga. Rancangan awal perjalanan adalah pergi sendirian, esoknya, Senin, 5 Maret 2018. (Intinya, saya harus sudah berangkat ke Medan pada malam Selasa, itu kata kuncinya).

Kami naik ferry cepat Express Bahari. Ongkosnya 80.000 per gundul. Jaraknya 30,5 km yang  ditempuh 45 menit. Bisa dibayangkan kecepatan ferry ini, atau gunakan hitung-hitungan kalau mau tahu angka spido yang pasti.

HARI KE-3, SENIN 5 MARET:

Saya masih ada di penginapan sampai pukul 10.00. Agak rugi juga kalau cuma ngendon di situ, pikir saya. Tetapi, saya juga tidak bisa ngapa-ngapain kerena dua orang sahabat baru saya ini sepertinya masih punya urusan serius dengan bantal dan kasur. Saya biarin, tapi saya tidak ikut-ikutan. Untuk apa jauh-jauh pergi ke Sabang jika hanya untuk tidur?

Siang kami balik ke Pelabuhan Balohan. Gara-gara keasyikan ngopi di pelabuhan, menu kopi saring (kupi tarik) yang rasanya memikat, sampai-sampai kami yang menunggu lebih dari satu jam untuk kapal cepat yang terjadwal berangkat pukul 14.30 itu pun berakhir ‘tragis’. Kami terlewat. Kami berlari ke pelabuhan dan ferry ternyata sudah berangkat. Akhirnya, kami balik lagi, duduk lagi, ngopi lagi. Nasib kami sama seperti kemarin: dapat kapal yang terakhir. Coba saja ketinggalan lagi, pasti kami sudah menginap di Pulau Weh ini. Tentunya, jika hal ini terjadi, seluruh rancangan perjalanan akan berubah.

Dari pelabuhan Ulee Lheu (Banda Aceh), saya mampir sebentar di rumah paman Ampon. Dia ada urusan katanya. Sebentar kemudian, saya menuju ke Landom. Kami janjian dengan Fauzan. Untungnya, Fauzan ngontak kawannya yang ternyata juga merupakan kawan saya yang lain, Azahari Aiyub. Di antara waktu yang tidak lama itu, kami ngobrol banyak hal, mulai dari tradisi ngopi, ketaatan menjalakan syariah warga Aceh sejak sebelum diperda-perdakan, serta kegiatan kami bertiga selama ini.

Ananda Ampon lantas pergi entah ke mana. Kami janjian ketemu lagi bakda isya, di kedai kopi El Commandante, depan Terminal Batoh. Sementara saya memasrahkan diri kepada Fauzan agar setelah azan maghrib, saya diumpan ke Masjid Raya Banda Aceh, Masjid Baiturrahman, dan setelah itu agar mengumpannya lagi ke terminal. Semua itu dieksekusi dengan baik. Maka, malam itu, perjalanan darat naik bis yang saya taksir akan menempuh 3800 kilometer sampai rumah ini pun dimulai.

Saya melakukan perjalanan naik bis di Pulau Andalas ini ke Medan dengan bis PMTOH.

HARI KE-4 SELASA 6 MARET:

Saya tiba di pool PMTOH di Medan pada pukul 08.39. Tak lama setelah itu, datanglah Iqbal Gobel bersama Fandi, sepupunya. Menyusul setelahnya adalah Frans. Canaka, yang saya hubungi pertama justru datang paling bontot. Belakangan, saya tahu, Canaka berangkat dari tempat yang paling jauh, dari Pelabuhan Belawan: sebuah nama yang sudah lama saya kenal berkat lagu Tommy J. Pisa.

Kumpul semua? Yok berangkat! Dari situ, dengan mobilnya, saya diantar Iqbal ke RM Sinar Pagi, dekat Tugu SIB (Sinar Indonesia Baru), tugu yang tampaknya memiliki sejarah penting bagi pers di Medan.

Di rumah makan, Toni datang. Toni adalah adik Inyak Ridwan. Tumbennya, Toni ternyata kenal dengan Akhyar, calon tuan rumah saya di Bukittinggi besok yang juga belum pernah saya kenal hingga hari ini kecuali di media sosial saja. Habis ngembat soto dan beberapa cemilan, kami lanjut ke pool ALS di Jalan Sisingamangaraja, Km. 6,5. Saya janjian dengan Ayu (dihubungkan oleh Ampon) yang membantu membelikan tiket dan memilihkan armada jurusan Padang. Lagi-lagi, saya juga enggak kenal sama perempuan ini sebelumnya.

Sebelum ke lokasi, kami sempat mampir di Istana Maimun, hanya menunaikan rukun medsos, yaitu foto-foto. Dan saat tiba di pool ALS, tiket saya langsung diserahkan oleh si Ayu.

Pukul 12.00, bis bergerak meninggalkan kota Medan, melewati Tebing Tinggi, Siantar, Toba Samosir, Simalungun, Balige, Siborong-Borong, Sipirok, Pahae, Padang Matinggi, dan Bukit Sikaping. Tibalah kami di Bukittinggi pada pagi Rabu saat matahari sudah tinggi. Cerita lengkap semua perjalanan sudah saya tulis secara langsung tempo hari di Facebook.

HARI KE-5, RABU 7 MARET:

Ada dua orang yang menyambut saya. Namanya Akhyar Fuadi dan satunya Rinal Wahyudi. Keduanya, sama seperti Ampon dan Ayu, tidak saya kenal (kalau Gobel, Canaka, dan Frans, saya kenal duluan, akrab bahkan). Dia lantas mengajak saya pergi ke Ngarai Sianok, ke salah satu panorama indah di Bukittinggi yang gambarnya pertama kali saya lihat di pecahan uang kertas 1000 rupiah zaman dulu, zaman di kala itu nominal sebesar itu cukup buat beli nasi dua piring pakai lauk tahu.

Di bawah ngarai, kami makan “Gulai Itiak Lado Ijau” (karena “adiak” itu adik, jadi “itiak” itu adalah itik. Demikian rumus Bahasa Minang), salah satu kuliner ternama di sana, katanya, sih, begitu. Setelah lihat-lihat pemandangan ngarai dari dalam ngarai, kami ganti melihatnya dari atas, dari tempat melihat yang dikarciskan, satu komplek dengan Lubang Jepang.

Sehabis itu, mereka lantas mengantar saya ke penginapan. Wah! Tak disangka. Saya berharap agar tidur di bilik pondok, kok malah dikasih tempat begini rupa? Lumayan nikmat untuk punggung yang duduk terus-menerus selama 32 jam di atas bis sedari Banda.

Usai ganti baju dan istirahat, kami berangkat ke PP Ashabul Yamin. Saya berbagi pengalaman dengan “adiak-adiak” santri di sana. Mereka kecil-kecil dan imut. Pondoknya tak kalah imut, berada di daerah Lasi Tua, Agam, di kaki Gunung Marapi. Tentu saja, pemandangannya superb: indah nian. Belakangan, saya tahu kalau si Akhyar ini ternyata juga mengajar di sana. Dia pegang kitab “Bidayatul Balaghah” karangan Kiai Sirajuddin Abbas (kenal, kan, sama nama ini? Itu, lho, buku “40 Masalah Agama” yang empat jilid). Pondok ini didirikan oleh salah satu murid Syaikh Sulaiman Ar Rasuli, salah satu pendiri PERTI.

Seusai acara, kami diantar mereka ke Payakumbuh karena saya bilang ingin jumpa sama kawan saya: Iyut Fitra. Sebelumnya, saya diajak melahap makanan berat khas Sumatra Barat di Pangek Situjuah. Restoran ini sangat asri karena berada di tengah pematang sawah, mewah menunya, dan nyaris bersantan semua.

Senang luar biasa ketemu sama Uda Iyut. Betul saya guyon sama beliau tempo hari lewat SMS, bahwa uang buku dia yang saya bantu jualkan tidak akan saya transfer, melainkan akan diantar langsung. Beliau, kala itu, cuma haha-haha karena mengira saya guyon. Ya, saya memang guyon ketika itu, tapi malam itu saya menyeriusinya: mengantar langsung uang tersebut dan menyerahkannya dari tangan ke tangan, di beranda rumahnya.

Sepulang dari Payakumbuah, saya kembali ke Bukit, minum jamu “teh talua” (teh dicampur telur, tapi tidak amis). Saya sempat kaget karena menerima telepon dari rumah. Kabarnya:  anak ketiga sakit (yang kebetulan namanya mirip dengan nama pondok yang saya singgahi, tadi) dan anak keempatnya (yang lagi belajar bicara) selalu nyebut-nyebut saya. Demikian kata mamaknya. Waduh, gawat. Saya galau dan sedih.

Malam itu, saya gelisah, sembari mikir cari cara jalan pulang naik pesawat dari Padang, tapi mau pakai duit siapa? Entah. Untunglah, saya tidur, dan esoknya berita sudah berubah. Beres semua masalah. Alhamdulillah.

HARI KE-6, KAMIS 8 MARET:

Saya tiba di agen PO Yoanda Prima, Jalan Simpang Taluak, Jambu Air, Bukittinggi. Kabar yang saya terima dari agen sungguh langsung bikin mules: bis masih di Solok dalam perjalanan ke Bukittinggi, baru pulang dari Palembang. Wah, mau telat berapa lama ia? Saya tidak tahu, di mana letak Solok karena saya tak bawa GPS dan atlas saya ketinggalan di rumah. Untung, di Medan, tempo hari, Frans kasih saya peta lipat. Itulah bekal utama saya untuk orientasi medan lintas Sumatra.

Bis datang persis setelah saya shalat duhur. Berangkat tak lama setelah itu. Beruntung pula saya bawa sangu nasi bungkus yang dibawakan oleh Akhyar. Saya makan sangu itu di Padang Panjang saat bis parkir sebentar untuk nambah sewa. Akan tetapi, keterlambantan ini dibayar tunai oleh pemandangan dan bentang alam Sumatra Barat yang memikat. Sungguh sulit diceritakan dengan kata-kata, lebih baik dengan foto atau datangi langsung tempatnya saja supaya Anda tidak penasaran. Hampir semua spot yang saya lewati itu indah semua, semuanya.

Masalah muncul ketika bis masuk Muara Bungo, pukul 23.10. Udara suspensinya tidak naik yang artinya mesin kompresornya rusak. Setelah diperbaiki dua jam lebih, ketemulah masalah. Karet klepnya sobek. Untuk darurat, kru bis menggantinya dengan ban dalam. Aman, bis berjalan kembali. Esok paginya, bis kembali bermasalah pada pengatur suhu (AC) kabin, hanya karet kendor, beres dalam hitungan waktu 10 menit. Kru bis sumatraan memang bisa sembari merangkap jadi montir. Mungkin, kalau mereka pindah ke Jawa, sudah layak buka bengkel.

HARI KE-7, JUMAT 9 MARET:

Yang terjadwal sampai di Palembang pagi, eh, kami tiba sore, pukul 14.30. Ya, itu tadi penyebabnya: berangkat telat dan pakai acara mogok, padahal reputasi bis ini sangat bagus. Saya turun di Grand City, main ke rumah Pak Mukhlisin. Perumahan ini milik Ciputra. Tahu sendirilah, kayak apa perumahannya, he, he. Pos satpam-nya saja pakai dua lapis. Melihat tampilan saya yang pakai sarung dan muka kucel, mestinya mereka curiga, tapi ternyata tidak. Mas satpam menyambut baik. Pasti, yakin pasti, Bang Muk sudah kasih “kata sandi” sama mereka soal tamu yang akan datang ini.

Di rumah Pak Muk, saya bertemu Wayan, kawan yang kenal di Surabaya tapi Bali ‘poenya’. Di sana, saya juga janjian dengan kawan sebangku dulu, di IAIN, Walidin Iskandar. Senang sekali mendengar kabar kalau dia kini jadi dosen di IAIN Raden Fatah, Palembang. Saya pinjam emper rumah Bang Muk untuk reunian.

Rencana shalat jumat di Masjid Raya Palembang gagal, istirahat pun gagal. Bagaimana mau istirahat wong waktunya serbamepet. Bertemu dengan orang-orang baik dan menyenangkan itu sesungguhnya merupakan rehat dalam bentuk yang lain, percayalah!

Malamnya, pukul 23.00, saya berangkat menuju Lampung. Saya nebeng bis pariwisata Cahaya Wisata (saya sebut ‘nebeng’ karena Dian–yang saya hubungi sebelumnya–tak mau diganti ongkos). Saya diajak Dian Damar agar pergi bersama. Ada banyak kawan baru malam itu, beberapa kawan Sumatra yang baru saja saya kenal, ya, pas saat itu, beberapa menit sebelum saya bergabung dengan mereka, termasuk dengan Kang Harjo dan Kang Julianto RG (cc-nya besar sekali). Berdasarkan nama, kayaknya mereka ini “pujakesuma”: putra Jawa kelahiran Sumatra. Sungguh, saya merasa, betapa media sosial itu memang modal sosial, tentu saja pengertian ini hanya berlaku bagi yang memahaminya begitu.

Kejutan terjadi di penghujung malam, di ujung “jalan pintas” itu, ketika sudah tinggal selangkah lagi kami mencapai Batukuning, Baturaja, bis terhenti. Dua tronton dan satu trailer terjebak di jalan rusak, selip. Posisinya melintangi jalan. Kami menyerah.

HARI KE-8, SABTU 10 MARET:

Kami (saya, Wayan, Yosa), akhirnya berpisah dengan rombongan. Berat sungguh harus berpisah. Ternyata, perasaan demikian bukan hanya tergambar di dalam lagu-lagu dan video klip saja sedihnya. Pokoknya, saya (dan mungkin kami) harus segera tiba di Sari Ringgung, Lampung, karena tempat itu memang merupakan lokasi acara salah satu tujuan perjalanan, jadi harus segera “gerak”, tak boleh kelamaan “terjebak”. Acaranya siang, sementara pagi itu kami masih berada di area Sumatra Selatan.

Jelang pukul 6 pagi, ada ALS tujuan Medan-Jogja melintas. Kami cegat, numpang, dan selamatlah. Tujuh setengah jam kami bersama bis ini hingga tiba di Masgar, Pesawaran. Mereka berhenti di rumah makan, kita lanjut lagi dengan bis Puspa Jaya menuju Bandar. Selamat lagi, tapi kami sedang kelaparan.

Untungnya, kami ditolong oleh Yuli Nugrahani yang menyambut kami di Bundaran kota, lewat sedikit dari pukul dua siang. Ia membawa kami ke ayam geprek. Kembali selamat, kembali tertolong. Ajaib, pemilik warung (Pak Aji) menggratiskan semua hidangan di meja. Tetangga warung, entah ibu siapa namanya (Yuli pun tidak kenal) turut berbuat kebaikan dengan nyumbang dua piring sate rempelo ati dan sepiring ikan kembung (jazahumullah). Pak Aji bikin kejutan tambahan, ia meminjamkan mobilnya untuk kami supaya cepat tiba ke lokasi.

Hari itu, kami ikut menyaksikan acara jambore nasional bismania community (BMC). Bagi saya, yang terpenting dari acara ini adalah niat silaturrahmi. Ini yang utama, bahkan itulah yang menggerakkan semangat saya dalam menempuh ribuan kilometer. Soal foto-foto dan lainnya hanyalah “de-el-el”-nya.

Pukul 9 malam, kami pulang. Saya numpang armada kawan-kawan Jakarta Raya, nebeng lagi dan gratis lagi. Mereka menolak ketika saya urun sumbangan. Apa uang saya tidak laku di Sumatra? Saya tidak tahu, kenapa kok selalu begitu. Saya naik PO Haryanto MD-02 yang kebetulan kenal baik sama pengemudinya, Pollo (keluar pelabuhan, saya ganti bis, pindah ke rombongan satunya yang naik PO Panorama). Numpang, sih, numpang, tapi saya dapat “kedudukan” di kursi nomor 1. Mungkin mereka kasihan karena muka saya menyiratkan gurat-gurat kilometer-kilometer mahapanjang dari Kilometer Nol Indonesia di Sabang.

Kejutan belum berakhir, saya ditakdirkan bertemu dengan Rusman dan Maman Bayzuri, teman main masa remaja dulu, di Panjang, di jalan akses ke Bakauheni, pada saat beberapa orang anggota penumpang beli buah tangan dan bis berhenti, parkir berbanjar. Oh, heroik sekali. Kedua kawan tersebut menempuh perjalanan sekitar 3 jam demi salaman dan foto bersama (untung fotonya enggak blur) dan bertemu sekitar 15 menit saja. Alangkah betapanya!

HARI KE-9, AHAD 11 MARET:

Masuk ferry pukul 02.30 di Bakauheni, kami tiba di Merak pukul 06.00. Subuhannya berlangsung di atas KMP Sebuku. Inilah pengalaman pertama saya naik ferry bertingkat; dua lantai untuk mobil dan lantai atas untuk penumpang. Mengharukan karena di atas ferry itu dikumandangkan azan dan lengkap dengan shalat subuh berjamaahnya. Sumatra memang istimewa. Sejak saya berangkat, tidak satu shalat pun terlewat, terutama subuh yang kalau di Jawa itu bis-bisnya pada ngelibas semua (satu dua saja yang mau berhenti dan mempersilakan penumpangnya untuk menunaikannya). Sejauh ini, tiga bis Sumatra berbeda PO, selalu mempersilakan penumpang untuk subuhan.

Kami tiba di Cawang, dekat UKI, pukul 9 pagi. Langsung saya isi perut dengan soto yang ditraktir oleh—entah siapa, apa Rully atau Mas Fatur atau siapa. Setelah kenyang, kami bubar. Saya nunut Wagim ke kontrakan Mas Fatur; titip tas di sana dan mandi di kos Rully: suatu teknik agar mereka sama-sama merasa disinggahi.

Saat nunggu bis di Pulo Gebang, saya bertemu lagi dengan kawan lama, Masrur Akhmadi, cowok ganteng dari Purworejo. Ia bersama tiga anak dan satu istrinya. Ia nyangoni saya roti-roti supaya tidak kelaparan, katanya. Karena duhur sudah masuk dan bis belum datang, saya shalat dulu, dikawal oleh Bimo, petugas dishub di situ yang kebetulan baru akan berteman di Facebook dengan saya beberapa saat sesudahnya. Rasanya, saya seperti kepala terminal yang sedang melakukan sidak kebersihan mushallanya.

Bis datang pukul setengah satu siang lewat sedikit. Rupanya ia datang dalam keadaan sudah membawa penumpang dari Tanjung Priok. Akhirnya, saya pun berangkat setelah dada-dada sama para mas-mas pengantar: Fatur, Moko, Rully, Masrur sekeluarga, juga Bimo. Puji syukur, perjalanan saya dengan Karina bis tingkat ini lancar jaya, tanpa rintangan, sehingga pagi sekali sudah masuk Madura.

Oya, saya naik bis ini secara BDB, ditraktir oleh seseorang yang bergerak di dunia perbisan juga, tapi yang jelas bukan orang-orang di lingkaran Lorena-Karina.

HARI KE-10, SENIN 12 MARET:

Saya turun di masjid Masjid Al-Jihad, Juklanteng, dekat pelabuhan Tanglok, Sampang. Saya langsung subuhan dan kembali berdiri di pinggir jalan.

Tadi, di Masjid Al-Ihsan, Nyiburan, timurnya Lomaer, saya sempat lihat AKAS ASRI sedang parkir. Mungkin mereka mempersilakan para penumpangnya untuk shalat subuh. Dengan asumsi demikian, posisi bis tadi berada di belakang kami. Maka, benar sesuai dugaan, tak lama kemudian, bis itu datang. Saya menggubit. Bis sein kiri, menyisi. Saya pun ikut dan bayar 15.000 untuk tujuan Prenduan.

Walhasil, tibalah saya di rumah menjelang pukul 8 pagi dalam keadaan utuh, baik tubuh maupun barang-barang bawaan. Yang berkurang dan nyaris tidak tersisa hanyalah isi dompet.

Tiga Hari untuk Silaturrahmi

Seringkali, kita berkunjung ke rumah seseorang nun jauh itu karena alasan menghadiri undangan pernikahan dan takziyah. Lainnya adalah kunjungan dalam rangka ini dan itu, seperti bertamu untuk berhutang, menghadiri pertunangan, atau lainnya. Berkunjung hanya semata-hata silaturrahmi, yaitu pergi berkunjung karena memang ingin berkunjung, sudah mulai jarang dilakukan. Maklum, orang-orang pada sibuk sekarang.

Maka, beruntung sekali saya manakala mendapatkan undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan Om Ahmadul Faqih Mahfudz (dengan istrinya, Astri Nihayah) di kediamannya, di Bali. Meskipun kunjungan yang pertama ini bukan kategori “semata-mata silaturrahmi” melainkan “silaturrahmi dalam rangka”, tak apalah. Tanpa undangan ini, belum terbayang saya akan segera tiba di PP Sunan Kalijaga, Sumberwangi, desa Pemuteran, kecamatan Gerokrak, kabupaten Buleleng tersebut. Mumpung saya memiliki semua syarat silaturrahmi (sehat, sempat, dana), saya tunaikan perjalanan ini.

Ini adalah perjalanan ke Bali untuk yang ketiga kalinya tetapi yang pertama yang ditempuh lewat jalur darat, dari Madura. Karena undangan ini sudah saya terima berbulan-bulan sebelumnya via SMS (dan sekitar sebulan lalu melalui surat), maka jauh hari sebelumya saya sudah mempersiapkan diri untuk perjalanan ini, seperti mengatur jadwal ini dan itu, menabung, dan merencanakan hal-hal lainnya.

Perjalanan ditempuh dengan mobil APV sewaan. Saya ditemani seorang sopir yang kebetulan sepupu dua kali (kakek kami bersaudara), ibu, istri, seorang balita, dan pembantu umum.  Perjalanan dimulai hari Kamis pagi, bertepatan dengan 1 Muharram 1438 atau 21 September 2017. Sebetulnya, yang diundang ke acara itu cuma saya, ibu tidak. Sebab itulah, kira-kira 3 hari sebelum berangkat, lebih dulu saya pamit kepada tuan rumah bahwa saya akan datang bersama Ibu. Ini penting dipermaklumkan karena hukum menghadiri walimah itu wajib dan kita terlarang datang jika memang tidak diundang (tatofful) sebab ia termasuk tindakan terlarang.

Sudah sejak lama, kami—tepatnya Ibu—menyimpan keinginan untuk berkunjung dan beranjangsana, pergi ke beberapa tempat di Jawa, khususnya area Jember dan sekitarnya. Nah, kebetulan sekali saya dapat undangan ke Bali, maka “disekaliankan”-lah: Ibarat sekali ngegas, tiga-lima tujuan terlampaui. Demikian tajuk perjalanan kami kali ini. Tentu saya capek kalau harus menceritakan detil perjalanan karena saya terlau sering menulis yang begini-begini. Saya hanya akan mendata orang dan tempat tujuan yang disambangi, termasuk  dalam rangka walimah, takziyah, dan silaturrahmi.

“Zi, cari warung dulu, kasihan ini Warid,” perintah ibu.

“Wah, bagaimana kalau di Sidoarjo saja?” Saya mengajukan penawaran.

“Jangan, takut terlalu lapar.”

Akhirnya, kami pun membeli nasi di Warung Jawa, depan SPBU Tanah Merah. Namun, ternyata, Warid tak makan juga. Nasinya dibungkus dan hendak dimakan nanti, katanya. Istri saya hanya membeli untuk mendulang anak kami di atas mobil yang berjalan.

Pertama, cicip bakso Cak To di Sidoarjo. Demi bakso, saya tahan perut tetap keroncongan sejak tadi. Di Bangkalan saya pun bertahan tidak makan. Beruntung sekali perjalanan etape perdana ini lancar, baik kala melewati 4 jembatan di Madura yang sedang diperbaiki, maupun saat membelah kepadatan arus lalu lintas di Jalan Kenjeran, sehingga kami tiba di lokasi pada pukul 2 siang, saat lapar-laparnya.

Sejujurnya, rencana ini dadakan. Sebelumnya, Lia Zen, sang pemilik, sudah beberapa kali laga kandang (home) ke rumah saya, pernah mengundang Ibu dan istri main ke sana, bahkan pernah mengundang saya untuk menghadiri acara khitanan putranya. Namun, semua tinggal rencana, tak terlaksana. Saya pikir, inilah saat yang tepat untuk menjalani laga tandangnya (away).

Lokasi tujuan terletak di sebelah barat alun-alun Sidoarjo. Akses ke tempat ini sangat mudah: tinggal keluar dari Tol Perak-Gempol di pintu Keluar-Sidoarjo. Begitu bertemu lampu merah, ambil lajur kiri dan kita bisa langsung masuk ke halamannya. Pulangnya juga begitu, tinggal mengitari bundaran lalu kembali masuk tol. Alhamdulillah, siang itu kami bisa sua dengan Lia Zen, si juragan, pendiri Jungkir Balik, dan salah satu Duta Kopi Indonesia 2016.

Kedua, perjalanan melelahkan sejauh hampir 400-an kilometer di babak pertama ini kami akhiri di Sukorejo. Sempat pula kami makan di sebuah warung di area Pajarakan, sebelah timur kota Probolinggo, dipaksa berhenti karena energi yang diolah dari tenaga pentol tadi tampaknya sudah melorot ke bawah perut. Kami numpang nginap di rumah Mbakyu Aisiyah. Sembari membiarkan istri, ibu, dan anak saya istirahat di sana, saya bertandang ke rumah Mukhlis, ambil bonus silaturrahmi, yang letaknya di barat daya Masjid Asembagus. Ngobrol asyik tanpa tema membuat saya kelupaan hingga akhirnya pulang larut, lewat pukul 2 menjelang pagi.

Sebetulnya, rencana menginap di Sukorejo ini terbilang mendadak, direncanakan sambil jalan. Ia merupakan pengganti rencana sebelumnya, berkunjung ke PP Badridduja di Kraksaan yang gagal karena tuan rumah sedang ada di Malang, padahal rencana ini sudah lama diatur. Entah mengapa, dalam tiga kali rencana, saya gagal terus untuk ketemuan. Yah, mau apa dikata, terima saja, rugi kalau sampai ‘baper’ hanya untuk urusan seperti ini.

Ke Bali, Kembali

SAMSUNG

Nostalgia, fery Pottre Koneng yang dulu biasa kami naiki dalam penyeberangan Ujung-Kamal, sekarang ada di rute Gilimanuk-Ketapang

Ketiga, acara inti, perjalanan ke Bali. Setiap kali saya menginap di rumah kerabat terus berencana pamit sepagi mungkin karena alasan berhemat waktu, nyaris saja selalu gagal. Pasti saya ditahan pergi sebelum sarapkan disiapkan. Satu-dua ada, sih, ada yang memberikan izin karena alasan saya untuk segera pergi masih lebih kuat daripada keinginan tuan rumah untuk memberikan penghormatan. Nah, begitu pula yang terjadi pagi ini. Kebetulan, ini adalah yang pertama bagi ibu: berkunjung ke rumah Mbak Aisiyah. Makanya, ‘upacara kecil’ harus dilakoni semua: ngopi, mandi, makan, dan baru dapat izin pergi.

Setelah menempuh perjalanan hampir 100 menit, kami tiba di Pelabuhan Ketapang lalu masuk kapal pukul 9 WIB. Antri tidak lama, kami masuk ke dermaga. Dalam pada itu, adik saya di Madura, mengirim nomor Mas Taqwim, salah satu saudara jauh saya yang jadi mualim namun sama sekali kami belum pernah berjumpa. Sayangnya, saya tidak mikir itu dulu, sebab datang secepat mungkin dan segera sampai di Bali dalam keadaan tidak terlambat adalah yang paling penting. Ya, saya ingat, ini adalah tujuan utama.

Hamdalah, pagi itu, laut tenang. Antrian juga tidak ada. Dan beruntung kami bawa KTP sebab ternyata ada pemeriksaan di pintu keluar. Pemandangna ini sama sekali berbeda dengan yang saya lihat di dermaga Kamal ataupun di Kalianget. Konon, pemeriksaan identitas dilakukan sejak terjadinya Bom Bali.

Ambil jalur kanan di pintu keluar, mobil mengarah ke Singaraja. Trek yang kami lewati adalah Taman Nasional Bali sisi barat. Jalannya lurus dan bagus. Tidak ada satu pun penampakan rumah penduduk. Hanya barisan kayu-kayu yang berdiri, tidak teratur, dan ujung-ujung atas terkadang tampak saling berangkulan. Beberapa bagian berkontur tanah yang tidak rata yang akan membuat kejutan kecil bagi mobil kecil tapi tidak bakal berasa untuk mobil besar, seperti bis. Baru setelah menempuh perjalanan kira-kira 20 kilometer, tampak ada keramaian. Rupanya, ia akses ke tempat wisata Gili Menjangan.

Hari ini, saya datang ke Bali untuk yang ketiga kali selama 9 tahun terakhir. Sangat beruntung karena hari ini pula saya dapat kesempatan pertama untuk salat Jumat di sana, di lingkungan komunitas Hindu, di desa yang penduduk muslimnya hanya kurang dari 30%. Kami datang tidak langsung ke lokasi karena jam masih menunjuk jelang pukul 12 WITA sedangkan undangan pukul 14.00. Saya ambil bonus dulu, mampir melipir ke rumah Rofiqi dan Kafiyatun (kemenakan mempelai) yang lokasinya kurang lebih 2 km dari lokasi acara.

SAMSUNGRumah mereka tepat berada di pinggir jalan. Ancer-ancernya adalah masjid pertama kalau dari arah Gilimanuk, Masjid Nurul Hikmah namanya, satu komplek dengan lembaga pendidikan Nurul Jadid, Pemuteran. Kabarnya, banyak komunitas “Madura Kepulauan” di sana, seperti yang berasal Sepudi dan Raas, dua pulau di kabupaten Sumenep. Konon, saat ini, desa Pemuteran disulap jadi desa wisata. Unggulannya adalah snorkeling dan diving (entah mengapa terkadang kita merasa minder untuk menggunakan kata ‘menyelam’).

Acara walimah dimulai pukul 14.12 WITA, hanya telat 12 menit dari yang tertera di surat undangan. Salah satu materi acara tasyakuran ini adalah sambutan wali sekaligus pesan-pesan bijak yang disampaikan oleh KH Imam Qusyairi Syam dari Situbondo (Malamnya konon juga begitu. Saya tidak tahu karena langsung pulang setelah acara). Jadi, “acara hiburan”-nya adalah ceramah keagamaan, bukan dangdutan dan/atau lainnya. Penceramahnya juga Kiai Qusyai dan Kiai Kuswaidi. Sungguh, berasa unik acara ini karena berlangsung di Bali.

21617472_1989238631320828_1382044698973462243_n

Foto oleh Misrawi via Ahmadul Faqih

Dalam pada kesempatan siang itu, Kiai Qusyai berpesan, ditujukan terutama kepada kedua mempelai namun sebetulnya layak untuk direnungkan bersama. Pesan beliau, di zaman akhir ini, hal yang mulai jarang adalah adanya “taufiq” (petunjuk dari Allah). Banyak kita lihat, bahkan di kalangan orang Islam sendiri, orang-orang dianugerahi kemampuan, kekayaan, kesehatan, namun semua itu justru digunakan untuk melawan Allah. Ibarat pengemis yang diberi makan, diberi pakaian, diberi pekerjaan, lalu setelah mapan, energinya digunakan untuk membentak-bentak dan menentang sang dermawan. Ibarat pepatah, bagai kacang melupakan tanah.

Beliau mengaku senang karena walimah diberlangsungkan di hari Jumat, hari yang diutamakan di dalam Islam. Dan cara ini, menurutnya, termasuk “sunnah mahjurah”, sunnah-sunnah Nabi yang mulai ditinggalkan. Bagaimana sebuah proses itu bisa terjadi dan berlangsung? Hal itu disebabkan tak lain oleh transformasi nilai-nilai dari leluri leluhur yang dirawat dan dijaga. Kiai Qusyai lalu mengutip qaul Imam Malik dalam pengantar kitab Muwattha’: “Suatu generasi itu tidak akan menjadi baik kecuali mau meneladan lalampan (istilah Kiai Qusyai untuk hal-ihwal, tradisi, dan tindak tanduk leluhur) orangtua mereka”. Kiai Qusyai lantas segera menyusulkan “catatan kaki” bahwa yang dimaksud ‘orangtua’ di sana adalah ayah, mertua, dan guru/kiai.

Saya tidak rajin menghadiri pengajian, tapi merasa harus meluangkan waktu untuk mendengarkan pengajian. Untuk ini, yang dibutuhkan bukan hanya waktu, melainkan juga kerendahhatian, kesabaran, dan kesiapan. Masyarakat sekarang sudah pada pintar, banyak yang tahu, makanya kadang mereka malas duduk di majlis ilmu dan mendengarkan ceramah. Bukankah kita selalu membutuhkan orang lain untuk meniup debu dan jerebu yang masuk ke balik kelopak mata karena tidak bisa meniup sendiri? Penceramah itu sumber jika Anda sedang haus dan juga pengingat jika Anda sudah merasa tahu sebab kita selalu susah untuk mengingatkan diri-sendiri.

Sehabis acara, kami langsung pamit pulang karena masih ada rencana menginap di Glenmore, di rumah sepupu saya. Tinggal satu hari tersisa, Sabtu, untuk menunaikan banyak tugas bersilaturrahmi. Makanya, kami tak bisa bermalam lagi di Bali.

SAMSUNG

Sore menjelang petang itu, kami naik KMP Nusamakmur, beda dengan saat berangkat (KMP Satya Kencana II). Sebelum menyeberang, kami sudah terjalin kontk dengan Mas Taqwim dan beliau meminta kami menyeberang selepas maghrib.

“Bagaimana ini, Bu, kita diminta menyeberang sesudah Maghrib agar bisa bertemu.”

“Aduh, jangan. Lain waktu saja. Aku taku laut gelap,” begitu jawaban dari Ibu dan saya menyampaikannya.

Benar, sore menjelang petang itu, kira-kira pukul 17.00 WITA, kami mulai menyeberang. Laut yang biru dan bersih masih tampak tenang. Namun, situasi berubah saat kapal sudah melewati batas tengah. Tiba-tiba, mobil bergoyang-goyang. Ibu dan istri ketakutan. Mereka tegang, merapal bacaan-bacaan. Saya naik ke dek, berbicara dengan seorang kenek truk.

“Kalau malam nanti, gelombangnya akan makin besar,” kata dia yang mengaku berasal dari Singaraja dan ulang-alik penyeberangan untuk mengangkut kaca.

“Kalau yang tempo hari tenggelam itu di sekitar mana?” tanya saya.

“Di situ,” ia menunjuk, “sudah dekat dermaga.”

Sebetulnya, Mas Taqwim sedang dinas hari ini, hanya saja siang tadi dia turun di Ketapang dan mau naik lagi selepas Maghrib. Karena sudah tidak bisa, maka akhirnya kami memilih bertemu di dermaga Ketapang saja. Saya pun kasih tahu ciri-ciri mobil kami berikut plat nomornya. Singkat cerita, begitu kapal Nusamakmur sandar, kami mendarat dengan selamat pada saat maghrib baru saja turun. Hamdalah, kami bertemu Mas Taqwim dan beliau mempersilakan kami menginap di rumahnya. Kami berterima kasih. “Lain kali, semoga,” kata saya. Pertemuan yang singkat itu tetaplah mengesankan. Kami langsung bergerak menuju Gelnmore dan Mas Taqwim juga segera bersiap naik ke Prathita IV yang baru saja sandar.

21640928_1445282085525210_7417108784790414025_o

foto oleh Taqwim via Nabilah Fayshal

Kurang dari dua jam lamanya kami menempuh perjalanan dari Ketapang ke Glenmore. Lepas Isya barulah kami sampai. Di hari  Jumat ini, hari kedua, kami menunaikan kunjungan keempat, yaitu silaturrahmi ke rumah sepupu sekaligus numpang menginap. Masih begitu, saya ambil bonus, takziyah ke rumah Mugimin, malam itu juga. Rumahnya berada di tengah hutan, namun tak jauh dari PP Majlisus Sa’adah, tempat kami mengingap. Dulu, dia tinggal bersama kami. Kini, dia kembali ke rumahnya dan bekerja sebagai penjaga kebun cokelat milik Perhutani, di Wadung Pal. Beberapa waktu lalu, anaknya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.

Hari terakhir, Sabtu, jatah kami sewa mobil, adalah menuntaskan banyak kunjungan dengan jatah waktu tersedia hanya satu hari saja. Maka dari itu, sepagi mungkin kami sudah berniat meninggalkan lokasi, tapi seperti yang sudah-sudah, nasibnya sama seperti kemarin, tidak segera bisa karena tuan rumah masih menjamu makan.

Baru pukul 07.30 kami bisa bergerak, menembus Mrawan, alas Gumitir, dan tiba di Kertonegoro, sebuah desa sekitar 6 kilometer di selatan Kecamatan Jenggawah, berbatas dengan kecamatan Ambulu. Kunjungan kelima ini adalah takziyah ke mendiang Kiai Nur, menantu Kiai Munir Kemuning, yang wafat 12 hari lalu. Yang menerima kami adalah Abdul Hamid, putranya.

Setelah basa-basi dan seterusnya, ngopi dan seterusnya, makan dan seterusnya, kami izin pulang. Namun, ibu saya ternyata punya rencana tambahan, yaitu pergi ke Cangkring, ke ponpes  Madinatul Ulum. Sungguh tak dinyana, kejutan bertambah. Saya bertemu dengan Imdad Fahmi Azizi yang ternyata merupakan menantu Kiai Lufti, pengasuhnya. Dan ini menjadi kunjungan keenam di hari ketiga.

“Kalau ke Krai, ada jalan pintas?” tanya saya kepada Imdad.

“Ada, Mas.”

“Tolong saya dikasih ancer-ancer.”

“Oh, tidak usah. Biar nanti diantar sampai di jalan itu. Jalannya masih baru aspalnya, bagus.”

Dari Cangkring, seorang santri membimbing kami ke jalan akses dimaksud. Memang, saya tidak yakin kalau saja perjalanan dari Jenggawah ke Krai itu harus kembali dulu ke Mangli, lalu ke Rambipuji, dan menempuh jalan yang biasa. “Pasti ada jalan tembusnya,” firasat saya begitu. Kalau kembali ke Mangli, maka rute ini tidak masuk akal. Mungkin bakal ada sekitar 25 kilometer jarak yang terbuang percuma. Saya memang tidak punya ponsel yang memiliki aplikasi peta digital. Sebab itulah saya harus memanfaatkan “GPS yang lain”, yaitu Gunakan Penduduk Setempat (untuk bertanya).

Sebetulnya, masih ada beberapa kunjungan yang sayangnya tidak dapat dilakukan hari ini. Sudah diputuskan, hari ini adalah hari terakhir kami melakukan perjalanan. Jatah sewa mobil cukup untuk tiga hari saja (Rp 750.000), males kalau nambah sehari lagi dan sewa jadi 1 juta, mending buat subsidi BBM yang ditaksir habis 600.000, kurang lebihnya tak seberapa.

Sementara itu, kami masih “diteror” terus oleh Kak Mustofa yang ada di Kraksaan, semacam “pokoknya harus mampir” dan/atau sejenisnya. Saya bingung karena posisi sudah di Lumajang. Waduh, bagaimana ini?

Sepulang dari Cangkring, kami belok kiri di Jenggawah, mengikuti arah yang tadi kami lalui. Namun, sebelum mencapai Kertonegoro, mobil saya diarahkan ke kanan, menembus jalan kecil namun bagus, yang konon bakal terhubung ke akses Balung. Santri pemandu saya hentikan dan saya beri penjelasan bahwa saya sudah paham jalannya. Dia kembali, kami lanjutkan perjalanan.

Sekitar 10-an kilometer mungkin (saya lupa tidak cek odometer), kami tiba di Balung, sebuah kecamatan di Jember bagian selatan. Lalu, sesuai petunjuk, kami ambil kiri setelah jembatan, ikut jalan ke arah Kasiyan. Di Kasiyan Timur, kami ambil kanan sesuai tengara besar di jalan, menuju  Gumukmas, kanan lagi menuju Kencong, Jombang (ini Jombang yang di Jember, lho, bukan kabupaten yang di sebalah baratnya Mojokerto itu), dan barulah kami tiba di Yosowilangun.

Kami ambil kanan di pertigaan Yoso, mengarah ke Krai, PP Bustanul Ulum. Tujuannya adalah takziyah ke rumah Pamanda Baqis yang putranya wafat tempo hari. Pamanda sedang tidak di rumah, belum pulang dari Makkah. Kami diterima putra beliau yang lain, Ubaid. Paman-paman yang lain sedang tidak di rumah pula, tapi saya sudah berjumpa mereka di Bali, kemarin.

Hari mulai sore ketika kami pamit pulang, pukul 15.40, mengakhiri kunjungan yang ketujuh. Saya tanya-tanya lagi. Kesimpulannya: jalan pintas yang harus ditempuh bukanlah jalan yang tadi, melainkan jalan menuju Kunir. Empat kilometer dari Krai, kami tiba di SMP Kunir, belok kanan, menembus jalan kolektor sejauh 8 km hingga nongol di Tukum/Tekung. Dari situ, nambah lagi 7 km ke arah utara, melewati jalan akses yang relatif baru, hingga alan kami tiba di percabangan Jalan Nasional Lumajang-Jember”, maju lagi sedikit, nembus lagi jalan pintas ke ke arah Klakah supaya kami tidak perlu lewat Wonorejo. Demikianlah, jalan tembus-menembus ini lumayan hemat jarak dan memangkas waktu.

Sedianya, saya masih ingin mampir di Klakah, tapi hari sudah mulai petang. Saya khawatir, acara akan berubah lagi dan skenario perjalanan harus disusun ulang. Kak Mustofa yang di Kraksaan itu sudah telpantelpon melulu.

Setelah melewati Ranuyoso, melintasi perbatasan kabupaten Lumajang-Probolinggo, jalan menurun, perlintasan kereta api, nambah 1 kilometer lagi, tibalah kami di sebuah jalan menikung dan pertigaan Malasan. Menurut panduan kawan Adnan yang pedagang sapi dan biasa masuk ke pelosok desa, kami ambil kanan di sana, ikuti jalan kolektor.

Laksanakan, Ndan!

Di zaman digital ini, kita sudah punya satelit yang dapat mengetahui rute tersingkat. Dengannya, kita bahkan juga tahu kepadatan arus lalu lintas. Kita cukup bertanya kepadanya dan dia akan menjawab lengkap, melebihi yang kita mau. Namun begitu, adanya aplikasi semacam bukan tanpa dampak buruk. Salah satunya keburukannya adalah semakin sedikitnya kesempatan kita untuk berinteraksi dengan sesama manusia. Kata pepatahnya pun sudah berubah, dari “malu bertanya, sesat di jalan” ke “malu bertanya, pakailah GPS”.

Dari Malasan ke Klenang, 10 kilometer jauhnya, kami menyusuri jalan yang bersisian dengan sungai. Jalannya sepi tapi lali lintas padat merayap. Entah memang begitu atau ini karena malam Minggu. Sepertinya, jalan ini dijadikan jalan pintas oleh orang Klakah dan Lumajang yang hendak pergi ke Kraksaan atau Besuki, begitu pula sebaliknya.

Dari Klenang, kami belok kiri, nambah 8 km lagi untuk muncul Gending sehingga kami tiba kembali di “Jalan Nasional Probolinggo-Situbondo”. Dari situlah kami menuju ke arah timur, menuju Kraksaan demi menutup kunjungan yang terakhir, yang kedelapan, di hari ketiga.

Sehabis ngopi-ngopi, makan, istirahat, kami pun pamit pulang. Memang, acara terakhir ini murni silaturrahmi, sebentuk “bayar hutang” saya karena beberapa kali berjanji dan tidak terlaksana.

“Bagaimana, Rid? Masih kuat?” tanya saya ketika semua penumpang sudah masuk ke dalam kabin dan mesin sudah menyala. Warid hanya tersenyum, seperti biasanya.

Selama kamu tidak mengaku lelah, maka saya tidak akan menggantikan nyopir,” kata saya kepada Warid yang dijawab dengan segera memasukkan gigi persneling ke angka satu sehingga Suzuki APV itu bergerak, menimbulkan bunyi tanah berpasir yang terlindas roda-rodanya.

Sempat terlintas dalam pikiran untuk ngopi dulu di kedai kopi Jungkir Balik, Sidoarjo, tapi saya ingat sopir itu, yang mengemudi sesiang penuh dan harus tetap ajeg di belakang stir semalam suntuk. Belum lagi acara mampir di Pondok Pesantren Sidogiri pada pukul 22.40 sekadar untuk mengunjungi Solihin, mengambil naskah majalah dan titip buku, pastilah itu makin menguras tenaganya.

Hanya sesekali melek yang saya lakukan, selebihnya bobo manis di kursi kiri depan seperti seorang juragan. Saya tahu ketika mobil kami lewat Sidotopo; juga saat mengisi BBM di Jalan Kenjeran, juga saat melintasi Suramadu dan melihat kerumunan orang yang rupanya ada kebakaran kabel PLN. Selebihnya saya tidak melihat apa-apa kecuali beberapa saat menjelang tiba di rumah.

Tepat pukul 03.00 pagi, sampailah kami di halaman, pulang kembali dalam keadaan utuh. Semoga perjalanan ini dinilai ibadah karena demi memenuhi undangan walimah, silaturrahmi, juga takziyah. Segera saya ke dapur, bikin kopi, agar tak tertidur sebab hari sudah menjelang Subuh. Dan baru sehirup-dua hirup, berkumandanglah qiraah di masjid jamik, melantunkan 10 ayat terakhir Surah Ali Imron, ayat-ayat yang konon didawamkan oleh Kiai Ilyas, dibaca setelah bangun tidur. Namun, yah, begitulah. Seperti kata Kiai Qusyai kemarin siang, rasanya ia telah menjadi “sunnah mahjurah”, amalan ringan yang berpahala namun mulai dilupa.

 

Mengitari Madura

Hari ini penuh kejutan. Banyak alasan untuk meneguhkan pernyataan dimaksud. Biar saya ceritakan sebagiannya saja.

Perjalanan kali terjadi dalam bentuk, dalam istilah orang Madura, “ter-ater bilis”, yaitu ungkapan untuk menyatakan adanya seseorang (kawan/tamu) yang berkunjung namun setelah pulang, yang dikunjungi malah ikut bersama si tamu. Dan itulah yang sedang saya alami.

Para tamu saya adalah para ‘sesepuh’: Budi, Bemo, Joseph, Rian, dan Pak Mukhlisin. Tiga yang pertama dari Surabaya, Rian dari Jakarta, Pak Mukhlisin dari Palembang. Seperti biasanya, mereka datang dengan judul silaturrahmi. Judul kekiniannya disebut touring. Mereka datang dengan anehnya, saat malam menjelang Subuh, bangun, mandi, makan, dan baru pukul 8 pagi sudah pamit mau pulang. Kok sebentar? Ya, entahlah, sudah begitu tebiat mereka.

Ketika mau berangkat, Rian menyatakan keinginannya untuk menjajal jalur utara  Pulau Madura. Hal ini muncul mungkin karena saya mengajukan dua hal: pertama, adanya perbaikan beberapa jembatan di jalur selatan yang pasti bikin arus tersendat, ditambah hari Sabtu yang dijamin macet ruwet di pasar Tanah Merah; kedua, Rian ingin melihat (sebutan kekiniannya selfie-selfie) air terjun yang katanya unik karena langsung jatuh ke laut, di daerah Ketapang: air terjun Toroan. Maka, meskipun saya bilang rencana itu akan memakan waktu lebih lama sehingga mengancam hangus tiket mereka kalau harus tiba di Gresik sebelum pukul 15.00 karena mau ikut armada PO Gunung Harta, dilakoni juga laga ini.

Mobilitas Orang Madura dan Mempertimbangkan Ulang Jalur Utara

Salah satu bukti bahwa masyarkat Madura memiliki mobilitas yang tinggi adalah terjaminnya transportasi darat selama 24 jam di jalur selatan, terutama bis. Meskipun Kalianget merupakan tujuan akhir (buntu) dan sebagian lagi armada berhenti sampai di kota Sumenep saja, namun bis-bis tetap berjalan setiap waktu, bahkan tengah malam sekalipun. Namun tidak demikian dengan jalur utara, yakni pantura Madura.

Mengapa jalur selatan lebih ramai? Semua kota kabupaten Madura itu terletak di sisi selatan pulau. Itu satu alasannya. Dugaan saya, karena alasan ini pulalah Madoera Stoomtram Maatschappij (MSM), perusahaan keretaapi Hindia Belanda membangun jaringan relnya juga di selatan, 1897.

Menurut laporan Kuntowijoyo, dengan dibangunnya jalur ini, perjalanan dari Sumenep menuju Kamal ‘hanya’ dapat ditempuh 1 hari. Itu artinya, rute ini akan ditempuh lebih lama dengan transportasi lainnya, seperti kuda atau jalan kaki. Di tahun 1929, persaingan bisnis transportasi pemerintah dengan niagawan Cina semakin kentara. Bahkan, jika dibandingan secara persiapan kendaraan (MSM juga mengelola angkutan yang bergerak di atas aspal), masih kalah banyak. Pada 1 Juli 1934, MSM membuka trayek opelet Sumenep-Tamberru dan Kalianget-Pamekasan (Kuntowijoyo, “Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura, 1850-1940”, Ircisod, 2017, hal. 327-334).

Setelah sepur tidak aktif lagi sejak awal 80-an, moda transportasi masyarakat berpindah sepenuhnya kepada transportasi bis dan taksi (Colt, L300, dll). Hingga awal 90-an, beberapa bis masih mengoperasikan trayek Sumenep-Surabaya lewat utara, yakni Pasongsongan, Sotabar, Ketapang, Tanjungbumi, Sepulu, Arosbaya, hingga Bangkalan dan terus ke Kamal. Namun begitu, rute ini akhirnya ditinggalkan di samping karena kelas jalan jalur utara tidak selebar jalan aspal di selatan yang saat ini masuk ketegori  “Jalan Nasional 21”.

Pelita Mas adalah armada bis terakhir yang sebagian rutenya masih menempuh jalur pantura ini di akhir 90-an. Hal ini karena garasi bis berada memang di Pasongsongan, tapi trayeknya tetaplah melewati Sumenep lebih dulu, bukan langsung ke arah barat, menuju Bangkalan dan Kamal. Pelita Mas akhirnya membekukan trayek ini seiiring dengan makin padatnya jalan dan mungkin juga terkait okupansi penumpang. Saat ini, Pelita Mas hanya ngopeni trayek Sumenep-Malang, bersaing dengan DAMRI dan AKAS AG.

Dalam dua tahun terakhir, jalur pantura Madura tampaknya dibereskan kembali. Ruas jalannya diperlebar dan aspalnya diperbarui. Sewaktu kami melintasinya pada 16 September 2017 yang lalu, hampir seluruh ruas jalan sudah bagus. Hanya ada beberapa bagian yang belum diperlebar, terutama di sisi Bangkalan.

Sebelumnya, dalam imajinasi saya, pergi ke Bangkalan lewat pantai utara Madura itu akan menghabiskan selisih jarak dan waktu yang cukup jauh dan lama dibandingkan lewat selatan, jalur yang biasa dilewati. Walhasil, dari data GPS, hingga Junok (Bangkalan), jarak tempuh dari rumah Guluk-Guluk adalah 133 km sedangkan jika lewat selatan hanya 120 km saja. Biasanya, jarak sejati lebih jauh lagi, karena odometer tetap akan menghitung jarak naik-turunnya jalan yang bergantung atas kontur tanah.

Kami menempuh jalan yang mulus, lurus, datar. Kanannya laut, kiri bukit karst. Itulah pemandangan umum di jalur pantura Madura. Pemukiman penduduk tidak sebanyak di selatan. Terkadang, jarak antar-keramaian penduduk relatif jauh. Barangkali, ini pula yang menjadi faktor mengapa transportasi di Madura bagian utara itu tidak sesemarak di jalur selatan.

Akan tetapi, bagi kami yang memang menghindari jalur selatan di kala itu karena adanya rintangan berupa pasar dan perbaikan jembatan, kondisi jalan seperti ini sangat menyenangkan. Rasanya kami sedang melintasi jalan tol di tengah malam, sepi. Bahkan, sejak berangkat dari rumah, tidak ada satupun lampu lalu lintas (lampu merah) kecuali di Arosbaya, itupun pergantiannya sangat cepat karena volume kendaraan yang sedikit.

Sejak Sotabar, jalan mulus membentang ke arah barat. Hanya ada sedikit penyempitan jalan di Sokobana. Begitu pula, jalan kembali sempit dari arah Batulenger ke barat. Sedangkan ruas jalan selepas Tanjungbumi masih menggunakan aspal lama, tidak mulus tapi juga tidak rusak.

Dalam perjalanan kali ini, kami hanya mampir satu kali, yaitu di air terjun Toroan. Acaranya hanya foto-foto, tidak lebih. Oh, ya. Di jalur pantura ini hanya ada sedikit warung makan. Memang, pada umumnya, warung makan di Madura itu banyak, terutama di area Pamekasan dan Sumenep. Masa bukanya pun tidak lama. Yang buka 24 jam apalagi, nyaris tak ada, atau kecuali hanya dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Barangkali, sisa pengaruh petuah orangtua agar tidak suka makan di warung itu masih kuat melekat dalam tradisi masyarakat Madura. Makanya, orang lebih suka makan di rumah daripada makan di warung.

***

Kami mencapai Tangkel sekitar pukul 12.30. Kami lalu makan menu bebek di warung belut. Ya, tulisan ‘belut’-nya sangat gede di luar tapi orang-orang di warung itu ternyata pada makan bebek. Nama warungnya, entah Karomah entah Barokah, saya tidak tahu, mirip-mirip begitu, sih. Warnanya merah muda.

Rombongan ini menolak makan di Sinjay. Saya setuju keputusan ini. Kata saya, “Saya juga suka makan bebek Sinjay asalkan tidak perlu antri saat mau makan dan juga di saat mau membayar.”

Setengan jam kemudian, kami berpisah. Para tamu aneh itu melanjutkan perjalanan menuju Gresik, saya balik kanan, kembali ke Tangkel dengan berjalan kaki karena hanya berjarak kurang lebih 100 meteran dari warung tersebut.

Dan saat saya berdiri di bawah terik siang nan panas untuk menuggu bis melintas, tiba-tiba ada orang memanggil-manggil di seberang jalan. Saya tidak melihatnya, pangling, mungkin karena efek famorgana dan cuaca yang terlampau menyengat. Saya mendekat. Eh, ternyata Ramdan.

“Mau ke mana?” tanyanya.

“Pulang, nunggu bis.”

“Yuk, bareng saya saja. Kami bawa mobil, cuma berdua.”

“Bolehlah,” kata saya dengan cara bayar uang muka menggunakan senyuman.

Maka, akhirnya saya pun bergabung dengan mereka. Sejujurnya, uang saya di dompet memang mepet, yang andai saja saya bayarkan untuk naik patas sampai ke Prenduan, lalu bayar lagi untuk angkutan umum ke rumah, saya taksir hanya akan tersisa 10 ribu atau 15 ribu rupiah saja.

 

Tokoh Utama di Luar Cerita

Ini catatan lama (2012) yang mula-mula saya terbitkan di mailinglist bismania community @ yahoogroups. Saya terbitkan ulang di blog ini karena ini catatan merupakan catatan yang paling sering saya baca sendiri, juga agar teman-teman lain lebih mudah mengaksesnya. Pertama kali saya dengar nama “Mila Sejahtera Dona-Doni” itu dari Bado (Badrus Sholihin). Ia sering ulang-alik tujuan Jember-Jogja, dan salah satunya, ya, dengan armada tua ini. Dia memberikan rekomendasi bis kawak ini setelah pada 16 September 2011 lalu ia pernah berangkat telat dari Probolinggo karena mogok dan harus diperbaiki dulu, namun masih mampu mencapai Solo pukul 6 pagi (6 jam 10 menit). Nah, baru enam bulan berikutnya saya bisa membuktikannya untuk yang pertama kali dan menuliskannya dalam catatan perjalanan (caper) ini.

Menurut Cak No, kernetnya, “Pak Kaji niku (maksudnya sopir Mila Sejahtera Dona-Doni dalam catatan ini) termasuk ajaib! Dia enggak pernah perpal, nyopir terus sejak dulu, bahkan termasuk di saat-saat hari raya… Alhamdulillah sehat terus.”. Sayangnya, armada Mila Sejahtera ini sudah pindah garasi ke AKAS IV Probolinggo per 16 Januari 2015 dan ia beristirahat atau menikmati masa tuanya di sana.

Selamat berlibur, Dona-Doni. Semua kisahmu yang terlanjur ditulis hanya lekat dalam ingatan, sedangkan engkau tidak akan pernah ada lagi di muka bumi ini kecuali sekadar serpihan-serpihan cerita lain yang serupa, yang mirip, namun sesungguhnya tidak pernah sama.

Catatan Perjalanan Jember-Jogjakarta, Sabtu 14 April 2012

11060246_10206660566254388_196350947224755331_n

Dari areal parkir Terminal Tawang Alun, Jember, saya berjalan menuju peron dengan langkah panjang-panjang. Saat itu, jam sudah lewat 5 menit dari titik 8 malam. Itulah jam kencan yang saya sepakati dengan Cak No, kenek Mila Sejahtera, bis yang akan saya naiki menuju Jogja.

Di jalur pemberangkatan paling utara, betul saya melihat ada 2 Mila Sejahtera. Saya lega, tapi sebentar, karena setelah diamati, kedua-duanya bukanlah Mila yang saya cari.

p1010076

Ini patas dan ‘Predator’. Di manakah ‘Dona-Doni’?” terbetik tanya dalam hati.

“Pak, Sampeyan di mana?” Saya menelepon kernet Mila Sejahtera Dona-Doni.

Sepurane, Dik. Saya cuma sampai Probolinggo. Waktunya gak nutut karena tadi malam kena macet di Nganjuk.”

“Terus, bagaimana nasib saya?” Hawa dingin melintas di urat nadi. Rasa ingin hampir pupus untuk pergi.

“Sampeyan naik ‘Shamber’, sama saja kok. Itu bisnya parkir di Jember. Bisnya ada gambar orangnya itu, Dik.”

Malam itu, saya bermaksud pergi ke Jogja dari Jember. Beberapa orang teman menyarankan saya agar ikut Mila Sejahtera ‘Dona-Doni’. Kata si empunya cerita, Dona-Doni jaminan mutu. Artinya, bukan berarti bis tersebut selalu pasti tepat waktu, melainkan jarang berhenti karena punya banyak pelanggan sejati.

Saya diam sejurus, sembari merasakan darah dingin mengalir. Nafas tertahan. Ludah menggetir. Sensasi indah dalam bayangan pun memudar perlahan. Dengan langkah gontai, saya masuk ke kabin Mila Sejahtera ‘Predator’ yang parkir di belakang patas. Sambil memperhatikan keadaan kabin; kursi 2-3 yang masih terawat dan AC dingin yang menyeruak, saya menyandarkan tubuh di kursi yang empuk berpenyangga lengan. Tetapi, suara hati tak dapat dilawan. Hanya semenit saya bertahan di dalam.

Kembali saya menelepon Cak No, kernet Mila yang namanya saya ketahui belakangan. Saya mengeluh sekaligus mengancam, bahwa jika saya tidak bisa ikut bersama ‘Dona-Doni’, maka rencana ke Jogja tak bakal jadi. “Pokoknya, kalau Sampeyan berangkat sebelum saya sampai di Terminal Probolinggo, saya akan langsung ke Surabaya dan lanjut ke Madura dan saya akan gagalkan rencana ke Jogja.”

“Iya, Dik. Iya. Nutut, Dik!”

“Saya kejar Sampeyan sampai Probolinggo, ya! Nutut, enggak? Jam berapa ‘Dona-Doni’ berangkat dari Probolinggo?”

Hasrat ikut ‘Dona-Doni’ tak bisa disembunyikan lagi.

“Jam 10, Dik.”

“Baik.”

Tanpa ba-bi-bu lagi, saya menghampiri seorang lelaki muda berkumis tipis. Dialah pengemudi patas Mila Sejahtera yang parkir di garis pertama.

“Pukul berapa bis ini berangkat?”

“20.45.”

“Saya mau mengejar ‘Dona-Doni’ di Probolinggo. Saya mau ke Jogja. Nutut?”

“Nutut! Saya kenal baik sama sopirnya. Yakin.”

 

* * *

 

Setelah nyaris gagal, saya langsung mendapatkan bonus hiburan, yaitu memperoleh tempat duduk di bagian kiri, saf pertama. Rupanya, penumpang di malam Minggu itu tidak begitu ramai. Bis bermesin Mercedes-Benz lawas dengan nopol N-7514-US tersebut diberangkatkan pada pukul 20.42, tiga menit lebih cepat dari jam yang terjadwal.

Sopir bis langsung pasang tempo tinggi begitu selesai nyeser penumpang di sepanjang pintu keluar terminal Jubung hingga Rambipuji. Selepas kota kecamatan itu, kondektur beranjak dari kursi CD, mulai menarik karcis. Saya menukar selembar tiket dengan uang Rp.22.000. Karena kursi CD telah kosong, saya menggantikan posisinya, duduk di samping pengemudi, bertukar tanya dengan jawab, sambil menyaksikan pendar lampu jalan yang jatuh di atas aspal, memantul dan berkilat, melukis siluet-siluet indah di malam gelap.

“Mercy Prima-nya masih top, Pak,” puji saya, sok akrab.

“Semuanya tergantung perawatan, Mas.”

“Masih ngejoss, ya!”

“Iya, kami sangat menjaga perawatan mesin.”

 

Pukul 21.00: Gambirono.

 

Sepintas, saya melihat Mila Sejahtera ‘Predator’ parkir. Bis yang semula direncanakan untuk saya ikuti ke Jogja sebagai alternatif dari ‘Dona-Doni’ tersebut tampak turun dari aspal. Benarkah? Entahlah. Saya baru meyakininya benar setelah patas yang saya tumpangi ini menepi untuk menurunkan penumpang selepas lampu merah Banyuputih, di depan terminal Minak Koncar, Lumajang. Pada saat itulah, dari sisi kanan, Predator masuk, mendahului.

“Di mana, Dik?” Terdengar suara dari seberang, kernet Dona-doni menelepon.

“Lumajang. Predator barusan nyalip.”

“Iya, saya tunggu, ya. Predator itu mau perpal karena AC-nya macet. Penumpangnya ikut saya.”

Oh, rupanya, firasat saya untuk tidak ikut Predator dari Jember benar adanya karena ujung-ujungnya semua penumpangnya akan dioper ke Dona-Doni, di Probolinggo nanti.

 

* * *

 

22.34: Terminal Bayuangga, Probolinggo.

“Ugh!”

Tak sadar saya mendesah begitu melihat bodi Mila Sejahtera Dona-Doni untuk pertama kali. Mungkin, inilah bis paling jelek di trayeknya, apalagi jika disandingkan dengan armada-armada yang berangkat dari Surabaya, semisal Sumber Group (Sugeng Rahayu, Sumber Selamat, Sumber Kencono) dan Mira. Asap hitam bersemu putih keluar dari cerobong semprong kirinya, menandakan polutan yang melimpah, juga kompresi mesin yang mungkin sudah jauh berkurang dari tenaga maksimalnya. Lalu, tanya saya dalam hati, apakah alasan teman-teman memberikan rekomendasi bis ini dinaiki menuju Jogja? Bodi-nya jelas tidak; AC juga tidak; suspensi jelas tak mungkin; soal mesin apalagi. Lalu, apanya?

Pengalaman pertama! Ya, itu dia alasan yang paling masuk akal.

“Mila tujuan Jogja diberangkatkan…”

Terdengar TOA pengeras suara Terminal Bayuangga berbunyi begitu bis bernopol N-7249-US ini melenggang keluar pada pukul 23.00. Karcis ditukar dengan uang Rp 56.000, coret-Probolinggo dan coret-Jogja. Saat melihat senarai nama 15 kabupaten dan 66 titik perhentian meliputi kecamatan dan desa, saya langsung takjub pada perjuangan bis tua ini, melahap trayek Blambangan-Mataram setiap malam, ya, setiap malam.

Memperhatikan cara memindah gerigi persneling, saya langsung mengambil kesimpulan awal bahwa sopir bis ini adalah sopir senior. Perpindahan percepatannya sangat samar, nyaris tanpa hentakan. Bis berjalan pelan. Kenek yang berdiri di pintu kiri, maupun sopir yang ada di kanan, masing-masing pasang pandangan awas, berharap ada lambaian tangan dari calon penumpang yang menggubit di tepi jalan.

Begitu Mila keluar dari Kota Probolinggo dan terlibat dengan konvoi bis-bis pariwisata yang datang dari arah timur, barangkali dari Bali atau Lombok, saya sempat meragukan kemampuannya. Kenapa cara mengeremnya begini? Ada sentuhan staccato di sana! Patah-patah. Namun, anggapan ini tidak bertahan lama karena ‘Dona-Doni’ segera mengganti ketukan yang lain, seperti seorang arranger yang memainkan modulasi nada pada reffrain.

Lampu sein kanan berkedip cepat. Symphonie Die 9 Pariwisata terlewati. Mila masuk ke jalurnya lagi, lalu menyalip kembali beberapa kendaraan kecil, menyela ke jalur kiri, lantas mendahului patas Akas New Armada, kemudian melesat, menguasai jalan aspal itu sepenuhnya. Mulailah saya berubah pikiran. Sopir ini sedikit gelojoh, suka lahap-melahap; bis di depannya ibarat nasi sesuap, sedangkan kendaraan kecil jadi lauk-pauknya. Sekali menyuap, beberapa lauk-pauk juga harus diembat.

Mencermati gelagat akselerasinya, saya pun mulai menaruh curiga, tidak yakin jikalau komponen mesin bis ini masih standar Hino AK, tak mungkin. Membawa penumpang hampir 80% penuh, akselerasi masih bagus, maka boleh jadi mesin ini sudah dioprek sedemikian rupa. Hal lain yang saya rasakan agak aneh adalah rasio gigi persnelingnya, terutama ke-3 dan ke-4. Pada percepatan tersebut, langkahnya terasa jauh. Ibarat sprinter, napasnya sangat panjang. Ibarat diver, ia mampu lebih lama menyelam.

Paduan suara tangisan anak kecil, gemelatak kaca geser yang tidak lagi rapat, serta bebunyian gedubrak yang riuh-rendah, menciptakan simponi unik di dalam kabin, bumel sebenar-benar bumel. Dan sang sopir tahu bagaimana cara menimpali semua hiruk-pikuk itu, yaitu dengan menderumkan raung mesinnya lebih gahar lagi.

Bis masuk kota Bangil pada paruh malam. Dan hanya beberapa menit kemudian, setelah melewati bundaran Gempol, bis berhenti di sebuah warung makan. Soto Lombok namanya. Semua penumpang dipersilakan turun. Bagi grup Mila Sejahtera, baik yang datang dari Banyuwangi maupun dari Jogja, warung ini merupakan tempat ambil jeda untuk makan dan istirahat. Alasannya mungkin karena posisi Gempol sebagai titik tengah perjalanan dari Banyuwangi ke Jogjakarta, 33 dari 66 kota/kecamatan.

Semua penumpang keluar dari bis, kecuali sopir. Ia masih bertahan di belakang kemudi, mencari-cari sesuatu. Oh, rupanya ia menyalakan rokok. Tempias nyala api koreknya membuat raut wajahnya kelihatan. Saya taksir, usianya 50 tahunan. Seraya mendekat, saya bertanya.

p1010077

“Pak, dahsboard-nya model lama, ya? Ini Hino AK tahun berapa?”

Lelaki gempal dan berkumis itu mungkin sama sekali tidak menyangka ada pertanyaan seperti ini dilontarkan oleh seorang penumpang yang bersarung dan berpeci hitam seperti saya. Dia mengelih, sekilas senyum, lalu melontarkan kata-kata bersemangat.

“Tahun 96, Mas.”

Adanya pemandangan asing yang membuat saya menahan diri untuk mengajukan pertanyaan berikutnya: sebilah keris terpajang di atas pintu sopir. Sambil menukar pandangan dengan tasbih yang digantung di atas spion dan dua cincin yang dikenakannya, saya amati itu semua dengan satu kesimpulan: orang ini bukan sopir biasa.

p1010078

“Tahun 96? Tapi, kok tarikannya saya perhatikan tadi sangat bagus, ya, Pak? Eh, nama Bapak?”

“Saya Paiman, Mas. Iya, bis ini sudah pakai turbo.”

“Hah? Masa? Dipasang sendiri?”

“Iya, dipasang sendiri di bengkel NNR (red: Akas). Saya pakai turbo-nya Mercy karena lebih murah. Namun mesin tidak panas karena juga dipasangi intercooler. Kalau dari Banyuwangi sampai Jogja, paling-paling airnya cuma tekor se-Aqua gelas-an.”

“Apa nggak boros?”

“Saya tombok 10-20 liter setiap kali jalan. Jatah dari perusahaan hanya 220, habisnya 230 liter, bahkan terkadang sampai 240. Tapi, ya, gak apa-apa, Mas. Larinya juga lumayan bagus,” katanya seraya tersenyum.

Saya memilih percaya daripada harus cerewet mengumbar tanya. Lebih dari itu, sejatinya Pak Paiman tadi telah membuktikan omongannya ini di trek Probolinggo-Pasuruan yang notabene merupakan lintasan paling ramai sepanjang jalan dari Probolinggo sampai bundaran Gempol. Akan tetapi, saya berkata dalam hati, “Pembuktian yang sesungguhnya itu nanti, Pak, di trek Mojokerto sampai Jogja, karena di sana Anda akan berhadapan dengan keluarga besar EKA-Mira, juga keluarga Sumber Kencono Group yang terkenal sebagai penguasa jalanannya.”

Kami pun turun bersama-sama. Dia ambil soto, saya pesan kopi. Menemaninya duduk di teras, saya melemparinya satu-dua pertanyaan untuk mengulik informasi. Darinya saya tahu, ia akan naik haji tahun depan. Hati saya berdesir mendengar kabar ini sambil mengingat pernyataan sebelumnya, tentang tombok solar setiap hari. Demi niat suci, rupanya sopir ini masih mampu menabung sisa komisi untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

“Oh, ya? Alhamdulillah jika begitu.”

“Ya, saya akan ke Makkah bersama nyonya. Tadi nyonya yang ngantar saya ke terminal, kok,” katanya sambil melirik rendah. Barangkali dia berharap agar saya menangkap kesan romantis pada intonasi ucapannya. Lagi-lagi saya dibikin tercekat ketika membayangkan kehidupan sopir bis antar-provinsi, seperti dia, dalam menikmati kehidupan rumah tangga bersama istri dan anak-anaknya. Kapankah waktu mereka untuk kumpul bersama? Berapa jam sisa waktu dalam setiap minggu untuk bercengkerama? Rasa kemanusiaan membumbui percakapan kami malam itu: kisah cinta, waktu yang terbatas untuk keluarga, harus bertarung dengan sisi lain kehidupannya, mengais rezeki setiap malam di jalan raya.

Malam itu, selembar halaman dari kitab kehidupan baru saja selesai saya baca. Satir yang getir atau lelucon yang konyol barangkali akan saya temukan di halaman yang lain.

 

* * *

 

“Yang ke Jogja, berangkat, berangkat…!”

Pukul 1 dinihari kurang limabelas menit, Mila Sejahtera bergerak meninggalkan warung Soto Lombok, Gempol. Bis masuk Kejapanan dan mesin dipacu kencang sekali. Jalan arteri itu sepi, membuat pengemudi bebas menginjak pedal gas sesuka hati.

Jalan ini milik kami.

Malam ini milik kami.

Saya menarik ponsel Nokia 6310i dari tas pinggang yang melingkari sarung begitu bis menjejak aspal trek Mojokerto-Jombang: pukul 1 lewat 18 menit.

Menghadang di depan: Restu, Akas Asri pariwisata, dan entah bis apa lagi. Di antara bujuk kantuk untuk berpejam, lelah yang nyaris tidak tertanggungkan, saya bertahan jaga sampai akhirnya tampak ekor bodi Legacy W-7033-UZ, Sumber Selamat. Bis kami mendekat seolah-olah hendak mendahului. Namun, pada sebuah karnaval kendaraan yang beriring rapat, Pak Paiman terkecoh. Mendadak, sebuah mobil Daihatsu Zebra menyela, membuat jarak terpaut makin jauh antara “Sumber” dan “Mila”.

Pak Paiman lagi-lagi menginjak rem secara staccato, patah-patah. Bis bermesin Hino AK namun dengan kaki-kaki hasil modifkasi milik Hino RG ini terangguk-angguk. Beberapa orang penumpang kelihatan terbangun dari kantuk karena tersorong. Semua mata, kini, terarah ke muka.

Saya menduga, Pak Paiman ingin membuktikan kekuatan tenaga mesin bisnya. Namun, pada jalan lurus di Mojoagung, adu kecepatan tetap bertahan 10 meteran. Sumber Selamat tidak menjauh, Mila juga tidak mampu menyusul.

Pemandangan ini terasa aneh bagi saya. Untuk apa dia hendak menguji mesin tua buatan 96-an dengan cara mengejar Hino turbo rilisan 2010/2011? Jangan-jangan, tenaga “turbo” pada Mila Dona-Doni pegangannya ini tidak berada di dalam ruang mesin bersama manifold, melainkan pada pamor dan keluk kerisnya yang ia pajang di atas pintu.

Mila Sejahtera telah mendahului Sumber Selamat yang menyalakan lampu sein kiri untuk menurunkan penumpang. Namun, karena Mila juga bertaruh peruntungan dengan cara nyeser di sekitar stasiun Jombang, wusss, Sumber Selamat kembali memimpin, mengambil alih kesempatan untuk meraup calon penumpang lebih dulu. Maka, di bypass menuju Embong Miring Jombang itu, dua bis berkejaran, tak terelakkan. Lagi-lagi, Mila Dona-Doni terus menguntit di belakang: mengejar seperti mengancam; membuntuti dengan determinasi.

Rasa penasaran saya belum juga pupus, mengapa harus mengejar? Mengapa Mila Sejahtera begitu bergairah untuk menyalip Sumber Selamat? Bukankah jarak tahun produksi kendaraan yang terpaut 15 tahunan sudah cukup rasional untuk mengalah saja? Ya, jikalau Sumber Selamat menggunakan AC dan Mila tidak; jika Sumber taripnya murah dan Mila mahal; jika Sumber bermesin baru dan Mila bermesin lawas; jika jarak antar-kursi Sumber lebih lapang dan Mila sempit, masih adakah yang dapat diandalkan Mila Sejahtera ini untuk itu semua? Ada. Jawabannya adalah kesetiaan penumpang, sisanya adalah reputasi!

Mendekati Gudo, tepatnya tikungan tajam ke arah Kertosono, jarak antara kedua bis semakin mendekat. Dan persis setelah tikungan, Mila berhasil menyalip Sumber 7033 itu, tentu dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, juga dengan gulungan asap di belakangnya. Bertepatan saat dari arah berlawanan, patas Eka sedang diburu Sumber Selamat.

Sembari menaksir lama perjalanan ke muka, saya mendapatkan kesimpulan awal: tidak yakin dapat bersalat Subuh di Janti. Dengan demikian, saya harus mengatur jadwal hendak turun di mana meskipun karcis sudah terlanjur coret-Jogja. Pemberangkatan dari Probolinggo yang sedikit molor karena satu dan lain hal membuat Dona-Doni ini baru melewati Sukomoro, beberapa saat sebelum Kota Nganjuk, pada saat jam menunjuk pukul 02.18.

Kala itu, melalui kaca depan, saya melihat Sugeng Rahayu, nama baru dari keluarga besar Sumber Kencono, sudah kembali menghadang. Saya tidak tahu, jam berapa bis tersebut berangkat dari Surabaya. Yang pasti, bis dengan nopol W-7663-UY itu juga didahului di lampu lalu lintas menjelang kota Nganjuk karena terjebak truk, salah mengambil posisi. Dan setelah melewati kota, sebelum tidur, saya masih sempat melihat Pak Paiman melakukan spekulasi dengan menyalip sekitar 8 kendaraan sekaligus, yang berjalan lambat karena terperangkap di sisi kiri garis panjang dalam tanjakan, selepas palang pintu kereta api. Salah satu yang terjepit di antara karnaval kendaraan itu adalah si cokelat, Mira AC.

Pukul 02.53, Caruban. Mila Sejahtera ambil kanan, lewat Karang Jati.

Inilah salah satu keuntungan hemat waktu bersama Mila Sejahtera (juga Akas tujuan Jogjakarta). Dona-Doni melalui jalan yang biasa dilewati patas Eka dan bis-bis malam, berbeda dengan Mira dan Sumber yang lewat Madiun dan Maospati lebih dulu untuk tembus di Ngawi. Bahkan, Mila bisa lebih hemat waktu ketimbang patas Eka sekalipun karena tidak perlu masuk rumah makan lagi.

Saya mulai merem-melek saat bis masuk di lintasan ini. Bangun pukul 03.06, tampak gapura bertulis Ngawi. Tidur lagi. Buka mata ternyata bis sudah lewat Gontor Putri, Mantingan, pada pukul 03.58. Tidur lagi dan terbangun saat bis masuk terminal Solo, pukul 5 pagi kurang lima menit.

Keluar dari Terminal Tirtonadi, seperti seorang gitaris yang sedang pamer kemahiran guitar solo, Mila Sejahtera Dona-Doni berlari kencang seorang diri. Sinar merah dari timur mulai semburat. Tulu‘ muncul tak akan lama lagi.

“Pak, saya turun di depan,” kata saya setelah berpindah tempat dari kursi penumpang ke kursi CB (kursi kenek).

“Loh?” bukannya Jogja?”

“Nggak jadi, turunkan saya di tempat yang dekat dengan masjid.”

“Wah, tahu begitu tadi saya berhenti di masjid yang enak parkirnya, biar kita berhenti sama-sama.” Ini suara Pak Paiman.

“Nggak apa-apa, Pak. Saya mau ngopi-ngopi dulu. Biar nanti saya ikut bis Solo-an saja.”

Sein kiri. Bis menepi lalu berhenti. Saya turun dan menyeberang jalan, menuju sebuah masjid. Atta’awun namanya.

p1010081

Seusai shalat Subuh di masjid yang terletak di dusun Kaliwingko, Banaran, Delanggu itu, saya duduk di depan sebuah warung, menunggu pagi. Sambil menyaksikan bis-bis malam yang berdatangan dari arah ibu kota, saya menyeruput kopi: menepis pahitnya kufur dengan mencerap manisnya syukur.

FOTO-FOTO TAMBAHAN:

601987_10200616752882831_1682648694_n

Catatan perjalanan di atas ada di buku ini

 

326671_1924757728217_1456130738_o

Mila Sejahtera Dona Doni (tahun 2011, foto oleh Bado Solihin)

mila-sejahtera-donadoni-cikar-nippon

Dona Doni di Probolinggo (foto Juni, 2012)

Kopdar di Gumitir, sewa Big Bird dan Dona Doni (7 April 2013)

Tak sengaja nemu Dona Doni turun mesin di garasi AKAS-MILA Jogja (10 Pebruari 2013)

menunggu-mila-di-soto-lombok

Warung Soto Lombok, Gempol: menunggu Dona Doni (lawas) terakhir kali, 28 Oktober 2014

Menjajal Si Jangkung

Bukan dari Pulo Gebang, bukan pula dari Pulo Gadung, apalagi dari Rawamangun, ini kali pertama saya naik bis dari Cakung menuju ke timur, kali pertama pula saya naik PO. Garuda Mas yang bertujuan akhir di “Cepu”, namun di tiket tertera “Semarang”, padahal saya akan turun di “Pekalongan”.

14813615_120300000701451871_1569755790_n

foto oleh Fathur Rozzaq

p1010069

Bis kelas ekskutif bermesin Mercy ini bertenaga Hulk. Dialah “Si Jangkung” bersasi “osor”, sebuah sebutan ala lidah orang Indonesia untuk tipe “O500R” (1836). Kapasitas mesinnya 12.000cc, hampir dua kali lipat umumnya mesin bis biasa. Meskipun tidak tepat secara harfiah, kalau mau dibandingkan, anggap saja ia setara dengan 14 gelondong mesin Daihatsu “Ceria” yang dijadikan satu.

Bis Cirebon yang saya naiki ini bernomor polisi E7576KB. Pak Alan mengawal di kanan dan Pak Aji di sebelah kiri. Mestinya, ada satu lagi tandem sang pengemudi. Karena beliaunya verval, maka Pak Alan harus menjadi penyerang tunggal pada laga Pantura kali ini.

Bis kami lepas rem tangan pada 14.34, molor lebih 30 menit dari angka 14.00, waktu pemberangkatan yang dijanjikan, padahal saya datang satu jam lebih awal. Beberapa ratus meter setelah tapak ban menjejak aspal, mungkin karena sudah terbiasa, Pak Aji mengeluarkan dan memasukkan sekeping flashdrive ke alat pemutar musik. Apa yang terdengar? Bryan Adam membawakan “Everything I do” samar-samar. Sesudahnya, terdengar suara orang bicara. Rupanya, itu merupakan sambutan dari pihak managemen PO Garuda Mas berikut harapan kepada penumpang, ya, mirip di pesawat-pesawat itu. Sementara lagu selow yang dulu jadi OST-nya film Robin Hood tersebut hanyalah musik latarnya belaka.

Bagaikan sedang duduk di kursi malas sembari menikmati lagu dekade 90-an, mendadak saya merasa disorong dari depan hingga jatuh terjerengkang manakala Pak Aji mengganti musiknya dengan lagu koplo, waduh, kaget saja, sih. Oleh sebab suasana yang berubah tiba-tiba, saya yang duduk tepat di belakang pengemudi, makin berat untuk memusatkan pandangan ke muda karena adanya godaan melirik layar televisi. Kaca bagian atas bis menampakkan proyeksi jalan 150 meter ke depan sedangkan jika melihat ke kaca bawah, jarak pandang saya hanya terbatas 4 meter saja karena terhalang pemisah kaca yang mirip topi golf jika dilihat di luar. Sungguh, saya berada dalam situasi yang tidak puitis.

Saya kira, inilah salah satu PR (pekerjaan rumah) untuk karoseri mobil berkaca ganda. Saya tidak dapat membayangkan bilamana kaca atasnya bertutup gordin atau menggunakan kaca filem supertebal. Jadi, penumpang bisa menghadap ke depan, menatap ke depan, namun tidak dapat melihat apa-apa. Maka, lantas apa bedanya naik bis dengan naik kereta api jika penumpang menghadap ke depan namun hanya dapat melihat ke samping?

Selepas 16.20 di Cikopo, Pak Alan menjalankan bis dengan kecepatan rata, 100 km/jam. Saya turun, duduk sejajar di sampingnya begitu tahu Pak Aji ngandang di belakang.
“Permisi, Pak, numpang duduk,” kata saya.
Pak Alan menoleh dan tersenyum.
p1010072

Duduk di kursi CD, sungkan saya mengajaknya bicara karena saya melihat beliau berdzikir, entah apa yang dibaca. Tampaknya beliau membaca salah satu nama “Asmaul Husna” kalau menilik kecepatan memencet counter nirkarat yang ada di genggaman tangan kanannya.

Beberapa menit berlalu tanpa ada bicara apa-apa. Nah, mungkin karena saya selalu memperhatikan dasbor, Pak Alan akhirnya buka suara, bahkan seolah dia tahu apa yang ada dalam pikiran.

“Mesin ini sudah disegel dari sononya, enggak bisa lebih dari 100 km/jam.”
“Oh, begitu, ya, Pak? Apa tidak bisa ditambah?” susul saya dengan pertanyaan tambahan begitu saya lihat jarum RPM hanya bergerak di kisaran angka 15 x 100 saja, di garis panel berwarna hijau yang artinya eco-drive alias “ngegas ala priyayi”.
“Bisa saja kalau segelnya dilepas.”

Pak Alan sering menetralkan persneling ke nol (N) begitu ada kemacetan seratus-duaratus meter di depan, atau ketika menghadapi jalan landai nan panjang. Kiranya, cara ini mampu menghemat bahan bakar karena pada saat itu gaya dorong bekerja. Saya paham itu, namun yang belum saya pahami adalah kebiasaan beliau yang lain, yaitu menaikkan percepatan di RPM rendah. Memang betul, sih, barangkali karena kapasitas isi silinder mesin yang amat besar ini maka meskipun Pak Alan berlaku demikian, tetap saja laju mobil gede ini bisa gesit bergerak. Kadang, mesin sampai-sampai ‘mengaum’ sebab percepatan terlambat diturunkan sedangkan gas saja yang ditambah. Apakah ini juga termasuk cara berhemat atau sebentuk penyiksaan karena rasio percepatan tidak sebanding dengan putaran mesin (RPM)?

“Sudah lama mengemudi bis, Pak?” Saya memulai berbasa-basi.
“Kerja di Garuda Mas saja saya sudah sejak tahun 80-an, sejak Pak Haryanto masih berpangkat kopral dan jadi penumpang saya hingga sekarang beliau punya perusahaan otobus sendiri dan armadanya pun sangat banyak.”
Sepi sejenak. Saya tidak menanggapi.
“Rezeki memang tidak dapat diduga-duga…” imbuhnya.

Di tol yang sangat panjang itu, ternyata jalan sudah banyak bolong di sana-sini. Baru kali ini saya melihat proyek tol yang sebegitu cepatnya harus diperbaiki. Pertama kali saya melintasi tol Cipali tahun lalu, 4 hari menjelang puasa, tepat di malam peresmian saat pintu tol baru saja dibuka, tepatnya tanggal 14 Juni 2015. Lah, ini kok sudah begitu banyak rusaknya? Apakah truk pengangkut cabe ‘stutjack’ yang selip di dekat pintu keluar Km-137 Cikedung/Cikamurang juga disebabkan oleh faktor jalan yang tidak mulus lagi macam ini?

Saat membayar tol di Km-187 Pintu Palimanan, pukul 17.33, saya melihat Pak Alan menyetorkan uang 120.000. Kata dia, masih harus nambah 55.000 lagi nanti untuk dibayarkan di pintu terakhir: pintu Brebes Timur.

p1010073

14731221_10208559753524684_7381021686643524885_n

foto oleh Ryan Indryan

Bis keluar di pintu Ciperna dan mengarah ke RM Brawijaya yang jaraknya dekat sekali, hanya sekali putar saja. Di sanalah kami beristirahat. Kami mendapatkan layanan makan cuma-cuma. Dan alangkah kaget karena begitu saya turun, ada dua orang yang datang menyambut, Ryan dan Fuad. Duh, senangnya hati ini hari ini mendapatkan teman di mana-mana. Keheranan belum selesai: saya tidak makan di ruang penumpang karena diajak Pak Aji untuk makan di ruang kru, makan sepuasnya dan boleh minta apa saja. Katanya, ia hanya melaksanakan tugas atas permintaan seseorang. Siapa lagi? Apa lagi?

Maka, sesudah makan, saya langsung menjumpai mereka berdua, membicarakan banyak hal dalam waktu yang sangat terbatas, termasuk menyampaikan keinginan saya untuk mampir di Sunan Gunung Jati namun belum kesampaian. Tentu saja, agar mendapatkan waktu lowong untuk ngobrol lebih lama, saya niat shalat jamak ta’khir di Pekalongan saja.

Dengan membawa sekotak martabak manis hadiah dari Fuad, saya naik ke atas bis. Tepat pukul 18.29, kami keluar dari rumah makan. Lampu kabin dinyalakan. Musik lawas diputar. Suara Chrisye, Ebiet, Dian Piesesha, dan penyanyi-penyanyi seangkatan mereka silih berganti menghibur kami.

Bis kembali melaju, menembus nama-nama tempat di antara waktu dan waktu:
19.24 keluar Brebes Timur;
19.40 masuk Tegal Bahari;
19.58 di Suradadi;
20.11 masuk Pemalang;
20.50 tiba di Pekalongan.

Turun dari bis, eh, saya langsung disambut kilatan cahaya dari kamera ponsel sang kawan yang dituju, Dadik Santosa. Itulah salah satu cara baru menyambut tamu.

Memungut Hikmah di Sepanjang Jalan

“Taksi, taksi, taksi…”
“Ojek, ojek,” timpal lainnya.
“Carteran yuk!” sambung berikutnya.

Dua kali saya kalah godaan: kemarin dan tadi malam (niat berangkat Selasa pagi dari Jakarta digoda berangkat siang dengan iming-iming naik SHD O500R dan saya menyerah; niat mampir satu-dua jam di Pekalongan dan saya digoda pergi ziarah ke makam-makam keramat hingga akhirnya semalam saya tertahan di kota itu). Kali ini, saya tak mau godaan tukang ojek ini menimpa saya lagi. Tekad saya sudah mantap untuk mencegat biskota P4 tujuan Tanjung Perak, tapi hati saya langsung meleleh begitu mas Ojek merayu lagi.

“Ayolah, buat tambahan bensin, mau pulang,” kata dia hingga akhirnya kesepakatan diambil pada angka 25.000, di parkiran Stasiun Pasar Turi. Begitu getas keyakinan saya pada angka-angka, tak apalah, asal iman tidak mudah rapuh pada Yang Esa. ‘Masa pukul 10 pagi sudah balik rumah?’ Pertanyaan curiga itu tidak saya ajukan untuk menguji kebenaran ucapan Mas Ojek sebab hanya akan mengurangi nilai-nilai lain yang telah saya sepakati sendiri di dalam hati. Saya mengikutinya.

Setelah pantat saya ngangkang di sadelnya, mas Ojek membawa saya menyelinap di antara rimbun trembesi dan gedung berlantai-lantai, berzig-zag di antara tinggi kotak kontainer dan berisik knalpot. Masuk jalan kecil, keluar, masuk lagi, dan dengan cara itu, kami mencapai pelabuhan Ujung (Tanjung Perak) dalam waktu tidak terlalu lama.

Usai membeli karcis Rp5000, saya mendekat ke bibir dermaga. Bahagia saya melihat nominal tarif penyeberangan yang kini dipaskan, beda dengan dulu yang angkanya tanggung, seperti 3700 yang cenderung disusuk 1000 saja ketika kita menyodorkan uang pecahan 5 ribu; atau bahkan tanpa kembalian jika yang diserahkan adalah 4000. Betapa pungli bisa diberantas jika kita serius tapi juga bekerja dengan mulus karena kesempatan untuk mengekskusinya terbuka lebar.

p1010079Di kejauhan, KMP Jokotole arung selat sendirian, di tengah laut. Terbayang kejayaannya di masa lalu, bagai seorang putri cantik berhati mulai yang diperebutkan banyak pangeran, bahadur, melainkan juga durjana. Kini, ia tak lebih seperti seorang ibu yang dilupakan anak-anaknya, yang hanya sesekali disapa lewat bicara singkat di ponsel dengan keakraban dan kehangatan seluler tapi jauh dari peluk dan dekap tangan yang dialiri darah nan emosional. Ketika fery itu kian dekat, makin tampaklah wajahnya. Ia semakin pucat.

Terpampang banner besar di pelabuhan Ujung, mengumumkan serangkaian kegiatan di Bulan November yang bertujuan mengembalikan kejayaan dan kemeriahan Pelabuhan Kamal. Tertera di sana senarai festival yang akan digalakkan selama lebih sepekan. Apakah Kamal perlu diberdayakan lagi? Diberdayakan untuk apa? Masyarakat sudah terlanjur bangga dan menikmati Jembatan Suramadu dan pelabuhan Kamal perlahan terhapus dari memori bersama. Sesungguhnya, apa yang saya lakukan hari ini, di antaranya, adalah untuk membangkitkan kenangan itu serta kepada mereka yang tersisihkan itu juga bisa berbagi.

Fery ini, yang baru datang dan segera kembali, hanya mengangkut tiga mobil, beberapa puluh sepeda motor, dan mungkin tak sampai seratus orang penumpang. Jembatan diangkat, kapal bertolak menuju Kamal. Mesin menderum dan buih gelombang akibat putaran baling-baling pun bermunculan.

Saya turun dari ruang penumpang kurang semenit sebelum kapal sandar. Saya menghampiri seorang pemuda gondrong yang berdasarkan Honda CB-nya saya duga dia adalah orang yang baik hati. Kepadanya, saya menawarkan amal kebajikan yang ringan tapi sangat bermanfaat: membonceng saya, dari atas kapal ke ujung pintu gerbang.

p1010081“Mas, numpang ngentel (membonceng) sampai gerbang, Mas!”
Memang, intonasi bicara saya tidak seperti orang yang sedang minta izin membonceng, melainkan lebih bersifat pemberitahuan. Karena itu, si pemuda tampak tak punya alasan untuk menolak kecuali hanya mengangguk. Dia membuka kaca helem, tapi tidak tersenyum.
“Panas kalau jalan kaki, Mas, apalagi siang-siang begini,” sambung saya menambahkan penjelasan yang mungkin tidak berguna baginya.

***

p1010082Masjid Baitul Amal, Kamal

Saya bershalat Duhur di sini. Tak lama saya menunggu shalat jamaah didirikan. Adzan baru saja berkumandang sesaat sebelum saya datang, pukul 11.20. Hampir 45 menit saya di masjid. Sesudah itu, saya keluar dari halaman masjid setelah memasukkan uang kas di kotak amal (ingat, arti Baitul Amal itu adalah “tempat amal kebajikan”, bukan “kotak amal”, lho). Saya mengarah ke pangkalan mobil ‘taksi’ yang sedang ngeslah, yang biasanya parkir di sebelah barat masjid, sebab yang ada di dalam terminal adalah ‘taksi’ yang ngetem.

Melihat beberapa taksi Isuzu Elf yang parkir tanpa sopir dan tanpa penumpang, saya memutuskan isi daya dulu dengan memesan semangkok soto. Namun, hingga habis soto dimakan, bahkan hingga saya harus memesan kopi saset untuk menunda waktu menunggu, belum tampak pula tanda-tanda mobil ini akan menemukan penumpang. Ah, alangkah banyak waktu berubah, di mana dulu Kamal sangat ramai dan penumpang begitu banyak dan kini sebaliknya. Suramadu memang memudahkan banyak orang untuk bepergian tapi juga ‘membunuh’ banyak toko dan lapangan pekerjaan.

“Mau ke timur?”
Aduh, kaget, mendadak ada kepala melongok ke balik tenda warung tempat saya duduk.
“Iya.”
“Mari.”

Ketika saya melangkah, mengikuti pak sopir yang barusan mengajak, terdengar beberapa kali bunyi klakson di belakang. Intervalnya tidak jelas. Saya membuat kesimpulan: ini bukan bunyi biasa, melainkan morse. Ada ide jahat di balik bunyi ini. Saya tidak menoleh karena khawatir akan tergoda untuk kesekian kali, khawatir selingkuh, yaitu berpindah ke lain ‘taksi’. Sandi bebunyian itu adalah kodenya. Ketahuilah! Selingkuh itu terjadi bukan hanya disebabkan oleh lemahnya benteng pribadi, namun juga oleh gencarnya godaan pihak ketiga yang bertubi-tubi. Catat! Rumus itu juga berlaku di angkutan antarkota semacam ini.

Begitu saya naik dan duduk di bangku depan serta seorang penumpang lagi masuk ke bangku tengah, sopir langsung menjalankan mobil. Benar, mobil yang barusan membunyikan tuter itu langsung menyalip, yakin pasti ia ingin merebut remah-remah kue penumpang, sekerumun orang yang hendak pulang dari pasar Kamal, 100 meter di hadapan kami.

Ganika kaula tak lebura, pas arebbu’ penumpang. Molaen gella’ nengenneng. Ding kaula mangkat, pas mangkat keya ajung dalluwan...” kata sopir kami sambil menjalankan mobil pelan-pelan.

Adapun maksud ucapannya, andai Anda duduk di posisi saya dan Anda tidak mengerti Bahasa Madura, sudah terjelaskan pada tatapannya yang lurus ke depan, tapi kosong, seperti kabinnya yang hanya berisi dua orang penumpang. Siang itu ia gagal menambah rezeki penumpang yang sebelumnya ia duga sudah berdiri di tepi jalan untuk mencegat mobilnya yang datang dari arah selatan. Pasalnya adalah karena ia baru saja ditelikung oleh mobil pesaingnya, mobil yang semula parkir di belakangnya. Begitulah kira-kira kenyataan pahit di tengah cuaca siang yang cetar panasnya.

Mobil bergerak tidak serius ke arah utara, menempuh ruas jalan Bangkalan-Kamal yang mulus namun tidak seramai dulu lagi. Lajunya males-malesan. Beruntung, setelah ngetem di Junok, mobil kami mendapatkan banyak penumpang baru. Mobil berjalan lagi dan kami mencapai Torjun pada waktu ashar, 14.28 lalu tiba di Pamekasan satu jam kemudian, 15.30.

Kaget sekali ternyata saya ditarik ongkos hanya 15.000, kirain 20 atau 25 ribu, murah sekali. Saingan antar-angkutan kadang membuat tarif tidak ada patokan. Dalam bentuk kecil, tidak adanya campur tangan pemerintah dalam menyelesaikan masalah semacam ini dapat memicu terjadinya persaingan dan pertarungan yang menyakitkan. Hukum rimba tarif pun berlaku. Berkebalikan dengan hal itu, di bandara, DAMRI dapat memasang tarif 25.000 untuk jarak yang sangat dekat karena di sana ia adalah raksasa di antara kurcaci-kurcaci tak berdaya.

Sembari menunggu bis masuk dari arah Surabaya, saya memesan kopi, ya, kopi apalagi kalau bukan kopi saset yang cara membuatnya disobek lebih dulu seperti shampo. Saya bayar di muka: bayar sebelum diminum. Ini adalah teknik sederhana yang saya lakukan sejak lama untuk mengantisipasi apabila ada bis datang cepat dan saya tidak perlu buru-buru lagi untuk sibuk membayar.

Kira-kira 30 menit menunggu, yang datang ternyata Patas. Saya naik bersama beberapa orang lain. Astaga, tarifnya menggunakan tarif bis ekonomi. Barangkali, penumpang seperti kami ini, “penumpang jarak meteran”, adalah semacam receh yang dapat menggenapkan pundi-pundi rezekinya yang mungkin tidak selalu sebanyak yang mereka harapkan.

Di stanplat Prenduan, ketika kaki turun menjejak aspal, serasa saya baru keluar dari ruang kelas yang berjalan. Banyak sudah pengalaman hidup yang saya peroleh sedari kemarin. Oper-operan naik angkutan umum membuat wawasan lebih terbuka terhadap perubahan dan perbedaan: naik bis dari Jakarta, naik kereta api dari Pekalongan, ngojek ke Ujung, naik fery ke Kamal, naik microbus ke Pamekasan, naik patas ke Prenduan, naik Hiace ke Kajo Ojan, membonceng Asnawi numpak sepeda motor ke rumah; adalah serangkaian kendaraan yang saya ikuti dan pada masing-masing semua itu terdapat pelajaran yang saya petik dan saya pelajari.

Wawancara dengan Paox Iben

 

Pada tanggal 14 April 2016, saya kedatangan tamu. Paox Iben (dibaca: paok) namanya. Sejauh ini, saya hanya memantaunya di Facebook, terkait kelana motornya keliling pulau-pulau di Indonesia, mulai berangkat dari Lombok, Jogja, Jakarta, Sabang, balik lagi ke Medan, Padang, dan Jakarta, Bogor, terus ke Wonosobo, ke Jogja, dan kini ke Madura.

(Oh, ya, sekadar tambahan informasi, sebelumnya, ada kawan Paox yang bernama Wing Sentot Irawan, juga dari Lombok, yang lebih dulu tiba di sini. Ia menggunakan sepeda bututnya untuk keliling Nusantara. Sentot ini sebelumnya malah sudah pernah keliling ASEAN)

Selama di Guluk-Guluk, Paox mengikuti kegiatan pesantren dan juga kegiatan guru. Ia berbicara tentang Tambora untuk santri, bahkan hingga dua kali sesi. Begitu antusias para santri menanggapi. Pulang dari Guluk-Guluk, rencananya ia akan bertolak melalui pelabuhan Kalianget menuju Jangkar, Situbondo, pada hari Sabtu. Karena menurut laporan Dharma Lautan hari itu tidak ada fery yang beroperasi, maka penyeberangan pun ditunda ke esok harinya. Paox meninggalkan tempat saya pada hari Ahad pagi, 17 April 1016.

Tahun ini, rencananya, ia akan memulai babak baru perjalanan jauhnya: keliling dunia yang tahun kemarin sempat tertunda. Selamat, jaga kesehatan dan selalu berhati-hati. Semoga Allah melindungi.

Berikut wawancara saya dengan Paox Iben:

Apa kabar, Bung? Bagaimana perjalanan hari ini? Jogja-Madura lewat mana, nih?

Baik. Rutenya standar saja: Jogja – Solo – Tawangmangu – Madiun – Nganjuk – Surabaya – Madura

Sungguh saya senang karena Anda bisa tiba di tempat saya untuk yang kedua kali. Apakah Guluk-Guluk termasuk bagian dari agenda perjalanan Anda? Seberapa pentingkah Guluk-Guluk itu dibandingkan tempat lain di dalam peta perjalanan Anda?

Tentu saja saya juga sangat senang bisa sowan. Madura, khususnya Guluk-guluk itu sangat penting bagi perjalanan saya. Sebab bicara Madura, tentu bicara pesantren. Dan Guluk-guluk, Annuqayah, itu sangat penting dan menarik. Secara geografis, letaknya berada di tengah-tengah pulau Madura, tidak persis, tapi setidaknya berada di pedalaman, dikelilingi pegunungan dan lembah. Dalam bayangan saya, itu seperti biara Shaolin hehe… tempat yang nyaman, tenang untuk menimba ilmu kesejatian. Terlebih dua orang sahabat saya sekarang jadi kyai-nya. Jadi saya bisa belajar, syruuppuutt (menyerap) banyak hal, sebab dalam perjalanan, saya juga sering bertemu dengan beberapa komunitas pesantren, sharing cerita, berbagi pengalaman, dll.

Bagi saya, Madura itu juga sangat-sangat penting. Dalam spektrum kebudayaan, Madura itu kan sangat menarik, unik: alam, budaya, sejarah, manusianya. Dalam keseharian, saya banyak bertemu orang Madura. Karya-karya saya juga banyak menyebut Madura. So, kalo bicara keliling Indonesia nggak singgah ke Madura, apa kata dunia? Hehe…

Kalau boleh tahu, apa latar belakang Anda melakukan perjalanan keliling Indonesia?

Katanya kita ini orang Indonesia. Bagaimana kita mengaku Indonesia jika tidak tahu rumah atau kampung sendiri? Nah, problemnya, Indonesia ini kan sangat luas. Kita memiliki 17.000 pulau, 1300an suku, 700 bahasa. Tentu tidak semua tempat bisa kita kunjungi, tapi yah minimal pulau-pulau besarnya dan wilayah-wilayah yang memungkinkan untuk dijangkau.

Saya banyak bergelut di dunia seni, budaya, riset-riset sosial. Saya juga hobi naik motor. Ya, kenapa tidak saya berkeliling Indonesia dengan sepeda motor? Itu jauh lebih realistis daripada menggunakan moda transportasi lainnya. Nah, karena jarak tempuhnya cukup jauh, medannya juga pasti berat, maka saya perlu tunggangan yang menunjang/sesuai dengan kebutuhan. Tidak murah tentu. Karena itu, meskipun cita-cita keliling Indonesia sudah ada sejak zaman mahasiswa, baru sekarang bisa saya wujudkan. Bukan hanya motor yang harganya ratusan juta, tapi juga terkait dengan banyak hal, terutama persiapan mental, jaringan, dan tentu… pendanaan.

Trus keliling Indonesia ngapain aja? Ya, niat tulusnya tentu silaturahmi, karena di mana pun kita pasti akan ketemu manusia, sebangsa, setanah air, saling sapa, saling tegur, saling meng-akrabi, dengan banyak cara tentu saja. Ada yang sebelumnya sudah kita kenal, tetapi tentu akan lebih banyak teman, sahabat, saudara baru. Inilah menariknya. Kita bisa belajar banyak hal, kepada manusianya, alam, budaya dan seterusnya.

Dalam konteks keindonesiaan, hal seperti ini (saling mengunjungi) juga sangat penting, kan? Tanpa pretensi, tanpa konsep yang muluk-muluk, bukan melulu karena pekerjaan. Pokoknya, ya, berkunjung aja. Tanya-tanya, berkenalan, jadilah teman, sahabat, saudara. Saya percaya, Indonesia itu disatukan karena rasa demikian, tulus bersaudara. Itu harus terus ditumbuhkan, dipupuk, dibiakkan dengan banyak cara.

Saya dengar, tahun lalu Anda merencanakan perjalanan antarbenua dengan tema “Tambora Menyapa Dunia”, yakni dengan perjalanan mandiri bersepeda motor keliling dunia, apa rencana tersebut gagal, digagalkan, atau ditunda? Mengapa harus mengusung tema Tambora? Tak adakah tema lain yang lebih mewakili keindonesiaan atau kenusantaraan?

Digagalkan! Dan itu menjadi trauma tersendiri bagi saya. Bayangkan, konsep itu sudah saya susun sejak tahun 2011-2012. Selama 3 tahun saya bersusah payah untuk mewujudkan hal itu, tiba-tiba dihancurkan oleh sekelompok orang.

Awalnya, saya dan beberapa teman ingin menggagas peringatan 200 tahun meletusnya gunung Tambora. Awalnya, ya, hanya festival atau sejenisnya. Lalu ketika saya ke Oman tahun 2012 itu, muncul ide: kenapa nggak sekalian keliling dunia saja? Misalnya, start dari Tambora menuju Gunung Vesivius/Pompei di Itali. Bukankah Tambora sering disebut sebagai Pompeii dari Timur?

Kebetulan nyambung dengan program daerah (NTB), lalu oleh wakil Gubernur saat itu, saya diminta menyusun roadmap kegiatan peringatan 200 tahun Tambora. Semua saya kerjakan tanpa ada yang membiayai, riset, blusukan ke kampung-kampung di sekitar Tambora untuk menyusun apa yang pas untuk kegiatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora. Muncullah ide “Tambora Menyapa Dunia”, disingkat TAMADUN.

Rencananya, satu tahun sebelum puncak peringatan yang jatuh tanggal 10 April 2015, saya sudah akan memulai kampanye berkeliling dunia: bikin pementasan, pemutaran film atau apalah. Program itu disetujui oleh daerah, dianggarkanlah di APBD. Untuk program keliling dunia itu dianggarkan sekitar 350 juta. Saya pun berbunga-bunga dan semakin bersemangat. Saya mulai ngumpulin duit untuk beli motor. Paling terjangkau, ya, cuman Kawasaki Versys. Harganya sekitar 150 jt. Tabungan saya + istri sekitar 80 juta. Sisanya ngutang dulu…

Tema besarnya adalah tentang “katastrofi/kebencanaan”. Ini tentu sangat menarik sebab Indonesia itu negeri “bencana” dan letusan gunung Tambora 200 tahun yang lalu merupakan letusan gunung berapi terbesar sepanjang abad modern. Konon, letusannya 13.000 kali bom atom Nagasaki/Hiroshima. Jadi, bisa dibayangkan seperti apa letusannya. Saya pun mulai menulis novel untuk itu.

Selain itu, selama saya jalan, beberapa acara juga tetap bisa dilakukan. Ada EO yang ditunjuk pemerintah untuk itu.

Sebulan sebelum pelaksanaan kegiatan tiba-tiba saya dihajar media, dituduh ‘ingin jalan-jalan pakai uang negara’ lah, itu program ilegal karena DPRD tidak tahu lah, dan seterusnya. Usut punya usut, itu dilakukan oleh Timses Gubernur yang merasa dilangkahi. Kebetulan, waktu itu sedang selesai pemilukada. Gubernur lama terpilih lagi. Saya ‘kan tidak paham dan merasa tidak ada hubungannya dengan politik. Saya juga sangat tahu diri saya ini pendatang. Jadi, saya nggak mau ikut-ikut.

Tapi, bola panas sudah kadung membesar. Pihak Budpar sebagai kuasa anggaran ketakutan, sebab orang-orang ini konon lingkaran dekat gubernur dan merasa sangat berkuasa. Dana itupun tidak jadi dicairkan, tapi isu yang berkembang lain lagi. Saya benar-benar disudutkan, difitnah, seolah-olah sudah terima uang dan tidak berangkat,  padahal saya harus pontang-panting mencari kekurangan dana untuk melunasi motor dan mempersiapan banyak hal.

Saya sangat sakit hati. Sebenarnya program itu sangat bisa saya lakukan tanpa keterlibatan pemerintah, tapi kan sudah terlanjur itu diklaim menjadi acara daerah. Bahkan saya dibilang ‘orang luar’, tahu apa soal Tambora. Baru setelah novel saya terbit (novel berjudul/tema ‘Tambora’), semua pada melongo, tapi saya sudah terlanjur sakit hati dan merasa percuma saya teruskan karena hanya akan memicu konflik yang menghabiskan banyak energi.

Tapi, keinginan saya untuk berkeliling dunia sudah bulat. Saya pun banting stir, cari tema lain. Muncullah ide baru, kenapa tidak mengangkat tema “Bhinneka Tunggal Ika for The World” saja? Start dari Borobudur menuju Berlin.

Untuk persiapan ini, adakah konjen-konjen atau KBRI di luar negeri yang sudah Anda hubungi? Saya pikir, Anda juga perlu menghubungi komunitas masyarakat Indonesia di luar sana.

Tadinya, sewaktu masih mengusung tema “Tambora Menyapa Dunia”, saya sudah berkoordinasi dengan Menteri Pariwisata segala. Saya bikin tim kecil-kecilan, begitu juga teman-teman di luar negeri. Pokoknya, semua kontak dan jaringan harus dimaksimalkan. Lobi-lobi, termasuk kemungkinan sponsor, juga sudah saya upayakan, sebab dana dari NTB itu hanya meng-cover 15%. Sisanya saya cari sendiri, dan semua hancur berantakan gara-gara TAMADUN itu digagalkan. Sponsor tentu lari semua. Panitia/managemen yang saya bentuk kocar-kacir. Bukan hanya dari nol, saya bahkan harus mulai dari minus, tapi saya tetap bersemangat, berusaha sekuat mungkin bangkit dari keterpurukan dan berusaha lebih keras lagi.

Bagaimana persiapan pengurusan visa atau OAV (On Arrival Visa) serta tetek-bengek lainnya? Adakah kawan-kawan di Eropa, misalnya, yang siap membantu?

Ada beberapa kawan yang sudah saya kontak, tapi prinsipnya semua bantuan sangat dibutuhkan, apa pun bentuknya, he, he…

Untuk visa orang sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi izin kendaraan ini yang agak rumit memang. Kita mesti mengurus CDP (Carnet de Passage) yang masing-masing negara beda aturan mainnya.

Jika tidak keberatan, bolehkah saya tahu, apakah dana yang Anda gunakan untuk perjalanan berikut itu sepenuhnya dana pribadi mengingat kebutuhannya sangat besar? Atau dananya langsung mengucur dari Langit di sepanjang jalan?

Dana pribadi seluruhnya? Wahh saya bukan orang kaya atau anak konglomerat, he, he…Tentu saya harus berupaya keras, mencari sponsor, donasi. Dan semua jalan halal akan saya tempuh untuk itu.

Jika tidak keberatan berikutnya, mengapa Anda memilih motor Versys dan bukan motor touring yang lain? (Ini murni pertanyaan saya, bukan bisikan dari dealer Kawasaki)

Sejujurnya karena terpaksa, cuman itu adanya, he, he… Harga moge di Indonesia tidak masuk akal, dan hanya Versys yang terjangkau. Kalau boleh memilih tentu saya akan menggunakan Ducati Multistrada atau BMW 1200Gs, meskipun itu terlalu besar buat body indonesia tapi sudah teruji untuk long trip. Dikelasnya (650cc), hanya Kawasaki Versys yang harganya di bawah 200 juta. Performanya juga lumayan lah.

Dan ini pertanyaan paling cadas, bagaimana keputusan perjalanan ini dibuat bersama istri dan anak-anak, bersama keluarga? Tanpa dukungan mereka, jelas Anda tidak akan melakukannya, bukan? Saya tabik dan solak terhadap Anda, keluarga Anda, istri dan anak-anak Anda, juga semua yang berada di belakang Anda.

Ini juga pertanyaan paling rumit saya jawab. Intinya, dunia saya dan istri ini kan tidak terlalu jauh berbeda. Jadi, sama-sama memahami aktivitas masing-masing. Masalahnya adalah kemampuan kita untuk mengupayakan keinginan itu, jangan sampai mengorbankan keluarga. Itu saja.

Tapi, prakteknya tentu tidak semudah itu. Istri saya bilang setuju, tapi begitu banyak masalah itu juga mempengaruhi hubungan rumah tangga kami. Terutama ketika Program TAMADUN itu dianulir sepihak. Banyak sekali masalah muncul. Hutang menumpuk. Perasaan ditinggalkan/dijauhi orang-orang, apalagi kesannya saya dibenturkan dengan pemerintah daerah. Banyak orang nyinyir dan takut dekat dengan saya. Teman-teman, yang saya anggap dekat dan sebagiannya alumni Jogja, justru mereka yang getol menyerang saya di medsos. Seolah dengan menyerang saya, mereka menjadi bagian dari kelompok yang aman karena melawan musuh pemerintah. Kecuali Kholil (maksudnya TGH. Khalilurrahman Djuaini, pengasuh PP Darul Hikmah, Narmada, Nusa Tenggara Barat), hanya dia yang membela saya. Nggak apa-apa, saya jadi tahu mana kawan sejati dan siapa itu pecundang.

Hampir tiap hari saya berantem sama istri, yang sebelumnya bahkan belum pernah berselisih paham. Sungguh, itu sangat berat bagi kami. Lama-lama masalah itu mulai ter-urai dan menemukan titik temu, terutama karena secara kebetulan karir istri saya mulai bagus, he, he… Jadi, masalahnya sebenarnya cuman soal ekonomi. Karena kemarin banyak hutang, dan jujur terpaksa saya harus menjual warisan keluarga (maaf tidak bisa saya cerita) untuk menutupi hutang-hutang saya, sekarang sudah lunas. Plong. Mulai yang baru lagi, hi, hi, hii..

Kembali ke soal keliling dunia, istri saya sangat sadar bahwa itu adalah bagian dari jalan hidup saya. Jika itu bisa dilakukan, maka ia akan jadi capaian tertinggi dalam hidup kami. Dia bilang justru akan sangat mengecewakan jika saya mundur, atau tidak jadi, itu tidak bagus. Artinya, saya kalah dengan keadaan, sebab anak-anak juga sudah kadung tahu saya akan keliling dunia. Saya harus ngasih contoh yang baik, setidaknya berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Itu juga akan menjadi keteladanan yang baik bagi mereka.

Soal kangen, rindu, itu pasti, tapi sekarang kan sudah zaman teknologi. Komunikasi jadi relatif mudah dilakukan.

Baik, Bung, terima kasih sudah berkunjung kemari. Semoga sehat, hari-hati selalu di jalan. Semoga Tuhan melindungi. Jangan lupa, jaga kesehatan dan jaga pula itu data-data foto dan video supaya tidak hilang sia-sia, ya!

Terimakasih juga. Mohon doa restu dan dukungannya…

Mabuk (Google) di Perjalanan

Malu, enggak, kalau kamu mabuk di atas kendaraan umum? Saya tak pernah mengalami, tapi kali ini saya cemas hal itu bakal terjadi. Pasalnya, saya sedang melakukan perjalanan dengan istri yang sedang sakit lambung. Puji syukur, ternyata kami tiba di Surabaya—setelah menempuh perjalanan 360-an kilometer dari Jogja—tanpa mabuk. Alangkah senang. Begitu menjejakkan kaki di pavin terminal, rasanya kami baru saja menerima “Trofi Antimo” meskipun dalam keadaan tubuh sedikit terhuyung.

Ya, kami tiba di Purabaya—nama terminal ini kalah masyhur dengan nama desanya, Bungurasih—selepas azan Maghrib berkumandang. Rasa plongnya menyamai orang buka puasa meskipun Ramadan masih besok lusa. Ibarat pelepasan katup katarsis; saya merasakannya demikian ketika berhasil menghirup udara ‘ori’ walau sedikit panas setelah 11 jam berada dalam kabin berudara sejuk namun ‘kw’, di dalam kabin bis Sumber Group. Durasi lama perjalanan kali ini pun masuk ke dalam daftar rekor saya yang baru, mengalahkan torehan rekor lama atas nama sendiri, 10,5 jam.

Perjalanan Jogja-Surabaya kali ini sebetulnya dinamis. Waktu statis hanya berlangsung dua kali, yakni kala bis ngetem di Tirtonadi, Solo, dan ketika kami oper bis sembari rehat makan-shalat di Terminal Madiun. Akumulasi waktu keduanya mungkin setengah jam saja.

Saya kira, faktor keleletannya disebabkan karena hari ini adalah H-2 Ramadhan 1437. Pergerakan masyarakat menggila. Jalan penuh sesak. Macet di mana-mana. Mengingat kondisi istri yang sakit, saya harus mengatur tempo perjalanan sesuai dengan kondisinya, tidak bisa estafet sebagaimana biasa saya lakukan dalam perjalanan sendirian. Orang sakit yang mengalami “sindrom perjalanan” bagaikan jatuh tertimpa tangga: sakitnya plus-plus.

Begitu turun di jalur kedatangan, orang-orang berkerubung, makelar dan kuli berkerumun. Di antara mereka mungkin ada copet dan pula penyamun. Saat masuk ke dalam peron, astaga, ya Allah, seperti inikah Padang Mahsyar itu, padang mahaluas tempat dikumpulkannya manusia di hari pembalasan, kelak setelah mereka dibangkitkan? Tumpek-blek manusia begitu menggidikkan bulu roma saat saya menyapukan pandangan ke sudut-sudut Terminal Purabaya.P1000800

Dirasa agak lapar sebab makan terakhir adalah tadi siang, makan pecel di Madiun, saya menuju warung soto Cak Bambang yang rasa soto koya-nya berada di nomor urut kedua jika dibandingkan dengan posisinya yang berhadapan langsung dengan parkiran patas merupakan alasan yang pertama. Sembari melangkah menuju warung, saya melirik: AKAS N1 yang parkir. Saya masih bimbang, mau ikut patas yang berangkatnya harus menunggu penumpang penuh atau naik bumelan yang waktu mengantrinya cukup 15-20 menit saja?

Lagi-lagi mengingat kondisi istri yang kurang fit, saya pilih patas, meskipun dia takut AC-nya, namun jikalau naik ekonomi, dia juga takut pada kaca gesernya yang biasanya dibuka lebar-lebar. Saat kami selesai makan, ternyata N1 sudah berangkat. Patas AKAS NR Skybus yang mengganti. Eh, pengemudinya ternyata Pak Encung, sopir AKAS II era kejayaan Pak Tingok yang dulu beroperasi di trayek Madura-Jogja. Tentu saja, saya melakukan pelengkap perjumpaan; bersalaman dan bertegur sapa.

“Pak, mari mejeng, berdiri di depan bis, biar saya foto dan saya setor ke Facebook.”

“Ya, saya minum jamu dulu,” kata Pak Encung seketika begitu ada seorang mbok jamu gendong melintas. Pak Encung menenggak dua gelas. Sesudahnya: cekkrek, cekkrek, dan cekkrek lagi!

P1000799

KARENA BIS PATAS AKAS ini biasanya ngetem sangat lama, mari saya ajak kamu kembali ke perjalanan sebelumnya…

Perjalanan dari Jogja, hari ini, sangat melelahkan. Rasa bosannya sudah terbentuk ketika keputusan pulang di siang hari sudah diketok. Maklum, ini adalah permintaan istri yang sedang sakit dan saya harus mengalah, sebab kalau bepergian di malam hari, dia tidak bisa lelap. Saya bayangkan, dia pasti sangat kecepekan kalau harus menempuh ratusan kilometer dalam keadaan sakit secara fisik serta tertekan secara psikologis.

Di Giwangan, pukul tujuh pagi kurang sedikit, kami berjodoh dengan Sumber Group. Penampakan EKA Cepat yang ada di sampingnya belum mampu membuat kami tergoda. Sebabnya adalah karena saat perjalanan berangkat, kemarin, kami sudah bersama tim cokelat: MIRA (Surabaya-Jombang) dan EKA (Jombang-Jogja).

Tidak banyak orang di dalam, tidak sampai duapuluhan.

“Ayo, Surabaya, Solo, Madiun,” kata Mandor.

Naik Sumber atau Mira dari Jogja itu berasa numpak patas, setidaknya sampai Solo, karena bis tidak berhenti sama sekali kecuali untuk menurunkan penumpang. Bis Surabaya-an sudah teken kontrak tidak akan angkut penumpang Solo-an. Mereka kadung ikat janji akan berbagi kue dengan Sedya Mulya, Sedya Utama, Antar Jaya, Langsung Jaya, dlsb. Persepakatan ini sudah berkali terjadi, di antaranya bahkan diwarnai adu fisik. Seingat saya, kasusnya bermula dari kasus PO. Mandala, di Palur, di tahun 90-an, dulu.
Selamat! Kami duduk di tempat yang tepat, di baris ketiga, di bawah louver AC yang bisa dibuka penuh dan bisa ditutup rapat. Setelah membayar 64 ribu tujuan Madiun untuk dua orang, mulailah mata ini merem-melek. Madiun adalah tujuan transit kami dengan pertimbangan rehat sejenak untuk makan dan shalat.

P1000795Sugeng 7664 kini sudah sampai di Solo. Jeda waktu parkir 15 menitan rupanya sangat efektif untuk meraup penumpang. Yang sangat tidak menarik adalah keluar-masuknya pengamen ke dalam bis dalam jumlah yang tidak logis. Baru saja Pance Pondaag dan Dian Piesesha yang satu turun dari pintu belakang, bahkan sementara kakinya belum menjejak tanah, dari depan sudah nongol lagi Iwan Fals dan Ratih Purwasih lainnya.

“Ini gimana, ya, tolok ukur peruntungannya?” tanya saya dalam hati. Saya hitung, jumlah pengamen dari Tirtonadi sampai Palur saja sudah 6 orang. Namun setelah saya amati, ada saja satu-dua orang yang nyawer. Akhirnya, saya mengubah sudut pandang: Tuhan memang tidak seperti Depnaker yang bagi-bagi pekerjaan, melainkan bagi-bagi rezeki lewat jari-jemari penumpang.

Perkiraan saya betul. Kami sampai di Madiun pas azan Duhur. Penyebab kelambatan ini tentu saja bukan karena tadi ngetem di Solo, melainkan karena memang situasi kendaraan di jalan yang merambat, padat. Apakah ini efek Sabtu atau efek menjelang puasa? Mana saya tahu. Perjalanan ke Surabaya lewat Madiun memberikan kesan nostalgis karena sudah sangat lama saya tidak melakoni rute ini di siang hari.

Di sebuah warung, di dalam terminal, saya pilih menu nasi pecel. Anehnya, nasi pecel di negara pecel ternyata kalah enak dibandingkan pecel perantauan, yakni pecel yang ada di Madura. Ini pecel kok ada srundengnya? Atau memang begitu seharusnya? P1000796Suguhan ini berasa aneh di lidah saya, tapi itu semua tidak penting karena saya tidak teliti dalam rinci-merinci makanan, termasuk apakah beda pecel Madiun dan pecel Blitar, misalnya, antara rasa bumbu kacang yang digoreng dan bumbu kacang dari proses sangrai.

Sehabis shalat, kami bertolak. Kali ini, jodoh kami Sumber 7099-UZ. Melajunya tidak seganas cara main gasnya. Sopir berkumis tipis yang terlihat manis jikalau tersenyum ini punya cara khas saat main gas, sangat gahar, cenderung kasar. Perlakuan seperti ini jelas tidak ekonomis pada konsumsi solar. Zaman dulu, sering saya temukan gaya nyetir begini. Mungkin, tujuannya adalah memuluskan perjalanan tenaga mesin menuju torsi terbaik. Singkat kata, gaya ngegas sopir ini bergaya (maaf, ya!) “ejakulatif”, menyentak dan menghentak.

Sudah arus lalu lintas padat sehingga menyebabkan perjalanan melambat, di Caruban, masih lagi jalur bis dialihkan. Arah ke Surabaya ditutup, kami diarahkan lewat Jl. Jend Ahmad Yani, jalur Ngawi, lewat Bangunsari. Puncaknya, Mojokerto terjadi ‘gridlock’ alias macet gila. Mobil-mobil tak bergerak, sementara hari sudah senja. Akhirnya, bis kami ambil kiri, masuk kota, tidak lewat ‘by pass’ sebagaimana biasa.

Hampir atau bahkan lebih satu jam kami terjebak macet di kota. Saya tidak tahu, mengapa jadi begini situasi Sabtu sore ini. Kata kondektur, tidak terjadi kecelakaan,  tidak ada apa-apa. Ini disebabkan oleh lalu lintas yang padat karena orang-orang keluar rumah secara berjamaah. Ya, betul, sekarang sepeda motor makin banyak kayak kecebong sementara jalannya ‘pancet ae’ atau bahkan susut karena anggaran perbaikan atau pengerasan  malah digarong.

“Maklum, malam Minggu, menjelang Ramadan lagi,” katanya dengan muka yang sudah kuyu.

Demikianlah beberapa hal rintangan yang terjadi di jalan sehingga kami baru bisa mencapai Bungurasih selepas azan Maghrib, padahal tadi berangkat sekitar pukul 1 siang dari Madiun, menapak jarak yang kala pertengahan 90-an bisa ditempuh hanya 2 jam di tengah malam. Di masa-masa yang akan datang, perjalanan dengan kereta api bakal jauh lebih menjanjikan, lebih-lebih jika angkutan penghubung dari stasiun ke terminal atau ke tempat strategis lainnya telah dipersiapkan dan terintegrasi.

BAIK, PANTAT SUDAH MULAI PANAS KARENA KELAMAAN MENUNGGU. Kita balik lagi ke cerita semula; persiapan berangkat naik patas NR dari Purabaya menuju Madura…

Begitu melelahkan perjalanan hari ini. Syukurlah, istri saya tidak mabuk perjalanan. Kantong plastik yang kami bawa untuk jaga-jaga semenjak berangkat praktis tidak terpakai. Kami berdua memang bukan “pemabuk”, hanya karena kondisi lambung istri itulah yang saya khawatirkan bakal menyebabkan muntah bahkan pingsan. Di perjalanan jauh, orang yang tak pernah menenggak bir pun sungguh mungkin akan mengalami mabuk.

Setelah membayar karcis, saya berpejam. Dengkul yang mepet dibayar oleh jok yang tebal. Akselerasi bis sangat halus, nyaris tanpa hentakan. Gaya menyetir Pak Encung rupanya masih seperti dulu, masih mempertahankan gaya melayang, mengoper percepatan dalam keadaan RPM mesin tertahan sedikit di atas angka minimal. Di ruas jalan tol, Jalan Jakarta, Perak Timur, saya lalui tanpa tahu apa pun yang terjadi, tidur. Saya terbangun di sekitar Sidotopo oleh suara orang yang bercakap-cakap agak keras, entah siapa, entah pula di belakang persis atau selah bangku satu baris.

Adapun notulensi percakapan yang saya catat, antara lain adalah sebagai berikut:

“PERSIS, Muhammadiyah, dan NU itu bersaudara.”

“Guru pendiri Muhammadiyah dan pendiri NU itu sama, mengapa kita kok gontok-gontokan?” (saya tidak terusik, diam saja).

“Jadi, kita ini sesama muslim bersaudara, ndak boleh saling menyalahkan.” (saya tidak terusik, diam saja).

Ada beberapa jeda pembicaraan yang terlepas dari catatan.

“Di Pasuruan, ada pesantren yang mempermasalahkan celana cekak. Ah, urusan ‘casing’ kok dibesar-besarkan, ya?!” (saya tidak terusik, diam saja).

“Kita itu hanya wajib taat kepada Allah dan Rasul-Nya,” (ia mengutip ayat Alquran, sepertinya dari Surah Ali Imran) “bukan kepada yang lain, apalagi sama kiai-kiai. Patuh kok kepada manusia? (ia tertawa pelan) Taat itu kepada Allah dan Rasul saja, dong.” (saya mulai terusik).

“Ya, orang dulu itu gampang manut sama kiai dan mudah percaya kata-katanya. Saya pernah tanya kepada seorang kiai, mengapa dia menggunakan qunut di saat shalat Subuh? Kiainya cuma manggut-manggut, tidak bisa menjawab pertanyaan saya. Katanya, dia hanya melakukan qunut karena melihat gurunya juga melakukannya. Kok taklid gitu, ya? (saya bayangkan, si bapak ini menoleh dan tersenyum kepada teman sebangku yang diajaknya bicara). Masyarakat zaman dulu bisa begitu sebab mereka tidak banyak belajar karena tidak mudah mengaji dan mendapatkan kitab, paling-paling cuma kitab Taklimul Muta’allim, Taqrib, dan kitab-kitab tipis seperti itu. Lah, kalau sekarang? Sudah ada Google. Apa saja bisa kita cari sendiri di sana.”

Saya benar-benar terusik dan ngomel tapi hanya di dalam hati sebab ini terjadi di kendaraan umum, bukan di aula kampus dan dalam sebuah seminar. Sampai di sini, saya berkesimpulan kalau si bapak ini sejenis penceramah bernasib malang yang tidak dapat membedakan perbedaan “mencari lewat Google” (search by Google) dan atau “mencari di Google”. Betapa berbahaya jika dia ngomong di depan awam, apalagi di atas podium, bahwa semua masalah bisa dibereskan dengan cara seperti itu sehingga untuk belajar agama pun, kehadiran guru tidak penting-penting amat. Bagaimana dengan sanad ilmu? Apalagi! Semuanya, apa pun, termasuk persoalan tauhid dan fikih, sudah bisa kita ketahui dan kita temukan sendiri.

Tidak ada pilihan lagi bagi saya kecuali segera menyumbat telinga dengan cara memejamkan mata. Berawal dari tidur-tidur ayam, nyatanya saya tidur sungguhan. Walhasil, saya tidak tahu apa saja pembicaraan kedua orang di belakang saya sesudahnya. Yang pasti, semua kutipan di atas itu adalah ucapan satu arah dari si bapak karena teman duduknya sedari awal cuma “ho-oh” he-eh” saja.

“Kak, bangun, bangun!”

Istri menggoyang-goyang bahu saya begitu ia tahu bis sudah mencapai Branta. Saya buka mata, tampak tanjakan. Wah, Sumber Anyar sebentar lagi, batin saya dalam hati.

“Ayo, kamu bawa bungkusannya, aku yang bawa tas dan kardusnya!” sambar saya sembari meringsek, melewati koridor, maju.

“Eh, turun di mana?” kata Pak Encung yang pastinya sudah tahu kalau saya tidak biasa turun di situ.

“Masjid di depan, Pak, setelah tikungan,” jawab saya buru-buru.

Bis berhenti, menepi, lalu kami turun sambil tak lupa mengucapkan terima kasih, suatu hal yang saya wajibkan untuk disampaikan kepada kru setiap kali menjadi penumpang. AKAS berjalan lagi. Saya rasakan, tubuh berasa limbung begitu sialannya omongan orang tadi mendadak nyusup lagi ke dalam ingatan. Untunglah, saya bisa segera muntah. Pemikiran yang rentan bias itu; ajakan percaya kepada apa pun yang tersiar di dunia maya, termasuk khazanah kitab, tanpa tabayun; kesan permisif terhadap tindakan makar sebab yang wajib ditaati hanya Allah dan Rasul; isyarat desakralisasi peran kiai (guru) yang telah memberi ilmu, memang suka bikin mual.

Di bawah pohon asam besar, di seberang jalan Masjid At-Takwa, sempat pula terlintas sisi appendiksial Alquran (perihal rujukan), makna tunggal-taksa (perihal kata), terbatas-awabatas (perihal amar-larangan). Namun karena jalan tampak sepi setelah saya tinjau dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, segera saya menyeberang sembari menggandeng lengan istri, berusaha meninggalkan kenangan buruk dalam perjalanannan melelahkan hari ini, di belakang.

Maka dari itu, berhati-hatilah jika kamu naik angkutan umum. Duduk sebangku dengan penipu yang pura-pura kehabisan bekal dan mencoba menawarkan jam tangan Rolex ‘kw’ tapi dibilang ‘ori’ itu sama bahayanya dengan duduk dengan orang yang main ponsel sejak naik sampai turun, sama pula bahayanya dengan duduk bersanding dengan orang yang seperti dikisahkan di atas; orang yang merasa telah memegang kebenaran dengan hanya bermodal “Ilmu Googleial”. Orang seperti ini, dengan gawai di tangan, sudah merasa cukup mampu untuk mendapatkan hidayah dan kebenaran, memperoleh kepastian dari data-data portalistik dan wikipedial, lalu menggunakan teori Cocokologi terhadap sumber-sumber utama yang kesemuanya berupa referensi tingkat terjemahan. Masalah paling gawat dari tipe terakhir ini, seperti yang tadi berada di atas bis, adalah karena ia tidak bisa didebat dan dikalahkan, kecuali jika paket datanya habis atau jaringan wifi-nya dimatikan.

Hari sudah sangat malam. Cahaya lampu jalan semakin terang tanda malam kian kelam. Kami tahu, semua pikiran buruk harus segera ditinggalkan sebab tak jauh lagi, di hadapan kami, terbentang Ramadan.

 

Ke Ponorogo, Nyangkut di Jombang dan Pare

Jumat, 13 Maret 2015

Saat dibonceng Haris dari Pei Hai—tempat saya turun dari bis—menuju Corogo desa Janti tempat dia tinggal, di atas sadel sepeda motor yang mengarah ke selatan Samsat Jombang itu, saya benar-benar menikmati bentang alam rasa Jawa: lahan pertanian yang luas dan subur, batang-batang tebu, air yang mengalir di kali. Setiba di beranda rumahnya, suara orang mendaras Alquran dari TOA mushalla menyambut. Ketika masuk ke ruang tamu, sepiring jagung rebus terhidang. Lengkap, bukan?

Tiba-tiba, saya merasa segar. Saya heran. Pasalnya, tadi malam menjelang tidur, badan ini sempat terhuyung, kepala agak pusing. Andai bukan karena tugas pergi keluar, tentu saya memilih melungker daripada bangun pukul 1 dinihari untuk selanjutnya melawan angin, beradu dengan dingin, di atas sadel ojek Pak Basyir. Saya menduga, yang membuat banyak perubahan pada kondisi fisik adalah ‘pikiran yang pulih’. Setelah naik AKAS dari Prenduan ke Surabaya lalu berganti Sumber dari Bungur ke Jombang dan tiba pagi sekali di sana, itu dia obatnya.

Semalam, saya berangkat pukul 01.35 dan sampai di Surabaya menjelang pukul 5. Beberapa kali saya berangkat pada waktu yang sama, cukup 2,5 jam (atau lebih sedikit) saja untuk mencapai Purabaya di malam hari. Kelamaan ngetem di Pamekasan-lah yang membuat perjalanan tadi malam jadi berbeda. Walaupun kelambatan macam ini tak seberapa, namun untuk situasi pagi hari, telat 30 menit saja akan sangat berpengaruh karena masa pukul 6 hingga pukul 7 itu sungguh merupakan masa paling ruwet di jalanan.
Saya ikut Sumber yang berangkat kira-kira 7 menit setelah saya duduk, 05:05. Jelas sangat beda dengan AKAS. Kesan terburu-buru langsung terasa. Sopir selalu telat melepas kopling dan putaran RPM terlalu tinggi; mobat-mobit di pagi hari. Yang begini-begini rasanya sudah malas saya ceritakan karena terlalu sering dialami. Biarlah lain kali, atau orang lain yang melakukannya.
P1000064
Suasana pekarangan rumah Haris di Jogoroto sangat tenang. Tetangga-tetangganya barangkali memang ber-profile silent secara permanen. Secangkir kopi yang disuguhkan membuat saya tak ingin bertanya lebih jauh tentang apa sebab situasi itu bisa tercipta.
Saya segera mandi, lalu makan, duduk-duduk, lantas menyadari betapa dalam situasi seperti ini saya merasa tidak begitu butuh pada apa pun lagi di saat selalu ada kawan di sana-sini. Begitu pula, saya tidak pekewuh melahap hidangan sebab rezeki yang disajikan oleh tuan rumah ini sejujurnya memang rezeki saya sendiri yang dikucurkan Tuhan tapi diturunkan di Jombang, bukan di Guluk-Guluk. Jadi, jangan pernah ragu menikmati hidangan tuan rumah pada saat Anda menjadi tamu sebab itu memang milik Anda sendiri yang disusupkan-Nya ke rumah orang lain agar Anda tak repot harus membawa tungku, panci, dan beras untuk memasak di dapur yang jauh dari rumah Anda.

Haris selalu menyebut nama-nama orang yang pernah mampir di rumahnya. Ia kelihatan begitu senang. Saya yakin, nama saya juga akan sering disebutnya untuk orang lain yang datang berikutnya. Bagi saya, ini adalah kali kedua setelah sebelumnya terjadi di tahun 2003, yakni 12 tahun yang lalu.

“TERLANJUR JOMBANG, YA, MAMPIR-MAMPIR SEKALIAN…”

Dengan Forsa-nya, dari Corogo, Haris mengantar saya ke Rejoso, menjumpai kawan yang tinggal di sana, Binhad. Agak lama saya tak bertemu dengan orang gondrong ini. Rambutnya tetap terurai ala iklan shampo Pantene, masih seperti dulu. Yang berbeda, kini dia gondrong sekalian jenggotnya. Saya tidak tahu apakah ia punya paham baru atau apalah namanya.

P1000069

Hanya sepeminuman teh, kami pamit dan melanjutkan misi ‘ambil bonus’ ke Tebuireng. Betul, tujuan utama perjalanan kali ini adalah untuk menghadiri acara seminar “Revitalisasi Tradisi NU Berbasis Literasi” dan peluncuran buku “Membaca dan Menggagas NU ke Depan” yang diselenggarakan oleh Litbang PCNU dan PC ISNU Ponorogo. Saya tidak tahu mengapa saya—yang notabene tinggal di tempat yang sangat jauh dari lokasi—yang diundang sebagai ‘cowok panggilan’.

Tiba di Tebuireng, saya sowan ke Gus Zaki. Beliau adalah pengasuh Al-Masruriyah, pondok putri yang letaknya berhadap-hadapan dengan Tebuireng. Beliau bercerita banyak tentang penggemblengan mental santri yang tak pandang bulu. Sembari pula menuturkan kisah embahnya, Nyai Masruroh binti Kiai Hasan Muhyi yang fotonya dipajang di ruang tamu, saya menyeruput kopi. “Itu foto Embah putri saya, satu-satunya foto yang ada. Beliau adalah istri ketiga Hadratussyaikh, namun juga menikah tiga kali. Dua yang lainnya adalah dengan Syaikh Ihsan Jampes (pengarang Sirajut Thalibin) dan sebelumnya dengan Sayyid Shadaqah.”

P1000070

Deg, dalam hati saya membatin. Ini namanya kufu’ yang dalam istilah Gus Zaki disebut “pilih tanding dengan sebanding”.

Salah satu pelajaran yang saya terima dari Gus Zaki terkait penggemblengan ini adalah tentang ketahanan diri dalam menggembleng. “Jika kita mudah tersinggung ketika mendidik anak atau oleh sikap orang lain, baiknya berpikir ulang, siapa tahu itu disebabkan kita terlalu tinggi menghargai diri kita.”

Rencana awal, sesudah sowan pada Gus Zaki, saya mau sowan ke Kiai Abdul Hadi di Madrasatul Qur’an (MQ), namun karena beliau tidak ada, maka ditundalah sowan hingga pada waktu yang tidak diketahui. Dan pada saat saya berdiri di tepi jalan untuk mencegat angkutan yang mengarah ke Pare, tiba-tiba ada suara memanggil.
“Ooo… mm…”
“Hey?”
“Nufus, Om…” jawab gadis itu segera karena saya seperti kurang responsif dalam mengenalnya, kemenakan sepupunya. Maklum, meskipun dia kemenakan sepupu, namun baru kali itu saja saya bicara dengannya.
“Katanya Om ada acara di TBI?”
“Oh, mungkin iya di lain kali. Sekarang acaranya adalah mampir-mampir dan sowan-sowan…”

Singkat cerita, dia pergi dan sehabis itu saya tertegun, kepikiran karena tidak bisa memberi santri Cukir itu rengginang goreng yang saya bawa sebagai oleh-oleh sebab sudah terlanjur dibungkus untuk guru yang akan segera kunjungi selanjutnya: Kiai Baidowi di Pare. Dalam hati saya menghibur diri, “Biarlah lain kali…”

P1000071

Naik Elf ke Pare, saya minta diturunkan di perempatan lampu merah Gedangsewu. Siang itu penumpang tak banyak. Entah karena sudah pukul setengah sebelas atau karena unsur entah yang lainnya. Saya tak banyak ngobrol dengan sopir angkutan berjuluk “Doa Ibu” di kaca depan dan berplat S-7089-UW tersebut karena capek.

Setelah tiba, saya melangkah ke arah barat ‘bangjo’, kira-kira 100-an meter. Saya masih ingat situasi di sini sebab tak banyak perubahan dibanding dengan ketika dulu saya mengaji, terutama ndalem Kiai Baidowi. Yang berubah (dan saya tahu setelah dipersilakan masuk) hanyalah gordin pintu ruang dalamnya. Langit-langit masih ‘polosan’ sehingga kayu-kayu plafonnya kelihatan. Juga begitu bagian depan dan samping, sama sederhana, persis dengan yang dulu.

Saya panggil salam. Ibu nyai yang menjawab dan saya dipersilakan duduk. Sebentar kemudian, kiai keluar. Alhamdulillah, kiai tampak sehat dan bugar sekarang setelah sebelumnya dikabarkan sakit.

“Kata seorang teman, Panjenengan sakit, Kiai.”
“Lah, iya, sudah lama itu. Entah, saya tak tahu penyakit apa, kayak-kayak vertigo begitu.”
“Sekarang alhamdulillah, Kiai?”
“Itu kayak bukan penyakit. Tak biarin saja saya bawa ngajar kitab terus. Eh, lama-lama hilang sendiri…” Kiai tersenyum lebar. Masih seperti dulu, dawuh Kiai Baidowi terdengar ceplas-ceplos.

Saya senang karena baik semasa nyantri atau pada saat sowan sebelumnya, baru kali ini saya berkesempatan duduk di ruang tamu. Meskipun beliau tampak akrab dengan cara mengingat lalu menyebut nama-nama santri beliau yang sedaerah atau dekat dengan tempat saya di Madura, saya tetap sungkan. Bahkan, saya tidak tahu siapa yang menghidangkan teh karena menunduk. Saya sungkan bukan karena begitu sepelenya oleh-oleh rengginang dan kue abon yang saya bawa hingga ia dianggap sebuah kesalahan. ‘Kesalahan’ itu adalah makin jauhnya jarak dan hubungan antara santri dan kiai sebagaimana juga dialami banyak santri di masa sibuk ‘karepe dewe’ ini.

Sebelum Kiai berangkat Jumat, saya pamit pulang. Kiai menunjukkan air muka berat karena menurut beliau pertemuan itu terlalu singkat. Saya jelaskan bahwa saya sudah cukup puas dan berterima kasih diberi rezeki duit, sehat, dan sempat untuk sowan kepada kiai. Bagi saya, sempat ini merupakan rezeki luar biasa yang dapat diibaratkan dengan rezeki online bagi orang yang selama ini Facebook-nya selalu ‘mati’ atau harus berjuang secara sembunyi-sembunyi untuk meng-aktif-kannya.

Saya naik Elf lagi dengan cara minta antar abang becak ke Pasar Baru, Pare, sebab di sanalah tempat mangkal ‘taksi’ Jombangan. Badan saya capek memang, tapi bagian lain dari diri ini seperti ada yang berubah. Ibarat ponsel, sinyal dan baterai saya kini bertambah.
Taksi ini (plat nomor saya rahasiakan) berangkat pukul 12 lewat sedikit. Setelah baru saja mengalami situasi batin penuh sensasi, kali ini saya sebel sekali. Saya kesal sama sopirnya. Bukan lantaran dia tidak Jumatan sebab saya tak tahu kebiasaannya, biasa melakukan atau tidak, bahkan saya jamin Anda pun akan sebel kalau saat itu menjadi saya, duduk di jok depan dan bersisian dengannya. Bau ketek-nya itu, lho, pahit mencekam. Jendela yang dibuka habis membuat baunya menyerang sembarangan. Rasanya, hidung saya mancung mendadak di siang situ. Saya segera pejam mata untuk menghindari kecutnya: sebuah upaya ‘sinestesia’ yang berhasil. Entah berapa lama saya ‘pingsan’ hingga melek dan baru sampai di Diwek saya siuman.

Mobil mencapai pintu lintasan kereta api dekat Stasiun Jombang pada saat Kereta Logawa lewat. Kami tertahan ketika di depan sana tampak PO Jaya—bisnya orang Ponorogo—melintas. Biarlah, saya ikut yang berikut.

Ketika hendak turun, sopir berkata saat dari kaca tengah mobilnya ia melihat ‘ada yang datang’. “Ini ada bis Restu Ponorogoan di belakang”, katanya pada saya. Syukurlah, saya sampaikan terima kasih, turun, dan melambai tangan. Bis sein kiri dan tahu-tahu posisi saya sudah lurus dengan pintu belakangnya yang telah terbuka. Saya naik.

Bis berjalan. Kondektur mendekat. “Coret Ponorogo!” kata saya. Uang 25.000 dan sehelai karcis pun saling berpindah tangan. Saya amati, daftar nama tempat/kota di karcis ini hanya ada 5: Surabaya, Jombang, Nganjuk, Madiun, Ponorogo. Loh, saya menabur pandangan; ke lantai, ke plafon, ke kursi, juga ke arah lainnya. Apa ini PATAS? Saya baru sadar.

Terasa, AC-nya tidak membuat sejuk, hanya berfungsi tidak membuat badan terlalu gerah. Joknya dua-dua, berarti jumlah semua ada 43, tapi kok rapat sekali jarak antarkursinya? Pertanyan demi pertanyaan keluar sendiri dari dalam kepala karena ini adalah sejenis keganjilan. Saya pun mengkonfirmasi situasi kabin kepada Koh Hari. Dan puncak keganjilan itu adalah bahwa nama PO yang tertera di tiket adalah Cendana, bukan Restu. Loh, kok iso? Apakah Cendana ini bekas Restu atau Restu sudah diakuisisi Cendana? Atau, apakah saya salah terima karcis atau saya sedang ngelindur?

P1000074

Ketika bis masuk ke sebuah SPBU di daerah Nganjuk, saya turun tapi bukan untuk pipis sebagaimana penumpang lain, melainkan untuk memastikan benar-tidaknya mata dan kenyataan. Saya lihat gambar panda dan nama PO-nya; benar, nyata! Di as-roda belakang, terpahat tulisan ‘UD’; benar, ini Nissan CB, berarti ini ‘montor lawas’ tampilan baru. Saya cermati, ternyata bis ini memang bergambar panda yang karenanya sopir elf tadi itu mengidentifikasinya dengan Restu. Yang membedakan, panda-nya Cendana dan panda-nya Restu adalah spesiesnya; juga gaya dan lokasinya, antara tidur-tiduran di rerumputan dan rumpun bambu sebagaimana umumnya. Saya pun tertawa. Hari ini, saya gagal menerima hadiah dari Koh Hari. Teka-teki ‘serupa tapi tak sama’ memang terjawab namun masa berlaku undian sudah tidak berlaku. Saya mengaku kalah.

P1000077

Pukul 15.25, Cendana masuk Madiun. Saya bergeser, maju, duduk di belakang sopir untuk memastikan dasbor dan juga pemandangan jalan. Pukul 16.02, tibalah saya di Madiun, langsung disambut tukang ojek dengan pertanyaan ‘templet’ dan seolah otomatis: “Mau ke mana, Mas?”
“Nggak tahu, Pak!” jawab saya sepolos-polosnya.
“Loh, kok?”
“Sama teman, saya diminta agar turun di sini dan katanya akan ada seseorang yang menjemput. Sebab itu saya turun di sini namun saya sendiri tidak tahu nama dusun atau lokasi bahkan di mana arah tempat yang bakal saya tuju…”

Tukang ojek melongo.