Melihat Masa Depan Bumi dari Beranda Rumah

oleh M Faizi (admin)

Saya sedang duduk di beranda rumah sembari menyesap kopi dan menikmati cemilan. Televisi menyala dan hanya terdengar suaranya, tak ada yang menonton. Di atas kursi malas, mulailah saya membaca…

(jeda sejenak)

Sebuah artikel tulisan Bapak Hendro Sangkoyo yang pernah dimuat di KOMPAS, 24 September 2014. Dalam artikel yang berjudul “Ulang Tahun Penanda Bencana” tersebut, dijelaskan bahwa pada bulan dan tahun tersebut, sekjen PBB menggelar ”pertemuan puncak darurat” perubahan iklim di markas PBB, yang kesannya jauh dari perayaan ulang tahun. Dua tahun terakhir memang muncul serangkaian berita baru perubahan iklim yang tak satu pun menggembirakan. Tahun lalu, jumlah emisi karbon dan suhu atmosfera tertinggi sejak 1984. Dekade 2001-2010 adalah yang terpanas dalam tiga dekade terakhir, dengan suhu rata-rata permukaan laut dan pertemuan daratan-udara 0,47 derajat celsius di atas suhu rata-rata 1961-1990. Pada 2012, luas dataran es Arktik di musim panas, penunjuk penting krisis perubahan iklim, mengerut 3,3 juta kilometer persegi (seluas India) dari luas minimum rata-rata 1979-2000. Di dekade yang sama, muka air laut naik 3,2 milimeter per tahun, dua kali kecepatan kenaikan sepanjang abad XX. Dengan tingkat penurunan laju emisi sekecil sekarang, tulis Hendro,  diperkirakan kenaikan suhu muka bumi 3,6 derajat celsius pada 2050 atau lebih awal lagi.

Tentu saja, saya tidak akan berbicara terlampau jauh soal emisi karbon atau mitigasi (langkah produktif mengurangi dampak bencana). Membicarakan langkah Konvensi Kerangka PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC)  dalam menciptakan mekanisme finansial kompensasi emisi gas rumah kaca setara karbon masih terasa mewah, apalagi dibicarakan di forum diskusi yang pesertanya bukanlah pakar. Namun demikian, berdasarkan data-data tersebut, mestinya kita tahu, bahwa proses kehancuran Bumi sedang berlangsung dengan sangat cepat. Kita tidak perlu membicarakan tabrakan antarbenda-benda meteorit atau  mendiskusikan datar-tidaknya Bumi, baik dalam perspektif Heliosentris atau Geosentris. Kita cukup melihat perubahan iklim dan menyadarinya.

Perubahan iklim tidak dapat dibantah; menciptakan ancaman serius tetapi kurang diperhatikan. Terjadinya kemarau panjang pada 2014 dan ketidakstabilan musim pada tahun-tahun berikutnya, durasi yang timpang antara kemarau dan tengkujuh (musim  hujan), adalah salah satu bukti paling kasat mata akan nasib Bumi di masa mendatang. Semua itu dapat dengan mudah diteropong dari ruang pribadi, dari depan rumah kita sendiri.

Sebetulnya, alam itu bekerja teratur dan simultan. Dalam perspektif keimanan, semua itu berlangsung atas prakarsa Tuhan. Akan tetapi, kita dapat menalar kerja organik ini dan bersiklus ini sebagai salah satu wujud alamiah semesta raya karena adanya keseimbangan; yin-yang, berpasang-pasangan.

Dari keseimbangan ini, manusia mendapatkan anugerah mahabesar dari alam berupa suhu, cuaca, ketenangan, kesuburan, dan seterusnya. Akan tetapi, di masa berikutnya, sifat rakus menusia muncul dan mulailah segalanya berubah secara global, seperti mencairnya banyak gletser di Alaska dan rusaknya (pengrusakan) hutan (tropis) di Brazil dan Kalimantan dan Papua. Itulah salah satu dampak perubahan iklim terdahsyat.

Manusia membangun banyak lahan pertanian dan perkebunan tetapi sekaligus merusak ekosistem alam dengan menebang hutan; manusia membangun rumah dan kantor tapi sekaligus menggunakan semen yang notabene berasal dari gugusan batu karst. Bahkan, nyaris tidak ada prestasi manusia di dunia ini kecuali dengan juga merusak alamnya. Ironis.

Setelah mengalami kerusakan parah, mulailah muncul gerakan-gerakan penyelamatan. Salah satunya adalah menahan laju kerusakan dengan mitigasi. Sebab, bencana kerusakan alam adalah bencana Bumi dan segenap penghuninya.

Apakah hal-hal yang dibicarakan di atas itu terlalu muluk dan melebar? Jika tidak, sekurang-kurang, kita wajib mengetahui semua itu semata untuk dipahami. Kalau begitu, baik, kita bicara yang remeh-remeh saja.

Orang dahulu merawat alam dengan banyak cara. Salah satunya adalah mitos, misalnya mereka menyebut “penunggu pohon” yang biasanya disematkan untuk pohon-pohon besar dan dikeramatkan. Kita tahu, pohon-pohon besar seperti itu tidak semata-mata digandrungi makhluk halus, melainkan juga sebagai pasak dan penyeimbang ekosistem. Manusia dan serangga sama-sama membutuhkannya.

Belakangan, datanglah manusia serakah bersama korporasinya. Mereka melakukan  demitefikasi, membunuh mitos, lalu menjagal pohon-pohonnya. Yang paling mudah dilihat; betapa banyak penebangan pohon di sepanjang ruas hanya karena dalih pelebaran jalan. Lebih jauh lagi, target percepatan ekonomi berbasis transportasi menjadi kata kuncinya. Demi tujuan itu, bahkan nilai-nilai luhur budaya dan tradisi pun ikut tergerus. Terbukti, pelebaran jalan tidak perlu mempertimbangkan sempadan dan akses pejalan kaki. Di saat di negara-negara lain akses pejalan kaki dimuliakan dengan pedestrian, di sini justru dihabisi.

Itu hanyalah sedikit dari banyak hal yang perlu diperhatikan oleh semua lapisan masyarakat. Oleh sebab itulah, melakukan perubahan dan penyelamatan tidak dapat dilakukan sepihak, melainkan harus bersama-sama. Langkah awal yang harus dimulai adalah dari lingkungan di komunitas terkecil masyarakat, yakni keluarga. Kepala rumah tangga harus mampu menjelaskan sistem tata kelola lingkungan dan kebergantungan kita kepada alam kepada anak dan anggota keluarga lainnya.

Wawasan lingkungan (hidup) harus diketahui oleh semua orang. Ada sedikit dari banyak hal prinsip yang patut kita jelaskan kepada mereka.  Di antara yang paling mendesak adalah kerusakan alam akibat hal-hal yang tampak remeh dan ada di sekitar kita. Di antaranya adalah:

Limbah Makanan

Limbah makanan merupakan satu dari sekian masalah besar di muka bumi. Dan tema ini akan menempati ruang diskusi penghamburan energi yang sangat besar. Rangkaian penyebabnya sangat panjang sehingga kerapkali dianggap tidak berdampak sistemik. Orang awam lebih tertarik membahas efek rumah kaca, yaitu terperangkapnya suhu permukaan Bumi, terhalang oles gas emisi (seperti karbon dioksida) pada atmosfer. Gas emisi tersebut kebanyakan berasal dari asap kendaraan dan pabrik. Semakin hari, semakin banyak jumlahnya. Akibatnya, Bumi semakin panas dan rawan bencana. Namun, soal limbah makanan adalah hal lain yang tak kalah runyamnya.

Elizabeth Royte menggambarkan seperti ini: sayur yang tidak dimakan dan jadi sampah di meja makan itu juga membutuhkan cahaya matahari saat masih menjadi sayur segar. Ia juga diangkut dengan kendaraan yang menghabiskan energi fosil, dan mungkin saja juga masuk ke ruang pendingin yang menyedot listrik, menyerap minyak, dan seterusnya. Tumpukan limbah ini tampak sepele. Namun, dari data yang dikumpulkan Royte, jika seluruh sisa makanan di dunia ini dikumpulkan, maka ia akan setara dengan sebuah negara penghasil limbah terbesar nomor 3, setelah Tiongkok dan Amerika.

Kearifan lokal dari leluhur kita tentang “tangisan nasi yang tidak dimakan di atas piring” akan menemukan eksistensinya di sini. Ini baru perhitungan kasar. Sekadar menyebut contoh, petani kerap terpaksa membuang makanan yang masih layak olah hanya karena tidak bisa diekspor/dijual ke pasar, bukan karena alasan karena tidak sehat, melainkan hanya karena buruk secara bentuk (seperti timun dan terong yang berntuk bulat, atau dlsb), padahal sayur yang bernasib malang itu juga menghabiskan banyak air, banyak pupuk, banyak biaya lainnya. Sejatinya, ia masih mungkin sampai ke mulut manusia sebagai makanan andaikan bisa dikelola.

Adat budaya terkadang  juga kontraproduktif, semisal adanya aturan tidak tertulis untuk menyediakan makanan pada acara-acara tertentu lebih banyak dari yang semestinya mampu dimakan. Mengapa? Alasannya adalah “takut dituduh pelit” atau “tidak pantas”. Kenyataannya, setiap berlangsung acara makan-makan, pemubaziran makanan pasti terjadi. Masyarakat kerap berpikir bahwa “mampu membeli/membayar” itu sama dengan “boleh mubazir”, padahal dua situasi itu adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Dan ini tidak terjadi hanya kepada limbah makanan, melainkan juga pada penghamburan energi.

Pemubaziran Energi

Gaya hidup berperan banyak mengubah kehidupan seseorang bukan semata-mata bagaimana cara ia tampil di muka umun, tapi bahkan dalam hal menghambur-hamburkan. Kita dapat dengan mudah mengambil contoh akan kasus energi ini. Salah satu yang paling tampak adalah pemubaziran energi bahan bakar fosil.

Hingga saat ini, kendaraan bermotor yang perannya sangat besar untuk transportasi orang dan barang adalah pengguna energi fosil. Entah di tahun berapa, mungkin belum diketahui atau memang dirahasiankan, energi fosil akan habis dikeruk dan disedot. Cadangan bahan bakar minyak yang digunakan oleh hampir semua alat angkut terus menyusut meskipun ladang-ladang baru ditemukan dan dieksplotasi. Mengapa kita tidak mengembangkan energi yang terbarukan, energi dari matahari dan angin dan air? Ada jawaban panajng untuk itu yang kurang pas untuk diselempitkan dalam artikel ini.

Rendahnya pemanfaatan transportasi umum juga merupakan bentuk penghamburan ini. Kita dapat melihat perilaku manusia dengan mudah. Jarak yang semestinya bisa ditempuh dengan berjalan kaki kini sudah dibiasakan dengan mengguakan sepeda motor. Kita juga melihat bagaimana kendaraan umum ke kota yang satu dan tersedia selalu ditinggalkan perlahan-lahan dan tergantikan oleh kendaraan pribadi yang ternyata hanya digunakan oleh satu orang. Dampak dari kenyataan ini, jika dikumpulkan, akan menghasilakn jumlah yang besar sebagai penyumbang emisi karbon, penyerapan bahan bakar fosil, polusi suara, dan serangkaian kejahatan terhadap alam lainnya.

Pada tataran yang lebih ringan, serangkaian kebiasan kontra-produtif juga tampak di ruang-ruang keluarga. Lihat bagaimana keluarga yang mampu menggunakan energi listrik secara berhamburan dan itu terjadi karena satu alasan: “kami mampu membayar. Apa urusan kalian?”. Sesat pikir seperti ini mudah ditemukan dalam cara dan pola pikir masyarakat kebanyakan. Wajarlah jika dikatakan kepada mereka: “Ya, betul. Kalian itu memang mampu membayar pulsa atau rekening, tapi kalian sama sekali tidak akan mampu mengembalikan kerusakan alam yang dirusak lebih parah hanya demi memfasilitasi suplai listrik yang kalian gunakan melebihi dari yang sejatinya kalian butuhkan”. Serangkaian masalah akan mengular jika didaftar: lampu jalan yang menyala di siang hari, charger yang dibiarkan tertancap tanpa kepentingan mengisi baterai; pendingin ruangan yang terus hidup pada saat penghuninya tidak di tempat, dan seterusnya. Semua pemubaziran ini—sekali lagi—bermula dari sesat pikir, bahwa sepanjang mampu membayar, apalagi gratis, kita bebas menggunakanya semena-mena.

Sampah Rumahan

Selain itu, sampah rumahan juga ikut andil besar dalam merusak alam. Yang terbesar di luar sampah makanan adalah kemasan plastik dan popok. Semua ini juga terjadi karena sudut pandang yang menyesatkan tadi, yaitu “mampu membeli = boleh mubazir”. Prinsip ini, tidak dapat dipungkiri. Ia menghuni cara pandang banyak orang. Bukan sebab karena mampu mengeluarkan uang untuk buat beli popok lantas kita boleh semena-mena. Pernahkah Anda berpikir, ke mana popok-popok itu dibuang? Apakah selokan dan sungai adalah tempat sampah? Ditimbun?

Nenek moyang kita membiasakan menggunakan kain perca untuk popok. Di samping dulu teknologi gel belum ditemukan, cara ini dianggap ramah lingkungan juga hemat dan aman. Tahukah Anda, apakah bahan dasar gel itu? Tidak jelas dari bahan apa itu dibuat, tapi mungkin saja berasal dari sampah yang didaur ulang dengan cara “diputihkan” melalui proses kimiawi.

Barangkali, kita tidak benar-benar bisa meninggalkan produk popok-sekali-pakai yang jelas-jelas menyumbang sampah sangat besar bagi lingkungan, tapi kita bisa menunda pemakaiannya dengan cara kombinasi dengan warisan orang kuna, popok buatan. Dan hal itu juga berlaku untuk kasus sampah plastik.

Dari sekian banyak sampah plastik keras, sampah botol air mineral adalah penyumbang terbesarnya. Memang, ia bisa didaur ulang, tetapi sebagiannya tidak, tetap jadi sampah. Coba perhatikan, setiap kali menghadiri undangan, kita akan disuguhi berkat, dan terkadang air minum dalam kemasan. Celakanya, suguhan ini bahkan mampu mengubah derajat gelas beling, bahwa minuman botol plastik lebih memiliki kesan penghormatan kepada tamu daripadanya. Yang terjadi di dalam masyarakat adalah begini adanya. Betapa banyak sampah plastik dibikin hanya untuk sekali pakai dan selanjutnya menjadi sampah yang butuh ratusan tahun untuk bisa diurai. Kita ingin menghormat orang lain (tamu), tetapi tidak juga ingat untuk menghormat alam ciptaan Tuhan.

Harus diakui, kita memang tidak bisa terlepas dari plastik. Kita tidak bisa antipati kecuali akan mengucilkan diri dari sistem kehidupan masyarakat secara luas. Yang dapat dilakukan dalam wujud pendidikan lingkungan adalah “menunda”, sekali lagi “menunda”. Prinsipnya, membuang sampah ke tempatnya (keranjang sampah) itu adalah anjuran yang benar, tetapi menunda barang agar tidak segera menjadi sampah adalah anjuran yang bukan sekadar benar dan baik, tetapi juga bijaksana. Barangkali kita memang tidak bisa tidak untuk menggunakan sampah plastik dalam kegiatan-kegiatan sosial dan massal, namun kita bisa menghindarinya dalam kegiatan pribadi yang sifatnya rumahan. Inilah salah satu itikad yang sepatutnya diinternalisasi kepada semua lapisan masyarakat, dan tentu saja dimulai dari komunitas yang terkecil, yaitu keluarga.

Air, Pembangunan, dan Karst

Masalah pelik lainnya adalah penghancuran pegunungan karst di mana-mana. Target penghancuran adalah batu gerinda pengganti pasir untuk tingkat rendah, dan pabrik semen untuk skala besar. Salah satu dampak terbesar dari penghancuran ini adalah hancurnya tandon raksasa/resapan air.

Kasus petani Kendeng adalah salah satu isu yang mencuat akhir-akhir ini. Ancaman yang lebih besar adalah rencana penghancuran pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kutai Timur. Semua itu didasarkan demi pembangunan, mirip dengan pembukaan lahan pertanian baru dengan membakar hutan; sudah merusak, membakar pula. Filosofi “demi kemakmuran dan kemajuan” terkadang menipu, karena makmur itu tidaklah dengan cara menghancurkan.

Di Madura, penghancuran batu karst sedang berlangsung besar-besaran. Proyeknya kecil-kecil, tapi karena jumlahnya banyak, maka hasil akhirnya tetaplah besar. Pegunungan karst adalah tandon besar untuk menampung air di musim huijan yang akan dihisap/dialirkan hingga akhir kemarau berakhir. Jadi, reboisasi yang digalakkan agar air tercukupi namun tandonnya telah lebih dulu dirusak adalah omong-kosong. Seberapa kuatnya batang-batang pohon menyimpan air? Padahal kita tahu, semua makhluk hidup membutuhkan air, apalagi manusia. Lalu, bagaimana nasib manusia jika hajat dasarnya (air) kini menyusut karena kelakuan yang sedikit dari mereka?

Rusaknya ekosistem dapat menyebabakan banuyak hal. Keruksaan itu mungkin berlangsung secara lambat laun sehingga masyarakat tidak menyadarinya. Mereka baru akan merasakan dampak buruk darinya di masa kemudian. Tentu saja, mereka yang telah merusak di saat ini tidak akan sempat melihat kerusakannya secara langsung sebab mereka telah mati berkanang tanah. Siapa yang jadi korban? Anak cucu tentunya. Maka, banyak di antara kita yang mungkin hanya berpikir rentang 5 hingga 10 tahun ke depan, padahal mestinya apa yang kita lakukan harus dipertimbangkan untuk jangka waktu yang lebih jauh lagi karena alam ini bukanlah milik pribadi, melainkan anugerah Tuhan yang seharusnya diwariskan kepada anak cucu dan generasi mendatang, bukan dihabiskan sekarang.

Lantas, Kita Mau Apa?

Masih banyak masalah lain yang menjadi pekerjaan rumah tangga kita di luar yang sedikit dan sudah dibahas di atas. Persoalan alih fungsi lahan produktif, tata ruang yang semrawut, hingga perampasan ruang hidup dan pengrusakan yang terorganisir, adalah sedikit dari banyak masalah lain yang butuh perhatian. Yang dapat dilakukan adalah mitigasi, advokasi, dan ‘pencerahan’ terhadap semua lapisan masyarakat, terutama sejak usia kanak, tentang hubungan timbal-balik manusia dengan alam serta bahaya pengrusakan terhadapanya. Langkah ini dimulai dari pendekatan budaya dan secara teknis dapat dilangsungkan dari keluarga, terutama di ruang-ruang sekolah.

Di sekolah SMA 3 Annuqayah, dan mungkin juga di banyak sekolah yang lain, salah satu muatannya adalah “Pendidikan Lingkungan”. Di sekolah itu, siswi yang tergabung dalam kelompok PSG (di bawah OSIS) bergerak dalam mengkampanyekan bahaya sampah plastik, manfaat pupuk organik, hingga kampanye pemberdayaan pangan lokal.

Demikianlah, pendidikan tersebut harus dimulai dari ruang yang paling kecil, paling terbatas, berkesinambungan, dapat dimulai dari keluarga, dari mulut ke telinga, dari tangan ke tangan, dan seterusnya. Dan di atas itu semua, gerakan ini harus berlandaskan komitmen yang kuat. Tanpanya, kegiatan akan menjadi kegiatan belaka tanpa hasil yang memadai.

Kata kunci yang harus terus dipegang adalah “keseimbangan”. Dan itulah yang dilakukan nenek moyang kita melalui tindakan tindakan budaya. Dengan menjaga keseimbangan alam, hidup akan sejahtera. Meskipun saat ini kita sudah terlambat, tapi akan lebih mengerikan jika tidak ada yang memulai. Benar seperti kata Emil Salim yang kurang lebihnya seperti ini: “Kita punya satu bumi, tapi yang merusakanya ratusan bangsa yang justru hidup darinya”.

Dan tentu saja, masyarakat tidak bisa dibiarkan berjalan dan bekerja sendiri. Justru Negaralah yang paling besar tanggung jawabnya atas persoalan asasi ini karena tugas Negara adalah menjamin kehidupan rakyatnya. Tapi, apakah kita harus mengharapakan dan menggantungkan harapan kepada mereka? Kita cukup mengurus yang remeh-temeh saja, dari depan rumah, dari keranjang sampah, dari ruang makan. Yang besar-besar yang butuh kebijakan Nasional, biar Negara yang mengurusnya. Sebab, jika hanya berharap kepada mereka, syukur jika suara kita didengar, lebih menakutkan jika justru merekalah yang akan merampas ruang hidup kita dan membuat lebih sengsara melalui kebijakan-kebijakan yang memihak para pemodal tapi justru menyengsarakan rakyat banyak. Semoga tidak!

***

Setelah matahari meninggi dan tubuh mulai hangat karena berjemur, aktivitas membaca saya sudahi. Iklan-iklan dan berita remeh, berita tokoh-tokoh kutu loncat, korupsi, sampah, semuanya sudah saya lewati. Kini, saatnya saya menyalakan mesin pemanas, lalu mandi air hangat, menggunakan sabun dan kosmetika lainnya, membuang banyak limbah bersamanya, menyalakan dan memanaskan mesin mobil seraya membuang banyak polutan ke udara…

Memang kenapa? Tak ada masalah, sudah biasa begitu.

Sebentar lagi, saya akan berjibaku dengan kemacetan jalan raya, lengkap dengan kesemrawutan dan keugal-ugalan para pelalu lintasnya.
Memang kenapa? Tak masalah, sudah biasa begitu.

Semua berjalan normal-normal saja, setiap hari.
Betapa enaknya andai tidak tahu.
Betapa entengnya hidup dalam ketidaktahuan.

 


Artikel ini akan ditulis untuk kegiatan seminar “Pendidikan Lingkungan Berbasis Budaya” yang diselenggarakan oleh Garda Pemerhati Lingkungan Hidup dan Kebudayaan (GPLHK), bertempat di aula STKIP PGRI Sumenep, Kamis, 28 Desember 2017.

Iklan

Salat di Perjalanan

Oleh M. Faizi

Saya pernah main ke kos teman. Rambutnya basah habis keramas, sepertinya baru bangun tidur terus mandi. Di depannya ada segela es nutrisari. Dan dengan santainya dia gitaran, musik-musikan, padahal waktu itu pas baru berkumandang azan maghrib, waktu di saat saya—mestinya—sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk salat. Ketika itulah, dalam hati, saya bertanya: “Mengapa salat merupakan hal krusial dalam diri seorang muslim seperti aku ini, yang salah satu buktinya adalah pelaksanaan dan aturan waktunya?”. Saya gemes melihat dia.

Jika kemudian ada orang yang menemukan simpulan bahwa gerakan-gerakan salat itu menyehatkan, meningkatkan vitalitas, mempertajam konsentrasi, maka itu hanya hasil riset sementara berdasarkan ilmu, dan bisa jadi “ilmu cocokologi”. Bagi seorang muslim, melaksanan salat itu haruslah atas dasar taat. Perintah salat adalah perintah pertama setelah pernyataan kesiapan menjadi muslim diputuskan melalui syahadat. Jadi, jangan gara-gara temuan itu lantas seseorang mau melakukan salat; semacam bersalat agar sehat, agar kaya, agar tampan, dll.

Salat adalah rukun yang nyaris tanpa syarat, berbeda dengan—misalnya—rukun Islam lain yang boleh gugur dan/atau tertunda karena sakit atau lemah atau dalam perjalanan, seperti puasa. Kewajiban berpuasa dapat ditunda bagi yang sakit atau dalam perjalanan; atau seperti haji yang disertai syarat mampu. Salat? Tak ada alasan apa pun yang dapat menggugurkannya. Bagi pemuda mukalaf, salat wajib tanpa tawaran. Jika tidak mampu dilakukan berdiri (karena sakit, misalnya), hukum salat tetap wajib: dilakukan dengan cara duduk; jika duduk pun terasa memberatkan, salat masih juga wajib dengan keringanan pelaksanaan dalam keadaan berbaring; jika masih tidak mampu menggerakkan anggota tubuh karena saking lemahnya, masih saja status salat tetap wajib: lakukan meskipun hanya dengan kedipan mata sebagai gerak isyarat. Jika berkedip saja tidak mampu? (Ah, masa iya masih ada pertanyaan sesudahnya?) Bahkan, andai kita tidak mungkin berwudu, salat tetap harus dilakukan demi menghormati waktu salat: salat lihurmatil waqti, sekadar memberikan penghormatan atas waktu salat.

Isra dan mikraj merupakan salah satu peristiwa penting dalam Islam yang perayaannya digelorakan setiap tahun. Perayaan ini adalah momen Nabi menghadap Allah untuk menerima perintah salat. Nah, betapa dahsyat peristiwa mikraj itu jika hanya demi satu perintah saja: salat. Sebab itulah, maka pelaksanaan salat disebut juga sebagai mikraj bagi setiap mukmin.

Dalam Islam, salat tidak sekadar dibahas perihal kewajibannya, melainkan juga fungsi dan tujuannya. Allah menetapkan—melalui ayat-ayat-Nya—bahwa salat adalah jaminan bagi seseorang agar tidak melakukan tindakan fahsya’ (keburukan) dan munkar (kemungkaran). Bersama sabar, salat juga juga ditetapkan sebagai jalan untuk meminta pertolongan. Pertanyaan: mengapa kita sering temukan orang yang bersalat, atau bahkan rajin salat, tetapi tetap melakukan fahsya’ dan munkar? Jawaban atas pertanyaan adalah juga berupa pertanyaan: Yang salah itu syaratnya, orangnya, atau laku salatnya?

Pada kenyataannya, dalam hidup keseharian, kita—atau sebut saja ‘saya’ agar tidak terlalu umum—selalu merasa ribet dan repot jika berhadapan dengan urusan salat. Di Jakarta, misalnya, saya pergi selepas asar untuk suatu acara yang akan diselenggarakan setelah isya. Lantas, di manakah kesempatan bersalat maghrib manakala kita masih berkubang dalam kemacetan? Betapa susahnya mengurus semua ini. Masih mending jika saya berstatus musafir yang boleh menunda dalam melaksanakan, tapi bagaimana dengan nasib warga pemukim?

Urusan salat, tertuma di perjalanan, menjadi semakin ‘absurd’. Bagaimana tidak, di negara yang nyaris dikelilingi oleh komunitas muslim, saya—sekarang, boleh sebut ‘kita’, masih sering kesulitan apabila hendak melaksanakan salat. Kalau masuk waktu maghrib, mungkin masih ada sedikit toleransi: bis malam sering memberikan waktu salat untuk penumpang pas di jam istirahat makan, tapi bagaimana dengan waktu salat subuh? Saat naik bis, terutama pada saat masuk waktu subuh, bis ekonomi jarang berhenti untuk sekadar salat kecuali kita harus pilih-pilih sopir tertentu yang lebih dulu kita ketahui rekam jejak religiusnya.

salat d harina

Di dalam kereta api (jangan dulu ngomong di pesawat terbang), orang mau salat malah lebih susah lagi. Satu-satunya cara adalah dengan menunaikannya di bordes. Sebetulnya, bisa saja kita salat di koridor kereta dan secara syarat hal itu sangat memungkinkan, tapi terkadang kita risih melakukannya di sana sebab kita tahu masyarakat kita punya aturan ini-itu yang tidak tertulis. Siap cuek? Silakan! Makanya, salat di bordes adalah pilihan, tapi itu pun jika kita naik kelas ekskutif (seperti Anggrek) karena ruang bordes untuk kelas ekonomi/bisnis—setahu saya—sangatlah sempit, tidak cukup untuk seukuran manusia dewasa.

Pernah sekali saya mengalami perjalanan dari Pekalongan, pukul empat kurang sedikit. Saya ambil wudu lebih dulu beberapa saat sebelum kereta datang sembari berazam akan salat di bordes. Tapi ternyata, di kereta itu (Harina) saya tidak bisa salat di bordes karena ruangnya terlalu sempit. Beruntung, akhirya saya turun di Semarang untuk Subuhan saat kereta berhenti sebentar, mungkin untuk langsir.

Sempat saya mikir: Teknologi perkeraapian saat ini telah maju dan canggih, apa susahnya PT KAI memasang display VMS (variable message service) di setiap gerbong yang dapat menjelaskan titik perhentian di stasiun dan berapa lama durasinya? Tujuannya adalah untuk informasi, terutama menyangkut pertimbangan kesempatan salat bagi muslim. KAI jelas bisa dan mudah membuat hal ini, tapi mengapa tidak dilakukan? Mungkin—ini hanya mungkin, lho—karena pengambil kebijakan tidak begitu jauh mempertimbangkan komunitas siapa saja yang terbesar menjadi penumpang kereta apinya, orang muslim, bukan?

Yang dari tadi disebut itu hanyalah faktor-faktor yang bersifat teknis. Namun, dalam masalah salat ini, sebetulnya ada yang jauh lebih prinsip, terutama urusan wudu dan najis. Kedua hal ini menjadi syarat utama terselenggaranya salat. Maka dengan demikian, tanpa mengurus dan memperhatikan keduanya (wudu dan najis), bicara salat juga akan sia-sia.

Kita punya banyak pulau yang dijuluki “Pulau 1000 Masjid”, seperti Lombok, Madura, dan Tidore, tapi apa iya di masjid-masjid tersebut ada standar kesucian menurut fikih yang sama? Terus terang saja, meskipun arsitekur sebuah masjid atau musala itu mentereng, namun kerap kali tempat pipisnya tidak sesuai SOP bab taharah (bersuci) sehingga memungkinkan mudah menyebarkan percikan najis dari air kencing (padahal syarat salat haruslah suci dari hadas dan semuanya). Mengapa demikian? Mungkin, lagi-lagi mungkin, arsitek dan pengawasnya tidak begitu paham/cuek terhadap fikih dan hanya melulu mementingkan semata-mata efektivitas dan keelokan disain, padahal masalah jaminan kesucian secara fikih berada di atas level ini. Lantas, bagaimana dengan toilet atau kamar kecil yang kita temukan di stasiun, terminal, dan bandar udara, yang umumnya lebih ‘sederhana’ (minimalis) secara disain daripada yang ada di pemukiman penduduk atau masjid di dekat jalan raya?

Intinya, pertanyaan tetap sama: Mungkinkah kita dapat bersuci secara benar jika toiletnya tidak punya standar penjamin kesucian menurut fikih? Jika bersuci tidak benar, bagaimana keabsahan salatnya? Begitulah urutan soal dan persoalannya.

Musala

Memang benar, tidak ada masalah bagi orang yang mau, tapi masa iya begitu? Ini sama dengan ungkapan umum ‘kan tinggal tayamum saja kalau kita sedang naik kendaraan’ yang disampaikan ketika air berlimpah begitu ruahnya; masjid dibangun di mana-mana; kesempatan berhenti pun leluasa. Belum lagi soal, bolehkah kita bertayamum dengan debu yang tidak berwujud debu? Hanya serpihan terepung yang menempel di ruang-ruang kedap udara dan berpendingin itu?

Singkatnya, dalam pengamatan sementara, perjalanan kerap kali membuat orang lupa untuk salat, atau setidaknya malas menunaikannya. Indikasi ke arah itu dapat ditengara dari ‘rabat’ yang diberikan Tuhan untuk tidak berpuasa ataupun menjamak salat karena alasan safar/perjalanan. Kadang, ada juga yang menjawab santai dengan, semisal, “Ah, Tuhan tahu, kok, kalau kita tidak sempat dan bukan kita melupakan-Nya” ketika diajak salat. Ya, Tuhan tahu, tapi saya—atau kita—tidak tahu, apakah jawaban itu tulus atau ngeles semata.

Lagi, salat menjadi masalah apabila kita bepergian ke wilayah di mana muslim menjadi minoritasnya, seperti di negara-negara tertentu di Eropa, atau di Cina, misalnya. Saya pernah tinggal beberapa hari di Jerman dan terus terang merasakan betapa ribetnya pelaksanaan salat ini. Jangan dulu buruk sangka! Mari, bayangkan: bagaimana jika Anda berada di lokasi acara yang toilet-toiletnya kering dan tanpa air (memang adanya toilet kering, bukan karena kran PDAM-nya macet)? Saya harus pulang ke hotel hanya untuk ganti baju dan ambil wudu, padahal jaraknya harus dua kali ganti kereta api dengan durasi waktu sekitar 40 menit plus jalan kaki.

Masalah utamanya adalah soal wudu dan taharah (bersuci). Nah, masih ada masalah lainnya: Bagaimana kita harus tahu kapan azan dari alarm, belum lagi kesenjangan waktu di bulan yang berbeda, seperti siang yang sangat panjang dan akibatnya malam jadi pendek sekali di bulan Juni. Contoh di Trondheim, Norwegia: maghrib jatuh pukul 23.45 dan subuh pukul 02.00. Soal salat mungkin bisa, tapi bagaimana dengan puasa selama nyaris 22 jam?

P1130144

Jika kita perhatikan waktu salat, anggaplah ini berdasarkan utak-atik-gatuk, rupanya memang selalu beriringan dengan penanda waktu. Makanya, ulama sepakat boleh qasar (meringkas salat karena alasan tertentu, seperti karena safar/perjalanan) tetapi tidak seluruhnya setuju dengan menjamaknya, alias menggabungkan dua jenis salat dalam sekali waktu; seperti salat duhur dan asar di waktu asar [ta’khir] atau di waktu duhur [taqdim]. Maka dari itu, salat menjadi ritual agar kita selalu ingat setiap saat kepada sang Pencipta. Sekurang-kurangnya, dalam setiap perubahan waktu itulah kita kita setoran presensi kepada-Nya: Subuh menandai waktu pagi; Duhur menandai waktu siang; Asar menandai waktu sore; maghrib menandai waktu petang; isya menjadi penanda waktu malam. Di antara kedua waktu yang rentangnya panjang (pagi ke siang dan malam ke pagi), diberi bonus salat sunnah yang terkenal hebat pahalanya; salat duha dan salat tahajud. Para ulama tasawuf lantas juga menganjurkan zikir khafi (zikir samar, dalam hati) dengan maksud agar zikir kita tidak terputus sama sekali, sepanjang waktu.

Tentu saja, saya bicara salat ini hanya untuk siapa pun yang merasa risih jika tidak salat. Jika Anda santai saja menghadapinya, maka tulisan ini tentu tidak penting lagi dibaca, boleh jadi malah dianggap ‘lebay’ dan dianggap hanya cocok jadi pegangan para “lebai” (takmir masjid). Apa yang saya tulis hanyalah karena percaya bahwa salat merupakan wujud kita sebagai hamba, juga seperti janji-Nya, dapat menahan kita dari berbuat fahsya’ dan mungkar, itu saja.

 

 

SALTIS

Anda pernah dengar nama band SALTIS? Jika tidak, maka saya memakluminya. Ia hanyalah band yang sempat mencuat sekilas dalam lintasan waktu awal 90-an, dekade di mana lagu rock dan hardrock tanah air sedang mengalami masa keemasannya. Lagunya, “Sadar”, sempat dikenal secara nasional setelah masuk dalam album kompilasi “10 Finalis Festival Rock ke-V Log Zhelebour”. Di album itu, mereka adalah satu-satunya band dari kota kecil (Sumenep) di antara seluruh band lainnya yang berasal dari kota besar/metropolitan.

Kover SALTIS

Sampul album versi kaset. Sumber foto: https://goo.gl/rdXsRi

* * *

Saya masuk ke warung itu, warung yang lebih akrab disebut kantin, terletak di ujung barat RSUD Moh Anwar, Sumenep, di suatu siang, perkiraan medio Juli 2009. Setelah memesan nasi rawon, mulailah saya makan, duduk di bangku yang menghadap ke selatan. Hanya ada tiga orang tamu sana: saya dan dua orang lagi yang sedang asyik bercengkerama.

“Lagu-lagu apa?”
“Deep Purple-an saja.”

Saya menoleh sekilas, merasa tidak lazim dengan tema percakapan mereka berdua, apalagi setelah curi pandang, tilik roman dana pakaian. Kedua orang yang saya maksud itu berpenampilan ‘biasa’, berusia 45-50 dalam taksiran Yang satunya bahkan mungkin sudah punya menantu. Dengan bergaya terus makan, telinga saya sebetulnya tetap awas, nguping pembicaraan.

“Kalau Bakar, sih, nasibnya lebih bagus…””Bakar masih sama Rotor?””Kayaknya bantu-bantu di Sucker Head.””Ya, seangkatan kita ada juga, lho, yang pulung. Itu si Aziz.””Haha, iya. Dulu Rudal, kini Jamrud.”

Hanya pembicaraan itu yang saya tangkap, selebihnya tidak paham atau tidak sempat mungkin karena terlalu serius melahap. Setelah membayar di kasir dan melihat mereka belum beranjak juga, saya beranikan diri menyelai pembicaraannya, ikutan nimbrung. Saya panggil salam dan menyalami mereka berdua seraya membuka medan basa-basi.
“Pangapora, ponapa Panjenengan nika anggotana Saltis?” (Permisi, apakah Anda berdua ini personel band Saltis?)

saltis CD 2

sumber: https://goo.gl/2yVHYm

Kedua orang itu tampak menunjukkan air muka kaget, mungkin karena tidak menyangka ada orang yang sedari tadi nguping obrolan mereka.

“Beh, enggi. Nika Encunk!” kata yang lebih tua, memperkenalkan temannya kepada saya.”Kaula Sade Gozal,” katanya ketika saya menyalami yang satunya.”Kaula Faizi dari Luk-Guluk.”

Dan karena percakapan sepertinya akan terbuka lebar, saya pun duduk, menjadi orang ketiga di bangku mereka.

“Sampeyan kok ada di sini?” tanyanya kepada saya.
“Saya jaga nenek, opname di sini.”
“Ooo….”
“Oh, ya,” Yang ini suara saya. “Apakah Bakar yang dimaksud Panjenengan itu adalah Bakar Bufthaim drummernya Rotor sedangkan Aziz itu adalah Aziz MS gitaris Jamrud?”
“Iya, benar.”
“Dulu, kisaran tahun 1992 kalau tak salah, saya pernah membaca sebuah berita di Jawa Pos bahwa Saltis mau bikin album keroyokan dengan band-band rock lainnya. Kalau tak salah, lagunya antara lain berjudul “Tembang Kehidupan“. Leres? Sampai sekarang, saya tidak pernah dengan seperti apa lagunya. Apakah lagu itu benar-benar ada atau bagaimana?”

“Beh, ma’ oning kakabbi Sampeyan, haha…” (loh, kok Sampeyan tahu semua? haha)

Sade atau Pak Kadir, nama yang saya ketahui belakangan, tersenyum sumringah, menatap saya dengan pandangan cerah, terarah. Dengan sedikit menganga, ia berkata, “Tidak menyangka saya ada orang yang mengenal kami begitu lengkap, di saat saya bahkan sudah mulai lupa. Iya, semua itu benar. Lagunya sudah proses ‘mastering’ tapi tidak jadi digandakan karena ada kendala teknis. Sayang sekali memang.”

saltis CD

sumber: https://goo.gl/2yVHYm

Kala itu, di awal 1990-an, memang lagi musim-musimnya album kompilasi band rock/metal. Yang sempat saya catat adalah album singel maupun keroyokan dari band-band yang sedang naik daun, seperti Red Spider, Brigade Metal, Pumars, Big Panzer, dll. Cuma Saltis yang terus melorot dan beritanya hilang tak berbekas (masih beruntung Encunk Hariyadi sempat ngorbit lagi dengan nama Golden Boy dan sempat pula bergabung dengan Rock Trickle Band (RTB) yang masuk dalam festival rock tahun berikutnya dengan debut Lembaran Baru. Sementara band seangkatan lainnya, seperti Roxx dari Jakarta—segenerasi Saltis di Festival Rock se Indonesia ke-V versi Log Zhelebour—malah sempat menerbitkan dua album tunggal. Itulah beberapa butir ingatan saya yang disampaikan kepada dua dedengkot rock asal Sumenep tersebut, siang itu.

“Iya, iya. Ya. Namanya nasib ya begini. Saya bahkan tidak pernah bertemu lagi dengan Bakar. Kabarnya dia sekarang bersama Sucker Head. Saya tidak tahu pastinya. Saya hanya hanya ngumpul sama teman-teman kami yang ada di sini, di Sumenep.”

* * *

Demikianlah kisah pertemuan pertama saya dengan dua orang pentolan band Saltis, band pertama dari Madura yang dikenal secara nasional melalui 10 Finalis Festival Rock se Indonesia ke-V versi Log Zhelebour. Saltis beruntung karena di festival ke-V inilah karya para finalis dinaikkan ke studio rekaman oleh Log, berbeda dengan generasi sebelumnya yang ‘hanya’ jadi buah bibir di koran saja, seperti Adi Metal. Adapun Elpamas dan Grass Rock (sebagai sesama alumni festival) sempat segera menorehkan album Dinding Kota dan Peterson: Anak Asuhan Rembulan.

18767026_10212056866209299_1329867529_o

Foto oleh Moh Khatibul Umam: “Reuni Setelah 27 Tahun”

Malam Ahad, 20 Mei 2017, mereka reuni, bertemu di sebuah studio musik di kota Sumenep. “Ini adalah pertemuan saya dengan rekan-rekan Saltis setelah 27 tahun berpisah,” kata Bakar Bufthaim yang kini tinggal di Jakarta.

Salah satu lagu Saltis, “Sumekar” pernah dipentaskan secara live dan saya sempat mendengarkan hasil rekamannya kala masih menggunakan pita kaset. Saya mendapatkannya dari salah seorang penonton yang hadir di lokasi, ketika itu, pada saat hari jadi Kota Sumenep, entah tahun berapa. Apakah mereka masih ingat lagu itu? Saya masih ingat baris lirik pertama, chord, bahkan nada dasarnya. Entah dengan mereka. Begitulah memang. Terkadang, seorang fans itu bahkan lebih tahu sesuatu yang dimainkan si artis bahkan melebihi artis itu sendiri (M. Faizi).

________________________________________________________________

Gambar lainnya:

6137829_b76e38eb-d1e9-4806-bb6f-4730bdf2f3a5

sampul belakang CD, sumber: https://goo.gl/2yVHYm

12182968_10205189850689255_603063318465825900_o

Saya (M. Faizi; kiri) dan Encunk Hariadi (kanan, vokalis Saltis). Dulu, yang kiri fans dan yang kanan idola. Sejak ada media sosial, semua berubah dan kini menjadi ‘setara’ 🙂 (Foto oleh Januar Herwanto)

Baca lebih lanjut

Saya dan Bismania

Kecintaan saya pada bis*) dan hal-ihwal yang berhubungan dengan jagat perbisan sudah tumbuh sejak kecil. Salah satu buktinya: saya pernah punya buku saku berisi daftar nama-nama bis. Itu terjadi dulu, sewaktu saya masih duduk di bangku MTs (SMP).

Ketika ada orang bertanya, ‘mengapa bisa begitu?’, saya tidak pernah mampu menjawabnya, bahkan hingga hari ini. Awalnya, saya menduga, gelagat ini hanyalah gejala aneh kepribadian seseorang, itu pun—lagi-lagi menurut saya sendiri—tidak seberapa parah karena saya sadar bahwa apa pun yang bersangkut-paut dengan hobi itu biasanya memang tampak ganjil di mata umum. Contoh: Apa senangnya hobi koleksi pulpen sedangkan ia tidak pernah digunakan sama sekali? Kira-kira, begitulah.

Hingga pada suatu hari, jika tak salah itu terjadi di bulan September, 2007, saya membaca sebuah laporan di Harian KOMPAS, sebuah liputan tentang perilaku sekelompok orang yang memiliki kegandrungan terhadap dunia perbisan. Konon, mereka disebut “bismania”. Orang-orang ini dipandang aneh oleh masyarakat, terutama jika mengingat tujuan plesir mereka itu bukan ke pantai atau ke gunung, melainkan ke terminal, ke pool, ke garasi. Bahkan terkadang ada pula yang “niat banget” mengunjungi tempat terjadinya kecelakaan untuk berdoa di sana. Belum lagi mereka yang pergi naik bis entah ke mana. Maksudnya, bagi tipe mania jenis ini: tujuan tidak penting-penting amat karena yang terpenting dari tindakan itu adalah numpak bisnya, bukan tujuannya (simak kisah Rian).

Nah, dari laporan itu, saya mulai mengerti apa bismania itu.  Ia adalah—kurang lebih—sebutan untuk orang/kelompok yang sangat gemar/suka terhadap bis dan dunia perbisan. Pada saat itu pula saya merasa punya teman yang memiliki kegemaran yang sama. “Rupanya, saya tidak benar-benar sendirian dalam keganjilan,” batin saya pada diri sendiri.

Berdasarkan pembacaan dan penelusuran data, saya menemukan kenyataan bahwa para penggemar itu ternyata banyak ragamnya. Ada yang tergabung dalam kelompok, organisasi, komunitas, dan perseorangan. Di antara kelompok/komunitas tersebut, yang pertama saya tahu adalah, ya, “bismania” itu sendiri. Perkumpulan ini berdiri tahun 2007 dan pecah setahun kemudian: bismania.com (berkomunikasi lewat forum, juga dikenal dengan ‘forbiscom’) dan bismania.org (berkomunikasi lewat ‘mailinglist’ di ‘yahoogroups’, berbentuk komunitas, dikenal dengan ‘BMC’ atau ‘bismania community’). Perpecahan ini, konon, dipicu oleh perbedaan visi saja, bukan yang lain. Sesudahnya, muncul lagi nama-nama kelompok lainnya, seperti Jakbus, Bandung Bus Lover, dan entah apalagi.

Mengapa saya bergabung dengan BisMania Community (BMC)?

Tak lebih hanya karena rujukan dan jujukan yang pertama kali saya temukan dan akhirnya saya ikuti itu adalah ‘milist’ (mailing-list). Hanya itu saja alasannya, lebih karena faktor kebetulan. Jika ada lagi alasan karena BMC itu berbasis komunitas dan oleh karenanya ia bersifat/bervisi nirlaba, itu hanyalah faktor alasan yang datang kemudian.

Di awal-awal bergabung dengan komunitas ini, saya kenal dengan Pak Harsono dan Irawan (Cak Awan), dua orang sesepuh yang mungkin saja termasuk tokoh utama yang terlibat dalam pendirian perkumpulan ini. Perkenalan itu menyebabkan perkenalan selanjutnya. Awalnya, kami “saling mengenal” hanya di dunia maya, hanya di mailing-list dan belakangan di Facebook. Terus terang, saya bukanlah aktivisdi komunitas ini, tidak rajin kopi darat (kopdar), dan hanya beberapa kali saja mengikuti jambore nasional-nya, termasuk jambore yang ke-8, yang terakhir. Jambore yang pertama kali adalah pada tahun 2007 dan bertempat di garasi PO Nusantara, Kudus. Berikut rinciannya:
Jambore 1 Kudus
Jambore 2 Jogja
Jambore 3 Salatiga
Jambore 4 Bandung
Jambore 5 Malang
Jambore 6 Jepara
Jambore 7 Banyumas

Visi-Misi Bismania

Hari ini, ketika hampir semua orang memiliki akses ke media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, mudah ditemukan orang yang mengaku dan mendaku seorang ‘bismania’ hanya karena mereka gemar bis, atau suka foto-foto bis, atau suka ngomong tentang bis. Tentu saja itu hak mereka untuk menggunakan sebutan “bismania” untuk dirinya sendiri jika yang dimaksudkan adalah sekadar definisi penggemar bis belaka. Namun, jika untuk menjadi keluarga besar BMC (saya tidak tahu, apakah ini juga berlaku untuk komunitas yang lainnya), tentu saja tidak sesederhana itu syaratnya.

Bagi saya, menjadi bismania di BMC itu harus memiliki visi dan misi yang jelas, yang salah satu dasarnya adalah persaudaraan. Seseorang yang mengoleksi miniatur bis, punya banyak kaos karoseri, bahkan punya perusahaan otobus, orang penting di ATPM, dan mungkin pula mengoleksi emblem pabrikan, boleh saja menyebut diri ‘bismania’ atau ‘bismaniak’ atau ‘penggemar bis’. Namun seorang bismania dalam pengertian warga BMC haruslah, sekali lagi, memiliki asas persaudaraan, persahabatan, kemanusiaan.

Di antara hiruk-pikuk jambore nasional (jamnas) bismania ke-8 (berlangsung pada hari Ahad yang lalu, 23 April 2017, di Mekarsari, Cileungsi, Bogor; dituanrumahi oleh korwil Jakarta Raya), banyak momen berharga yang terjadi, berlangsung sekilas bahkan mungkin tak pernah terjadi lagi. Ada pemandangan haru ketika saya melihat rekan-rekan panitia sibuk mempersiapkan segalanya demi peserta. Saya melihat dan saya memperhatikan. Begitu pula, di saat yang sama, saya juga mengamati, ada yang cuma asyik foto-foto sendiri dan mengabaikan apa pun yang ada di sekitarnya. Saya lihat, ada pula satu-dua orang yang saling berkenalan serta berasal dari daerah yang saling berjauhan. Ada pula yang datang sekeluarga, lengkap dengan pasangan dan anaknya.

Sungguh menarik pemandangan ini. Akan tetapi, yang paling menarik perhatian saya adalah manakala di antara mereka, saya melihat Cak Awan dan beberapa anggota kawak dari Surabaya, berusaha membimbing rekan-rekan muda lainnya, mendidik mereka, untuk memberikan hormat kepada sesepuh dan para panitia dengan mengajaknya bersalaman, pamitan. Nah, inilah salah satu bentuk pewarisan nilai yang saya maksudkan, nilai dalam persaudaraan. Bahwa bis/bus itu hanyalah tambang yang saling mengikat, sementara pasak dan tiang pancang yang diikat itu adalah nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan itu sendiri.

Bukan tidak mungkin, ada yang datang ke jamnas itu hanya karena ingin mendengarkan “perang telolet”, atau sekadar hanya punya keinginan melihat-melihat puspa ragam model karoseri dan warna-warni livery, atau hanya karena ingin foto-foto bis belaka. Akan tetapi, saya kira, lebih banyak lagi orang yang datang ke jamnas karena dorongan persaudaraan. Dengan asas ini, BMC bukan lagi sekadar nama bagi sebuah komunitas penggemar bis semata, melainkan lebih dari itu. Bagi saya, BMC atau ‘bismania community’ itu adalah rumah bagi banyak orang dan sahabat, tidak ada pandang bulu di dalamnya, baik Anda pemilik PO atau hanya sekadar penumpang. Karena itu, menjadi seorang bismania itu sejatinya harus mampu menjunjung nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan karena didasarkan atas kesamaan kegemaran, bukan sekadar menyalurkan hal-hal remeh yang bakal habis dalam waktu sebentar.

Inilah pandangan saya. Dan Anda, tentu saja, boleh berbeda pendapat, kita tetap bersahabat, menjadi seorang bismania.

______________________

*) Dalam KBBI, kata yang baku adalah ‘bus’, bukan ‘bis’. Saya tetap menggunakan kata ‘bis’ hanya karena sudah terbiasa, suka-suka.
**) foto-foto oleh Fathurrozzaq

Sugeng, Bledex, AKAS: Tiga Nama, Satu Legenda

bledex-mila

Mila Sejahtera ‘Bledex’, foto diambil di garasi AKAS-MILA Jogjakarta, 12 April 2012

Kisah ini terjadi kira-kira pada paruh akhir tahun 90-an, mungkin 1996 atau 1997,  di hutan Saradan (Madiun), tengah malam.

Jalan sepi. Saya taksir: jam jelang pukul 3 pagi. Maklum, kala itu, saya tidak punya ponsel dan tidak pula memakai arloji. Suasana kabin AKAS II bumel yang saya naiki sangat ‘sepi’ karena semua penumpang tidur. Hanya denging turbo mesin belakang Hino RK lawaslah yang saya dengar hingga kursi baris terdepan, tempat saya duduk.

Di sebuah trek lurus, lintasan yang merangsang sopir untuk menginjak gas sampai menjelang ambang batas, ketika jalan di hutan begitu gelap, jauh di depan sana: bergeriap enam lampu mayang berwarna kuning (itu adalah lampu identitas AKAS II; sedangkan MILA Sejahtera memiliki enam lampu mayang yang sama, berderet sejajar di atas kaca depan, hanya beda warna hijau di bagian kanan dan kirinya).

“Wah, Sugeng!” kata sopir kami kepada kernet. Tampaknya ia sudah tahu dengan siapa ia akan berpapasan dalam beberapa detik lagi.

Baru saja pak sopir bilang begitu, lampu mayang, lampu utama, semua lampu bis yang datang dari arah depan itu mati serentak, semuanya.

“Edan! Sugeng!”

Usai berseru begitu, sopir kami juga melakukan hal yang sama: mematikan semua lampunya.

“Astaga!” kata saya dalam hati, kaget bukan alang-kepalang. Ini jelas melanggar aturan keselamatan sebab kami tidak sedang syuting filem atau sedang beratraksi layaknya seorang stuntman. Suasana menjadi gelap luar biasa, bahkan garis marka jalan pun tidak dapat saya lihat meskipun saya sedang duduk di muka. Untung, pak sopir hanya mematikan lampu sekitar 3 detik; entah itu sebagai kode atau apa. Ia menyalakannya lagi. Sementara bis yang datang dari arah depan tetap tidak kelihatan hingga akhirnya kami berpapasan.

Pas, persis, pada saat itulah Pak Sugeng—pengemudi bis AKAS “Bledex” (banyak sopir yang menggunakan nama “Bledex”, namun boleh jadi Pak Sugenglah yang mula-mula menggunakan nama tersebut sebab ketika ia pegang MILA Sejahtera, ia juga pakai nama “Bledex”) yang datang dari lawan arah itu—membunyikan klakson panjang, seolah-olah itu suara orang yang tertawa terbahak-bahak. Suaranya membahana, memenuhi seisi hutan Saradan.

Plong rasanya hati ini begitu momen dramatis papasan dua bis tersebut telah berlalu. Alhamdulillah, tidak terjadi tabrakan atau kejadian buruk lain meskipun apa yang baru saja saya alami itu sungguh mirip film dan tetap tidak dapat bisa saya percayai. “Ini tindakan gila,” pikir saya,  “sangat berbahaya. Taruhannya adalah nyawa penumpang yang ada pada kedua armada.” Dalam hati, saya merutuk.

* * *

Peristiwa itu lama sudah terjadi. Saya sudah melupakannya. Sopir bis AKAS II yang saya naiki kala itu, Pak Pri (Anda dapat membaca kisahnya dalam artikel berjudul “Bukan Sopir Biasa” dalam buku Beauty and the Bus, sebuah buku catatan perjalanan naik bis karya saya sendiri) telah tiada. Hingga beberapa waktu yang lalu, di awal tahun 2015, kejadian tersebut kembali melintas dalam ingatan manakala saya terhubung dalam satu pembicaraan dengan Cak No, salah seorang kru Mila Sejahtera. Kami terlibat perbincangan seru yang semula diawali oleh kabar pindahnya “montor-montor” MILA Sejahtera ke garasi AKAS IV. Obrolan lantas ngelantur hingga kisah nama-nama orang yang pernah menjadi legenda AKAS. Ternyata, satu dari mereka bernama Sugeng; ya, Sugeng yang saya ceritakan di atas itu. Secara kebetulan, menurut penuturan Cak No, Sugeng baru berpulang beberapa bulan yang lewat setelah sakit beberapa lama.

Cak No yakin, Sugeng ini salah seorang legenda AKAS. “Secara umum begitu,” katanya. Memang, almarhum pernah jadi sopir banyak perusahaan bis, termasuk di luar keluarga AKAS. “Meskipun secara khusus, Sugeng itu masyhur bersama MILA dengan nama julukan ‘Bledex’”, imbuhnya.

Masih menurut Cak No, mendiang Sugeng punya kebiasan unik sebelum berangkat kerja, sebelum ia menjalankan mesin. Biasanya, ia mengebut dan mengusap-usap setir serta kaca dengan tangannya sembari berkata, ‘hayo, tangi, tangi, tangi…’. “Seolah-olah ia menyapa dan bicara dengan mobilnya”, imbuh Cak No. Sepertinya, ia punya ritual khusus yang dilakukan juga secara khusus, sejenis doa agar selamat di perjalanan

Setelah berhenti jadi sopir karena sudah tua, “ilmu mengemudi”-nya diturunkan kepada tandemnya, Imam Santosa yang masyhur dengan julukan “Bandit”.

“Sugeng bisa melihat jalan meskipun tidak ada lampu, Mas, sak mereme…” kata Cak No, “Saya saksinya, bahkan ia pernah lakukan kayak begitu dari itu sampe Solo.”

Begitu pembicaraan dalam telepon selesai, saya pun teringat beberapa riwayat tentang seorang kiai yang pernah ditemukan ‘mengemudi dalam keadaan tidur’. Bukan hanya dengan mata terpejam, “Beliau itu tidur beneran, dan mobil berjalan sendiri…” tandas si nara meyakinkan saya. Tentu, saya percaya dia karena saya juga mendengar cerita serupa itu sebelumnya dari nara yang lain yang saya tahu bukan tipe banyak omong, tidak suka ngedabrus dan tidak suka menyebarkan hoax.

Maka, kisah tentang mendiang Sugeng ini—untuk sementara hingga nanti datang tanggapan penolakan atau sejenisnya karena ada rekam jejaknya yang kurang baik, misalnya—saya maklumi. Saya juga percaya Bapak Mandiono (Cak No; pertama saya kenal beliau saat menjadi kernet Pak Paiman bersama MILA Sejahtera “Dona-Doni” dan sekarang ikut Mila Sejahtera angkatan pertama) yang menjadi salah satu narasumber wawancara saya, juga beberapa nara lain yang saya anggap terjamin kesahihan datanya. Lebih-lebih, saya sendiri pernah mengalami kejadian yang saya lihat langsung dengan mata kepala sendiri terkait aksi pak Sugeng ini, 20 tahun yang lalu.

Kini, saya semakin yakin bahwa ada banyak orang yang mampu melihat tidak dengan bola mata semata, melainkan dengan mata yang lain, indera yang berbeda dengan kebanyakan manusia yang mungkin tidak pernah kita tahu ada di mana letaknya, juga tidak tahu bagaimana cara ia bekerja.

Resensi Cetek 5 Buku Kumpulan Cerita Pendek

Saya memilih 5 buku kumpulan cerpen yang saya baca dan saya ulas. Tidak ada alasan khusus mengapa harus 5 buku ini dan bukan 5 buku itu. Jika ada yang bertanya mengapa, jawabannya hanyalah suka-suka saya saja. Kebetulan, sewaktu saya hendak menulis artikel ini, buku inilah yang paling tampak dan berada dekat dengan meja.

p1010017

Orang-orang Kotagede (Darwis Khudori)

Buku “Gadis dalam Lukisan” karya Darwis Khudori merupakan buku kumcer pertama yang saya miliki dan saya baca. Sebagian cerpen di sana ada di sini, di dalam buku “Orang-orang Kotagede” ini. Saya beranggapan bahwa gaya bercerita Pak Darwis, sebagaimana tampak di dalam kedua judul yang disebut tadi, cocok untuk pembaca cerpen yang juga punya cita-cita jadi cerpenis. Bagi kamu yang ingin jadi cerpenis namun keinginan sejatinya adalah untuk menjadi penyair, membaca buku ini tidak terlalu disaranakan, sebab biasanya orang jenis kamu ini suka menggunakan gaya mendayu-dayu dan kata-kata bersayap bahkan pada saat menulis cerpen, terbawa-bawa gitu. Kemendayuan kalimat dan kebersayapan kata nyatanya sulit ditemukan di buku ini.

Kisah-kisah yang ditulisnya adalah hidup keseharian. Kamu pasti merasakan hal yang sama ketika membacanya, atau setidaknya pernah membayangkannya: kejadian-kejadian remeh sehari-hari. Setelah itu, kamu akan menyesal; ‘mengapa bukan aku yang menulis seperti itu?’, seolah-olah merasakan betapa sebetulnya teknik bercerita Darwis Khudori ini bisa juga kamu tiru karena tidak serumit cerpenis-cerpenis kekinian yang mendakik-dakik itu. Pak Darwis, dengan kepolosannya, menghidupkan cerita-cerita pendeknya. Ceritanya seakan-akan terjadi di belakang rumah atau malah kita sendiri yang mengalaminya. Bacalah cerpen “Karim Punya Anak” sebagai kudapan untuk seterusnya “Gadis dalam Lukisan” dan “Potong Rambut” sebagai cemilannya.

Cerpen-cerpen Darwis Khudori cocok dibaca saat kamu santai di rumah, boleh sambil mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals sejenis “Pesawat Terbang” atau “Buku Ini Aku Pinjam”, boleh juga desah Vina Panduwinata dan geletar pita suara Sheila Madjid.

Daun-daun Hitam (Yuli Nuugrahani)

Cerpen-cerpen Yuli yang terhimpun dalam buku ini menyiratkan kegelapan hidup manusia. Sebagai makhluk sosial, di sana, manusia banyak ditampilkan asosial: asing dengan dirinya sendiri, apalagi lingkungannya. Di sana, sebagai homo sapiens, manusia terkadang malah tampak sangat malas berpikir. Itulah sisi gelap yang dibidik secara tajam oleh Yuli Nugrahani. Jika Darwis Khudori memilih tema manusia yang culun dan tolol, Yuli lebih suka membidik kegelapan hidup kesehariannya dengan gaya yang berbeda; datar dan dingin.

Setidaknya, ada empat cerpen yang teramat menyenangkan saya sehingga dapat serta turut berempati ketika membaca lalu mendapatkan wawasan baru serta kenyataan pelik nan tersirat sesudahnya. Cerpen-cerpen seperti “Pasien”, “Daun-daun Hitam, “Namanya di Dunia Maya”, dan “Sekandhi Gabah, Sebungkus Gula Kopi, Sekilo Telur” merupakan cerpen paling unggul dalam kumpulan ini, sekurang-kurangnya menurut pendapat saya. Bukan lantaran karena cerpenis menguasai teknik bercerita, namun lebih karena nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya begitu dekat dengan kehidupan kita sebagai manusia Indonesia.

Buku ini tidak dijual di toko buku. Jelas bakal koit lah kalau disandingkan dengan cerpen-cerpen yang suka dibaca anak remaja. Siapa, sih, yang ingin hidup susah ini malah ditambahi kesusahan justru setelah membaca cerpen, padahal orang membaca cerpen itu lazimnya cari hiburan. Maka, jelas ada maksud tersembunyi dalam hati cerpenis Yuli saat menempuh jalan ini. Ia sudah tahu risikonya. Yang pasti, ia menulis cerpen supaya dibaca, tapi siapa pembaca?

Lagu-lagu balada, seperti Franky & Jane, bolehlah jadi pendamping saat membaca buku ini.

Catatan Orang Gila (Han Gagas)

‘Satire, dalam, surealis’; itulah kesan yang saya tangkap pada beberapa cerpen karya Han Gagas. Cerpenis amatir (yang baru akan menulis cerpen untuk menjadi cerpenis) sebaiknya tidak membaca ini kecuali jika ia ingin melakukan lompatan dari sekadar bercerita secara lugu: “pembukaan, konflik, penyelesaian masalah, selesai” ke cerita aneh-aneh.

Di antara 17 cerita pendek dalam buku ini, cerpen “Dialog si Gembel dan Pohon Mangga” dan “Percakapan dengan Televisi” (PDT) barangkali yang paling mewakli pernyataan saya di atas. Cerpen PDT mengangkat tiga hal sekaligus: ilmu terawangan atau melihat peristiwa sorot-balik (seperti dalam film Contact-nya Carl Sagan), ketakberdayaan kita dalam membina olahraga, dan cekokan iklan.

Akan tetapi, di antara semuanya, yang paling saya suka adalah cerita berwawasan lingkungan seperti “Perjalanan Sepasang Burung Gereja”. Cerpen ini adalah kampanye lingkungan. Saya mendukungnya karena mulai pesimis jika hanya mengandalkan slogan atau baliho dan banner atau billboard. Menyelinapkan pesan lingkungan dalam bacaan yang memaksa pembaca supaya merenung adalah upaya mengajak remaja-remaja kita yang menghabiaskan banyak premium bersubdisi hanya untuk pacaran dan nongkrong supaya tidak malas berpikir: bahwa dengan ditebangnya banyak pohon maka suhu bumi akan terus naik setiap tahun. Puncaknya, pada tahun tertentu, nanti, bumi akan mencapai sangat panas seperti kita di depan kompor, serangga-serangga lalu mati, setelah itu hutan tropis semakin tipis, lalu hilanglah kehidupan dari muka bumi ini; itulah masa ketika nasi, kopi, dan gorengan—apalagi cuma bangsa dongeng dan cerpen—sudah tidak diperlukan lagi.

Tuhan Tidak Makan Ikan (Gunawan Tri Atmodjo)

Tidak mudah membuat cerita lucu yang konyol, kecuali jika cukup disajikan secara main-main dan demi lucu-lucuan. Gunawan Tri Atmodjo adalah orang yang mudah bikin seperti itu tanpa perkecualian. Kalaupun ada yang terjerumus ke dalam ‘kelucuan yang kaku’, mungkin satu atau dua saja. Saya pernah membaca beberapa cerpen Pak Anton (maksud saya yang orang Rusia itu). Lucunya kadang datang terlambat. Jelas, itu disebabkan arus yang bergerak dalam pikiran saya yang tegangannya sedang turun. Nah, ini nih yang baru perkecualian.

Cerpenis Solo ini sepertinya juga ingin membuat tokoh kharismatiknya sendiri, seperti Sukab buatan Seno Gumira Ajidarma dan Gunawan menciptakan Trijoko sebagai Mukidi-nya. Ada juga, sih, cerpennya yang kurang nendang lucunya, bahkan biasa saja, seperti cerpen berjudul “Imam Ketiga”. Ceritanya adalah si tokoh yang semula jadi makmum melulu lalu setelah pernah merasakan menjadi imam salat malah enggak mau dilengserkan dari mihrab. Ini semacam kritik untuk situasi yang aneh: Kadang jabatan tidak berhonor pun ada saja orang yang memperebutkannya.

Cerpen-cerpen lain, tentang orang bodoh yang mudah dikadalin sepeti dalam cerpen “Tuhan Tiidak Makan Ikan” atau anomali persahabatan dalam cerpen “Bukan Kawan” patut juga dibaca sambil mendengarkan lagu-lagu keroncong. Khusus cerpen “Riwayat Sempak”, Anda boleh menghabiskannya sambil nyetel Red Hot Chili Peppers yang pemain bass-nya itu, Flea, pernah konser telanjang dan tidak sempakan.

Cerpen-cerpen Gunawan Trijoko Atmodjo ini cocok dibaca di peron sambil mendengarkan bunyi lonceng stasiun atau pengumuman dari TOA; atau dibaca saat menunggu antrian pecel Bu Ramelan (depan Ambarrukmo Plaza) sambil menyimak percakapannya.

Si Janggut Mengencingi Herucakra (AS Laksana)

Jadi, buku yang baik itu harus laris? Ruwet kalau seperti ini cara mengukurnya. Yang harus pula diperhatikan oleh orang yang punya anggapan begitu adalah beberapa pertanyaan pengukuran: di mana saja buku itu dijual? Siapa kalangan terbanyak pembacanya? Nah, buku Si Janggut ini, meskipun ditulis dengan tata bahasa yang nyaris tanpa kesalahan, tekniknya juga sudah di atas kemapuan rata-rata, disambeli kalimat-kalimat mengejutkan, namun tidak menjamin akan selamat dari terlempar ke kotak buku obralan yang hingga hari terakhir pameran ternyata masih ada sisanya, sedih bukan? Buku “Ayat-Ayat Cinta” yang bahkan andaipun sampul print-prinan dan isi fotokopi, pasti tetap lebih laku.

Seperti apakah selera pembaca cerpen di Indonesia pada umumnya? Jawab!

Untuk hiburan, tidak apa-apa membaca kumcer-kumcer cinta-cintaan, tapi baca juga, dong, buku Si Janggut ini supaya kamu juga tahu ragam dan model cara orang bercerita, bahwa ada cerita yang ditulis dengan gaya rada jelimet seperti karya Pak Sulak ini. AS Laksana memperparahnya dengan kalimat panjang-panjang, salah satu teknik yang oleh mazhab “old school” harus dihindari. Pengarang cerpen lawas suka pendek-pendek, sangat pendek, ‘snap shot’, bahkan dari saking pendeknya terkadang hanya menampikan kata per kata atau frasa yang gagal sebagai kalimat. Saya tahu, AS Laksana sangat disiplin dalam hal ini. Tentu saja, dia melakukan percobaan kalimat-kalimat panjang ini dengan perpaduan “kalimat majemuk bertingkat-tingkat” dan “kalimat majemuk campur-aduk” karena ingin melakukan seperti ini, bukan karena tidak bisa menulis kalimat-kalimat pendek.

Jadi, jika kamu hanya mau membaca buku yang ngetop dan banyak dibicarakan orang, bacalah buku “Sayap-sayap Patah”-nya Kahlil Gibran yang pernah masuk dalam daftar buku best seller dunia atau buku “Risalah Tuntunan Shalat Lengkap”-nya Drs Moh Rifaii yang saya yakin tidak ada satu pun di tanah air ini yang mengalahkan jumlah cetak ulangnya kecuali Alquran.

 

 

Wawancara dengan Tomy Aditama (Herbalis-Terapis)

Jelang bulan puasa lalu, saya berkunjung ke rumah Bapak Tomy Aditama. Lokasinya bersebelahan dengan Masjid An-Nur, sebelah barat Pasar Gamping, Jogjakarta. Beliau putra Mranggen, Demak, namun kini menetap di Jogja.

Ketika saya diterima dan dipersilakan duduk, suasana tempat praktiknya tampak seperti rumah biasa. Memang, di kamar sebelah, saya sempat melihat sepintas adanya beberapa peralatan kedokteran, tapi di tempat beliau praktik itu suasananya lebih berupa ruang tamu biasa. Bagaimana tidak akan saya katakan begitu wong ada suguhannya: gorengan, teh, kopi, asbak, dan air minum. Dalam hati saya bertanya, ‘ini ruang praktik apa warung?’.

Sembari ngobrol kesana-kemari, saya menyapukan pandangan ke beberapa penjuru ruangan. Terdapat satu kamar praktik dan serambi berbalkon yang juga digunakan untuk terapi. Akan tetapi, ada satu keganjilan di sana: sekotak ‘peti uang’ yang sangat besar teronggok di salah satu pojoknya. Lagi-lagi,  dalam hati saya pun merasakan penasaran, ‘ini rumah apa masjid kok ada kotak amalnya?’.

Daripada menahan atau memperoleh jawaban sendiri dengan hanya menerka-nerka, maka saya ajukan beberapa pertanyaan kepadanya sebagai wawancara.

* * *

Dokter Tomy Kotak Shalawat

Saya kenal Pak Tomy lewat Pak Joni yang katanya meriang selama beberapa hari lalu Anda menyarankan pengobatan dengan semangkuk soto. Itu soto beneran atau soto jadi-jadian, Pak?

Hahaha.. Soto beneran. Bukannya pada soto banyak herbal yang dimasukkan? Dan hampir pasti kita makan soto dengan sambel, dari sedikit pedas sampai  sangat pedas, dimakan panas panas juga. Hampir pasti setelah kita makan soto, keringat akan keluar banyak. Lha, itu kuncinya! Keringat.

Meriang itu gejala khas patogen angin. Dan pengusiran angin yang paling sederhana dalam tubuh adalah keringat. Makan soto membuat kita berkeringat, belum lagi nutrisi yangterkandung di dalam soto; banyak rempah, sayur, juga daging sapi atau ayam..

Jadi, ternyata obat itu tidak mesti pahit, ya? Kalau obatnya soto, ini malah menggairahkan.

Iya. Herbal itu rasanya macem-macem. Kita mengenal teori 5 rasa. Setiap rasa mempunyai arah kerja dan karakter sendiri. Contoh, pahit itu biasanya bersifat dingin, arahnya ke jantung. Manis itu hangat, arahnya ke limpa atau organ cerna. Asin hangat, arahnya ke ginjal, dan seterusnya.

Baik, saya tanya lagi, dan maaf kalau sedikit ‘nyelekit’. Saya dengar kabar, sebenarnya Anda ini dokter. Apakah sekarang tetap sebagai dokter atau sudah ganti terapis/herbalis atau dokter cum terapis-herbalis atau dokter yang menyamar dukun?

Masalah sebutan, ya, sebenarnya saya bukan dokter full. Sudah sering saya jelaskan ke pasien, sampai capek juga. Dulu saya kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UGM hingga sarjana kemudian lanjut sekolah profesi dokter gigi, dulu disebut ‘koas’. Di jaman saya, waktu itu disebut dokter gigi muda, di RSGM atau Rumah Sakit Gigi dan Mulut. Nah, saat itulah saya galau 😉 .. Kemudian saya memutuskan untuk keluar dari profesi dan kemudian mendalami kedokteran timur secara total. Makanya, gelar akademis saya, ya, SKG atau Sarjana Kedokteran Gigi. Tapi, lha, itu tadi, di kampus atau RSGM, masih status mahasiswa aja dipanggil ‘pak dokter’, apalagi waktu itu sudah jadi dokter gigi muda, jadi banyak yang masih manggil ‘dokter’, ha, ha, ha…

Kadang, saya lebih nyaman disebut ‘mas’ atau ‘pak’ aja atau panggilan profesi saya tabib, sinshe, atau dukun, ha, ha, ha… Bukankah dukun itu adalah orang yang pekerjaannya mengobati orang laen? Cek kamus, ya!

Menurut si empunya cerita, salah satu metode pengobatan Mas Tomy adalah Zamathera. Apa itu?

Zamathera adalah suatu teknik pembetulan tulang belakang yang berbasis teknik Yumeiho namun telah disempurnakan. Jadi bisa dikatakan bahwa Zamathera adalah suatu teknik evolusi dari yumeiho itu sendiri. Secara definisi, Zamathera adalah metode pembetulan sendi seluruh tubuh dengan teknik mengendorkan sendi, otot-otot, syaraf, dan jaringan tubuh lainnya sehingga secara radikal mampu menghilangkan penyakitnya, dengan tulang pinggul sebagai titik fokusnya.

Apa alasan Anda memilih jalan ini sebagai cara penyembuhan?

Jalan mana maksudnya, ya?

Maksud saya, jalan menjadi herbalis-terapis?

Kalo sejarah saya sehingga belajar total (kedokteran timur) itu panjang sekali. Yang jelas, ketika awal belajar kedokteran timur, saya merasa bahwa inilah yang saya cari selama ini, imu pengobatan yang berlandaskan hukum-hukum alam, jauh lebih logis dan rasional dan sudah terbukti, teruji, selama ribuan tahun.

Baik, terima kasih atas waktu dan jawaban-jawaban. Ada tambahan yang ingin disampaikan namun lupa saya tanyakan?

Oke, Pak. Ada yang perlu saya sampaikan. Kedokteran timur itu berbasiskan hukum alam. Es itu dingin. Di mana-mana  tetap aja dingin. Api itu panas. Kalo kedinginan, ya, dipanaskan. Kalo kepanasan, ya, didinginkan. Itu hukum keseimbangan alam. Kalo orang Cina menyebutnya Yin Yang dan ini sunnatullah. Kalo dalam agama disebut berpasang-pasangan. Jangan lupa, tubuh manusia itu juga bagian dari alam, termasuk organ-oragannya serta energinya. Semua terkena hukum alam. Kalo orang kepanasan, ya, jangan dipanasin. Dalam bahasa pengobatan, kalo kita kena sindrom panas, ya, jangan minum jahe. Kurang darah, sering kedinginan, pucat, jangan makan semangka, tambah hancur tubuhnya. Itu namanya melawan hukum alam, pasti sakit.

Herbal pun ada indikasi dan kontra-indikasinya. Semua tergantung kondisi tubuh. Dan perlu diingat, setiap individu itu unik. Tidak ada yang sama satu sama lain. Jangan digeneralisir.

Makanya, saya menerapkan namanya “rasionalisasi pengobatan” dan semua berdasarkan hukum-hukum alam. Teknik terapi, herbal, semua ada indikasi dan kontra-indikasinya, apa pun itu.

Slogan “Kembali ke Alam” itu sering rancu karena umumnya orang tidak memperhatikan hukum-hukumnya. Yang penting banyak makan sayur, buah, tidak minum obat kimia: masalahnya tidak sesederhana itu. Kita  harus paham karakter dan sifat makanan, termasuk tubuh kita sendiri. Jangan lupakan pula tentang adanya energi yang mengalir dalam tubuh kita, energi  di luar tubuh kita, orang laen, makhluk laen, dll. Emosi, sosio kultural, cuaca, matahari, bulan, bintang, semua menjadi suatu kesatuan yang mempengaruhi manusia

Mengapa ada anggapan bahwa reaksi herbal itu tidak secepat obat kimia sehingga jika sedang kepepet, ada kalanya keluarga yang terbiasa dengan obat-obatan alam (herbal) ujung-ujungnya tetap pakai obat kimia juga?

Sebenarnya tidak juga, Pak. Herbal itu reaksinya cepat, kok. Orang-orang bilang reaksi lambat itu karena sebenarnya tidak tepat resepnya, tidak pas, atau bahkan salah. Contoh, kalo kita makan atau minum jahe, butuh waktu berapa lama untuk kita rasakan efeknya? Pedas, hangat menjalar ke seluruh tubuh, bahkan sampai keluar keringat, Itu reaksinya. Butuh waktu sekian detik atau menit aja, kan? Jadi,  kesimpulannya sangat cepat. Tapi tentu saja semua tergantung kondisi tubuh, penyakitnya akut ato kronis. Tapi secara keseluruhan, reaksi herbal itu cepat.

Yang jadi masalah juga adalah pemahaman masyarakat umum yang sangat kurang tentang herbal, tidak paham karakter dan sifat herbalnya, juga tidak paham dengan kondisi tubuh secara kedokteran timur. Kenapa harus Timur dan bukan Barat? Lha, ini juga yang banyak orang tidak paham. Herbal itu ilmu dari Timur, muncul dengan berbasiskan filosofi Timur, dengan kaidah dan akar ilmu yang berbeda dengan Barat.

Baik, mungkin ini pertanyaan terakhir. ‘Kotak amal’ itu untuk apa? Mengapa pakai ‘kotak amal’, Pak?

Itu masalah tarif, Pak. Sekarang itu serba-bingung. Kalo profesional kan harus pake tarif, lha, padahal ada klausul klasik yang mengatakan bahwa tabib tidak boleh pasang tarif karena kaedah awalnya adalah untuk menolong orang. Tapi kalo kita lihat, ada adab-adabnya, ada akad. Untuk tabib atau terapis tidak boleh menentukan tarif, jadi semampunya pasien. Berapa pun harus diterima dengan lapang dada. Sedangkan pasien wajib ngasih mahar, semampunya. Kalo pasien gak punya uang sama sekali, gimana? Ya, saya ngasih uang dulu ke pasien, baru pasien memberikan lagi kepada saya J . Jadi  tetap sah, ada akad. Di situlah letak adab.

Tapi karena sekarang jaman banyak berubah, ada yang namanya tarif standar, ya, saya ikuti. Tarif tetap ada, tapi biasanya saya bilang “atau sumonggo, semampunya…”. Terus, pasien memasukkannya ke kotak. Kalo di tempat saya, kotak itu diberi nama ‘kotak shalawat’, jadi bukan kotak amal, bukan kotak infak. Kalo amal, susah saya-nya. Kalo sampe amal kan korelasinya sedekah, lha, masa saya makan uang sedekah? Bisa kacau. Jika itu hadiah, sih, gak apa-apa, atau kotak mahar. Kalo disebut infak, jelas lebih aneh lagi karena jelas uangnya haram saya makan, ha, ha, ha.

(oleh: M. Faizi)