Jalan-Jalan dan Perjalanan

Setiap kali akan melakukan perjalanan, sesekali—lebih tepatnya seringkali—saya bertanya kepada diri sendiri: pentingkah ini saya lakukan? Apakah bisa diwakilkan? Apakah tidak bisa ditunda?

Tidak seperti dulu saat masih muda, sekarang, saya selalu dihantui oleh segerombolan pertanyaan “untuk apa”, “demi apa”, “tujuannya apa” setiap akan melakukan perjalanan. Pertanyaan-pertanyaan pra-perjalanan ini bukan untuk mempertimbangkan dana, waktu, atau unsur yang lain, melainkan di atas semua itu, beyond kata orang. Lalu, apa? Niat!

Saya merasa sangat penting membicarakan niat dalam perjalanan mengingat ini ibarat tema dalam sebuah cerita. Tanpa tema, cerita bukanlah cerita, cerita tak jadi cerita. Begitu pula, tanpa niat, sebuah aksi tidak bernilai apa-apa kecuali kerja-kerja jasmaniah semata-mata. Sebab itu, dalam Islam, kemurahan menjamak dan meringkas salat ditentukan oleh niat. Jarak jauhnya sama, media transportasinya sama, tapi jika niatnya mencuri dan yang satu silaturahmi, maka yang pertama gagal untuk memperoleh kemurahan itu. Nah, dari sini sudah tampak, betapa krusialnya niat.

Dulu, seorang kawan mengundang saya datang ke kontrakannya di Orchard Road, Singapore. Ketika saya tanya untuk apa, dia jawab, “Ya, jalan-jalan saja! Nanti saya ganti semua biaya transportasi dan saya tanggung biaya akomodasinya.” Maka, supaya tidak menyinggung perasaannya, saya sampaikan kepadanya agar dia menyelenggarakan sejenis acara kecil atau apalah, supaya kepergian saya dari rumah—dengan resiko meninggalkan keluarga dan murid-murid—sedikit dapat imbas pahalanya.

“Baiklah, akau akan adakan acara Yasinan di kediamanku,” katanya, tapi dia tertawa.

Pada hari H, berangkatlah saya ke Singapore seorang diri. Benar, ada acara di sana. Kami baca Yasin bersama. Yang ikut dalam acara tersebut hanya 4 orang saja, tidak lebih: saya dan 3 orang perwakilan tuan rumah. Yah, begitulah.

Begitu penting niat ini saya garis bawahi dalam setiap perjalanan sehingga saya merasa perlu menulis buku khusus untuknya. Maka, terbitlah buku “Safari”. Buku ini berisi panduan perjalanan, terutama melakukan perjalanan dengan kendaraan bermotor maupun naik angkutan umum. Di sana, saya juga membahas hal inti bagi seorang muslim, yakni panduan shalat dalam dan pada saat melakukan perjalanan. Yang terakhir, saya juga mencantumkan adab-adab yang mesti dijaga dan doa yang sepatutnya dibaca.

Apakah perubahan orientasi seperti ini terjadi karena usia? Saya kira iya, tapi bisa juga tidak. Yang pasti, apa pun yang terjadi, niat harus sudah ada sebelum langkah pertama dimulai. Dengan demikian, kita bakal mendapatkan—sekurang-kurangnya, pahala niat dan juga target yang kita rencanakan apabila itu terkabulkan.

2 thoughts on “Jalan-Jalan dan Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s