Kenangan Bersama Fajar Setiawan

74476906_1385175734976912_2118786132522041344_nPernah suatu sore, Fajar datang bersama Dewi, istrinya. Jarang sekali saya lihat pemandangan seperti ini. Anak-anak di kos sudah mulai berfantasi, bakal nemu buka puasa yang lumayan enak. Sebab, di hari-hari yang lain, buka puasa kami kan ya gitu-gitu saja.


Halo, Mas!”

Kata kawan kos yang rata-rata sudah kenal sama beliaunya.
“Halo…” balasnya.

Mas Fajar lalu mendekat ke saya, menyatakan suatu kalimat yang intinya dia buru-buru, tidak bisa berlama-lama karena sedang bersama istri, anak, dan pamannya juga. “Ini buatmu!” katanya, sembari menyerahkan isi kantong plastik dan sambil melangkah menjauh, menuju Kijang Super. Saya mengangguk dan berterima kasih. Tapi, saya rasakan, ada yang ganjil. Kantong plastik itu rasanya terlalu ringan untuk ukuran nasi daging atau ayam goreng.

Giliran Fajar pergi dan saya kembali bertemu kawan-kawan, ah, penonton bukan kecewa, tapi malah tertawa. Kantong plastik itu isinya ternyata jamu gemuk. Mereka tertawa kiranya bukan karena dugaan yang salah, tapi juga mungkin karena saya yang kurus. 

Itulah sekelumit kenangan yang melekat dalam pikiran saya dan beberapa orang teman yang berada di lokasi kejadian. Kesan itu sangat membekas. Buktinya adalah; ia kerap diceritakan ulang dan kami tidak bosan. Dan esai memorabilia ini sudah lama ditulis, sekitar 5 tahun yang lalu, ditulis ulang karena demi mengenang kawan yang telah berpulang beberapa waktu lalu.

Saya pernah tinggal beberapa lama di Solo (bukan dalam waktu yang lama, sebentar-sebentar tapi dua tahun lebih rentang masanya, kira-kira tahun 2001-2003). Ketika itu, saya masih aktif kuliah tapi sudah tidak ngekos, numpang di sana dan sini. Saat itu, saya punya teman akrab dari Solo, tepatnya dari Sukoharjo. Mereka adalah Fajar Setiawan Roekminto dan Siti Muslifah. Keduanya berjejaring sesama UNS (yang oleh sebagian teman saya disangka Univ. Neg. Solo, padahal Univ. Neg. Sebelas Maret). Nah, saya akan bercerita pertemanan saya dengan Fajar Setiawan ini, yang dua hari lalu meninggal dunia.

Awal-awal perkenalan kami, dia ngundang saya buka puasa di rumahnya, di Gedangan, Solo Baru, ke arah Baki. Tentu saja, undangan ini aneh karena saya tahu dia tidak menganut keyakinan akan kewajiban puasa Ramadan.

“Datang, ya, ke rumahku! Ada acara buka bersama.”

“Oh, ya? Kapan?”

Fajar lantas menyebut tanggal.

Dan pada tanggal itu, saya datang ke acara yang disebutnya buka bersama tersebut. Ternyata, acara di sore itu adalah acara kopdar (kopi darat). Ya, dia adalah anggota penglaju Solo-Jakarta yang sering pergi-pulang naik keretaapi Fajar Utama. Entah apa nama komunitasnya, saya tidak ingat.

Saat acara sudah dimulai, anggap saja dimulai karena tidak ada aba-aba secara resmi, di antara mereka ada yang tiba-tiba bergeser ke emperan.

“Mau ke mana, Mas?” tanya saya.

“Mau merokok dulu, di luar,” bisiknya seraya misem, “Udah kecut, nih. Maaf, ya!”

Kejadian sore itu menandai kesan pertama bagi saya: buka bersama tapi ada yang nunggu maghrib malah sambil merokok di pojokan, di tempat yang agak terlindung dari pandangan orang.

***

Tempat pertama kali yang saya tuju di Solo adalah Carikan, rumah Ibu R. Ay. Tatiek Winarno, pemilik “Sekar Kedhaton”. Rumah beliau berada di Jl Gajah Suranto 7 , sekitar 150 meter baratnya Pasar Klewer, bersebelahan dengan dinding dan pojok benteng. Beliau adalah seorang perias busana pengantin. Beberapa kali saya berkunjung ke rumah ini, rumah dan pekarangan yang besar yang dihuni oleh lebih satu keluarga dan lebih dari satu keyakinan. Dari tempat ini, saya mulai tahu betapa di tempat yang jauh dari rumah saya tersebut ada orang yang hidup damai dengan beda-beda iman. Kesan ini, lagi-lagi, juga tergurat di dalam pikiran.

Kenangan tentang Solo sebetulnya bukan sekadar tentang Fajar, pluralitas, keyakinan, dan stasiun Solo Balapan saja, bukan itu saja. Di sana, banyak pengalaman yang mengesankan, bukan cuma itu. Pengalaman ‘tragis’-nya ada juga, misalnya waktu pergi ke Solo naik Honda Astrea Prima dari Jogja enggak tahunya orangnya tidak ada di tempat, pergi entah ke mana. Mana kena hujan pula sepanjang jalan. Maklum, kala itu, saya tidak menghubunginya lebih dulu karena belum punya ponsel, beda dengan dia yang hidupnya sudah lumayan mapan dan karenanya punya ponsel (dia adalah seorang dosen (belakangan jadi dekan di Fakultas Sastra) di UKI, Cawang, Jakarta.

Perjalanan ke Solo yang paling sering dilakukan dengan Prambanan Ekspres, kereta jarak dekat: Jogja-Solo. Dan dari Jogja, saya naik dari Lempuyangan, turun di stasiun Solo Balapan. Setiap kali naik kereta ini, selalu saya punya kesan mendalam manakala tiba di stasiun. Saya sangat suka tempat perhentian tersebut, tapi tidak menyukai perjalanannya. Mengapa tidak naik bis? Alasannya adalah posisi terminal yang tidak menguntungkan jika saya mau tempat tujuan. Kalau tak salah, hanya sekali saya naik bis ke Solo dan naik bis medium dari Tirtonadi ke Solo Baru.

Dalam banyak hal, kami punya beberapa kesamaan, meskipun beda-bedanya juga banyak. Dalam hal ini, saya tersanjung karena Fajar telah memberikan keistimewaan buat saya di rumahnya. Mengapa istimewa? Banyak jawabannya, tapi salah satunya adalah karena saya diberi ‘lisensi’ untuk pakai sandal di atas rumahnya ketika mau shalat sementara mereka tidak. Ya, saya punya sandal jepit khusus alas kaki di atas, di dalam rumah, yang digunakan hanya untuk shalat. Saya punya sajadah sendiri dan ‘pojokan sendiri’ untuk shalat di dalam rumahnya yang di dinding-dindingnya terpajang beberapa salib.

Saya kenal dengan iparnya, Dodit. Dengannya, saya punya kesamaan yang lain: sama-sama menyukai lagu rock. Dia juga pernah ngajak saya bertemu kawan-kawan bandnya di sebuah studio, di tengah kota Solo. Kami akrab, tapi jarang bertemu karena dia pergi pagi hari ke kantor, ke tempat kerjanya, sementara saya kadang pergi sore, keluar rumah, saat dia datang.

Selama datang dan pergi ke Solo Baru, banyak sekali pengalaman keluyuran. Kadang main ke tempat orang lain yang agak jauh. Pernah juga saya “menyasarkan diri” hingga ke jalan akses Tawangmangu. Begitulah, lalau lagi bingung mau ngapa-ngapain, kalau sudah bosan tinggal di rumah, bosan nonton televisi, saya dipersilakan Fajar agar keluyuran sendirian, bawa sepeda motornya: GL Max kesayangannya.

Selepas kuliah, dia sempat bekerja sama dengan saya, menerbitkan bukunya, “45 Menit X 2 Ala Indonesia” (Penerbit Djambatan). Saya diminta nulis kata pengantar di sana, tapi saya menolak karena tidak bisa. Fajar ngotot agar saya tetap membuat kata pengantar untuk buku kumpulan anekdot sepakbolanya itu. “Sebisanya!” desaknya. Jadilah! Kata pengantar pakai puisi. Dan salah satu kesan lainnya terkait ini adalah; dia berhasil mempengaruhi saya jadi penonton bola liga-liga Eropa (ketika itu liga di Indonesia sama sekali tidak menarik minat saya) hingga saya pernah kecanduan nonton sepakbola selama 2002-2008. 

Dia juga sempat mendaulat saya hadir di kampusnya, di Fakultas Sastra, Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang, bersana Donny Anggoro ketika itu. Sejak acara sastra di Fakultas Sastra UKI itu, mungkin tahun 2006, saya lupa tidak mencatat—kami tak pernah bertemu lagi. Kami hanya dihubungkan lewat telepon dan SMS. Saya bahkan tidak tahu apakah dia masih wira-wiri Solo-Jakarta, tinggal di Jakarta, atau sudah menetap di Solo dan sesekali ke Jakarta. Terakhir saya ke rumahnya di Solo Baru pada 27 Des 2007 di Solo, saat terjadi banjir besar dari Bengawan Solo. Akhir tahun 2009, saya  ke Solo Baru lagi, tapi tidak ketemu Fajar, cuma ketemu Dodit, iparnya. Dan pertemuan selanjutnya, 25 Maret 2011, terjadi lagi di UKI yang waktu saya mampir sebelum pergi ke ke IIBT di Kemayoran.

Sejak lepas itu, kami sangat jarang berkomunikasi. Bertemu tidak sama sekali. Hanya lewat Facebook, sesekali lewat SMS saja kami terhubung.

Dan entah ada angin apa, 6 September 2014 dia datang bersama beberapa orang, main ke rumah saya di Madura. Yang mengejutkan saya, dia juga mengaku pindah agama. Dia sedikit cerita tentang pengalamannya bekerja di KPU Tarakan, Kaltara. Sebagai teman, saya percaya saja, berbaik sangka saja. Karena sesungguhnya, iman atau keyakinan itu adalah rahasia terdalam setiap pribadi yang tak perlulah saya interogasi seberapa dalam ia diyakini. Saya sadar dan tahu diri:  saya bukan satpam, juga bukan malaikat.

Hingga akhirnya, di antara sekian rencana kunjungan, saya baru bisa membalas laga tandang ke rumahnya di Solo, pada 22 November 2019, enam bulan yang lalu. Namun, ketika itu, saya Fajar tidak tinggal di Carikan maupun Solo Baru. Saya menjumpainya di daerah Sangkrah, dekat pasar Kretek (kalau tak salah), tak jauh dari Jembatan Gilingan, Solo, bersama Istu, istrinya. Satu-satunya putranya, Defa (yang saya tahu hanya saat dia masih kecil, dulu) tidak ada di sana. Saat itu, dia baru sembuh dari sakit. Dia memang meminta saya agar mengunjungi dan menghiburnya. Namun, ketika melihat kondisi fisiknya, saya rada cemas, rasa cemas yang terbukti enam bulan berikutnya. Ya, karena pertemuan itu telah menjadi pertemuan kami untuk yang terakhir kalinya.

(Ditulis 15 Mei 2019, dua hari setelah wafatnya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s