Mengendalikan Sampah dari Halaman Sekolah

M Faizi [1]

Kalpataru 2Hari-hari belakangan ini, isu bahaya dan dampak sampah plastik gencar terdengar di sekitar kita, bahkan di seluruh dunia. Kabar buruk tentang nano-plastik yang menyaru slick, yang memenuhi laut di sekitar perairan Hawaii (menurut laporan National Geographic edisi Mei 2019) merupakan kelanjutan kabar buruk sebelumnya yang investigasinya ditulis di dalam edisi “Bumi atau Plastik” (Juni 2018). Datanya mencengangkan: jumlah sampah di laut itu lebih banyak daripada ikan-ikannya.

Sementara itu, tidak seperti plastik, isu kertas kalah ‘seksi’. Ia sedikit sepi dari gosip dan rasan-rasan aktivis lingkungan. Mungkin karena masa peluluhannya yang jauh lebih singkat (hancur sendiri ‘hanya’ dalam hitungan bulan atau beberapa tahun), beda dengan plastik yang butuh ratusan tahun, itupun senyatanya tidak hancur, melainkan sekadar merepih dan berganti wujud, dari serakan ke sobekan, lalu berubah ukuran ke mikro lalu nano. Alasan inilah yang mungkin membuat kertas dianggap lebih ramah lingkungan. Kertas juga identik dengan media bacaan atau buku yang notabene merupakan sumber ilmu, padahal sebetulnya mata rantai produksinya juga rumit dan panjang.

Baru-baru ini, tersiar kabar seekor paus yang mati di perairan Waktobi dengan perut berisi hampir 6 kg plastik (termasuk di antaranya bekas sandal jepit) menghiasai berita beberapa media. Entah karena berita ini atau karena hal lain, selama April-Mei, Greenpeace, sebuah NGO internasional yang misinya adalah penyelamatan lingkungan, gigih berkampanye soal pengendalian penggunaan plastik sekali pakai (single-use). Menurut mereka, salah satu yang terbesar menciptakan limbah ini adalah Nestlé. Salah satu wujud aksi mereka adalah membuat “monster plastik”, menyusun sampah-sampah plastik berwujud binatang prasejarah, lalu menggiringnya, mengembalikan sampah sekali pakai (single-use) tersebut ke pabriknya, yaitu ke  kantor pusat Unilever di Amsterdam, kemudian dibawa ‘berenang’ ke Vevey, Swiss, tempat kantor pusat Nestlé berada.

Harus diakui, isu-isu semacam ini, baik soal plastik atau kertas, belumlah mengakar di dalam masyarakat, belum menjadi tema obrolan di warung atau kafe, kalah rating jika dibandingkan tema politik elektoral. Bahkan, ia baru menjadi wacara warga kelas menengah atau kaum terpelajar, itupun jika kelompok yang terakhir ini benar-benar mau membaca dan peduli pada isu lingkungan daripada sibuk main di kafe dan mal. Secara ironis, orang terpelajar lainnya justru memiliki keranjingan yang luar biasa terhadap sampah plastik. Jika tidak percaya, lihatlah gaya hidup mereka. Salah satunya adalah dengan melihat cara dan gaya mereka berbelanja.

Jika kita masuk ke mart atau toko swalayan, tidak ada bungkus daun pisang dan daun jati di sana. Semua bungkus dan kemasan serba-plastik. Kalau kita membeli korek yang bisa langsung dimasukkan ke kantong baju pun harus dibungkus menggunakan kantong plastik. Ketika ditolak, kasir juga menolak untuk tidak memberikan kantong plastik. Katanya,  itu merupakan SOP toko yang dijaganya. Perhatikan, bagaimana saat itu terjadi proses lahirnya sampah plastik dengan waktu paling singkat, hanya 30 detik, yaitu sekira perjalanan dari depan kasir ke keranjang sampah di balik pintu toko. Syukurlah, belakangan ini, setidaknya sejak awal tahun 2019, banyak toko yang mulai mengerti dan mengubah aturannya dengan lebih mengutamakan perspektif environmental daripada memberikan kantong plastik sebagai bagian dari pelayanan.

 

Sementara itu, kertas punya persoalan sendiri. Sebelum milenium kedua berakhir, peradaban nir-kertas sudah diramalkan oleh Bill Gates dalam pidatonya di saat ia mengundurkan diri dari kursi Microsoft. Ia membayangkan, di masa yang akan datang, semua orang tidak akan kesulitan lagi mengontrol bacaan, informasi, dari media digital. Ia membayangkan, orang bisa pesan minuman sekaligus baca berita dari meja kafe yang di situ pula ia menunggu pesanannya datang. Dan itu benar-benar terjadi sekarang. Era komunikasi dan informasi berbasis digital ini, kalau mau disederhanakan, dapat disebut sebagai “era matinya media berbahan baku kertas”.

Sejauh ini, industri buku rupanya masih aman-aman saja. Meskipun Jardiknas telah meluncurkan Buku Sekolah Elektronik (BSE) pada 20 Agustus 2008 yang silam, yang dimulai dari ide membeli hak cipta kepada penulis oleh Bambang Sudibyo (Mendiknas kala itu) agar buku dapat disebarkan dengan murah, dan dua tahun kemudian jumlah total BSE telah mencapai 407 buku, namun buku cetak masih berjaya sampai hari ini. Secara pasti, tidak ditemukan angka pemerosotannya secara karena ternyata masih banyak perusahaan penerbit dan percetakan yang tetap bertahan. Alasannya, paling tidak, kita belum tidak akrab dengan dunia digital rupanya.

SUDUT PANDANG YANG MENYESATKAN

Lantas, apa yang dapat kita lakukan dalam menyikapi masalah ini? Mengubah suatu tabiat yang sudah terpola nyaris tidak mungkin dilakukan, kecuali dalam waktu yang lama. Yang paling tepat haruslah dimulai dari lembaga pendidikan. Mengubah sudut pandang lewat lembaga pendidikan akan berdampak masif karena mereka akan turut memberikan pengaruh yang hebat kepada masyarakat sekitarnya. Kampanye poster dan banner bukan berarti tidak berguna, tapi jauh akan lebih bermanfaat dan berkelanjutan jika hal itu dilakukan dari lapisan yang paling dasar, yaitu dari pesantren, atau sekolah, dan keluarga, dan mode dakwahnya bil hal (langsung dengan contoh), bukan sekadar bil lisan (dengan ucapan/tulisan).

Salah satu masalah kita adalah jebakan perspektif tentang sampah, baik itu limbah plastik maupun kertas. Di mana-mana, dikampanyekan lingkungan yang bersih dan sehat dengan penyediaan tempat sampah. Beberapa sekolah adiyata agaknya juga begitu. Kita tidak pernah berpikir untuk menata pemahaman masyarakat dan lingkungan pada bukan semata-mata benar dalam membuang sampah ke tempat sampah. Yang paling fundamental adalah mengajak dan mengedukasi mereka agar belajar untuk menunda pemakaian barang-barang agar tidak segera menjadi sampah.

Salah persepsi itu berbahaya dan terkadang tidak disadari. Masih ingat, kan, ketika dulu ada ‘hibah’ komputer bekas dari negara luar ke dalam negeri kita sendiri? ‘Hibah’ tersebut nyatanya adalah “menjual dengan harga sangat murah” atau “sekadar mengganti biaya pengiriman barang”. Mungkin benar itu memang hibah, tapi juga sangat mungkin ia merupakan “trik membuang sampah elektronik” (yang jelas-jelas anorganik) dari negara maju ke negara tertinggal atau berkembang. Buang sampah pun tampak seperti gerakan amal, mirip-mirip orang yang jualan barang dagangannya dengan menggunakan dalil-dalil agama. Kapitalisme mana mau mikir soal komodifikasi agama ini.

Perspektif ini sama dengan ketika kita begitu terpesona terhadap negara-negara Barat yang lingkungannya bersih dan mereka peduli terhadap sampah. Tetapi, kita tidak ingat kalau mereka pula yang tanam modal di negeri kita lewat dengan industri: merusak alam dan tentu saja membuang limbahnya juga di sini. Belumlah kita perlu bicara sampah-sampah di angkasa luar sana. Tentu saja kita tahu negara mana saja yang paling bertanggung jawab untuk hal ini, tapi kita tidak pernah tahu seperti apa dan bagaiamana bentuk pertanggungjawabannya.

BERBAGI PENGALAMAN DARI SEKOLAH

Di SMA 3 Annuqayah, salah satu lembaga pendidikan di pondok pesantren Annuqayah (pondok pesantren ini adalah penerima penghargaan Kalpataru pertama pada 1981 kategori penyelamat lingkungan), warga sekolah terbiasa mengelola sampah kertas dan sampah plastik. Sekurang-kurangnya, hal itu dimulai sejak peringatan Hari Bumi pada tahun 2008 yang digagas oleh kepala sekolah kala itu (M Mushthafa) dengan membentuk komunitas pemulung sampah, Pemulung Sampah Gaul (PSG) namanya. Ia merupakan komunitas yang secara organisatoris berada di bawah OSIS.

 

Hari ini, setelah 11 tahun kemudian, PSG berperan aktif mengendalikan sampah plastik di lingkungan sekolah, menyaring sampah dari hulu, dari depan kelas, sebelum dibuang ke tempat akhir yang sebagiannya dijadikan kompos untuk dibuat pupuk umbi-umbian yang ditanam di bidang tanah tersisa. Umbi-umbian ini adakalanya dipanen, diolah, dan disuguhkan ketika sekolah mengadakan acara atau kegiatan temporal. Layar acara yang digunakan adalah kain lebar dan tulisannya menggunakan kertas bekas. Tidak ada banner dan vinyl di dalam aula atau ruang kelas. Minuman yang disajikan pun berbasis gula merah dan daun sereh, menggunakan gelas atau cangkir. Walhasil, setiap selesai melaksanakan kegiatan, nyaris tidak ada sampah (plastik) yang tersisa.

Pada fase-fase awal, tentu saja ide dan cita-cita ini mengalami tantangan, terutama dari siswa, bahkan guru, yang tidak terbiasa berpikir panjang tentang limbah plastik dan kerusakan lingkungan. Pola berpikir yang ada begitu sederhana: selagi ada dana/uang, beli AMDK atau barang apa pun, buang sampahnya, bersihkan ruangan, selesai. Begitu urutannya. Hidup sederhana itu dianjurkan, tetapi menyederhanakan persoalan, apalagi pemikiran, itu yang keliru. Belakangan, semuanya berubah. Hampir semua lapisan warga sekolah sudah paham terhadap sampah, dari bentuk kemasan hingga menjadi limbah.

Untuk sosialisasi, PSG menumpang pengajian ibu-ibu (karena seluruh siswa di sekolah ini adalah perempuan) untuk memperkenalkan jenis dan bahaya sampah plastik. Dengan cara melibatkan tetangga, hubungan sekolah dengan masyarakat sekitar jadi lebih terbuka, tidak eksklusif sebagai banyak kita lihat di berbagai tempat. Mereka juga bekerja sama dengan sekolah atau madrasah terdekat untuk berbagi pengalaman dalam mengeola sampah plastik, di antaranya dengan mendaur ulang, seperti membuat kriya atau kerajinan tangan berbahan plastik bekas, seperti tas dan dompet. Terakhir mereka bekerja sama dengan toko milik yayasan: menghadiahi para pelanggan dengan tas plastik buatan mereka namun dengan nota kesepakatan, yaitu akan membawa tas tersebut jika berbelanja dan menolak menggunakan kantong plastik sekali pakai.

Di lingkungan sekolah tersebut, disedikan air minum dalam galon yang diletakkan di beberapa titik, di depan kelas, dengan piket penyediaan yang diatur oleh OSIS. Begitu pula, kerjasama dengan kantin dan penjual cemilan dijalin, yaitu dengan menyediakan piring (dan tidak lagi dibungkus kertas nasi) serta mangkok (bagi penjual pentol, tidak lagi pakai plastik), dan lain sebagainya. Meskipun cara ini ribet dan pada awalnya ditentang oleh pihak penjual, namun berkat penyadaran dan kerjasama, masalah dapat diurai dan berjalanan lancar. Yang melanggar tentu saja masih ada, tapi tidak seberapa.

Adapun cara mengendalikan sampah kertas, di SMA 3 Annuqayah, kepala sekolah menggunakan kertas bekas setengah pakai (halaman sebaliknya masih kosong) untuk program Perpustakaan Masuk Kelas. Teknisnya: sekolah menyediakan berbagai macam bahan bacaan (artikel 500-600 kata) dan dicetak di kertas tersebut, lengkap dengana sari katanya. Kertas dibagikan pada jam pertama, sebelum guru datang. Jadi, sebelum kegiatan belajar di kelas dimulai, minimal satu artikel sudah dibawa oleh siswa, beberapa kosa kata telah dihapal. Artikel-artikel dari kertas bekas ini kemudian dihimpun lagi dan ditukar dengan kelas yang lain, begitulah seterusnya.

Pemanfaatan kertas bekas juga dapat diterapkan untuk laporan akhir tahun sekolah yang disebarkan kepada guru dan/atau kepada wali siswa pada saat pembagian rapor. Di samping untuk menghemat anggaran, cara seperti ini dimaksudkan untuk untuk mengedukasi warga sekolah perihal sampah, termasuk cara berhemat dan mendaur ulang. Biasanya, pada saat sambutan, kepala sekolah menjelaskan sedikit hal tentang alur produksi kertas sehingga hadirin tahu dan sadar bahwa laporan dalam wajud kertas bekas itu bukanlah karena sekolah kurang menghargai mereka atau bahkan pelit, melainkan lebih karena alasan environmental.

Masih banyak cara lain yang dapat dimanfaatkan dari kertas bekas ini. Namun, yang terpenting adalah mengubah pola pikirnya jika tujuannya adalah jangka panjang, seperti menjelaskan bahwa dengan adanya uang dan ketersediaan dana bukan berarti kita lantas boleh untuk menghambur-hamburkan atau mubazir dalam menggunakan barang, termasuk menggunakan tisu dan kertas lainnya. Agaknya, pola pikir “ada uang = boleh mubazir” seperti ini masih banyak ditemukan di dalam kehidupan masyarakat kita. Nah, dengan memulai pendidikan dan menciptakan kebiasaan dan pembiasaan dari ruang-ruang kelas di sekolah, bukan mustahil, capaian jangka panjang, yakni pemahaman masyarakat terhadap lingkungan, akan terbentuk dengan baik.

Untuk melengkapi proyek sekolah berwawasan lingkungan ini, sekolah, melalui PSG, sesekali mengadakan pameran lingkungan atau kemah lingkungan. Semua kegiatan dan aktivitsnya harus saling mendukung. Di dalamnya, disediakan makanan berbasis gula merah karena kebetulan berada di wilayah yang dekat dengan petani siwalan dan kini mulai banyak ditinggalkan. Adapun penganannya, sebagian besar, diproduksi sendiri, seperti umbi-umbian yang dipanen dari kebun sendiri dengan cara memanfaatkan sisa lahan tanah kosong milik sekolah atau pinjam pakai terhadap tetangga sekitar.

Apa yang telah dilakukan satu sekolah selama lebih dari satu dasawarsa untuk berkomitmen dan peduli terhadap lingkungan, boleh jadi tidak bisa diterapkan di sekolah/tempat lain karena alasan beda kawasan dan kebiasaan. Akan tetapi, yang dapat kita lakukan di mana pun adalah komitmen untuk terus berbuat kebaikan dengan memantapkan niat agar yang kita lakukan tidak murni hanya gerakan biasa, melainkan juga ibadah yang akan mendapatkan pahala. Jika pembiasaan telah menjadi kebiasaan, maka semua masalah sampah akan beres dengan sendirinya.

Kita dapat memulai dari mengubah sudut pandang. Salah satunya dengan tidak sibuk memasang plakat buanglah sampah ke tempatnya, melainkan membiasakan hidup berpengendalian dan kontrol, seperti menunda penggunaan barang yang segera menjadi sampah, terutama sampah plastik. Kita mestinya tidak sibuk dengan plakat dan jargon yang hadiahnya sebatas penilaian pada akreditasi sekolah, melainkan dengan tindakan dan tindakan nyata dengan demi proyek jangka panjang. Siswa meneladan guru dengan melihat dan meniru. Misi pendidikan akhlak lingkungan tidak bisa sekali jadi. Ia harus dibangun sejak awal, dan dimulai dari lingkungan kecil-terbatas, dari ruang keluarga dan ruang kelas.

(artikel ini rencananya mau diikutkan lomba esai yang diselenggarakn oleh Qureta, tetapi terlambat dikirimkan karena lupa 😦 )

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s