Yang Hilang: Yang Terasa dan Yang Tanpa Disadari

Ada hak-hak yang ketika tidak terpenuhi ia akan langsung terasa. Contohnya adalah seperti hak mendapatkan ruang bagi pejalan kaki. Ketika tepian jalan dihabisi, langsung terasa betapa susahnya kita berjalan dan merasa aman. Ada pula hak yang hilang dan kita tidak segera menyadarinya. Apa itu? Banyak sekali, di antaranya adalah hak untuk melihat keindahan alam, seperti sawah yang membentang, hutan yang lebat, atau keindahan bukit-bukit batu karst yang membujur di atas pulau.

Trotoar yang beralih fungsi tempat jualan atau parkiran dapat dikembalikan dengan aturan atau regulasi, lalu kita dapat kembali merebutnya kembali, menjadi tempat yang nyaman untuk berjalan kaki. Hutan yang dibabat, yang beralih fungsi, hilangnya keanekaragaman hayati, barangkali butuh puluhan tahun, atau ratusan, untuk melihatnya maujud kembali, tentu saja dengan syarat tanpa adanya kerakusan generasi berikutnya.*)

 

Akan tetapi, jika yang hilang adalah bukit batu dan tanahnya, bagaimana cara kita menciptakannya kembali? Bisakah kamu membuat batu menggunduk di atas gunung, bisakah kamu menciptakan air untuk diminum? Batu terbuat dari suratan dan air terbikin dari tangisan. Sekali ia pergi, ia tak datang kembali. Maka, manakala kamu apel pagi atau merayakan upacara tujuhbelasan, pastikan tanah yang kaupijak: milikmu, milik kita sendiri, yang nyata, bukan pinjaman, apalagi hanya terbentang di dalam cerita rekaan.

Sesungguhnya, yang kamu anggap hak milik, hak-hakmu itu, bukan benar-benar dan sepenuhnya milikmu. Ada hak-hak cucumu juga di sana. Di Bumi ini, kita ini hanya menumpang. Hak kita untuk tinggal, kewajiban kita untuk merawat. Jadi, jangan rakus! Wariskan ia untuk anak cucu kita sebagai kekayaan bumi pertiwi, bukan sekadar warisan cerita: “Pada zaman dulu kala, di sini terbentang alam nan indah, namun kini telah tiada…”

(M. Faizi)

__________________

*)

Menurut Routledge Handbook of Corruption in Asia (2017), inilah yang membuat pelaku korupsi mendapatkan pembenaran sehingga mereka melakukan itu semua dengan biasa saja.

Prof Hariadi Kartodiharjo (dalam buku “Merangkai Stanza Lagu Kebangsaan”, terbitan Forest Wacth Indonesia, 2018), menulis bahwa dalam suatu pertemuan di KPK yang membahas inisiatif swasta dalam pengendalian korupsi, tahun lalu (buku terbit 2018, berarti kejadiannya 2017), disebutkan bahwa pontensi suap di seluruh Indonesia –hanya dalam satu tahun saja mencapai sekitar 51 trilyun. Semuanya terkait dengan perizinan.

Tersurat data kajian di lembaga anti korupsi tersebut, kalau di tahun 2015, pendapatan negara yang hilang sebab kayu bulat yang berasal dari konversi hutan untuk kebun dan tambang telah mencapai angka 49,8 – hingga 66,6 triliun per tahun, itu hanya 11 tahun saja (2003-2014). Dalam pelaksanaan GNPSDA-KPK, didapati temuan kekurangan bayar pajak sektor pertambangana, perkebunan kelapa sawit, maupun dari sektor kelautandi tahun 2014  sekitar 126 triliun. Nilai uang sebanyak itu berpotensi sebagai dana kampanye dalam pelaksanaan PILKADA.

 

 

1 thought on “Yang Hilang: Yang Terasa dan Yang Tanpa Disadari

  1. demikianlah manusia, ahahahahahaa. pernah nemu ulasan tentang itu di National Geographic. tanpa kehadiran manusia, sebenarnya kerusakan planet bumi takkan semasif itu. bagaimana kalau manusia punah? ya gak bagaimana-bagaimana. sepertinya. manusia susah punah, salah satunya. bila manusia punah, ya gak akan ada lagi yang bisa memperdebatkan apa pun sih kan yaaaaaa; salah duanya. 😀 😀 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s