Disebabkan oleh Tembakau (Drama)

Campalok Jambangan Guluk-Guluk Sumenep 2Naskah oleh M. Faizi

(Para Pelaku: Sarip, Sujak, Tajul, Haji Dul Gani, Hansip)

Sarip:                (Menggumam sambil ngelap sepeda motornya) Memang, musim tembakau memberikan banyak keuntungan, ya, bagi pedagang, bagi bandul, bagi siapa sajalah, bahkan kalau pedagang emas seperti Haji Mahfud itu, wah, bisa beli mobil lagi dia. Honda Supra pun sebenarnya sudah cukup, kok.

 

(Improvisasi: monolog tentang keuntungan tembakau)

 

Bahkan kalau saja tembakau Madura bisa diekspor, semua masyarakat di sini mungkin akan pakai mobil, tapi repot juga sih, entar kalau aku beli, nanti mau diparkir di mana ya, wong jalan ke rumahku saja nggak ada, thak paletthok. ohoi…gampang, bisa dititip di Haji Dul Gani yang di pinggir jalan.

Sujak:               Tapi, enggak jugalah, friend. Aku bahkan punya ide agar penanaman tembakau dilarang di seluruh Madura.

Sarip:                Sebentar, maksudmu dilarang  gimana? Memangnya masyarakat kita mau disuruh makan garam saja? Atau mau disuruh cari makan ke Malaysia, Arab Saudi? Kalau bukan tembakau, kita ini punya apa?

Sujak:               Tapi, kalau semua ini cuma permainan,  mau apa lagi, bubarkan saja tembakau. Ganti dengan, apalah, yang tidak berbahaya bagi kesehatan. Sebab nyatanya, setiap tahun, tembakau memakan korban, setiap tahun, tembakau selalu over produksi. Akibatnya menumpuk, tak terbeli. Yang kalah, petani lagi, petani lagi yang rugi. Sekali-kali, petani, dong, yang menang, yang jadi pahlawannya, jangan dikalahkan terus-terusan.

Sarip:                (mencoba bergaya bijak)Ya, tidak sesederhana yang kamu katakan, Jek. Persoalan ekonomi itu persoalan kompleks. Kalau cuma mau bisa menyalahkan, enggak usah sekolah pun bisa, kok! Lihat kemiskinan bangsa kita, tidak bisa dilihat dalam satu perspektif saja: sosbud dan politik juga dipertimbangkan.

Sujak:              Tapi, kamu ngomong kayak gitu karena kamu diuntungkan oleh tembakau, kan?

Sarip:                (menghadap penonton) wah, repot kalau bicara dengan orang yang tidak   punya basis intelektual!

Tajul:                (masuk tergopoh-gopoh, bingung) Tolong aku. Tolong aku! Aku numpang ngumpet. Aku dikejar Hansip!

Sarip&Sujak:    Ada apa? Ayo jelaskan dulu, tenang, tenang. Di sini kamu aman.

Tajul:                (kepada Sujak: sambil tertawa) Oh, iya, kamu kan hansip juga, ya? Wah, iya, iya (garuk-garuk kepala). Kalau begitu, aku salah minta perlindungan nih.

Sujak:               Tidak kawan, jangan khawatir. Soal keamanan bisa diatur. Ada apa, sih?

Tajul:                Katanya bensin turun, tapi harganya, kok, selangit; katanya tembakau mahal, tapi, kok, berbal­bal tembakauku enggak laku. Gudang sudah tutup.

Sarip:                Lho, apa hubungannya dengan minta perlindungan?

Tajul:                Aku itu dikejar-kejar orang. Dia nyuruh hansip agar memburuku.  Dia bahkan mengancam akan menyerahkanku pada polisi kalau tidak segera membayar tunggakan hutangku…lha, wong, duitnya kugunakan untuk menomboki utang belanja palaron untuk pengairan kampung.

Sujak:               (bergaya membetulkan suatu ucapan yang salah) Bukan palaron, tapi balaron.

Sarip:                Terus, hubungannya dengan kamu dikejar-kejar?

Tajul:                Ya, yang salah aku, sih, sebenarnya. Dulu aku ngutang baralon, eh, palaron, kupakai dulu buat sumur di rumah. Dan setelah aku punya uang, aku ganti, tapi pakai uang dia itu, he, he.

Sujak:               Ngawur kamu! (Kini memandang tajam pada Sarip) Nah, ini satu lagi bukti konkret bahwa tembakau yang digunakan untuk merokok tidak cuma menyebabkan serangan jantung dan kanker, tetapi membuat orang dikejar­kejar utang.

Sarip:                Kamu itu payah, sudah terpengaruh. Ya, itu kan salah dia, bukan salah tembakau.

Sujak:               Tapi, kalau diusut, penyebab utamanya ‘kan tembakau juga

Sarip:                Ya, nggak lah, tembakau itu urusan bisnis, kalau dia urusan penipuan…

Sujak:               Tapi, penipuannya kan karena bisnis tembakau.

Sarip:                Kamu itu; pernyataan benar, alasannya salah.

Sujak:               Nggak apa­apa, yang penting kan cepat menjawab. Terserah mau benar, mau salah, yang penting cepat tanggap. Yang jelas, semua keributan, penipuan dan kerugian, disebabkan oleh tembakau.

Tajul:                (intonasi marah sambil menunjuk) Diam kalian! Yang punya masalah itu aku, bukan kalian, kok malah kalian yang bertengkar. Sekarang yang jadi permasalahannya; aku ini mau sembunyi di mana?

Sujak:               Pokoknya, aku akan adukan ke Pusat. Bubarkan tembakau! Bubarkan tembakau! Garap lahan yang lain. Kita itu kaya, Rip. Tambang? Ada Pagerungan dan  pulau-pulau yang lain.  Kekayaan laut? Rumput laut kita ekspor, ikan berlimpah, kurang apa? Produksi garam? 70% garam Indonesia itu dari Sumenep. Kita seharusnya memaksimalkan fungsi otonomi daerah, dong, jangan cuma tembakau melulu yang diomongkan. Kita ini kaya, tapi kenapa kok bisa kita miskin?

Tajul:                Itulah keanehan yang lain: bensin turun tapi harganya naik, kita kaya tapi kok miskin. Ayo, bisa jawab, enggak?

Sarip:                Hey (kepada Sujak) Kamu ternyata pintar juga, ya! (kepada Tajul) dan kamu ternyata kritis, pandai ngoceh! Kalau pagi suka makan pisang, ya? Tapi, kalau permintaaan kalian itu dituruti, yang akan merugi pasti banyak.

Sujak:               Pasti lebih banyak untungnya. Aku yakin, dengan kekayaan kita, utang Luar Negeri tidak usah dibayar Indonesia, cukup Sumenep yang bayar!

(Haji Dul Gani masuk bersama seorang Hansip, tiga orang lainnya terkejut).

Haji Dul Gani:  Assalamualaikum…

Sarip:                W.a.l.a.i.k.u.m. s.a.l.a.m. (terbata­bata) Jidul Gani, hah?

(Sujak dan Tajul sama­sama ketakutan).

Haji Dul Gani:  Rupanya, di sini, ya, markas kalian?

(Ketiga­tiganya saling menyalahkan, mereka merasa telah tertipu, terjebak)

Haji Dul Gani:  Sarip, kembalikan motor yang kaupinjam itu! Ngomongnya setengah hari, kok jadinya seminggu?

Sujak, kapan kau mau membayar uang sewa tanah?

Sujak:               Tapi, saya bangkrut, pak haji. Sungguh, tembakau saya juga enggak laku. Saya ngambil tembakau di Jawa dan ternyata gudang sudah tutup, mungkin bulan depan, ya, bulan depan pak haji.

Tajul:                (dengan tampang bego) Kalau saya, rencananya memang mau ke tempat pak haji, ya, sesudah rembukan di sini, saya ke mari cuma mampir, kok. (menrik napas panjang) Dan alhamdulillah, ternyata pak haji datang dengan sendirinya ke mari.  Jadi, saya tidak perlu ke rumah pak haji.

Haji Dul Gani:  (Gembira, tertawa jumawa) Yah, alhamdulillah kalau kamu sadar. Uang yang kamu pakai itu kan kas kampung, jadi aku bertanggung jawab untuk segera membelikan paralon agar pengairan di kampung lancar. Yang merasakan enak kan tidak kamu dan aku saja, tetapi semua masyarakat.

Tajul:                Tapi, pak Haji…

Haji Dul Gani:  Kenapa? Malu kalau bayar di sini? Enggak apa­apa, di luar saja.

Tajul:                Nggak pak haji, rencananya..

Haji Dul Gani:Oh, iya, aku paham. Aku paham, kok. Kalau mau ke rumahku, ya, silakan. Sekalian, kamu mau silaturrahim kan?

Tajul:                Bukan pak haji, saya memang mau silaturrahim ke rumah pak haji, sekaligus mau minta maaf.

Haji Dul Gani:  Maaf apa? (nada agak merah)

Tajul                 Saya mau ketemu pak haji untuk mengatakan… mmm… bahwa saya akan menunda pembayaran utang ke musim tembakau di tahun depan. Maaf sekali, pak haji.

(Haji Dul Gani langsung roboh, semaput)

Tajul:                Kurang ajar kalian! Tembakau itu anugerah, otak kemaruk kalian saja yang kejam. Rupanya kalian ini pencoleng semua, Bajilll…

(Orang­orang bergumam, saling menyalahkan, mereka menggotong pak haji ke luar dan pementasan telah selesai).

 

7 September 2002

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s