Semalam di Pulau Raas

Raas.png

Berlayar ke Pulau Raas, Jumat-Sabtu (1-2 Mei 2018) kali ini adalah kali pertama bagi saya, entah bagi anggota rombongan lainnya. Kami agak kerepotan sedikit karena harus berangkat sebelum subuh dari rumah agar “sudah menjadi musafir” pada hari Jumat sehingga kami bisa mengerjakan salat duhur-asar di Pulau saja. Diputuskan: habis sahuran, kami berangkat.

Kabarnya, KM Dharma Kartika yang dikelola oleh Dharma Dwipa Utama (dulu DLU) baru jalan lagi setelah sebulan docking (diperbaiki). “Makanya, penumpang tidak banyak,” kata Zidqi yang menjemput kami, “karena mungkin masih banyak yang tidak tahu kalau hari ini kapal ini berlayar lagi.” Memang betul, Jumat pagi kala itu, tidak banyak penumpang, kecuali mobil barang. Di ruang penumpang bawah, saya hitung kurang dari 10 orang.

Laut tenang di awal Juni. Kapal berangkat molor sedikit dari jadwal: 08.15. Kabarnya, selasa sebelumnya, 29 Mei, angin kencang luar biasa sehingga banyak orang yang mabuk laut. “Bahkan, orang Raas pun bisa mabuk,” kata Wasid memberikan testimoni kehebatan ombak. Beruntung hari ini tidak, bahkan relatif tenang sehingga saya (bersama Om Mamak, Affan, Pak Suyar, dan beberapa santri yang mudik) sudah bisa sandar pada pukul 12.46.

Di Raas, astaga, saya bertemu dengan banyak orang yang sama sekali tidak saya duga sebelumnya kalau mereka berasal dari sana. Di antara mereka adalah Lukman Mahbubi dan Rafli yang notabene murid saya di Madrasah Aliyah Annuqayah. Kebahagian langsung menyemburat pada pertemuan pertama.

Sakala.pngRaas ini adalah pulau yang secara jarak berada di 72 kilometer dari pelabuhan Kalianget. Jauh memang, tapi ingat, Kabupaten Sumenep masih punya Pulau Sakala yang jaraknya 270 km dari Kalianget atau Karamaian yang berjarak kira-kira 250 km.  Apakah Sakala ini adalah pulau yang paling jauh dari daratan kepulauan? Di Sumenep iya, tapi tunggu dulu, di dunia ini adalah Pulau Paskah yang jaraknya 2700 kilometer dari tepi barat Chili, di Amerika Latin sana. Semua jarak di atas menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan yang ini, bukan?

Kami datang ke pulau Raas untuk menghadiri undangan anak-anak muda Generasi Pelajar dan Mahasiswa Raas (GPMR). Mereka mengadakan hajatan Festival Malengseng (sebagian menyebut “manengseng”) dan mengemas salah satu sesi acaranya dengan Ngaji Budaya: “Dari Raas untuk Indonesia”.Terdengar ambisius? Tidak juga. Raas sekarang mulai dikenal luas sejak kucing Bhusok masyhur belakangan ini.

Tak habis pikir saya takjub, ada sekelompok anak muda yang punya itikad untuk melakukan perubahan di pulaunya yang jauh dari kota kabupatennya. Takjub yang kedua adalah karena ketuanya, Sulton, baru lulus SLTA. Lebih takjub lagi dan lagi, acara yang diselenggarakan di halaman MTs/SMK Al-Ittihad tersebut dihadiri oleh Pak Camat Raas dan segenap aparatur negara, lengkap. Mereka anteng mengikuti acara sampai pukul 00.10.

Saya bermalam di kediaman Pak Masdawi Syam, dekat pelabuhan Ketupat, ujung barat Raas (padahal fery yang kami naiki berlabuh di ujung timur, desa Brakas). Jarak yang membentangi pulau adalah 14 km. Sebetulnya, desa ketupat ini ‘terpisah’ dari Raas, sehingga lebih tepat kalau disebut Pulau Ketupat andaikan Anda menggunalkan citra satelit untuk melihatnya. Konon, para sesepuh pulau, dulu, menimbun permukaan laut yang paling dangkal dengan batu-batu karang setelah sebelumnya mengamankannya lebih dulu dengan menanam tenjang (dibaca “ténjhang”; bakau, mangrove) di kanan-kirinya.

Tetangga desa Ketupat adalah Jungkat. Asal penamaan desa Jungkat ini konon berawal dari upaya Adi Rasa, sang pembabat pulau, yang menjunjung kayu besar dan kemudian mengangkatnya untuk dijadikan jembatan: jadilah “jungkat”. Makam beliau ada di desa Kropoh, desa yang berdampingan dengan desa Alasmalang. Adapun pusat administrasi kecamatan ada di desa ujung timur, di Brakas, setelah sebelumnya ada di ujung barat. Dua desa yang lain di pulau itu terletak di sisi selatan: Karang Nangka dan Poteran. Ada beberapa pulau kecil berpenghuni di sekitar Raas (Tonduk dan Guwa-Guwa, Komereyan, Talango Aeng, Talango Tengah). Ada pula Talango Timur dan Saro’ yang sama-sama tak berpenghuni. Nah, kedua pulau ‘nirawak’ ini yang biasanya rawan jadi milik pribadi.

Pelayaran pulang hari ini, Sabtu, 2 Juni, dengan kapal yang sama, Dharma Kartika, sangat menyenangkan dan menenangkan. Pelayaran sungguh ‘licin’ (istilah orang pulau untuk menjelaskan laut yang tenang). Rombongan pulang duluan paginya naik kapal kayu, sementara saya pulang sendirian siang hari naik fery karena masih sempat mikir untuk bermalam lagi. Sayangnya, rencana mengingap lagi tidak jadi karena saya punya jadwal lagi besok malam (Ahad, 3 Juni). Siang itu, lautan benar-benar tanpa gelombang. Para penumpang juga masih tidak terlalu membeludak. Lebaran masih setengah bulan lagi.

20180601_124651-01

foto milik Pangapora

20180601_123435-01

foto milik Pangapora

Maghrib turun saat kapal menyisir sisi selatan pulau Poteran (Talango). Para penumpang berbuka bersama di anjungan, sebagian di kamar. Lampu-lampu sudah menyala di Kalianget. Pelabuhan tak jauh lagi. Suatu saat, saya akan kembali, Raas! Karena tidak mungkin saya menceritakan banyak hal jika ia hanya bersumber dari satu kali kunjungan sehari-semalam.

Iklan

4 thoughts on “Semalam di Pulau Raas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s