Sabang – Madura

Perjalanan saya ke Sabang awal Maret lalu dengan cara melakoni jalan darat hingga Madura terlaksana dengan baik. Keinginan ini sudah saya simpan begitu lama. Menghayati keindahan sebagian alam Indonesia melalui setiap tikungannya benar-benar berasa menakjubkan. Sebab itulah, terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan apresiasi, tenaga, pikiran, sumbangan material, dorongan, dan sebagainya.

Berikut adalah rangkuman perjalanan saya. Adapun catatan perjalanan yang lebih rinci untuk setiap babak jalur daratnya sudah saya tulis dan saya terbitkan secara langsung, di Facebook dengan hashtag #sabangmadura. Foto-foto pada posting blog ini bersumber dari kamera yang saya gunakan maupun dari orang lain (mohon izin saya pakai).

HARI KE-1, SABTU, 3 MARET:

Diantar Mundzir pakai Honda Grand ke Prenduan, saya berangkat pukul 23.00 dengan AKAS menuju Surabaya, nyampe pukul 02.30.

HARI KE-2, AHAD, 4 MARET

Makan soto dulu di tempat biasa sambil melihat kesibukan terminal Purabaya, saya berusaha duduk tegak di bangku depot, tidak bersandar, takut ketiduran. Hampir subuh, karena bis Damri tujuan Bandara baru beroperasi pukul 05.00 sedangkan jadwal penerbangan saya pukul 05.30, saya pun berangkat ke Bandara, ngojek dengan ongkos 30.000 (ojek biasa, bukan gojek; saya tidak pakai aplikasi). Habis subuhan di mushalla bandara yang sempit (bandaranya gede amit, mushallanya sak crit-iprit), saya langsung cari pintu 8 untuk boarding, siap masuk ke kabin Batik Air (ID 6401).

Tiba di Jakarta, jatah waktu transit cukup pendek, tapi masih leluasa untuk mengurus penerbangan lanjutan (connecting flight). Maka, pukul 07.45, saya nyambung lagi ke Banda Aceh dengan maskapai yang sama (kodenya ID 6896) dan tiba di BTJ pukul 10.35. Landing sangat halus, mungkin pilotnya bekas pilot pariwisata. Namanya Kapten Damar kalau saya tak salah dengar.

Saya dijemput oleh Ananda Ampon. Orang ini tidak pernah jumpa dengan saya. Kami hanya berteman di Facebook. Kami diperkenalkan oleh Mas Fatur. Dia datang dan saya langsung menyebut nama tujuan: warung kopi kesohor. Dia ajak saya ke kontrakannya sebentar, lalu bawa saya ke Solong. Saat itu, saya juga janjian dengan Nazar. Orang ini malah sudah lama kami saling kenal. Saat saya minta petunjuk arah sama si Ampon dan bilang bakal ada satu teman saya yang juga mau bergabung. Saya jelaskan sama Ampon bahwa teman saya itu pendiri sekaligus vokalis band “Apache 13”. Dia kaget karena saya kenal dia. Saya ikut-ikutan kaget karena ternyata Nazar sekarang sudah jadi artis, sama sekali saya tidak menyangka. Ketika bertemu, kami kaget berjamaah karena ternyata bisa bertemu sungguhan, hanya diperantarai oleh kupi-kupi di atas meja..

Sorenya, pukul 16.00, kami nyeberang ke Pulau Weh, Sabang. Rencana ini bersifat dadakan karena Ampon bilang ada kerjaan sama Mas Uhib. Jadi, sore itu kami pergi bertiga. Rancangan awal perjalanan adalah pergi sendirian, esoknya, Senin, 5 Maret 2018. (Intinya, saya harus sudah berangkat ke Medan pada malam Selasa, itu kata kuncinya).

Kami naik ferry cepat Express Bahari. Ongkosnya 80.000 per gundul. Jaraknya 30,5 km yang  ditempuh 45 menit. Bisa dibayangkan kecepatan ferry ini, atau gunakan hitung-hitungan kalau mau tahu angka spido yang pasti.

HARI KE-3, SENIN 5 MARET:

Saya masih ada di penginapan sampai pukul 10.00. Agak rugi juga kalau cuma ngendon di situ, pikir saya. Tetapi, saya juga tidak bisa ngapa-ngapain kerena dua orang sahabat baru saya ini sepertinya masih punya urusan serius dengan bantal dan kasur. Saya biarin, tapi saya tidak ikut-ikutan. Untuk apa jauh-jauh pergi ke Sabang jika hanya untuk tidur?

Siang kami balik ke Pelabuhan Balohan. Gara-gara keasyikan ngopi di pelabuhan, menu kopi saring (kupi tarik) yang rasanya memikat, sampai-sampai kami yang menunggu lebih dari satu jam untuk kapal cepat yang terjadwal berangkat pukul 14.30 itu pun berakhir ‘tragis’. Kami terlewat. Kami berlari ke pelabuhan dan ferry ternyata sudah berangkat. Akhirnya, kami balik lagi, duduk lagi, ngopi lagi. Nasib kami sama seperti kemarin: dapat kapal yang terakhir. Coba saja ketinggalan lagi, pasti kami sudah menginap di Pulau Weh ini. Tentunya, jika hal ini terjadi, seluruh rancangan perjalanan akan berubah.

Dari pelabuhan Ulee Lheu (Banda Aceh), saya mampir sebentar di rumah paman Ampon. Dia ada urusan katanya. Sebentar kemudian, saya menuju ke Landom. Kami janjian dengan Fauzan. Untungnya, Fauzan ngontak kawannya yang ternyata juga merupakan kawan saya yang lain, Azahari Aiyub. Di antara waktu yang tidak lama itu, kami ngobrol banyak hal, mulai dari tradisi ngopi, ketaatan menjalakan syariah warga Aceh sejak sebelum diperda-perdakan, serta kegiatan kami bertiga selama ini.

Ananda Ampon lantas pergi entah ke mana. Kami janjian ketemu lagi bakda isya, di kedai kopi El Commandante, depan Terminal Batoh. Sementara saya memasrahkan diri kepada Fauzan agar setelah azan maghrib, saya diumpan ke Masjid Raya Banda Aceh, Masjid Baiturrahman, dan setelah itu agar mengumpannya lagi ke terminal. Semua itu dieksekusi dengan baik. Maka, malam itu, perjalanan darat naik bis yang saya taksir akan menempuh 3800 kilometer sampai rumah ini pun dimulai.

Saya melakukan perjalanan naik bis di Pulau Andalas ini ke Medan dengan bis PMTOH.

HARI KE-4 SELASA 6 MARET:

Saya tiba di pool PMTOH di Medan pada pukul 08.39. Tak lama setelah itu, datanglah Iqbal Gobel bersama Fandi, sepupunya. Menyusul setelahnya adalah Frans. Canaka, yang saya hubungi pertama justru datang paling bontot. Belakangan, saya tahu, Canaka berangkat dari tempat yang paling jauh, dari Pelabuhan Belawan: sebuah nama yang sudah lama saya kenal berkat lagu Tommy J. Pisa.

Kumpul semua? Yok berangkat! Dari situ, dengan mobilnya, saya diantar Iqbal ke RM Sinar Pagi, dekat Tugu SIB (Sinar Indonesia Baru), tugu yang tampaknya memiliki sejarah penting bagi pers di Medan.

Di rumah makan, Toni datang. Toni adalah adik Inyak Ridwan. Tumbennya, Toni ternyata kenal dengan Akhyar, calon tuan rumah saya di Bukittinggi besok yang juga belum pernah saya kenal hingga hari ini kecuali di media sosial saja. Habis ngembat soto dan beberapa cemilan, kami lanjut ke pool ALS di Jalan Sisingamangaraja, Km. 6,5. Saya janjian dengan Ayu (dihubungkan oleh Ampon) yang membantu membelikan tiket dan memilihkan armada jurusan Padang. Lagi-lagi, saya juga enggak kenal sama perempuan ini sebelumnya.

Sebelum ke lokasi, kami sempat mampir di Istana Maimun, hanya menunaikan rukun medsos, yaitu foto-foto. Dan saat tiba di pool ALS, tiket saya langsung diserahkan oleh si Ayu.

Pukul 12.00, bis bergerak meninggalkan kota Medan, melewati Tebing Tinggi, Siantar, Toba Samosir, Simalungun, Balige, Siborong-Borong, Sipirok, Pahae, Padang Matinggi, dan Bukit Sikaping. Tibalah kami di Bukittinggi pada pagi Rabu saat matahari sudah tinggi. Cerita lengkap semua perjalanan sudah saya tulis secara langsung tempo hari di Facebook.

HARI KE-5, RABU 7 MARET:

Ada dua orang yang menyambut saya. Namanya Akhyar Fuadi dan satunya Rinal Wahyudi. Keduanya, sama seperti Ampon dan Ayu, tidak saya kenal (kalau Gobel, Canaka, dan Frans, saya kenal duluan, akrab bahkan). Dia lantas mengajak saya pergi ke Ngarai Sianok, ke salah satu panorama indah di Bukittinggi yang gambarnya pertama kali saya lihat di pecahan uang kertas 1000 rupiah zaman dulu, zaman di kala itu nominal sebesar itu cukup buat beli nasi dua piring pakai lauk tahu.

Di bawah ngarai, kami makan “Gulai Itiak Lado Ijau” (karena “adiak” itu adik, jadi “itiak” itu adalah itik. Demikian rumus Bahasa Minang), salah satu kuliner ternama di sana, katanya, sih, begitu. Setelah lihat-lihat pemandangan ngarai dari dalam ngarai, kami ganti melihatnya dari atas, dari tempat melihat yang dikarciskan, satu komplek dengan Lubang Jepang.

Sehabis itu, mereka lantas mengantar saya ke penginapan. Wah! Tak disangka. Saya berharap agar tidur di bilik pondok, kok malah dikasih tempat begini rupa? Lumayan nikmat untuk punggung yang duduk terus-menerus selama 32 jam di atas bis sedari Banda.

Usai ganti baju dan istirahat, kami berangkat ke PP Ashabul Yamin. Saya berbagi pengalaman dengan “adiak-adiak” santri di sana. Mereka kecil-kecil dan imut. Pondoknya tak kalah imut, berada di daerah Lasi Tua, Agam, di kaki Gunung Marapi. Tentu saja, pemandangannya superb: indah nian. Belakangan, saya tahu kalau si Akhyar ini ternyata juga mengajar di sana. Dia pegang kitab “Bidayatul Balaghah” karangan Kiai Sirajuddin Abbas (kenal, kan, sama nama ini? Itu, lho, buku “40 Masalah Agama” yang empat jilid). Pondok ini didirikan oleh salah satu murid Syaikh Sulaiman Ar Rasuli, salah satu pendiri PERTI.

Seusai acara, kami diantar mereka ke Payakumbuh karena saya bilang ingin jumpa sama kawan saya: Iyut Fitra. Sebelumnya, saya diajak melahap makanan berat khas Sumatra Barat di Pangek Situjuah. Restoran ini sangat asri karena berada di tengah pematang sawah, mewah menunya, dan nyaris bersantan semua.

Senang luar biasa ketemu sama Uda Iyut. Betul saya guyon sama beliau tempo hari lewat SMS, bahwa uang buku dia yang saya bantu jualkan tidak akan saya transfer, melainkan akan diantar langsung. Beliau, kala itu, cuma haha-haha karena mengira saya guyon. Ya, saya memang guyon ketika itu, tapi malam itu saya menyeriusinya: mengantar langsung uang tersebut dan menyerahkannya dari tangan ke tangan, di beranda rumahnya.

Sepulang dari Payakumbuah, saya kembali ke Bukit, minum jamu “teh talua” (teh dicampur telur, tapi tidak amis). Saya sempat kaget karena menerima telepon dari rumah. Kabarnya:  anak ketiga sakit (yang kebetulan namanya mirip dengan nama pondok yang saya singgahi, tadi) dan anak keempatnya (yang lagi belajar bicara) selalu nyebut-nyebut saya. Demikian kata mamaknya. Waduh, gawat. Saya galau dan sedih.

Malam itu, saya gelisah, sembari mikir cari cara jalan pulang naik pesawat dari Padang, tapi mau pakai duit siapa? Entah. Untunglah, saya tidur, dan esoknya berita sudah berubah. Beres semua masalah. Alhamdulillah.

HARI KE-6, KAMIS 8 MARET:

Saya tiba di agen PO Yoanda Prima, Jalan Simpang Taluak, Jambu Air, Bukittinggi. Kabar yang saya terima dari agen sungguh langsung bikin mules: bis masih di Solok dalam perjalanan ke Bukittinggi, baru pulang dari Palembang. Wah, mau telat berapa lama ia? Saya tidak tahu, di mana letak Solok karena saya tak bawa GPS dan atlas saya ketinggalan di rumah. Untung, di Medan, tempo hari, Frans kasih saya peta lipat. Itulah bekal utama saya untuk orientasi medan lintas Sumatra.

Bis datang persis setelah saya shalat duhur. Berangkat tak lama setelah itu. Beruntung pula saya bawa sangu nasi bungkus yang dibawakan oleh Akhyar. Saya makan sangu itu di Padang Panjang saat bis parkir sebentar untuk nambah sewa. Akan tetapi, keterlambantan ini dibayar tunai oleh pemandangan dan bentang alam Sumatra Barat yang memikat. Sungguh sulit diceritakan dengan kata-kata, lebih baik dengan foto atau datangi langsung tempatnya saja supaya Anda tidak penasaran. Hampir semua spot yang saya lewati itu indah semua, semuanya.

Masalah muncul ketika bis masuk Muara Bungo, pukul 23.10. Udara suspensinya tidak naik yang artinya mesin kompresornya rusak. Setelah diperbaiki dua jam lebih, ketemulah masalah. Karet klepnya sobek. Untuk darurat, kru bis menggantinya dengan ban dalam. Aman, bis berjalan kembali. Esok paginya, bis kembali bermasalah pada pengatur suhu (AC) kabin, hanya karet kendor, beres dalam hitungan waktu 10 menit. Kru bis sumatraan memang bisa sembari merangkap jadi montir. Mungkin, kalau mereka pindah ke Jawa, sudah layak buka bengkel.

HARI KE-7, JUMAT 9 MARET:

Yang terjadwal sampai di Palembang pagi, eh, kami tiba sore, pukul 14.30. Ya, itu tadi penyebabnya: berangkat telat dan pakai acara mogok, padahal reputasi bis ini sangat bagus. Saya turun di Grand City, main ke rumah Pak Mukhlisin. Perumahan ini milik Ciputra. Tahu sendirilah, kayak apa perumahannya, he, he. Pos satpam-nya saja pakai dua lapis. Melihat tampilan saya yang pakai sarung dan muka kucel, mestinya mereka curiga, tapi ternyata tidak. Mas satpam menyambut baik. Pasti, yakin pasti, Bang Muk sudah kasih “kata sandi” sama mereka soal tamu yang akan datang ini.

Di rumah Pak Muk, saya bertemu Wayan, kawan yang kenal di Surabaya tapi Bali ‘poenya’. Di sana, saya juga janjian dengan kawan sebangku dulu, di IAIN, Walidin Iskandar. Senang sekali mendengar kabar kalau dia kini jadi dosen di IAIN Raden Fatah, Palembang. Saya pinjam emper rumah Bang Muk untuk reunian.

Rencana shalat jumat di Masjid Raya Palembang gagal, istirahat pun gagal. Bagaimana mau istirahat wong waktunya serbamepet. Bertemu dengan orang-orang baik dan menyenangkan itu sesungguhnya merupakan rehat dalam bentuk yang lain, percayalah!

Malamnya, pukul 23.00, saya berangkat menuju Lampung. Saya nebeng bis pariwisata Cahaya Wisata (saya sebut ‘nebeng’ karena Dian–yang saya hubungi sebelumnya–tak mau diganti ongkos). Saya diajak Dian Damar agar pergi bersama. Ada banyak kawan baru malam itu, beberapa kawan Sumatra yang baru saja saya kenal, ya, pas saat itu, beberapa menit sebelum saya bergabung dengan mereka, termasuk dengan Kang Harjo dan Kang Julianto RG (cc-nya besar sekali). Berdasarkan nama, kayaknya mereka ini “pujakesuma”: putra Jawa kelahiran Sumatra. Sungguh, saya merasa, betapa media sosial itu memang modal sosial, tentu saja pengertian ini hanya berlaku bagi yang memahaminya begitu.

Kejutan terjadi di penghujung malam, di ujung “jalan pintas” itu, ketika sudah tinggal selangkah lagi kami mencapai Batukuning, Baturaja, bis terhenti. Dua tronton dan satu trailer terjebak di jalan rusak, selip. Posisinya melintangi jalan. Kami menyerah.

HARI KE-8, SABTU 10 MARET:

Kami (saya, Wayan, Yosa), akhirnya berpisah dengan rombongan. Berat sungguh harus berpisah. Ternyata, perasaan demikian bukan hanya tergambar di dalam lagu-lagu dan video klip saja sedihnya. Pokoknya, saya (dan mungkin kami) harus segera tiba di Sari Ringgung, Lampung, karena tempat itu memang merupakan lokasi acara salah satu tujuan perjalanan, jadi harus segera “gerak”, tak boleh kelamaan “terjebak”. Acaranya siang, sementara pagi itu kami masih berada di area Sumatra Selatan.

Jelang pukul 6 pagi, ada ALS tujuan Medan-Jogja melintas. Kami cegat, numpang, dan selamatlah. Tujuh setengah jam kami bersama bis ini hingga tiba di Masgar, Pesawaran. Mereka berhenti di rumah makan, kita lanjut lagi dengan bis Puspa Jaya menuju Bandar. Selamat lagi, tapi kami sedang kelaparan.

Untungnya, kami ditolong oleh Yuli Nugrahani yang menyambut kami di Bundaran kota, lewat sedikit dari pukul dua siang. Ia membawa kami ke ayam geprek. Kembali selamat, kembali tertolong. Ajaib, pemilik warung (Pak Aji) menggratiskan semua hidangan di meja. Tetangga warung, entah ibu siapa namanya (Yuli pun tidak kenal) turut berbuat kebaikan dengan nyumbang dua piring sate rempelo ati dan sepiring ikan kembung (jazahumullah). Pak Aji bikin kejutan tambahan, ia meminjamkan mobilnya untuk kami supaya cepat tiba ke lokasi.

Hari itu, kami ikut menyaksikan acara jambore nasional bismania community (BMC). Bagi saya, yang terpenting dari acara ini adalah niat silaturrahmi. Ini yang utama, bahkan itulah yang menggerakkan semangat saya dalam menempuh ribuan kilometer. Soal foto-foto dan lainnya hanyalah “de-el-el”-nya.

Pukul 9 malam, kami pulang. Saya numpang armada kawan-kawan Jakarta Raya, nebeng lagi dan gratis lagi. Mereka menolak ketika saya urun sumbangan. Apa uang saya tidak laku di Sumatra? Saya tidak tahu, kenapa kok selalu begitu. Saya naik PO Haryanto MD-02 yang kebetulan kenal baik sama pengemudinya, Pollo (keluar pelabuhan, saya ganti bis, pindah ke rombongan satunya yang naik PO Panorama). Numpang, sih, numpang, tapi saya dapat “kedudukan” di kursi nomor 1. Mungkin mereka kasihan karena muka saya menyiratkan gurat-gurat kilometer-kilometer mahapanjang dari Kilometer Nol Indonesia di Sabang.

Kejutan belum berakhir, saya ditakdirkan bertemu dengan Rusman dan Maman Bayzuri, teman main masa remaja dulu, di Panjang, di jalan akses ke Bakauheni, pada saat beberapa orang anggota penumpang beli buah tangan dan bis berhenti, parkir berbanjar. Oh, heroik sekali. Kedua kawan tersebut menempuh perjalanan sekitar 3 jam demi salaman dan foto bersama (untung fotonya enggak blur) dan bertemu sekitar 15 menit saja. Alangkah betapanya!

HARI KE-9, AHAD 11 MARET:

Masuk ferry pukul 02.30 di Bakauheni, kami tiba di Merak pukul 06.00. Subuhannya berlangsung di atas KMP Sebuku. Inilah pengalaman pertama saya naik ferry bertingkat; dua lantai untuk mobil dan lantai atas untuk penumpang. Mengharukan karena di atas ferry itu dikumandangkan azan dan lengkap dengan shalat subuh berjamaahnya. Sumatra memang istimewa. Sejak saya berangkat, tidak satu shalat pun terlewat, terutama subuh yang kalau di Jawa itu bis-bisnya pada ngelibas semua (satu dua saja yang mau berhenti dan mempersilakan penumpangnya untuk menunaikannya). Sejauh ini, tiga bis Sumatra berbeda PO, selalu mempersilakan penumpang untuk subuhan.

Kami tiba di Cawang, dekat UKI, pukul 9 pagi. Langsung saya isi perut dengan soto yang ditraktir oleh—entah siapa, apa Rully atau Mas Fatur atau siapa. Setelah kenyang, kami bubar. Saya nunut Wagim ke kontrakan Mas Fatur; titip tas di sana dan mandi di kos Rully: suatu teknik agar mereka sama-sama merasa disinggahi.

Saat nunggu bis di Pulo Gebang, saya bertemu lagi dengan kawan lama, Masrur Akhmadi, cowok ganteng dari Purworejo. Ia bersama tiga anak dan satu istrinya. Ia nyangoni saya roti-roti supaya tidak kelaparan, katanya. Karena duhur sudah masuk dan bis belum datang, saya shalat dulu, dikawal oleh Bimo, petugas dishub di situ yang kebetulan baru akan berteman di Facebook dengan saya beberapa saat sesudahnya. Rasanya, saya seperti kepala terminal yang sedang melakukan sidak kebersihan mushallanya.

Bis datang pukul setengah satu siang lewat sedikit. Rupanya ia datang dalam keadaan sudah membawa penumpang dari Tanjung Priok. Akhirnya, saya pun berangkat setelah dada-dada sama para mas-mas pengantar: Fatur, Moko, Rully, Masrur sekeluarga, juga Bimo. Puji syukur, perjalanan saya dengan Karina bis tingkat ini lancar jaya, tanpa rintangan, sehingga pagi sekali sudah masuk Madura.

Oya, saya naik bis ini secara BDB, ditraktir oleh seseorang yang bergerak di dunia perbisan juga, tapi yang jelas bukan orang-orang di lingkaran Lorena-Karina.

HARI KE-10, SENIN 12 MARET:

Saya turun di masjid Masjid Al-Jihad, Juklanteng, dekat pelabuhan Tanglok, Sampang. Saya langsung subuhan dan kembali berdiri di pinggir jalan.

Tadi, di Masjid Al-Ihsan, Nyiburan, timurnya Lomaer, saya sempat lihat AKAS ASRI sedang parkir. Mungkin mereka mempersilakan para penumpangnya untuk shalat subuh. Dengan asumsi demikian, posisi bis tadi berada di belakang kami. Maka, benar sesuai dugaan, tak lama kemudian, bis itu datang. Saya menggubit. Bis sein kiri, menyisi. Saya pun ikut dan bayar 15.000 untuk tujuan Prenduan.

Walhasil, tibalah saya di rumah menjelang pukul 8 pagi dalam keadaan utuh, baik tubuh maupun barang-barang bawaan. Yang berkurang dan nyaris tidak tersisa hanyalah isi dompet.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s