Tiga Hari untuk Silaturrahmi

Seringkali, kita berkunjung ke rumah seseorang nun jauh itu karena alasan menghadiri undangan pernikahan dan takziyah. Lainnya adalah kunjungan dalam rangka ini dan itu, seperti bertamu untuk berhutang, menghadiri pertunangan, atau lainnya. Berkunjung hanya semata-hata silaturrahmi, yaitu pergi berkunjung karena memang ingin berkunjung, sudah mulai jarang dilakukan. Maklum, orang-orang pada sibuk sekarang.

Maka, beruntung sekali saya manakala mendapatkan undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan Om Ahmadul Faqih Mahfudz (dengan istrinya, Astri Nihayah) di kediamannya, di Bali. Meskipun kunjungan yang pertama ini bukan kategori “semata-mata silaturrahmi” melainkan “silaturrahmi dalam rangka”, tak apalah. Tanpa undangan ini, belum terbayang saya akan segera tiba di PP Sunan Kalijaga, Sumberwangi, desa Pemuteran, kecamatan Gerokrak, kabupaten Buleleng tersebut. Mumpung saya memiliki semua syarat silaturrahmi (sehat, sempat, dana), saya tunaikan perjalanan ini.

Ini adalah perjalanan ke Bali untuk yang ketiga kalinya tetapi yang pertama yang ditempuh lewat jalur darat, dari Madura. Karena undangan ini sudah saya terima berbulan-bulan sebelumnya via SMS (dan sekitar sebulan lalu melalui surat), maka jauh hari sebelumya saya sudah mempersiapkan diri untuk perjalanan ini, seperti mengatur jadwal ini dan itu, menabung, dan merencanakan hal-hal lainnya.

Perjalanan ditempuh dengan mobil APV sewaan. Saya ditemani seorang sopir yang kebetulan sepupu dua kali (kakek kami bersaudara), ibu, istri, seorang balita, dan pembantu umum.  Perjalanan dimulai hari Kamis pagi, bertepatan dengan 1 Muharram 1438 atau 21 September 2017. Sebetulnya, yang diundang ke acara itu cuma saya, ibu tidak. Sebab itulah, kira-kira 3 hari sebelum berangkat, lebih dulu saya pamit kepada tuan rumah bahwa saya akan datang bersama Ibu. Ini penting dipermaklumkan karena hukum menghadiri walimah itu wajib dan kita terlarang datang jika memang tidak diundang (tatofful) sebab ia termasuk tindakan terlarang.

Sudah sejak lama, kami—tepatnya Ibu—menyimpan keinginan untuk berkunjung dan beranjangsana, pergi ke beberapa tempat di Jawa, khususnya area Jember dan sekitarnya. Nah, kebetulan sekali saya dapat undangan ke Bali, maka “disekaliankan”-lah: Ibarat sekali ngegas, tiga-lima tujuan terlampaui. Demikian tajuk perjalanan kami kali ini. Tentu saya capek kalau harus menceritakan detil perjalanan karena saya terlau sering menulis yang begini-begini. Saya hanya akan mendata orang dan tempat tujuan yang disambangi, termasuk  dalam rangka walimah, takziyah, dan silaturrahmi.

“Zi, cari warung dulu, kasihan ini Warid,” perintah ibu.

“Wah, bagaimana kalau di Sidoarjo saja?” Saya mengajukan penawaran.

“Jangan, takut terlalu lapar.”

Akhirnya, kami pun membeli nasi di Warung Jawa, depan SPBU Tanah Merah. Namun, ternyata, Warid tak makan juga. Nasinya dibungkus dan hendak dimakan nanti, katanya. Istri saya hanya membeli untuk mendulang anak kami di atas mobil yang berjalan.

Pertama, cicip bakso Cak To di Sidoarjo. Demi bakso, saya tahan perut tetap keroncongan sejak tadi. Di Bangkalan saya pun bertahan tidak makan. Beruntung sekali perjalanan etape perdana ini lancar, baik kala melewati 4 jembatan di Madura yang sedang diperbaiki, maupun saat membelah kepadatan arus lalu lintas di Jalan Kenjeran, sehingga kami tiba di lokasi pada pukul 2 siang, saat lapar-laparnya.

Sejujurnya, rencana ini dadakan. Sebelumnya, Lia Zen, sang pemilik, sudah beberapa kali laga kandang (home) ke rumah saya, pernah mengundang Ibu dan istri main ke sana, bahkan pernah mengundang saya untuk menghadiri acara khitanan putranya. Namun, semua tinggal rencana, tak terlaksana. Saya pikir, inilah saat yang tepat untuk menjalani laga tandangnya (away).

Lokasi tujuan terletak di sebelah barat alun-alun Sidoarjo. Akses ke tempat ini sangat mudah: tinggal keluar dari Tol Perak-Gempol di pintu Keluar-Sidoarjo. Begitu bertemu lampu merah, ambil lajur kiri dan kita bisa langsung masuk ke halamannya. Pulangnya juga begitu, tinggal mengitari bundaran lalu kembali masuk tol. Alhamdulillah, siang itu kami bisa sua dengan Lia Zen, si juragan, pendiri Jungkir Balik, dan salah satu Duta Kopi Indonesia 2016.

Kedua, perjalanan melelahkan sejauh hampir 400-an kilometer di babak pertama ini kami akhiri di Sukorejo. Sempat pula kami makan di sebuah warung di area Pajarakan, sebelah timur kota Probolinggo, dipaksa berhenti karena energi yang diolah dari tenaga pentol tadi tampaknya sudah melorot ke bawah perut. Kami numpang nginap di rumah Mbakyu Aisiyah. Sembari membiarkan istri, ibu, dan anak saya istirahat di sana, saya bertandang ke rumah Mukhlis, ambil bonus silaturrahmi, yang letaknya di barat daya Masjid Asembagus. Ngobrol asyik tanpa tema membuat saya kelupaan hingga akhirnya pulang larut, lewat pukul 2 menjelang pagi.

Sebetulnya, rencana menginap di Sukorejo ini terbilang mendadak, direncanakan sambil jalan. Ia merupakan pengganti rencana sebelumnya, berkunjung ke PP Badridduja di Kraksaan yang gagal karena tuan rumah sedang ada di Malang, padahal rencana ini sudah lama diatur. Entah mengapa, dalam tiga kali rencana, saya gagal terus untuk ketemuan. Yah, mau apa dikata, terima saja, rugi kalau sampai ‘baper’ hanya untuk urusan seperti ini.

Ke Bali, Kembali

SAMSUNG

Nostalgia, fery Pottre Koneng yang dulu biasa kami naiki dalam penyeberangan Ujung-Kamal, sekarang ada di rute Gilimanuk-Ketapang

Ketiga, acara inti, perjalanan ke Bali. Setiap kali saya menginap di rumah kerabat terus berencana pamit sepagi mungkin karena alasan berhemat waktu, nyaris saja selalu gagal. Pasti saya ditahan pergi sebelum sarapkan disiapkan. Satu-dua ada, sih, ada yang memberikan izin karena alasan saya untuk segera pergi masih lebih kuat daripada keinginan tuan rumah untuk memberikan penghormatan. Nah, begitu pula yang terjadi pagi ini. Kebetulan, ini adalah yang pertama bagi ibu: berkunjung ke rumah Mbak Aisiyah. Makanya, ‘upacara kecil’ harus dilakoni semua: ngopi, mandi, makan, dan baru dapat izin pergi.

Setelah menempuh perjalanan hampir 100 menit, kami tiba di Pelabuhan Ketapang lalu masuk kapal pukul 9 WIB. Antri tidak lama, kami masuk ke dermaga. Dalam pada itu, adik saya di Madura, mengirim nomor Mas Taqwim, salah satu saudara jauh saya yang jadi mualim namun sama sekali kami belum pernah berjumpa. Sayangnya, saya tidak mikir itu dulu, sebab datang secepat mungkin dan segera sampai di Bali dalam keadaan tidak terlambat adalah yang paling penting. Ya, saya ingat, ini adalah tujuan utama.

Hamdalah, pagi itu, laut tenang. Antrian juga tidak ada. Dan beruntung kami bawa KTP sebab ternyata ada pemeriksaan di pintu keluar. Pemandangna ini sama sekali berbeda dengan yang saya lihat di dermaga Kamal ataupun di Kalianget. Konon, pemeriksaan identitas dilakukan sejak terjadinya Bom Bali.

Ambil jalur kanan di pintu keluar, mobil mengarah ke Singaraja. Trek yang kami lewati adalah Taman Nasional Bali sisi barat. Jalannya lurus dan bagus. Tidak ada satu pun penampakan rumah penduduk. Hanya barisan kayu-kayu yang berdiri, tidak teratur, dan ujung-ujung atas terkadang tampak saling berangkulan. Beberapa bagian berkontur tanah yang tidak rata yang akan membuat kejutan kecil bagi mobil kecil tapi tidak bakal berasa untuk mobil besar, seperti bis. Baru setelah menempuh perjalanan kira-kira 20 kilometer, tampak ada keramaian. Rupanya, ia akses ke tempat wisata Gili Menjangan.

Hari ini, saya datang ke Bali untuk yang ketiga kali selama 9 tahun terakhir. Sangat beruntung karena hari ini pula saya dapat kesempatan pertama untuk salat Jumat di sana, di lingkungan komunitas Hindu, di desa yang penduduk muslimnya hanya kurang dari 30%. Kami datang tidak langsung ke lokasi karena jam masih menunjuk jelang pukul 12 WITA sedangkan undangan pukul 14.00. Saya ambil bonus dulu, mampir melipir ke rumah Rofiqi dan Kafiyatun (kemenakan mempelai) yang lokasinya kurang lebih 2 km dari lokasi acara.

SAMSUNGRumah mereka tepat berada di pinggir jalan. Ancer-ancernya adalah masjid pertama kalau dari arah Gilimanuk, Masjid Nurul Hikmah namanya, satu komplek dengan lembaga pendidikan Nurul Jadid, Pemuteran. Kabarnya, banyak komunitas “Madura Kepulauan” di sana, seperti yang berasal Sepudi dan Raas, dua pulau di kabupaten Sumenep. Konon, saat ini, desa Pemuteran disulap jadi desa wisata. Unggulannya adalah snorkeling dan diving (entah mengapa terkadang kita merasa minder untuk menggunakan kata ‘menyelam’).

Acara walimah dimulai pukul 14.12 WITA, hanya telat 12 menit dari yang tertera di surat undangan. Salah satu materi acara tasyakuran ini adalah sambutan wali sekaligus pesan-pesan bijak yang disampaikan oleh KH Imam Qusyairi Syam dari Situbondo (Malamnya konon juga begitu. Saya tidak tahu karena langsung pulang setelah acara). Jadi, “acara hiburan”-nya adalah ceramah keagamaan, bukan dangdutan dan/atau lainnya. Penceramahnya juga Kiai Qusyai dan Kiai Kuswaidi. Sungguh, berasa unik acara ini karena berlangsung di Bali.

21617472_1989238631320828_1382044698973462243_n

Foto oleh Misrawi via Ahmadul Faqih

Dalam pada kesempatan siang itu, Kiai Qusyai berpesan, ditujukan terutama kepada kedua mempelai namun sebetulnya layak untuk direnungkan bersama. Pesan beliau, di zaman akhir ini, hal yang mulai jarang adalah adanya “taufiq” (petunjuk dari Allah). Banyak kita lihat, bahkan di kalangan orang Islam sendiri, orang-orang dianugerahi kemampuan, kekayaan, kesehatan, namun semua itu justru digunakan untuk melawan Allah. Ibarat pengemis yang diberi makan, diberi pakaian, diberi pekerjaan, lalu setelah mapan, energinya digunakan untuk membentak-bentak dan menentang sang dermawan. Ibarat pepatah, bagai kacang melupakan tanah.

Beliau mengaku senang karena walimah diberlangsungkan di hari Jumat, hari yang diutamakan di dalam Islam. Dan cara ini, menurutnya, termasuk “sunnah mahjurah”, sunnah-sunnah Nabi yang mulai ditinggalkan. Bagaimana sebuah proses itu bisa terjadi dan berlangsung? Hal itu disebabkan tak lain oleh transformasi nilai-nilai dari leluri leluhur yang dirawat dan dijaga. Kiai Qusyai lalu mengutip qaul Imam Malik dalam pengantar kitab Muwattha’: “Suatu generasi itu tidak akan menjadi baik kecuali mau meneladan lalampan (istilah Kiai Qusyai untuk hal-ihwal, tradisi, dan tindak tanduk leluhur) orangtua mereka”. Kiai Qusyai lantas segera menyusulkan “catatan kaki” bahwa yang dimaksud ‘orangtua’ di sana adalah ayah, mertua, dan guru/kiai.

Saya tidak rajin menghadiri pengajian, tapi merasa harus meluangkan waktu untuk mendengarkan pengajian. Untuk ini, yang dibutuhkan bukan hanya waktu, melainkan juga kerendahhatian, kesabaran, dan kesiapan. Masyarakat sekarang sudah pada pintar, banyak yang tahu, makanya kadang mereka malas duduk di majlis ilmu dan mendengarkan ceramah. Bukankah kita selalu membutuhkan orang lain untuk meniup debu dan jerebu yang masuk ke balik kelopak mata karena tidak bisa meniup sendiri? Penceramah itu sumber jika Anda sedang haus dan juga pengingat jika Anda sudah merasa tahu sebab kita selalu susah untuk mengingatkan diri-sendiri.

Sehabis acara, kami langsung pamit pulang karena masih ada rencana menginap di Glenmore, di rumah sepupu saya. Tinggal satu hari tersisa, Sabtu, untuk menunaikan banyak tugas bersilaturrahmi. Makanya, kami tak bisa bermalam lagi di Bali.

SAMSUNG

Sore menjelang petang itu, kami naik KMP Nusamakmur, beda dengan saat berangkat (KMP Satya Kencana II). Sebelum menyeberang, kami sudah terjalin kontk dengan Mas Taqwim dan beliau meminta kami menyeberang selepas maghrib.

“Bagaimana ini, Bu, kita diminta menyeberang sesudah Maghrib agar bisa bertemu.”

“Aduh, jangan. Lain waktu saja. Aku taku laut gelap,” begitu jawaban dari Ibu dan saya menyampaikannya.

Benar, sore menjelang petang itu, kira-kira pukul 17.00 WITA, kami mulai menyeberang. Laut yang biru dan bersih masih tampak tenang. Namun, situasi berubah saat kapal sudah melewati batas tengah. Tiba-tiba, mobil bergoyang-goyang. Ibu dan istri ketakutan. Mereka tegang, merapal bacaan-bacaan. Saya naik ke dek, berbicara dengan seorang kenek truk.

“Kalau malam nanti, gelombangnya akan makin besar,” kata dia yang mengaku berasal dari Singaraja dan ulang-alik penyeberangan untuk mengangkut kaca.

“Kalau yang tempo hari tenggelam itu di sekitar mana?” tanya saya.

“Di situ,” ia menunjuk, “sudah dekat dermaga.”

Sebetulnya, Mas Taqwim sedang dinas hari ini, hanya saja siang tadi dia turun di Ketapang dan mau naik lagi selepas Maghrib. Karena sudah tidak bisa, maka akhirnya kami memilih bertemu di dermaga Ketapang saja. Saya pun kasih tahu ciri-ciri mobil kami berikut plat nomornya. Singkat cerita, begitu kapal Nusamakmur sandar, kami mendarat dengan selamat pada saat maghrib baru saja turun. Hamdalah, kami bertemu Mas Taqwim dan beliau mempersilakan kami menginap di rumahnya. Kami berterima kasih. “Lain kali, semoga,” kata saya. Pertemuan yang singkat itu tetaplah mengesankan. Kami langsung bergerak menuju Gelnmore dan Mas Taqwim juga segera bersiap naik ke Prathita IV yang baru saja sandar.

21640928_1445282085525210_7417108784790414025_o

foto oleh Taqwim via Nabilah Fayshal

Kurang dari dua jam lamanya kami menempuh perjalanan dari Ketapang ke Glenmore. Lepas Isya barulah kami sampai. Di hari  Jumat ini, hari kedua, kami menunaikan kunjungan keempat, yaitu silaturrahmi ke rumah sepupu sekaligus numpang menginap. Masih begitu, saya ambil bonus, takziyah ke rumah Mugimin, malam itu juga. Rumahnya berada di tengah hutan, namun tak jauh dari PP Majlisus Sa’adah, tempat kami mengingap. Dulu, dia tinggal bersama kami. Kini, dia kembali ke rumahnya dan bekerja sebagai penjaga kebun cokelat milik Perhutani, di Wadung Pal. Beberapa waktu lalu, anaknya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.

Hari terakhir, Sabtu, jatah kami sewa mobil, adalah menuntaskan banyak kunjungan dengan jatah waktu tersedia hanya satu hari saja. Maka dari itu, sepagi mungkin kami sudah berniat meninggalkan lokasi, tapi seperti yang sudah-sudah, nasibnya sama seperti kemarin, tidak segera bisa karena tuan rumah masih menjamu makan.

Baru pukul 07.30 kami bisa bergerak, menembus Mrawan, alas Gumitir, dan tiba di Kertonegoro, sebuah desa sekitar 6 kilometer di selatan Kecamatan Jenggawah, berbatas dengan kecamatan Ambulu. Kunjungan kelima ini adalah takziyah ke mendiang Kiai Nur, menantu Kiai Munir Kemuning, yang wafat 12 hari lalu. Yang menerima kami adalah Abdul Hamid, putranya.

Setelah basa-basi dan seterusnya, ngopi dan seterusnya, makan dan seterusnya, kami izin pulang. Namun, ibu saya ternyata punya rencana tambahan, yaitu pergi ke Cangkring, ke ponpes  Madinatul Ulum. Sungguh tak dinyana, kejutan bertambah. Saya bertemu dengan Imdad Fahmi Azizi yang ternyata merupakan menantu Kiai Lufti, pengasuhnya. Dan ini menjadi kunjungan keenam di hari ketiga.

“Kalau ke Krai, ada jalan pintas?” tanya saya kepada Imdad.

“Ada, Mas.”

“Tolong saya dikasih ancer-ancer.”

“Oh, tidak usah. Biar nanti diantar sampai di jalan itu. Jalannya masih baru aspalnya, bagus.”

Dari Cangkring, seorang santri membimbing kami ke jalan akses dimaksud. Memang, saya tidak yakin kalau saja perjalanan dari Jenggawah ke Krai itu harus kembali dulu ke Mangli, lalu ke Rambipuji, dan menempuh jalan yang biasa. “Pasti ada jalan tembusnya,” firasat saya begitu. Kalau kembali ke Mangli, maka rute ini tidak masuk akal. Mungkin bakal ada sekitar 25 kilometer jarak yang terbuang percuma. Saya memang tidak punya ponsel yang memiliki aplikasi peta digital. Sebab itulah saya harus memanfaatkan “GPS yang lain”, yaitu Gunakan Penduduk Setempat (untuk bertanya).

Sebetulnya, masih ada beberapa kunjungan yang sayangnya tidak dapat dilakukan hari ini. Sudah diputuskan, hari ini adalah hari terakhir kami melakukan perjalanan. Jatah sewa mobil cukup untuk tiga hari saja (Rp 750.000), males kalau nambah sehari lagi dan sewa jadi 1 juta, mending buat subsidi BBM yang ditaksir habis 600.000, kurang lebihnya tak seberapa.

Sementara itu, kami masih “diteror” terus oleh Kak Mustofa yang ada di Kraksaan, semacam “pokoknya harus mampir” dan/atau sejenisnya. Saya bingung karena posisi sudah di Lumajang. Waduh, bagaimana ini?

Sepulang dari Cangkring, kami belok kiri di Jenggawah, mengikuti arah yang tadi kami lalui. Namun, sebelum mencapai Kertonegoro, mobil saya diarahkan ke kanan, menembus jalan kecil namun bagus, yang konon bakal terhubung ke akses Balung. Santri pemandu saya hentikan dan saya beri penjelasan bahwa saya sudah paham jalannya. Dia kembali, kami lanjutkan perjalanan.

Sekitar 10-an kilometer mungkin (saya lupa tidak cek odometer), kami tiba di Balung, sebuah kecamatan di Jember bagian selatan. Lalu, sesuai petunjuk, kami ambil kiri setelah jembatan, ikut jalan ke arah Kasiyan. Di Kasiyan Timur, kami ambil kanan sesuai tengara besar di jalan, menuju  Gumukmas, kanan lagi menuju Kencong, Jombang (ini Jombang yang di Jember, lho, bukan kabupaten yang di sebalah baratnya Mojokerto itu), dan barulah kami tiba di Yosowilangun.

Kami ambil kanan di pertigaan Yoso, mengarah ke Krai, PP Bustanul Ulum. Tujuannya adalah takziyah ke rumah Pamanda Baqis yang putranya wafat tempo hari. Pamanda sedang tidak di rumah, belum pulang dari Makkah. Kami diterima putra beliau yang lain, Ubaid. Paman-paman yang lain sedang tidak di rumah pula, tapi saya sudah berjumpa mereka di Bali, kemarin.

Hari mulai sore ketika kami pamit pulang, pukul 15.40, mengakhiri kunjungan yang ketujuh. Saya tanya-tanya lagi. Kesimpulannya: jalan pintas yang harus ditempuh bukanlah jalan yang tadi, melainkan jalan menuju Kunir. Empat kilometer dari Krai, kami tiba di SMP Kunir, belok kanan, menembus jalan kolektor sejauh 8 km hingga nongol di Tukum/Tekung. Dari situ, nambah lagi 7 km ke arah utara, melewati jalan akses yang relatif baru, hingga alan kami tiba di percabangan Jalan Nasional Lumajang-Jember”, maju lagi sedikit, nembus lagi jalan pintas ke ke arah Klakah supaya kami tidak perlu lewat Wonorejo. Demikianlah, jalan tembus-menembus ini lumayan hemat jarak dan memangkas waktu.

Sedianya, saya masih ingin mampir di Klakah, tapi hari sudah mulai petang. Saya khawatir, acara akan berubah lagi dan skenario perjalanan harus disusun ulang. Kak Mustofa yang di Kraksaan itu sudah telpantelpon melulu.

Setelah melewati Ranuyoso, melintasi perbatasan kabupaten Lumajang-Probolinggo, jalan menurun, perlintasan kereta api, nambah 1 kilometer lagi, tibalah kami di sebuah jalan menikung dan pertigaan Malasan. Menurut panduan kawan Adnan yang pedagang sapi dan biasa masuk ke pelosok desa, kami ambil kanan di sana, ikuti jalan kolektor.

Laksanakan, Ndan!

Di zaman digital ini, kita sudah punya satelit yang dapat mengetahui rute tersingkat. Dengannya, kita bahkan juga tahu kepadatan arus lalu lintas. Kita cukup bertanya kepadanya dan dia akan menjawab lengkap, melebihi yang kita mau. Namun begitu, adanya aplikasi semacam bukan tanpa dampak buruk. Salah satunya keburukannya adalah semakin sedikitnya kesempatan kita untuk berinteraksi dengan sesama manusia. Kata pepatahnya pun sudah berubah, dari “malu bertanya, sesat di jalan” ke “malu bertanya, pakailah GPS”.

Dari Malasan ke Klenang, 10 kilometer jauhnya, kami menyusuri jalan yang bersisian dengan sungai. Jalannya sepi tapi lali lintas padat merayap. Entah memang begitu atau ini karena malam Minggu. Sepertinya, jalan ini dijadikan jalan pintas oleh orang Klakah dan Lumajang yang hendak pergi ke Kraksaan atau Besuki, begitu pula sebaliknya.

Dari Klenang, kami belok kiri, nambah 8 km lagi untuk muncul Gending sehingga kami tiba kembali di “Jalan Nasional Probolinggo-Situbondo”. Dari situlah kami menuju ke arah timur, menuju Kraksaan demi menutup kunjungan yang terakhir, yang kedelapan, di hari ketiga.

Sehabis ngopi-ngopi, makan, istirahat, kami pun pamit pulang. Memang, acara terakhir ini murni silaturrahmi, sebentuk “bayar hutang” saya karena beberapa kali berjanji dan tidak terlaksana.

“Bagaimana, Rid? Masih kuat?” tanya saya ketika semua penumpang sudah masuk ke dalam kabin dan mesin sudah menyala. Warid hanya tersenyum, seperti biasanya.

Selama kamu tidak mengaku lelah, maka saya tidak akan menggantikan nyopir,” kata saya kepada Warid yang dijawab dengan segera memasukkan gigi persneling ke angka satu sehingga Suzuki APV itu bergerak, menimbulkan bunyi tanah berpasir yang terlindas roda-rodanya.

Sempat terlintas dalam pikiran untuk ngopi dulu di kedai kopi Jungkir Balik, Sidoarjo, tapi saya ingat sopir itu, yang mengemudi sesiang penuh dan harus tetap ajeg di belakang stir semalam suntuk. Belum lagi acara mampir di Pondok Pesantren Sidogiri pada pukul 22.40 sekadar untuk mengunjungi Solihin, mengambil naskah majalah dan titip buku, pastilah itu makin menguras tenaganya.

Hanya sesekali melek yang saya lakukan, selebihnya bobo manis di kursi kiri depan seperti seorang juragan. Saya tahu ketika mobil kami lewat Sidotopo; juga saat mengisi BBM di Jalan Kenjeran, juga saat melintasi Suramadu dan melihat kerumunan orang yang rupanya ada kebakaran kabel PLN. Selebihnya saya tidak melihat apa-apa kecuali beberapa saat menjelang tiba di rumah.

Tepat pukul 03.00 pagi, sampailah kami di halaman, pulang kembali dalam keadaan utuh. Semoga perjalanan ini dinilai ibadah karena demi memenuhi undangan walimah, silaturrahmi, juga takziyah. Segera saya ke dapur, bikin kopi, agar tak tertidur sebab hari sudah menjelang Subuh. Dan baru sehirup-dua hirup, berkumandanglah qiraah di masjid jamik, melantunkan 10 ayat terakhir Surah Ali Imron, ayat-ayat yang konon didawamkan oleh Kiai Ilyas, dibaca setelah bangun tidur. Namun, yah, begitulah. Seperti kata Kiai Qusyai kemarin siang, rasanya ia telah menjadi “sunnah mahjurah”, amalan ringan yang berpahala namun mulai dilupa.

 

Iklan

2 thoughts on “Tiga Hari untuk Silaturrahmi

  1. Saya baca dengan deg-degkan Ra. Berharap perjalanan dari Banyuwangi ke Lumajang belok kanan mampir Bondowoso, khususnya ke rumah saya. Seolah-olah perjalanan masih berlangsung saat saya baca tulisan ini. He hee…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s