Mengitari Madura

Hari ini penuh kejutan. Banyak alasan untuk meneguhkan pernyataan dimaksud. Biar saya ceritakan sebagiannya saja.

Perjalanan kali terjadi dalam bentuk, dalam istilah orang Madura, “ter-ater bilis”, yaitu ungkapan untuk menyatakan adanya seseorang (kawan/tamu) yang berkunjung namun setelah pulang, yang dikunjungi malah ikut bersama si tamu. Dan itulah yang sedang saya alami.

Para tamu saya adalah para ‘sesepuh’: Budi, Bemo, Joseph, Rian, dan Pak Mukhlisin. Tiga yang pertama dari Surabaya, Rian dari Jakarta, Pak Mukhlisin dari Palembang. Seperti biasanya, mereka datang dengan judul silaturrahmi. Judul kekiniannya disebut touring. Mereka datang dengan anehnya, saat malam menjelang Subuh, bangun, mandi, makan, dan baru pukul 8 pagi sudah pamit mau pulang. Kok sebentar? Ya, entahlah, sudah begitu tebiat mereka.

Ketika mau berangkat, Rian menyatakan keinginannya untuk menjajal jalur utara  Pulau Madura. Hal ini muncul mungkin karena saya mengajukan dua hal: pertama, adanya perbaikan beberapa jembatan di jalur selatan yang pasti bikin arus tersendat, ditambah hari Sabtu yang dijamin macet ruwet di pasar Tanah Merah; kedua, Rian ingin melihat (sebutan kekiniannya selfie-selfie) air terjun yang katanya unik karena langsung jatuh ke laut, di daerah Ketapang: air terjun Toroan. Maka, meskipun saya bilang rencana itu akan memakan waktu lebih lama sehingga mengancam hangus tiket mereka kalau harus tiba di Gresik sebelum pukul 15.00 karena mau ikut armada PO Gunung Harta, dilakoni juga laga ini.

Mobilitas Orang Madura dan Mempertimbangkan Ulang Jalur Utara

Salah satu bukti bahwa masyarkat Madura memiliki mobilitas yang tinggi adalah terjaminnya transportasi darat selama 24 jam di jalur selatan, terutama bis. Meskipun Kalianget merupakan tujuan akhir (buntu) dan sebagian lagi armada berhenti sampai di kota Sumenep saja, namun bis-bis tetap berjalan setiap waktu, bahkan tengah malam sekalipun. Namun tidak demikian dengan jalur utara, yakni pantura Madura.

Mengapa jalur selatan lebih ramai? Semua kota kabupaten Madura itu terletak di sisi selatan pulau. Itu satu alasannya. Dugaan saya, karena alasan ini pulalah Madoera Stoomtram Maatschappij (MSM), perusahaan keretaapi Hindia Belanda membangun jaringan relnya juga di selatan, 1897.

Menurut laporan Kuntowijoyo, dengan dibangunnya jalur ini, perjalanan dari Sumenep menuju Kamal ‘hanya’ dapat ditempuh 1 hari. Itu artinya, rute ini akan ditempuh lebih lama dengan transportasi lainnya, seperti kuda atau jalan kaki. Di tahun 1929, persaingan bisnis transportasi pemerintah dengan niagawan Cina semakin kentara. Bahkan, jika dibandingan secara persiapan kendaraan (MSM juga mengelola angkutan yang bergerak di atas aspal), masih kalah banyak. Pada 1 Juli 1934, MSM membuka trayek opelet Sumenep-Tamberru dan Kalianget-Pamekasan (Kuntowijoyo, “Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura, 1850-1940”, Ircisod, 2017, hal. 327-334).

Setelah sepur tidak aktif lagi sejak awal 80-an, moda transportasi masyarakat berpindah sepenuhnya kepada transportasi bis dan taksi (Colt, L300, dll). Hingga awal 90-an, beberapa bis masih mengoperasikan trayek Sumenep-Surabaya lewat utara, yakni Pasongsongan, Sotabar, Ketapang, Tanjungbumi, Sepulu, Arosbaya, hingga Bangkalan dan terus ke Kamal. Namun begitu, rute ini akhirnya ditinggalkan di samping karena kelas jalan jalur utara tidak selebar jalan aspal di selatan yang saat ini masuk ketegori  “Jalan Nasional 21”.

Pelita Mas adalah armada bis terakhir yang sebagian rutenya masih menempuh jalur pantura ini di akhir 90-an. Hal ini karena garasi bis berada memang di Pasongsongan, tapi trayeknya tetaplah melewati Sumenep lebih dulu, bukan langsung ke arah barat, menuju Bangkalan dan Kamal. Pelita Mas akhirnya membekukan trayek ini seiiring dengan makin padatnya jalan dan mungkin juga terkait okupansi penumpang. Saat ini, Pelita Mas hanya ngopeni trayek Sumenep-Malang, bersaing dengan DAMRI dan AKAS AG.

Dalam dua tahun terakhir, jalur pantura Madura tampaknya dibereskan kembali. Ruas jalannya diperlebar dan aspalnya diperbarui. Sewaktu kami melintasinya pada 16 September 2017 yang lalu, hampir seluruh ruas jalan sudah bagus. Hanya ada beberapa bagian yang belum diperlebar, terutama di sisi Bangkalan.

Sebelumnya, dalam imajinasi saya, pergi ke Bangkalan lewat pantai utara Madura itu akan menghabiskan selisih jarak dan waktu yang cukup jauh dan lama dibandingkan lewat selatan, jalur yang biasa dilewati. Walhasil, dari data GPS, hingga Junok (Bangkalan), jarak tempuh dari rumah Guluk-Guluk adalah 133 km sedangkan jika lewat selatan hanya 120 km saja. Biasanya, jarak sejati lebih jauh lagi, karena odometer tetap akan menghitung jarak naik-turunnya jalan yang bergantung atas kontur tanah.

Kami menempuh jalan yang mulus, lurus, datar. Kanannya laut, kiri bukit karst. Itulah pemandangan umum di jalur pantura Madura. Pemukiman penduduk tidak sebanyak di selatan. Terkadang, jarak antar-keramaian penduduk relatif jauh. Barangkali, ini pula yang menjadi faktor mengapa transportasi di Madura bagian utara itu tidak sesemarak di jalur selatan.

Akan tetapi, bagi kami yang memang menghindari jalur selatan di kala itu karena adanya rintangan berupa pasar dan perbaikan jembatan, kondisi jalan seperti ini sangat menyenangkan. Rasanya kami sedang melintasi jalan tol di tengah malam, sepi. Bahkan, sejak berangkat dari rumah, tidak ada satupun lampu lalu lintas (lampu merah) kecuali di Arosbaya, itupun pergantiannya sangat cepat karena volume kendaraan yang sedikit.

Sejak Sotabar, jalan mulus membentang ke arah barat. Hanya ada sedikit penyempitan jalan di Sokobana. Begitu pula, jalan kembali sempit dari arah Batulenger ke barat. Sedangkan ruas jalan selepas Tanjungbumi masih menggunakan aspal lama, tidak mulus tapi juga tidak rusak.

Dalam perjalanan kali ini, kami hanya mampir satu kali, yaitu di air terjun Toroan. Acaranya hanya foto-foto, tidak lebih. Oh, ya. Di jalur pantura ini hanya ada sedikit warung makan. Memang, pada umumnya, warung makan di Madura itu banyak, terutama di area Pamekasan dan Sumenep. Masa bukanya pun tidak lama. Yang buka 24 jam apalagi, nyaris tak ada, atau kecuali hanya dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Barangkali, sisa pengaruh petuah orangtua agar tidak suka makan di warung itu masih kuat melekat dalam tradisi masyarakat Madura. Makanya, orang lebih suka makan di rumah daripada makan di warung.

***

Kami mencapai Tangkel sekitar pukul 12.30. Kami lalu makan menu bebek di warung belut. Ya, tulisan ‘belut’-nya sangat gede di luar tapi orang-orang di warung itu ternyata pada makan bebek. Nama warungnya, entah Karomah entah Barokah, saya tidak tahu, mirip-mirip begitu, sih. Warnanya merah muda.

Rombongan ini menolak makan di Sinjay. Saya setuju keputusan ini. Kata saya, “Saya juga suka makan bebek Sinjay asalkan tidak perlu antri saat mau makan dan juga di saat mau membayar.”

Setengan jam kemudian, kami berpisah. Para tamu aneh itu melanjutkan perjalanan menuju Gresik, saya balik kanan, kembali ke Tangkel dengan berjalan kaki karena hanya berjarak kurang lebih 100 meteran dari warung tersebut.

Dan saat saya berdiri di bawah terik siang nan panas untuk menuggu bis melintas, tiba-tiba ada orang memanggil-manggil di seberang jalan. Saya tidak melihatnya, pangling, mungkin karena efek famorgana dan cuaca yang terlampau menyengat. Saya mendekat. Eh, ternyata Ramdan.

“Mau ke mana?” tanyanya.

“Pulang, nunggu bis.”

“Yuk, bareng saya saja. Kami bawa mobil, cuma berdua.”

“Bolehlah,” kata saya dengan cara bayar uang muka menggunakan senyuman.

Maka, akhirnya saya pun bergabung dengan mereka. Sejujurnya, uang saya di dompet memang mepet, yang andai saja saya bayarkan untuk naik patas sampai ke Prenduan, lalu bayar lagi untuk angkutan umum ke rumah, saya taksir hanya akan tersisa 10 ribu atau 15 ribu rupiah saja.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s