Salat di Perjalanan

Oleh M. Faizi

Saya pernah main ke kos teman. Rambutnya basah habis keramas, sepertinya baru bangun tidur terus mandi. Di depannya ada segela es nutrisari. Dan dengan santainya dia gitaran, musik-musikan, padahal waktu itu pas baru berkumandang azan maghrib, waktu di saat saya—mestinya—sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk salat. Ketika itulah, dalam hati, saya bertanya: “Mengapa salat merupakan hal krusial dalam diri seorang muslim seperti aku ini, yang salah satu buktinya adalah pelaksanaan dan aturan waktunya?”. Saya gemes melihat dia.

Jika kemudian ada orang yang menemukan simpulan bahwa gerakan-gerakan salat itu menyehatkan, meningkatkan vitalitas, mempertajam konsentrasi, maka itu hanya hasil riset sementara berdasarkan ilmu, dan bisa jadi “ilmu cocokologi”. Bagi seorang muslim, melaksanan salat itu haruslah atas dasar taat. Perintah salat adalah perintah pertama setelah pernyataan kesiapan menjadi muslim diputuskan melalui syahadat. Jadi, jangan gara-gara temuan itu lantas seseorang mau melakukan salat; semacam bersalat agar sehat, agar kaya, agar tampan, dll.

Salat adalah rukun yang nyaris tanpa syarat, berbeda dengan—misalnya—rukun Islam lain yang boleh gugur dan/atau tertunda karena sakit atau lemah atau dalam perjalanan, seperti puasa. Kewajiban berpuasa dapat ditunda bagi yang sakit atau dalam perjalanan; atau seperti haji yang disertai syarat mampu. Salat? Tak ada alasan apa pun yang dapat menggugurkannya. Bagi pemuda mukalaf, salat wajib tanpa tawaran. Jika tidak mampu dilakukan berdiri (karena sakit, misalnya), hukum salat tetap wajib: dilakukan dengan cara duduk; jika duduk pun terasa memberatkan, salat masih juga wajib dengan keringanan pelaksanaan dalam keadaan berbaring; jika masih tidak mampu menggerakkan anggota tubuh karena saking lemahnya, masih saja status salat tetap wajib: lakukan meskipun hanya dengan kedipan mata sebagai gerak isyarat. Jika berkedip saja tidak mampu? (Ah, masa iya masih ada pertanyaan sesudahnya?) Bahkan, andai kita tidak mungkin berwudu, salat tetap harus dilakukan demi menghormati waktu salat: salat lihurmatil waqti, sekadar memberikan penghormatan atas waktu salat.

Isra dan mikraj merupakan salah satu peristiwa penting dalam Islam yang perayaannya digelorakan setiap tahun. Perayaan ini adalah momen Nabi menghadap Allah untuk menerima perintah salat. Nah, betapa dahsyat peristiwa mikraj itu jika hanya demi satu perintah saja: salat. Sebab itulah, maka pelaksanaan salat disebut juga sebagai mikraj bagi setiap mukmin.

Dalam Islam, salat tidak sekadar dibahas perihal kewajibannya, melainkan juga fungsi dan tujuannya. Allah menetapkan—melalui ayat-ayat-Nya—bahwa salat adalah jaminan bagi seseorang agar tidak melakukan tindakan fahsya’ (keburukan) dan munkar (kemungkaran). Bersama sabar, salat juga juga ditetapkan sebagai jalan untuk meminta pertolongan. Pertanyaan: mengapa kita sering temukan orang yang bersalat, atau bahkan rajin salat, tetapi tetap melakukan fahsya’ dan munkar? Jawaban atas pertanyaan adalah juga berupa pertanyaan: Yang salah itu syaratnya, orangnya, atau laku salatnya?

Pada kenyataannya, dalam hidup keseharian, kita—atau sebut saja ‘saya’ agar tidak terlalu umum—selalu merasa ribet dan repot jika berhadapan dengan urusan salat. Di Jakarta, misalnya, saya pergi selepas asar untuk suatu acara yang akan diselenggarakan setelah isya. Lantas, di manakah kesempatan bersalat maghrib manakala kita masih berkubang dalam kemacetan? Betapa susahnya mengurus semua ini. Masih mending jika saya berstatus musafir yang boleh menunda dalam melaksanakan, tapi bagaimana dengan nasib warga pemukim?

Urusan salat, tertuma di perjalanan, menjadi semakin ‘absurd’. Bagaimana tidak, di negara yang nyaris dikelilingi oleh komunitas muslim, saya—sekarang, boleh sebut ‘kita’, masih sering kesulitan apabila hendak melaksanakan salat. Kalau masuk waktu maghrib, mungkin masih ada sedikit toleransi: bis malam sering memberikan waktu salat untuk penumpang pas di jam istirahat makan, tapi bagaimana dengan waktu salat subuh? Saat naik bis, terutama pada saat masuk waktu subuh, bis ekonomi jarang berhenti untuk sekadar salat kecuali kita harus pilih-pilih sopir tertentu yang lebih dulu kita ketahui rekam jejak religiusnya.

salat d harina

Di dalam kereta api (jangan dulu ngomong di pesawat terbang), orang mau salat malah lebih susah lagi. Satu-satunya cara adalah dengan menunaikannya di bordes. Sebetulnya, bisa saja kita salat di koridor kereta dan secara syarat hal itu sangat memungkinkan, tapi terkadang kita risih melakukannya di sana sebab kita tahu masyarakat kita punya aturan ini-itu yang tidak tertulis. Siap cuek? Silakan! Makanya, salat di bordes adalah pilihan, tapi itu pun jika kita naik kelas ekskutif (seperti Anggrek) karena ruang bordes untuk kelas ekonomi/bisnis—setahu saya—sangatlah sempit, tidak cukup untuk seukuran manusia dewasa.

Pernah sekali saya mengalami perjalanan dari Pekalongan, pukul empat kurang sedikit. Saya ambil wudu lebih dulu beberapa saat sebelum kereta datang sembari berazam akan salat di bordes. Tapi ternyata, di kereta itu (Harina) saya tidak bisa salat di bordes karena ruangnya terlalu sempit. Beruntung, akhirya saya turun di Semarang untuk Subuhan saat kereta berhenti sebentar, mungkin untuk langsir.

Sempat saya mikir: Teknologi perkeraapian saat ini telah maju dan canggih, apa susahnya PT KAI memasang display VMS (variable message service) di setiap gerbong yang dapat menjelaskan titik perhentian di stasiun dan berapa lama durasinya? Tujuannya adalah untuk informasi, terutama menyangkut pertimbangan kesempatan salat bagi muslim. KAI jelas bisa dan mudah membuat hal ini, tapi mengapa tidak dilakukan? Mungkin—ini hanya mungkin, lho—karena pengambil kebijakan tidak begitu jauh mempertimbangkan komunitas siapa saja yang terbesar menjadi penumpang kereta apinya, orang muslim, bukan?

Yang dari tadi disebut itu hanyalah faktor-faktor yang bersifat teknis. Namun, dalam masalah salat ini, sebetulnya ada yang jauh lebih prinsip, terutama urusan wudu dan najis. Kedua hal ini menjadi syarat utama terselenggaranya salat. Maka dengan demikian, tanpa mengurus dan memperhatikan keduanya (wudu dan najis), bicara salat juga akan sia-sia.

Kita punya banyak pulau yang dijuluki “Pulau 1000 Masjid”, seperti Lombok, Madura, dan Tidore, tapi apa iya di masjid-masjid tersebut ada standar kesucian menurut fikih yang sama? Terus terang saja, meskipun arsitekur sebuah masjid atau musala itu mentereng, namun kerap kali tempat pipisnya tidak sesuai SOP bab taharah (bersuci) sehingga memungkinkan mudah menyebarkan percikan najis dari air kencing (padahal syarat salat haruslah suci dari hadas dan semuanya). Mengapa demikian? Mungkin, lagi-lagi mungkin, arsitek dan pengawasnya tidak begitu paham/cuek terhadap fikih dan hanya melulu mementingkan semata-mata efektivitas dan keelokan disain, padahal masalah jaminan kesucian secara fikih berada di atas level ini. Lantas, bagaimana dengan toilet atau kamar kecil yang kita temukan di stasiun, terminal, dan bandar udara, yang umumnya lebih ‘sederhana’ (minimalis) secara disain daripada yang ada di pemukiman penduduk atau masjid di dekat jalan raya?

Intinya, pertanyaan tetap sama: Mungkinkah kita dapat bersuci secara benar jika toiletnya tidak punya standar penjamin kesucian menurut fikih? Jika bersuci tidak benar, bagaimana keabsahan salatnya? Begitulah urutan soal dan persoalannya.

Musala

Memang benar, tidak ada masalah bagi orang yang mau, tapi masa iya begitu? Ini sama dengan ungkapan umum ‘kan tinggal tayamum saja kalau kita sedang naik kendaraan’ yang disampaikan ketika air berlimpah begitu ruahnya; masjid dibangun di mana-mana; kesempatan berhenti pun leluasa. Belum lagi soal, bolehkah kita bertayamum dengan debu yang tidak berwujud debu? Hanya serpihan terepung yang menempel di ruang-ruang kedap udara dan berpendingin itu?

Singkatnya, dalam pengamatan sementara, perjalanan kerap kali membuat orang lupa untuk salat, atau setidaknya malas menunaikannya. Indikasi ke arah itu dapat ditengara dari ‘rabat’ yang diberikan Tuhan untuk tidak berpuasa ataupun menjamak salat karena alasan safar/perjalanan. Kadang, ada juga yang menjawab santai dengan, semisal, “Ah, Tuhan tahu, kok, kalau kita tidak sempat dan bukan kita melupakan-Nya” ketika diajak salat. Ya, Tuhan tahu, tapi saya—atau kita—tidak tahu, apakah jawaban itu tulus atau ngeles semata.

Lagi, salat menjadi masalah apabila kita bepergian ke wilayah di mana muslim menjadi minoritasnya, seperti di negara-negara tertentu di Eropa, atau di Cina, misalnya. Saya pernah tinggal beberapa hari di Jerman dan terus terang merasakan betapa ribetnya pelaksanaan salat ini. Jangan dulu buruk sangka! Mari, bayangkan: bagaimana jika Anda berada di lokasi acara yang toilet-toiletnya kering dan tanpa air (memang adanya toilet kering, bukan karena kran PDAM-nya macet)? Saya harus pulang ke hotel hanya untuk ganti baju dan ambil wudu, padahal jaraknya harus dua kali ganti kereta api dengan durasi waktu sekitar 40 menit plus jalan kaki.

Masalah utamanya adalah soal wudu dan taharah (bersuci). Nah, masih ada masalah lainnya: Bagaimana kita harus tahu kapan azan dari alarm, belum lagi kesenjangan waktu di bulan yang berbeda, seperti siang yang sangat panjang dan akibatnya malam jadi pendek sekali di bulan Juni. Contoh di Trondheim, Norwegia: maghrib jatuh pukul 23.45 dan subuh pukul 02.00. Soal salat mungkin bisa, tapi bagaimana dengan puasa selama nyaris 22 jam?

P1130144

Jika kita perhatikan waktu salat, anggaplah ini berdasarkan utak-atik-gatuk, rupanya memang selalu beriringan dengan penanda waktu. Makanya, ulama sepakat boleh qasar (meringkas salat karena alasan tertentu, seperti karena safar/perjalanan) tetapi tidak seluruhnya setuju dengan menjamaknya, alias menggabungkan dua jenis salat dalam sekali waktu; seperti salat duhur dan asar di waktu asar [ta’khir] atau di waktu duhur [taqdim]. Maka dari itu, salat menjadi ritual agar kita selalu ingat setiap saat kepada sang Pencipta. Sekurang-kurangnya, dalam setiap perubahan waktu itulah kita kita setoran presensi kepada-Nya: Subuh menandai waktu pagi; Duhur menandai waktu siang; Asar menandai waktu sore; maghrib menandai waktu petang; isya menjadi penanda waktu malam. Di antara kedua waktu yang rentangnya panjang (pagi ke siang dan malam ke pagi), diberi bonus salat sunnah yang terkenal hebat pahalanya; salat duha dan salat tahajud. Para ulama tasawuf lantas juga menganjurkan zikir khafi (zikir samar, dalam hati) dengan maksud agar zikir kita tidak terputus sama sekali, sepanjang waktu.

Tentu saja, saya bicara salat ini hanya untuk siapa pun yang merasa risih jika tidak salat. Jika Anda santai saja menghadapinya, maka tulisan ini tentu tidak penting lagi dibaca, boleh jadi malah dianggap ‘lebay’ dan dianggap hanya cocok jadi pegangan para “lebai” (takmir masjid). Apa yang saya tulis hanyalah karena percaya bahwa salat merupakan wujud kita sebagai hamba, juga seperti janji-Nya, dapat menahan kita dari berbuat fahsya’ dan mungkar, itu saja.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s