Pekan Ngaji 2: Ngaji Bersama, Maju Bersama

Selasa (malam Rabu), 7 Pebruari 2017, di hadapan santri-santri PP Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. Saya berbicara tentang pesantren dan sastra di . Kali itu, saya ditemani oleh Bahauddin Amyasi. Entah sudah yang keberapa kali saya bicara hal serupa di pondok, mungkin yang keenam atau yang ketujuh kali. Akan tetapi, kali ini, momennya berbeda. Ceramah yang saya sampaikan berada dalam rangkaian kegiatan “Pekan Ngaji 2”, berbeda dengan yang sudah-sudah yang merupakan kegiatan tunggal.

Di hadapan mereka,  saya bicara ini-itu seputar sastra, tradisi bersastra di pesantren, tradisi pesantren, kesastraan pesantren, dan hal-hal yang terkait dan dekat dengan tema itu. Para santri begitu antusias mendengarkan. Kalau ditemukan satu-dua yang mengantuk, itu sama sekali tak jadi soal karena acara dimulai memang sudah agak malam, sekira pukul 21.00 dan berakhir dua jam kemudian.

Secara umum, meskipun saya hadir hanya di malam itu dalam rangkaian kegaitan tersebut, serta berdasar atas sumber informasi dari panitia, saya memberikan apresiasi istimewa untuk rangkaian kegiatan Pekan Ngaji 2 ini.  Bagi saya, kegiatan semacam ini akan menjadikan pesantren sebagai salah satu pusat kebudayaan dan penggerak roda pemikiran. Pembangunan mental spritual mestinya turut dipikirkan, atau bahkan didahulukan, daripada sekadar pembangunan fisik untuk asrama, madrasah, dan sejenisnya. Dalam sejarahnya, fasilitas fisikal di pondok, dari dulu, adalah nomor sekian ketika persoalan pengajian, pengajaran, dan pendidikan adalah topik yang utama.

Acara ini pertama kali dilangsungkan tahun lalu, yang merupakan kegiatan tahunan. Pada tahun 2017 ini, Pekan Ngaji menampilkan serangkaian kegiatan beragam, bazar, dan expo. Acaranya didahului oleh lomba debat dan fahmil kitab lalu dilanjutkan dengan serangkaian kegiatan bertajuk “ngaji”, seperti ngaji ubudiyah, ICT, ekologi, membaca, menulis, pemikiran Islam, tasawuf, syariah, politik Islam, sastra, hingga kewirausahaan. Di luar kegiatan ngaji itu, ada pula kegiatan seminar dan bedah buku serta kegiatan berkelanjutan yang dilaksanakan selama beberapa hari, seperti ngaji tibbun nabawi.

 Panitia mengundang pemateri yang berkompeten, dari dari dalam dan luar negeri. Antara lain: Dr. Agus Zainal Arifin, S.Kom., M.Kom; Prof. Dr. Hamam Hadi, M.S.Sc.P, P.Sp.G.K.; Prof. Sutiman Bambang Sumetro, M.SC.,D.Sc.; Prof. Satria Darma (menggagalkan H-2); Prof.Dr. H.M. Amin Syukur, M.A.; Prof.Dr. H. Ahmad Zahro, MA; Dr. Aly Abdoel Moenim, dll. Saya tidak membayangkan, acara yang berlangsung selama sepuluh hari (1-10 Pebruari 2017) ini dipungkasi oleh seminar dan juga orasi oleh Prof. Dr. Syekh Jamal Faruq el-Daqaq dan didahului oleh penampilan bakat (ta’yidul maharah) akan seberapa banyak menghabiskan dana. Maka, untuk keputusan melaksanakan serangkaian kegitan yang banyak menyita tenaga dan dana ini patut diberikan aplaus.

Oleh sebab itu, saya selalu memberikan acung jempol untuk lembaga, seperti sekolah atau madrasah, yang tidak melulu sibuk dengan urusan membangun gedung sementara SDM-nya dibiarkan tidak diurus, tidak diberi pengayaan pengetahuan dan wawasan. Begitu pula, saya lebih suka mendengar kabar jika ada madrasah atau sekolah yang rajin memberikan pengajian, pelatihan, workshop, untuk para guru dan murid daripada habis-habisan mengambil dana sekolah untuk menyambut dan menyanjung satu orang saja dari siswanya yang menang dalam sebuah kompetisi.

Nyatanya, madrasah atau sekolah itu bukan tempat lomba-lombaan, adu-aduan, apalagi yang diadu adalah sesama siswa. Di sana adalah tempat belajar bersama, maju bersama, dan selalu bersama-sama, saling mendukung satu dengan lainnya. Lomba hanyalah pemicu dan penyemangat, jangan sampai dijadikan momen untuk menjatuhkan kawan sendiri. Satu atau dua orang yang menonjol bukanlah jaminan bahwa di sekolah itu punya sistem yang bagus sebab hal itu mungkin dilakukan dengan pengkaderan untuk satu dua orang saja. Akan tetapi, jika hampir semuanya yang maju, maka itulah bukti dan hasil yang diharapkan dari kerja dan sistemnya.

Di masa yang akan datang, saya berharap, kegiatan Pekan Ngaji seperti ini (atau kegiatan serupa) terus berlanjut, menjadi maskot kegiatan. Lebih baik andai diperhatikan oleh yang pantas memperhatikan dan layak memberikan dukungan. Pemerintah atau instansi yang punya dana berlimpah dan kerap menghabiskannya untuk satu-dua orang saja, atau bahkan untuk pesta dan hura-hura saja, sebaiknya sebagiannya disalurkan untuk kegiatan seperti ini. Saya kira, pesantren lain dan lembaga lain dapat meniru dan melakukannya pula. Kiranya, kegiatan semacam inilah yang akan terus menghidupkan dan meneguhkan pondok pesantren bahwa ia merupakan lembaga yang memiliki orientasi baca-tulis kuat sehingga tradisi belajar dan ilmu hidup nyaman di sana.

Iklan

9 thoughts on “Pekan Ngaji 2: Ngaji Bersama, Maju Bersama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s