Sidogiri

img_0741

Saya tiba di pertigaan akses ke Sidogiri (kadang disebut sebagai pertigaan Tambakrejo) kira-kira 30 menit sesudah azan asar. Langsung bergerak gegas menuju warung kopi untuk menghindari tawaran bentor dan ojek adalah langkah menyelamatkan diri yang paling tepat. Setelah memesan minuman, barulah saya mengatur strategi. Menunggu angkutan umum atau ngojek adalah pilihannya.

Tiba di Kraton pukul 16.00 sedangkan saya berangkat pukul 10.20 dari Prenduan itu tergolong perjalanan lancar, lho, apalagi masih untung mengingat sehari sebelumnya (14 Pebruari 2017), Kraton masih banjir akibat luapan air sungai. Hari ini, Rabu, 15 Pebruari 2017, kelancaran perjalanan saya ditopang oleh jodoh patas Mila Sejahtera (N7334US) sampai Bungurasih dengan mahar 53.000. Adapun rezeki Rp 12.000 jatuh ke tangan kondektur Indonesia Abadi (N7418UR) untuk ditukar tiket dari Terminal Purabaya ke Kraton.

Piluhan jatuh ke bentor (becak motor). Duduk di atas sadelnya, sesekali saya bersandar, sesekali berpegangan, meladeni pengemudinya yang  berjalan zigzag karena menghindari kubangan di sepanjang jalan. Saya menikmati perjalanan sore itu, nikmat perjalanan menuju salah satu pondok tua di Jawa Timur. Tujuan saya adalah memenuhi undangan PP Sidogiri (yang diwakili BPP) untuk bicara soal tradisi baca-tulis dan cara-cara menggali inspirasi. Karena acara direncakan pukul 21.00 WIS (waktu istiwa; atau 20.30 WIB) terhitung masih lama, maka saya punya banyak kesempatan untuk berini-itu sebelum acara.

Di atas bentor, saya masih merasa heran karena angkutan ke pondok harus menggunakan bentor atau ojek, sama seperti ke Blokagung di Banyuwangi yang tanpa angkutan umum di sore hari. Rupanya, angkutan umum yang melintas di kedua pondok itu itu memang cuma beroperasi dari pagi sampai siang saja.

***

Sidogiri, siapa tak kenal nama ini? Kalau pernah menjadi santri dan pernah mondok, pasti Anda tahu nama ini. Tapi, bagaimana jika Anda ternyata tetap tidak tahu? Nah, sekarang Anda sudah kenal lewat catatan ini. Ketahuilah, pada ultahnya yang akan datang, pondok ini sudah berusia 280, nyaris 3 abad kurang sedikit meskipun tidak setua Pondok Mojosari di Nganjuk.

Konon, dari bisik-bisik kawan yang saya dengar sebelum saya berangkat, layanan untuk tamu di sana sangat istimewa. Hari itu saya membuktikannya. Benar, saya diantar ke sana ke mari, ditawari ini dan itu, ditanyakan apa maunya dan hendak ke mana. Sepertinya, sikap grapyak semacam ini sudah jadi “s.o.p” para santri dan pengurus. Namun, saya bertahan tinggal di wisma tamu saja, bersama sepupu duakali, Yasir Zuhri, yang menemani saya sampai menjelang isya.

Begitu azan berkumandang, barulah saya bergerak cepat, melangkah panjang-panjang untuk menghindari genangan air di jalan yang basah karena rinai, sisa hujan. Kami menuju masjid untuk salat berjamaah isya. Upacara berikutnya setelah salat adalah ziarah ke makbarah keluarga yang terletak di balik mihrab, di depan masjid. Kemudian, rangkaian berikutnya yang jadi pra-acara bagi saya adalah mengunjungi beberapa komplek pondok, termasuk Daerah C (ini merupakan napak tilas pesanan pamanda Ahmadul Faqih Mahfud agar saya melihat jejaknya di pondok itu).

Melihat santri berseliwer, perasaan rindu masa lalu menguar. Saya ingin jadi santri kembali, ingin kembali ke masa lalu lalu belajar lebih tekun sebab sudah tahu betapa ruginya jika menghabiskan waktu muda dalam keadaan santai dan terlena. Di komplek C itu, saya melihat santri mendekap kitab, belajar di kamar, belanja jajanan, dan beraktivitas lain. Masya Allah, betapa menenteramkan! Mestinya, banyak tempat yang harus saya kunjungi di pondok ini namun gagal karena gerimis terus menebal.

Kesan berkesan begitu kuat saya rasakan saat masuk perpustakaan. Bangunan tua berlantai dua itu sangat rapi dan bersih. Lantai bawah untuk kantor, ruang digital, dan satu ruang lagi—mungkin—untuk arsip, sedangkan lantai duanya untuk koleksi buku. Kala itu, saya melihat kelompok-kelompok santri bermusyawarah, berdiskusi. Mereka melingkar dalam bentuk ‘halaqah’. Berdasarkan nguping kata kunci yang mereka katakan, sepertinya mereka berdiskusi masalah fikih dan nahwu, mungkin juga tasawuf dan lainnya. Ya, saya hanya mendengar sepintas kilas saja. Yakin pasti, tema pemilihan gubernur DKI (yang juga berlangsung di hari itu) tidak ada dalam percakapan mereka. Indeks-nya adalah makrifat, nakiroh, mubah, makruh, dan bukannya Ahok, Anis, atau Agus. Dalam hati, saya bertanya dan berdebar: untuk apa saya bicara literasi di sini jika mereka sudah menunjukkan keteguhan dan keteguhan di depan mata kepala saya sendiri?

***

Sebelum acara dimulai, saya diterima di lobi, semacam ruang tamu pesantren yang ada di kantor sekretariat. Tempat duduk yang tebal rasanya semakin empuk karena terhidang roti berlumur susu di atas meja, tersedia lebih dulu sebelum saya duduk di sana. Menu berikutnya adalah jamuan makan ala ‘sufrah’, biasa ditemukan di Madura, dengan hidangan lengkap dan gaya lesehan. Rawon, lodeh, lele, tahu, tempe, telur asin, bebek goreng, sambal, seolah berebut harap, memanggil-manggil mulut saya supaya segera menyantap.

Acara bertajuk “Menggalakkan Literasi, Menggali Inspirasi” ini berlangsung di lantai dua, kantor sekretariat bersama PP Sidogiri. Pesertanya adalah awak media (24 media) di lingkungan pondok, dari kru mading, buletin, hingga majalah. Saya bicara perihal tradisi baca tulis yang dimiliki santri dan apa yang seharusnya dimiliki santri namun belum dijalani, termasuk mengingatkan tradisi baca-tulis sebagaimana diisyaratkan Alquran dalam Surah Al-Qalam atau dan surah lalin seperi Ar-Rahman. Intinya, baca dan tulis harus seimbang, bahkan kalau mau jujur dan berdasarkan urutan, “membaca” dulu yang diperhatikan, baru setelah itu “menulis”-nya sebab perintah pertama adalah perintah “membaca”; sebagaimana cita-cita luhur menjadi manusia seutuhnya, menjadi ulul albab itu didahului oleh anjuran “berzikir”, baru setelah itu adalah “berpikir” sebagaimana termaktub dalam Ali Imran (190-191). Adapun hal lain yang hilang dalam tradisi santri adalah tradisi mencatat. Makanya, dalam kitab babon pengajian dan pengajaran, Taklimul Mutaallim, santri dianjurkan agar senantiasa membawa alat tulis/catat sebab tradisi mencatat adalah bagian yang menyatu dengan proses belajar. “Dan ini yang banyak dilupakan oleh kita,” kata saya.

Setelah acara selesai pukul 11 malam, setelah duduk sebentar di lobi, menuntaskan ide-ide yang tak sempat dibicarakan di ruang diskusi, saya pun pamit pulang. Saya diantar panitia dengan mobil berplat nomor N1745VQ ke pertigaan Kraton. Oh, ini dia rupanya, angka plat nomor itu adalah angka tahun berdiri pondok. Mudah mengingatnya: bahwa pondok ini berdiri dua abad sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Seperti perjalanan berangkat yang lancar, perjalanan pulang malah lebih lancar. Berangkat pukul 00.05 dari Kraton, persis satu jam berikutnya, saya sudah sampai di Purabaya. AKAS IV yang saya naiki bersama Muhairil (santri Sidogiri yang menemani saya pulang dan kan turun di Tangkel, Bangkalan), bergerak gesit. Meskipun bermesin lawas Mercy 1521, bis bernomor N7123UR ini mampu menyusul DAMRI “Royal Class versi KW” tujuan Madura selepas Bangil, lalu menguntit di belakang AKAS IV AK8 setiba Bungur. Pukul 01.36 lepas dari Terminal Purabaya, tiba di Tangkel 02.58; Subuh di Bandaran, kami shalat subuh di Terminal Ronggosukowati, Pamekasan. Bis bergerak lagi di 36 lewat pukul 04; pukul 05.05 di Prenduan, dan limabelas menit berikutnya, saya tiba di rumah.

Alhamdulillah, demikian menyenangkan perjalanan kali ini sehingga saya mensyukurinya dengan langsung menjumpai keluarga lengkap, masak air, buat, kopi, dan tetap melakukan kegiatan yang biasa berlangsung pukul 6 pagi: membaca kitab Taklim bersama para santri serta menyelipkan kisah-kisah teladan dari Sidogiri: tentang khidmah, tentang himmah, juga tentang hal-hal lain yang penuh hikmah, bahwa setandus apa pun tanah, jika diguyur, jadilah ia basah.

Iklan

7 thoughts on “Sidogiri

  1. jadi terharu dengan membaca catatan ini kiai. saya menyadari dan larut dalam cerita ini, bukan karena apa, karena setidaknya kami menyertai panjengan dalam separuh perjalanan panjenengan. namun perlu, saya akui, ternyata saya belum begitu pandai menintal kisah pertemuan dg sosok inspirator yang banyak menyemai inspirasi saat saya menulis walau sebelumnya hanya karyanya. tanpa mengenal orang. namun setelah bertemu, belum juga tercipta catatan harian sebagus ini. ialah kami anggap itu sebagai proses harus terus kami lalui. namun maaf kiai, tenyata nopol yg kita kendarai adalah N 1746 VQ sesuai dengan tahun berdirinya PPS kiai. dan pertigaan itu adalah pertigaan Tambahrejo kiai, bukan Campurejo kiai. hehehheh
    maaf kiai hanya ingin menengur sapa kiai. semoga kiai panjang umur dan bisa ketemu kembali di suatu saat nanti …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s