Ke Murawa’ah: Antara Mutammimah al Ajrumiyah, Al Ahdal, Nahwu, di Bumi Abrahah

oleh Izel Muhammad Hamdi 

Laporan perjalanan ini diterbitkan ulang oleh saya (M. Faizi) di blog ini setelah mendapatkan izin langsung dari penulis saat bertandang ke rumah saya, Sabtu, 11 Pebruari 2017. Tulisan ini sudah diterbitkan 2 tahun yang lalu di media sosial Izel, si penulis. Saya merasa penting untuk menyebarkan ulang karena kandungan cerita dan nilai yang ingin disampaikannya terasa penting sekali untuk diketahui oleh kami, terutama para pencari ilmu.

 

 

Jumat, 24 Desember 2013, adalah kali kedua aku melakukan rihlah ke Murawa’ah: sepetak tanah yang telah banyak melahirkan penulis kitab-kitab pelajaran Islam, mulai dari fikih, ushul fikih, hingga nahwu. Murawa’ah adalah satu di antara kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Hudaedah, Yaman Utara. Di sini, anak cucu keturunan Rasulullah yang bergelar Al-Ahdal bertebaran. Dan, dari sini pula, untuk para habaib di seluruh penjuru dunia (di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Asia Tenggara yang dipanggil “al-Mahdali”), gelar al-Ahdal itu bermula.

Waktu menunjukkan pukul 07:00 waktu setempat. Bersama duabelas teman dari Malaysia yang kesemuanya merupakan mahasiswa baru di Darul Ulum as-Syar’iyah, kami keluar dari asrama. Sebelumnya, kami lebih dulu sarapan di suatu sisi persimpangan jalan raya yang berada di belakang universitas. Tentu saja, menu yang kami santap berbeda dengan sarapan orang-orang di bumi Nusantara yang beraneka ragam. Sarapan pagi kami berupa ful, fashaliyah, hubz (roti besar bulat) dan teh.

Kehidupan masyarakat Yaman sebenarnya tidak dapat dikatakan miskin. Mobil-mobil sejenis Land Cruiser dan Mercy—yang di Indonesia umumnya hanya dimiliki oleh kaum jetset dan para konglomerat—juga banyak di sini. Barangkali, sebab sifat zuhud-lah yang menciptakan karakter mereka sehingga hidup sederhana, jauh dari kesan cinta dunia secara berlebihan.

Hidangan di depan kami ludes, tak tersisa. Selanjutnya, kami berangkat menuju Murawa’ah. Tujuan pertama kami adalah mengunjungi syekh Abdullah Yahya al-Syi’bi, pengarang Nahwu Syawid Kawaqib al-Dzurriyah yang telah dipelajari di penjuru dunia.

murawaah

Tidak sulit bagi kami untuk tiba di Kabupaten Murawa’ah. Dari provinsi Hudaedah, tempat aku tinggal, tempat itu hanya berjarak 22 km atau sekitar 16 km dari bandara internasional Hudaedah. Seperti halnya perjalanan menuju kota-kota ‘Tihamah’ lainnya, di sisi kanan dan kiri jalan aspal diapit oleh gurun pasir yang luas. Rumah-rumah khas pengungsi Somalia mulai tampak bertebaran di atasnya, membentuk perkampungan-perkampungan kecil.

Sekitar duapuluh lima menit kemudian, setelah melewati kota Murawa’ah, kami tiba di masjid Syekh al-Syi’bi. Masjid kecil yang pantasnya disebut musala itu tepat berada di sisi jalan raya, di desa paling ujung Kabupaten Murawa’ah. Hanya terdapat beberapa rumah dan empat kedai minuman di sekitarnya. Menurut penduduk, letak rumah syekh sendiri berada di 3-4 km di sebelah kanan jalan raya, di bawah bukit yang hanya bisa aku lihat dari kejahuan.

Karena sejak dulu Syekh tidak pernah memperkenankan para peziarah datang ke rumahnya, maka aku bersama teman-teman menunggu di beranda masjidnya. Dari cerita penduduk, aku tahu bahwa sejak dulu, ulama kharismatik dan zuhud yang kami kunjungi ini tidak pernah absen salat lima waktu dan mengajar di masjid yang sangat jauh dari rumahnya. Dan itu ia tempuh dengan berjalan kaki. Ah, sungguh aku tak bisa membayangkan betapa keringat Syekh akan membasahi tubuhnya yang kurus ketika cuaca musim panas akan mencapai titik 43 derajat celcius.

Selagi menunggu kedatangannya, aku teringat kejadian tiga tahun silam. Waktu itu, Syekh yang bernama lengkap Abdullah Yahya al-Syi’bi pernah hadir di halaqah penutupan “Shahih Bukhari” yang digelar di Masjid Al-Husain, masjid kampus di mana aku belajar. Beliau duduk di barisan paling belakang, di dekat kotak kayu berukuran panjang yang biasa digunakan untuk menyimpan sandal para jamaah. Penampilannya yang mirip penduduk desa membuat banyak orang terkecoh, termasuk aku yang kebetulan waktu itu berada tak jauh dari tempatnya. Ya, lagi-lagi itu semua disebabkan oleh pakaian.

Aku baru sadar bahwa orang yang berpakaian lusuh itu ternyata seorang ulama besar manakala para dosen dan para syekh yang duduk di barisan depan tiba-tiba bangkit dan berebutan untuk merangkul serta menciumi kepalanya. Namun, dengan sekuat tenaga, Syekh al-Syi’bi berusaha menghindar, keluar dari kerumunan jamaah lalu pergi dengan tergesa-gesa.

Sekitar sepuluh menit berlalu, muncullah Syekh al-Syi’bi dengan seorang pengendara motor dari arah yang berlawanan dengan arah rumahnya. Entah beliau dari mana. Suaranya yang pelan dan datar menyapa kami. Ingin rasanya kuhisap habis senyum teduhnya yang selalu mengembang dari kedua bibirnya itu. Ingin rasanya aku bersembunyi di belakang korneanya yang bening. Ingin rasanya kurapikan kain kusut yang melekat ditubuhnya itu dengan setrika.

Pertemuan kami dengan Syekh berlangsung sekitar empatpuluh menit. Setelah satu persatu dari kami membaca kitab, beliau mengijazahkan seluruh sanad yang didapat dari guru-gurunya, termasuk sanad memakai imamah dan cara menyuapkan halawah (sejenis dodol) yang bersambung kepada Rasulullah.

16708233_1588197154529854_2777267350840950361_n

Abdullah Yahya as-Syi’bi

Di akhir pertemuan, mewakili teman-teman yang ada, aku meminta nasehat. Beliau menjawab, “Nasehat apa yang dapat aku berikan pada kalian?”

“Apa saja, Syekh, yang penting nasehat.” Aku setengah merengek.

“Baiklah. Pertama-tama, saya bernasehat pada diri sendiri kemudian kepada kalian; bertakwalah kalian kepada Allah di mana pun berada. Bersabarlah dalam segala keadaan. Jangan pernah terlepas dari menyebut “La ilaha Illallah” walaupun hanya mampu diucapkan satu kali dalam satu hari.”

Matahari meninggi. Kami pun berpamitan. Sekitar pukul sepuluh pagi, aku bersama teman-teman meninggalkan masjid. Kami kembali memutar arah menuju kota kuno yang kami lewati tadi, Kota Murawa’ah, kota yang dulu terkenal dengan sebutan Madinah al-Kadara’, kota seorang permaisuri Bani Rasul di Wadi Siham.

* * *

Di kota tua tersebut, kami juga hendak sowan ke beberapa ulama yang tinggal di sana, termasuk juga untuk ziarah ke maqbarah pengarang kitab nahwu, “Syarah Kawaqkb al-Durriyah ala Matni Mutammimah al-Ajrumiyah”; Sayyid Muhammad bin Ahmad Abdul Bari al-Ahdal (1241-1298 H).

> Untuk mengunduh kitab versi *pdf, klik di sini.

1653914_808602855822625_301291936_n

Setelah sekitar sepuluh menit mengendarai mobil, kami sampai di pintu masuk kota sisi timur. Angin gurun semakin kencang. Karena keadaan cuaca gurun yang panas-dingin, suhu badanku—yang sejak dua hari sebelumnya memang kurang baik—tiba-tiba semakin lemas. Kata seorang teman, mukaku tampak pucat, namun tutur sapa masyarakat yang penuh sopan santun serta murah senyum itu kembali membangkitkan semangatku.

Melihat sisa-sisa bangunan dari tanah liat di sepanjang jalan seakan-seakan aku terlempar ke masa lalu, berada di abad ke-3 hijriyah, bersama Sayyid Muhammad bin Sulaiman dan para muhibbinnya, membangun kota, meskipun kini, gedung-gedung bertingkat mulai menggeser bangunan-bangunan bersejarah itu.

Ya Bani Majdal, aku datang mengunjungimu!

BERSAMA KAKEK GURU

Bagi Yaman, kota hanyalah sebatas nama. Begitu juga dengan kota kabupaten Murawa’ah, sebuah kota yang tidak semarak dengan celotehan genit para perempuannya, tidak pula gempita oleh music rock and roll dan sejenisnya.

Dari tempat pemberhentian mobil yang kami tumpangi, kami berjalan menyusuri gang-gang sempit menuju kediaman al-Allamah al-Sayyid Hamud bin Ahmad al-Ahdal. Beliau berjuluk “Syumailah” dan merupakan salah satu ulama sepuh yang menjadi guru pertama Syekh al-Syi’bi dan Syekh Ali Yahya al-Mur’i, rektor sekaligus pendiri Universitas Dar el Ulum as-Syar’iyah.

Melihat langsung kediaman sosok yang telah banyak melahirkan ulama-ulama besar di Yaman itu, hatiku menciut. Rumah itu hanya berupa onggokan dengan diameter 6 x 4 meter, beratapkan seng, berada di antara bangunan-bangunan berlantai dua dan tiga. Di depan pintu masuk, mengalir comberan yang tak habis diserap oleh pipa-pipa rumah di sampingnya.

Setelah mengucap salam, dari ambang pintu sempit itu kami disambut empat anak kecil yang saat itu sedang bersenda gurau bersama Syekh. Aku bersama teman-teman dipersilahkan masuk.

Bagaimana keadaan di dalam? Ternyata, keadaan di dalam rumah itu masih seperti keadaan empat tahun silam, sama seperti waktu pertama kali aku mengunjunginya. Jika dulu aku menjumpai Syekh di zawiyah yang berukuran 2 x 1 meter, sekarang menemuinya di samping zawiyah. Kulihat Syekh sedang berbaring lemah di atas ranjang besi 1,5 x ½ meter dalam keadaan meringkuk karena sempit. Beliau mengenakan sarung putih bergaris tipis kotak-kotak hitam serta kaos dalam berwarna putih yang sudah lapuk. Kezuhudan telah mengalahkan nafsu dunianya.

Suara Syekh sudah tidak jelas karena dimakan usia. Agar dapat menangkap ucapan dari lisannya yang sudah uzur, terpaksa aku dan seorang teman Arab mendekatkan telinga di kedua bibirnya yang bersih.

CANDA DAN PESAN KAKEK GURU

Detik-detik berlalu begitu cepat, tergilas gemuruh angin yang tak henti-henti mempermainkan terpal kumal berwarna biru tua yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan zawiyah. Tak terasa sudah lima belas menit kami bersama Syekh.

Ketika aku sedang menerjemah ucapan Syekh kepada teman yang lain, tiba-tiba beliau menyela, “Kalian berbicara dengan bahasa apa? Aku tidak paham. Dan, sampai usia setua ini tak mungkin aku mampu berbicara dengan menggunakan bahasa kalian.” Kedua kornea yang bening mirip bola mata bayi itu menerawang. Beliau tersenyum, setengah tertawa.

Aku tersenyum. “Tidak, ya, Sayyid. Bahkan Anda menguasai beberapa kosa kata bahasa kami yang berasal dari bahasa Arab, seperti kursi, kitab, masjid, dan lain-lain,” kataku.

Tak lama kemudian, masih dalam keadaan berbaring, beliau mengijazahkan seluruh sanad kitab yang beliau peroleh dari guru-gurunya dahulu. Kemudian beliau memberi nasehat kepada kami; “Bertakwalah kepada Allah, selalu sabar, dan jangan membaca Fatihah dalam keadaan berjalan. Jika sewaktu berjalan membaca Fatihah, hendaklah berhenti sampai bacaan Fatihah tersebut selesai.”

Selanjutnya, Syekh berdoa. Tanganku berhenti memijat tubuhnya yang lembut. Setelah selesai, menuruti permintaan teman-teman, aku mengajukan keinginan untuk berfoto bersama beliau. “Itu pun jika Anda berkenan, Syekh,” kataku.

Lagi-lagi beliau tersenyum sumringah

“Baiklah, tak usah dipapah. Aku bisa bangkit sendiri.”

16729080_1589392701076966_1987164830653192288_n

Izel Muhammad Hamdi (penulis) berfoto dengan Sayyid Hamud Syumailah al Ahdal

Dengan sekuat tenaga beliau duduk. Aku meminta teman-teman agar menyanggah punggung beliau saat pengambilan gambar.

Sesi foto-foto bersama sudah selesai. Dengan bergiliran, kami bersalaman serta menciumi kening beliau. Selanjutnya, kami akan mengarah ke Masjid Jamik Kabir untuk melepas penat serta menunggu shalat Jumat. Sebelum kami pulang, Syekh masih sempat berkata, “Jangan lupakan aku dalam doa-doa kalian…”

Dalam batin aku menjawab, “Syekh, kami ini apa dan siapa…”

CATATAN:

  1. Julukan al-Syi’bi berarti Rakyat jelata.
  2. Tidak ada yang tahu tentang tanggal, bulan, dan tahun kelahiran Syekh Abdullah Yahya. Dalam kitab-kitabnya yang dicetak di Saudi Arabia, Libanon, Mesir, Maroko, dll., hal itu juga tidak dicantumkan. Mencari lewat ‘Google’ pun tidak kutemukan jawaban. Kiranya, ini merupakan salah satu sikap ‘mastur’ beliau, sebuah keputusan agar tidak dikenal orang.
  3. Menurut riwayat dari guruku, sewaktu hendak menuntut ilmu ke Makkah, Syekh al-Syi’bi menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Di Makkah, tak jarang beliau makan kulit semangka yang dibuang orang.

 

Iklan

5 thoughts on “Ke Murawa’ah: Antara Mutammimah al Ajrumiyah, Al Ahdal, Nahwu, di Bumi Abrahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s