Sugeng, Bledex, AKAS: Tiga Nama, Satu Legenda

bledex-mila

Mila Sejahtera ‘Bledex’, foto diambil di garasi AKAS-MILA Jogjakarta, 12 April 2012

Kisah ini terjadi kira-kira pada paruh akhir tahun 90-an, mungkin 1996 atau 1997,  di hutan Saradan (Madiun), tengah malam.

Jalan sepi. Saya taksir: jam jelang pukul 3 pagi. Maklum, kala itu, saya tidak punya ponsel dan tidak pula memakai arloji. Suasana kabin AKAS II bumel yang saya naiki sangat ‘sepi’ karena semua penumpang tidur. Hanya denging turbo mesin belakang Hino RK lawaslah yang saya dengar hingga kursi baris terdepan, tempat saya duduk.

Di sebuah trek lurus, lintasan yang merangsang sopir untuk menginjak gas sampai menjelang ambang batas, ketika jalan di hutan begitu gelap, jauh di depan sana: bergeriap enam lampu mayang berwarna kuning (itu adalah lampu identitas AKAS II; sedangkan MILA Sejahtera memiliki enam lampu mayang yang sama, berderet sejajar di atas kaca depan, hanya beda warna hijau di bagian kanan dan kirinya).

“Wah, Sugeng!” kata sopir kami kepada kernet. Tampaknya ia sudah tahu dengan siapa ia akan berpapasan dalam beberapa detik lagi.

Baru saja pak sopir bilang begitu, lampu mayang, lampu utama, semua lampu bis yang datang dari arah depan itu mati serentak, semuanya.

“Edan! Sugeng!”

Usai berseru begitu, sopir kami juga melakukan hal yang sama: mematikan semua lampunya.

“Astaga!” kata saya dalam hati, kaget bukan alang-kepalang. Ini jelas melanggar aturan keselamatan sebab kami tidak sedang syuting filem atau sedang beratraksi layaknya seorang stuntman. Suasana menjadi gelap luar biasa, bahkan garis marka jalan pun tidak dapat saya lihat meskipun saya sedang duduk di muka. Untung, pak sopir hanya mematikan lampu sekitar 3 detik; entah itu sebagai kode atau apa. Ia menyalakannya lagi. Sementara bis yang datang dari arah depan tetap tidak kelihatan hingga akhirnya kami berpapasan.

Pas, persis, pada saat itulah Pak Sugeng—pengemudi bis AKAS “Bledex” (banyak sopir yang menggunakan nama “Bledex”, namun boleh jadi Pak Sugenglah yang mula-mula menggunakan nama tersebut sebab ketika ia pegang MILA Sejahtera, ia juga pakai nama “Bledex”) yang datang dari lawan arah itu—membunyikan klakson panjang, seolah-olah itu suara orang yang tertawa terbahak-bahak. Suaranya membahana, memenuhi seisi hutan Saradan.

Plong rasanya hati ini begitu momen dramatis papasan dua bis tersebut telah berlalu. Alhamdulillah, tidak terjadi tabrakan atau kejadian buruk lain meskipun apa yang baru saja saya alami itu sungguh mirip film dan tetap tidak dapat bisa saya percayai. “Ini tindakan gila,” pikir saya,  “sangat berbahaya. Taruhannya adalah nyawa penumpang yang ada pada kedua armada.” Dalam hati, saya merutuk.

* * *

Peristiwa itu lama sudah terjadi. Saya sudah melupakannya. Sopir bis AKAS II yang saya naiki kala itu, Pak Pri (Anda dapat membaca kisahnya dalam artikel berjudul “Bukan Sopir Biasa” dalam buku Beauty and the Bus, sebuah buku catatan perjalanan naik bis karya saya sendiri) telah tiada. Hingga beberapa waktu yang lalu, di awal tahun 2015, kejadian tersebut kembali melintas dalam ingatan manakala saya terhubung dalam satu pembicaraan dengan Cak No, salah seorang kru Mila Sejahtera. Kami terlibat perbincangan seru yang semula diawali oleh kabar pindahnya “montor-montor” MILA Sejahtera ke garasi AKAS IV. Obrolan lantas ngelantur hingga kisah nama-nama orang yang pernah menjadi legenda AKAS. Ternyata, satu dari mereka bernama Sugeng; ya, Sugeng yang saya ceritakan di atas itu. Secara kebetulan, menurut penuturan Cak No, Sugeng baru berpulang beberapa bulan yang lewat setelah sakit beberapa lama.

Cak No yakin, Sugeng ini salah seorang legenda AKAS. “Secara umum begitu,” katanya. Memang, almarhum pernah jadi sopir banyak perusahaan bis, termasuk di luar keluarga AKAS. “Meskipun secara khusus, Sugeng itu masyhur bersama MILA dengan nama julukan ‘Bledex’”, imbuhnya.

Masih menurut Cak No, mendiang Sugeng punya kebiasan unik sebelum berangkat kerja, sebelum ia menjalankan mesin. Biasanya, ia mengebut dan mengusap-usap setir serta kaca dengan tangannya sembari berkata, ‘hayo, tangi, tangi, tangi…’. “Seolah-olah ia menyapa dan bicara dengan mobilnya”, imbuh Cak No. Sepertinya, ia punya ritual khusus yang dilakukan juga secara khusus, sejenis doa agar selamat di perjalanan

Setelah berhenti jadi sopir karena sudah tua, “ilmu mengemudi”-nya diturunkan kepada tandemnya, Imam Santosa yang masyhur dengan julukan “Bandit”.

“Sugeng bisa melihat jalan meskipun tidak ada lampu, Mas, sak mereme…” kata Cak No, “Saya saksinya, bahkan ia pernah lakukan kayak begitu dari itu sampe Solo.”

Begitu pembicaraan dalam telepon selesai, saya pun teringat beberapa riwayat tentang seorang kiai yang pernah ditemukan ‘mengemudi dalam keadaan tidur’. Bukan hanya dengan mata terpejam, “Beliau itu tidur beneran, dan mobil berjalan sendiri…” tandas si nara meyakinkan saya. Tentu, saya percaya dia karena saya juga mendengar cerita serupa itu sebelumnya dari nara yang lain yang saya tahu bukan tipe banyak omong, tidak suka ngedabrus dan tidak suka menyebarkan hoax.

Maka, kisah tentang mendiang Sugeng ini—untuk sementara hingga nanti datang tanggapan penolakan atau sejenisnya karena ada rekam jejaknya yang kurang baik, misalnya—saya maklumi. Saya juga percaya Bapak Mandiono (Cak No; pertama saya kenal beliau saat menjadi kernet Pak Paiman bersama MILA Sejahtera “Dona-Doni” dan sekarang ikut Mila Sejahtera angkatan pertama) yang menjadi salah satu narasumber wawancara saya, juga beberapa nara lain yang saya anggap terjamin kesahihan datanya. Lebih-lebih, saya sendiri pernah mengalami kejadian yang saya lihat langsung dengan mata kepala sendiri terkait aksi pak Sugeng ini, 20 tahun yang lalu.

Kini, saya semakin yakin bahwa ada banyak orang yang mampu melihat tidak dengan bola mata semata, melainkan dengan mata yang lain, indera yang berbeda dengan kebanyakan manusia yang mungkin tidak pernah kita tahu ada di mana letaknya, juga tidak tahu bagaimana cara ia bekerja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s