Bersepeda di Belanda

oleh Farid Mustofa *)

Tanggal 24 Juli 2009 saya ke Belanda, mengunjungi teman kost di Kotagede. Tiga hari di Leiden dan sehari di Amsterdam sebenarnya tidak cukup untuk menikmati persepedaan di sana, meski sejak berangkat saya niatkan.

Setelah sembilan jam perjalanan,  kereta Jerman yang saya naiki sampai Schiphol Netherland, lalu Leiden 20 menit kemudian. Kesan yang muncul begitu sampai di stasiun Leiden adalah bentuknya yang mirip stasiun Tugu. Berbeda dengan hauptbahnhof  (stasiun kereta) Jerman yang kokoh, kotak, berbatu-batu, stasiun Leidan –juga stasiun Belanda lain—rata-rata mirip stasiun kita, melengkung berbesi-besi. Namanya juga tidak jauh-jauh: station spoor.

Pemandangan menakjubkan berikutnya adalah sepeda. Di tempat parkir stasiun Leiden yang seluas halaman stasiun Tugu, ratusan ribu sepeda terparkir rapi bertingkat, membentuk lautan besi, kemrecek berkilauan. Dan bila pandangan kita alihkan ke tempat-tempat lain, kita akan bertemu sepeda dan sepeda terus. Di jalan-jalan, emper toko, jembatan. gang, pasar, taman, gedung, rumah rusak, musium kincir, salon, toko turki, warung Indonesia, semua sepeda,  Dimana-mana sepeda. Sebelumnya sudah sering saya dengar kalau Belanda negeri sepeda, tapi tidak pernah terbayang akan ’separah’ ini.

Sesampai rumah teman, saya istirahat dengan tidak jenak. Sorenya teman mengajak keliling kompleks. Saya amati hampir tiap rumah punya sepeda: diparkir di halaman, sebagian tersandar di tembok dan pagar rumah. Sesekali saya berhenti mengamati atau sekedar memotretnya. Saat itulah saya sadar betapa sepeda-sepeda ini berbeda dengan sepeda Jerman. Bentuknya yang sederhana, besar, hitam, tidak modis memunculkan rasa iba, trenyuh, yang lama-lama berubah jadi rasa indah bahkan tentram. Memandang sepeda-sepeda ini yang mucul bukan pikiran logis analitis seperti saat menghadapi sepeda Jerman, tapi semacam keharuan dan rasa keterpanggilan untuk menjaga dan merawatnya. Beberapa sepeda bahkan memaksa saya jongkok dan mengelusnya agak lama. Aha, sepeda-sepeda ini hidup.

Kenangan saya terbang sepeda kakek di masa kanak-kanak saya. Sepeda hitam besar yang tromolnya berbunyi tjik-tjik-tjik, yang hanya dimiliki Kakek karena petinggi desa, yang tidak sembarang orang boleh memegang apalagi menaikinya, yang berwibawa dan begitu keramatnya sampai Kakek simpan di senthong dekat keris dan jimat-jimat, yang diam-diam saya suka menyelinap ke sana lalu dolanan sepeda tjik-tjik-tjik itu sepuasnya.

Suatu ketika kekasih Kakek itu hilang dicuri maling. Betapa terpukul Kakek. Beliau mengurung diri di rumah, duduk diam di kurisnya. Murung berhari-hari. Mendung duka menyelimuti desa. Saya juga ikut sedih. Meski tidak tahu karena kakek berduka atau karena kehilangan mainan. Sekian lama kemudian Kakek meninggal (karena tua. Bukan karena kehilangan sepeda), tanpa pernah melihat lagi sepedanya. Berbilang tahun berlalu…Sore itu, di sudut kota Leiden, saya menemukan sepeda Kakek.

Teman saya juga punya sepeda seperti itu. Usai jalan-jalan saya bermaksud mencobanya.  Namun selera saya langsung lenyap. Sepeda itu dia cat oranye.

Pagi harinya kami ke pasar. Tentang pasar ini tidak ada kesan lain kecuali saya serasa pulang ke Sleman, bahkan kampung halaman di pedalaman Purwodadi sana.. Ada suara bakul teriak-teriak menawarkan dagangan, baju digantung seperti seragam pramuka dijual di pasar kampung, ikan laut segar dan amis, warung makan di tengah pasar, dan tentu saja sepeda dan sepeda di antara semuanya.

Selain sepeda dan cara naiknya yang seperti di Indonesia, hal lain yang membuat saya kerasan adalah rumah-rumah mirip di Kota Baru atau kantor pos Maliboro, dan banyak muka Indonesia, peranakan maupun asli. Atau terkadang bule memakai batik. Bahasa Indonesia pun familiar di di sini, digunakan oleh orang Indonesia maupun warga Belanda. Di Leiden ini pula terdapat universitas tua yang mempelajari Indonesia, yang koleksi perpustakaannya khusus tentang Indonesia konon terlengkap di dunia. Genap sudah kegembiraan saya untuk seakan-akan merasakan mudik. Memang tidak sangat eropa seperti Berlin, Leipzig, dan kota eropa lain, tapi tidak apa, penting bahagia.

Di Leiden yang cantik dibelah sungai Rhein yang termasyhur itu sepeda telah memberikan sentuhannya yang khas. Paduan pemandangan sungai kota dengan jembatan lengkung, rumah-rumah mungil berbata merah, kincir tua, para lelaki yang menikmati teh sore dikedai pinggir jalan, dan ibu-ibu muda bersepeda mengisi sudut-sudut kota, terlihat seperti lukisan yang sedang dikerjakan pelukisnya: warna-warni, silih berganti, bergerak lamban dan tenang.

Secara umum saya tidak melihat sepeda Belanda bervariasi ‘seaneh’ sepeda Jerman.Bentuknya berkisar seperti sepeda tanah air, milik teman-teman onthelis, tapi kesan saya ukurannya lebih besar. Rata-rata berwarna hitam. Entah karena warna dan bentuk simpelnya itu, atau malah juga terbawa kenangan sepeda di Indonesia, kesan saya sepeda di Belanda kurang terawat. Sebabnya mungkin karena mobilitas tinggi (sering dipakai), plus disiplin bersepeda tidak terlalu ketat, misal banyak sepeda tanpa berko dan lampu belakang, rem, dan kelengkapan lain, yang kalau di Jerman mengundang tilang 10euro. Saya geli-geli iba melihat betapa banyak gadis mirip lady Di dengan cueknya naik sepeda butut, berkarat, dan sangat ala kadarnya itu. Tapi bagi saya keadaan sepeda Belanda yang ‘minimalis’ ini justru terasa low-profile dan rendah hati. Tidak ada hambatan psikologis ketika dia diparkir, saya mendekat dan pegang-pegang. Akrab saja, layaknya kawan lama.

Orang-orang menaiki sepeda di sini juga dengan santai. Tidak seperti di Jerman yang kaku oleh disiplin dan keamanan, orang Belanda biasa naik dengan boncengan, berdampingan, tanpa rem, bahkan sambil menelpon.

Di Amsterdam yang metropolis dan sepeda lebih menyemut lagi, perilaku bersepeda lebih nggegirisi. Merasa berumur paling tua, menang jumlah dan menjadi mascot, sepeda melenggang hampir tanpa aturan. Lampu merah, zebra cross, track khusus sepeda harus mengalah untuk dilanggar karena datang belakangan, jauh hari setelah nenek moyang mereka bersepeda. Di kawasan rumah-rumah pejabat VOC yang ramai, serombongan penyepeda hampir menyerempet saya dan orang-orang yang sudah di zebra-cross.

“Waar uw ogen?!!Deze zebra kruis!!“ (dagadu dab! Nggon nyebrang ki)

Pisuhan bertaburan. Saya geli dan makin rindu tanah air. Rindu yang tunas sejak bertemu sepeda Kakek. Mendadak saya mengerti dampak 350 tahun mereka di Indonesia.

Anehnya, lagi-lagi, saya merasa baik-baik saja, lebih nyaman tepatnya, dibanding di Jerman yang harus selalu waspada dan siaga meski jalanan sepi lengang.

 

*) Farid Mustofa adalah dosen di Fakultas Filsafat, UGM

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 thoughts on “Bersepeda di Belanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s