Menjajal Si Jangkung

Bukan dari Pulo Gebang, bukan pula dari Pulo Gadung, apalagi dari Rawamangun, ini kali pertama saya naik bis dari Cakung menuju ke timur, kali pertama pula saya naik PO. Garuda Mas yang bertujuan akhir di “Cepu”, namun di tiket tertera “Semarang”, padahal saya akan turun di “Pekalongan”.

14813615_120300000701451871_1569755790_n

foto oleh Fathur Rozzaq

p1010069

Bis kelas ekskutif bermesin Mercy ini bertenaga Hulk. Dialah “Si Jangkung” bersasi “osor”, sebuah sebutan ala lidah orang Indonesia untuk tipe “O500R” (1836). Kapasitas mesinnya 12.000cc, hampir dua kali lipat umumnya mesin bis biasa. Meskipun tidak tepat secara harfiah, kalau mau dibandingkan, anggap saja ia setara dengan 14 gelondong mesin Daihatsu “Ceria” yang dijadikan satu.

Bis Cirebon yang saya naiki ini bernomor polisi E7576KB. Pak Alan mengawal di kanan dan Pak Aji di sebelah kiri. Mestinya, ada satu lagi tandem sang pengemudi. Karena beliaunya verval, maka Pak Alan harus menjadi penyerang tunggal pada laga Pantura kali ini.

Bis kami lepas rem tangan pada 14.34, molor lebih 30 menit dari angka 14.00, waktu pemberangkatan yang dijanjikan, padahal saya datang satu jam lebih awal. Beberapa ratus meter setelah tapak ban menjejak aspal, mungkin karena sudah terbiasa, Pak Aji mengeluarkan dan memasukkan sekeping flashdrive ke alat pemutar musik. Apa yang terdengar? Bryan Adam membawakan “Everything I do” samar-samar. Sesudahnya, terdengar suara orang bicara. Rupanya, itu merupakan sambutan dari pihak managemen PO Garuda Mas berikut harapan kepada penumpang, ya, mirip di pesawat-pesawat itu. Sementara lagu selow yang dulu jadi OST-nya film Robin Hood tersebut hanyalah musik latarnya belaka.

Bagaikan sedang duduk di kursi malas sembari menikmati lagu dekade 90-an, mendadak saya merasa disorong dari depan hingga jatuh terjerengkang manakala Pak Aji mengganti musiknya dengan lagu koplo, waduh, kaget saja, sih. Oleh sebab suasana yang berubah tiba-tiba, saya yang duduk tepat di belakang pengemudi, makin berat untuk memusatkan pandangan ke muda karena adanya godaan melirik layar televisi. Kaca bagian atas bis menampakkan proyeksi jalan 150 meter ke depan sedangkan jika melihat ke kaca bawah, jarak pandang saya hanya terbatas 4 meter saja karena terhalang pemisah kaca yang mirip topi golf jika dilihat di luar. Sungguh, saya berada dalam situasi yang tidak puitis.

Saya kira, inilah salah satu PR (pekerjaan rumah) untuk karoseri mobil berkaca ganda. Saya tidak dapat membayangkan bilamana kaca atasnya bertutup gordin atau menggunakan kaca filem supertebal. Jadi, penumpang bisa menghadap ke depan, menatap ke depan, namun tidak dapat melihat apa-apa. Maka, lantas apa bedanya naik bis dengan naik kereta api jika penumpang menghadap ke depan namun hanya dapat melihat ke samping?

Selepas 16.20 di Cikopo, Pak Alan menjalankan bis dengan kecepatan rata, 100 km/jam. Saya turun, duduk sejajar di sampingnya begitu tahu Pak Aji ngandang di belakang.
“Permisi, Pak, numpang duduk,” kata saya.
Pak Alan menoleh dan tersenyum.
p1010072

Duduk di kursi CD, sungkan saya mengajaknya bicara karena saya melihat beliau berdzikir, entah apa yang dibaca. Tampaknya beliau membaca salah satu nama “Asmaul Husna” kalau menilik kecepatan memencet counter nirkarat yang ada di genggaman tangan kanannya.

Beberapa menit berlalu tanpa ada bicara apa-apa. Nah, mungkin karena saya selalu memperhatikan dasbor, Pak Alan akhirnya buka suara, bahkan seolah dia tahu apa yang ada dalam pikiran.

“Mesin ini sudah disegel dari sononya, enggak bisa lebih dari 100 km/jam.”
“Oh, begitu, ya, Pak? Apa tidak bisa ditambah?” susul saya dengan pertanyaan tambahan begitu saya lihat jarum RPM hanya bergerak di kisaran angka 15 x 100 saja, di garis panel berwarna hijau yang artinya eco-drive alias “ngegas ala priyayi”.
“Bisa saja kalau segelnya dilepas.”

Pak Alan sering menetralkan persneling ke nol (N) begitu ada kemacetan seratus-duaratus meter di depan, atau ketika menghadapi jalan landai nan panjang. Kiranya, cara ini mampu menghemat bahan bakar karena pada saat itu gaya dorong bekerja. Saya paham itu, namun yang belum saya pahami adalah kebiasaan beliau yang lain, yaitu menaikkan percepatan di RPM rendah. Memang betul, sih, barangkali karena kapasitas isi silinder mesin yang amat besar ini maka meskipun Pak Alan berlaku demikian, tetap saja laju mobil gede ini bisa gesit bergerak. Kadang, mesin sampai-sampai ‘mengaum’ sebab percepatan terlambat diturunkan sedangkan gas saja yang ditambah. Apakah ini juga termasuk cara berhemat atau sebentuk penyiksaan karena rasio percepatan tidak sebanding dengan putaran mesin (RPM)?

“Sudah lama mengemudi bis, Pak?” Saya memulai berbasa-basi.
“Kerja di Garuda Mas saja saya sudah sejak tahun 80-an, sejak Pak Haryanto masih berpangkat kopral dan jadi penumpang saya hingga sekarang beliau punya perusahaan otobus sendiri dan armadanya pun sangat banyak.”
Sepi sejenak. Saya tidak menanggapi.
“Rezeki memang tidak dapat diduga-duga…” imbuhnya.

Di tol yang sangat panjang itu, ternyata jalan sudah banyak bolong di sana-sini. Baru kali ini saya melihat proyek tol yang sebegitu cepatnya harus diperbaiki. Pertama kali saya melintasi tol Cipali tahun lalu, 4 hari menjelang puasa, tepat di malam peresmian saat pintu tol baru saja dibuka, tepatnya tanggal 14 Juni 2015. Lah, ini kok sudah begitu banyak rusaknya? Apakah truk pengangkut cabe ‘stutjack’ yang selip di dekat pintu keluar Km-137 Cikedung/Cikamurang juga disebabkan oleh faktor jalan yang tidak mulus lagi macam ini?

Saat membayar tol di Km-187 Pintu Palimanan, pukul 17.33, saya melihat Pak Alan menyetorkan uang 120.000. Kata dia, masih harus nambah 55.000 lagi nanti untuk dibayarkan di pintu terakhir: pintu Brebes Timur.

p1010073

14731221_10208559753524684_7381021686643524885_n

foto oleh Ryan Indryan

Bis keluar di pintu Ciperna dan mengarah ke RM Brawijaya yang jaraknya dekat sekali, hanya sekali putar saja. Di sanalah kami beristirahat. Kami mendapatkan layanan makan cuma-cuma. Dan alangkah kaget karena begitu saya turun, ada dua orang yang datang menyambut, Ryan dan Fuad. Duh, senangnya hati ini hari ini mendapatkan teman di mana-mana. Keheranan belum selesai: saya tidak makan di ruang penumpang karena diajak Pak Aji untuk makan di ruang kru, makan sepuasnya dan boleh minta apa saja. Katanya, ia hanya melaksanakan tugas atas permintaan seseorang. Siapa lagi? Apa lagi?

Maka, sesudah makan, saya langsung menjumpai mereka berdua, membicarakan banyak hal dalam waktu yang sangat terbatas, termasuk menyampaikan keinginan saya untuk mampir di Sunan Gunung Jati namun belum kesampaian. Tentu saja, agar mendapatkan waktu lowong untuk ngobrol lebih lama, saya niat shalat jamak ta’khir di Pekalongan saja.

Dengan membawa sekotak martabak manis hadiah dari Fuad, saya naik ke atas bis. Tepat pukul 18.29, kami keluar dari rumah makan. Lampu kabin dinyalakan. Musik lawas diputar. Suara Chrisye, Ebiet, Dian Piesesha, dan penyanyi-penyanyi seangkatan mereka silih berganti menghibur kami.

Bis kembali melaju, menembus nama-nama tempat di antara waktu dan waktu:
19.24 keluar Brebes Timur;
19.40 masuk Tegal Bahari;
19.58 di Suradadi;
20.11 masuk Pemalang;
20.50 tiba di Pekalongan.

Turun dari bis, eh, saya langsung disambut kilatan cahaya dari kamera ponsel sang kawan yang dituju, Dadik Santosa. Itulah salah satu cara baru menyambut tamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s