Memungut Hikmah di Sepanjang Jalan

“Taksi, taksi, taksi…”
“Ojek, ojek,” timpal lainnya.
“Carteran yuk!” sambung berikutnya.

Dua kali saya kalah godaan: kemarin dan tadi malam (niat berangkat Selasa pagi dari Jakarta digoda berangkat siang dengan iming-iming naik SHD O500R dan saya menyerah; niat mampir satu-dua jam di Pekalongan dan saya digoda pergi ziarah ke makam-makam keramat hingga akhirnya semalam saya tertahan di kota itu). Kali ini, saya tak mau godaan tukang ojek ini menimpa saya lagi. Tekad saya sudah mantap untuk mencegat biskota P4 tujuan Tanjung Perak, tapi hati saya langsung meleleh begitu mas Ojek merayu lagi.

“Ayolah, buat tambahan bensin, mau pulang,” kata dia hingga akhirnya kesepakatan diambil pada angka 25.000, di parkiran Stasiun Pasar Turi. Begitu getas keyakinan saya pada angka-angka, tak apalah, asal iman tidak mudah rapuh pada Yang Esa. ‘Masa pukul 10 pagi sudah balik rumah?’ Pertanyaan curiga itu tidak saya ajukan untuk menguji kebenaran ucapan Mas Ojek sebab hanya akan mengurangi nilai-nilai lain yang telah saya sepakati sendiri di dalam hati. Saya mengikutinya.

Setelah pantat saya ngangkang di sadelnya, mas Ojek membawa saya menyelinap di antara rimbun trembesi dan gedung berlantai-lantai, berzig-zag di antara tinggi kotak kontainer dan berisik knalpot. Masuk jalan kecil, keluar, masuk lagi, dan dengan cara itu, kami mencapai pelabuhan Ujung (Tanjung Perak) dalam waktu tidak terlalu lama.

Usai membeli karcis Rp5000, saya mendekat ke bibir dermaga. Bahagia saya melihat nominal tarif penyeberangan yang kini dipaskan, beda dengan dulu yang angkanya tanggung, seperti 3700 yang cenderung disusuk 1000 saja ketika kita menyodorkan uang pecahan 5 ribu; atau bahkan tanpa kembalian jika yang diserahkan adalah 4000. Betapa pungli bisa diberantas jika kita serius tapi juga bekerja dengan mulus karena kesempatan untuk mengekskusinya terbuka lebar.

p1010079Di kejauhan, KMP Jokotole arung selat sendirian, di tengah laut. Terbayang kejayaannya di masa lalu, bagai seorang putri cantik berhati mulai yang diperebutkan banyak pangeran, bahadur, melainkan juga durjana. Kini, ia tak lebih seperti seorang ibu yang dilupakan anak-anaknya, yang hanya sesekali disapa lewat bicara singkat di ponsel dengan keakraban dan kehangatan seluler tapi jauh dari peluk dan dekap tangan yang dialiri darah nan emosional. Ketika fery itu kian dekat, makin tampaklah wajahnya. Ia semakin pucat.

Terpampang banner besar di pelabuhan Ujung, mengumumkan serangkaian kegiatan di Bulan November yang bertujuan mengembalikan kejayaan dan kemeriahan Pelabuhan Kamal. Tertera di sana senarai festival yang akan digalakkan selama lebih sepekan. Apakah Kamal perlu diberdayakan lagi? Diberdayakan untuk apa? Masyarakat sudah terlanjur bangga dan menikmati Jembatan Suramadu dan pelabuhan Kamal perlahan terhapus dari memori bersama. Sesungguhnya, apa yang saya lakukan hari ini, di antaranya, adalah untuk membangkitkan kenangan itu serta kepada mereka yang tersisihkan itu juga bisa berbagi.

Fery ini, yang baru datang dan segera kembali, hanya mengangkut tiga mobil, beberapa puluh sepeda motor, dan mungkin tak sampai seratus orang penumpang. Jembatan diangkat, kapal bertolak menuju Kamal. Mesin menderum dan buih gelombang akibat putaran baling-baling pun bermunculan.

Saya turun dari ruang penumpang kurang semenit sebelum kapal sandar. Saya menghampiri seorang pemuda gondrong yang berdasarkan Honda CB-nya saya duga dia adalah orang yang baik hati. Kepadanya, saya menawarkan amal kebajikan yang ringan tapi sangat bermanfaat: membonceng saya, dari atas kapal ke ujung pintu gerbang.

p1010081“Mas, numpang ngentel (membonceng) sampai gerbang, Mas!”
Memang, intonasi bicara saya tidak seperti orang yang sedang minta izin membonceng, melainkan lebih bersifat pemberitahuan. Karena itu, si pemuda tampak tak punya alasan untuk menolak kecuali hanya mengangguk. Dia membuka kaca helem, tapi tidak tersenyum.
“Panas kalau jalan kaki, Mas, apalagi siang-siang begini,” sambung saya menambahkan penjelasan yang mungkin tidak berguna baginya.

***

p1010082Masjid Baitul Amal, Kamal

Saya bershalat Duhur di sini. Tak lama saya menunggu shalat jamaah didirikan. Adzan baru saja berkumandang sesaat sebelum saya datang, pukul 11.20. Hampir 45 menit saya di masjid. Sesudah itu, saya keluar dari halaman masjid setelah memasukkan uang kas di kotak amal (ingat, arti Baitul Amal itu adalah “tempat amal kebajikan”, bukan “kotak amal”, lho). Saya mengarah ke pangkalan mobil ‘taksi’ yang sedang ngeslah, yang biasanya parkir di sebelah barat masjid, sebab yang ada di dalam terminal adalah ‘taksi’ yang ngetem.

Melihat beberapa taksi Isuzu Elf yang parkir tanpa sopir dan tanpa penumpang, saya memutuskan isi daya dulu dengan memesan semangkok soto. Namun, hingga habis soto dimakan, bahkan hingga saya harus memesan kopi saset untuk menunda waktu menunggu, belum tampak pula tanda-tanda mobil ini akan menemukan penumpang. Ah, alangkah banyak waktu berubah, di mana dulu Kamal sangat ramai dan penumpang begitu banyak dan kini sebaliknya. Suramadu memang memudahkan banyak orang untuk bepergian tapi juga ‘membunuh’ banyak toko dan lapangan pekerjaan.

“Mau ke timur?”
Aduh, kaget, mendadak ada kepala melongok ke balik tenda warung tempat saya duduk.
“Iya.”
“Mari.”

Ketika saya melangkah, mengikuti pak sopir yang barusan mengajak, terdengar beberapa kali bunyi klakson di belakang. Intervalnya tidak jelas. Saya membuat kesimpulan: ini bukan bunyi biasa, melainkan morse. Ada ide jahat di balik bunyi ini. Saya tidak menoleh karena khawatir akan tergoda untuk kesekian kali, khawatir selingkuh, yaitu berpindah ke lain ‘taksi’. Sandi bebunyian itu adalah kodenya. Ketahuilah! Selingkuh itu terjadi bukan hanya disebabkan oleh lemahnya benteng pribadi, namun juga oleh gencarnya godaan pihak ketiga yang bertubi-tubi. Catat! Rumus itu juga berlaku di angkutan antarkota semacam ini.

Begitu saya naik dan duduk di bangku depan serta seorang penumpang lagi masuk ke bangku tengah, sopir langsung menjalankan mobil. Benar, mobil yang barusan membunyikan tuter itu langsung menyalip, yakin pasti ia ingin merebut remah-remah kue penumpang, sekerumun orang yang hendak pulang dari pasar Kamal, 100 meter di hadapan kami.

Ganika kaula tak lebura, pas arebbu’ penumpang. Molaen gella’ nengenneng. Ding kaula mangkat, pas mangkat keya ajung dalluwan...” kata sopir kami sambil menjalankan mobil pelan-pelan.

Adapun maksud ucapannya, andai Anda duduk di posisi saya dan Anda tidak mengerti Bahasa Madura, sudah terjelaskan pada tatapannya yang lurus ke depan, tapi kosong, seperti kabinnya yang hanya berisi dua orang penumpang. Siang itu ia gagal menambah rezeki penumpang yang sebelumnya ia duga sudah berdiri di tepi jalan untuk mencegat mobilnya yang datang dari arah selatan. Pasalnya adalah karena ia baru saja ditelikung oleh mobil pesaingnya, mobil yang semula parkir di belakangnya. Begitulah kira-kira kenyataan pahit di tengah cuaca siang yang cetar panasnya.

Mobil bergerak tidak serius ke arah utara, menempuh ruas jalan Bangkalan-Kamal yang mulus namun tidak seramai dulu lagi. Lajunya males-malesan. Beruntung, setelah ngetem di Junok, mobil kami mendapatkan banyak penumpang baru. Mobil berjalan lagi dan kami mencapai Torjun pada waktu ashar, 14.28 lalu tiba di Pamekasan satu jam kemudian, 15.30.

Kaget sekali ternyata saya ditarik ongkos hanya 15.000, kirain 20 atau 25 ribu, murah sekali. Saingan antar-angkutan kadang membuat tarif tidak ada patokan. Dalam bentuk kecil, tidak adanya campur tangan pemerintah dalam menyelesaikan masalah semacam ini dapat memicu terjadinya persaingan dan pertarungan yang menyakitkan. Hukum rimba tarif pun berlaku. Berkebalikan dengan hal itu, di bandara, DAMRI dapat memasang tarif 25.000 untuk jarak yang sangat dekat karena di sana ia adalah raksasa di antara kurcaci-kurcaci tak berdaya.

Sembari menunggu bis masuk dari arah Surabaya, saya memesan kopi, ya, kopi apalagi kalau bukan kopi saset yang cara membuatnya disobek lebih dulu seperti shampo. Saya bayar di muka: bayar sebelum diminum. Ini adalah teknik sederhana yang saya lakukan sejak lama untuk mengantisipasi apabila ada bis datang cepat dan saya tidak perlu buru-buru lagi untuk sibuk membayar.

Kira-kira 30 menit menunggu, yang datang ternyata Patas. Saya naik bersama beberapa orang lain. Astaga, tarifnya menggunakan tarif bis ekonomi. Barangkali, penumpang seperti kami ini, “penumpang jarak meteran”, adalah semacam receh yang dapat menggenapkan pundi-pundi rezekinya yang mungkin tidak selalu sebanyak yang mereka harapkan.

Di stanplat Prenduan, ketika kaki turun menjejak aspal, serasa saya baru keluar dari ruang kelas yang berjalan. Banyak sudah pengalaman hidup yang saya peroleh sedari kemarin. Oper-operan naik angkutan umum membuat wawasan lebih terbuka terhadap perubahan dan perbedaan: naik bis dari Jakarta, naik kereta api dari Pekalongan, ngojek ke Ujung, naik fery ke Kamal, naik microbus ke Pamekasan, naik patas ke Prenduan, naik Hiace ke Kajo Ojan, membonceng Asnawi numpak sepeda motor ke rumah; adalah serangkaian kendaraan yang saya ikuti dan pada masing-masing semua itu terdapat pelajaran yang saya petik dan saya pelajari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s