Langkah Awal Menulis Esai

“Jadi, apa pengertian kata itu?” tanya saya.
“Susunan beberapa huruf yang memiliki satu atau lebih arti,” jawab seseorang.

Kepala menunduk, lirikan mata terus berubah, atau pandangan ke arah jendela meskipun tidak memperhatikan apa pun, membuat saya memperkirakan apa saja yang melintas di dalam benak mereka. Saya menatap air muka anak-anak, satu per satu. Ada keraguan di sana. Terkadang, saya berpikir jauh, mengapa begitu susah orang menulis/mengarang? Apakah hal itu disebabkan karena mereka tidak pernah mencoba menulis dan membaca? Atau rajin membaca dan menulis namun sama sekali tidak mencoba memperhatikan bagaimana kalimat demi kalimat di dalam sebuah tulisan itu disusun?

“Dengan demikian, kumpulan kata-kata yang memiliki satu pokok pengertian itu disebut…” saya melanjutkan.
“Paragraf!”
“Beberapa paragraf yang terkumpul dalam satu gagasan maka ia akan disebut…”
“Bab!”
“Beberapa bab yang terkumpul dalam satu tema disebut…”
“Skripsi atau buku…!”
“Apabila skripsi-skripsi atau banyak buku dikumpulkan di satu tempat maka ia disebut…”
“Lemari buku atau perpustakaan…”

* * *

Ketika membaca sebuah tulisan, katakanlah esai, sebetulnya kita sedang membaca beberapa pokok pikiran dengan sekian banyak kalimat penjelas. Setiap pokok pikiran itu menempati satu paragraf. Dengan begitu, jika ada 25 paragraf dalam sebuah esai, maka berarti ada 25 pokok pikiran di dalamnya.

Berikut 5 langkah ringkas untuk pedoman menulis dengan cepat..

1. Tentukan tema tulisan, yaitu pokok pikiran tentang apa yang akan Anda tulis;
2. Kumpulkan indeks atau kata kunci yang berkaitan dengan tema, misalnya ‘pantai’, ‘pasir’, ‘kelapa’, ‘ombak’, ‘debur’, ‘nelayan’, ‘gelombang’, ‘plankton’, ‘ikan’, ‘garam’, jika Anda hendak menulis sebuah tulisan tentang laut;
3. Buatlah 15 hingga 20 kalimat utama sebagai pokok pikirannya;
4. Kembangkan masing-masing kalimat utama tersebut sehingga menjadi sebuah paragraf, dengan cara menambah (misalnya) 4 sampai 7 kalimat penjelas untuk setiap kalimat utama;
5. Setelah selesai, baca ulang tulisan tersebut. Apabila ditemukan paragraf tidak tersusun secara tepat, sunting, ganti urutan, susun ulang.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
• Terburu-buru membubuhkan titik (.) sebelum Anda memastikan adanya subjek di dalam sebuah susunan yang Anda anggap kalimat. Tanpa adanya subjek/objek, ia disebut frase, bukan kalimat.
• Menggunakan kata hubung (seperti ‘padahal’, ‘sehingga’, dan ‘bahkan’) di awal kalimat karena cenderung akan membuat sebuah susunan gagal menjadi kalimat, melainkan terjerumus ke dalam frase.
• Tidak bisa membedakan kata depan “di” dengan awalan “di-” untuk kata kerja pasif. Kata depan “di” ditulis terpisah dengan kata keterangan waktu/tempat yang menyertainya (contoh: di kelas, di atas, di samping); awalan “di” ditulis serangkai dengan kata kerja yang menyertainya (contoh: dipindah, ditulis, disalin).

Setelah Anda dapat menulis dengan cepat, mengerti beberapa teknik khusus atau menemukan cara yang lain, silakan Anda melanggar langkah-langkah di atas, tentu saja Anda boleh melakukannya dalam keadaan sudah tahu sehingga yang Anda lakukan itu ada dasarnya, bukan melakukannya dalam keadaan tidak tahu namun Anda hanya bertaruh pada bernasib baik, yaitu “kebetulan benar”.

* * *

Menanggapi teknik dan konsep penulisan (seperti esai) ini, AS Laksana menyatakan begini: Satuan terkecil dalam esai menurut saya adalah kalimat. Penulis harus mencintai kalimat seperti pelukis mencintai cat. Dengan cat, pelukis mewujudkan dunia di dalam benaknya ke permukaan kanvas. Dengan kalimat-kalimat, penulis melukiskan dunia yang ada di dalam benaknya ke permukaan kertas atau ke layar komputer atau ke layar ponsel.

Dalam puisi, satuan terkecilnya bisa kata, bisa kalimat. Puisi-puisi Chairil dan kebanyakan penyair liris, satuan terkecilnya kata. Puisi-puisi Rendra satuan terkecilnya kalimat, sebab ia menulis puisi-puisi yang bercerita.

Kecintaan terhadap kalimat perlu ditekankan kepada orang-orang yang memutuskan belajar menulis. Tanpa kecintaan terhadap kalimat, orang akan sembrono saja dalam menulis, abai terhadap diksi, tidak peduli apakah kata-kata yang ia gunakan untuk menyusun kalimat itu presisi atau tidak, juga teledor terhadap tata bahasa.

Seorang penulis akan mampu menyampaikan pemikiran dalam cara yang berbeda, melalui kalimat-kalimat yang mungkin tak terpikirkan oleh kebanyakan orang, sebab ia memiliki kosakata yang kaya. Dengan itu, ia selalu menemukan kosakata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya. Kekayaan kosakata didapat dari kegemaran membaca. Itu yang membedakan penulis sungguh-sungguh dan penulis malas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s