Pelebaran Jalan dan Penebangan Pohon

Setelah sekian lama tidak pergi ke Sumenep, hari ini saya menjalaninya, menghadiri kegiatan diskusi buku di Perpustakaan Daerah. Tentu saja, saya bahagia karenanya.
Saat masuk Lenteng, saya melihat banyak sisa pokok pohon asam yang baru ditebang.

Meskipun ada sisa basah air hujan di jalan, tapi kegersangan telah membayang di pelupuk. Di Glugur, saya berpapasan dengan beberapa truk besar pengangkut material bahan jalan. ‘Oh, rupanya penebangan itu untuk yang ini, tho’, batin saya. Sepertinya proyek pelebaran jalan akan dilanjutkan, terus ke barat, ke Guluk-Guluk, terus ke Pakong, dan entah ke mana lagi. Maju sedikit lagi, di Torbang, tampak pemandangan lebih ‘maju’: jalan yang mulus dan lebar. Sama seperti tadi, terlihat sisa batang-batang pohon asam raksasa yang mungkin ditanam di era masa penjajahan Belanda itu kini tinggal sehasta saja dari permukaan tanah.

Ketika sampai di kota, di Jl. KH Zainal Arifin yang dulu rimbun, nasib pemandangannya kini sama seperti jalan yang tadi: batang-batang pohon sono kini tak ada lagi.

Selagi duduk di atas balai-balai bambu di depan Perpusda, saya bertanya: Pelebaran jalan ini untuk siapa dan pohon-pohon itu ditebang untuk apa? Tersebutlah TGH Hasanain Juaini. Beliau menghitung, bahwa selama hidupnya, manusia itu butuh sekitar 172 batang pohon untuk dibikin meja, kursi, bangku, rak, bufet, dll. Karenanya, demi kebutuhan itu, wajar jika kita melihat orang menebang pohon. Akan tetapi, wajib kita harus bertanya: Seberapa banyak kita sudah menanam sebagai untuk pohon yang telah ditebang?

Permasalahan dalam pertanyaan di atas sama dengan kasus-kasus sampah di sekitar kita. Jika kita melihat ada anjuran nan saleh yang menyatakan “buanglah sampah ke tempatnya”, kita senang atas kesadaran itu, lebih senang lagi apabila tempat sampahnya memang sudah disediakan, dan akan jauh lebih senang lagi apabila ada orang yang dengan penuh sadar melakukannya. Akan tetapi, harus pula kita berpikir untuk “mempertimbangkan penggunaan barang yang akan segera menjadi sampah”, seperti menggunakan/meminta kantung plastik untuk sesuatu yang bisa dipegang dengan tangan dan masuk ke dalam saku baju.

Dianjurkan menanam pohon hari ini bahkan andaipun kita tahu kiamat bakal datang besok pagi. Disunnahkan memperbagus jalan supaya orang mukmin mudah beribadah dan berbuat kebaikan. Namun, lagi-lagi kita harus bertanya: Siapakah yang pertama kali akan menikmatinya semua itu, mukmin yang akan ke masjid atau kapital yang akan memasang cakar lebih dalam ke dasar bumi?

Saya sadar, pikiran ini tidak akan menghentikan pelebaran jalan, tidak akan menghentikan produksi kendaraan bermotor dan pengerokan tambang serta keberlanjutan penggunaan energi fosil. Juga, pikiran ini tidak akan menumbuhkan batang-batang pohon yang telah ditebang itu kepada keadaan sedia kala. Pikiran ini disampaikan hanya sebagai bukti untuk menunjukkan bagaimana saya (kita) mesti bersikap dan kepada siapa saya (kita) mesti berpihak.

Iklan

4 thoughts on “Pelebaran Jalan dan Penebangan Pohon

  1. sabarin aja mas… kalau itu memang pemerintah yang nyuruh ya harus gmna lagi, karena nabi jugakan menyuruh kita untuk mentaati pemerintah..

    tulisannya keren, puitis banget (Y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s