Resensi Cetek 5 Buku Kumpulan Cerita Pendek

Saya memilih 5 buku kumpulan cerpen yang saya baca dan saya ulas. Tidak ada alasan khusus mengapa harus 5 buku ini dan bukan 5 buku itu. Jika ada yang bertanya mengapa, jawabannya hanyalah suka-suka saya saja. Kebetulan, sewaktu saya hendak menulis artikel ini, buku inilah yang paling tampak dan berada dekat dengan meja.

p1010017

Orang-orang Kotagede (Darwis Khudori)

Buku “Gadis dalam Lukisan” karya Darwis Khudori merupakan buku kumcer pertama yang saya miliki dan saya baca. Sebagian cerpen di sana ada di sini, di dalam buku “Orang-orang Kotagede” ini. Saya beranggapan bahwa gaya bercerita Pak Darwis, sebagaimana tampak di dalam kedua judul yang disebut tadi, cocok untuk pembaca cerpen yang juga punya cita-cita jadi cerpenis. Bagi kamu yang ingin jadi cerpenis namun keinginan sejatinya adalah untuk menjadi penyair, membaca buku ini tidak terlalu disaranakan, sebab biasanya orang jenis kamu ini suka menggunakan gaya mendayu-dayu dan kata-kata bersayap bahkan pada saat menulis cerpen, terbawa-bawa gitu. Kemendayuan kalimat dan kebersayapan kata nyatanya sulit ditemukan di buku ini.

Kisah-kisah yang ditulisnya adalah hidup keseharian. Kamu pasti merasakan hal yang sama ketika membacanya, atau setidaknya pernah membayangkannya: kejadian-kejadian remeh sehari-hari. Setelah itu, kamu akan menyesal; ‘mengapa bukan aku yang menulis seperti itu?’, seolah-olah merasakan betapa sebetulnya teknik bercerita Darwis Khudori ini bisa juga kamu tiru karena tidak serumit cerpenis-cerpenis kekinian yang mendakik-dakik itu. Pak Darwis, dengan kepolosannya, menghidupkan cerita-cerita pendeknya. Ceritanya seakan-akan terjadi di belakang rumah atau malah kita sendiri yang mengalaminya. Bacalah cerpen “Karim Punya Anak” sebagai kudapan untuk seterusnya “Gadis dalam Lukisan” dan “Potong Rambut” sebagai cemilannya.

Cerpen-cerpen Darwis Khudori cocok dibaca saat kamu santai di rumah, boleh sambil mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals sejenis “Pesawat Terbang” atau “Buku Ini Aku Pinjam”, boleh juga desah Vina Panduwinata dan geletar pita suara Sheila Madjid.

Daun-daun Hitam (Yuli Nuugrahani)

Cerpen-cerpen Yuli yang terhimpun dalam buku ini menyiratkan kegelapan hidup manusia. Sebagai makhluk sosial, di sana, manusia banyak ditampilkan asosial: asing dengan dirinya sendiri, apalagi lingkungannya. Di sana, sebagai homo sapiens, manusia terkadang malah tampak sangat malas berpikir. Itulah sisi gelap yang dibidik secara tajam oleh Yuli Nugrahani. Jika Darwis Khudori memilih tema manusia yang culun dan tolol, Yuli lebih suka membidik kegelapan hidup kesehariannya dengan gaya yang berbeda; datar dan dingin.

Setidaknya, ada empat cerpen yang teramat menyenangkan saya sehingga dapat serta turut berempati ketika membaca lalu mendapatkan wawasan baru serta kenyataan pelik nan tersirat sesudahnya. Cerpen-cerpen seperti “Pasien”, “Daun-daun Hitam, “Namanya di Dunia Maya”, dan “Sekandhi Gabah, Sebungkus Gula Kopi, Sekilo Telur” merupakan cerpen paling unggul dalam kumpulan ini, sekurang-kurangnya menurut pendapat saya. Bukan lantaran karena cerpenis menguasai teknik bercerita, namun lebih karena nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya begitu dekat dengan kehidupan kita sebagai manusia Indonesia.

Buku ini tidak dijual di toko buku. Jelas bakal koit lah kalau disandingkan dengan cerpen-cerpen yang suka dibaca anak remaja. Siapa, sih, yang ingin hidup susah ini malah ditambahi kesusahan justru setelah membaca cerpen, padahal orang membaca cerpen itu lazimnya cari hiburan. Maka, jelas ada maksud tersembunyi dalam hati cerpenis Yuli saat menempuh jalan ini. Ia sudah tahu risikonya. Yang pasti, ia menulis cerpen supaya dibaca, tapi siapa pembaca?

Lagu-lagu balada, seperti Franky & Jane, bolehlah jadi pendamping saat membaca buku ini.

Catatan Orang Gila (Han Gagas)

‘Satire, dalam, surealis’; itulah kesan yang saya tangkap pada beberapa cerpen karya Han Gagas. Cerpenis amatir (yang baru akan menulis cerpen untuk menjadi cerpenis) sebaiknya tidak membaca ini kecuali jika ia ingin melakukan lompatan dari sekadar bercerita secara lugu: “pembukaan, konflik, penyelesaian masalah, selesai” ke cerita aneh-aneh.

Di antara 17 cerita pendek dalam buku ini, cerpen “Dialog si Gembel dan Pohon Mangga” dan “Percakapan dengan Televisi” (PDT) barangkali yang paling mewakli pernyataan saya di atas. Cerpen PDT mengangkat tiga hal sekaligus: ilmu terawangan atau melihat peristiwa sorot-balik (seperti dalam film Contact-nya Carl Sagan), ketakberdayaan kita dalam membina olahraga, dan cekokan iklan.

Akan tetapi, di antara semuanya, yang paling saya suka adalah cerita berwawasan lingkungan seperti “Perjalanan Sepasang Burung Gereja”. Cerpen ini adalah kampanye lingkungan. Saya mendukungnya karena mulai pesimis jika hanya mengandalkan slogan atau baliho dan banner atau billboard. Menyelinapkan pesan lingkungan dalam bacaan yang memaksa pembaca supaya merenung adalah upaya mengajak remaja-remaja kita yang menghabiaskan banyak premium bersubdisi hanya untuk pacaran dan nongkrong supaya tidak malas berpikir: bahwa dengan ditebangnya banyak pohon maka suhu bumi akan terus naik setiap tahun. Puncaknya, pada tahun tertentu, nanti, bumi akan mencapai sangat panas seperti kita di depan kompor, serangga-serangga lalu mati, setelah itu hutan tropis semakin tipis, lalu hilanglah kehidupan dari muka bumi ini; itulah masa ketika nasi, kopi, dan gorengan—apalagi cuma bangsa dongeng dan cerpen—sudah tidak diperlukan lagi.

Tuhan Tidak Makan Ikan (Gunawan Tri Atmodjo)

Tidak mudah membuat cerita lucu yang konyol, kecuali jika cukup disajikan secara main-main dan demi lucu-lucuan. Gunawan Tri Atmodjo adalah orang yang mudah bikin seperti itu tanpa perkecualian. Kalaupun ada yang terjerumus ke dalam ‘kelucuan yang kaku’, mungkin satu atau dua saja. Saya pernah membaca beberapa cerpen Pak Anton (maksud saya yang orang Rusia itu). Lucunya kadang datang terlambat. Jelas, itu disebabkan arus yang bergerak dalam pikiran saya yang tegangannya sedang turun. Nah, ini nih yang baru perkecualian.

Cerpenis Solo ini sepertinya juga ingin membuat tokoh kharismatiknya sendiri, seperti Sukab buatan Seno Gumira Ajidarma dan Gunawan menciptakan Trijoko sebagai Mukidi-nya. Ada juga, sih, cerpennya yang kurang nendang lucunya, bahkan biasa saja, seperti cerpen berjudul “Imam Ketiga”. Ceritanya adalah si tokoh yang semula jadi makmum melulu lalu setelah pernah merasakan menjadi imam salat malah enggak mau dilengserkan dari mihrab. Ini semacam kritik untuk situasi yang aneh: Kadang jabatan tidak berhonor pun ada saja orang yang memperebutkannya.

Cerpen-cerpen lain, tentang orang bodoh yang mudah dikadalin sepeti dalam cerpen “Tuhan Tiidak Makan Ikan” atau anomali persahabatan dalam cerpen “Bukan Kawan” patut juga dibaca sambil mendengarkan lagu-lagu keroncong. Khusus cerpen “Riwayat Sempak”, Anda boleh menghabiskannya sambil nyetel Red Hot Chili Peppers yang pemain bass-nya itu, Flea, pernah konser telanjang dan tidak sempakan.

Cerpen-cerpen Gunawan Trijoko Atmodjo ini cocok dibaca di peron sambil mendengarkan bunyi lonceng stasiun atau pengumuman dari TOA; atau dibaca saat menunggu antrian pecel Bu Ramelan (depan Ambarrukmo Plaza) sambil menyimak percakapannya.

Si Janggut Mengencingi Herucakra (AS Laksana)

Jadi, buku yang baik itu harus laris? Ruwet kalau seperti ini cara mengukurnya. Yang harus pula diperhatikan oleh orang yang punya anggapan begitu adalah beberapa pertanyaan pengukuran: di mana saja buku itu dijual? Siapa kalangan terbanyak pembacanya? Nah, buku Si Janggut ini, meskipun ditulis dengan tata bahasa yang nyaris tanpa kesalahan, tekniknya juga sudah di atas kemapuan rata-rata, disambeli kalimat-kalimat mengejutkan, namun tidak menjamin akan selamat dari terlempar ke kotak buku obralan yang hingga hari terakhir pameran ternyata masih ada sisanya, sedih bukan? Buku “Ayat-Ayat Cinta” yang bahkan andaipun sampul print-prinan dan isi fotokopi, pasti tetap lebih laku.

Seperti apakah selera pembaca cerpen di Indonesia pada umumnya? Jawab!

Untuk hiburan, tidak apa-apa membaca kumcer-kumcer cinta-cintaan, tapi baca juga, dong, buku Si Janggut ini supaya kamu juga tahu ragam dan model cara orang bercerita, bahwa ada cerita yang ditulis dengan gaya rada jelimet seperti karya Pak Sulak ini. AS Laksana memperparahnya dengan kalimat panjang-panjang, salah satu teknik yang oleh mazhab “old school” harus dihindari. Pengarang cerpen lawas suka pendek-pendek, sangat pendek, ‘snap shot’, bahkan dari saking pendeknya terkadang hanya menampikan kata per kata atau frasa yang gagal sebagai kalimat. Saya tahu, AS Laksana sangat disiplin dalam hal ini. Tentu saja, dia melakukan percobaan kalimat-kalimat panjang ini dengan perpaduan “kalimat majemuk bertingkat-tingkat” dan “kalimat majemuk campur-aduk” karena ingin melakukan seperti ini, bukan karena tidak bisa menulis kalimat-kalimat pendek.

Jadi, jika kamu hanya mau membaca buku yang ngetop dan banyak dibicarakan orang, bacalah buku “Sayap-sayap Patah”-nya Kahlil Gibran yang pernah masuk dalam daftar buku best seller dunia atau buku “Risalah Tuntunan Shalat Lengkap”-nya Drs Moh Rifaii yang saya yakin tidak ada satu pun di tanah air ini yang mengalahkan jumlah cetak ulangnya kecuali Alquran.

 

 

Iklan

2 thoughts on “Resensi Cetek 5 Buku Kumpulan Cerita Pendek

  1. Saya suka jika baca buku di sandingkan dengan lagu Vina panduwinata, tapi ulasan kelima buku tersebut membuat saya membayangkan bagaimana cara pembaca bisa menyandingkan buku dengan lagu-lagu pilihannya pasti ada alasannya…hehehehe, asyik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s