Resensi 5 Buku Puisi

P1000986

Di Bawah Cahaya yang Terpancar dari Ingatan Terhadapmu (MALKAN JUNAIDI)

Malkan itu Afrizalian? Yang bener aja. Coba baca puisi pertama, “Kupanggil Namamu”, dalam buku “Di Bawah Cahaya yang Terpancar dari Ingatan Terhadapmu” ini, gugur sudah pernyataan tadi. Ini penting diperhatikan karena orang membuat definisi atau menilai sesuatu itu lazimnya berdasar pada “yang pertama”, bukan pada perubahan kali kedua atau ketiga, semisal walaupun Afrizal menulis semacam “Lubang dari Separuh Langit”, tetap yang seperti “Abad yang Berlari” lah yang nempel kepadanya.

Gaya repetisi diterapkan Malkan pada beberapa (bagian) puisi. Ada yang relatif pahit, seperti “Buku Kliping”, namun juga disertai yang manis, seperti “Kekasih adalah Rumah”. Saya merasa asyik dengan puisi yang bicara ala hidup keseharian tapi tidak dengan ‘coloquial’, seperti puisi “Pergi ke Warnet”, sebuah narasi yang bertutur tidak dengan lugu sehingga kita pun didorong ke hadapan makna metonimis: warnet sungguhan atau warnet “jadi-jadian”.

Perlu juga diketahui bahwa puisi-puisi Malkan Junaidi ini tidak akan Anda temukan di koran dan majalah karena dia memang tidak suka berbuat begitu. Ia mungkin akan Anda temukan di kronologi akun media sosialnya. Tidak banyak orang/penyair yang sanggup berkomitmen seperti ini. Kita harus memberikan penghargaan khusus kepadanya pada bagian keputusan ini. Kita boleh mencibir bahkan nyinyir, namun juga harus menghargai bahwa keputusan itu jelas telah melalui pertimbangan yang panjang. Oleh karena itu, Anda yang tidak berteman dengannya di Facebook, tidak akan pernah membaca karya-karyanya, apalagi buku puisinya pun dicetak dan tidak dijual di toko buku. Jelas, orang ini bukan tipe orang yang sibuk mengisi biodatanya di Wikipedia atau berusaha terus memperbaruinya, menceritakan kehebatan-kehebatannya, dan semua itu dilakukannya sendiri, ya, dilakukan sendiri, hihihi, bukan oleh orang lain sebagaimana biasanya.

Yang terasa berat-mengusik saya adalah adanya metafora-metafora yang hubungan referensinya sangat jauh. Apakah cara ini ditempuh Malkan supaya tercipta “jarak aman” antara pandangan literal dengan pandangan metaforis? Itu urusan dia. Berikut beberapa contoh yang dimaksud; ‘gondrong kesunyianmu’, ‘megapolitan langit’, ‘berton-ton kebosanan’, ‘raut tubuh’, ‘kuah kesunyian’, ‘telur dadar sejarah’. Supaya tidak terlalu ruwet, saya sarankan Anda agar sembari memutar Cinta Berawan-nya Rita Sugiarto atau Segalanya Bagiku-nya Rhoma Irama (namun yang dibawakan ulang oleh Meggi Z) di saat membaca puisi seperti dimaksud dan mematikannya untuk puisi-puisi manisnya yang lain.

Kawitan (NI MADE PURNAMA SARI)

Beda dengan puisi-puisi Malkan, puisi Made Purnamasari malah hampir semuanya berasa empuk seperti roti. Di sana, ada banyak keju parut atau taburan meses. Entah mengunakan fermipan apa dia itu, soalnya saya punya pengalaman begini: saya pernah bikin es teh menggunakan merek yang sama dengan yang ada di angkringan, suhu air yang juga sama, batu es yang juga sama, tapi rasanya kok jadi beda?

Puisi Ni Made Purnama Sari berlumur indeks nama-nama, mirip cerita. Banyak sekali di sana penyebutan tempat dan suasana dengan deskripsi yang segar dan sesekali ceria, sesekali murung. Penyebutan ‘bandikut’, ‘mambruk’, ‘labi-labi’, (dalam puisi Matoa) adalah hal baru bagi pembaca awam seperti saya, padahal bisa saja, kan, dia menulis kepodang atau mujair? Saya menduga, memang ada nama binatang (atau pohon/buah) yang memang puitis dari ‘sono’-nya.

Membaca puisi tidak sekadar membaca arsitektur kata-kata, tapi juga larut dalam penghayatan dan penghargaan mengapa ia ditulis begitu, sebagaimana kita merasakan seorang tukang saat melepa, apakah ia bekerja secara robotik yang dikontrol oleh seorang mandor atau sambil menangisi anaknya yang sakit namun ia tetap harus bekerja? Sebab tidak bisa menjangkau suasana seperti itu, maka saya pun berempati: salah satu cara agar turut dan larut bersama perasaan dan kata-kata yang dituliskan penyairnya. Jika puisi ditulis hanya demi dikagumi kecemerlangan kata-katanya, bukan gagasannya, puisi macam itu akan segera minggat dari ingatan pembaca.

Kalau Anda bertanya, lagu apa yang akan saya putar saat membaca bukunya? Lagu-lagu ala Gloria Estefan (seperti “Don’t Wanna Lose”) atau juga “Lose in Your Eyes”-nya Debbie Gibson atau sejenis “We Could Be in Love”-nya Lea Salonga. Mendengarkan Slank, Superman is Dead, apalagi Sucker Head, tidak cocok sebagai teh panas jika puisi-puisi itu adalah rotinya, Serius.

Sergius Mencari Bacchus (NORMAN ERIKSON PASARIBU)

Meskipun sama-sama berisi senarai nama, puisi Norman beda dengan puisi Made Purnama. Lihat judulnya saja, saya harus mencari tahu lebih dulu, siapa, sih, si Sergius (atau Serge) dan si Bacchus itu? Wikipedia menjelaskan, tapi saya tidak terpuaskan. Kirain itu mitologi Yunani, ternyata ia mengacu pada tentara Kristen Romawi abad keempat yang dihormati. Nama Sergius dan Bacchus hanyalah sedikit masalah dari sekian masalah yang diuraikan dalam buku ini.

Secara umum, dalam pandangan awam saya, puisi ini berbicara tentang hal-hal dasar sudut pandang manusia, seperti stereotip, perisakan, dan subordinasi. Berat sungguhan gagasannya. Cara Norman dalam memaksa pembaca awam macam saya ini untuk rajin baca buku, membuka banyak referensi, kiranya juga menarik. Tentu, tak bijak kalau saya lantas menyalahkan Norman mengapa di halaman pembuka ia mengutip Gregory Pardlo dan juga Jack Cohen, bukan Soekarno ataupun Wiji Thukul, misalnya. Barangkali karena salah “gudang pengetahuan” pembaca, seperti saya, yang kurang besar saja: siapa mereka? Referensi internasional ada di luar jangkauan. Ibarat kata, melalui bukunya ini, Norman menunjukkan warung dan kedai, tidak mengantarkan pecel lele (yang masyhur itu) secara langsung ke meja makan di mana kita sudah duduk manis di depannya. Saya tidak berburuk sangka kalau cara semacam itu dianggap salah karena dia mengagumi yang jauh secara berlebih dan meninggalkan yang dekat secara sepele. Saya sih biasa saja.

Jika Anda merasa terganggu oleh banyaknya cetak miring dan nama orang asing pada saat membaca buku ini, manalagi jaringan internet dan kuota Anda terbatas sehingga bakal berasa capek duluan untuk cari tahu ini dan itu, siapkan lagu-lagu ‘epic’ Rhapsody (seperti “Emerald Sword”) atau sembari belajar mitologi Yunani dari Manowar (melalui album Agony and Ectasy) atau bahkan lengkapi referensi Anda dengan kisah-kisah gelap dan kegelapan Satanis versus Gereja melalui jeritan King Diamond untuk mengimbanginnya.

Ibu Mendulang Anak (CYNTHA HARIADI)

Buku ini bukan puisi ibu-ibu yang lugu. Meskipun temanya hanya seputar ruang dalam, emper, mal, tempat bermain, dan juga ayunan, namun Cyntha Hariadi, penulisnya, menggambarkan semua suasana yang umum itu menjadi berat, menjadi ironis sesekali, menjadi satir di lain kali. Ia mengejutkan. Ia berdiri dari banyak sudut pandang: ibu, anak, istri, perempuan. Buku “Ibu Mendulang Anak” ini macam buku curhat saja yang kalau membacanya kadang harus mengernyitkan kening lebih dahulu.

Saya memberikan perhatian terutama pada untaian per bait dalam banyak puisi, seperti tanya dan jawab atau percakapan. Baris-baris pendek seperti ini bukan tidak punya risiko. Ia harus dibikin dengan pemikiran mendalam atau akan terjerumus dalam rentetan yang tidak bermakna apa-apa jika itu hanya main-main kata saja. Usaha lain penyair yang baru pertama menerbitkan buku ini adalah mengumpulkan sedemikian banyak kata-frasa secara acak seperti pada puisi “Beres-beres”, mirip “Winter Festival”-nya Afrizal Malna yang juga begitu. Yang membedakan adalah tingkat keruwetannya. Sepintas, ia seperti tak punya makna apa pun, tapi saya menduga bahwa yang dikehendaki si penyair hanyalah kesan betapa ’nano-nano’ dan berisiknya kehidupan ini, dan itulah maknanya.

Saya bayangkan, sembari membaca buku puisi ini, Anda duduk di kursi malas di depan taman belakang rumah sembari mendengarkan “Turpentine”, “Downpour”, “The Story” (dari Brandi Carlile); atau album pilihan dari Earl Klugh atau pilih Sheila Madjid dan Ermy Kulit kalau mau yang dekat-dekat saja, tentu saja agar asyik, dengarkan ia dari iPod dan lagu-lagu itu harus Anda beli lebih dulu di iTunes, bukan membajak di sana-sini, biar sesuai dengan puisi. Sambil Anda menyimak, kita lihat jam dinding, seberapa lama puisi-puisi ini akan bertahan di rimba pikiran pembaca.

Ziarah Tanah Jawa (IMAN BUDHI SANTOSA)

Kalau Anda baru mendengarkan nama penyair ini, Pak Iman, setelah sekian tahun Anda menulis puisi, maka itu ibarat pendengar lagu Keroncong yang tidak tahu nama Gesang atau penggemar dangdut namun baru sekarang mendengar nama Mansyur S. Suka atau tidak sama puisi beliau, itu urusan bagaimana kita mengingat dan menghargai. Mari, kita cari tahu, siapa dia, dari sekarang, tapi kata kuncinya adalah;  jika kita menyebut nama Ragil Suwarna Pragolapati bersanding dengan Umbu Landu Paranggi, kurang lengkap tanpa nama dia: Iman Budhi Santosa.

Ingat, bahwa seorang peran penyair itu tidak harus selalu dimuat karyanya di koran atau majalah, tapi lihatlah bagaimana visi-misinya dalam menghidupkan himmah sastra. Ingat yang ini pula, di antara empat penyair lain yang disebutkan tadi, secara usia, beliau itu bukan hanya seolah ayah, tapi mungkin kakeknya. Secara kekaryaan, kita bisa punya ukuran masing-masing untuknya.

Puisi “Ziarah Tanah Jawa” adalah karya Iman Budhi Santosa yang relatif baru namun tetap dengan gairah dan vitalitas lama, membawa ingatan pembaca pada era Mataram-Jawa, masa lalu atau dekade 80-an hingga pertengahan 990-an. Puisinya menyiratkan romantisisme ketika masih disanjung di mana-mana, ketika orang tua masih sangat berwibawa dan ketika ada pencuri mau mencuri harta orang miskin masih malu atau pikir-pikir dulu.

Membaca buku ini, di tahun 2016, rasanya kok jadi anomali. Puisi begawan yang duduk berdiam di atas bukit dan murid-murid bengalnya membaca di medsos sambil buang hajat di toilet duduk, gitu kesan saya. Secara pribadi, saya sangat menyanjung puisi, baik karya orang dan apalagi ditulis sendiri. Saya tidak akan pernah membawa buku puisi ke WC, apalagi menulis di sana. Saya masih beriman bahwa puisi itu sakral dan WC itu bau. Yang sakral tidak boleh bau (sebagai muslim, saya percaya ini). Jika ada seniman terkenal dan produktif yang biasa menulis di WC, terkenallah sendiri. Sukseslah sendiri. Saya punya definisi khusus untuk kesuksesan itu sendiri. Dan puisi Pak Iman ini adalah jenis puisi sakral yang tak boleh dibaca di sembarang tempat.

Begitulah, Pak Iman sekarang tidak punya banyak teman lagi karena dia sudah sepuh, sedangkan anak-anak muda kini sudah punya cara sendiri untuk eksis: tidak begitu menganggap penting pada keindahan karena mereka punya salon dan Instagram; tidak begitu peduli pada ‘wali’ karena mereka sudah punya Google dan Wiki.

Dalam puisinya, kita akan dikenalkan pada etos Jawa dan khazanah Timur secara umum, dengan bahasa yang teguh pendirian, namun tidak berapi-api. Secara khusus, puisi-puisi Pak Iman yang menghadirkan Jawa Ideal, Jawa Kuno, Jawa Kini, saya selami sembari menekur: begitu banyaknya perubahan dalam waktu yang sangat singkat. Itu terasa saat saya melihat ke luar jhendela. Anak-anak yang tadi berangkat ke sekolah dengan pupur di seluruh wajah, kini mendadak tua hanya seusai bunyi lonceng jam pertama. Aktivitas-aktivis yang tadi mengaum di jalan, kini tidur berliuar di atas sofa. Cepat sekali kamu berubah, Nak.

Saya memutar lagu-lagu seperti “Balada Sejuta Wajah”, “Anak Kehidupan”, “Huma di Atas Bukit” (God Bless) juga dan “Bersamamu” dan “Selamat Pagi Tragedi” (Grass Rock) untuk menemani. Akant tetapi, ketika selesai menutup buku, sambil menyelonjorkan kaki, menatap ke atas, ke langit yang limbang dan berdebu, penuh oksidan dan cuaca yang berada di luar ramalan, maka saya tidak menyarankan lagu apa pun, untuk kali ini, kepadamu.

* * *

Itulah 5 buku puisi yang sempat saya baca dan tidak perlu saya jelaskan mengapa saya ngomong 5 buku ini dan bukan puisi itu. pasti, masih banyak keajaiban dalam buku lain yang belum saya sentuh. Jelasnya, saya tidak dapat membuat kesimpulan bagi 100 jika rujukan saya hanya 5. Begitu banyak buku puisi kini terbit tapi sedikit waktu untuk membacanya, apalagi menikmatinya, apalagi menghayati dan menjalani kehidupan yang puitis. Dasar dunia, dasar waktu, kejam sekali kita kita menjadi orang yang terlena.

Oleh karena itu, saya kutip beberapa petikan yang mungkin menarik untuk diingat dari kelima penyair ini. Tidak bakal semua puisi yang akan dihafal karena puisi bukanlah Alfiyah, hanya sebagian kecil saja yang nyangkut di ingatan karena ruang-ruang kosong otak kita yang mahaluas itu sudah dijejali bon dan nota-nota: lembaran-lembaran tipis namun rua: ia yang banyak makan tempat dan juga makan hati.

 

MALKAN JUNAIDI

* mereka berkata, tak ubahnya salmon, aku selalu menolak tempat ke mana  sungai selalu menuju

* Ia menyala tiba-tiba kala malam, membuat benak terjaga meski mata rapat tepejam

* Kita berbagi segelas kopi dan kisah diri: Aku tentang tangan yang mengolah tanah, kau tentang dahi yang gosong oleh ritual sembah-menyembah

* Namun, bukan seberapa / besar cangkirku memang, / melainkan seberapa penuh ia.

* Aku berada dalam permainan yang hanya bisa kumenangkan dengan membiarkan seluruh yang berkata cinta padaku terbunuh

* Senyuman yang kumau menjadi / ingataan terakhir mereka tentangku

 

NI MADE PURNAMA SARI

* Seorang ibu bunuh diri/ Seusai tenggelamkan balitanya/ Karena si ayah tak mau serumah lagi dengannya

* Jadi, mengapa tuhan masih berfirman dalam kitab suci/ Mengapa tidak berfirman di koran-koran, di jalan-jalan/ Tidak berfirman padamu atau padaku

* Bacalah papan iklan/ dan kau akan tahu/ betapa jauhnya kita dari rumah

* Kita bersuka larut bir dan anggur/ dan nona tanya nama saya/ juga di mana tempat tinggalnya // Seolah kita saling asing/ di rumah sendiri

 

NORMAN ERIKSON PASARIBU

* Aku kah buku/ yang tak pernah kau pinjam di perpustakaan? Aku kah/ pinggiran roti yang selalu saja engkau lewatkan?

* Dan ia tak perlu lagi menabung umur/ Agar tak terlalu tua ketika ajalanya tiba

* Tidak memfavoritkan sesuatu berbeda sekali dengan membencinya

* Ketika hal berikut ini menjadi tren/ agaknya tak ada yang sungguhan tercengang

 

IMAN BUDHI SANTOSA

* Saat berlari ke barak pengungsi/ Menjadi pengungsi di tanah kelahiran sendiri

* Benar yang kalah, menang yang sampah/ Menunggu dewata yang bertitah

* Keluarlah anakku, dari kurungan demi kurungan itu/ Berbekal azimat di tanganmu, ada kiblat/ Bakal menuju tempat/ Di mana seharusnya berguru

 

CYNTHA HARIADI

* Ibu melahirkanku/ sebagai seorang anak/ anakku melahirkanku/ sebagai seorang ibu

* Ingat ayah merindukan kita dari amat jauh/ dan ibu kerap memarahimu karena terlalu dekat?

* Tidurkan aku ibu/ Biar ayah yang menirkanmu […] Aku ingin lenganmu/ Biar ayah mendekapmu […] Aku rindu caci makimu/ Biar ayah mendengarnya dariku

* Begitu kita bedekapan/ Semua rahasia terungkap/ Mengapa ada kau dan aku

* Aku suka kembang api bila wajahmu langitnya

* Sampai tua ibu mendulang/ sampai hilang ingatan baru mengerti/ bahwa anaknya sudah pergi sejak bisa makan sendiri

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s