Wawancara dengan Tomy Aditama (Herbalis-Terapis)

Jelang bulan puasa lalu, saya berkunjung ke rumah Bapak Tomy Aditama. Lokasinya bersebelahan dengan Masjid An-Nur, sebelah barat Pasar Gamping, Jogjakarta. Beliau putra Mranggen, Demak, namun kini menetap di Jogja.

Ketika saya diterima dan dipersilakan duduk, suasana tempat praktiknya tampak seperti rumah biasa. Memang, di kamar sebelah, saya sempat melihat sepintas adanya beberapa peralatan kedokteran, tapi di tempat beliau praktik itu suasananya lebih berupa ruang tamu biasa. Bagaimana tidak akan saya katakan begitu wong ada suguhannya: gorengan, teh, kopi, asbak, dan air minum. Dalam hati saya bertanya, ‘ini ruang praktik apa warung?’.

Sembari ngobrol kesana-kemari, saya menyapukan pandangan ke beberapa penjuru ruangan. Terdapat satu kamar praktik dan serambi berbalkon yang juga digunakan untuk terapi. Akan tetapi, ada satu keganjilan di sana: sekotak ‘peti uang’ yang sangat besar teronggok di salah satu pojoknya. Lagi-lagi,  dalam hati saya pun merasakan penasaran, ‘ini rumah apa masjid kok ada kotak amalnya?’.

Daripada menahan atau memperoleh jawaban sendiri dengan hanya menerka-nerka, maka saya ajukan beberapa pertanyaan kepadanya sebagai wawancara.

* * *

Dokter Tomy Kotak Shalawat

Saya kenal Pak Tomy lewat Pak Joni yang katanya meriang selama beberapa hari lalu Anda menyarankan pengobatan dengan semangkuk soto. Itu soto beneran atau soto jadi-jadian, Pak?

Hahaha.. Soto beneran. Bukannya pada soto banyak herbal yang dimasukkan? Dan hampir pasti kita makan soto dengan sambel, dari sedikit pedas sampai  sangat pedas, dimakan panas panas juga. Hampir pasti setelah kita makan soto, keringat akan keluar banyak. Lha, itu kuncinya! Keringat.

Meriang itu gejala khas patogen angin. Dan pengusiran angin yang paling sederhana dalam tubuh adalah keringat. Makan soto membuat kita berkeringat, belum lagi nutrisi yangterkandung di dalam soto; banyak rempah, sayur, juga daging sapi atau ayam..

Jadi, ternyata obat itu tidak mesti pahit, ya? Kalau obatnya soto, ini malah menggairahkan.

Iya. Herbal itu rasanya macem-macem. Kita mengenal teori 5 rasa. Setiap rasa mempunyai arah kerja dan karakter sendiri. Contoh, pahit itu biasanya bersifat dingin, arahnya ke jantung. Manis itu hangat, arahnya ke limpa atau organ cerna. Asin hangat, arahnya ke ginjal, dan seterusnya.

Baik, saya tanya lagi, dan maaf kalau sedikit ‘nyelekit’. Saya dengar kabar, sebenarnya Anda ini dokter. Apakah sekarang tetap sebagai dokter atau sudah ganti terapis/herbalis atau dokter cum terapis-herbalis atau dokter yang menyamar dukun?

Masalah sebutan, ya, sebenarnya saya bukan dokter full. Sudah sering saya jelaskan ke pasien, sampai capek juga. Dulu saya kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UGM hingga sarjana kemudian lanjut sekolah profesi dokter gigi, dulu disebut ‘koas’. Di jaman saya, waktu itu disebut dokter gigi muda, di RSGM atau Rumah Sakit Gigi dan Mulut. Nah, saat itulah saya galau 😉 .. Kemudian saya memutuskan untuk keluar dari profesi dan kemudian mendalami kedokteran timur secara total. Makanya, gelar akademis saya, ya, SKG atau Sarjana Kedokteran Gigi. Tapi, lha, itu tadi, di kampus atau RSGM, masih status mahasiswa aja dipanggil ‘pak dokter’, apalagi waktu itu sudah jadi dokter gigi muda, jadi banyak yang masih manggil ‘dokter’, ha, ha, ha…

Kadang, saya lebih nyaman disebut ‘mas’ atau ‘pak’ aja atau panggilan profesi saya tabib, sinshe, atau dukun, ha, ha, ha… Bukankah dukun itu adalah orang yang pekerjaannya mengobati orang laen? Cek kamus, ya!

Menurut si empunya cerita, salah satu metode pengobatan Mas Tomy adalah Zamathera. Apa itu?

Zamathera adalah suatu teknik pembetulan tulang belakang yang berbasis teknik Yumeiho namun telah disempurnakan. Jadi bisa dikatakan bahwa Zamathera adalah suatu teknik evolusi dari yumeiho itu sendiri. Secara definisi, Zamathera adalah metode pembetulan sendi seluruh tubuh dengan teknik mengendorkan sendi, otot-otot, syaraf, dan jaringan tubuh lainnya sehingga secara radikal mampu menghilangkan penyakitnya, dengan tulang pinggul sebagai titik fokusnya.

Apa alasan Anda memilih jalan ini sebagai cara penyembuhan?

Jalan mana maksudnya, ya?

Maksud saya, jalan menjadi herbalis-terapis?

Kalo sejarah saya sehingga belajar total (kedokteran timur) itu panjang sekali. Yang jelas, ketika awal belajar kedokteran timur, saya merasa bahwa inilah yang saya cari selama ini, imu pengobatan yang berlandaskan hukum-hukum alam, jauh lebih logis dan rasional dan sudah terbukti, teruji, selama ribuan tahun.

Baik, terima kasih atas waktu dan jawaban-jawaban. Ada tambahan yang ingin disampaikan namun lupa saya tanyakan?

Oke, Pak. Ada yang perlu saya sampaikan. Kedokteran timur itu berbasiskan hukum alam. Es itu dingin. Di mana-mana  tetap aja dingin. Api itu panas. Kalo kedinginan, ya, dipanaskan. Kalo kepanasan, ya, didinginkan. Itu hukum keseimbangan alam. Kalo orang Cina menyebutnya Yin Yang dan ini sunnatullah. Kalo dalam agama disebut berpasang-pasangan. Jangan lupa, tubuh manusia itu juga bagian dari alam, termasuk organ-oragannya serta energinya. Semua terkena hukum alam. Kalo orang kepanasan, ya, jangan dipanasin. Dalam bahasa pengobatan, kalo kita kena sindrom panas, ya, jangan minum jahe. Kurang darah, sering kedinginan, pucat, jangan makan semangka, tambah hancur tubuhnya. Itu namanya melawan hukum alam, pasti sakit.

Herbal pun ada indikasi dan kontra-indikasinya. Semua tergantung kondisi tubuh. Dan perlu diingat, setiap individu itu unik. Tidak ada yang sama satu sama lain. Jangan digeneralisir.

Makanya, saya menerapkan namanya “rasionalisasi pengobatan” dan semua berdasarkan hukum-hukum alam. Teknik terapi, herbal, semua ada indikasi dan kontra-indikasinya, apa pun itu.

Slogan “Kembali ke Alam” itu sering rancu karena umumnya orang tidak memperhatikan hukum-hukumnya. Yang penting banyak makan sayur, buah, tidak minum obat kimia: masalahnya tidak sesederhana itu. Kita  harus paham karakter dan sifat makanan, termasuk tubuh kita sendiri. Jangan lupakan pula tentang adanya energi yang mengalir dalam tubuh kita, energi  di luar tubuh kita, orang laen, makhluk laen, dll. Emosi, sosio kultural, cuaca, matahari, bulan, bintang, semua menjadi suatu kesatuan yang mempengaruhi manusia

Mengapa ada anggapan bahwa reaksi herbal itu tidak secepat obat kimia sehingga jika sedang kepepet, ada kalanya keluarga yang terbiasa dengan obat-obatan alam (herbal) ujung-ujungnya tetap pakai obat kimia juga?

Sebenarnya tidak juga, Pak. Herbal itu reaksinya cepat, kok. Orang-orang bilang reaksi lambat itu karena sebenarnya tidak tepat resepnya, tidak pas, atau bahkan salah. Contoh, kalo kita makan atau minum jahe, butuh waktu berapa lama untuk kita rasakan efeknya? Pedas, hangat menjalar ke seluruh tubuh, bahkan sampai keluar keringat, Itu reaksinya. Butuh waktu sekian detik atau menit aja, kan? Jadi,  kesimpulannya sangat cepat. Tapi tentu saja semua tergantung kondisi tubuh, penyakitnya akut ato kronis. Tapi secara keseluruhan, reaksi herbal itu cepat.

Yang jadi masalah juga adalah pemahaman masyarakat umum yang sangat kurang tentang herbal, tidak paham karakter dan sifat herbalnya, juga tidak paham dengan kondisi tubuh secara kedokteran timur. Kenapa harus Timur dan bukan Barat? Lha, ini juga yang banyak orang tidak paham. Herbal itu ilmu dari Timur, muncul dengan berbasiskan filosofi Timur, dengan kaidah dan akar ilmu yang berbeda dengan Barat.

Baik, mungkin ini pertanyaan terakhir. ‘Kotak amal’ itu untuk apa? Mengapa pakai ‘kotak amal’, Pak?

Itu masalah tarif, Pak. Sekarang itu serba-bingung. Kalo profesional kan harus pake tarif, lha, padahal ada klausul klasik yang mengatakan bahwa tabib tidak boleh pasang tarif karena kaedah awalnya adalah untuk menolong orang. Tapi kalo kita lihat, ada adab-adabnya, ada akad. Untuk tabib atau terapis tidak boleh menentukan tarif, jadi semampunya pasien. Berapa pun harus diterima dengan lapang dada. Sedangkan pasien wajib ngasih mahar, semampunya. Kalo pasien gak punya uang sama sekali, gimana? Ya, saya ngasih uang dulu ke pasien, baru pasien memberikan lagi kepada saya J . Jadi  tetap sah, ada akad. Di situlah letak adab.

Tapi karena sekarang jaman banyak berubah, ada yang namanya tarif standar, ya, saya ikuti. Tarif tetap ada, tapi biasanya saya bilang “atau sumonggo, semampunya…”. Terus, pasien memasukkannya ke kotak. Kalo di tempat saya, kotak itu diberi nama ‘kotak shalawat’, jadi bukan kotak amal, bukan kotak infak. Kalo amal, susah saya-nya. Kalo sampe amal kan korelasinya sedekah, lha, masa saya makan uang sedekah? Bisa kacau. Jika itu hadiah, sih, gak apa-apa, atau kotak mahar. Kalo disebut infak, jelas lebih aneh lagi karena jelas uangnya haram saya makan, ha, ha, ha.

(oleh: M. Faizi)

Iklan

2 thoughts on “Wawancara dengan Tomy Aditama (Herbalis-Terapis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s