Mabuk (Google) di Perjalanan

Malu, enggak, kalau kamu mabuk di atas kendaraan umum? Saya tak pernah mengalami, tapi kali ini saya cemas hal itu bakal terjadi. Pasalnya, saya sedang melakukan perjalanan dengan istri yang sedang sakit lambung. Puji syukur, ternyata kami tiba di Surabaya—setelah menempuh perjalanan 360-an kilometer dari Jogja—tanpa mabuk. Alangkah senang. Begitu menjejakkan kaki di pavin terminal, rasanya kami baru saja menerima “Trofi Antimo” meskipun dalam keadaan tubuh sedikit terhuyung.

Ya, kami tiba di Purabaya—nama terminal ini kalah masyhur dengan nama desanya, Bungurasih—selepas azan Maghrib berkumandang. Rasa plongnya menyamai orang buka puasa meskipun Ramadan masih besok lusa. Ibarat pelepasan katup katarsis; saya merasakannya demikian ketika berhasil menghirup udara ‘ori’ walau sedikit panas setelah 11 jam berada dalam kabin berudara sejuk namun ‘kw’, di dalam kabin bis Sumber Group. Durasi lama perjalanan kali ini pun masuk ke dalam daftar rekor saya yang baru, mengalahkan torehan rekor lama atas nama sendiri, 10,5 jam.

Perjalanan Jogja-Surabaya kali ini sebetulnya dinamis. Waktu statis hanya berlangsung dua kali, yakni kala bis ngetem di Tirtonadi, Solo, dan ketika kami oper bis sembari rehat makan-shalat di Terminal Madiun. Akumulasi waktu keduanya mungkin setengah jam saja.

Saya kira, faktor keleletannya disebabkan karena hari ini adalah H-2 Ramadhan 1437. Pergerakan masyarakat menggila. Jalan penuh sesak. Macet di mana-mana. Mengingat kondisi istri yang sakit, saya harus mengatur tempo perjalanan sesuai dengan kondisinya, tidak bisa estafet sebagaimana biasa saya lakukan dalam perjalanan sendirian. Orang sakit yang mengalami “sindrom perjalanan” bagaikan jatuh tertimpa tangga: sakitnya plus-plus.

Begitu turun di jalur kedatangan, orang-orang berkerubung, makelar dan kuli berkerumun. Di antara mereka mungkin ada copet dan pula penyamun. Saat masuk ke dalam peron, astaga, ya Allah, seperti inikah Padang Mahsyar itu, padang mahaluas tempat dikumpulkannya manusia di hari pembalasan, kelak setelah mereka dibangkitkan? Tumpek-blek manusia begitu menggidikkan bulu roma saat saya menyapukan pandangan ke sudut-sudut Terminal Purabaya.P1000800

Dirasa agak lapar sebab makan terakhir adalah tadi siang, makan pecel di Madiun, saya menuju warung soto Cak Bambang yang rasa soto koya-nya berada di nomor urut kedua jika dibandingkan dengan posisinya yang berhadapan langsung dengan parkiran patas merupakan alasan yang pertama. Sembari melangkah menuju warung, saya melirik: AKAS N1 yang parkir. Saya masih bimbang, mau ikut patas yang berangkatnya harus menunggu penumpang penuh atau naik bumelan yang waktu mengantrinya cukup 15-20 menit saja?

Lagi-lagi mengingat kondisi istri yang kurang fit, saya pilih patas, meskipun dia takut AC-nya, namun jikalau naik ekonomi, dia juga takut pada kaca gesernya yang biasanya dibuka lebar-lebar. Saat kami selesai makan, ternyata N1 sudah berangkat. Patas AKAS NR Skybus yang mengganti. Eh, pengemudinya ternyata Pak Encung, sopir AKAS II era kejayaan Pak Tingok yang dulu beroperasi di trayek Madura-Jogja. Tentu saja, saya melakukan pelengkap perjumpaan; bersalaman dan bertegur sapa.

“Pak, mari mejeng, berdiri di depan bis, biar saya foto dan saya setor ke Facebook.”

“Ya, saya minum jamu dulu,” kata Pak Encung seketika begitu ada seorang mbok jamu gendong melintas. Pak Encung menenggak dua gelas. Sesudahnya: cekkrek, cekkrek, dan cekkrek lagi!

P1000799

KARENA BIS PATAS AKAS ini biasanya ngetem sangat lama, mari saya ajak kamu kembali ke perjalanan sebelumnya…

Perjalanan dari Jogja, hari ini, sangat melelahkan. Rasa bosannya sudah terbentuk ketika keputusan pulang di siang hari sudah diketok. Maklum, ini adalah permintaan istri yang sedang sakit dan saya harus mengalah, sebab kalau bepergian di malam hari, dia tidak bisa lelap. Saya bayangkan, dia pasti sangat kecepekan kalau harus menempuh ratusan kilometer dalam keadaan sakit secara fisik serta tertekan secara psikologis.

Di Giwangan, pukul tujuh pagi kurang sedikit, kami berjodoh dengan Sumber Group. Penampakan EKA Cepat yang ada di sampingnya belum mampu membuat kami tergoda. Sebabnya adalah karena saat perjalanan berangkat, kemarin, kami sudah bersama tim cokelat: MIRA (Surabaya-Jombang) dan EKA (Jombang-Jogja).

Tidak banyak orang di dalam, tidak sampai duapuluhan.

“Ayo, Surabaya, Solo, Madiun,” kata Mandor.

Naik Sumber atau Mira dari Jogja itu berasa numpak patas, setidaknya sampai Solo, karena bis tidak berhenti sama sekali kecuali untuk menurunkan penumpang. Bis Surabaya-an sudah teken kontrak tidak akan angkut penumpang Solo-an. Mereka kadung ikat janji akan berbagi kue dengan Sedya Mulya, Sedya Utama, Antar Jaya, Langsung Jaya, dlsb. Persepakatan ini sudah berkali terjadi, di antaranya bahkan diwarnai adu fisik. Seingat saya, kasusnya bermula dari kasus PO. Mandala, di Palur, di tahun 90-an, dulu.
Selamat! Kami duduk di tempat yang tepat, di baris ketiga, di bawah louver AC yang bisa dibuka penuh dan bisa ditutup rapat. Setelah membayar 64 ribu tujuan Madiun untuk dua orang, mulailah mata ini merem-melek. Madiun adalah tujuan transit kami dengan pertimbangan rehat sejenak untuk makan dan shalat.

P1000795Sugeng 7664 kini sudah sampai di Solo. Jeda waktu parkir 15 menitan rupanya sangat efektif untuk meraup penumpang. Yang sangat tidak menarik adalah keluar-masuknya pengamen ke dalam bis dalam jumlah yang tidak logis. Baru saja Pance Pondaag dan Dian Piesesha yang satu turun dari pintu belakang, bahkan sementara kakinya belum menjejak tanah, dari depan sudah nongol lagi Iwan Fals dan Ratih Purwasih lainnya.

“Ini gimana, ya, tolok ukur peruntungannya?” tanya saya dalam hati. Saya hitung, jumlah pengamen dari Tirtonadi sampai Palur saja sudah 6 orang. Namun setelah saya amati, ada saja satu-dua orang yang nyawer. Akhirnya, saya mengubah sudut pandang: Tuhan memang tidak seperti Depnaker yang bagi-bagi pekerjaan, melainkan bagi-bagi rezeki lewat jari-jemari penumpang.

Perkiraan saya betul. Kami sampai di Madiun pas azan Duhur. Penyebab kelambatan ini tentu saja bukan karena tadi ngetem di Solo, melainkan karena memang situasi kendaraan di jalan yang merambat, padat. Apakah ini efek Sabtu atau efek menjelang puasa? Mana saya tahu. Perjalanan ke Surabaya lewat Madiun memberikan kesan nostalgis karena sudah sangat lama saya tidak melakoni rute ini di siang hari.

Di sebuah warung, di dalam terminal, saya pilih menu nasi pecel. Anehnya, nasi pecel di negara pecel ternyata kalah enak dibandingkan pecel perantauan, yakni pecel yang ada di Madura. Ini pecel kok ada srundengnya? Atau memang begitu seharusnya? P1000796Suguhan ini berasa aneh di lidah saya, tapi itu semua tidak penting karena saya tidak teliti dalam rinci-merinci makanan, termasuk apakah beda pecel Madiun dan pecel Blitar, misalnya, antara rasa bumbu kacang yang digoreng dan bumbu kacang dari proses sangrai.

Sehabis shalat, kami bertolak. Kali ini, jodoh kami Sumber 7099-UZ. Melajunya tidak seganas cara main gasnya. Sopir berkumis tipis yang terlihat manis jikalau tersenyum ini punya cara khas saat main gas, sangat gahar, cenderung kasar. Perlakuan seperti ini jelas tidak ekonomis pada konsumsi solar. Zaman dulu, sering saya temukan gaya nyetir begini. Mungkin, tujuannya adalah memuluskan perjalanan tenaga mesin menuju torsi terbaik. Singkat kata, gaya ngegas sopir ini bergaya (maaf, ya!) “ejakulatif”, menyentak dan menghentak.

Sudah arus lalu lintas padat sehingga menyebabkan perjalanan melambat, di Caruban, masih lagi jalur bis dialihkan. Arah ke Surabaya ditutup, kami diarahkan lewat Jl. Jend Ahmad Yani, jalur Ngawi, lewat Bangunsari. Puncaknya, Mojokerto terjadi ‘gridlock’ alias macet gila. Mobil-mobil tak bergerak, sementara hari sudah senja. Akhirnya, bis kami ambil kiri, masuk kota, tidak lewat ‘by pass’ sebagaimana biasa.

Hampir atau bahkan lebih satu jam kami terjebak macet di kota. Saya tidak tahu, mengapa jadi begini situasi Sabtu sore ini. Kata kondektur, tidak terjadi kecelakaan,  tidak ada apa-apa. Ini disebabkan oleh lalu lintas yang padat karena orang-orang keluar rumah secara berjamaah. Ya, betul, sekarang sepeda motor makin banyak kayak kecebong sementara jalannya ‘pancet ae’ atau bahkan susut karena anggaran perbaikan atau pengerasan  malah digarong.

“Maklum, malam Minggu, menjelang Ramadan lagi,” katanya dengan muka yang sudah kuyu.

Demikianlah beberapa hal rintangan yang terjadi di jalan sehingga kami baru bisa mencapai Bungurasih selepas azan Maghrib, padahal tadi berangkat sekitar pukul 1 siang dari Madiun, menapak jarak yang kala pertengahan 90-an bisa ditempuh hanya 2 jam di tengah malam. Di masa-masa yang akan datang, perjalanan dengan kereta api bakal jauh lebih menjanjikan, lebih-lebih jika angkutan penghubung dari stasiun ke terminal atau ke tempat strategis lainnya telah dipersiapkan dan terintegrasi.

BAIK, PANTAT SUDAH MULAI PANAS KARENA KELAMAAN MENUNGGU. Kita balik lagi ke cerita semula; persiapan berangkat naik patas NR dari Purabaya menuju Madura…

Begitu melelahkan perjalanan hari ini. Syukurlah, istri saya tidak mabuk perjalanan. Kantong plastik yang kami bawa untuk jaga-jaga semenjak berangkat praktis tidak terpakai. Kami berdua memang bukan “pemabuk”, hanya karena kondisi lambung istri itulah yang saya khawatirkan bakal menyebabkan muntah bahkan pingsan. Di perjalanan jauh, orang yang tak pernah menenggak bir pun sungguh mungkin akan mengalami mabuk.

Setelah membayar karcis, saya berpejam. Dengkul yang mepet dibayar oleh jok yang tebal. Akselerasi bis sangat halus, nyaris tanpa hentakan. Gaya menyetir Pak Encung rupanya masih seperti dulu, masih mempertahankan gaya melayang, mengoper percepatan dalam keadaan RPM mesin tertahan sedikit di atas angka minimal. Di ruas jalan tol, Jalan Jakarta, Perak Timur, saya lalui tanpa tahu apa pun yang terjadi, tidur. Saya terbangun di sekitar Sidotopo oleh suara orang yang bercakap-cakap agak keras, entah siapa, entah pula di belakang persis atau selah bangku satu baris.

Adapun notulensi percakapan yang saya catat, antara lain adalah sebagai berikut:

“PERSIS, Muhammadiyah, dan NU itu bersaudara.”

“Guru pendiri Muhammadiyah dan pendiri NU itu sama, mengapa kita kok gontok-gontokan?” (saya tidak terusik, diam saja).

“Jadi, kita ini sesama muslim bersaudara, ndak boleh saling menyalahkan.” (saya tidak terusik, diam saja).

Ada beberapa jeda pembicaraan yang terlepas dari catatan.

“Di Pasuruan, ada pesantren yang mempermasalahkan celana cekak. Ah, urusan ‘casing’ kok dibesar-besarkan, ya?!” (saya tidak terusik, diam saja).

“Kita itu hanya wajib taat kepada Allah dan Rasul-Nya,” (ia mengutip ayat Alquran, sepertinya dari Surah Ali Imran) “bukan kepada yang lain, apalagi sama kiai-kiai. Patuh kok kepada manusia? (ia tertawa pelan) Taat itu kepada Allah dan Rasul saja, dong.” (saya mulai terusik).

“Ya, orang dulu itu gampang manut sama kiai dan mudah percaya kata-katanya. Saya pernah tanya kepada seorang kiai, mengapa dia menggunakan qunut di saat shalat Subuh? Kiainya cuma manggut-manggut, tidak bisa menjawab pertanyaan saya. Katanya, dia hanya melakukan qunut karena melihat gurunya juga melakukannya. Kok taklid gitu, ya? (saya bayangkan, si bapak ini menoleh dan tersenyum kepada teman sebangku yang diajaknya bicara). Masyarakat zaman dulu bisa begitu sebab mereka tidak banyak belajar karena tidak mudah mengaji dan mendapatkan kitab, paling-paling cuma kitab Taklimul Muta’allim, Taqrib, dan kitab-kitab tipis seperti itu. Lah, kalau sekarang? Sudah ada Google. Apa saja bisa kita cari sendiri di sana.”

Saya benar-benar terusik dan ngomel tapi hanya di dalam hati sebab ini terjadi di kendaraan umum, bukan di aula kampus dan dalam sebuah seminar. Sampai di sini, saya berkesimpulan kalau si bapak ini sejenis penceramah bernasib malang yang tidak dapat membedakan perbedaan “mencari lewat Google” (search by Google) dan atau “mencari di Google”. Betapa berbahaya jika dia ngomong di depan awam, apalagi di atas podium, bahwa semua masalah bisa dibereskan dengan cara seperti itu sehingga untuk belajar agama pun, kehadiran guru tidak penting-penting amat. Bagaimana dengan sanad ilmu? Apalagi! Semuanya, apa pun, termasuk persoalan tauhid dan fikih, sudah bisa kita ketahui dan kita temukan sendiri.

Tidak ada pilihan lagi bagi saya kecuali segera menyumbat telinga dengan cara memejamkan mata. Berawal dari tidur-tidur ayam, nyatanya saya tidur sungguhan. Walhasil, saya tidak tahu apa saja pembicaraan kedua orang di belakang saya sesudahnya. Yang pasti, semua kutipan di atas itu adalah ucapan satu arah dari si bapak karena teman duduknya sedari awal cuma “ho-oh” he-eh” saja.

“Kak, bangun, bangun!”

Istri menggoyang-goyang bahu saya begitu ia tahu bis sudah mencapai Branta. Saya buka mata, tampak tanjakan. Wah, Sumber Anyar sebentar lagi, batin saya dalam hati.

“Ayo, kamu bawa bungkusannya, aku yang bawa tas dan kardusnya!” sambar saya sembari meringsek, melewati koridor, maju.

“Eh, turun di mana?” kata Pak Encung yang pastinya sudah tahu kalau saya tidak biasa turun di situ.

“Masjid di depan, Pak, setelah tikungan,” jawab saya buru-buru.

Bis berhenti, menepi, lalu kami turun sambil tak lupa mengucapkan terima kasih, suatu hal yang saya wajibkan untuk disampaikan kepada kru setiap kali menjadi penumpang. AKAS berjalan lagi. Saya rasakan, tubuh berasa limbung begitu sialannya omongan orang tadi mendadak nyusup lagi ke dalam ingatan. Untunglah, saya bisa segera muntah. Pemikiran yang rentan bias itu; ajakan percaya kepada apa pun yang tersiar di dunia maya, termasuk khazanah kitab, tanpa tabayun; kesan permisif terhadap tindakan makar sebab yang wajib ditaati hanya Allah dan Rasul; isyarat desakralisasi peran kiai (guru) yang telah memberi ilmu, memang suka bikin mual.

Di bawah pohon asam besar, di seberang jalan Masjid At-Takwa, sempat pula terlintas sisi appendiksial Alquran (perihal rujukan), makna tunggal-taksa (perihal kata), terbatas-awabatas (perihal amar-larangan). Namun karena jalan tampak sepi setelah saya tinjau dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, segera saya menyeberang sembari menggandeng lengan istri, berusaha meninggalkan kenangan buruk dalam perjalanannan melelahkan hari ini, di belakang.

Maka dari itu, berhati-hatilah jika kamu naik angkutan umum. Duduk sebangku dengan penipu yang pura-pura kehabisan bekal dan mencoba menawarkan jam tangan Rolex ‘kw’ tapi dibilang ‘ori’ itu sama bahayanya dengan duduk dengan orang yang main ponsel sejak naik sampai turun, sama pula bahayanya dengan duduk bersanding dengan orang yang seperti dikisahkan di atas; orang yang merasa telah memegang kebenaran dengan hanya bermodal “Ilmu Googleial”. Orang seperti ini, dengan gawai di tangan, sudah merasa cukup mampu untuk mendapatkan hidayah dan kebenaran, memperoleh kepastian dari data-data portalistik dan wikipedial, lalu menggunakan teori Cocokologi terhadap sumber-sumber utama yang kesemuanya berupa referensi tingkat terjemahan. Masalah paling gawat dari tipe terakhir ini, seperti yang tadi berada di atas bis, adalah karena ia tidak bisa didebat dan dikalahkan, kecuali jika paket datanya habis atau jaringan wifi-nya dimatikan.

Hari sudah sangat malam. Cahaya lampu jalan semakin terang tanda malam kian kelam. Kami tahu, semua pikiran buruk harus segera ditinggalkan sebab tak jauh lagi, di hadapan kami, terbentang Ramadan.

 

Iklan

2 thoughts on “Mabuk (Google) di Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s