Menjalani Kehidupan Sastrawi di Pesantren Annuqayah

ESENSIOleh M. Faizi

Sore itu, saya berjalan untuk melihat-lihat lokasi madrasah. Di serambi mushalla, tampak beberapa santri putri, berkerumun, membentuk setengah lingkaran.. Melihat saya datang, serta-merta mereka diam. Mereka berhenti melakukan aktivitas seolah-olah merasa bersalah.

Saya mendekat lalu bertanya, “Ada diskusi apa, sedang ngapain kalian?” Mereka diam, tampak malu jika apa yang mereka sedang lakukan itu diketahui oleh orang selain mereka. Saya tanya sekali lagi. Satu di antara mereka menjawab, bahwa mereka sedang mendengarkan pembacaan novel. Hah? Pembacaan novel? Apa saya tidak salah dengar? Pembacaan puisi atau cerpen atau fragmen, sih, biasa. Benarkah ada pembacaan novel?

Tersebutlah An’amah. Teman-temannya sesama santriwati memanggilanya Ana, barangkali dengan maksud agar nama lebih populer atau lebih keren. Ternyata, setelah diusut, anak-anak yang duduk di kelas akhir MTs dan sebagian kelas SMA itu sedang menyimak pembacaan novel karya santri yang kelak namanya dikenal dengan nama Ana FM. Rupanya, Ana ini menulis novel dengan buku tulis dan dibacakan di depan santri-santri yang lain.

“Kamu nulis novel?”
“Iya.”
“Punya berapa??”
“Sudah 9, tapi hanya ada 2 yang disimpan, yang lain hilang”

Astaga, tapi saya berusaha untuk tidak terlalu kaget dengan hal seperti ini. Seperti untuk banyak urusan, inilah salah satu kebiasan buruk santri, bahkan mungkin orang Islam pada beberapa hal: kurang perhatian terhadap arsip dan data. Namun, bagaimana pun, saya tetap harus menghela nafas panjang untuk hilangnya naskah-naskah novel ini begitu saja, sedih tapi mau bagaimana?

“Terus, anak anak ini ngapain?”
“Saya membacakan novel, mereka menyimaknya. Namun, mereka tidak setuju karena tokoh yang saya maikan menjelang ending, mereka ingin ia hidup dengan menjadi pendamping…”

* * *

Apa yang dialami Ana di pondok putri konon juga pernah dilakukan Mahalli Hatim Nadzir di pondok putra; sama-sama menulis novel di atas buku tulis dan tidak diterbitkan, hanya bentuk dari pelampiasan atau curhat yang sangat panjang. Di pesantren lain, hal seperti ini juga mungkin terjadi.: gairah literasi yang diberitakan rendah namun sesungguhnya tidak. Ketidakadaan akses untuk memperoleh sumber bacaan yang banyak dan baik, juga kurangnya akses informasi terhadap dunia luar, termasuk akses internet, serta tentu saja tidak adanya umbar media yang ngulik ke ‘dalam’ pesantren kecuali hanya dari data-data mentah yang juga diperoleh ‘katanya’ ke ‘katanya’ yang lain tanpa investigasi yang mumpuni adalah beberapa penyebabnya yang lain.

Di tengah keterbatasan itulah, terutama santri putri yang lebih sulit mendapatkan akses kegiatan sastra dan informasi media, hanya mereka yang memiliki hasrat yang tinggi yang mampu menembus sekat keterbatasan ini, seperti yang dilakukan oleh Hanna al-Ithriyyah dan Ida ar-Rayyan—sekadar menyebut contoh—yang getol menempuh jalan fiksi-prosa bagi darah kreativitasnya (sebagian karya Hanna dan Ana FM sudah dibukukan sejak mereka masih di bangku SLTA).

Secara umum, gairah bersastra di Pondok Pesantren Annuqayah sebetulnya berakar dari tradisi bersanggar, berbasis komunitas lebih dulu. Dimulai dari Sanggar Sofa—dan mungkin ada yang lebih dulu namun tanpa nama—di tahun 1982, sanggar-sanggar lain pun bermunculan. Tercatat: banyak komunitas yang muncul di pesantren Annuqayah. Sekadar menyebut nama, ada sanggar Andalas (pemekaran dari Sanggar Sofa), Saksi, Padi, Azzalzalah. Ada pula yang baru dan belum mendapatkan ketahanan fisik dan seleksi alam, antara lain: KCN, CTL Pamor, Lesehan Sastra, Kosambhi, dll.

Perkembangan Sastra di Pesantren

Dalam catatan saya, sejak awal 1990-an hingga menjelang krisis moneter di tahun 1997, prestasi kreativitas menulis santri Annuqayah menemukan puncaknya, terutama dalam hal jumlah (pembicaran ranah kualitas lebih sulit untuk mengukurnya dan karena itu harus dibuat tulisan terpisah). Catatan ini mengacu pada kegiatan-kegiatan sastra sebagai bagian penting dari kegiatan santri. Setidaknya, ada empat hal yang dapat menadai perkembangan tersebut:

Pertama, melubernya  buku kumpulan puisi (terutama antologi bersama) di kalangan santri. Meskipun sampul hanya menggunakan cetak sablon dan isinya berupa tindasan, namun banyak sekali santri yang gembar-gembor menerbitkan buku kumpulan puisi dan atau buku cerpen-puisi dengan cara ini. Mereka bekerja sama sesama santri atau dengan komunitasnya untuk biaya cetak dan penyebarannya. Keranjingan penerbitan ini terus berlangsung sekurang-kurangnya hingga akhir dasawarsa 90-an. Salah satu buku puisi bersama yang paling masyhur di kala itu adalah ‘Isyarat Gelombang’, diluncurkan pada tahun 1996, dibedah oleh D. Zawawi Imron, dan diulas oleh Kuswaidi Syafi’ie di Kedaulatan Rakyat.

Kedua, munculnya tabloid, jurnal, serta beragam rupa buletin yang dicetak terbatas di kalangan santri dan dibiayai sendiri oleh santri/komunitas sastra. Jurnal KAPAS merupakan satu-satunya media santri yang meneguhkan diri untuk hanya menerbitkan karya sastra. Jurnal KAPAS ini tak ubahnya ‘Majalah Sastra Horison’ lokal karena memang hanya berisi esai, puisi, dan cerpen. Jurnal hanya dikelola oleh santri-santri, umumnya sekelas anak SMA. Media umum lainnya, yang menyediakan rubrik sastra, dalam catatan saya, pernah terbit hingga 12 nama dan itu hanya dalam 1 pesantren. Sedihnya, pesantren tidak mempunyai media apa pun kecuali majalah satu-satunya, “Massa”, yang telah gulung tikar pada tahun 1986 lalu.

Ketiga, maraknya kegiatan diskusi sastra. Inilah salah satu perayaan sastra bagi santri yang tidak dapat dinafikan. Diskusi, baik diselenggarakan oleh madrasah/sekolah, kerap sekali berlangsung, terutama diskusi dalam bentuk kegiatan rutin sanggar dan komunitas. Madrasah Aliyah Annuqayah merupakan lembaga yang paling getol menyelenggarakan agenda sastra dengan mengundang pembicara-pembicara lokal atau dari luar Madura. Oleh sebab itu, para sastrawan ‘jarak pendek’ seperti Ibnu Hajar, Edi AH Iyubenu, En Hidayat, Turmedzi Djaka, Chumaidi CH, Hidayat Rahadja, hingga yang muda seperti Umar Fauzi Ballah dan Shohifur Ridho, sudah pernah mengunjungi tempat ini. Bagaiamana dengan D. Zawawi Imron dan Syaf Anton? Apalagi! Tentu, mereka sudah datang berkali-kali.

Keempat, munculnya komunitas dan sanggar di hampir setiap daerah (Pondok Pesantren Annuqayah adalah pesantren ‘serikat’ atau ‘federal’ yang terdiri dari lebih 12 kepengasuhan/daerah). Rupanya, banyak santri yang merasa mendapatkan gairah terus-menerus dalam beraktualisasi itu dalam berkomunitas. Memang, ada beberapa santri yang memilih menjadi penulis dan bekerja sendirian saja, tetapi cara yang begini tidaklah banyak.

Kelima, faktor lomba. Maraknya lomba yang diselenggarakan oleh satuan lembaga di pesantren ataupun di luar pesantren, bahkan meskipun hanya antar-orda (organisasi daerah) di dalam pesantren, selalu mendapat apresiasi yang baik dari santri. Jika tersiar kabar seorang santri memenangkan lomba menulis puisi di Jakarta, misalnya, maka kabar ini pun akan merangsang santri yang lain untuk lebih produktif dan berkompetisi di masa berikutnya. Lebih dari itu, jika tersiar kabar ada siswa madrasah A yang menjuarai lomba penulisan cerita pendek, akan merangsang siswa di madrasah B untuk juga melakukan yang sama. ‘Hawa panas’ kompetisi seperti ini terus berlangsung bahkan hingga hari ini.

Di luar itu, sejatinya masih ada beberapa faktor yang tidak tampak nyata namun sejatinya memiliki peran penting. Apa itu? Komitmen guru-guru Bahasa Indonesia yang mewajibkan mading di dalam kelas. Menurut Abdul Latif Anwar, tradisi ini sudah ada sejak masa Kiai Syafi’i Anshori, Kiai Muqieth Arief, Ust. Sa’dani, Zuhier Emha, dan Ahmad Sobany, di saat mereka, dulu saat mereka masih menjadi santri, masih aktif menyokong gerakan literasi di Annuqayah, baik di dalam maupun di luar kelas.

Kiranya, inilah hal-hal yang membuat gairah bersastra di Pondok Pesantren Annuqayah cukup terjaga dan terus berkembang hingga hari ini. Walaupun tanpa pendampingan khusus dari pondok pesantren, kegiatan bersatra santri tetap berjalan.

Tradisi Lama yang Tetap Terjaga

Tradisi menulis (secara umum) dan tradisi sastra (secara khusus) merupakan bagian dari khazanah keilmuan pondok pesantren pada umumnya. Ulama-ulama Nusantara tempo dulu sangatlah masyhur karena karya tulisnya. Karya-karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudh at-Turmusi, Syaikh Ihsan Jampes, dan banyak nama ulama lain bahkan dikenal baik hingga di Hijaz dan beberapa daerah di Afrika Utara. Bahkan, hampir semua disiplin ilmu keagamaan yang menjadi bagian dari lektur pesantren diturunkan melalui nazham, melalui ‘puisi’. Dengan begitu, tradisi menulis dan sastra adalah satu hal yang memang dekat sekali dengan kehidupan dan wawasan pesantren.

Demikian pula, situasi serupa juga berlangsung di Annuqayah. Iklim sastra dan iklim menulis telah lama terbentuk, berawal dari tradisi menulis para pengasuh, terutama di bidang jurnalistik yang pernah dipelajari secara khusus oleh Kiai Ashim Ilyas dan Kiai Abdul Basith AS. Beberapa pengasuh Annuqayah juga menulis nazam (puisi bahasa Arab yang berisi ilmu pengetahuan), di antaranya adalah Kiai Ilyas Syarqawi, Kiai Abdullah Sajjad, hingga generasi berikutnya.

Pendidikan keteladanan melalui figur merupakan alasan lain mengapa tradisi menulis dan bersastra di pesantren yang didirikan pada tahun 1887 ini tetap terjaga. Figur-figur tokoh pesantren banyak yang menulis buku dan mungkin pula pernah menulis puisi.  Kiai Moh. Ilyas Syarqawi (putra dari pendiri, Kiai Muhammad as-Syarqawi al-Kudusi) merupakan kiai yang karyanya—antara lain—Safinat al-Shalah, dijadikan bahan ajar di pondok ini (Karya Kiai Mahfudh Husaini, ‘Mandhumah an-Nuqayah’, juga diajarkan di madrasah tertentu di lingkungan Annuqayah). Begitu pula, Kiai Abdullah Sajjad, saudara kiai Ilyas, yang juga menyusun ‘Mandzumat al-Risalah yang berisi sembilan puluh delapan larik nadham perihal tatacara berakidah.

Sampai saat ini (generasi ke-4 dan ke-5), nyaris semua pengasuh di Annuqayah pernah atau bahkan memiliki karya tulis, baik yang dibukukan maupun hanya sekadar dipublikasikan di media massa. Sebut saja misalnya: KH. Moh. Ashiem Ilyas, KH. Mahfoudh Husaini, KH. Abdul Basith AS, KH. Sa’di Amir, KH. Abd A’la, KH. A. Afif Hasan, KH. Moh. Abbadi Ishom, Drs. KHM. Muhsin Amir yang bahkan sempat menerjemahkan “Diwan Asy-Syafi’i”, kumpulan buku puisinya Imam Syafi’i, disamping menulis banyak buku lain.

Momen-Momen Puitik Santri

Jika sore hari, selepas shalat Ashar sebelum Maghrib, sering saya berjalan ke ‘batu ampar’, yakni sebuah perbukitan di dekat pondok. Itulah ‘ruang bebas’ santri-santri untuk berapa saja; membaca buku, ngobrol, mengasah kemampuan deklamasi, dan lain sebagainya. Bentang alam ini cukup indah, terutama ketika langit biru dan cerah seperti di musim kemarau. Di tempat itulah para santri belajar sekaligus menikmati ‘liburan’ di antara kegiatan pesantren yang nyaris tanpa jeda.

Bagi santri, saat-saat untuk berpuisi itu banyak sekali. Ada berbagai kesempatan untuk beraktivitas seperti itu. Di antaranya adalah kegiatan rutin organsasi daerah. Organisasi (antar)daerah biasanya diberi jatah waktu menggunakan ‘malam Selasa’ untuk berkegiatan karena pada malam itu kegiatan belajar-mengajar pesantren diliburkan. Tak ada kegiatan madrasah diniyah maupun pengajian kitab. Sementara hari Jumat adalah hari libur santri, sebagaimana hari Ahad bagi mereka yang tinggal di luar pesantren.

Selain pada acara-acara sejenis itu, ekspresi puisi santri akan ditumpahkan pada setiap kegiatan ‘haflatul imtihan’, yakni kegiatan tutup tahun pelajaran. Meskipun momen ini hanya terjadi setahun sekali, namun ia cukup marak karena biasanya kegiatan haflatul imtihan ini juga diselenggarakan di madrasah-madrasah lain di dekat pesantren. Dengan begitu, para santri dapat mengikuti kegiatan baca puisi di Annuqayah maupun di luar pesantren, seperti di Moncek, Karduluk, Barakas, Gaddu, maupun di kota, Sumenep. Euforia tahunan yang terjadi terus-menerus seperti ini akan melahirkan banyak deklamator dan penyair, tidak hanya memunculkan satu dua orang deklamator yang hanya dipersiapkan suatu lembaga untuk perlombaan saja.

Sejak diselenggarakannya festival buku tahunan oleh BEM perguruan tinggi kampus (INSTIKA), yaitu Festival Cinta Buku (FCB) sejak tahun 2007, kegiatan literasi di Pondok Pesantren Annuqayah semakin membaik. Dengan begitu, kegiatan dan apresiasi sastra pun juga semakin menunjukkan tanda kemajuan. Para penulis senior yang diundang untuk acara pembukaan festival menjadi magnet tersendiri bagi santri untuk mencitai kekayaan literasi yang telah ditanamkan sejak dulu.

Perlu diketahui, secara umum, biaya hidup di pesantren ini sangatlah murah. Wajar jika santri yang mondok juga berasal dari kelas bawah. Anak petani dan buruh tani adalah yang paling banyak. Dengan begitu, biaya operasional pondok dan madrasah pun sangat murah. Saya kira, inilah yang menyebabkan tidak mampunya pesantren atau satuan lembaga pendidikannya untuk mendatangkan tokoh-tokoh sastra ‘kelas atas’ karena pasti dibutuhkan banyak biaya untuk itu.

Memang betul, ada satu-dua orang yang diundang datang secara khusus ke pesantren, namun kebanyakan sastrawan, penyair, dan budayawan yang pernah datang ke pesantren ini lebih disebabkan hadir hanya dengan sebatas ‘ganti ongkos perjalanan’, atau bahkan hanya karena unsur pertemanan dan kunjungan muhibbah sukarela saja, antara lain: Abidah el Khalieqy, Afrizal Malna, Agus R Sarjono, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Arsyad Indradi, AS Laksana, Aslan Abidin, Berthold Damshäuser, Binhad Nurrohmat, Emha Ainun Nadjib, Gus Mus, Halim HD, Isma Kazee (Komunitas Sastra Pesantren Matapena), Jamal D Rahman, Joni Ariadinata, Lan Fang, Maimon Herawati, Mardi Luhung, Mashuri, Mathori A. Elwa, Raudal Tanjung Banua, Sosiawan Leak (Puisi Menolak Korupsi), Taufiq Ismail, Tjahjojo Widarmanto, dan lain sebagainya yang mungkin lupa saya ingat. Bahkan, secara mengejutkan, saya pernah berkorespondensi dengan cerpenis senior, Darwis Khudori, dan menyatakan bahwa dia pernah tinggal di Annuqayah selama beberapa pekan pada sekitar tahun 1978.

 

* * *

Para pelopor sastra di Annuqayah, sejak era Warits Anwar, Aryadi Mellas, Asyari Khatib, Abdul Latif Anwar, Abdullah Al-Kudus, Aang Asyari, Sattar Syam, Basri Muda, Hamiddin Syams, Hammad Riyadi, Maftuhah Jakfar, Mas’adah Hasyim, Nanik Farida, Ida ar-Rayyan, Sofia Agustin, Ana FM, Anik Evawati, Lukman Mahbubi, Massuha, serta Abdullah Mamber, hingga hari ini di saat Kiai Zamiel el-Muttaqien masih setia ‘ngopeni’ santri bersastra dengan Bengkel Puisi Annuqayah-nya, tentu mereka bangga jika generasi berikutnya bukanlah sekadar mereka yang ‘pernah menulis’, melainkan adalah mereka yang tidak berhenti menulis. Di saat nama-nama anak muda muncul, (mohon maaf, hanya sekadar menyebut contoh karena terlalu banyak jika disebutkan semua) seperti A’yat Khalili, Sofyan RH Zaid, Muhammad Ali Fakih, dan Raedu Basha di ranah puisi; Muhammad Al-Fayyadl, Achmad Fawaid, Naufil Istikhari, dan Bernando J. Sujibto pada bidang esai/artikel sastra, serta; Fandrik Ahmad, Hanna al-Ithriyyah, Mawaidi D. Mas di genre prosa-cerpen, rasanya saya turut senang karena mereka mulai menemukan warna pada jalan cerita hidupnya.

Dalam jagat kepenulisan secara umum di Annuqayah, sebetulnya masih ada ratusan nama lagi. Sekurang-kurangnya, jika merujuk pada buku yang saya susun bersama para santri untuk Festival Cinta Buku pertama, yaitu “Index Penulis Annuqayah”, tercatat 186 nama penulis alumni dan yang masih tinggal di Annuqayah. Inilah yang membuat saya tidak ragu dan terus membuka pintu bagi teman-teman atau siapa pun  yang sudi datang untuk berdiskusi di sini.

Bubuk kopi tinggal sedikit. Saya harus menyangrai lagi dan menumbuknya sebagai suguhan bagi tetamu yang akan datang berikutnya. Sayangnya, ya, itu tadi: di sini tak ruangan ber-AC yang memadai dan lampu sorot warna-warni. Yang ada di sini hanyalah kebahagiaan luar biasa jika ada orang yang datang dan ilmunya mau dibagi. Maka, kami pun akan membayarnya dengan tepuk tangan panjang bernama apresiasi.

*) naskah versi pendek esai ini sudah dimuat di Majalah Bahasa dan Sastra ‘ESENSI’, Badan Bahasa (Pusat Bahasa), no.3, Tahun 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s