Aktor Kawak Khalid Salleh

P1010147Saya dapat tawaran dari Halim HD, seorang networker kebudayaan di Solo: pentas monolog dari seorang aktor gaek Malaysia, Khalid Salleh. Tentu saja saya merasa senang pada kabar ini sebab Halim HD tahu (beliau pernah ke Guluk-Guluk tahun 2008 silam, tempat kami) bahwa kami tidak punya dana cukup untuk mengundang aktor macam dia, buat ongkos saja tak ada. Saya pun mengambil prakesimpulan bahwa pertunjukan ini bersifat ‘percuma’ alias awabiaya. Halim HD pun mengatakannya demikian.

Setelah mendapatkan email, mulailah saya kontak Wak Khalid. Saya perkenalkan profil pesantren dan bagaimana situasi gairah seni di pondok ini. Wak Khalid mafhum dan dia membalas email dengan cepat, memastikan kesiapannya untuk datang demi sebuah pertunjukan. Tak lama kemudian, hari-tanggalnya sudah diterakan: 29 Oktober 2015.

PESAN TANYA: “Tuan, jika Anda datang ke Indonesia hanya untuk satu kali pentas, alangkah sayang. Bagaimana kalau Anda pentas di tempat yang lain pada hari dan tanggal yang berdekatan?”
PESAN JAWAB: “Ya, tidak apa-apa. Suruh mereka kirim surat permohonan.”

Saya tawarkan pentas yang kedua, ternyata gayung bersambut. Penyelenggara diminta mengirim surat permohonan pentas (Eh, yang dimaksud surat permohonan itu adalah proposal; bentuknya hanya selembar kertas yang isinya permohonan untuk kesediaan pentas, itu saja, tidak lebih, tanpa anggaran biaya dan administrasi lainnya). Setelah telepon sana-sini, rangkaian pentas selanjutnya pun pasti: PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Tuan rumahnya adalah Teater Kala, teater kampus yang bernaung di perguruan tingginya, IAINJ.

Pada hari Selasa, 27 Oktober, saya mengirim pesan kepada Wak Khalid untuk memastikan teknis penjemputan, memberikan tips dan cara-cara memilih angkutan dari Bandara Juanda di Surabaya untuk selanjutnya berpindah ke terminal bis di Terminal Purabaya (Bungurasih), sekaligus juga meminta nomor bimbit (ponselnya). Tidak ada tanda-tanda balasan hingga ketika saya cek hari Rabu pagi, ternyata saya mendapati sebuah pesan yang mengabarkan bahwa Khalid Salleh sudah tinggal di sebuah hotel di Sumenep. Astaga, saya kaget. Karena dalam pesan tersebut juga dicantumkan nomor kontak beliau, saya pun segera meneleponnya. Kaget lagi, ternyata Wak Khalid sudah di dalam taksi (angkutan umum). “Saya sudah di dalam taksi menuju Guluk-Guluk,” katanya.

Benar, akhirnya, pukul 11 siang, saya menjumpai beliau di kantor Madrasah Aliyah 1 Annuqayah, bersama Pak Jamaluddin Mohd Nor, temannya, serta Syahirul Aliem, staf MA. Setelah bersalaman, kami saling bercerita dan bertukar kabar. Saya senang sekali kala itu karena perjumpaan yang selama ini hanya melalui sosial media ternyata berakhir dalam pertemuan yang nyata.

* * *

Hari Kamis, 29 Oktober 2015, Khalid Salleh melakukan pentas monolog di aula Madrasah Aliyah 1 Annuqayah. Naskah yang dibawakannya adalah “Jual Ubat”, naskah yang menurutnya paling sering ia bawakan dibandingkan dengan yang satunya, “Pret”. Layaknya penjual obat, seniman kawak ini mengandalkan improvisasinya dalam bertegur sapa dengan penonton yang kebanyakan adalah siswa dan guru. Barangkali karena lokasi pentasnya di pondok pesantren, maka ia pun kutip-kutip ayat Alquran dalam monolognya, sesuai dengan tema yang dibawakannya. Salah satu pesan inti yang disampaikannya adalah persaudaraan seagama, persaudaraan serumpun, dan persaudaraan sebangsa.

Sebelum ia pentas, Teater Kotemang, tampil lebih dulu sebagai upacara sambutan. Mereka bermain alu-aluan, membawa panci bekas yang ditabuh dan tudungnya digunakan sebagai penutup kepala para aktornya. Pentas ini digarap langsung oleh Wail Irsyad, alumni Madrasah Aliyah Annuqayah yang baru saja merampungkan belajarnya di STSI Bandung. P1010152P1010163Sementara KH. Muhammad Shalahuddin, kepala MA Annuqayah, memberikan sambutan dan ucapan terima kasih sekaligus menyerahkan cinderamata kepada Wak Khalid seusai acara.

P1010157Khalid Salleh masih menyisakan waktunya ketika saya ajak bertahan sehari saja untuk melakukan pertunjukan serupa pada malam harinya, yakni pertunjukan untuk santri putri. Maklum, santri putri di sini termasuk SHH (santri haus hiburan). Ia setuju, namun dengan syarat tidak bermalam. Butir ini kami sepakati dan tempat yang ditentukan adalah halaman SMA 3 Annuqayah.

Malam itu, Khalid Salleh tampil kembali di hadapan puluhan santri yang datang dari berbagi komplek pesantren di Annuqayah. Penonton lainnya adalah ibu-ibu guru dan nyai yang duduk di bagian belakang. Ia tidak menggunakan pelantang ataupun pengeras suara lainnya. Tenaga suaranya cukup diterima dengan baik bahkan oleh penonton yang duduk di bagian belakang lapangan. Keadaan ini saya uji langsung dengan cara berdiri beberapa lama di bagian belakang penonton paling buncit.

Anak-anak begitu antusias menonton sampai-sampai mereka tidak sadar pertunjukan telah usai. Monolog satu jam lebih itu terasa sebentar. Penonton tidak beranjak ketika Wak Khalid mengakhiri pertunjukan, bahkan mengira itu juga bagian dari pentas.P1010177

* * *

Di sela-sela makan malam, tak sengaja kami bertukar cerita. Sampailah pembicaraan pada pengalaman saya dalam mengukuti kegiatan PSN di Jambi akhir tahun 2012 lalu. “Loh, saya juga datang ke sana! Mengapa kita tidak bertemu?” kata Wak Khalid. Rupanya, kami memang pernah berada di satu forum namun tidak saling sapa karena memang tidak saling tahu. Takdir bertemu kami adalah di sini, di pondok ini, di Guluk-Guluk, sebuah tempat terpencil yang hanya di Atlas tertentu namanya diterakan.

Malam itu, Wak Khalid pulang. Yoyok yang mengantar dan menjemput. Beliau memang tidak mau diantar dan dijemput. Ia bilang, “Saya sudah tua dan saya mandiri,” tapi saya pastikan, “Untuk kali ini biar kami yang antar dan jemput meskipun sampai hotel saja.”.

Bagian ini merupakan satu pengalaman paling berkesan yang saya alami. Di usia 68 tahun, ia masih sangat kuat. Ia datang sendiri, tanpa perlu jemputan di saat kebanyakan kita yang muda-muda malah sangat rewel. Kadang ada pula di antara kita yang bahkan mengajukan syarat kendaraan penjemputnya harus ini-itu, serta harus makan ini-itu. Wak Khalid tidak perlu ini dan itu.

Sebelum berpisah, ia bilang, “Kalau ada perlu lagi, cukup ‘whatsapp’ saja. Nanti saya datang,” katanya sambil tertawa. “Terima kasih, Tuan,” kata saya sambil bersalaman.

P1010165P1010149

P1010161

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s