Surat untuk Santri (II)

Apa kabar, San?

Sudah siap bekalmu untuk dibawa kembali ke pondok? Selama liburan di rumah, baru-baru ini, kamu tentu dengar kabar berita macam-macam, terutama di media sosial yang sebagiannya bahkan ada yang terus berlangsung hingga di hari Lebaran. Ada yang heboh dan risih perihal “Islam Nusantara”, ada yang dingin dan geram terhadap peristiwa Tolikara. Jika kamu nemukan hikmah, itu saja yang kamu bawa ke pondok, bersama uang dan beras tentu. Kisruhnya jangan dibuat sangu. Tinggalkan gadget dan segala rusuhnya di rumah.

Berhentilah lugu, San! Sebab kalau kamu tetap begitu, saat kamu mengakses berita dari portal sejenis “beritaseriussahih.com” atau “kabarkerenmutawatir.net” (dan sejenisnya) sebagai pemuasa hasrat haus informasimu, bakal mudah sekali kamu tertipu. Wajib hukumnya bagimu untuk tetap kritis dan tajam, apalagi terhadap portal-portal tak jelas dan abal-abal. Situs macam itu—supaya kamu tahu—ada, lho, yang dikelola oleh hanya seorang operator dan dibantu oleh seorang rekan tukang salin-tempelnya. Wartawan? Tidak begitu perlu atau bahkan sama sekali tidak perlu! Kalaupun harus ada, tugasnya hanya menghadapi komputer daring (online), bukan peristiwa di lapangan. Kerjanya adalah ‘ngopi-paste’: bikin kopi dan makan pasta.

Kamu sudah diajari tabayyun (klarifikasi dan verifikasi) dalam Al-Hujurat, kan? Sudah diajari memahami alur informasi sebagaimana sanad dalam ilmu mustalah, kan? Mestinya, kamu awas dan tidak gegabah. Zaman ini zaman bebas nyaris bablas. Misuh dan dusta saja begitu liar dan brutal, bahkan banyak yang tak ambil urusan. Berhati-hatilah, wawancara bisa dipelintir. Isi kadal bisa dibuatkan judul buaya. Gambar baik bisa direkayasa digital menjadi buruk. Tahu enggak, mereka yang bikin kepalsuan, termasuk hoax dan fitnah, dapat duit dari klik dan iklan. Sementara kamu yang membagikan kepalsuannya, apa untungnya? Dapat dosa dan kebodohan.

Tetap banyak belajar dan bergaul, San. Kamu harus banyak tahu luasnya dunia dari sebatas halaman depan dan belakang rumahmu saja. Kelas ada batasnya, belajar tidak. Sabar ada batasnya, bodoh tidak. Orang bilang: kamu adalah yang kamu pikirkan, kamu adalah apa yang kamu makan, dan kamu adalah apa yang kamu sebarkan. Selagi masih ada kesempatan, daring (online)-lah secara baik. Jika tidak mampu, matikan jaringan internetmu, dengarkan murattal atau musik, atau bantu ibumu cuci piring di dapur.

Iklan

3 thoughts on “Surat untuk Santri (II)

  1. Pas mudik ke Mloko kemarin itu, saya sempat dua kali lewat di depan pondok Bustanul Ulum. Suasananya sepi-sepi saja. Mungkin para santri sedang dalam masa libur lebaran. Di rumah bisa jadi mereka seharian tutal-tutul hape cari informasi ini-itu. Mudah-mudahan itu info yang sahih dan mereka campakkan yang abal-abal. Benar, kalau belum bisa membedakan mana kadal mana buaya, mending bantu ibu cuci piring di dapur saja.

    Salam dari Surabaya, Ra.

  2. sepertinya saya kena getah. suka misu kebijakan2 pemerintah di medsos, misu terhadap aliran IN, entahlah, informasi memang sangat amburadul. hampir tidak ada yang bisa dipercaya. benar2 akhir zaman, seperti yang dijelaskan tentang masa sebelum atau ketika dajjal datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s