Catatan Perjalanan Biasa: Jakarta-Kudus

Diantar oleh banyak kawan, membawa sangu dan roti yang enak-enak, dalam keadaan sudah menunaikan kewajiban shalat maghrib-isya’ berjamaah, serta menjadi penumpang terakhir yang naik tapi dapat tempat duduk di kursi pertama bis super eksekutif: masih kurang kerenkah?

Berkisar hanya satu menit setelah saya duduk di kursi 1-A PO Nusantara tujuan Rawamangun-Kudus, bis langsung berangkat. Ini momen dramatis yang nyaris sempurna, bagaikan gol di injury time. Semula kami menunggu di jalur keberangkatan. Yang mangkal hanya MJCM, Jambi Transport, Sinar Jaya, Lorena, PO Haryanto. Ada Nusantara, tapi bukan yang kami tunggu.

Selamatlah saya dari ketinggalan bis karena ada seseorang yang melintas dan berkata.
“Hei, NS-04 itu ada di sana!” katanya sambil ke belakang. Ia sendiri melenggang, terburu-buru.
“Kita ke sana.” kata Rully. Saya ikuti.

Rupanya, NS-04, bis yang kami tunggu itu, parkir di belakang APTB, tak kelihatan karena terhalang, lagi pula parkir di ruas Jalan Pegambiran, jalan yang membujur di depan terminal.

Saya dada-dada begitu bis mulai bergerak. Dihadang kemacetan sejak berangkat, saya tetap sumringah sembari merasakan ironi: kabin yang senyap dan mewah di dalam, gerah, polusi, dan macet di luar; Jakarta banget. Pandangan mata jatuh pada sesosok lelaki yang duduk di belakang kemudi, seorang sopir yang dalam sekilas pandang menyiratkan senioritas. Ia memang layak berada di situ, batin saya, di belakang stir bercabang empat penuh tombol dan dashboard yang lampu-lampunya lembut bercahaya.

Pak SyuhadaSaya suka memperhatikan gaya sopir, terutama pada saat mengoper. Ada yang biasa saja, mirip robot, kaku seperti orang membuka pintu atau mencangkul, tapi ada pula yang ekspresif dan menghayati. Pak Syuhada’ adalah tipe kedua. Saya bahkan tersenyum kalau dia ngoper, halus sekali, seolah sedang pegang ulek pada cobek untuk menghasilkan sambal yang enak. Efeknya: tak ada hendakan sama sekali.

Di atas kursi tunggal yang berdinding di kanan-kirinya dengan dua tombol untuk menggerakkan sandaran dan penyangga betis, saya duduk manis (sensasi berbeda dengan yang sebelumnya, 3 atau 4 tahun yang lalu, duduk di kursi ganda, belakang sopir). Inilah layanan terbaik malam ini, untuk mata dan untuk pantat. Kiranya, menjadi tidak penting lagi saya perhatikan gambar-gambar bergerak di dari televisi di dalam kabin yang dibangun oleh Adi Putro di atas sasis Scania K380ib ini. Mobilitas manusia dan kendaraan yang ditayangkan langsung melalui layar kaca nan lebar di depan lebih asyik untuk dinikmati.

Arus lalin tersendat, padat merayap. Rupanya, ada bis storing. Sontak, mungkin sebab ini, pak sopir nekat naik ke jalur busway meski sebentar, lalu turun lagi menjelang bibir pintu masuk Tol Pedati, 18:45. Saya tak menyangka akan begitu. Saya kira kelas SE itu bergaya priyayi. Mengapa sopir yang belakangan saya ketahui bernama Pak Syuhada’ ini melakukannya? Dugaan saya adalah untuk membayar tunai keberingsutan laju bisnya beberapa menit yang lalu.

jalur busway

Bis masuk tol. Namanya saja tol, yakni jalan bebas hambatan dan tentunya tak ada polisi tidur, tidak ada amal pembangunan masjid, tidak ada operasi lalu lintas, dan tidak bisa menaik-turunkan penumpang, namun bukan berarti bebas macet. Di ruas jalan itu, PO Nusantara K-1705-AB ini tetap berjalan pelan. Kami menyisir ruas jalan di antara himpitan kendaraan di jalan ibu kota yang ramai. Begitu padatnya hingga saya gamang karena seolah-olah badan bis akan menyenggol kendaraan lainnya.

Tol Jakarta-Cikampek tak sepadat tol yang sudah kami lewati. Di sana, kami bisa adu lari dengan kendaraan lain, tak terkecuali dengan Handoyo berbodi Celcius AA-1413-DA. Kecepatan rata-rata ada di angka 90 km/jam meskipun beberapa kali menyentuh kecepatan 120. Dalam pada itu, getaran dan goyangan bis nyaris biasa, hanya seperti sedang duduk di atas ELF yang dinyalakan dalam kondisi idle. Berlebihan? Silakan dikurangi sedikit hiperbola ini jika dianggap begitu, saya rela. Atau, coba sendiri, carikan perbandingannya.

Saya menguap. Kantuk menyergap. Sandaran kursi ditegakkan 90 derajat, menekuk seperti ‘L’ untuk menyelamatkan mata dari pejam di awal perjalanan, terasa lucu memang.

20.02: keluar Pintu Tol Cikampek

Sepintas, keluar dari pintu tol ini rasanya bagai keluar dari pintu Tol Perak-Gempol, disambut jalan yang sempit karena diapit toko dan kios di kanan kirinya. Tampak MJCM sedang parkir. Dugaan saya, inilah bis yang tadi berangkat 15 menitan di depan kami dari Rawamangun.

Bis terus melaju dan saya tidak (berusaha) mengingat secara cermat peristiwa-peristiwa kecilnya, sekuel atau adegan yang sudah lazim, dalam perjalanan ini disebabkan euforia yang menggebu: serasa naik pesawat yang berjalan di darat. Setelah mendahului B.18 menjelang Restoran Nikki 1 Patok Beusi, Nusantara SE meladeni Handoyo yang lagi-lagi berbaju Celcius, AA 1457-DA. Malam ini, Handoyo menjadi lakon pendamping yang senantiasa mengusik kami.

Malam minggu kemarin, 14 Juni 2015, dengan Madu Kismo ‘Samo Bae’ trayek Pamekasan-Pulo Gadung, saya lewat Cipali untuk pertama kali. Makanya, di malam Selasa ini, saya tak segera sadar kalau ternyata bis tidak lewat lagi di tol terpanjang itu kecuali setelah tiba di waktu servis makan di Taman Sari, Pamanukan.

MJCM menyalip saat kami bersiap turun (dari spion kanan, saya sempat mengintip, ia mengintai sejak Ciasem). Bis kami memutar di bawah jembatan tol dan masuk ke restoran Taman Sari. Jam menunjukkan pukul 20.50.

di Taman Sari

Jeda istirahat yang singkat saya gunakan sebaik mungkin. Meja prasmanan menyajikan bandeng presto, bukan ayam goreng sebesar kepalan tangan balita seperti yang sudah-sudah saya temui. Langsung saya eksekusi bersama pendampingnya; lalapan, martabak, kerupuk, kuah, juga buah. Meskipun yakin kopi di rumah makan seperti ini biasanya tidak serius (dibikin seadanya), saya tetap memesan juga. Terbukti begitu: terlalu manis. Saya sudah siap, lebih dulu meminta segelas air putih buat minum nanti setelah makan karena juga yakin teh hangat manis yang sudah disediakan secara cuma-cuma biasanya cenderung apa adanya.

21.28, tukar sopir, bis berangkat lagi. Heran, entah darimana muncul, tiba-tiba saja seorang lelaki yang secara usia mungkin lebih tua dari yang sebelumnya, bertopi, telah duduk di belakang kemudi. Mampukah ia membawa bis sama trengginas sebagaimana ‘sopir pinggir’ tadi? Seperti mampu membaca suara hati, ia menjawab keraguan saya dengan langsung bermain di tempo tinggi hanya beberapa saat selepas dari rumah makan.

Dari sini saya berasumsi, bahwa ongkos 260.000 untuk jarak Jakarta-Kudus yang nyaris setara dengan ongkos kemarin lalu untuk Pamekasan-Jakarta yang secara jarak bahkan hampir dua kali lipat jauhnya nyatanya bukan untuk membayar layanan tempuh/kilometer, kualitas hidangan makan, dan juga untuk eksklusivitas, melainkan lebih dari itu. Ada banyak hal lain yang diberikan oleh kelas super eksekutif ini dan sepintas tidak akan kentara secara fisik, semisal senioritas pengemudi dan pengalamannya, kenyamanan dalam pelayanannya. Mungkin ada lagi: kabin lebih tenang karena penumpang lebih sedikit.

Patrol pukul 21.50.

Benar, bis tak lewat tol Cipali, sebagaimana juga mungkin akan dialami oleh bis-bis yang restoran tempat ambil servis makannya berada setelah pintu masuk tol dari arah Jakarta, seperti di Patok Beusi, Pamanukan, dlsb. Apa jadinya jika rumah-rumah makan yang didirikan demi mengharap peruntungan dari para penumpang bis malam dan pelalu lintas ke arah Jakarta atau sebaliknya itu kini mulai ditinggalkan sebab para pelanggan telah lewat jalan tol? Ini adalah masalah baru ekonomi rakyat Pantura.

Jika statemen “Allah telah memberi rezeki setiap yang melata di muka bumi” adalah jawabannya, maka tak perlu lagi repot mempertimbangkan masalah ini, sebagaimana tak petingnya mengurus nasib penjaja makanan, asongan, dan kios-kios kecil di Pelabuhan Kamal yang biasa hidup selama 24 jam namun langsung kelimpungan pada saat diadakan pengalihan arus transportasi besar-besaran ke Suramadu. “Terbukti, kan, kalau kehidupan ekonomi di Kamal masih hidup sampai sekarang?”

Memang, itu benar. Kehidupan ekonomi di pelabuhan itu masih ada, tapi tentu harus diperhatikan bahwa “tetap hidup” tentu berbeda dengan “bertahan hidup”. Kenyataannya, semarak perekonomian mereka sudah jauh berubah, bahkan benar-benar berubah. Nah, dampak sosial dan ekonomi juga akan terjadi bagi penduduk yang selama ini berada di tepi jalan raya Pantura. Dengan adanya Cipali, kelompok manakah yang lebih diuntungkan? Lalu lintas dan moda transportasi atau masyarakat sekitar? Survey dan analisalah! Itu tugas Anda, bukan tugas saya.

Gambaran semacam itu hanya lewat sebentar. Memikirkannya hingga mengerutkan kening jelas tak mungkin bisa membuat saya berpejam hingga tak terasa ponsel menunjuk angka 23.14: pintu Tol Ciperna Utama, saat bis kami bertemu Handoyo lagi, Celcius lagi.

Ceritanya, kami lantas menyalip, ambil kanan, dengan bertaruh nasib bahwa ‘golongan kanan’ relatif normatif dan tidak neko-neko. Alamak, kami terkecoh. Di depan, ada kendaraan berat berjalan ngesot. Apa lacur, sisi kiri sudah ditutup Nusantara Irizar (K-1708-AB) juga didukung oleh Scania, sesaat menjelang Gapura Tegal.

Trio Nusantara kini telah bergabung dengan Symphonie Jetbus 2 sebagai mayoretnya. NS-04 ambil alih kembali posisi Irizar menjelang SPBU MURI, Tegal, karena ia tampak akan menepi. Namun, kami disalip kembali oleh Symphonie DM 230 yang sebelumnya sudah sempat kami lalui.

Beberapa titik dan kota Pantura terlewat karena saya tidur dan bangun pukul 02.30, saat kami masuk Gringsing. Irizar ternyata sudah ada di depan kembali. Kapan ia menyalip dan bagaimana kami bisa menyusulnya kembali? Saya tidak tahu. Hingga akhirnya, bis berhenti di sekitar Mangkang, pada pukul 02.46, untuk menurunkan seorang penumpang. Sambil lalu tukar sopir: Pak Syuhada’ pegang kemudi lagi.

Ruas jalan Semarang-Demak relatif sepi. Bis berjalan cepat tapi tak seperti tadi lagi. Jam-jam segitu, antara pukul 2-3, adalah masa rawan kantuk karena mungkin itu waktu istijabah, dan tentu apalagi bagi sopir engkel. Beruntung, Pak Syuhada’ saya kira sudah cukup tangar karena cukup istirahat. Saya mengkhawatirkan daya tahan tubuh, terutama pandangan mata, sopir-sopir engkel yang menempuh perjalanan di atas 500 kilometer dan sendirian saja, semacam rute Banyuwangi-Jogja atau Probolinggo-Cirebon.

Pukul 03.46, kami tiba dengan selamat di pul Nusantara, Karanganyar. Dua mobil antaran telah siap. Saya duduk di dalam namun turun lagi begitu panggilan telepon ke Hilman, saudara saya yang tinggal di Kudus, ternyata terhubung, diangkat, dan bilang akan segera ke pul untuk menjemput saya. sembari menunggu dia datang, saya menghampiri kedua orang pengemudi tadi yang duduk di pos jaga.

“Tadi malam lewat tol Cipali enggak, ya, Pak?” tanya saya memulai percakapan.
“Oh, tidak, Mas.”
“Kalau Losari, lewat?”
“Enggak juga, kita malah lewat tol”.
“Hemm, iya.”

foto bersama

Berbekal basa-basi ini, percakapan pun berlanjut ke mana-mana. Saya berkenalan dan dari situ saya tahu kalau mereka berdua bernama Pak Syuhada’ dan Pak Jumat. Kami ngobrol. Pak Jumat bahkan lantas bercerita tentang kemuridannya. Ia menyatakan kalau pernah berguru kepada seseorang bernama Kiai Mahalli di Batu Ampar, Madura. Begitu setia hingga ia memberi nama putranya sendiri dengan nama yang mirip nama gurunya.

Peristiwa kecil seperti ini kadang menjadi momen penting dalam sebuah perjalanan, peristiwa yang tidak terencana sebelumnya. Seringnya ia terjadi begitu saja. Pelajaran kehidupan yang didengar langsung dari orang yang pernah mengalaminya sendiri itu benar-benar berharga, sugestif, dan mudah mempengaruhi cara pandang, sebagaimana nilai perjalanan naik bis dari Jakarta ke Kudus itu ada pada setiap jarak terpendek, pada peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi di dalam kabin atau di atas aspal.

LAMPIRAN: foto kabin Nusantara SE oleh Yudi Iduy (hanya ilustrasi)Kabin SE oleh YUDI IDUY Sebagai Ilustrasi

Iklan

3 thoughts on “Catatan Perjalanan Biasa: Jakarta-Kudus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s