Ayo Mondok: Sebuah Catatan untuk Pemula

Oleh M. Faizi

‘Ayo Mondok!’ menjadi buah bibir. Di jejaring sosial, tagar #AyoMondok bertebaran. Di Twitter, ia bahkan sempat menjadi trending topic dan ramai dibicarakan di Facebook. Terhadap ajakan ‘ayo makan’, tidak perlu ada pertanyaan lagi ‘mengapa makan?’ karena semua orang sudah lapar dan kenyangnya. Hal ini tentu berbeda dengan ‘ayo mondok’ sebab meskipun kata ‘mondok’ akrab di telinga, namun tidak semua orang tahu alasan ini-itunya, sebagian lagi bahkan menolaknya. Itulah yang akan saya tulis di sini.

‘Ayo Mondok’ adalah ‘kampanye’ yang awalnya disuarakan oleh RMI (ikatan pondok pesantren). Ajakan ini lebih mudah ditengarai tujuannya dibandingkan dengan ajakan ‘ayo minum susu’ yang belakangan digunjingkan ramai-ramai atau ‘ayo ikut KB’ yang juga ditentang banyak orang. Ayo Mondok adalah ajakan yang ditujukan kepada orangtua (dengan ‘cc’ kepada putra-putrinya) agar menjadi santri dan tinggal di pondok pesantren.

Mengapa harus mondok dan tinggal di pesantren? Adakah kecemasan terhadap lingkungan pergaulan anak semakin tidak dapat dipercaya? Apakah orangtua mulai kehilangan perhatian dan wibawa di mata anaknya?

Sejauh pengalaman saya menjalani masa muda hingga kini menjadi orangtua, menjadi santri hingga mengasuh santri, keinginan mondok lebih sering muncul dari orangtua, bukan dari si anak. Catat saja ini sebagai pertanda bahwa mondok adalah hal yang kurang disukai oleh anak muda, berbeda dengan berlibur, main PS, ataupun balapan. Memang, belum ada data valid yang menjelaskan, apakah kini kecenderungan orangtua membiarkan anaknya berada di rumah daripada membawanya mondok di pesantren adalah meningkat atau menurun. Yang sepintas dapat dilihat: orang dulu mengatur anak, orang moderen bebas memilih, dan di masa berikutnya, malah anak mengatur orangtua.

Karena mondok dianggap suatu pengalaman yang tidak asyik atau tidak keren atau sebentuk kekangan bagi anak-remaja, itulah mengapa keinginan mondok jarang sekali yang timbul dari dari anak. Jadi, ayo mondok, sejujurnya, adalah ajakan untuk orangtua, syukur-syukur jika si anak bisa turut mengerti mengapa harus mondok tanpa perlu dipaksa.

Saya pernah mengatasi anak yang menolak mondok dan dia protes, nangis jengking-jengking, emoh tinggal di asrama ketika orangtuanya hendak pulang. “Kamu tinggal belajar di sini, tinggal makan, duit biar aku yang cari,” kata si ayah yang dibantah secara frontal dan emosional oleh si anak dengan membalik statemen, “Sudah, aku yang kerja dan Bapak saja yang mondok!”. Saya tertawa mendengarnya karena si anak masih berusia 10 tahun kala itu. Sebegitu sengsarakah mondok itu?

Jika mondok dianggap ‘tidak atau kurang’ dalam hal kekerenan, keasyikan, dan kebebasan, maka anak semestinya berpikir bahwa itu adalah asumsi, bukan kesimpulan, karena kesimpulan baru muncul setelah dijalani sedangkan asumsi bisa dibangun hanya berdasarkan sampel dan data-data contoh. Yang gawat, asumsi yang melahirkan ketegorisasi itu rentan muncul dari wawasan seseorang, terutama anak-anak namun juga orangtua, yang masih labil. Untuk mendukungnya, saya tulis beberapa pengalaman pribadi tentang pondok sebagai sesuatu yang sudah saya jalani meskipun tidak berhiasakan data statistik yang menggugah selera.

‘Mondok’ berasal dari kata pondok yang memperoleh simulfiks sehingga kata benda menjadi kata kerja; tinggal di pondok. Mondok artinya tinggal di asrama atau di bilik yang disediakan oleh pesantren dan atau pondok (papan/gedek) yang dibangun sendiri (pondok cangkruk zaman dulu) oleh calon santri. Siapa pun yang mondok harus mengikuti kegiatan belajar di madrasah dan juga kegiatan di luar jam sekolah, yakni kegiatan pesantren. Terkait ini, ada istilah ‘santri kalong’ (Madura: ‘colokan’), yaitu mereka yang tetap tinggal di rumah (karena dekat pesantren, misalnya) namun mengikuti kegiatan sekolah/madrasah saja. Mereka acapkali menyebut dirinya ‘santri’ karena ‘belajar di pesantren’ tetapi tidak akan bilang ‘mondok’ di pesantren dimaksud sebab mondok adalah ‘tinggal dan menetap’ di pesantren.

11334148_779681012151384_7051392340525254296_o

sumber foto: RMI

 

Perlu diketahui bahwa pondok pesantren itu ada beberapa jenisnya, namun secara umum sebutan pondok pesantren yang biasa didengar saat ini senantiasa mengacu kepada pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dan bernaung pada sistem pendidikan yang ditunjuk pemerintah melalui Kemenag dan Kemendiknas serta juga mengelola sistem sendiri dalam bentuk pengajian, tahfidzul quran, maupun madrasah diniyah, serta keterampilan. Pondok Indah Mall atau Pondok Maspion Indah tidak termasuk, itu beda!

Sebelum lembaga pendidikan formal muncul di muka bumi, pondok pesantren sudah berjambang dan beranak pinak, sudah tua sekali. Bentuk mulanya adalah pengajian kitab dari berbagai disiplin dan bersifat non-klasikal. ‘Klasikal’ dipahami sebagai penggunaan sistem peringkat kelas (class), bukan kuno (classic). Jangan salah pula ditulis ‘neo-classical karena akan mengacu pada genre (musik). Jadi, ‘non-klasikal’ artinya bahwa pesantren tersebut tidak menggunakan sistem ‘kenaikan kelas’ karena santri yang mengaji tidak dikelompokkan berdasarkan usia ataupun lainnya. Semua santri mengaji kitab yang sama kepada kiai yang sama. Kakek dan cucu boleh duduk satu tempat. Jika pondok model ini masih ada hingga sekarang, dan memang masih ada walaupun tidak banyak, maka itulah dia yang disebut model ‘pesantren salaf’. Lagi-lagi, jangan salah menyebut ‘salaf’ atau ‘salafiyah’ dengan ‘salafi’, karena istilah yang pertama cenderung mengacu pada sistem sedangkan yang kedua identik dengan paham (isme).

Kata ‘salaf’ sendiri berarti kuno. Jelas, istilah ini lahir di kemudian hari sebab munculnya model lainnya. Di masa lalu, istilah itu tidak dikenal karena model pesantren masih sama. Salah satu identitas ‘salaf/salafiyah’ nya pengkhususan dalam bidang pengetahuan agama semata. Secara fisik, pondok salaf umum berbentuk ‘kobung’ (pondok kayu dan berkaki, mirip dangau namun berdinding gedek atau papan, beratap genting atau ijuk). Pondok salaf zaman ini, selain pondok yang hanya menekankan pendidikan keagamaan dan tanpa kelas, ada pula pondok salaf yang menggunakan sistem kelas dan pengelompokannya berdasarkan usia/kemampuan: ibtidaiyah atau awwaliyah (dasar), wustha (menengah), dan ulya (atau tinggi), dll.

Model pondok lainnya adalah ‘moderen’. Istilah ini kadang dimunculkan secara iseng oleh masyarakat namun ada pula yang dilabeli sendiri oleh pengelola pondok. Ciri pondok moderen, di antaranya, adalah penggunaan pengantar bahasa asing, termasuk komunikasi antarsantri. Asramanya lebih baik dan tentu pula dengan biaya operasional yang lebih mahal daripada dua model yang disebut sebelumnya. Pondok moderen kadang menerbitkan ijazah ‘mu’adalah’ alias penyetaraan. Maksudnya, meskipun nyablon sendiri, ijazahnya sama nilainya dengan ijazah pada umumnya, sebagaimana ijazah SLTP dan SLTA. Ciri kemoderenan juga tampak pada tata ruang serta sarana dan prasarana pondok yang lebih baik daripada dua yang disebut sebelumnya. Semua itu jelas bergantung pada biaya yang tentunya lebih mahal daripada lainnya.

Di luar itu, ada istilah lain lagi, yakni ‘pondok atau pesantren kilat’. Materi dan pengajiannya sama dengan sistem salaf namun yang ini menggunakan percepatan, contoh Kitab Alfiyah yang diajarkan selama 3-4 tahun terkadang hanya diselesaikan dalam 3 bulan atau kurang. Model ini bertujuan mengaji banyak kitab dalam waktu serba-singkat. Umumnya, peserta kilatan adalah alumni pesantren yang artinya mereka sudah makan asam garam mondok dan punya bekal pengetahuan Bahasa Arab dan perkitaban.

Motif Orang Pergi Mondok

Seperti halnya model pondok, motif mondok pun ada macamnya. Yang biasa adalah ‘sekolah sambil mondok’. Untuk mengetahui motif-motif ini, saya tidak melakukan tes wawancara sebagaimana di kantor imigrasi atau interogasi di kantor polisi, misalnya. Ia hanya berdasar pada pengalaman saja. Bantah jika salah. Solak jika sepakat. Secara sederhana dapat diambil contoh: jika santri mondok seusia tsanawiyah/SMP, lama mondok biasanya 3 tahunan. Jika menempuh SLTP sekaligus SLTA-nya, mondoknya 6 tahunan. Jika mondok sambil kuliah di pesantren, kisarannya 4-5 tahun saja. Ini hanya ilustrasi, boleh saja berbeda saat dijalani. Mereka yang mondok di pesantren salaf cenderung bebas dari target rentang waktu yang biasanya sudah diperkirakan sejak awal mula mondok. Suka-suka saja mereka di pondok sebab tidak menempuh jenjang kelas.

Akan tetapi, di balik itu, ada pelajaran penting dan tersirat dari proses ini, terrkait motif seorang santri yang mondok di pesantren, yaitu motif mengabdi dan melayani tanpa gangguan hantu untung rugi, bahkan ada yang punya prinsip ‘khidmah murni’. Artinya, mereka pergi mondok hanya untuk ‘belajar melayani’, tidak mengikuti kegiatan pendidikan formal dan jelaslah santri tipe ini tidak akan ambil pusing dengan soal ijazah. Terdengar aneh, ya, masih orang begitu di zaman yang untuk melamar jadi tukang parkir pun masih diurus jenjang pendidikan terakhirnya.

Menghabiskan waktu ‘hanya’ untuk shalat berjamaah, mengaji, melayani kiai, melayani sesama santri, membantu aktivitas pendidikan, dan tanpa mengikuti kegiatan sekolah formal sama sekali ini akan tampak bodoh jika tanpa menimbang prinsip patnernya, yaitu barakah? Sebetulnya tidak. Simbiosis-mutualisme tetap ada di sana. Apa itu barakah? Limpahan kebaikan. Secara sederhana, barakah dapat dicontohkan seperti belajar sedikit ilmu tapi bermanfaat bagi orang banyak dengan contoh seorang santri yang selama mondok ‘hanya’ berkhidmah di dapur untuk melayani makan guru dan kiai namun setelah pulang lantas jadi tokoh dan dituakan. Itu merupakan contoh ‘imbalan yang tertunda’. Soal ganjaran dan pahala sebagai buah perbuatan baik, tak perlu mendatangkan dalil dan hujah agama lebih dulu untuk melakukannya. Sebab ada nilai kemanusiaan di sana yang dalam konsep ‘tri hita karana’ tersurat sebagai amal baik tiga sisi: tuhan, alam, manusia, untuk apa lagi mempertanyakan amal baik?

Di atas semua itu, alasan lain mondok adalah karena biaya pendidikan yang murah. Ini tidak terbantah. Mengapa anak desa banyak yang pergi ke pesantren adalah karena mereka tidak perlu biaya ini-itu kecuali sumbangan ala kadar untuk keseharian, seperti biaya makan, air, dan listrik. Jika ada pesantren yang biaya tinggal dan kesehariannya dianggap mahal itu disebabkan oleh fasilitas dan kenyamanan yang lebih baik daripada yang dibilang murah, jelas begitu.

Model Kepengasuhan Pondok Pesantren

Seperti halnya model pesantren, model-model kepengasuhan pun banyak rupanya. Ada jenis pengasuh tunggal, berupa seorang kiai (sepuh) yang menjadi one-man-show di pesantren tersebut. Tipe ini menuntut kiai jadi ‘ultraman’; mengajar semua materi untuk semua pengajian, sebagaimana umum terjadi di pesantren salaf non-klasikal. Lebih dari itu, kiai bahkan memimpin seluruh kegiatan keagamaan pula, termasuk imam shalat berjamaah 5 kali sehari. Ia dituntut segala-galanya, termasuk membereskan masalah dana operasioal pondok yang notabene tanpa dana berarti dari iuran santri, apalagi dari pemerintah. Bukan tak ada lagi sih, model kepengasuhan macam ini sudah jarang ditemukan, hanya banyak di dalam empunya cerita, dari si anu dan menurut si anu. Akibatnya, kiainya tidak bisa piknik sama sekali, menghabiskan semua usia dan kesehariannya di pesantren. Wisatanya hanya dari kondangan ke kondangan, tahlilan ke tahlilan, dan dari kitab yang satu ke kitab lainnya, gitu tok!

Yang umum, di banyak pesantren di Madura dan tapal kuda Jawa Timur yang saya tahu, adalah model kiai yang mulang kitab-kitab inti, baik harian ataupun per setengah pekan atau mingguan. Ada pula yang membebani diri lagi dengan memimpin langsung shalat berjamaah sepanjang waktu. Bonus kesibukannya adalah melakukan pengajian di luar pondok, kegiatan sosial di lingkungan masyarakat sekitar. Jadi, tugasnya sangat banyak dan sangat melelahkan. Inilah salah satu sebab mengapa kiai yang berbisnis itu umumnya tidak dapat menjalankannya sendiri, melainkan titip modal usaha saja karena waktunya habis untuk yang begini-begini.

Model lainnya adalah pengasuh ekskutif. Kiai bertanggung jawab terhadap roda kepesantrenan namun yang menjalankan adalah para guru, ustad, saudara atau famili (keluarga dalem). Kiai seperti ini biasanya mengimami shalat untuk waktu tertentu saja, semisal maghrib dan subuh, atau pada waktu lainnya. Model seperti ini juga lazim dan semua maklum sebab kiai juga memiliki tugas lain yang tak kalah pentingnya.

Salah satu model kepengasuhan unik adalah kepengasuhan keluarga. Misalnya, pesantren memiliki beberapa komplek pondok yang disebut dengan pesantren daerah dan dipimpin oleh seorang kiai (konon, di University of Oxford juga begitu, di mana college-college yang mirip asrama di pesantren tersebut diketuai oleh seorang profesor). Mereka semua adalah pengasuh tunggal namun di daerah masing-masing, mirip negara serikat. Awal terbentuknya bermula dari putra dan putri atau menantu kiai sepuh yang hijrah, menerima santri dan menyediakan asrama tersendiri, tapi lembaga pendidikan formalnya tetap sama. Dengan demikian, tak ada ‘pengasuh pesantren’. Yang ada adalah ‘pengasuh pesantren daerah A atau daerah B dan seterusnya’. Namun begitu, tetap ada yang dituakan, yang oleh orang luar pesantren disebut ‘pengasuh’ karena faktor kesepuhannya.

Masalah Utama: Tidak Betah

Seperti yang disampaikan pada bagian awal tulisan ini, bahwa kecenderungan mondok itu umumnya berasal dari orangtua atau walisantri dan bukan dari si anak sendiri, maka wajar jika banyak ditemukan anak yang tidak kerasan, tidak betah tinggal di pondok. Penyebabnya adalah perubahan besar lingkungan dan pergaulan si anak: dari lingkungan terbatas (keluarga kecil) ke lingkungan heterogen (di pesantren), dari serba-bebas ke serba-terbatas, dari serba dilayani ke situasi kehidupan yang lebih mandiri.

Tidak kerasan/betah juga muncul karena aturan pondok yang ketat jika dibandingkan dengan kehidupan mereka sebelumnya yang serba-bebas, termasuk keterbatasan fasilitas, sarana dan prasarana, sanitasi. Ketika wali santri mengeluhkan keterbatasan ini, jadilah ia kenyataan yang sulit, sebab pesantren seolah dituntut untuk menyediakan banyak fasilitas namun dengan dana terbatas (saya tidak mengerti cara berpikir seperti ini). Andai ada usul menaikkan biaya, terkadang baru kiai mudanya saja yang setuju, kiai sepuh keberatan sebab tujuan pesantren didirikan salah satunya agar anak-anak desa yang miskin tidak gagal mondok hanya karena alasan biaya. Repot, bukan? Kenyataannya, dan ini yang lebih repot, adanya fasilitas yang wah tidak menjamin seseorang lantas betah. Tidak kerasan/betah memang mirip rasa takut, tak ada obatnya.

Jika sakit kepala dapat diatasi dengan paracetamol, maka ‘sakit’ karena tidak betah biasanya diobati dengan beberapa cara yang malah terkesan irasional. Walisantri umumnya membawa petunjuk orang kuna, yaitu membawa setangkup pasir/tanah dari rumahnya untuk kemudian ditaburkan di sekitar halaman bilik si anak. Konon, cara ini dianggap suatu ‘syarat’ agar anak kerasan dengan suasana baru. Barangkali, cara ini adalah upaya membawa suasana dan aura pekarangan rumah dan dihadirkan ke lingkungan pondok dalam wujud debu-debu itu. Cara lain yang juga populer adalah memberi minum si santri baru itu dengan air kulah atau bak mandi. Jijik, ya? Begitulah.

Ayo Mondok! Mengapa Mondok?

Dari awal, yang saya paparkan adalah pengalaman apa adanya, kenyataan ala kadarnya. Rasanya, belum ada barisan kalimat yang menyentuh sisi persuasi. Saya mencegah diri untuk menulis paragraf yang mengandung iklan terselubung perihal keunggulan ‘pesantren’ dan ‘mondok’ karena khawatir akan menciptakan asumsi yang melampaui bayangan dan pengandaian mereka yang sama sekali belum pernah tinggal di sana. Tidak seperti kampus-kampus yang punya slogan, seperti “kampusnya orang beradasi”, “kampusnya para astronot”, “kampusnya para dukun”, misalnya, dlsb, setahu saya, pesantren tidak biasa mengiklankan diri. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab moral, juga karena semakin banyaknya santri pun tidak akan membuat pesantren meraup banyak keuntungan finansial. Bahkan, ada pandangan berpantang untuk menolak santri seberapa banyak pun yang datang, sebabnya adalah karena larangan ‘menghalangi’ orang yang mencari ilmu. Jadi, jika situasi pondok tersebut dianggap tidak kondusif, calon santri akan menjalani seleksi alam: tetap tinggal atau tidak kerasan.

Yang sekarang perlu diketahui adalah alasan ‘mengapa mondok?’ sebab terlanjur diajak; ‘ayo mondok!’. Saya harus mundur beberapa langkah untuk dapat melakukan lompatan ke titik jawaban: untuk melihat visi dan misi pondok, lihatlah alumninya. Inilah statemen yang kerap dilontarkan orang ketika nanya ini-itu tentang pondok tertentu. Alumni pondok tahfidz akan jadi penghafal Alquran. Satu-dua orang yang gagal hafal dan bahkan jadi preman tidak akan merusak visi-misi pondok tahfidz tersebut sebab itu perkecualian, bukan silogismenya. Pondok pesantren yang menekankan pembelajaran materi tata bahasa Arab (nahwu-sharraf), rata-rata santrinya bakal jago di bidang itu. Berbagai pondok punya ciri khas, semisal pondok yang pengajian kitabnya banyak didominasi kitab pertabiban, astrologi, dan sejenisnya, alumninya punya kemampuan supranatural. Ada pula pondok yang kompetensinya mencetak pakar fikih dan hukum agama. Karena tadi sudah dikatakan bahwa pondok pesantren tidak biasa ‘mengiklankan diri’, maka calon santri yang harus cari tahu; lihat kitab-kitabnya, amati sistem dan pembelajarannya, perhatikan alumninya, serta profil pengasuh dan kepengasuhannya. Soalnya, tak sedikit pondok pesantren yang papan namanya pun tidak ada, tak ada pintu gerbang atau gapura yang menunjukkan lokasi pesantren dan sejenisnya.

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, kitab standar santri yang hampir dibaca di semua pesantren dan berisi tata cara belajar, aturan main yang mesti dipegang oleh santri itu adalah cari tahu lebih dulu profil pesantren dan pengasuh. Apa pasal? Untuk menghindari buruk sangka yang mungkin terjadi ketika tak cocok, tidak sreg. Ini terbukti banyak terjadi: buruk sangka yang disimpulkan dari pengamatan yang sebentar. Payah, bukan, jika kita menyampaikan banyak hal tentang kekurangan kepada orang hanya berdasar pada sedikit pengalaman? Mondok itu sebentuk proses yang harus dijalani, bukan data pemilihan umum yang harus segera dilaporkan kepada publik dengan akutabilitas yang tinggi.

Beberapa hal yang diperoleh dari ‘mondok’ sehingga ajakan untuk mondok itu dianggap penting adalah soal karakter. Pendidikan karakter berlangsung dengan sendirinya, yaitu dalam interaksi dan komunikasi santri, terutama di asrama, juga dengan kiai dan guru. Ini satu hal yang secara prinsip membedakan santri pondok dan pelajar biasa. Mereka belajar menghadapi pemikiran, perlakuan, pikiran, dan pendapat yang tidak selalu sama dengan pendapat dan keinginannya. Proses ini berlangsung terus-menurus, berubah, tidak saja hanya di saat duduk dengan teman sebangku di sekolah, melainkan juga tahun demi tahun berikutnya dengan kawan yang datang dan pergi. Kesenjangan sosial akan nyaris tidak kelihatan, sebab anak bupati dan anak petani sama-sama berjalan kaki ke madrasah, bukan yang satu naik motor sport dan lainnya berjalan kaki. Mereka sarapan dengan makanan yang tak jauh berbeda. Hal ini tidak mungkin ditemukan jika anak tersebut tetap diemong ayah-ibunya di rumah.

Di pondok, pelajaran keterampilan dan kemandirian berjalan secara alami. Panci rusak harus diperbaiki sendiri. Kabel mikrofon masjid putus, disolder sendiri. Begitu pun yang terjadi dalam keterampilan berkomunikasi dan berinteraksi. Kegiatan khitabah, pentas seni, baca puisi, hadrah, teater, dan pementasan-pementasan lain merupakan bagian dari pembelajaran ini. Komunikasi yang banyak gagal dilakukan oleh santri adalah saat menghadapi lawan jenis karena hal itu memang terlarang. Lucunya, saat mereka keluar dari pondok dan bertemu dengan komunitas yang lebih bebas, di kampus misalnya, acap kali terjadi cultural shock, kagetan.

Kemandirian juga terbentuk pada saat mereka harus melayani diri sendiri, seperti masak dulu sebelum makan dan cuci sendiri perabotan agar bisa dipakai lagi, yang mana hal itu bahkan tak pernah mereka bayangkan andai tetap tinggal seatap dengan orangtua. Ketika sekarang situasi mulai berubah, ketika nasi tinggal beli dan nyuci tinggal kirim ke penatu, lain pula ceritanya. Akan tetapi, di luar itu, masih banyak kegiatan lain yang tetap menuntut santri untuk mandiri.

Di pesantren, pendidikan kedisiplinan tidak dijadikan motto, melainkan diterapkan dalam sistem pengawasan 24 jam. Santri diawasi bahkan hingga pada jam tidurnya. Ini berbeda dengan ketika mereka ada di sekolah yang berkisar 6-9 jam saja, sisanya digantikan pengawasan dari orang tua, itupun jika si anak tidak keluyuran atau orangtuanya tidak pergi pagi dan pulang malam. Toh meskipun sama-sama ada kesempatan bermain, biasanya hari Selasa dan Jumat, namun mereka tetap dibatasi.

Di samping biaya pendidikan yang murah adalah alasan, satu tujuan lain mondok adalah pengabdiannya. Soal belajar agama sih tidak perlu dibicarakan lagi, sebab pesantren memang tempatnya. Adanya pengabdian atau khidmah inilah yang turut menyebabkan biaya operasional pondok jadi lebih murah. Toh, dengan biaya yang terjangkau oleh kalangan bawah, pesantren tetap mampu berjalan dan berkembang meskipun secara fisik tidak sepesat lembaga pendidikan yang dananya bergantung pada iuran wali dan santunan dari pemerintah. Kemandirian ekonomi suatu lembaga akan membuatnya berwibawa, mandiri, berdikari. Bagaimana pun harus diakui, BOS, tunjangan, dana hibah dan sejenisnya turut mengubah gaya hidup dan sudut pandang masyarakat dalam memandang pesantren, termasuk sebaliknya; bagaimana orang-orang pesantren dalam memosisikan dirinya.

Paparan ini telah memastikan saya mendukung slogan ‘ayo mondok’. Masih banyak penjelasan yang tidak terjelaskan karena beragamnya model dan karakterisrik kepengasuhan di pesantren Nusantara. Di atas semua itu, harus diakui bahwa pengasramaan seperti di pondok juga diterapkan di lembaga lain, baik di Indonesia maupun di luar. Mereka meyakini bahwa transfer ilmu bisa saja berlangsung di berbagai tempat, tetapi untuk sekaligus membentuk karakter anak didik, cara ini dianggap yang paling berhasil.

Manfaat-manfaat ‘fisikal’ tersebut masih dapat disokong lagi oleh keunggulan lain, seperti konsep khidmah yang juga menjadi salah satu tujuan santri mondok. Keyakinan transendental adalah alasan lain mengapa konsep ini tetap dijaga. Tidak logis jika seseorang rela bekerja tanpa mau dibayar. Wong jadi “Pak Ogah” di perempatan-perempatan kota besar itu dapat bayaran, kok! Di mata orang tertentu, ini adalah sebentuk keluguan korban dogma, bius bernama agama. Nyatanya, dengan menggeser sedikit, pengambilan keputusan khidmah ini sebetulnya dapat dipahami. Santri khidmah itu tetap dapat imbalan, hanya saja kerja jasmaninya ditukar dengan imbalan rohani. Begitu sederhana konsepnya.

Hal yang sama juga berlaku pada konsep ‘barakah’. Keyakinan adanya barakah ilmu, kiai, pondok, tidak dijual di toko mana pun. Meyakini secara sempurna itu tak butuh lagi hujjah ilmiah untuk percaya. Adanya argumen hanyalah pelengkap, bagaikan kecambah di atas rawon. Dengan atau tanpa kecambah pun tidak akan mengusik keyakinan seseorang bahwa yang dihadapinya itu adalah semangkok rawon. Dan dengan melihat hal-hal yang sudah lebih dulu dialami pendahulu mereka dalam menjalani kehidupan, khidmah atau barakah pesantren, dari zaman santri kelana hingga kini zaman digital, seorang santri telah merasakan sensasi kenikmatan lebih dulu tanpa perlu memastikannya dengan cara melahapnya.

Catatan Penutup

Inilah sedikit catatan pengantar bagi mereka yang ingin mengenal pesantren. Tulisan ini dibuat sebagai sekelumit bahan pertimbangan bagi walisantri yang ingin memondokkan putra-putrinya, atau santri yang ingin mondok, atau juga sebagai pandangan tambahan bagi mereka yang sudah mondok. Jika mengacu pada anggaran dasar UUD 45 yang mengemban amanat ‘mencerdasakan kehidupan bangsa’ (lewat pendidikan), tanpa adanya penyelenggaraan pendidikan (formal dan nonformal sekaligus) oleh pesantren, tak terbayangkan betapa ruwetnya tugas ini jika diemban sendirian oleh pemerintah. Dalam situasi yang tak kunjung stabil seperti sekarang, bagaimana cara mengatasi pendidikan 250 juta rakyatnya?

Harus diingat, pendidikan di pesantren itu tidak sama sekali sempurna. Oleh karena itu, menutup mata dari banyak celah kekurangan karena sibuk menyanjung sistemnya sendiri adalah tindakan tidak sehat karena akan berakibat lupa diri. Apa pun yang dianggap tanpa cacat pastilah pandangan cacat. Kelemahan dalam fasilitas, sarana, manajemen waktu, dan penguatan jaringan alumni adalah satu dari banyak hal yang perlu dibenahi oleh pesantren. Bukan hanya ini, namun masih banyak hal lain yang perlu diperbaiki.

Terakhir, satu hal yang tak boleh dilupakan, bahwa pendidikan ala pesantren memiliki prinsip ‘dukungan spiritual berkelanjutan’: kiai mendoakan santri, santri mendokan kiai, guru mendoakan murid dan murid mendoakan guru. Proses ini tidak berlangsung dari pukul 7 pagi hingga siang atau sore, tidak sebatas dari kelas 1 hingga kelas 3 saja, melainkan sepanjang usia. Itulah keunggulan sejati yang barangkali akan sulit ditemukan dalam konsep pendidikan di luar pesantren. Di atas itu, sanad keilmuan yang didapat dari ilmu yang diajarkan di pesantren telah mendapat jaminan ketersambungan, sekurang-kurangnya hingga pengarang, bahkan hingga sampai kepada Rasulullah saw. Sanad dan silislah ilmu inilah yang juga menjadi ‘jimat’ pendidikan pesantren. Melalui konsep sanad, kita tentu tak ingin anak generasi kita ramai-ramai berguru agama di Facebook sembari tidur-tiduran, menunggu ceramah dari Twitter sambil buang hajat, atau pula mempelototi YouTube sambil menunggu tuntas streaming yang sanadnya hanya bergantung pada jaringan dan rating.

Mobil Fiat, VW kodok
Kadung niat, ayo mondok!

 

Iklan

11 thoughts on “Ayo Mondok: Sebuah Catatan untuk Pemula

  1. Logika mondok dari zaman saya ada, hingga waktu yg akan tiada tidak pernah berubah di benak saya. Mungkin tersebab saya alumni pondok, hingga sisi positif per-mondok-an selalu berkobar di pikiran saya.

    Ya, Allah, ijinkan saya ‘mampu’ memondokkan anak-anak saya.

    Ra Faizi, salam ta’dhim dari saya, dan terima kasih atas ilmu per-mondok-an ini! Jazakumullah khairul jaza’! Amin,,,

  2. paparan yang menarik keh faizi… awal tau ada gerakan #ayomondok berasal dari twitter juga yang disuarakan lantang oleh om akhmad sahal (@sahal_as) dan account twitter @NUgarislucu.
    saya sendiri belum pernah merasakan mondok, penginnya nanti klo sudah berkeluarga ada anak yang bisa diarahkan untuk mondok. karena ilmu agama yang bisa didapat lebih mendalam di pondok.

    • Terima kasih atas tanggapan. Tulisan ini memang saya buat bukan untuk apa selain memperkenalkan jenis pondok, tipe kepengasuhan, serta mengapa orang harus mondok dan apa manfaat serta kelemahannya.

  3. Istilah ‘Mondok’ juga dipakai dalam permainan De’deng, tepatnya ketika pemain membutuhkan alternatif tempat untuk melompat karena banyaknya kotak yang sudah ditempati lawan. Maka dibuatlah kotak kecil di pinggir rumah lawan untuk dijadikan pijakan. Umumnya, ukurannya hampir mempasi ukuran kaki. Pondok itu dibuat dengan persetujuan si lawan atas permintaan pemain yang tidak dapat jatah kavling rumah di area permainan de’deng. Ingat hal ini, berarti masa kecil bahagia 😀

  4. Assalamualaikum,,saya ingin sekali mondok di pesantren tp saya sudah berkeluarga punya anak dua,,apakah ada pondok yg bisa sambil kerja ya,saya tinggal di depok jawabarat..syukron jazakallah khair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s