Cerita Kecil tentang Khidmah

Suhairi adalah seorang guru di beberapa sekolah. Pagi itu, ia pergi untuk menunaikan tugas mengajar di Madrasah Aliyah (MA) Mambaul Ulum, Rengperreng, Ganding. Karena begitu banyaknya aktivitas, kadang ia tak sempat mencuci sepeda motornya. Hari itu, ia pergi ke madrasah dengan sepeda motor yang belepotan lumpur.

Setelah mengisi materi bimsus di kelas akhir MA tersebut, Suhairi bersiap untuk pulang. Ia melihat, sepeda motor bebeknya itu tidak lagi ada di tempat ia memarkirnya tadi, dekat masjid. Suhairi tidak kaget karena begitu dia menoleh, ia menemukannya. Itu dia rupanya,” serunya dalam hati. Sepeda motor itu berpindah tempat, namun tak jauh dari posisi semula.

Yang membuat ia terkejut justru adalah karena sepeda motor itu, kini, seolah-olah bukan sepeda motornya lagi. Tadinya kotor, sekarang kinclong. Bukan hanya sudah dicuci, motor bebek itu ternyata sudah dicuci bahkan sekalian dilap. Lebih dari itu, sepeda motor sudah dalam posisi siap keluar: posisi siap berangkat untuk pulang.

Mungkin karena terheran-heran melihat sepeda motornya sendiri, seorang siswa serius memperhatikannya. Jika bukan karena hapal nomor polisinya, barangkali Suhairi harus beberapa kali kucek-kucek mata untuk memastikan. Kepadanya, Suhairi bertanya.

“Ini, siapa yang nyuci sepeda motor saya?”
“Siswa, Pak, tapi anaknya sudah pergi, barusan.”
“Siapa, sih?”
“Ada deh, Pak. Anaknya bilang jangan dikasih tahu namanya. Bapak silakan kalau mau pulang. Yang penting motor Bapak sudah bersih dan Bapak tidak perlu mencucinya lagi, bukan?”

Sambil geleng-geleng, Suhairi pun menyalakan mesin dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan senang bercampur haru. Betapa apa yang ia alami barusan adalah sebentuk contoh ‘khidmah’ seorang murid kepada gurunya: suatu perbuatan baik yang dilakukan sebagai bentuk terima kasih, pengabdian, penghormatan, juga rasa cinta, serta tanpa mengharap imbalan atau pujian, tidak perlu didahului perintah, apalagi harus diawasi. Di atas sepeda motor, Suhairi kembali mengingat-ingat, bahwa peristiwa yang baru saja ia alami itu terjadi di tahun 2015, bukan terjadi pada masa kecilnya dulu sewaktu kisah tentang khidmah semacam itu sering kali ia dengar dari orangtuanya.

(Demikianlah cerita Suhairi yang disampaikannya kepada saya sepulang dari tempat itu, 3 April 2015)
Suhairi Rachmad dan Sepeda Motornya

Iklan

8 thoughts on “Cerita Kecil tentang Khidmah

  1. Kebaikan dan keburukan yang kita tebar, tak pernah lupa untuk kembali engghi Ra. Semoga Ustadz Suhairi selalu bahagia bersama kebaikannya menebarkan jariyah ilmu.

    Masuki M Astro

  2. cerita yang menginspirasi, semoga makin banyak cerita seperti ini di berbagai daerah ya.. amien… Salam kenal keh Faizi, banyak tulisan di blognya yang wajib dibaca. Apalagi capernya, mengobati kerinduan saat masih aktif di milis BMC dulu 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s