Pergi Kondangan Naik Bis

Tak perlu taruhan untuk membuktikan kalau suspensi bis ini sudah atau nyaris mati. Melalui spion kecil di atas sopir, saya melihat isyarat itu, yakni pada wajah-wajah penumpang (termasuk wajah saya) yang buruk mendadak (padahal tadi sudah distem, dicuci muka karena akan dipakai buat pergi kondangan), demikian pula wajah semua penumpang: tampak jelek dan ‘muke gile’. Cermin cembung itu bukan hanya retak, melainkan juga bergetar hebat akibat guncangan mahadahsyat mesin diesel Hino AK stir palang-tiga. Itulah dugaan saya penyebab suspensi keras, bukan lantaran rodanya yang semi bujur sangkar, misalnya.

P1000126

PO Kenongo berjalan setengah hati, mungkin karena hanya ada 10 orang di dalam kabin yang mampu menyerap 59 pantat orang dewasa ini. Lajunya saya taksir 40-50 km per jam, tak berani menghabiskan gerigi percepatannya hingga gerigi pamungkas karena jalan sempit juga ‘rontak’ (Bahasa Madura: suspensinya keras). Jangankan sesama bis, truk pasir pun rasanya mampu menyalip kami.

Wajahnya sederhana, bagian depan tampak mendongak namun tidak terkesan angkuh, bahkan ibarat manusia, ia menyiratkan tubuh yang mulai bungkuk. Barangkali, hal-hal yang tersebut di atas inilah yang membuat saya tidak menemukan satupun stiker tertempel di sana, baik itu stiker komunitas penggemar bis maupun stiker nama-nama jenama ternama, semacam Mercy, Volvo, atau Scania.

Saat tadi mencegatnya di sebelah hutan jati Kaliputih (Rambipuji), saya melihat nama plakat trayek di kaca depan: Jember-Kencong-Surabaya. Trayek ini memutar dengan mengutamakan unsur ‘Kencong’-nya, sebab di trayek reguler Jember-Surabaya lewat Tanggul, saingan berat terlalu banyak di jalan raya. Namun begitu saya duduk, saya kaget begitu melihat tulisan ‘Denpasar’ di balik tulisan ‘Kencong’ itu. Dalam hati, terbersit tanya: ‘Apakah bis ini memang sesekali jalan ke Bali? Ataukah ‘Denpasar’ yang dimaksud di plakat itu adalah ‘Denpasar’ yang tidak ada di Bali melainkan terletak di suatu daerah di Kabupaten Lumajang, sebagaimana Jombang namun ada di Kabupaten Jember, juga seperti Sampang tapi ada di Cilacap, atau seperti Madura namun ada di India?

P1000129

Sopir menelefon, entah siapa, beberapa kali. Saya duga, itu sejenis VMS (variable message service) namun gaya tradisional, yakni informasi jarak dan interval antar-bis yang sedang berjalan di trayeknya sehingga sopir yang satu bisa mengatur kecepatan agar berjarak dengan armada lainnya. Benarkah seperti itu? Hanyak pak sopir dan tuhan yang tahu.

Sungai di kiri jalan, lalu menyilang ke sisi kanannya, hamparan padi menguning, batang-batang pohon dengan daun yang tumbuh subur, meyakinkan saya kemakmuran Jawa: mengapa banyak orang Madura yang merantau dan menetap di sini, juga meyakinkan saya mengapa Belanda datang dan merampas kekayaan bumi Nusantara, mengapa bahkan hingga kini banyak asing yang ingin lebih dari sekadar investasi, tapi mencari cara agar negeri ini pada akhirnya dijual pada mereka.

Sampai Balung, bis ngetem di depan warung Makan Mbak Endang, pukul 11.01, alias setelah menempuh perjalanan 17 menit dari Rambipuji. Seorang pengamen masuk, nyetel pemutar audio yang digendongnya, memegang pelantang, ba-bi-bu, dan mulai menynayi. Lagunya berbahasa Jawa, mirip kendang kempul Banyuwangian.

Kira-kira 2 menit setelah pengamen itu rampung menarik iuran sukarela dari penumpang, atau 6 menit sejak ngetem, bis berjalan kembali. Tak ada tambahan penumpang.

Apakah penumpang jalur ini memang relatif sepi atau hanya kebetulan kurang beruntung di hari itu? Saya kira alasannya adalah sama benar. Orang yang punya mobil sudah pasti naik mobil sendiri sebab lebih enak untuk perjalanan jarak jauh. Mereka yang punya sepeda motor juga akan menggunakannya untuk jarak dekat. Melihat situasi ini, saya mencium aroma kematian pada nasib transportasi massal. Entah bagaimana cara menyelesaikan penyakit akut ini mengingat masalahnya yang pelik serta luasnya wilayah yang harus diurus. Negara kepulauan yang membentang di Khatulistiwa ini begitu luas hingga dibagi menjadi 3 satuan jam. Dari Jember ke Sabang itu masih lebih jauh daripada Anda bepergian dari Sofia (di Bulgaria) ke Liverpool di Inggris, padahal baik Jember maupun Sabang masih sama-sama menggunakan satu waktu Indonesia Bagian Barat, benderanya sama-sama merah putih dan tidak roaming kalau kita saling telepon-teleponan lintas operator. Sepertinya, Indonesia itu harus dipimpin oleh 3 presiden sekaligus.

Per 4 atau 5 menit, kami berpapasan dengan bis. Ini pertanda bahwa sedikit penumpang di situ bisa dibantah sebab bis-bis itu jelas cari penumpang dan sudah tahu perkiraan banyaknya di hari kerja atau akhir pekan. Tidak mungkin ada orang jalan-jalan sendirian pakai bis, kan?

Di desa Gumelar, kami berpapasan dengan Kenjono. Sesama pemain kawak, sesama sopir saling sapa. Sopir Kentjono melambai untuk Kenongo. Kiranya itu merupakan isyarat agar Kenongo berjalan lebih pelan sebab jarak yang terlalu dekat dengan bis di depan. Papasan terjadi lagi di Dusun Tutul, dengan Akas Asri AC ekonomi; di Jambe Arum dengan Parikesit bergaun eks Indonesia Abadi dan kaca depan tertulis ‘Bali’.

Kasiyan, sehabis pertigaan yang kalau lempeng ke selatan mengarah ke Puger, bis Kenongo ambil kanan, lalu parkir di depan depot Bakso ‘Solo’ (Saya kira, arti kata Solo di sini adalah ‘enak’, bukan nama alias tempat bagian dari Surakarta atau terjemahan dari arti ‘sendirian’, sebab beberapa kali saya jumpai penjual Bakso Solo yang asli Lamongan atau juga Wonogiri).

Lima menit lamanya, sama seperti tadi di Balung, pada pukul 11.27, bis berangkat lagi.
Papasan dengan bis 3/4, Jember-Kencong trayeknya. Pak sopirnya menjulurkan tangan, dada-dada. Sopir kami yang muda dan gaya pun membalasnya. Barangkali perlu diteliti, adakah manfaat melambaikan tangan, menyapa kawan, bagi ketenangan dan optimisme seseorang? Bisa jadi.
P1000127
Shalawat “mu’alik” berkumandang pada pukul
11.35 saat PO Kenongo ini lagi-lagi berpapasan dengan PO Ladju di Mlokorejo, sebuah nama daerah yang namanya sudah saya kenal sejak kecil dulu sebagai ‘Maloko’ karena pondok pesantrennya. Berikutnya, kami berpapasan dengan kawan seatap-segarasi; Kenongo Jember-Depasar di Gumuk Mas, 11.41.

Di depan Pasar Kencong, jam menunjuk 11.55. Sopir melirik arloji lalu ngegas lebih dalam meskipun kecepatannya tetap tidak seberapa kencang. Mungkin itu pertanda ia berjalan terlalu lambat atau ingin lebih cepat tiba di Lumajang.
P1000131
“Kencong-Yosowilangun jauh, ya, Pak?”
Kondektur mesem, manis sekali, seraya mengangguk.
“Eh, bis ini sampai Surabaya?” tanya saya menyelipkan kesangsian.
“Iya, Mas,” katanya yakin, memastikan penuh percaya diri.

Saya tidak cemas meskipun tahu jadwal undangan walimah kali ini adalah pukul 12.00. Jelas saya akan telat kalau acaranya tepat waktu dan bisnya tetap berjalan begini, tapi saya paham bahwa orang-orang juga sudah paham, bahkan tuan rumah pun juga pasti paham: pukul 12.00 itu bukan WIB, melainkan “waktu Indonesia bagian sebelahnya barat” karena nyaris tidak mungkin ada acara persis pukul segitu sebab kalau hendak pergi ke acara walimah tengah hari, kami sudah terbiasa shalat Duhur lebih dulu.
P1000130
Pada perjalanan kali ini, di sepanjang jalur bis besar namun jalannya relatif sempit, saya perhatikan, betapa banyak toko swalayan bercat seragam. Heran saya: toko itu pasti laku sebab rakyat yang selama ini tidak pernah merasakan slogan ‘pembeli adalah raja’ akan tertarik membelanjakan uangnya di toko yang memperlakukannya ‘raja’, belum lagi tempatnya bersih dan ber-AC, disapa dengan senyuman ketika masuk, ditawari beli pulsa dan ini-itu ketika hendak pergi. Akan tetapi, apakah rakyat yang membeli barang dengan uang hasil tani tapi toko tidak membeli hasil tani rakyat itu sendiri juga sadar dan paham? Kemanakah uang itu dibawa pergi?
P1000132
Dipisahkan oleh Sungai Bondoyudo, kami masuk wilayah Kabupaten Lumajang. Benar, 2 menit berikutnya, pukul 12.12, saya sudah tiba di Pasar Yosowilangun. Saya meloncat dari bis setelah mengucapkan terima kasih. Sambil mencari Kak Fahri yang berjanji (lewat telepon) mengajak saya pergi bersama ke kondangan dengan mobilnya karena tak ada angkutan umum yang melayani rute Yoso-Krai, saya membuat sebuah identifikasi, bahwa penumpang bis PO Kenongo (atau yang sejenis yang punya trayek sama) adalah mereka yang; kaya waktu dan tidak terburu-buru; ingin bepergian sambil santai baca buku dan ongkos murah; atau bepergian sambil sekadar ingin menuliskan catatan perjalanan, ya, seperti saya ini.

*)  ditulis di atas bis PO.Kenongo, Rambipuji-Yosowilangun, 5 April 2015

Iklan

4 thoughts on “Pergi Kondangan Naik Bis

  1. Itu trayek saya kalau sedang pulang kampung ke Maloko (Mlokorejo), Ra. Bis tua yang melaju sekadarnya. (Betul kan yang sama SMS-kan waktu itu; Rambi ngetem, Balung ngetem, Kasiyan ngetem, Gumukmas ngetem, Kencong ngetem. Hehe…. hapal saya. Namun mengapa Sampeyan balas SMS itu dengan ‘dapat yang langsung; Kenongo’) Tetapi, bis sereyot Kenongo atau Kentjono itu kalau pas musim mudik, alamak… ia dipaksa mengangkut penumpang sesesak-sesaknya. Dan karena yang ada cuma mereka, tetap saja ada yang mau menumpanginya.

    Tetapi kalau saya sedang kurang ‘kaya waktu’, saat hendak balik ke Surabaya; dari Maloko saya nyegat yang ke arah Jember (Ya semacam ‘tendangan pisang’ ala David Beckham) dan turun di Kaliputih (Rambipuji). Nah, di situ saya bisa nyegat bis-bis macam Restu dkk yang lebih cepat larinya dan benar-benar langsung ke Surabaya.

    Iya, bis-bis jalur selatan yang via Kencong itu, walau si konektur selalu bilang langsung Surabaya, kenyataannya itu sering sebagai muslihat belaka. Acap kali penumpang dioper sebelum terminal Menak Koncar (Lumajang), atau kalau berasib agak bagus, penumpang bakal dioper di Bayuangga (Probolinggo) untuk kemudian berganti bis menuju Surabaya.

    Nah, dari Yosowilangun itu, apakah Sampeyan bernasib baik dan bisa langsung ‘landing’ di Purabaya?

    (maap, komentarnya puwanjangg… 🙂 )

  2. Mas Edi Winarno: oh, iya, Mas. Ini pengalaman pertama lewat jalur situ bagi saya. Karena saya memang agak penggemar bis bumel, maka tentu tidak apa-apa mendapatkan bis semacam itu, bahkan cenderung senang karena memang dari awal sudah menyiapkan diri untuk itu.

    Dari Krai, saya ikut saudara ke rumahnya di Klakah, makan bakso dulu di sana. Dari Klakah, saya naik mobil ke Madura. Baik dari Madura sampai Jember maupun dari Krai sampai Klakah dan dari Klakah sampai Madura, semuanya BDB (bebas dari biaya). Jadi, hadir ke undangan kali ini itu biayanya kurang lebih12,000 rupiah, ya, hanya buat ongkos bis di atas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s