Ke Ponorogo, Nyangkut di Jombang dan Pare

Jumat, 13 Maret 2015

Saat dibonceng Haris dari Pei Hai—tempat saya turun dari bis—menuju Corogo desa Janti tempat dia tinggal, di atas sadel sepeda motor yang mengarah ke selatan Samsat Jombang itu, saya benar-benar menikmati bentang alam rasa Jawa: lahan pertanian yang luas dan subur, batang-batang tebu, air yang mengalir di kali. Setiba di beranda rumahnya, suara orang mendaras Alquran dari TOA mushalla menyambut. Ketika masuk ke ruang tamu, sepiring jagung rebus terhidang. Lengkap, bukan?

Tiba-tiba, saya merasa segar. Saya heran. Pasalnya, tadi malam menjelang tidur, badan ini sempat terhuyung, kepala agak pusing. Andai bukan karena tugas pergi keluar, tentu saya memilih melungker daripada bangun pukul 1 dinihari untuk selanjutnya melawan angin, beradu dengan dingin, di atas sadel ojek Pak Basyir. Saya menduga, yang membuat banyak perubahan pada kondisi fisik adalah ‘pikiran yang pulih’. Setelah naik AKAS dari Prenduan ke Surabaya lalu berganti Sumber dari Bungur ke Jombang dan tiba pagi sekali di sana, itu dia obatnya.

Semalam, saya berangkat pukul 01.35 dan sampai di Surabaya menjelang pukul 5. Beberapa kali saya berangkat pada waktu yang sama, cukup 2,5 jam (atau lebih sedikit) saja untuk mencapai Purabaya di malam hari. Kelamaan ngetem di Pamekasan-lah yang membuat perjalanan tadi malam jadi berbeda. Walaupun kelambatan macam ini tak seberapa, namun untuk situasi pagi hari, telat 30 menit saja akan sangat berpengaruh karena masa pukul 6 hingga pukul 7 itu sungguh merupakan masa paling ruwet di jalanan.
Saya ikut Sumber yang berangkat kira-kira 7 menit setelah saya duduk, 05:05. Jelas sangat beda dengan AKAS. Kesan terburu-buru langsung terasa. Sopir selalu telat melepas kopling dan putaran RPM terlalu tinggi; mobat-mobit di pagi hari. Yang begini-begini rasanya sudah malas saya ceritakan karena terlalu sering dialami. Biarlah lain kali, atau orang lain yang melakukannya.
P1000064
Suasana pekarangan rumah Haris di Jogoroto sangat tenang. Tetangga-tetangganya barangkali memang ber-profile silent secara permanen. Secangkir kopi yang disuguhkan membuat saya tak ingin bertanya lebih jauh tentang apa sebab situasi itu bisa tercipta.
Saya segera mandi, lalu makan, duduk-duduk, lantas menyadari betapa dalam situasi seperti ini saya merasa tidak begitu butuh pada apa pun lagi di saat selalu ada kawan di sana-sini. Begitu pula, saya tidak pekewuh melahap hidangan sebab rezeki yang disajikan oleh tuan rumah ini sejujurnya memang rezeki saya sendiri yang dikucurkan Tuhan tapi diturunkan di Jombang, bukan di Guluk-Guluk. Jadi, jangan pernah ragu menikmati hidangan tuan rumah pada saat Anda menjadi tamu sebab itu memang milik Anda sendiri yang disusupkan-Nya ke rumah orang lain agar Anda tak repot harus membawa tungku, panci, dan beras untuk memasak di dapur yang jauh dari rumah Anda.

Haris selalu menyebut nama-nama orang yang pernah mampir di rumahnya. Ia kelihatan begitu senang. Saya yakin, nama saya juga akan sering disebutnya untuk orang lain yang datang berikutnya. Bagi saya, ini adalah kali kedua setelah sebelumnya terjadi di tahun 2003, yakni 12 tahun yang lalu.

“TERLANJUR JOMBANG, YA, MAMPIR-MAMPIR SEKALIAN…”

Dengan Forsa-nya, dari Corogo, Haris mengantar saya ke Rejoso, menjumpai kawan yang tinggal di sana, Binhad. Agak lama saya tak bertemu dengan orang gondrong ini. Rambutnya tetap terurai ala iklan shampo Pantene, masih seperti dulu. Yang berbeda, kini dia gondrong sekalian jenggotnya. Saya tidak tahu apakah ia punya paham baru atau apalah namanya.

P1000069

Hanya sepeminuman teh, kami pamit dan melanjutkan misi ‘ambil bonus’ ke Tebuireng. Betul, tujuan utama perjalanan kali ini adalah untuk menghadiri acara seminar “Revitalisasi Tradisi NU Berbasis Literasi” dan peluncuran buku “Membaca dan Menggagas NU ke Depan” yang diselenggarakan oleh Litbang PCNU dan PC ISNU Ponorogo. Saya tidak tahu mengapa saya—yang notabene tinggal di tempat yang sangat jauh dari lokasi—yang diundang sebagai ‘cowok panggilan’.

Tiba di Tebuireng, saya sowan ke Gus Zaki. Beliau adalah pengasuh Al-Masruriyah, pondok putri yang letaknya berhadap-hadapan dengan Tebuireng. Beliau bercerita banyak tentang penggemblengan mental santri yang tak pandang bulu. Sembari pula menuturkan kisah embahnya, Nyai Masruroh binti Kiai Hasan Muhyi yang fotonya dipajang di ruang tamu, saya menyeruput kopi. “Itu foto Embah putri saya, satu-satunya foto yang ada. Beliau adalah istri ketiga Hadratussyaikh, namun juga menikah tiga kali. Dua yang lainnya adalah dengan Syaikh Ihsan Jampes (pengarang Sirajut Thalibin) dan sebelumnya dengan Sayyid Shadaqah.”

P1000070

Deg, dalam hati saya membatin. Ini namanya kufu’ yang dalam istilah Gus Zaki disebut “pilih tanding dengan sebanding”.

Salah satu pelajaran yang saya terima dari Gus Zaki terkait penggemblengan ini adalah tentang ketahanan diri dalam menggembleng. “Jika kita mudah tersinggung ketika mendidik anak atau oleh sikap orang lain, baiknya berpikir ulang, siapa tahu itu disebabkan kita terlalu tinggi menghargai diri kita.”

Rencana awal, sesudah sowan pada Gus Zaki, saya mau sowan ke Kiai Abdul Hadi di Madrasatul Qur’an (MQ), namun karena beliau tidak ada, maka ditundalah sowan hingga pada waktu yang tidak diketahui. Dan pada saat saya berdiri di tepi jalan untuk mencegat angkutan yang mengarah ke Pare, tiba-tiba ada suara memanggil.
“Ooo… mm…”
“Hey?”
“Nufus, Om…” jawab gadis itu segera karena saya seperti kurang responsif dalam mengenalnya, kemenakan sepupunya. Maklum, meskipun dia kemenakan sepupu, namun baru kali itu saja saya bicara dengannya.
“Katanya Om ada acara di TBI?”
“Oh, mungkin iya di lain kali. Sekarang acaranya adalah mampir-mampir dan sowan-sowan…”

Singkat cerita, dia pergi dan sehabis itu saya tertegun, kepikiran karena tidak bisa memberi santri Cukir itu rengginang goreng yang saya bawa sebagai oleh-oleh sebab sudah terlanjur dibungkus untuk guru yang akan segera kunjungi selanjutnya: Kiai Baidowi di Pare. Dalam hati saya menghibur diri, “Biarlah lain kali…”

P1000071

Naik Elf ke Pare, saya minta diturunkan di perempatan lampu merah Gedangsewu. Siang itu penumpang tak banyak. Entah karena sudah pukul setengah sebelas atau karena unsur entah yang lainnya. Saya tak banyak ngobrol dengan sopir angkutan berjuluk “Doa Ibu” di kaca depan dan berplat S-7089-UW tersebut karena capek.

Setelah tiba, saya melangkah ke arah barat ‘bangjo’, kira-kira 100-an meter. Saya masih ingat situasi di sini sebab tak banyak perubahan dibanding dengan ketika dulu saya mengaji, terutama ndalem Kiai Baidowi. Yang berubah (dan saya tahu setelah dipersilakan masuk) hanyalah gordin pintu ruang dalamnya. Langit-langit masih ‘polosan’ sehingga kayu-kayu plafonnya kelihatan. Juga begitu bagian depan dan samping, sama sederhana, persis dengan yang dulu.

Saya panggil salam. Ibu nyai yang menjawab dan saya dipersilakan duduk. Sebentar kemudian, kiai keluar. Alhamdulillah, kiai tampak sehat dan bugar sekarang setelah sebelumnya dikabarkan sakit.

“Kata seorang teman, Panjenengan sakit, Kiai.”
“Lah, iya, sudah lama itu. Entah, saya tak tahu penyakit apa, kayak-kayak vertigo begitu.”
“Sekarang alhamdulillah, Kiai?”
“Itu kayak bukan penyakit. Tak biarin saja saya bawa ngajar kitab terus. Eh, lama-lama hilang sendiri…” Kiai tersenyum lebar. Masih seperti dulu, dawuh Kiai Baidowi terdengar ceplas-ceplos.

Saya senang karena baik semasa nyantri atau pada saat sowan sebelumnya, baru kali ini saya berkesempatan duduk di ruang tamu. Meskipun beliau tampak akrab dengan cara mengingat lalu menyebut nama-nama santri beliau yang sedaerah atau dekat dengan tempat saya di Madura, saya tetap sungkan. Bahkan, saya tidak tahu siapa yang menghidangkan teh karena menunduk. Saya sungkan bukan karena begitu sepelenya oleh-oleh rengginang dan kue abon yang saya bawa hingga ia dianggap sebuah kesalahan. ‘Kesalahan’ itu adalah makin jauhnya jarak dan hubungan antara santri dan kiai sebagaimana juga dialami banyak santri di masa sibuk ‘karepe dewe’ ini.

Sebelum Kiai berangkat Jumat, saya pamit pulang. Kiai menunjukkan air muka berat karena menurut beliau pertemuan itu terlalu singkat. Saya jelaskan bahwa saya sudah cukup puas dan berterima kasih diberi rezeki duit, sehat, dan sempat untuk sowan kepada kiai. Bagi saya, sempat ini merupakan rezeki luar biasa yang dapat diibaratkan dengan rezeki online bagi orang yang selama ini Facebook-nya selalu ‘mati’ atau harus berjuang secara sembunyi-sembunyi untuk meng-aktif-kannya.

Saya naik Elf lagi dengan cara minta antar abang becak ke Pasar Baru, Pare, sebab di sanalah tempat mangkal ‘taksi’ Jombangan. Badan saya capek memang, tapi bagian lain dari diri ini seperti ada yang berubah. Ibarat ponsel, sinyal dan baterai saya kini bertambah.
Taksi ini (plat nomor saya rahasiakan) berangkat pukul 12 lewat sedikit. Setelah baru saja mengalami situasi batin penuh sensasi, kali ini saya sebel sekali. Saya kesal sama sopirnya. Bukan lantaran dia tidak Jumatan sebab saya tak tahu kebiasaannya, biasa melakukan atau tidak, bahkan saya jamin Anda pun akan sebel kalau saat itu menjadi saya, duduk di jok depan dan bersisian dengannya. Bau ketek-nya itu, lho, pahit mencekam. Jendela yang dibuka habis membuat baunya menyerang sembarangan. Rasanya, hidung saya mancung mendadak di siang situ. Saya segera pejam mata untuk menghindari kecutnya: sebuah upaya ‘sinestesia’ yang berhasil. Entah berapa lama saya ‘pingsan’ hingga melek dan baru sampai di Diwek saya siuman.

Mobil mencapai pintu lintasan kereta api dekat Stasiun Jombang pada saat Kereta Logawa lewat. Kami tertahan ketika di depan sana tampak PO Jaya—bisnya orang Ponorogo—melintas. Biarlah, saya ikut yang berikut.

Ketika hendak turun, sopir berkata saat dari kaca tengah mobilnya ia melihat ‘ada yang datang’. “Ini ada bis Restu Ponorogoan di belakang”, katanya pada saya. Syukurlah, saya sampaikan terima kasih, turun, dan melambai tangan. Bis sein kiri dan tahu-tahu posisi saya sudah lurus dengan pintu belakangnya yang telah terbuka. Saya naik.

Bis berjalan. Kondektur mendekat. “Coret Ponorogo!” kata saya. Uang 25.000 dan sehelai karcis pun saling berpindah tangan. Saya amati, daftar nama tempat/kota di karcis ini hanya ada 5: Surabaya, Jombang, Nganjuk, Madiun, Ponorogo. Loh, saya menabur pandangan; ke lantai, ke plafon, ke kursi, juga ke arah lainnya. Apa ini PATAS? Saya baru sadar.

Terasa, AC-nya tidak membuat sejuk, hanya berfungsi tidak membuat badan terlalu gerah. Joknya dua-dua, berarti jumlah semua ada 43, tapi kok rapat sekali jarak antarkursinya? Pertanyan demi pertanyaan keluar sendiri dari dalam kepala karena ini adalah sejenis keganjilan. Saya pun mengkonfirmasi situasi kabin kepada Koh Hari. Dan puncak keganjilan itu adalah bahwa nama PO yang tertera di tiket adalah Cendana, bukan Restu. Loh, kok iso? Apakah Cendana ini bekas Restu atau Restu sudah diakuisisi Cendana? Atau, apakah saya salah terima karcis atau saya sedang ngelindur?

P1000074

Ketika bis masuk ke sebuah SPBU di daerah Nganjuk, saya turun tapi bukan untuk pipis sebagaimana penumpang lain, melainkan untuk memastikan benar-tidaknya mata dan kenyataan. Saya lihat gambar panda dan nama PO-nya; benar, nyata! Di as-roda belakang, terpahat tulisan ‘UD’; benar, ini Nissan CB, berarti ini ‘montor lawas’ tampilan baru. Saya cermati, ternyata bis ini memang bergambar panda yang karenanya sopir elf tadi itu mengidentifikasinya dengan Restu. Yang membedakan, panda-nya Cendana dan panda-nya Restu adalah spesiesnya; juga gaya dan lokasinya, antara tidur-tiduran di rerumputan dan rumpun bambu sebagaimana umumnya. Saya pun tertawa. Hari ini, saya gagal menerima hadiah dari Koh Hari. Teka-teki ‘serupa tapi tak sama’ memang terjawab namun masa berlaku undian sudah tidak berlaku. Saya mengaku kalah.

P1000077

Pukul 15.25, Cendana masuk Madiun. Saya bergeser, maju, duduk di belakang sopir untuk memastikan dasbor dan juga pemandangan jalan. Pukul 16.02, tibalah saya di Madiun, langsung disambut tukang ojek dengan pertanyaan ‘templet’ dan seolah otomatis: “Mau ke mana, Mas?”
“Nggak tahu, Pak!” jawab saya sepolos-polosnya.
“Loh, kok?”
“Sama teman, saya diminta agar turun di sini dan katanya akan ada seseorang yang menjemput. Sebab itu saya turun di sini namun saya sendiri tidak tahu nama dusun atau lokasi bahkan di mana arah tempat yang bakal saya tuju…”

Tukang ojek melongo.

Iklan

5 thoughts on “Ke Ponorogo, Nyangkut di Jombang dan Pare

    • Tulisan-tulisan Panjenengan yang pernah saya baca, selalu menyenangkan. Tentu kare hikmahnya yang banyak. Saya bersyukur dalam hidup mengenal orang-orang saleh, termasuk Panjenengan, yang berkenan memberi sebanyak-banyak pengalaman berharga. Semoga Allah memudahkan semua urusan Panjenengan. Amin.

  1. “Jika kita mudah tersinggung ketika mendidik anak atau oleh sikap orang lain, baiknya berpikir ulang, siapa tahu itu disebabkan kita terlalu tinggi menghargai diri kita.”

    Assalamu alaikum.. salam kenal… nDerek bingah maos tulisanipun jenengan, Sederhana nanging enak dipun waos.

    wahyuea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s