Caper Jamnas 2013 Etape III: Bandung-Sumedang-Surabaya

Karena Pantura Tak Dapat Diterka (09-10 Juni 2013)

PUKUL 13.00 lebih sedikit, saya tak ingat pastinya, rombongan para peserta Jambore Nasional Bismania Community meninggalkan Bumi Perkemahan Kiara Payung, turun ke Jatinangor. Rombongan Jakarta dengan Laks dan Blue Star; Banten dengan Cipaganti; Solo WY Transport; Jateng dengan Zentrum Matic; (Jogja Karya Jasa SR-1 berangkat duluan) Bandung dengan Jasa Karunia; Cikapur dengan sebuah bismini; serta beberapa mobil yang lain. Mereka semua ‘turun gunung’ secara berkonvoi untuk selanjutnya berpadu, menyatu di Jatinangor, bersama bis Jatimers, Madu Kismo Scorpion King yang tidak bisa naik ke lokasi karena ada pasar tumpah ke jalan masuk.

Dari titik itu, rombongan kemudian berpencar. Tiga bis yang berangkat bersama-sama adalah rombongan Solo, Jateng, dan kami, Jawa Timur. Tiga bis ini turut mengharu-biru, meramaikan jalan Cibaduyut yang sempit. Grutty, sebuah gerai sepatu/tas yang lumayan besar merupakan tempat yang dituju.

Siang itu, toko yang menyediakan parkir untuk bis ini lumayan ramai. Namun, saya dan beberapa teman yang lain, membeli buah tangan khas Cibaduyut, seperti alas kaki dan penganan, bukanlah di sana. Kami berpencar untuk mencari buah tangan di toko-toko kecil. Harga lebih terjangkau adalah alasannya, sekurang-kurangnya itu bagi saya.

“Kami jatah 45 menit untuk belanja dan makan siang, ya!” kata Gio kepada kami. Tak satu pun ada yang menjawab. Rekan-rekan ngeloyor pergi dan seolah sudah paham kalau kami akan datang terlambat.

Kami belanja segala macam, antara lain, sepatu, juga pisang bolen Kartika Sari yang terkenal dan konon hanya ada di sana. Ada pula yang belanja peuyeum dan penganan lainnya. Saya beli sandal untuk istri dan sepatu untuk anak. Ya, dilayak-layakkanlah dengan teman yang lain. Tentu, ini terlalu buruk untuk dihargai sebagai balasan atas waktu yang telah mereka lalui tanpa kehadiran saya di rumah. Ya, saya ikut gaya yang lumrah saja.

Bersamaan dengan itu, melalui SMS, istri saya mengingatkan bahwa besok siang, pukul 13.00 ada undangan doa bersama alias tahlil untuk peringatan 40 hari Kiai Ali Ridha yang lokasinya berjarak 30-an kilometer dari rumah. Kepadanya saya pastikan, jika jadwal berjalan dengan mulus, maka sekitar Subuh kami sudah mendarat di Bungurasih dan saya bisa langsung pulang naik AKAS. Melalui hitung-hitungan, mestinya saya nutut mengikuti acara itu sebagaimana beberapa kali sebelumnya saya mengalaminya: jam mepet. Saya sudah hitung semuanya dengan matang (sebagaimana perjalanan pulang dari Kebumen atau waktu perjalanan pergi ke Malang).

Saya paham belakangan. Rupanya, dari arah kami bertolak tadi (Jatinangor), kami telah pergi ke arah bukan-jalan-pulang. Terbukti, setelah kembali dari jalan-jalan di Cibaduyut dan bis mulai berjalan lagi, saya melihat tanda-tanda bangunan yang sudah saya lihat sebelumnya. Ah, ini arah jalan yang sama.

“Loh, kita ini kembali, tho, Mas?” tanya saya pada Mas Reza Leksmana yang konon punya pengalaman kerap berkunjung ke Bandung di masa mudanya.
“Iya, kita nanti akan lewat di Jatinangor lagi..”
“Walah…”

Betul apa dikata. Ternyata, Madu Kismo K-1428-AD yang kami naiki ini kembali melewati kampus ITB Jatinangor. Entah ke arah mana menuju, saya tidak tahu sebab ini adalah pengalaman pertama naik bis dalam kota Bandung. Berdasarkan info yang saya peroleh, kami akan begerak menuju lintasan Pantura via Sumedang untuk selanjutnya ke arah timur, mengarah ke Surabaya.

Sekarang pukul 15.59: saya lirik jam digital di ponsel ini. Astaga, tiga jam rupanya telah dihabiskan untuk muter-muter Jatinangor-Cibaduyut-Jatinangor. Bandung tak semacet Jakarta buat jalan-jalan, namun jika ingat seorang teman Jatimers semula bilang, “target kami, maksimal pukul 5 Subuh sudah di Bungur”, kenapa tak segera pulang saja sehabis penutupan jamnas? Saya reka dan saya terka jawabannya: datang menjelang pukul 7 pagi dan putar balik ke Surabaya pada pukul 13.00 tentu terlalu capek bagi mereka, butuh hiburan dengan berjalan-jalan keliling kota.

Mulailah saya cemas. Besok undangan. Jadwal tidak seperti dugaan. Sesungguhnya saya masih dalam situasi aman andai nanti di Pantura tidak ada macet. Bandung-Surabaya itu berkisar 13-14 jam, namun tahu sendiri, kan? Selain jodoh, rezeki, dan ajal, yang juga tak bisa ditebak itu adalah Pantura.

Dalam perjalanan pulang di siang menjelang sore itu, saya turut serta bersama rombongan BMC Korwil Jawa Timur setelah sebelumnya, Sabtu kemarin, saya pergi sendirian dari Madura (via Jogja dengan Bandung Express). Saya dapat jatah bangku belakang. Berasa aneh, jalan pelan saja, pentalan per RK8 begitu terasa keras saat melintasi gundukan jalan. Setelah bis mencapai aspal Pantura, rencananya saya akan pindah ke tengah. Saya merasa heran, padahal berkali-kali naik RK8, saya rasakan empuk begitu-begitu saja. Oh, lupa: saya ingat sekarang! Kesan ini mungkin dampak dari sensasi air suspension 1836-nya Marissa Holiday yang nempel di pantat tak kunjung reda 🙂 waktu kemarin saya “numpang icip-icip” dari pool Kramat djati ke Kiara Payung.

Bis berjalan sedang, bahkan cenderung lambat karena jalan relatif padat. Saat itu, saya amati dari belakang, kursi baris kedua dari depan hanya terisi seorang saja. Saya berbisik pada Cak Hady dan Doni, “Baris kedua nggak ada orangnya?”
“Ndak ada, cuma satu.”

Saya pun maju. Eh, nyampe kursi baris kedua, malah Fredy, yang semula duduk di kursi tepat belakang sopir, justru mundur ke belakang. Gerakan ini bagi saya dipahami semacam ‘sein kiri’ agar saya mengeblongnya, menggantikan posisinya. Cihuy, saya senang sekali.
“Nanti, ya, di Pantura Anda boleh duduki kursi Anda ini kembali.”
“O, santai saja. Biar di situ, saya di belakang saja.”
Akhirnya, saya pun berduet dengan Sugeng, menjadi teman duduknya di belakang sopir, kursi baris pertama.

Ini penting ditulis. Keindahan Bandung itu, setelah beberapa kali saya ke sana, baru saja saya sadari. Gugusan gunung di kejauhan seolah bersaling-silang satu sama lain. Lebih-lebih di sore itu, panoramanya adalah pameran warna karena efek jarak juga permainan cahaya matahari dari jumantara yang sebagian ditapis awan dan tersorot langsung pada bagian yang lain. Tak ada alasan untuk tidak berdecak kagum. Inilah yang mungkin membuat Bandung menjadi cantik tanpa kosmetik.

Photo0531

Berikutnya, pada tanjakan-tanjakan yang mengular, lembah curamnya begitu mempesona. Ruas jalan yang lebar di sekitar area Cadas Pangeran rupanya ditopang oleh bantuan dan kekuatan cor. Jadinya, jalan yang kami lalui itu seolah-olah ditempelkan bagi saja, bagaikan sabuk di pinggang gunung.

Sempat terlintas dalam benak saya: ingin rasanya sejenak parkir di situ bersama belahan jiwa. Lalu, terbayang tangan kami yang saling menggamit, menunjuk ke arah kejauhan, mungkin menunjuk burung yang terbang rendah. Angin sejuk menerpa wajah. Andaikan saya bisa seperti itu. Ah, lamunan. Masa remaja saya begitu kaku. Kemesraan yang terandaikan tersebut hanya saya tonton dalam video klip Ratih Purwasih dan Obbie Messakh.

Photo0535

17.56: adzan Maghrib berkumandang di Padanaan. Tak lama setelah mencapai Masjid Nyalindung, warna langit semakin murung. Liak-liuk jalan kini menurun. Pemandangan lembah dan ngarai di sisi kiri, ornamen senja; lembayung cahaya, melengkapi sore itu hingga makin sempurna saja mahakarya Sang Pencipta. Lantas, matahari pun tenggelam, mungkin dalam sebuah danau raksasa di balik Gunung Tampomas. Demikianlah, malam telah datang. Lampu-lampu berpendar, manusia berjuang melawan gelap dengan cahaya.

Photo0536

Entah apa yang diomongkan Wayan kepada Pak Tarsis, sopir kami, tiba-tiba bis mampir di RM Kabita. Letaknya di daerah Tomo (masa’ Tomo, sih, namanya? Ini berdasarkan ‘cell info’). Diumumkan bahwa kami akan parkir 15 menitan. Itu cukup buat kami untuk menyelesaikan kewajiban Maghrib-Isya; cukup pula bagi yang ingin pilih-pilih penganan buat oleh-oleh, terutama tahu.

Photo0540

Teman-teman pada beli tahu Sumedang, rame-rame. Mereka membeli tahu itu di sini meskipun penganan serupa juga terkadang diasongkan di Terminal Purabaya Surabaya barangkali karena pertimbangan “ori”-nya. Tahu Sumedang di Sumedang itu sama artinya dengan Setra buatan Jerman yang ada di Jerman, berbanding dengan Setra yang “asli tapi lokalan” Ungaran atau Malang. Soal rasa, entah, saya tidak nimbrung untuk mencicipinya.

Dari Tomo, kami berangkat lagi, mengarah ke timur laut. Jalan mulai datar dan lapang, tidak naik-turun. Tak lama setelah itu, dijumpai sebuah kota kecil, Kadipaten (Majalengka). Saya beranggapan, Cirebon lebih dekat sekarang daripada arah ke Bandung. Jelas anggapan saya benar karena tak lama berikutnya, pukul 19.17, kami sudah masuk Jatiwangi, kira-kira seperjalanan 30 menitan dari pemberhentian tadi.

Empat jam lamanya perjalanan kami, dari Jatinangor via Sumedang dan kini tiba di Palimanan, pukul 20.00. Tentu, ini waktu tempuh terbilang molor dibandingkan saat rombongan Jatimer ini melewatinya tadi pagi sebelum Subuh. Jalanan padat merayap jelas tak ada, tidak seperti sekarang ini.

Malam Senin di Pantura, ruwetnya tanya sendiri pada para komuter yang malang-melintang di sana. Mobil-mobil, truk bermuatan berat, bis, menyesaki jalan. Namun, dari arah Jakarta ke timur, kala itu arus lalu lintas relatif lancar. Hal ini disebabkan karena waktu itu, mungkin, berada di luar perjalanan bis malam. Pemberangkatan pagi-siang dari Pulo Gadung mestinya sudah lewat. Sementara yang berjatah sore-malam dari Rawamangun, tentu baru saja berangkat. Kami hanya menyalip Akas Asri Jakarta-Jember menjelang pertigaan Pejagan-Purwokerto. Ada juga bis lain semacam Sahabat dan Tunggal Dara, Langsung Jaya; juga didahului Lorena Skyliner yang melenggang agak terburu-buru.

Sementara di ruas sisi kanan, beberapa titik macet mulai tampak, tidak panjang memang, atau belum panjang mengular. Bis-bis bagus banyak sekali yang terjepit dalam antrian. Satu-dua terperangkap, ada pula yang saya pergoki buka jalur, seperti Bejeu dan Shnatika.

Pak Sis rasanya terlalu trengginas sebagai sopir bis pariwisata. Heran, kan, jika bis pariwisata bersaing dengan bis-bis malam dalam hal kecepatan? Kalaupun dia pernah menjalani tugas sebagai sopir bis malam, tentu ada semacam aturan, baik tertulis atau tidak, bahwa mengemudikan bis pariwisata itu cenderung lebih pelan/halus daripada bis trayek reguler. Kiranya, pak sopir ini bukannya tidak tahu. Ia begitu justru karena dia tahu: siapa penumpangnya.

Purwo Widodo tiba-tiba blong kiri dan memimpin kami masuk Alas Roban. Ini sudah pukul 23.55 dan bis tidak berhenti juga. Kami tak butuh Purwo Widodo, kami tak butuh memburu lainnya. Yang kami butuhkan adalah RM. Kurnia Jatim. “Capai tempat itu sesingkat-singkatnya, itu intinya!” demikianlah perintah dari dalam perut saya. Soal Anda akan menyebutnya makan malam kepagian atau sahur kesorean, terserah, bukan urusan.

(Sebetulnya catatan perjalanan ini diniatkan sampai di sini saja karena saya capek nulis pakai ponsel dan juga belum makan, mana batere sudah drop, namun karena setelah makan jempol bergairah lagi, ya, dilanjut lagi, sedikit lagi).

Setelah makan di RM. Kurnia Jawa Timur, Kendal, kami tak segera berangkat, nunggu Pak Sopir bangun. Dia memanfaatkan jeda sejenak untuk rehat. Engkel dari Bandung jelas minta ampun capeknya. Hingga tempat ini, dua belas jam sudah dia duduk di belakang kemudi sejak siang tadi meskipun itu tidak dilakukannya terus-menerus.

Setelah menurunkan Mas Indra dan anaknya yang masih berusia 6 tahunan di Pati, kami melaju lagi. Antara tidur dan jaga, saya dengar adzan Subuh berkumandang di kejauhan. Saya ingat, Madu Kismo tiba-tiba masuk ke jalan kecil di daerah Clangapan (Rembang), lewat jalan kolektor, agak sempit, lalu ambil kiri di pertigaan Pamotan. Ini bukan rute biasa. Kami berhenti untuk shalat Subuh di Masjid Attaqwa, sebuah masjid di Kedungmumbul, kecamatan Sedan.

Menurut Novery Arif (yang ternyata memang warga setempat), tempat ini populer disebut “Mbedog”. Usai shalat, sempat melintas 1 Pahala Kencana dan 2 Madu Kismo.
“Yakin, Tambakboyo macet parah,” komentar Wayan. “Ini bis-bis pada lewat di sini.” Kini saya yakin, acara pukul 13.00 itu tak mungkin terkejar lagi. Dan kini saya tahu, macet di mana-mana itu adalah karena hari Senin ini adalah hari aktif pertama setelah libur panjang.

Photo0542

Bis berangkat lagi, lewat Karas, menuju Sale, wilayah administratif Rembang paling pojok, paling timur, paling selatan. Rupanya, si Novery itu orang sini. Dia turun dan kami melanjutkan perjalanan lewat jalan alternatif, melintasi Jatirogo (Tuban), nembus Bangilan, Singgahan, Parengan, dan tiba di Bojonegoro pukul 7 pagi saat jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang pergi ke sawah, ke kantor, juga ke sekolah.

Saya sudah capek karena dengan pertimbangan mantep bahwa saya diperkirakan tiba di rumah maksimal pukul 12.00, ternyata melenceng juga. Sementara pukul 09.30-an saya baru saja turun di titik putar balik akses jalan tol Demak. Macet luar biasa. Antrian kendaraan tanpa jeda, bahkan saya pun turun di tengah-tengah kemacetan saat Madu Kismo terjepit, tak bisa jalan.

Sambil berpikir keras, bagaimana cara agar saya bisa mencapai akses Suramadu secepat mungkin atau bahkan Tangkel di Burneh jika mungkin, saya berkirim SMS kepada adik, Akhon, dan Faiq: tiga orang inilah yang paling mungkin diandalkan untuk diminta pertolongan menyelesaikan masalah dalam waktu serbamepet ini. Ternyata, respon cepat datang dari Faiq, dan sungguh kebetulan sekali dia memang mau ke Madura bersama seorang juragan percetakan sebagai pengemudi mobilnya.

“Alhamdulillaah…” kata saya sambil meyeruput kopi di warung semi permanen, tak jauh dari pos polisi. Faiq bilang akan menjemput saya ke tempat lokasi. Harapan masih tergantung meskipun sepertinya sudah gagal. Saya menunggu kejutan.

Karena sudah lewat pukul 11 siang lebih, dan lama sekali saya menunggu, saya harus meninggalkan warung karena kopinya memang sudah habis sejak tadi. Cerita punya cerita, setelah Faiq datang dan saya masuk ke kabin mobil putih itu dalam keadaan sukacita dalam kecewa, Faiq menyampaikan mengapa ia lambat adalah karena: “Surabaya macet di mana-mana. Hujan deras pula, sebagian jalan tergenang banjir.”
Akhirnya, kami berjalan dengan tenang di bawah guyuran hujan yang turun sepanjang jalan: Tanah Merah, Blega, Sampang, dan seterusnya… Siang itu, nasib saya seperti pepatah; ‘macet tak dapat ditolak, tahlil tak dapat diraih’.

Iklan

4 thoughts on “Caper Jamnas 2013 Etape III: Bandung-Sumedang-Surabaya

  1. rombongan dari jatim gak sempet naek ke venue acara ya keh? kebayang tuh lelahnya crew bus dan para penumpang. baru sampe pagi, siangnya puter walik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s