Caper Jamnas 2013 Etape II: Jogjakarta-Bandung

Beauty and the Bus (7-8 Juni 2013)

Bukan hanya saya, tapi mungkin juga Anda, akan selalu bertanya pada saat hendak naik bis untuk suatu perjalanan jauh, “Siapakah teman duduk kita dalam perjalanan nanti?”. Bagi saya yang selama ini mengenal jarak dan waktu tempuh bis malam itu selalu identik dengan perjalanan 20-22 jam (Sumenep ke Jakarta), sangat rasional bila berharap, “Berilah hamba teman duduk yang baik”. Bagaimana pun, teman duduk kita sangat penting perannya dalam nilai sebuah perjalanan, senang atau bosannya.

Cerita punya cerita, di dalam bis AKAP yang punya trayek terjauh, seperti ALS atau PMTOH ke ujung Sumatra, Rasa Sayang atau Titian Mas ke Sumbawa, seorang teman duduk bahkan bisa menjadi sanak kerabat mendadak. Ini disebabkan oleh karena perjalanan yang begitu lama, 3 bahkan 4 hari perjalanan. Betapa tersiksa jika dalam perjalanan itu kita ditakdirkan harus bersama orang yang menyebalkan, misalnya, berisik atau selalu menelpon atau sebaliknya, cuek bebek dan songong, atau biasa-biasa saja pembawaannya namun bau, mau? Semua jenis teman duduk seperti disebutkan ini sudah pernah saya alami.

Sore itu, dalam persiapan perjalanan menuju Bandung, tertera jadwal pemberangkatan di tiket: pukul 17.00. Saya datang 30 menit lebih awal. Lewat seperempat dari pukul 5 sore, barulah bis datang. Belum lagi saya bertanya ‘yang ini atau bukan’, eh, mbak petugas agen Jembatan Gondolayu Jogjakarta itu melambaikan tangan seperti dada-dada.

“Bukan yang ini, Pak. Yang bapak AC, kan ? Ini ekonomi non-AC.”

Dalam hati terbersit, sungguh pun saya rela naik bumel asal segera berangkat daripada menunggu yang executive tapi serasa “Menunggu Godot”.

Hari sudah Maghrib. Awan merah mengecat langit Jogja dengan teja. Sisa berkas cahayanya tersisa pada puncak ancala Merapi yang menjulang dalam tenang namun kekar menyimpan bara. Saya menghampiri dua rekan pengantar, Naufil dan Faqih, merasa tak nyaman karena terlalu lama menunggu.

“Silakan kalau mau pulang. Saya khawatir kalian kemaleman kalau harus nunggu. Ini sudah Maghrib,”
“Nggak apa-apa,” kata mereka. “Waktu Maghrib masih leluasa.”
“Yuk, kita ke angkringan!”

P1000906

Ada angkringan di bahu Kali Code alias Jembatan Gondolayu, sisi barat. Tepat betul posisinya. Seolah-olah, angkringan ini menjadi bagian dari layanan kios tiket bagi calon penumpang agar tak bosan di saat menunggu. Kami segera duduk di sana dan   berbincang hal-hal yang tidak begitu penting.

Segelas teh dan beberapa gorengan sudah habis. Bis tak datang juga. Cari mushalla, orang yang ada di situ pun bahkan mengaku tak tahu. Pergi ke Masjid Syuhada rasanya terlalu jauh. Untunglah, petugas agen merpersilakan saya bershalat di ruang kerjanya yang sempit. Ia paham pada gelagat saya saat bertanya padanya: “di mana mushalla?”. Dan di rakaat terakhir sebelum salam, saya mendengar bunyi mesin mendekat.

P1000908

Semua penumpang sudah naik. Saya izin pamit pada teman berdua. Pukul 18.02, Bandung Express membawa kami pergi. Bis bernomor polisi D-7743-AB dan bermodel travego lama ini tampak kusam dari luar namun ternyata terasa nyaman saat masuk ke dalam. Lega, itu kesan yang saya rasa saat duduk di kursi nomor 1-D, persis belakang bangku sopir. Sayangnya, tak adanya sekat antara penumpang dengan sandaran jok sopir, selonjoran kaki menjadi kurang enak rasanya.

“Bandrex”, begitu kita sebut “Bandung Express” ini supaya praktis. Ia membutuhkan waktu 22 menit untuk mencapai Gamping, jalan lingkar barat Jogjakarta. Waktu tempuh ini menjadi pertanda bahwa perjalanan agak tersendat di Jumat malam itu. Jogja jadi kurang menyenangkan sekarang, terutama bagi mereka yang pernah merasakan suasana jarang kendaraan di masa dulu, seperti awal tahun 90-an.

Dalam perjalanan menuju Wates, mulailah saya tahu kalau ada yang kurang beres pada percepatan bis ini, pada gerigi transmisi atau kopling kurang stud, entahlah. Setiap kali sopir menurunkan persneling ke gigi yang lebih rendah, butuh berkali-kali usaha untuk mengeksekusinya. Kasihan saya melihatnya. Karena itu, terkadang bis dipaksa melaju dengan, misalnya, gigi 4 padahal situasi jalan dan derum mesin menuntut gigi 3 atau bahkan 2.

Wates: 19.00

Didahului oleh klakson tiga trumpet sebagai ciri khasnya, telolet-telolet-telolet, patas Efisiensi menyalip kami begitu dingin. Sebagai raja kecil di lintasan selatan Jawa Tengah yang hapal medan dan daerah kekuasaan, ditopang armada serbabaru, “Efi” memperlakukan kami bagai mobil pribadi yang sedang pergi piknik, tidak terburu-buru dan santai saja. Ia melaju lalu hilang tersebab jarak pandang.

Suasana kabin begitu tenang; tidak ada berisik, tidak ada gemelodak. Sesekali terdengar lenguh mesin belakang yang merembes hingga depan saat pedal gas diinjak lebih dalam. Tidak ada musik atau hiburan lain dimainkan. Hiburan saya adalah percakapan antara kernet dengan sopir, mengandung ‘iraha’ dan kumaha’ dan ‘kabarna’, begitu-begitu saja.

Duduk di sebelah saya, seorang gadis muda belia. Rambutnya sebahu. Jaket blue jeans yang dikenakannya menegaskan kesan tertentu. Tidak sempat saya perhatikan roman mukanya karena tadi, pada saat tadi dia duduk, saya merapikan tas dalam posisi sedang menunduk.

Oh, ini dia rupanya si teman duduk saya! Duabelas jam ke depan dia akan jadi teman bicara saya, menjadi ganti bagi buku yang tak dapat dibaca karena gelap; menjadi ganti bagi nada-nada yang tidak bisa didengarkan karena tak ada audioplayer. Bagaimana cara memulai pembicaraan? Saya kikuk pada pengalaman pertama; naik bis malam dan berjatah teman duduk seorang perempuan. Meskipun akhirnya saya tahu, kursi nomor 1-C itu juga bukan maunya.

“Mas!” katanya pada kernet yang sedang merokok, duduk bersandar di kursi CB, dekat pintu, “Kalau pindah ke kursi tengah, bisa nggak?”

Kernet menjawab dengan serangkaian kalimat yang tidak saya ingat. Tapi kata kuncinya adalah “kita lihat saja nanti, di agen berikutnya”, begitu kira-kira. Intinya, gadis ini barangkali tak siap duduk di kursi terdepan karena silau pada lampu kendaraan lawan arah atau enggan duduk bersebelah dengan lelaki ‘non-muhrim’ yang terlarang oleh syariah.

Menjelajahi jalur selatan Pulau Jawa malam ini bukanlah pengalaman baru bagi saya. Namun, karena pengalaman pertama atau sebelumnya telah terjadi lama sekali (tahun 2001 silam dari arah Bandung ke Jogja; tahun 1999 dengan Putra Remaja tapi lewat jalur tengah, keluar di Brebes), juga setahun lalu dari Jogja ke Sruweng (Kebumen), saya tidak bisa menulis catatan dengan rinci kecuali hanya sebatas laporan pandangan mata, lebih-lebih karena semua perjalanan itu dilakukan pada malam hari. Yang saya tahu, jalan sedikit sempit jelas sekali saya rasakan bedanya dengan lintasan Jogja-Surabaya.

20.17

Bandung Express memasuki area Purworejo lalu berhenti di sebuah agen (kalau tak salah di dalam terminal). Beberapa penjaja makanan masuk. Saya membeli arem-arem sebagai pengganjal perut. Berdasarkan informasi dari Wiwid, warga Kebumen yang saya kenal, Bandrex nanti bakal mampir di RM. Lestari, di Karanganyar, untuk makan malam. Informasi ini diketahui tadi saat baru berangkat ketika saya berkirim pesan padanya, mengabarkan perjalanan lintas selatan dengan permakluman tanpa bisa singgah seperti tahun lalu.

Teman duduk tidak tidur. Dia duduk mematung. Saya pun sama, melihat mobilitas kendaraan di jalan raya yang meriah, namun kami tetap berteguh pendirian untuk tidak saling menyapa. Bukannya tak pernah menghibur diri dengan musik lewat headset sebagai teman di perjalanan, saya hanya kurang suka itu. Bagi saya, mendengarkan musik merupakan suatu pekerjaan yang menuntut situasi tenang, dan adapun perjalanan adalah situasi lain yang harus dinikmati sebagai perjalanan itu sendiri; ngeblong dan macetnya; senang dan bosannya. Mereka yang tidak bersiap untuk menikmati perjalanan sejak dari berangkat akan merasakan seperti orang kebanyakan; bosan dan capek.

Bahkan hingga bis mencapai Kutowinangun, yang secara administratif berada di wilayah Kebumen, pada saat jam digital menunjukkan pukul 20.53, kami masih sama-sama memilih diam sebagai cara terbaik menikmati perjalanan.

Astaga!

Terasa ada yang tidak beres pada perut. Apakah ini efek arem-arem hampir basi yang saya makan barusan? Celakanya, kepekaan kuliner saya tergolong buruk. Makanan lama dan makanan baru sulit dibedakan. Hanya ‘enak’ dan ‘enak sekali’ standar penilaian yang saya miliki. Rasa mules dan mual mulai mengganggu.

Kota Kebumen, pukul 21.12, Bandung Express masuk kota. Kenek turun menemui petugas agen setempat. Tampaknya, ini agen terakhir. Saya tidak ingat, ada atau tidak penumpang yang naik dari situ.

Pas, pukul 21.30, kami masuk sebuah rumah makan besar dengan areal parkir nan luas. Inikah RM. Lestari itu? Saya memanggil-manggil ingatan 12 tahun yang lalu. Ya, naga-naganya, dulu kami berhenti di sini, waktu perjalanan pulang berpariwisata dari Jakarta via Bandung. Atau, mungkin pernah pula saya singgah di kesempatan lainnya, seperti saat numpang Putra Remaja? Entahlah.

“Sdh sampai mana?”
“Nah ini pas masuk ke RM.”

Begitulah pesan Wiwid yang masuk ke inbox, persis ketika bis baru saja parkir. Saya turun, menggeliat, mengendurkan urat-urat, memandang alam sekitar dengan cahaya mata yang lamur karena dilurup tidur. Saya rogoh kamera saku untuk mengambil gambar demi melengkapi ilustrasi dan data catatan perjalanan. Begilah cara saya. Andai pun nanti hasil foto kurang bagus, saya masih bisa mengambil informasi data waktu dari gambar tersebut.

Namun, mendadak terdengar suara dari jarak dekat sekali. Saya terkejut.

P1000910

“Eh… sibuk foto-foto, ya!”
Saya menoleh, ternyata ada Wiwid dan istrinya.
“Wah, astaga! Kamu?!”

Kami pun bersalaman dan tertawa. Ia benar-benar membuat kejutan karena sebelumnya bilang mau nonton bola di rumah, eh, ternyata dia menunggu saya di rumah makan itu, menempuh perjalanan bersepeda motor 12 kilometer jauhnya.

Teman sebangku entah di mana. Teman satu bis banyak yang makan. Saya sendiri, jangankan makan, ngopi saja gagal. Mules ini tak bisa ditahan. Masuk toilet agak lama membuat jatah waktu semakin tipis untuk bercengkerama. Wiwid masih menunggu, tapi saya bingung mau ngapa-ngapain lagi. Waktunya sudah mepet. Jatah waktu istirahat bis malan semacam ini hanya berkisar 30 menit atau kurang. Nah, mana mungkin saya masih mau makan sementara bertemu dan berbincang dengan teman kali ini jarang terjadi dan tentu lebih menyenangkan?

Bincang-bincang pun berakhir. Saya masuk ke kabin dan tak lama kemudian, pukul 22.02, bis berjalan lagi. Kini, saatnya saya menyiapkan diri untuk benar-benar istirahat. Acara Jambore Bismania di Kiara Payung pasti membutuhkan tubuh bugar, lebih-lebih bagi saya yang punya tugas meluncurkan buku catatan perjalanan saya, “Beauty and the Bus”, pada sesi malamnya. Sementara ini, cadangan energi sudah lumayan banyak terkuras sebab sakit perut.

Sebelum terlelap, sempat saya amati, jalan raya di jalur selatan itu ternyata tidak selebar di Pantura, juga tak semulus jalan yang sebelumnya saya andaikan. Karena sama-sama menghubungkan kota kabupaten ke kota kabupaten lainnya, sebagaimana juga menghubungkan Jogjakarta dan Bandung, bayangan saya, jalan yang akan kami lewati malam itu sama lebar dan sama bagusnya dengan jalan yang menghubungkan kota Jogjakarta dan Surabaya, tapi ternyata tidak. Saya tidak tahu, kelas jalan apa yang kami lewati ini. Muncul lagi keinginan untuk mempelajari satu hal: kelas jalan dan peruntukannya.

Saya membayangkan, bagaimana jalan raya dibangun. Andai perangkat lunak peta satelit sudah diketahui sejak dulu, barangkali jalan-jalan yang ada sekarang tak perlu banyak kelokan dan jalur memutar. Jalan dibuat lurus saja demi menghemat jarak. Namun, saya juga berpikir, perencanaan dan pembuatan jalan itu dulunya mengikuti perkembangan pusat niaga, bukan semata karena pertimbangan jarak belaka. Jika pembangunan jalan sedang membujur ke arah barat, namun pusat perekonomian atau politik ada di utara, maka bukan mustahil jalan akan dibuat melenceng ke utara lebih dulu sebelum akhirnya kembali lagi ke barat. Jadi, pembuatan jalan itu ditentukan oleh, salah satunya, kebijakan pemerintah pada masanya, bergantung pada kepentingan perekonomian dan politiknya.

Setelah merem-melek beberapa saat, akhirnya saya tertidur. Melihat sepenuhnya bentang alam Jawa Tengah yang dikenal subur tentu tidak mungkin dinikmati dalam keadaan situasi gelap yang mengungkung. Atas dasar ini pulalah yang menjadi alasan bagi mereka yang enggan bepergian di malam hari. Teman saya menganjurkan agar saya pergi siang hari saja. Namun, demi menghemat waktu, perjalanan di malam hari tetap jatuh sebagai pilihan. Hemat waktu? Ya, dengan perjalanan di malam hari kita bisa istirahat di dalam bis dan tiba di tempat tujuan langsung beraktivitas tanpa perlu tidur lagi. Seringkali perjalanan malam hari dengan harapan rehat hanya tinggal harapan saja. Kenyataannya, saya jarang tidur di atas bis karena justru merasa saat itulah momen tepat untuk menikmatinya. Perjalanan di malam hari itu memiliki sensasi tersendiri.

Bis berhenti, parkir di tepi jalan. Saya bangun dan melirik sebuah toko. “Majenang”; begitu tertera di papan plakatnya. Ini masih Jawa Tengah rupanya. Saya tidak tahu, sudah berapa menit bis berhenti di tempat yang tak jelas ini; warung makan? Apakah kru sedang ngopi? Agen?

Melihat jam menunjuk 01.00, saya bermungkin sopir dan kernet sedang istirihat meskipun saya sesaat. Mengingat bis Bandrex ini menggunakan sistem sopir engkel yang nyaris tidak masuk akal jika mampu menempuh perjalanan langsung ke Bandung secara sendirian (dalam pandangan saya), istirahat di situ cukup rasional. Pak sopir mungkin sekadar leyeh-leyeh atau merem sekejap saja.

Terlelap 30 menit, eh, sudah pukul 01.30 tapi bis masih juga tak bergerak. Semua penumpang tampak lelap. Hanya ada seseorang yang berdiri di luar, mungkin sedang merokok. Saya pun memilih untuk kembali berpejam, meneruskan tidur.

Saat saya terjaga, terasa bis sudah berjalan kembali, meliak-liuk, hingga pada titik tertentu, bahu jalan harus dilibas karena jalan sempit dan tikungan tajam berpadu. Itulah yang sempat saya rekam sekilas-sepintas saat kami melewati daerah Banjar sampai Tasikmalaya.

Titik lain yang cukup kondang di jalur ini adalah Nagrek. Sering kali nama ini dibicarakan karena tanjakan dan curam jalannya. Di bulan-bulan yang ramai, seperti lebaran dan liburan, Nagrek menjadi pusat kemacetan seperti tanjakan yang lain; Plelen di Alas Roban dan Bawen di Ungaran. Untunglah, malam itu jalanan lancar saja. Namun, bagi sopir kami, jelas dia harus bekerja ekstrakeras. Ia harus dapat menyiasati tanjakan demi tanjakan dengan gigi persneling yang bermasalah.

Bagaimana jika di tengah suatu tanjakan, dipaksa-paksa menurunkan geriginya tapi tak bisa? Ya, maka sudah pasti, gigi rendah akan disiapkan sejak dari bawah.

“Ini daerah apa, ya?” Itulah rencana pertanyaan yang akan saya ajukan pada teman duduk. Namun, mengingat masa sekarang kita begitu mudah mengenali suatu daerah berdasarkan “cell info” yang ada di layar ponsel, gagallah rencana akal-akalan itu. Lagi pula, adanya toko-toko waralaba yang berdominasi warna merah-kuning-biru sedikit membantu saya mengenali nama daerah karena nama lokasi jelas dipampang di bawah nama tokonya. Apa lagi kita ketahuan pegang GPS, pertanyaan basa-basi seperti rencana di atas itu sudah ‘nggak zaman’-nya.

Bandrex memasuk area Malangbong pada pukul 04.55. Sama sekali tak ada tanda-tanda bis akan berhenti lagi, semacam untuk istirahat, atau shalat Subuh, atau ngopi-ngopi. Saya mulai cemas. Turun di tempat itu tak menjamin saya senang karena saya sama sekali tak kenal medan bagian selatan.

Benar, bis benar-benar ‘ngeblong’ Subuh hingga terang mulai merata ke permukaan tanah. Melewati Cibulareng, pergerakan bis kami mulai pelan karena jalan mulai padat. Saya tak tahu, seberapa lama lagi kami akan mencapai pool di Jalan Cipto seperti yang disarankan Kang Iwan dan Teten Lesmana. Kabarnya, dari pool situ kami akan dijemput Bung Ivan, di-sekalian-kan bersama penjemputan Aswin, seorang kawan dari Malang.

Meraih jalan lebar dan banyak angkot di Rancaekek menandakan satu hal: Bandung tak jauh lagi. Hampir pukul 6 pagi saat kami mencapai Cileunyi, satu titik pusat pertemuan dan penghubung bagi bis-bis jalur selatan via Tasik atau ke arah Cirebon via Sumedang. Saya hanya melirik saat teman duduk bicara kepada kernet, minta diturunkan di satu spot, di Kiaracondong.

“Mas, saya turun duluan…”
“Iya,” jawab saya singkat merendahkan intonasi.

Ya, baru saat itu saya tahu persis wajah gadis berambut panjang itu. Ya, hanya kata-kata itu akhirnya yang dapat saya lontarkan selama 12 jam perjalanan ini, tidak lebih. Yang terjadi dan menguasai berikutnya adalah rasa dingin; melebihi suhu kabin yang diciptakan oleh air conditioner.

Kota Kembang bertabur gerimis pagi itu. Pukul 06.45, Bandung Express telah tiba di pool-nya, Jalan Cipto, lalu parkir mundur. Ivan mengabarkan bahwa dia dalam perjalanan bersama Aswin, baru saja menjemputnya dari ‘perbuatan curang’ naik keretaapi untuk acara Jambore (Bis)mania. Sembari menunggu, saya pun segera mencari mushalla untuk bersujud dan minta ampun atas perbuatan curang yang lain, menunaikan Subuh di waktu Dhuha.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s