Caper Jamnas 2013 Etape I: Sumenep-Jogjakarta

Tujuh Dua Lima Puluh: Damri-Eka (6-7 Juni 2013)

JIka bukan tujuan Jember, naik Damri dari Prenduan itu terasa ganjil. Sepengetahuan saya, para penumpang Damri di sini itu ‘berwawasan Jember’, wabil khusus Kalisat. Yang ke Bondowoso dan Banyuwangi tak seberapa. Malam itu, saya ikut Damri hanya karena ia kebetulan yang lewat pertama pada pukul 19.30, beberapa menit setelah saya menjejakkan kaki di stanplat itu.

Sebetulnya, keberangkatan saya malam Jumat itu termasuk ‘rencana gagal’. Bepergian di Hari Kamis, 6 Juni 2013, masih terhitung 27 Rajab, bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj, adalah hari yang baik. Namun, kalau malam Jumatnya (karena kalender lunar menghitung perubahan tanggal pada saat matahari terbenam, sudah masuk tanggal 28 Rajab), tidak ‘sip’ lagi menurut buku perjalanan saya. Makanya, saya atur rencana keberangkatan ke Bandung via selatan kali ini sebaik mungkin; Hari Kamis, 6 Juni 2013, harus Kamis sebelum malam Jumat turun.

Sore itu, mendadak datang Haji Sidqi, minta nama untuk anaknya. Disusul di belakangnya, ada Pak Sareyan yang datang membawa kayu bakar, katanya nyumbang buat persiapan haflatul imtihan alias tutup tahun pelajaran madrasah. Menerima mereka bertamu dan meladeninya bicara ini-itu membuat rencana matang pun berubah mentah. Tamu harus dihormati dan dilayani. Toh, saya dapat rezeki besar kayu bakar. Suguhan makanan baru kelar setelah adzan Maghrib berkumandang, ya, setelah masuk tanggal 28. Apa lacur, sekalian basah, ya, mandi sekali. Sekalian Maghrib, ya, ber-Isya’ sekali.

Jatah saya malam ini adalah tempat duduk di jok kiri paling belakang depan pintu. Ini bis ada AC-nya, fasilitas yang jarang ditemukan di armada-armada di sini, kecuali patas. Jarak lutut dengan jok depan tergolong manusiawi (mungkin yang ini 54 bangku), tidak seperti bis lawas bersasis pendek yang dipaksa pakai 12 deret bangku demi tercapainya target 59 tempat duduk.

“Mana?”
“Surabaya?”
“Dua tujuh…”

Saya membayar uang 30 ribu untuk ongkos 27.000 disertai rasa heran: tarip ini lebih murah 3 ribu dibandingkan biasanya. Sudah pakai AC, suspensi ‘cooler’ empuk khas Mercy, masih murah lagi. Tumben, nih, kondektur. Apa salah omong, ya? Tapi, saya lihat wajahnya “slow ae”. Uang susuk saya masukkan kantong baju tanpa perlu menghitungnya lagi.

Bis parkir di Terminal Pamekasan kira-kira sejam kemudian. Biasanya, Damri selalu penuh karena mereka punya penumpang langganan. Entah, nutup sih mungkin iya, tapi kali ini tidak begitu banyak bonusnya. Menunggu tambahan beberapa lama di terminal Ronggosukowati, namun tanpa perolehan penumpang berarti, bis bernopol M-7250-UA dengan nomor lambung 3154 ini berangkat lagi.

Jujur, perjalanan yang ini adalah ‘rencana-B’. Adapun ‘rencana A’-nya adalah “berangkat pukul 5 sore ke Surabaya, ikut bis Probolinggo-an sampai Gempol, turun di Soto Ayam Lombok, lalu nyegat ‘si Dona-Doni’ tujuan Jogja dari sana”. Perubahan rencana ini mendadak karena satu dan lain hal yang sudah dijelaskan di muka. Sayangnya, saat saya hubungi Cak No, kernet Mila, Dona-Doni tidak jadi berangkat dengan alasan yang lucu namun kasihan: selama bis perpal untuk ganti kaca depannya yang tersenggol body truk di Jombang, ban-nya dipinjam Mila Sejahtera yang lain dan hingga saat itu belum dikembalikan. Kata Cak No, “pemasukan lagi mepet, Mas.”

Perjalanan biasa tanpa sensasi membuat tidur lebih menyenangkan daripada mempelototi jalur selatan Pulau Madura yang sepi di kala malam. Lagi pula, situasi seperti ini terlalu sering saya nikmati. Tidur paksa pun berhasil ditunaikan hingga saya terbangun saat bis sudah masuk Jalan Tanjung Perak Timur (Surabaya).  Senyampang belum tiba di Bungur, melalui SMS, saya mengorek informasi keberangkatan ke Jogja kepada masternya, Koh Jumbo dan Suhu Rakhmat: baik untuk bumel ataupun jadwal patas.

Empat jam di atas Damri cukup jadi alasan untuk isi ulang cadangan tenaga di kabin warung soto Ojo Lali milik Cak Bambang (letaknya di kios dalam, nomor 2 dari barat, berhadap-hadapan dengan jalur keberangkatan). Cek jam pukul 23: 28. Astaga, baru saja hendak menyantap, tiba-tiba patas EKA yang parkirannya tampak dari warung, tiba-tiba diberangkatkan. Mau mengejar kok, ya, sayang sama soto, mau terus makan saya cemas tak dapat armada patas lagi dalam waktu cepat. Syukurlah, SMS Koh Hari menghibur saya agar makan dalam keadaan lebih tenang: patas EKA itu tersedia 24 jam.

Tak banyak polah, habis makan, rogoh uang di saku baju, langsung bayar. Saya memang terbiasa meletakkan uang untuk pembayaran langsung di situ, sementara yang lain disimpan di dompet. ATM hanya berisi nomor rekening dengan deretan angka yang sering hanya 5 digit saja, jadi ndak perlu ditunjukkan untuk pembayaran model gesekan. Saya baru sadar, ternyata tak ada karcis Damri di saku baju. Apakah terjatuh atau memang tak ada, ya? Jika begitu, kalau tadi tarifnya murah, maka saya baru tahu alasannya sekarang, pantesan.

* * *

“Mana Mas?”
“Ini kalau nyampe Duta sudah Subuh belum?”
“Oh, belum, Mas.”

Cukup paham atas penjelasan, saya langsung naik dengan niat turun Solo. Toh jika nanti jalanan macet, saya bisa turun di mana saja untuk shalat. Spot-spot masjid di jalur Surabaya-Jogja tidak repot. Mau Mantingan, Karangpilang, atau Palur, tinggal coret saja, tidak serepot soal ujian nasional.

Jatah bis kali ini adalah “patas EKA Marcondong”, demikian penjelasan Koh Hari dari SMS memberikan julukan begitu saya jelaskan identitas bis via pesan. Bermesin Hino RG, ternyata bis ini juga bernomor 7250, sama seperti nopol Damri tadi, S-7250-US tepatnya. ‘Marcondong’ adalah ‘Marcopolo odong-odong’, debutan pabrik karoseri Morogilang, begitu informasi tambahannya. “Kreatif juga, ya, orang-orang itu membuat nama,” kata saya dalam hati setelah tahu apa-mengapa di balik semua istilah ini. Tampang ‘marcopolo’-nya bis ini hasil rekayasa buatan bengkel EKA sendiri yang ada di Gilang, ‘Moro’-nya adalah kependekan ‘Morodadi Prima’ yang merupakan nama perusahaan karoseri besar di Malang.

Bis lepas landas pada pukul 23.55. Di pintu retribusi keluar, kami mengekor Sugeng Rahayu berlampu ekor (mirip) Euroliner. Ternyata, itu dia ‘Discovery’, dan ternyata lagi-lagi benar seperti kata Suhu, yang ini adalah W-7190-UY. “Barangkali, bis alternatif itu, 7033, ada di belakang EKA ini,” pikir saya seraya menaikkan sandaran kursi yang sebelumnya agak doyong ke belakang (tentang S-7033-UZ ini, ia dikisahkan dalam catatan perjalanan saya yang lain, “Tokoh Utama di Luar Cerita”, sebagai pemain figuran).

Sugeng Rahayu langsung ngejos, tapi EKA ikut meladeni. Tumben, biasanya patas agak jaim pada tarikan pertama. Penumpang dibuai dulu agar tertidur, baru nanti giliran mobil yang diayun-ayun. Baru saja Medaeng saja sudah terasa, ini bis kok rasanya beda.

Berdasarkan selusup bunyi roda yang menggelinding cepat dan masuk ke kabin, pohon-pohon bergerak cepat tampak berpapas. Itulah penanda kecepatan dari alam. Kami terlibat dalam perjalanan monoton sampai bypass Krian karena tidak ada aksi naik-turun penumpang.

Sudah 25 menit meninggalkan Bungur, tapi EKA masih berada di belakang Sumber Group itu. Rasa bosan mulai mengusik, mengalahkan kehendak lain untuk bertahan. Saya beruntung mendapatkan bangku Aldilla biru ini yang seat-nya standar patas, yakni 11 baris alias 43 kursi. Soalnya, menurut info, ada armada EKA yang menganut mazhab patas rasa bumel: 47 kursi. Cuma saya tidak tahu, armada apa saja yang seperti itu.

Jika tadi hanya mengangkut 24 orang dari Surabaya, jumlah bertambah dalam perjalanan menuju Jombang, tapi tak seberapa, satu-dua saja. Saya tidur dan entah bagaimana nasib Discovery tadi, cuma pasti ia sudah didahului; baik karena berhenti atau karena kalah adu lari. Meskipun lebih baru, di trek lurus, Hino AK itu tampaknya tidak berdaya melawan Hino RG seperti EKA ini, di jalan datar dan lurus. Soalnya, masuk Saradan, kembali saya saksikan EKA melalap Mira tanpa balas.

Saya makin heran, baru kali ini naik patas secepat bumel. Padahal, belakangan ini saya cenderung menghindari patas karena terkesan lemot. Habis itu, seberapa saat kemudian, 7182 (Sumber Group) pun disundulnya dari belakang pada pukul 02.12. Karena mata saya merem-melek, momen puitik kali ini terlewat: bagaikan melek selama 90 menit namun tertidur pada menit ke 92; pada saat gol tercipta di injury time.

Kernet membangunkan penumpang pertanda kami tiba di Rumah Makan Duta untuk servis makan, pukul 03.41. Dari situ saya sadar, patas EKA 7250 yang saya naiki ini memang andal. Hanya tiga jam 45 menit sudah sampai di Ngawi. Zaman sekarang, ini rekor bagus, namun tentu hal biasa jika dibandingkan dengan era 90-an/awal 2000-an dulu ketika jalan masih tidak begitu berisik oleh knalpot dan klakson. Untung pula ini malam Jumat. Coba malam Sabtu, jelas beda ceritanya.

Kru bis ini memang tampak gaya tergesa-gesa. Jatah makan kami pun dipangkas 10 menit lebih cepat dari biasanya, ya, kira-kira 20 menitan. Karena memang belum Subuh, waktu segitu memang cukup untuk makan dan buang air kecil. Bis kembali bergerak, seolah hendak menyusul bis sebelumnya yang berangkat tak begitu jauh berjarak.

Baru masuk kabin, berjalan beberapa saat, terdengar azan Subuh. Saya merasa tenang karena hari masih sangat gelap. Bentang alam yang sangat lapang, serlah kita memandang ke arah timur bagaimana gradasi cahaya pagi begitu indah mewarnai puncak-puncak bebukit dan gunung.

Aktivitas penduduk mulai tampak ramai di Palur. Pukul 05.12, saya menjejakkan kaki di Terminal Tirtonadi, Solo, bergegas menuju mushalla dengan testimoni kepuasan seorang pelanggan. Patas ini direkomendasikan: sajian ayunan per menjadi tidak penting dibahas keras-empuknya kalau ternyata kami dapat diantarkan dengan selamat ke tempat tujuan dalam keadaan tercepat. Patas 7250 ini seperti priyayi yang polahnya bergelagat rakyat jelata.

Terminal Solo yang baru terletak di sebelah barat terminal lama. Entah karena prosedur yang belum berlaku, aturan terminal ini mirip terminal Jogja: tidak ramah untuk penumpang yang membawa barang berjibun. Butuh jarak lumayan jauh berjalan kaki untuk berpindah kendaraan. Saya khawatir, jangan-jangan, nanti ada mal atau komplek pertokoan di terminal di mana calon penumpang harus melewatinya lebih dulu di koridor penghubung, dari retribusi ke ruang tunggu. Ini cara menggoda pembeli namun dengan paksaan berjalan kaki.

Sugeng Rahayu S-7033-UZ melintas. Saya cuek. Pilihan jatuh pada Sri Muyo livery kupu-kupu. Jam digital masih menunjukkan angka 05.35, saya hanya bersama segelintir penumpang saja saat bis ini berangkat. Bis berplat AD ini mancal dengan kekuatan Mercy OF sisa lama yang kurang terawat pada body namun mesinnya menderu, mencelupi pagi yang masih sepi dengan auman putaran mesin tempo tinggi. Sopirnya berambut rapi, potong pendek, dan tampak berhati-hati saat menyisirnya. Tapi kumisnya, masya Allah, hitam melintang, juga tebal seperti bumper tronton.

Bis dibawa melaju. Pengemudinya seolah sudah menyatu dengan pegangannya itu, sudah sangat paham bagaimana memperlakukan mesin OF ini begitu akrab. Perpindahan transmisi yang sedikit menghentak mungkin dimaksudkan untuk menopang akselerasi mesin era non-turbo.

Kami menyusuri jalanan Kartasura, 5:49; Bendo Gantungan, 06.34; dan akhirnya tiba di Janti pukul 07.00 lewat sedikit. Lalu lintas ruwet yang menyambut, membuat kesan Jogja dan ketenangannya seperti dulu tampak tidak tepat lagi dipuji. Untuk mengobati capek dan kantuk, bersama Achmad Faqih Mahfudz yang datang menjemput, saya menuju SGPC yang terkenal, sego pecel Bu Wiryo dekat Selokan Mataram / Fak.Kehutanan UGM, untuk selanjutnya ke Warung Kopi Mato sebagai acara penutup strip doa sebelum istirahat siang.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s