Naksi (Kamal-Kwanyar via Bangkalan)

untitledMenguji kesabaran: ternyata hanya bertahan 15 menit. Menunggu angkutan yang parkir hingga berangkat, saya dilanda bosan. Minibis—bismini kata orang sini—tak dihidup juga mesinnya. Ini ngetem yang sebenar-benarnya; irit solar dan ramah lingkungan. Dari semula, saya memang sudah tak yakin kalau Elf ini akan segera ‘narik’.Dan itu merupakan pertanda saya bakal berlumut dalam parkir.

Mobil Carry plat kuning melintas, saya menggubit. Sopir berhenti agak jauh dari bismini. Saya pun meninggalkan Elf dan mendekati Carry. Begitu saya mendekatinya, saya bertanya.

Photo1039

“Ke Nyiorondung?
Sopir diam sejurus lalu menjawab, “Ayo lah!”
Imbuhan ‘lah’ pada kata ‘ayo’ di atas bukan perintah, tapi aksentuasi saja, sebuah kesan jawaban yang menunjukkan sikap acuh tak acuh. Apa maksud? Dugaan saya: trayek mobil tersebut sebetulnya tak sampai ke Nyiorondung, mungkin sampai Bangkalan atau sampai Burneh. Tapi demi saya—ini menurut penafsiran saya, lho—pak sopir siap mengantarkan saya ke sana.

Hanya ada saya di jok belakang, seorang mahasiswi di tengah, dan dua orang di jok depan; seorang ayah dan anaknya. Mobil bergerak lalu berjalan pelan sekali. Saya buka kaca geser mobil lebar-lebar, bening tanpa filem. Angin siang yang panas masuk, gratis, tak perlu freon dan energi listrik.

Tanah lapang membentang di sepanjang jalan Kamal-Socah. Siang atau malam, ruas jalan ini ramai sekali. Tapi, suasana begitu itu hanya terjadi dulu, sebelum tahun 2009, sebelum dibukanya Jembatan Suramadu. Sekarang? Siang tak seberapa, malam apalagi.

Mengapa saya berada di situ? Akhir bulan Oktober 2014 lalu, saya dapat undangan hadir di Unijoyo (UTM), di Kamal. Karena acaranya 2 hari dan di hari pertama hanya butuh setengah hari, maka saya sempatkan untuk menghbiaskan setengah hari berikutnya untuk nyekar ke Sunan Cendana di Kwanyar sekaligus mengunjungi seorang kawan. Ini kebiasaan lama saya: “sekali dorong, dua-tiga kota terlampaui”. Panitia sih sebetulnya menawarkan sebuah mobil agar saya gunakan namun dengan syarat nyopir sendiri karena tidak ada petugas. Saya menolak dan memilih ‘naksi’ (baca: ngompreng). Dengannya, saya bisa lebih banyak melakukan sesuatu, seperti naik mobil sambil mengamati, menulis, menikmati perjalanan, atau membaca.

Tiba di makam Cina, Socah, mobil ambil kiri, menuju Socah, sebuah tempat (kecamatan) yang nyaris tidak pernah dilewati oleh orang yang hendak ke Surabaya, baik semasa belum Suramadu dan terlebih sekarang ini, disebabkan karena posisi Socah yang ada di bagian dalam dan tidak dilintasi jalan besar (cek gambar). Seingat saya, hanya sekali saja seumur-umur saya lewat di sana, plus sekali lagi hari ini. Dan ketika saya lewat, Socah yang dulu masih tidak banyak berubah, sama dengan sekarang.

“Plat kuning satu, plat hitamnya ada dua. Gimana bisa bertahan kalau tetap begini?” keluh sopir kepada teman duduknya. Plat hitam yang ‘naksi’ memang banyak sekali, bahkan lebih banyak daripada angkutan resmi itu sendiri, begitulah kira-kira maksudnya.
“Iya, memang…” jawab si teman duduk seadanya.

Fenomena plat kuning dan plat hitam di mana-mana jadi masalah. Kelompok plat kuning merasa rugi karena plat hitam dibiarkan beroperasi sementara mereka membayar pajak lebih rendah dibandingkan dengan plat kuning, di samping itu uji kir pun tidak diperlukan.

Perjalanan saya seorang diri di bangku tengah dengan sopir di depan, karena penumpang yang tadi sudah turun duluan, akhirnya berakhir di di Embong Miring, Burneh. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba, sebuah Carry cokelat menunggu, parkir persis di depan mobil kami, di tikungan.

“Pak, oper mobil depan, ya! Ini langsung Kwanyar.”
“Iya,” kata saya karena juga tidak ada untungnya saya menolak sesuatu yang jarang sekali terjadi.
Mobil yang akan saya tumpangi ini berwarna cokelat muda, seperti coffemix yang ditumpahi sedikit kopi. Ibarat manusia, bodinya sudah bongkok. Dempulnya barangkali setebal satu senti, barangkali. Tapi, jika pun harus naik Avanza namun tidak bisa mengantarkan saya ke tujuan, buat apa?

Saya menghibur diri dengan pertanyaan retoris itu dengan cara langsung masuk ke kabin tanpa basa-basi. Bau ikan, terasi, dan pernak-pernik jajan pasar lah yang menyambut. Sungguh, saya lebih suka bau asli seperti ini daripada wangi pengharum kabin yang palsu dan berbahan kimia.

Saya duduk di tengah dengan dua orang ibu yang sama-sama bongsor, gembrot lah kasarnya. Kakinya dinaikkan ke atas barang sunggian karena lantai sudah penuh dengan barang bawaan. Baru berjalan beberatus meter, mobil berhenti lagi. Ibu yang di tengah, di samping saya, menjulurkan selembar uang 2 ribu perak ke luar kaca. Dan dari jauh, seorang anak kecil berlarian ke arah mobil.
“Kala’ Kakeh!” (ambil kamu)
“Kaso’on” (terima kasih)

Ibu itu siapa, anak itu siapa, dan mengapa ada pemberian itu tanpa lebih dulu janji, mana saya tahu semunya. Rasa penasaran tahu pun hilang serta-merta ketika mobil melewati Tangkel, perempatan akses Suramadu, lanjut ke arah timur. Sopir menoleh ke kanan, ke mobil-mobil rusak yang diparkir di depan pos polisi karena kecelakaan.

Photo1041

“Leh, katanya Mohed tabrakan, ya?”
“Iya, tapi truknya tak ada di sana.”
“Leh, kamu nggak usah noleh ke belakang kalau ngomong. Kupingmu saja yang mendengar, matamu itu tetap lihat ke depan! Aku takut tabrakan,” kata si ibu kepada sopir yang belakangan diketahui bernama Soleh. Saya juga tidak tahu, apakah si Soleh ini kemenakan atau adik si ibu itu sehingga ia bisa seenaknya ngomong begitu, pakai ‘mata’ segala. Anda yang jarang atau tidak pernah naik angkutan umum, biar tahu, ya: begitulah suasana khas percakapan masyarakat kelas bawah.

Tiba di Nyiorondung, mobil mengarah ke selatan, tenggara tepatnya, masuk jalan kecil, menuju Kwanyar. Soleh, sopir kami, melirik kepada beberapa orang lelaki yang duduk di gardu; lirikan saja, tanpa kata-kata, seolah-olah lirikan itu bicara “saya ngeslah, ya! kalian silakan ngetem dulu di situ.” Beberapa orang lelaki yang duduk di gardu itu adalah sopir angkutan yang sedang ngetem.

Di selepas perbatasan desa Tembin, di sebuah daerah tanpa terlihat pemukiman penduduk sama sekali, mobil kami berpapasan dengan sebuah mobil lain. Soleh langsung menghentikan kedaraan secara mendadak, mematikan mesin dan ia keluar, bergegas begitu dia tahu mobil yang barusan berpapasan itu juga berhenti tak jauh di belakang. Terjadi pembicaraan beberapa saat. Saya tidak mendengarnya tersebab jarak yang sudah terlalu jauh.

Photo1042

Soleh kembali dan langsung start mobil, masuk gigi satu, dan menjalalankannya kembali.
“Bagaimana katanya, Leh?” tanya ibu penumpang di belakang.
“Ternyata, Mohed yang kecelakaan di Gunung Gigir itu bukan Mohed-ku, tapi Mohed yang lain.
“Ooalaah…”

Photo1044Photo1043

Akhirnya, saya tiba di Kwanyar berbarengan dengan adzan ashar. Perjalanan ditempuh sekitar 100 menit untuk jarak sekitar 30 kilometer saja. Dengan mobil pribadi, saya pasti bisa nyampe lebih cepat, dengan sepeda motor apalagi karena bisa ambil jalur pintas. Tentu, saya tidak menyesal karena kalkulasi semacam itu hanya digunakan jika kita terburu-buru saja. Sebab itu, agar tidak kepikiran, saya segera ambil wudu’, shalat berjamaah, lalu ke nyekar ke maqbarah Sunan Cendana, yakni Sunan Zainal Abidin (beliau adalah cucu Sunan Drajat yang konon merupakan penghulu para pemuka agama di Madura; nyaris semua nasab para kiai di Madura melewati garis keturunan Sunan Cendana ini). Setelah itu, saya pun nyambangi kawan, H. Saiful. Senang sekali, sekali naksi, banyak tempat disinggahi.

Iklan

2 thoughts on “Naksi (Kamal-Kwanyar via Bangkalan)

  1. Kalimat favorit saya adalah yang ini: “Bau ikan, terasi, dan pernak-pernik jajan pasar lah yang menyambut. Sungguh, saya lebih suka bau asli seperti ini daripada wangi pengharum kabin yang palsu dan berbahan kimia.”

    Tapi sebenarnya, setahu saya, Kamal – Kwanyar itu ada kok (dahulu, ngga tahu sekarang).
    Coba SMS, bisa saya antarkan dari Kamal ke Kwanyar. 😀

    Kalau ke Kamal lagi, kabari ya, Ra!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s