Cerpen dan Fakta Dalam Imajinasi

Usai membaca cerpen “Datangnya dan Perginya” karya AA Navis, saya sama sekali sadar bahwa ia hanya karya rekaan, fiksi, artinya tidak sungguh-sungguh terjadi meskipun mungkin saja terjadi. Saya tidak merasakan kritik sosial terhadap fenomena ‘suka kawin siri’ lebih menohok daripada pergulatan batin yang disampaikan pengarang secara tersirat, yakni kekelaman perkawinan (akibat) dari sebuah ‘perkawinan siri’ (yang benar-benar sengaja dirahasiakan) itu; pernikahan sepasang kekasih yang ternyata sesaudara kandung, tanpa diketahui masing-masing pasangan yang satu sama lain.

Perasaan yang sama terjadi ketika saya membaca cerpen Mohamad Diponegoro yang berjudul “Sumpah Dua Lelaki Bersaudara” yang mengisahkan seorang lelaki yang pada akhirnya ‘makan sumpah’, yakni membunuh saudaranya sendiri, juga tanpa sepengetahuannya. Pesan tulah sumpah dan janji itu tidak lebih menggidikkan bulu kuduk dibandingkan kegelapan kisah hubungan cinta manusia, seperti cerita di atas atau sebagaimana tragedi Odiepus ataupun Elektra. Adakalanya, cerita cinta lebih mengerikan dan lebih dahsyat bahkan daripada kematian.

Yang saya bicarakan di atas adalah cerpen, fiksi, kisah rekaan pengarang yang tidak sungguh-sungguh terjadi. Apakah ada kesan ‘seolah sungguhan’ setelah membaca? Sedikit banyak pasti ‘iya’. Saya yakin, andaipun tidak sungguh-sungguh terjadi, andaipun tidak masuk akal, bahkan andaipun absurd, di tempat lain atau pada sisi-sisinya yang lain, selalu ada kebenaran dan fakta di dalam setiap cerita. Fiksi itu sejenis kabar kebenaran yang tampak bohong jika ditinjau dari sudut fakta jurnalistik.

Jauh hari kemudian, saya mendengar pasutri yang tak juga dikaruniai keturunan setelah sepuluh tahun menikah. Mereka berdua adalah pendatang yang kebetulan bekerja di Madura. Singkat cerita, keduanya menghadap orang pintar untuk minta ‘syarat’ dan bantuan supaya mereka punya momongan. Orang pintar itupun mengurus silsilah, mengurus nama dan ayah-ibu masing-masing keduanya. Entah bagaimana cerita, kedua pasangan itu sontak bercerai setelah mereka tahu: rupanya, mereka sesaudara kandung, satu ayah, beda ibu.

Ada pula kisah nyata yang lain: tragedi. Pada suatu malam yang sunyi, di tempat yang sepi dan jauh dari perkampungan penduduk, juga di daerah Madura, tersebutlah seorang pengendara sepeda motor, sendirian, melintas. Seorang begal merampas sepeda motor dan juga merampas nyawanya. Si begal pulang pagi ke rumah setelah membawa motor hasil merampok itu ke tempat lain yang dianggap aman. Sialnya, setiba di rumah, dia kaget karena sepeda motornya sendiri yang biasa ia parkir di ruang tengah didapatinya telah raib, tak ada lagi di tempat, demikian pula anaknya. Pagi itu ia sadar, semalam, ia telah merampok sepeda motornya sendiri dan telah menghabisi nyawa anak kandungnya.

* * *

Dua paragraf pertama merupakan karya fiksi, rangkuman cerpen yang saya baca. Dua paragraf berikutnya kisah nyata, fakta, yang benar-benar terjadi. Yang mengikat keduanya adalah unsur ‘kebetulan’. Bedanya, kebetulan pada fiksi selalu diupayakan agar sesuai dengan wawasan pembaca, terutama melalui plot dan penokohan. Dalam kisah nyata, ‘kebetulan’ dan ‘logika’ cerita tidak perlu dipaksakan lagi. Kebetulan menjadi logis dengan sendirinya. Nyatanya, fiksi itu tidak sungguh-sungguh rekaan sejati. Kadangkala, ia merupakan fakta yang terjadi di tempat lain atau fakta namun belum terlahir ke dunia, masih terkandung di alam imajinasi.

Iklan

4 thoughts on “Cerpen dan Fakta Dalam Imajinasi

  1. Konon, di dunia imajinasi apa saja bisa `kejadian` Gus!
    Saya sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk bertandang ke istana Sabarijin,
    tetapi selama berbulan-bulan semua itu hanya imajiner belaka. Tak juga kejadian.
    Anehnya, saya tiba-tiba saya sudah sampai di sana. Apakah ini kebetulan?

    Sehemat saya, poin penting di situ adalah dg bertepatan dengan munculnya imajinasi-imajinasi lain yang saling bersambungan di tempurung kepala, yaitu soal mengenai silsilah dan tokoh-tokoh di dalamnya. Sesampainya di rumah, seseorang berkata, `Lohh, kamu kok punya buku itu?? Bukannya kamu nggak ikutan hadir di acara itu?

    Kebetulan, atau ada-ada saja? hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s