Pandu Islam: Sanad dan Guru

Ada kutipan indah dari Maulana Rumi yang saya tahu. Kira-kira begini bunyinya: “Barangsiapa menempuh jalan (thariqat) tanpa seorang pembimbing (mursyid), maka ia membutuhkan 100 tahun bagi 2 hari perjalanan”. Kutipan ini mengisyaratkan betapa penting adanya seorang guru guna membimbing perjalanan keagamaan dan spiritual, bahkan bukan lagi sekadar penting, melainkan niscaya. Tentu, keberadaan guru tersebut harus pula didukung oleh sanad yang terjamin, yakni bahwa yang disampaikannya itu dianggap sahih dan dapat dipercaya karena materi yang sampaikan memang satu hal yang benar, oleh orang yang benar, dan disampaikan melalui rentetan periwayatan (sanad) yang juga benar.

Begini kisahnya…

Kiai Muhammad bin Imam hendak berangkat untuk bepergian pada saat Man Naji baru saja datang. Setelah bercakap sejenak, tamu kiai ini memang akan diajak pergi bersama, satu mobil dengan beliau, tapi rupanya mereka duduk lebih dulu. Cakap-cakap lagi, dan anehnya percakapan jadi sangat lama sampai-sampai Man Naji mengingatkan Kiai, “Katanya mau pergi, Kiai. Silakan, agar tidak terlambat…”

Akhirnya, mereka berangkat. Kebetulan, tujuan Kiai Muhammad satu arah dengan rumah Man Naji. Percakapan hal-hal keseharian berlangsung di dalam mobil. Man Naji memang terbilang sering nyabis (sowan; bertamu) kepada Kiai Muhammad tanpa membawa misi ‘dalam rangka’ apa pun selain sowan, yakni hanya untuk silaturrahmi, bukan karena susah sebab dililit utang, bukan untuk mengeluh karena ekonomi tidak lancar: silaturrahmi dalam rangka silaturrahmi.

Saat mobil sudah masuk ke jalan kecil, mendekati Panggung, kediaman Man Naji, Kiai Muhammad tiba-tiba menepuk dada Man Naji seraya berkata, “Dada ini banyak tamu, jangan semua diterima, cukup SATU saja.”
Man Naji diam tanda tidak mengerti hingga akhirnya mobil berhenti untuk menurunkannya, sementara Kiai Muhammad melangsungkan perjalanan. Akan tetapi, sebelum mobil bergerak lagi untuk pergi, Kiai Muhammad masih sempat bertanya, “Siapa yang membawa ruh Sampeyan kepada Allah?”

Man Naji kaget, semakin tidak mengerti. Ia masih seperti tadi, diam saja. Kiai bertanya lagi.
“Paham, Sampeyan?”
“Tidak, Kiai…” kata Man Naji
Tidak ada kelanjutan, Kiai Muhammad justru pergi, meninggalkan Man Naji dan keheranan dan penasaran.

* * *

Berdasarkan penuturannya, beberapa waktu kemudian, Man Naji kembali nyabis ke kediaman Kiai Muhammad di Gunung Sari, Sampang. Kiai Muhammad yang dikenal waskita itu hanya diam dalam waktu yang cukup lama. Man Naji juga diam, tak elok memulai pembicaraan sebelum diminta, begitu batinnya. Tiba-tiba, Kiai Muhammad memulai pembicaraan dengan mengingat pertemuan yang lalu, seolah pertemuan siang itu merupakan kelanjutannya hanya saja dipisahkan waktu beberapa bulan lamanya.

“Sampeyan belum juga paham, siapa yang membawa ruh Sampeyan kepada Allah?”
“Belum, Kiai.”

Kiai Muhammad diam sejurus, lalu berkata lagi. “Apa-apa itu ada gurunya, termasuk dalam hal berdzikir.” Beliau menarik napas lebih dulu ketika akan mengucapkan kata-kata berikutnya. “Suuulit, ya, untuk sampai pada tujuan kalau kita tidak punya guru yang dapat menyambungkan diri ini dengan Yang Satu.”

Deg! Man Naji tertunduk.

Demikianlah, saya dapatkan kisah ini dari Ahmad Kholis yang mendengar langsung dari Man Naji, ayahnya, bahwa begitulah kisah sejati pergulatan batin yang dialaminya. Kala itu, Man Naji memang tengah mengamalkan ‘dzikir khafi’ (dzikir hati, tanpa suara) atas kehendak dan cara sendiri. Apa yang salah dari berdzikir? Man Naji tidak pernah memikirkan itu. Tak ada yang salah kiranya, tapi seperti yang disampaikan oleh Kiai Muhammad, cara sendiri tidak sama dengan bimbingan guru (mursyid). Man Naji tak pernah bercerita amalan ini pada siapa pun, bahkan cenderung merahasiakannya, hingga akhirnya ia diingatkan oleh Kiai Muhammad akan tatacara dan adab itu walaupun ia tidak perlu memberi tahu lebih dulu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s