Surat untuk Santri

Apa kabar, San? Semoga kamu sehat; lahir dan batin. Semoga kamu sempat; belajar dan daring. Sehat dan sempat adalah matauang segala bangsa yang dapat digunakan namun tidak dapat ditukar di bank mana pun. Syukuri ia, San!

Setelah kamu meninggalkan pondok, aku dengar kamu melanjutkan studi keagamaan di Universitas Daring. Belajar memang tak kenal tempat, di mana pun bisa, juga tak kenal waktu. Tidak masalah andaipun kamu meragukan pelajaran yang telah kamu kulik di pesantren lalu memilih ajaran dari ustadmu yang baru. Itu pertanda kamu asyik sepanjang dengannya kamu masih mau berpikir. Ragu merupakan bagian dari berpikir, tanda bahwa kamu hidup dan tidak menganggur. Jika kamu enggan berpikir lagi, barulah itu tanda kamu telah berubah menjadi tembok atau batu. Maka, untuk apa aku menulis surat untuk tembok?

Bukan cuma buah dan tanaman obat, kitab-kitab pun sekarang sudah ada ekstraknya. Aku kira kamu sudah tahu yang begini-begini. Dengannya, belajar jadi serba mudah. Kitab satu perpustakaan tersimpan hanya dalam sekeping memori, sebesar kuku, ditampilkan dalam layar selebar muka. Mengaji dan mencari arti teks-teks kitab yang biasanya dilakukan bertahun-tahun oleh santri-santri temanmu itu kini bisa ‘diperlantas’ melalui ‘kitab siapsaji’, baik versi cetak atau *pdf, bahkan ada yang telah dilengkapi makna gandol sekaligus rujukannya. Lebih dari itu, ada aplikasi (seperti Verbace) yang dapat digunakan untuk mengartikan teks kitab yang belum ada maknanya sama sekali, bahkan langsung secara multibahasa. Dalam hal membaca kitab, komputer sekarang lebih pinter daripada jebolan Saudi, ya!

Teknologi mempermudah banyak hal, termasuk cara belajar, namun dalam hal ini tetap ada perbedaan mendasar, yakni soal guru. Namanya santri, dari dulu sampai sekarang, cara belajarnya tetap sama: belajar kepada dan melalui guru/kiai dengan cara tatap muka dan dekat; secara jarak dan secara emosional. Sekarang, banyak anak muda belajar kepada ‘guru yang jauh dan entah’ melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter, Blog, dlsb. Cara seperti ini berbeda dengan cara kamu belajar dahulu. Belajar model ini adalah belajar kepada guru yang air mukanya ikonik: hanya punya ‘emotikon’ namun tak punya emosi. Adalah hakmu untuk belajar apa, kepada siapa, dan dengan cara apa, namun yang perlu diingat bahwa belajar, terutama agama,  tidak cukup belajar kepada ‘entah siapa’. Belajar dan menerima pelajaran dari seorang ustad sepanjang itu benar dan masuk akal itu belum cukup. Adalah seyogyanya kita mengetahui latar, tradisi, kebiasaan, perilaku, dan akhlaknya, dan ini adalah niscaya.

San, adapun terhadap ‘sumber serbatahu’; di portal dan YouTube, di fanspage dan Wikipedia, anggap saja mereka itu ‘kawan belajar dan teman bermain’ saja. Jalan yang dulu pernah kamu tempuh sudah keren dan tangguh, jangan recoki ia dengan hasil ‘mesin pencari’ dan ‘mesin penerjemah’. Dari kiai/guru, kamu telah mendapatkan ilmu melalui sanad, yaitu dalil otoritas yang menjamin kesahihan silsilah intelektualitas hingga ke sumber utama. Melalui sanad, yang kamu dapatkan bukan sekadar ilmu dan bonafiditas, melainkan juga wasilah emosional dan limpahan berkah. Melalui sanad, kamu mendapatkan ilmu melalui guru yang menyambungkan ilmu gurunya, dari gurunya guru, gurunya guru daripada gurunya, dst, dan mereka semua berada di jalur intelektualisme dengan reputasi baik sebab diakui secara muktabar dan otoritatif. Inilah yang tidak kamu dapatkan di sembarang tempat.

Akan tetapi, jika kamu yang kini bukanlah kamu yang dulu, yang lebih enjoy menyimak ucapan Ustad Daring yang berceramah di YouTube, kuliah di Twitter, berfatwa di Facebook, itu semua adalah pilihan. Carilah tahu latar dan perilaku keseharian mereka sebaik-baiknya; dari mana mereka (gurumu, dan gurunya gurumu, dst)  belajar, dari mana sumber rezeki yang mereka dapatkan, dst. Ketahui itu semua: demi kemurnian dan kesejatian yang mereka berikan, juga demi keberkahan ilmu yang akan kamu dapatkan. Kini, banyak benar orang yang mengaku belajar langsung pada Alquran dan Hadits tanpa bimbingan, menolak pendapat ulama-ulama salaf sepanjang tak disuka dan tak masuk akal, bertumpu hanya pada pendapat sendiri karena merasa telah mumpuni. Kalau otodidak untuk urusan ngarang cerpen, sih, mendingan, namun jika urusan yang ini sebaiknya jangan!

Tanyakan sesuatu pada ahlinya: tanyakan bangunan pada arsitek, bukan kepada presenter yang kebetulan gemar arsitektur dan teknik sipil. Karena itu, tanyakan hal-ihwal agama pada mereka yang benar-benar tahu dan sudah mengamalkan apa yang diucapkannya, yang bukan sekadar sahih secara ucapan, melainkan  juga menyampaikan pesan-pesan gurunya yang benar dan melewati jalur yang juga benar.

Ingatlah kiai dan gurumu dulu. Mereka dekat secara jarak dan secara emosi, tidak sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan, melainkan juga mengucurimu dengan doa dan bimbingan, melebihi masa belajar dari pagi hingga siang, melebihi ruang-ruang kelas dan tingkatan, melebihi masa kuliah dari masuk hingga wisuda. Kiai dan gurumu di pesantren itulah yang terus-menerus mendoakanmu hingga tak terbatas waktu, bahkan meskipun kamu mungkin lupa sama sekali.

San, coba ingat ucapan Maulana Jalaluddin Rumi: “Barangsiapa menempuh jalan (thariqat) tanpa seorang guru pembimbing (mursyid), maka ia membutuhkan 100 tahun bagi 2 hari perjalanan”. Ini artinya, jika bicara soal sampai, sih, pasti sampai jika hanya itu target yang ingin dicapai, akan tapi, ya, seperti itu tadi: ibarat perjalanan tanpa tourleader, tanpa peta, tanpa GPS, tanpa pemandu. Dengan berjalan kaki pun, sebetulnya kamu bisa tiba di tempat tujuan, namun dalam waktu yang sangat lama, padahal teman-temanmu yang lain sudah pada naik PATAS semua…”

Baik, sampai di dulu, lanjut lagi kapan-kapan, San!

Salam.
M. Faizi

Iklan

12 thoughts on “Surat untuk Santri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s