Menjajal Rute Malang-Lumajang

Jumat, 26 Desember 2014

TALOK, ya, baru mulai dari Talok laju roda PO Putra Mulya ini berjalan serius. Saya merasa penting untuk melirik jam lalu mencatatnya; pukul 06.17, mengingat kurang lebih setengah jam yang lalu bis ini berjalan P1010632secara loyo, sejak dari Krebet, tempat saya naik. Berjalan pelan seperti ini sering diperagakan oleh sopir-sopir bis terutama ketika baru berangkat dari terminal.

Kiranya, hal ini bukan disebabkan oleh jalan yang masih dipenuhi kabut dan jarak pandang terbatas. Memang, ketika meninggalkan PP Raudlatul Ulum I, Ganjar, pada pukul 05 lewat sedikit, kabut menyaput semua benda-benda. Namun, bukan faktor inilah yang membuat laju bis ini letoy. Saya yakin, ini hanya efek sensasi pagi hari; sambil cari penumpang, curi-curi pandang. Ibarat orang, bis ini sedang aerobik atau jalan kaki.

P1010629

“Ini sampai Lumajang, kan?”
“Iya.”
“Saya turun di Candipuro, berapa?” kata saya seraya menyerahkan selembar uang 100 ribu, lalu dijawab kondektur, “40.000!”.

Saya menyembunyikan rasa kaget dengan cara membanding-bandingkan: ongkos sebegitu mahal ini nyaris sama dengan ongkos saya waktu berangkat kemarin, dari Prenduan ke Bungurasih yang jaraknya nyaris 150-an kilometer. Masa sejauh itu jarak dari Krebet ke Candipuro? Turen-Candipuro 67 kilometer sesuai patok jarak di pinggir jalan. Turen-Krebet tak jauh-jauh amat. Tapi, apa boleh buat, saya bayar kontan karena itulah angka yang diminta. Tawar-menawar ongkos rasanya kurang elok karena saya tidak sedang membeli cabe atau brokoli.

* * *

Jalannya mulai naik turun, tapi liak-liuknya belum. Sensasi perjalanan jalur Malang-Lumajang yang selama ini hanya saya dengar dan rutenya hanya bisa dipelajari di atlas, kini mulai saya rasakan sendiri. Di sisi jalan, rumah-rumah penduduk masih ramai.. Ini pertanda bahwa kami masih belum masuk ke dalam alas.

DAMPIT: 06.31

Bis ngetem sebentar, lalu berangkat lagi. Sesudahnya, kami masuk wilayah Sukorame, daerah dengan racikan pemandangan jurang-sungai-tebing. Udara semakin dingin. Jalan mulai berkelak-kelok. Satu-satunya hal yang merusak keindahan perjalanan dan pemandangan adalah bunyi mesin diesel yang tembus ke dalam kabin, berisik sekali! Gemelatak kaca dan derit bebunyian baut pun menjadi pelengkapnya.

Saya tak beruntung bisa duduk di baris depan; kursi untuk berdua namun dikuasai oleh masing-masing seorang perempuan. Bertopang dagu pada sandaran, di kursi baris ketiga, saya berdoa agar salah satu dari keduanya segera turun agar saya dapat segera menggantikan ‘kedudukan’-nya.

Gunung Semeru menjulang tampak di kiri. Asap yang menggumpal di atasnya serupa ‘topping’. “Ini, Mas,” kata kernet seraya menyerahkan uang kembalian 75.000. Rupanya, tadi dia salah paham, dikira saya mau ikut hingga Lumajang. Terjawab sudah teka-teki soal ongkos tadi.

Sejak dari Dampit, nyaris tak ada lagi jalan yang benar-benar lurus, semuanya penuh tikungan dan naik-turun. Lebar jalan cukup untuk sesama bis ¾ dan truk berpapasan. Ada satu-dua bagian yang sempit hingga salah satunya harus turun ke bahu jalan. Bis besar tak kelihatan lagi.

TIRTOYUDHO: 06.55

Pemandangan alam masih laksana mata yang sembab karena menangis terlalu lama. Sinar matahari tertahan dedaunan dan batang-batang pohon. Saya tidak bisa membuat kesimpulan bahwa masyarakat di sekitar sana tidaklah makmur hanya berdasarkan asumsi rumah-rumahnya yang biasa, tidak ada yang besar mentereng sebagaimana banyak ditemukan di pesisir utara Madura. Jika air bersih tercukupi, petik sayur di kebun sendiri, ikan dengan mudah ditangkap di empang atau pun kali, kurang apa? Itulah kemakmuran yang sesungguhnya: makmur dan merdeka karena selera kita tentukan sendiri, makan dari hasil tani sendiri, kemakmuran tanpa MSG dan dikte dari iklan-iklan televisi.

Karena udara dingin, gerimis pula, aroma kretek berbumbu cengkeh yang dibakar kernet dan sopir secara bersama-sama terendus hingga di kursi deret ketiga. Mereka membuka kedua kaca jendela lebar-lebar agar asap tembakau langsung keluar. Sopir sering bertabik kepada banyak orang yang dijumpainya di tepi jalan. Saya kira, dia semacam artis; banyak dikenal orang.

Masuk desa Tirtomoyo, saya pindah kursi terdepan, menggantikan posisi mbak-mbak yang turun barusan. Selepas itu, di sisi kanan jalan, banyak dijumpai warung makan dan kedai minuman sederhana. Bukan hanya di Ubud rupanya, di situ orang juga mengerti bahwa ‘view’ atau ‘pemandangan’ adalah suatu nilai tinggi yang bisa dijual. Warung atau restoran yang memiliki suasana dan pemandangan ‘enak’ akan membuat rasa makanan menjadi nomor dua-nya sebagai pilihan pelanggan.

Jalan terasa makin sempit, mungkin sebab tanpa marka atau sudah tak jelas lagi cat putihnya. Bis melewati area Ampel Gading pada pukul 7.15. Tikungan mengular belum selesai juga. Pemandangan semakin menakjubkan. Jurang makin dalam, sungai makin besar, dan pohon-pohon makin lebat.

Sebuah patok jarak menunjukkan: Pasirian 42 Km. Hah? Saya cek di karcis, Candipuro itu bersebelahan dengan Pasirian, area yang terkenal hingga ke seberang pulau karena kualitas pasirnya. Betapa masih lama perjalanan ini, tidak seperti yang saya duga sebelumnya.

P1010642

Tepat pukul 07.34, bis kami melewati sebuah sungai yang curam. Truk-truk penambang pasir tampak kecil dari atas. Inilah sungai yang menjadi pembatas Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Setelah melewati batas ini, tikungan dan naik-turunnnya jalan makin ‘serius’. Sopir yang lengannya masih kurus boleh sering lewat sini kalau ingin kekar dan berotot. Rute ini tampaknya juga merupakan rute menantang yang pernah saya lihat di dalam video; Medan-Kabanjahe (jarak 77 kilometer) atau Death Road di Yungas (Bolivia) untuk kelas dunia. Sekali mobil tergelincir dan jatuh, jangan cari di situ, tapi carilah di koran, pada esok harinya. Na’udzubillah.

Pukul 07.45, bis masuk Terminal Kalibening Pronojiwo. Saya turun dan menyapukan pandangan, di mana-mana ada gunung dan kami sendirian di bawah, kecil sekali mungkin jika “dilihat dari atas”. Suasananya merangsang selera untuk ngopi. Namun, rupanya, niat pak sopir menghentikan kami di sini bukanlah untuk minum-minum dan senang-senang, melainkan untuk dioper ke bis lain dengan PO yang sama.

P1010647

Beberapa menit lamanya kami menunggu. Kantuk datang menyergap. Sisa capek karena tidur kemaleman saat pembukaan Liburan Sastra di Pesantren (LSdP) Matapena di PP Raudatul Ulum Ganjar tadi malam mulai ‘ngefek’. Paginya, bangun menjelang Subuh karena ingin berjamaah dengan Kiai Said Yahya dan harus segera berangkat agar tak kesiangan menyebabkan ‘jam mepet’ karena saya janjian dengan Gus Imdad untuk ngobrol bareng para santri di PP Ulul Albab, Candipuro, dengan jadwal 08.30. Kami sepakat memanfaatkan kata pepatah: sekali nge-line, dua-tiga pondok disinggahi. Namun, ada lagi butir tambahan, yakni bersepakat untuk hanya menggunakan waktu dua jam saja di sana sebab malam Sabtu-nya, sekitar Isya’, saya harus sudah tiba di Bangkalan untuk menjemput Ibu saya.

Akan tetapi, rupanya, ‘jam mepet’ tidak berkompromi dengan bis penerima operan. Pukul 08.05, bis bernomor N-579-UR ini berangkat. Sopir kali ini adalah seorang senior. Rambutnya putih hampir rata. Auranya menunjukkan keahlian. Insya Allah, dia bisa nyopir di Alas Supiturang itu sambil tutup mata. Cara ngopernya pun halus sekali. Dari saking halusnya, laju bis pelan sekali. Sebab hujan, sih, iya, tapi menilik jalannya, saya bahkan jadi curiga, saya cemas: jangan-jangan rem tidak pakem atau ada gangguan lainnya.

Karena medan hutan Supiturang lebih seru dari sebelumnya, saya mulai melupakan apa pun kecuali menikmati perjalanan. Jalannya, kelak-kelokya, pemandangannya, semua mirip Gumitir namun dengan jalan lebih sempit tapi jurang yang lebih ‘wow’. Bukit-bukit tersusun dalam kabut. Apakah ada kehidupan di bawah sana? Saya menunggu orang baik dan mungkin iseng yang rela pergi ke bawah sana lalu melaporkannya untuk masyarakat Facebook, sebagaimana tahun 2013 lalu saya pergi ke Terowongan Gumitir dan ternyata nyatamenemukan adanya perkampungan penduduk di bawah sana.P1010645P1010650

Hampir satu jam, barulah kami keluar alas, disambut sungai besar dengan truk-truk penambang pasir berserakan di mana-mana. Lahar begitu banyak memberikan rezeki, kesuburan, batu-batu, juga pasir. Setelah melewati jembatan yang panjang—konon disebut Jembatan Perak, kami melewati jalan yang mulai lurus dan menurun. Ini adalah jalan lurus pertama yang saya temukan sejak dari Talok, 3 jam yang lalu.

Kami masuk wilayah Candipuro. Dengan begitu, posisinya persis sama dengan Kalibaru bagi Gunung Gumitir. Pada pukul 09:05, saya turun di Pasar Candipuro, berterima kasih kepada pak sopir, lalu tolah-toleh mencari seseorang yang akan menjemput saya ke rumah Gus Imdad di PP Ulul Albab. Nah, itu dia, ketemu. Saya diboncengnya dan hanya 3 menit saya sudah tiba di tempat yang dituju. Ini adalah laga ‘tandang’ saya ke Candipuro, sebagai balasan, setelah dua bulan sebelumnya Gus Imdad melakukan laga perdana di ‘kandang’ sayaP1010653  

Setelah kopi disuguhkan, barulah saya teringat pertanyaan sendiri; “Kapan, ya, saya bisa kunjung ke Candipuro?”. Ternyata, keinginan itu terkabul hari ini, pada suatu kesempatan yang sejatinya hanya kebetulan belaka. Saya bergeser sedikit dari tempat berdiri, lalu melihat sebuah papan penunjuk jalan di angkasa: “Ketika pulang ke Surabaya lewat Singosari dan Pandaan itu sudah mainstream, pulanglah lewat Dampit dan Lumajang agar engkau temukan sensasi Supiturang untuk dituliskan dalam catatan.”

P1000667

Jumat, 26 Desember 2014

Iklan

7 thoughts on “Menjajal Rute Malang-Lumajang

  1. Melihat tiketnya, sepertinya trayek bis itu lewat kampung saya di Jember sana. Ya, desa saya terletak diantara Gumukmas dan Kasian (Seperti halnya Tekung dan Balung yang terdapat kesalahan penulisan di karcis itu (seharusnya memakai huruf U dan bukan O) pada Kasian yang benar adalah Kasiyan. Mungkin itu memang bukan masalah, karena toh maksudnya memang tak salah. Yang agak mengganggu mungkin tabiatnya yang hobbi mengoper penumpang di sebelum sampai tujuan.

    Tanggal 10 nanti saya mudik, tetapi dengan rute standar; Bungurasih-Pasuruan-Probolinggo-Kencong, perjalanan sering tanpa suspensi berarti, sehingga kurang layak muat sebagai catatan perjalanan. Ataukah, untuk mendapatkan bumbu yang sedap, saya harus agak melakukan semacam ‘tendangan pisang’ ala David Beckham?

  2. @Edi Winarno: iya, saya memang agak heran karena trayeknya sangat jauh dan bisnya juga bis 3/4. Bahkan, awalnya saya yakin sampai Lumajang, eh, klok ternyata cuma sampai Probojiwo. Sepertinya, lain kali harus diatur ulang agar bisa ngopi dulu di Pronojiwo karena suasananya sangat mendukung.

    Tulis saja dulu, Mas, toh tidak perlu langsung dipublikasikan. Saya punya banyak cerita perjalanan tetapi tidak semuanya diterbitkan

    • Tadinya sih rencana pakai motor, tetapi mengingat sekarang musim hujan (dan semalam saya dengar lewat radio ada banjir di ruas jalan Kraton/Pasuruan), membuat naik bis menjadi alternatif paling masuk akal.

      Cuma, yang sering menjengkelkan, selepas terminal Lumajang, laju bis yang lewat jalur Yosowilangun, Kencong, Gumukmas dan Balung itu, menjadi ogah-ogahan. Tanpa AC lagi. Wih, sumuukk….

      Oke, saran diterima.

      • Iya, sekarang memang lagi musim hujan. Mungkin bulan depan atau depannya lagi saya pergi ke Kencong atau daerah situ, saya akan segera mengetahui rutenya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s