Mencari Masjid di Perjalanan

Semua orang muslim tahu, masjid adalah bangunan yang peruntukannya untuk shalat. Ada beberapa kalangan yang menyempitkan arti masjid menjadi “tempat untuk shalat, i’tikaf,  dan juga digunakan shalat Jumat.” Inilah yang membedakan masjid dengan surau, langgar, musholla, yang kesemua itu memiliki fungsi dasar yang sama: tempat untuk shalat. Dengan pengertian di atas, kata masjid mengesankan kelebihan dari yang lain, antara lain secara ke-lapang-an, mengingat masjid digunakan untuk shalat Jumat.

Masjid yang terletak di pinggir jalan raya mempunyai fungsi yang lain. Biasanya, masjid-masjid seperti ini, yang memiliki lokasi yang strategis, halaman luas, seringkali digunakan orang untuk transit di saat bepergian. Namun, tidak dapat dipungkiri, ada pula orang yang hanya sekadar numpang pipis di kamar kecil masjid. Yang lebih tragis, terkadang, sudah numpang pipis, lalu ngeloyor tanpa nyumbang ke kotak amal. Prinsip mereka yang seperti ini adalah: parkir, pipis, pergi.

Salah satu masjid nyaman di Jawa Timur yang saya tahu adalah Masjid Raudlatul Muttaqin. Masjid ini terletak Sumberasih, berlokasi di ruas jalan Probolinggo-Pasuruan. Letaknya di selatan jalan, kira-kira 1,5 kilometer di barat kota Probolinggo. Saya sering mampir shalat di situ, meski sesekali juga pernah numpang istirahat. Pertama kali saya tahu kenyamanan masjid ini adalah di era akhir 90-an saat saya sering ikut ayah bepergian. Dulu, masjid ini berlantai tanah. Hanya bagian dalamnya saja yang menggunakan ubin. Namun, meskipun begitu, 4 kamar mandi dan enmpat WC (untuk pria; belum lagi untuk yang wanita) sudah berdiri, seperti kondisi yang sekarang ini. Selama berpuluh kali saya kesana, air di masjid ini selalu penuh. Mungkin, inilah yang paling menarik bagi para musafirin untuk singgah.

Sejatinya, masjid ini tidak terlalu besar. Hanya ada 8 shaf (dalam setiap shaf, kira-kira memuat 18 orang jika berbaris rapat) di bagian dalam. Bagian luarnya memang lebih lapang. Areal parkir mobil pun juga tidak begitu luas, hanya memuat sekitar 9 baris mobil kecil. Tapi mengapa banyak orang singgah di sini, padahal tempatnya juga tidak begitu strategis karena sangat mepet dengan jalan raya yang lalu-lintasnya sangat ramai? Tentu, jawabannya adalah karena fasilitas air di masjid ini melimpah. Kamar mandi selalu kancap. Tempat cuci kaki terus-menerus mengalir terus. Saya yakin, karena alasan ini pulalah orang-orang begitu mudah memasukkan uang sebagai amal untuk masjid. Maka, tidak heran jika pada suatu kesempatan,  beberapa tahun yang lalu, saya melihat jumlah kas di masjid ini mencapai angka 1.800.000 dalam sepekan; bahkan pernah saya lihat juga di atas 2 juta, dengan catatan: semua itu berasal dari kotak amal yang diisi orang secara sukarela.

Diposkan pertama kali di Multiply; 8 Mei 2012

Masjid Raudatul Muttaqin oleh M. Faizi Masjid Raudatul Muttaqin Bagian Dalam oleh M. Faizi Tempat Wudu Masjid Raudatul Muttaqin oleh M. Faizi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s