Kunci Rahasia Gridlock

Oleh M. Faizi

SecaBuku EKA SARI LORENA Ayo Lawan Kemacetanra beruntun, baru saja kita mengalami musibah besar; banjir dan letusan gunung. Dua bencana alam ini berakibat langsung pada kekacauan sementara sistem transportasi massal di negeri ini. Dampaknya terasa pada semua lini, terutama ekonomi. Nyatanya, dalam ranah transportasi, peristiwa tersebut ‘hanya’ berupa peristiwa insidentil, tak-terduga, dan karena itu ia disebut bencana. Nah, bagaimana dengan kemacetan di kota-kota besar, terutama Jakarta, yang berlangsung menahun dan terus terjadi setiap hari?

Gagasan pelarangan sepeda motor (pada ruas jalan tertentu di Ibukota) sejak kepemipinan Jokowi-Ahok merupakan salah satu bentuk penguraian masalah macet di Ibu Kota. Boleh jadi, keputusan ini nantinya akan dikembangkan dengan peraturan atau perundang-undangan tambahan yang melarang penggunaan sepeda motor dan kendaraan pribadi untuk ruas jalan yang lebih luas, tentu setelah tersedianya wahana tranpsortasi massal yang lebih terjamin dan terintegrasi, seperti Jakarta Monorail dan TransJakarta, misalnya.

Buku “Eka Sari Lorena: Ayo Lawan Kemacetan” dapat dikata merupakan buku yang komprehensif dalam hal pembahasan kemacetan lalu lintas dari semua aspek dan dipersiapkan untuk mengurai masalah seperti dikemukakan. Memang, sudah banyak artikel dan opini terkait tema transportasi massal dan kemacetan lalu lintas yang didiskusikan di ruang-ruang seminar dan atau dipublikasikan di media massa. Akan tetapi, yang unggul dari buku ini dibandingkan dengan karya tulis yang dimaksud (artikel atau esai) adalah pada sisi kompleksitas dan kelengkapan datanya, satu hal yang tentunya tidak akan ditemukan di dalam artikel ilmiah di koran/majalah. Buku ini juga didukung oleh data-data dari berbagai instansi, termasuk tabel data kepolisian tahun 2010 yang ditengara sebagai analisia terlengkap milik kepolisian. Di atas itu, gagasan dalam sebuah buku dapat merangkum berbagai informasi dari berbagai media dalam waktu yang relatif berjenjang, lebih baik daripada artikel yang terbatas dalam karakter dan jumlah katanya.

Sepintas, saat pertama kali dibaca, buku ini mirip biografi tokoh, yaitu Eka Sari Lorena, terlebih jika ditilik dari gaya penulisan yang—di beberapa bagian—menyerupai memoar. Kesan itu akan bertambah jika pembaca telah mengenal Eka Sari Lorena sebagai orang nomor satu di Organda yang juga identik dengan perusahaan otobus Lorena-Karina. Namun, keseriusan pembahasan meniadakan kesan itu karena sisi kehidupan pribadi yang dibahas amatlah singkat. Selebihnya, buku ini membahas persoalan besar masalah metropolitan, Jakarta, yaitu kemacetan.

Mengapa Jakarta yang dijadikan contoh? Di bagian awal tulisan (h.9), didedahkan data penjualan kendaraan bermotor di ibu kota: setiap hari terjual 200 mobil dan 1.100 unit. Fakta ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kendaraan pribadi adalah 8 persen per tahun di saat pertumbunan jalannya hanya 0,01 persen per tahun. Mengacu pada hal ini, kota-kota lain di hampir semua kota provinsi, juga di kota-kota kecil di Indonesia, akan mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Namun, masalah kemacetan Jakarta jauh lebih besar ketimbang kota-kota lain tersebut. Ramalan gridlock (macet total) dalam beberapa tahun yang akan datang tampaknya bukan isapan jempol belaka. Jika masalah kemacetan itu dibiarkan, ia akan menjadi bola salju, makin lama makin besar. Maka, andaikan penyelesaian kemacetan Jakarta kelak sukses, penyelesaian di kota-kota yang lain tentu lebih mudah. Begitulah analogi pengambilan sampelnya.

Buku ini sebetulnya bukan sekadar buku laporan tentang kemacetan semata, namun lebih dipersiapkan sebagai buku “kunci rahasia” untuk menguraikan masalah kemacetan yang benar-benar akan menjadi ancaman kehidupan manusia metropolitan seperti Jakarta, bahkan akan mematikan perekonomian negeri yang saat ini nyaris semuanya terpusat di sana. Di dalamnya, diurai secara rinci perihal sabab-musabab kemacetan yang pelik, masif, dan melibatkan berbagai faktor. Jika selama ini kemacetan dinilai sebagai persoalan yang rumit dan seolah tak akan terpecahkan, Eka Sari Lorena optimistis akan dapat menguraikannya jika prasyarat-prasyarat yang diajukannya dapat dieksekusi dengan baik serta didukung oleh semua pihak.

Pemberdayaan angkutan umum sebagai moda transportasi massal, moda yang dapat menyediakan fasilitas untuk orang banyak, merupakan garis besar pemikirannya. Pemerintah, menurutnya, jika telah terbukti tidak mampu melaksanakan tugas berat ini sendirian hendaknya tanpa ragu menggandeng swasta, tentu dengan kendali khusus, semisal “swastanisasi terminal”. Patner kerja yang paling tepat dalam hal ini adalah Organda (oraganisasi angkutan darat). Dengan menggandeng Organda, yang hingga saat ini tetap aktif mengordinasi berbagai moda angkutan darat di tanah air, tersebar ke dalam beberapa titik di Indonesia, diharapkan dapat menunjang banyak mobilitas ekonomi yang bergantung kepada transportasi darat.

Eka juga mengkritik para pejabat publik yang tidak mau tahu-menahu kondisi ini serta ‘kegenitan’ orang-orang kaya di Jakarta yang seolah tidak peduli pada ancaman gridlock. Pengutamaan mobil pribadi seakan-akan dilegitimasi oleh pemerintah dengan adanya kebijakan mobil murah sebagai salah satu buktinya. Fenomena ini merupakan sebuah ironi di negeri yang terancam kemacetan dan sedang membenahi transprotasi massalnya. Secara satir, Eka Sari mengajukan pertanyaan retoris: ‘Jika bukan karena gengsi, membeli Porsche dan hanya dijalanakan di Jakarta itu untuk apa? Kalau untuk sesekali digunakan di Tol Cipularang, itu ‘kan hanya sesekali?’

Dengan mobilitas yang lancar, roda ekonomi akan juga lancar. Inilah konsep dasarnya. Selama ini, menurut Eka, pemahaman mobilitas selalu diidentikkan dengan perpindahan dan pergerakan kendaraan (mobil/motor). Padahal, di negara-negara lain, mobilitas lebih dimaknai sebagai ‘mobilitas orang’. Adanya jaminan untuk mobilitas orang akan jauh lebih penting (hal. 216-217). ‘Kesalahan’ persepsi seperti ini mestinya diluruskan lebih dulu sebelum nanti kita bergerak dari berbagai layanan angkutan umum menjadi layanan angkutan umum yang terpadu.

Beberapa kritik penting Eka Sari Lorena atas sistem transportasi (massal) di Indonesia antara lain: pembuatan rencana baru moda transportasi namun dengan mengabaikan moda yang lain, terutama di Indonesia yang lanskap kota-kotanya menyebar. Sekadar menyebut contoh, bajaj saja tetap dibutuhkan (h. 47); kasus pembatasan BBM bersubsidi untuk truk, menurutnya, merupakan ketupusan ganjil yang ditanggapinya dengan pertanyaan kritis: ‘mengapa pembatasan BBM bersubsidi tidak diperuntukkan bagi sepeda motor yang dipakai remaja-remaja untuk pacaran atau kendaraan pribadi yang dibuat rekreasi? (h.114); Eka juga mengkritik pembangunan-pembangunan terminal bis yang justru menjauh dari pusat kota (h. 257), yang mana hal ini berbanding terbalik dengan idealisasi terminal sebagaimana ditemukan di kota-kota bertata kelola terbaik di dunia.

Namun begitu, Eka Sari Lorena tidak sekadar mengkritik. Dalam buku ini, ia justru lebih banyak memberikan masukan konstruktif. Beberapa solusinya itu berupa revitalisasi dan pengembangan fasilitas yang sudah ada namun kurang termanfaatkan. Menurutnya, kenyamanan dan kebaikan sistem transportasi massal demi mengurai kemacetan itu harus memegang prinsip utama, yaitu ongkos angkutan umum seharusnya berada di bawah biaya operasioal sepeda motor, atau minimal di bawah biaya operasional mobil pribadi, dengan cara insentif atau lainnya (h. 140).

Eka juga menyarankan adanya pelatihan ecodriving yang digagas oleh pemerintah atau operator angkutan umum kepada para pengemudi karena hal ini terbukti bermanfaat ekonomis, sebagaimana yang telah ia lakukan bersama Organda (h.117). Di sisi lain, pemerintah juga dapat menerapkan tarif tol yang tinggi demi mendorong car-pooling dan car-sharing sehingga tak ada lagi 7 seater namun hanya dinaiki 1 orang saja (h.135). Pemanfaatan sistem informasi, seperti aplikasi papan elektronik (variable-message sign/VMS) permanen yang memberikan informasi kondisi nyata kepada pengguna jalan raya, misalnya, akan sangat bermanfaat. Contoh, pemasangan VMS di Tol Tangerang-Merak untuk kondisi Pelabuhan Merak yang kerap kali mengalami lonjakan kemacetan (h. 229).

Banyak ide progresif dalam buku setebal 300 halaman lebih yang ditulis olehHaryo Damardono ini, dan kiranya akan lebih bernas tersampaikan andaikan ditulis langsung oleh pemikirnya. Namun begitu, untungnya, meskipun Eka Sari Lorena merupakan orang penting di perusahaan Lorena-Karina yang notabene sangat identik dengan isu angkutan umum dan topik buku, dia tidak mengedepankan perusahaannya sama sekali untuk kepentingan pariwara. Tidak ditemukan acuan Lorena-Karina, bahkan contoh pengambilan gambarnya pun tidak ada (secara eksplisit), kecuali TransJakarta. Hal ini sedikitnya dapat menjelaskan bahwa ide membebaskan kemacetan (Jakarta) merupakan suara hati dari orang nomor satu di Organda yang dinobatkan sebagai satu di antara “20 The Most Powerful Women 2013” versi majalah “Fortune Indonesia” ini: seorang perempuan perkasa di dunia transportasi, dunia laki-laki.

———-

artikel ini ditulis 22 Pebruari 2014; disiarkan pertama kali di blog ini, 6 September 2014

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s